Pages - Menu

Tuesday, March 31, 2020

Warisan Hanya Perlu Diterima

Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya. —Efesus 1:5
Warisan Hanya Perlu Diterima
“Terima kasih untuk traktiran makan malamnya, Ayah,” saya berkata sambil meletakkan serbet di atas meja restoran. Saat itu saya sedang pulang ke rumah semasa libur kuliah dan, setelah sekian lama meninggalkan rumah, saya merasa janggal ketika orangtua mentraktir saya. “Sama-sama, Julie,” jawab ayah saya, “tetapi kamu tidak perlu selalu berterima kasih. Ayah tahu kamu sudah hidup sendiri, tetapi kamu tetap anak Ayah dan bagian dari keluarga.“ Saya tersenyum. “Terima kasih, Ayah.”
Dalam keluarga, saya tidak perlu mengupayakan apa-apa untuk memperoleh cinta kedua orangtua saya atau perlakuan mereka terhadap saya. Namun, komentar ayah saya mengingatkan bahwa saya juga tidak mengupayakan apa pun yang membuat saya layak menjadi bagian dari keluarga Allah.
Dalam kitab Efesus, Rasul Paulus berkata kepada jemaat bahwa Allah memilih mereka “supaya [mereka] kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (1:4), atau ditempatkan dengan cemerlang tanpa cacat di hadapan-Nya (5:25-27). Namun, itu hanya mungkin terjadi melalui Yesus, karena “di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (1:7). Kita tidak perlu mengupayakan anugerah, pengampunan, atau penerimaan sebagai anggota keluarga-Nya. Kita hanya perlu menerima anugerah yang diberikan-Nya dengan cuma-cuma.
Ketika kita menyerahkan hidup kepada Yesus, kita menjadi anak-anak Allah, dan itu berarti kita telah menerima kehidupan kekal dan memiliki warisan yang menanti kita di surga. Terpujilah Allah yang telah memberikan anugerah yang begitu indah!—Julie Schwab
WAWASAN
Efesus 1:3-14 memuji Allah atas karya penciptaan dan penebusan-Nya. Paulus dengan panjang lebar menggambarkan dan merayakan kebaikan Allah atas anugerah dan janji-Nya. Dua kali Paulus menyebutkan bahwa keselamatan kita sejalan dengan keinginan-Nya atau “sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (ay.5,9). Allah memutuskan untuk mencurahkan anugerah kepada mereka yang akan diselamatkan di dalam Yesus Kristus, dan Dia dengan senang hati melakukannya. —J. R. Hudberg
Dalam hal apa saja kamu merasa atau bertindak seolah-olah kamu harus mengupayakan sesuatu untuk mendapatkan kasih Allah? Bagaimana kamu dapat melatih diri untuk hidup dalam kasih-Nya yang membebaskan?
Ya Allah yang setia, terima kasih karena Engkau telah mengaruniakan Anak-Mu supaya aku dapat menjadi bagian dari keluarga-Mu. Tolong aku menghargai-Mu atas semua yang telah Engkau lakukan bagiku.

Monday, March 30, 2020

Roti yang Diberkati

Yesus mengambil roti, mengucap berkat. —Matius 26:26
Roti yang Diberkati
Ketika putri tertua kami beranjak remaja, saya dan istri memberinya sebuah buku harian yang sudah kami tulis sejak kelahirannya. Di dalamnya, kami mencatat hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, polah tingkah dan celetukan-celetukannya yang menggemaskan. Di beberapa bagian, tulisan di dalamnya lebih terlihat seperti surat, berisi penggambaran apa yang kami lihat dari dirinya serta karya Allah dalam dirinya. Ketika kami memberikan buku harian itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketiga belas, ia begitu terpesona. Ia menerima kesempatan yang berharga untuk mengetahui bagian penting dari permulaan identitas dirinya.
Lewat tindakan-Nya memberkati sesuatu yang sangat biasa seperti roti, Yesus sedang menunjukkan identitas benda tersebut. Apa tujuan benda itu—dan seluruh ciptaan—dibuat? Untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Saya percaya Yesus juga merujuk kepada masa depan dari alam ciptaan. Suatu hari nanti, seluruh ciptaan akan dipenuhi kemuliaan Allah. Jadi, dengan memberkati roti (Mat. 26:26), Yesus sedang menunjukkan permulaan sekaligus tujuan dari ciptaan (Rm. 8:21-22).
Mungkin kisah hidup kamu diawali dengan kekacauan. Mungkin kamu merasa tidak lagi punya masa depan. Namun, ada kisah lain yang lebih besar—kisah Allah yang menjadikan kamu sesuai rencana-Nya dan untuk suatu tujuan; Dia Allah yang berkenan kepada kamu. Itulah kisah Allah yang datang menyelamatkan kamu (Mat. 26:28); Allah yang menempatkan Roh-Nya di dalam diri kamu untuk memperbarui dan memulihkan identitas kamu. Itulah kisah Allah yang ingin memberkati kamu.—Glenn Packiam
WAWASAN
Paskah adalah acara makan bersama keluarga yang dilaksanakan pada awal kalender keagamaan Israel, untuk mengingat penyelamatan mereka dari perbudakan Mesir dan merayakan awal dari sebuah umat yang ditebus menjadi milik Allah (Keluaran 12:1-3; 13:3; 14–16; 19:5-6). Karena Yesus adalah Anak domba Paskah yang sejati (Yohanes 1:29; 1 Korintus 5:7), Dia memulai sebuah acara makan bersama keluarga yang baru. Perjamuan makan Paskah dengan murid-murid-Nya menunjuk kepada terbentuknya suatu Kerajaan Allah yang baru—umat tebusan yang baru dan keluarga Allah yang baru. Sekarang kita menyebutnya sebagai Perjamuan Terakhir karena perjamuan tersebut merupakan perjamuan Paskah terakhir Yesus sebelum Dia disalibkan (Matius 26:17-30). Banyak ahli percaya bahwa perjamuan besar selanjutnya akan terjadi pada pesta perjamuan kawin bersama Sang Mesias, ketika Yesus kembali untuk mendirikan kerajaan Bapa-Nya di bumi (lihat Yesaya 25:6; Lukas 13:29; 14:15). —K. T. Sim
Ketika memahami bahwa kamu diciptakan sesuai rencana Allah dan untuk suatu tujuan, bagaimana hal tersebut mengubah cara kamu memandang diri sendiri? Adakah kisah lain yang lebih besar daripada situasi kamu saat ini?
Ya Tuhan Yesus, kuletakkan hidupku seperti roti di tangan-Mu. Hanya Engkau yang dapat mengembalikanku kepada tujuan awal aku dijadikan. Hanya Engkau yang dapat membawaku menggenapi tujuan akhir hidupku. Engkaulah pencipta dan penyempurna imanku.

Sunday, March 29, 2020

Tersambung Dengan Allah

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak. —Yohanes 15:5
Tersambung Dengan Allah
Di sebuah toko barang bekas, saya menemukan lampu yang rasa-rasanya cocok untuk ruang kerja saya di rumah—warna, ukuran, dan harganya pas. Namun, ketika saya mencolokkan lampu itu ke stop kontak di rumah, tidak terjadi apa-apa. Lampunya tidak menyala. Tidak ada daya yang mengalir.
“Jangan khawatir,” kata suami saya. “Aku bisa memperbaikinya. Gampang.” Begitu lampu itu dibongkar, baru ketahuan akar masalahnya. Rupanya, colokan pada lampu itu tidak terhubung dengan apa pun. Tanpa kabel yang tersambung ke sumber daya, lampu yang “sempurna” itu menjadi tidak berguna.
Begitu jugalah dengan kita. Yesus mengatakan kepada para murid, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.” Namun, kemudian Dia menambahkan pengingat ini: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5).
Pengajaran ini disampaikan Yesus di sebuah daerah penghasil anggur, jadi murid-murid-Nya langsung bisa mengerti. Tanaman anggur adalah tanaman yang sulit, dengan ranting-ranting yang perlu disiangi secara teratur. Bila dipotong dan dipisahkan dari sumber kehidupannya, ranting-ranting itu akan kering, mati, dan menjadi tidak berguna. Begitu juga dengan kita.
Ketika kita tinggal di dalam Yesus dan mengizinkan firman-Nya tinggal di dalam kita, kita tersambung dengan sumber kehidupan—yaitu Kristus sendiri. “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan,” Yesus berkata, “yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (ay.8). Namun, buah yang banyak akan dihasilkan jika tanamannya mendapat nutrisi setiap hari. Allah menyediakannya bagi kita secara cuma-cuma melalui Kitab Suci dan kasih-Nya. Jadi, tersambunglah dengan Allah dan biarkan daya kuasa-Nya mengalir dalam hidup kamu!—Patricia Raybon
WAWASAN
Penting untuk mempertimbangkan penyingkapan diri Allah sepenuhnya dalam Kitab Suci ketika kita ingin mengerti suatu bagian di dalamnya. Kata-kata Yesus dalam Yohanes 15:5, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” mirip dengan pernyataan Paulus dalam Kisah Para Rasul 17:28, “Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,” dan Kolose 1:17, “segala sesuatu ada di dalam Dia.” Semua ayat ini menekankan pentingnya Kristus bagi keberadaan diri kita. Dalam Yohanes 15, Yesus sedang berbicara khususnya kepada para pengikut-Nya. Dia sedang membahas tentang buah yang datang dari cabang yang terhubung dengan pokok anggur. Ketika Yesus mengatakan bahwa tanpa-Nya kita tidak dapat berbuat apa-apa, maksud-Nya ialah tanpa sumber hidup—pokok anggur—si cabang tidak dapat menghasilkan daun maupun bunga, apalagi buah yang membawa kemuliaan kepada Allah. —J. R. Hudberg
Bagi kamu, apa artinya tinggal di dalam Yesus? Bagaimana Dia telah memperlengkapi kamu agar berbuah bagi-Nya ?
Allah Mahakuasa, kuatkanlah aku agar tetap tinggal di dalam-Mu dan biarlah firman-Mu menghasilkan buah yang baik dalam diriku.

Saturday, March 28, 2020

Penebang Pohon

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. —1 Petrus 5:7
Penebang Pohon
Suatu kali semasa kuliah, saya pernah bekerja memotong, menyusun, menjual, dan mengantarkan kayu bakar. Sungguh pekerjaan yang sangat berat, karena itu saya sangat berempati kepada penebang kayu malang dalam kisah 2 Raja-Raja 6.
Jumlah nabi yang mengikuti Elisa sudah semakin banyak, sehingga tempat mereka berkumpul menjadi sangat sesak. Seseorang menyarankan agar mereka pergi ke hutan, menebang kayu, dan memperluas tempat tinggal mereka. Elisa setuju dan menemani para pekerja itu ke hutan. Segala sesuatunya berjalan dengan baik sampai waktu mata kapak seseorang jatuh ke dalam air (ay.5).
Beberapa orang berpendapat bahwa Elisa hanya mengaduk-aduk di dalam air dengan tongkatnya sampai mata kapak itu ditemukan lalu menariknya ke permukaan. Jika benar begitu, tentu tidak perlu dituliskan. Namun, yang terjadi waktu itu adalah mukjizat: mata kapak tersebut digerakkan oleh tangan Allah sampai muncul dan mengapung, sehingga dapat diambil kembali (ay.6-7).
Keajaiban sederhana itu menunjukkan kebenaran yang luar biasa: Allah peduli pada hal-hal sepele dalam hidup—kehilangan mata kapak, kehilangan kunci, kehilangan kacamata, kehilangan telepon—hal-hal kecil yang membuat kita khawatir. Memang Dia tidak selalu mengembalikan apa yang hilang, tetapi Dia mengerti dan menghibur kita dalam kesulitan yang kita rasakan.
Selain jaminan keselamatan kita, jaminan bahwa Allah peduli sangatlah penting. Tanpa Dia, kita akan merasa sendirian di dunia ini dan rentan mengalami berbagai-bagai kecemasan. Alangkah bahagianya mengetahui bahwa Dia peduli dan tergugah oleh kehilangan yang kita alami—sekecil apa pun kehilangan itu. Keprihatinan kita juga menjadi keprihatinan-Nya.—David H. Roper
WAWASAN
Kebanyakan orang Israel telah murtad terhadap Allah, tetapi ada tujuh ribu orang yang tetap setia dan tidak pernah menyembah Baal (1 Raja-Raja 19:18). Termasuk di dalam orang-orang ini adalah setidaknya tiga kelompok nabi. Para sarjana percaya bahwa kelompok-kelompok ini (mungkin setara dengan seminari Alkitab hari ini) dimulai oleh Samuel (1 Samuel 19:20). Pada masa Elisa, “rombongan nabi” dapat ditemukan di tiga kota: Betel (2 Raja-Raja 2:3), Yerikho (ay.5), dan Gilgal (4:38). Dalam 2 Raja-Raja 6:1-7, Elisa sedang mengajar para murid yang sedang berlatih untuk melayani. Karena tempat tinggal mereka terlalu kecil, mereka bersepakat untuk membangun tempat tinggal yang lebih besar (ay.1-2). Ketika mereka sedang menebang pohon, salah satu mata kapak para murid tersebut terjatuh ke Sungai Yordan. Kehilangan kapak pinjaman ini merupakan kerugian yang sangat besar untuk murid yang menjatuhkannya, karena pada masa itu, sangat sedikit ada alat yang terbuat dari besi. Elisa melepaskan orang tersebut dari utang, bahkan dari perhambaan, yang akan dialaminya jika ia tidak bisa mengganti kehilangan tersebut. —K. T. Sim
Hal-hal kecil apa yang menyusahkan kamu dan dapat kamu serahkan kepada Allah saat ini? Bagaimana keyakinan pada pemeliharaan Allah setiap hari dapat menguatkan kamu?
Allah Mahakasih, inilah hal-hal yang menyusahkan hatiku. Aku menyerahkannya kepadamu, lakukanlah yang terbaik menurut-Mu, dan berilah aku damai sejahtera-Mu.

Friday, March 27, 2020

Kematian yang Berharga

Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.—Mazmur 116:15
Kematian yang Berharga
Pameran yang diadakan oleh pemahat Liz Shepherd pada tahun 2018 berjudul “The Wait” disebut koresponden surat kabar Boston Globe telah “mengingatkan kita pada sesuatu yang berharga, gamblang, dan istimewa dalam hidup.” Pameran karya-karya Shepherd yang terilhami oleh masa-masa ketika ia menemani ayahnya yang sekarat tersebut berusaha mengungkapkan perasaan rindu, hampa, dan rapuh yang dialami setelah orang yang dikasihi pergi meninggalkan kita.
Pemikiran bahwa kematian itu berharga sepertinya bertentangan dengan intuisi manusia; tetapi pemazmur justru menyatakan, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mzm. 116:15). Allah menghargai kematian umat-Nya, karena melalui kematian, Dia menyambut mereka pulang.
Siapa sebenarnya orang-orang yang dikasihi-Nya itu? Menurut pemazmur, mereka adalah orang-orang yang melayani Allah karena bersyukur telah dilepaskan-Nya, yang menyerukan nama-Nya, dan yang memenuhi janji mereka kepada Allah (Mzm. 116:16-18). Tindakan-tindakan tersebut menunjukkan adanya kesadaran untuk mau berjalan bersama Allah, menerima kebebasan yang ditawarkan-Nya, dan membina hubungan yang intim dengan-Nya.
Dengan melakukan hal-hal tersebut, kita akan mengikuti jejak Yesus, “yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. . . . Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan’“ (1 Ptr. 2:4-6). Ketika kita percaya kepada Allah, kepergian kita dari kehidupan ini dipandang berharga di mata-Nya.—Remi Oyedele
WAWASAN
Kita tidak tahu siapa yang menuliskan Mazmur 116, tetapi kita dapat ikut merasakan sisi manusiawi sang penulis. Sebuah kesulitan yang mengancam nyawa—mungkin sebuah penyakit atau peristiwa perang—membawa sang penulis berhadapan langsung dengan kematian, dan sebagai konsekuensinya, lebih dekat kepada Allah. “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku” (Mazmur 116:3). Ketakutan ini mendorong sang penulis untuk memanggil nama Allah: “Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: ‘Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!’” (ay.4). Namun, pada akhirnya kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Bagian mazmur ini yang paling sering dikutip adalah, “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (ay.15). Apakah motivasi deklarasi ini adalah kematian ibunda sang penulis yang takut akan Allah? Karena persis setelahnya, sang pemazmur mengatakan, “Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan” (ay.16). —Tim Gustafson
Bagaimana persepsi kamu tentang kematian dibandingkan dengan pandangan Allah atas kematian umat-Nya? Sejauh mana persepsi kamu dipengaruhi oleh apa yang dikatakan Alkitab tentang kematian?
Ya Allah, tolonglah aku mempercayai-Mu bahkan di tengah segala tantangan dan kehilangan yang kualami dalam hidup ini.

Thursday, March 26, 2020

Melihat Keselamatan

Semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. —Lukas 3:6
Melihat Keselamatan
Di usia lima puluh tiga tahun, Sonia sama sekali tidak pernah terpikir akan meninggalkan usahanya dan negaranya, lalu bergabung dengan sekelompok orang yang mencari suaka ke negara lain. Setelah keponakan laki-lakinya dibunuh oleh komplotan perusuh dan mereka juga memaksa anak laki-lakinya yang berusia 17 tahun untuk masuk dalam komplotan mereka, Sonia merasa bahwa melarikan diri menjadi satu-satunya pilihan. “Saya berdoa kepada Allah . . . apa pun akan saya lakukan,” Sonia menjelaskan, “asalkan kami berdua tidak mati kelaparan. . . . Saya lebih senang melihat anak saya menderita di sini daripada hidupnya berakhir di selokan atau di dalam karung.“
Adakah ayat Alkitab yang cocok untuk Sonia dan putranya—atau untuk banyak orang yang mengalami ketidakadilan dan kehancuran hidup? Ketika Yohanes Pembaptis memberitakan kedatangan Yesus, ia juga mengumandangkan kabar gembira untuk Sonia, untuk kita semua, dan untuk dunia ini. Ia berseru, “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan“ (Luk. 3:4). Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ketika Yesus datang, Allah akan mengadakan penyelamatan besar yang dahsyat dan menyeluruh. Istilah Alkitab untuk karya Allah tersebut adalah keselamatan.
Keselamatan mencakup pemulihan hati kita yang berdosa dan—satu hari nanti—pemulihan dunia dari segala kejahatan. Karya Allah yang mengubahkan berlaku untuk setiap kisah dan tatanan hidup manusia, serta tersedia bagi siapa saja. “Semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan,” kata Yohanes (Luk. 3:6).
Apa pun kejahatan yang sedang kita hadapi, salib dan kebangkitan Kristus meyakinkan kita bahwa kita akan melihat keselamatan dari Allah. Bahkan, suatu hari nanti kita akan mengalami pembebasan puncak-Nya.—Winn Collier
WAWASAN
Lukas, penulis kitab Injil ketiga, memiliki rekam jejak yang mengagumkan. Reputasinya termasuk teolog, tabib (Kolose 4:14), peneliti, dan sejarawan. Perhatiannya pada hal-hal yang terperinci dalam sejarah muncul di awal kitab tersebut (lihat Lukas 1:3-5; 2:1-2). Pola ini berlanjut di Lukas 3:1-2, ketika secara singkat ia menuliskan tentang orang-orang yang berkuasa dalam dunia sekuler dan dunia keagamaan pada saat pelayanan Yohanes Pembaptis berlangsung. Kaisar Roma Tiberius (berkuasa pada 14–37 M) menguasai seluruh kerajaan Romawi. Pontius Pilatus (memegang jabatan pada 26–36 M) adalah wali negeri Yudea. Tiga orang (Herodes [Antipas], Filipus, dan Lisanias) disebutkan sebagai raja wilayah (tetrarch). Secara harfiah, kata tetrarch berarti “penguasa atas seperempat wilayah,” tetapi sebenarnya kata ini dipakai untuk menyebutkan “penguasa tingkat rendah.” Para penguasa ini memerintah wilayah tertentu saja. Para pemimpin agama—Hanas dan Kayafas—juga disebutkan (ay.2). Meskipun Kayafas yang sesungguhnya memegang jabatan Imam Besar, ia berbagi kuasa jabatan itu dengan Hanas. —Arthur Jackson
Dalam bagian apa kamu perlu melihat keselamatan dari Allah atas hidup kamu? Bagaimana cara Allah memanggil kamu untuk menjadi bagian dari karya-Nya yang mengubahkan dunia?
Ya Allah, Engkau berjanji semua orang akan melihat keselamatan dari-Mu. Aku memegang janji-Mu, maka tunjukkanlah kepadaku keselamatan dan pemulihan yang Engkau kerjakan itu.

Wednesday, March 25, 2020

Waktunya Berdoa... Lagi

Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya. —Efesus 6:18
Waktunya Berdoa . . . Lagi
Saya memarkirkan mobil di halaman rumah kami sambil melambaikan tangan kepada tetangga saya, Myriam, dan anak perempuannya yang masih kecil, Elizabeth. Selama beberapa tahun terakhir, Elizabeth sudah terbiasa menikmati obrolan santai kami berubah dari sesuatu yang “sebentar saja” menjadi waktu doa bersama. Elizabeth memanjat pohon yang ditanam di tengah halaman depan rumahnya, duduk di dahan sambil mengayun-ayunkan kaki, bermain sendiri sementara ibunya dan saya bercakap-cakap. Tak lama kemudian, Elizabeth melompat turun dari dahan pohon dan berlari menghampiri kami. Sambil menarik tangan kami berdua, Elizabeth tersenyum dan berkata dengan jenaka, “Ayo, waktunya berdoa . . . lagi.” Sekalipun masih kecil, Elizabeth seakan mengerti arti penting doa dalam hubungan pertemanan kami.
Setelah mendorong orang-orang percaya untuk “kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya“ (Ef. 6:10), Rasul Paulus kemudian mengajarkan arti penting dari doa yang dilakukan terus-menerus. Ia menggambarkan perlengkapan senjata rohani yang penting dimiliki umat dalam perjalanan iman mereka bersama Allah. Semua senjata itu memberikan kepada kita perlindungan, hikmat, dan keyakinan pada kebenaran Allah (ay.11-17). Meski demikian, sang rasul menekankan bahwa kekuatan dari Allah itu berasal dari doa-doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh di setiap waktu (ay.18-20).
Allah mendengar dan peduli akan kesulitan kita, entah kita mendoakannya dengan suara keras, menangis diam-diam, atau dipendam dalam hati yang terluka. Allah selalu siap menguatkan kita dengan kuasa-Nya, di saat kita menjawab undangan-Nya untuk terus berdoa dan berdoa . . . lagi.—Xochitl Dixon
WAWASAN
Dalam Efesus 6:18-20, empat kali Paulus meminta orang-orang percaya di Efesus untuk berdoa, dan dua kali ia meminta mereka untuk mendoakannya supaya berani. Apa yang mungkin membuat Paulus takut? Jawabannya ada dalam ayat-ayat sebelumnya, ketika ia menjelaskan dengan siapa kita berperang. Peperangan kita bukanlah dengan musuh yang kasatmata—yang dapat memberikan perlawanan yang nyata. Melainkan, kita berperang melawan musuh-musuh spiritual. Namun, Paulus juga memberikan cara untuk melawan kekuatan-kekuatan spiritual tersebut—dengan memakai perlengkapan senjata Allah (ay.10-17). Allah memberikan perlengkapan ini, tetapi Dia bekerja melalui doa-doa kita. —J. R. Hudberg
Bagaimana doa yang dilakukan terus-menerus dapat mengubah cara pandang, hubungan, dan kehidupan kita sehari-hari? Apa artinya melihat waktu doa sebagai sesuatu yang sama pentingnya dengan bernapas?
Bapa di surga, terima kasih karena kami boleh datang menghadap-Mu di dalam doa.

Tuesday, March 24, 2020

Kegagalan

Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. —Matius 16:18
Kegagalan
Sejak kecil, Jackson bercita-cita menjadi anggota pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat. Ambisi itu membawanya menjalani tahun-tahun yang penuh disiplin fisik dan pengorbanan diri. Akhirnya ia pun menjalani berbagai tes yang menguji kekuatan dan daya tahannya, termasuk menjalani apa yang dijuluki para pesertanya sebagai “Minggu neraka”.
Jackson ternyata tidak sanggup menyelesaikan pelatihan fisik yang berat itu, dan ia terpaksa membunyikan bel sebagai pertanda bagi komandan dan rekan-rekannya bahwa ia memilih keluar dari program tersebut. Bagi banyak orang, tindakannya pasti dianggap sebagai kegagalan. Namun di tengah kekecewaan yang sangat berat, Jackson kemudian bisa melihat kegagalannya berkarier di bidang militer sebagai persiapan untuk melakukan pekerjaannya sekarang.
Rasul Petrus juga pernah mengalami kegagalan. Ia pernah dengan berani menyatakan akan tetap setia kepada Yesus sekalipun harus masuk penjara atau mati (Luk. 22:33). Namun, kemudian ia menangis pahit karena telah menyangkali mengenal Yesus (ay.60-62). Akan tetapi, Allah memiliki rencana atas hidup Petrus setelah kegagalannya. Sebelum penyangkalan Petrus, Yesus pernah berkata kepadanya, “Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18; lihat juga Luk. 22:31-32).
Apakah saat ini kamu sedang bergumul dengan kegagalan yang membuat kamu merasa tidak layak atau tidak dapat maju? Jangan biarkan kegagalan membuat kamu melewatkan rencana Allah yang lebih besar atas hidup kamu.—Evan Morgan
WAWASAN
Tempat Yesus menanyakan kepada murid-murid-Nya tentang keilahian-Nya (Matius 16:13)—Kaisarea Filipi—punya arti penting. Tempat ini berlokasi di kaki Gunung Hermon, kira-kira empat puluh kilometer di utara Kapernaum. Tempat ini merupakan pusat penyembahan bermacam-macam berhala, termasuk Baal, dewa kesuburan Kanaan yang menguasai badai dan hujan; Pan, dewa hutan Yunani; dan Kaisar Augustus. Pertama-tama, Yesus menanyakan kepada murid-murid-Nya tentang kata orang mengenai-Nya (ay.13-14). Kemudian Dia membuat pertanyaan yang bersifat pribadi kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ay.15). Di mata dunia, Yesus hanyalah seseorang yang hebat—seperti Yohanes Pembaptis, Elia, atau Yeremia (ay.14-16)—tetapi bukanlah Allah. Namun, Yesus menyebut diri-Nya “Anak Manusia” (ay.13), sebuah gelar mulia untuk Sang Mesias yang secara eksklusif dipakai untuk mengacu kepada diri-Nya (Matius 9:6; 12:8; 13:41; 19:28; 24:30; 26:64; Lukas 21:27). —K. T. Sim
Peristiwa apa yang kamu anggap sebagai kegagalan tetapi yang ternyata dipakai Allah untuk membuat kamu bertumbuh? Mengapa penting menemukan identitas kita dalam cara Allah memandang kita?
Ya Allah, mampukanlah aku untuk memakai setiap keadaan, bahkan kegagalanku, untuk hormat kemuliaan-Mu!

Monday, March 23, 2020

Perjumpaan Kembali

Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia. —Wahyu 21:3
Perjumpaan Kembali
Dengan penuh semangat, anak kecil itu membuka kertas yang membungkus kado besar hadiah dari ayahnya, seorang tentara yang diyakininya tidak akan pulang ke rumah untuk merayakan ulang tahunnya. Dalam kotak tersebut ia menemukan sebuah kotak lain yang juga terbungkus kertas kado, dan di dalam kotak yang kedua itu, ada lagi kotak lain yang hanya berisi secarik kertas bertuliskan, “Kejutan!” Kebingungan, anak itu mendongak—tepat pada saat ayahnya memasuki ruangan. Anak itu langsung melompat dan berlari ke pelukan ayahnya, sambil berseru, “Ayah, aku kangen!” dan “Aku sayang Ayah!”
Bagi saya, perjumpaan kembali yang membahagiakan dan mengharukan itu mewakili suasana dalam Wahyu 21 yang menggambarkan momen luar biasa ketika anak-anak Allah berhadap-hadapan dengan Bapa mereka yang terkasih—dalam dunia baru yang sudah dipulihkan total. Di sana, “[Allah] akan menghapus segala air mata dari mata [kita].” Kita tidak akan lagi mengalami penderitaan dan kesedihan, karena kita akan hidup bersama Bapa kita di surga. Itulah yang dinyatakan “suara yang nyaring” dalam Wahyu 21, “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka” (ay.3-4).
Ada kelembutan kasih dan sukacita yang sudah dinikmati para pengikut Yesus dengan Allah, seperti yang digambarkan 1 Petrus 1:8: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.” Namun, bayangkan sukacita luar biasa yang melimpah saat kita melihat Pribadi yang kita kasihi dan rindukan itu menyambut kita ke dalam pelukan-Nya!—Alyson Kieda
WAWASAN
Wahyu 21:1-7 memberikan sedikit gambaran akan kehidupan kekal kita. Kita memang terhibur saat mengetahui bahwa “maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (ay.4), tetapi hal terpenting mengenai surga adalah bahwa itu tempat tinggal Allah “di mana terdapat kebenaran” (2 Petrus 3:13). Dalam penglihatan terakhir akan kekekalan dalam Wahyu 21–22, Yesus menyatakan bahwa “Semuanya telah terjadi” (21:6), menggemakan perkataan kemenangan Kristus di atas kayu salib, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Kutukan dosa (Kejadian 3:14-19) akan dihapuskan secara menyeluruh untuk selama-lamanya (Wahyu 21:4-5). Kristus memberikan “air kehidupan” yang pertama kali ditawarkan kepada Israel (Yesaya 55:1), kemudian kepada wanita Samaria (Yohanes 4:10) dan kepada siapa saja yang haus (7:37) dengan cuma-cuma (Wahyu 21:6). —K. T. Sim
Apa yang paling kamu nantikan dari kehidupan bersama Allah di dalam dunia baru yang telah dipulihkan-Nya? Bagaimana kamu mengalami sekilas sukacita yang akan datang itu sekarang?
Allah Mahakasih, dengan penuh sukacita kami menantikan harinya ketika kelak kami akan bersama-Mu selamanya. Hingga saatnya tiba, mampukanlah kami melayani-Mu dengan penuh kegembiraan.

Sunday, March 22, 2020

Potret Keputusasaan

Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. —Mazmur 107:6
Potret Keputusasaan
Pada masa Depresi Besar di Amerika Serikat, fotografer terkenal Dorothea Lange menjepret foto Florence Owens Thompson dan anak-anaknya. Foto terkenal yang diberi judul Migrant Mother itu menjadi potret keputusasaan seorang ibu setelah ladang kacang polongnya mengalami gagal panen. Lange mengambil foto itu di Nipomo, California dalam penugasan dari Dinas Perlindungan Pertanian dengan maksud agar para pejabat kementerian menyadari kebutuhan para buruh tani musiman yang sangat mendesak.
Kitab Ratapan juga menghadirkan potret keputusasaan—yaitu tentang Kerajaan Yehuda setelah kota Yerusalem dihancurkan. Sebelum pasukan Nebukadnezar menyerbu, para penduduk telah mengalami wabah kelaparan karena pengepungan terhadap kota mereka (2 Raj. 24:10-11). Kendati kekacauan yang terjadi adalah akibat dari ketidaktaatan mereka selama bertahun-tahun kepada Allah, penulis kitab Ratapan tetap berseru dan menangis kepada Tuhan mewakili bangsanya (Rat. 2:11-12).
Ketika penulis Mazmur 107 juga menggambarkan masa-masa memprihatinkan dalam sejarah Israel (yaitu pengembaraan mereka di padang gurun, ayat 4-5), fokusnya beralih kepada tindakan yang patut mereka lakukan di masa sulit: “Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka” (ay.6). Betapa luar biasa hasilnya: “Dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.”
Apakah kamu sedang putus asa? Jangan diam saja. Berserulah kepada Allah. Dia mendengar dan menanti-nanti untuk memulihkan pengharapan kamu. Meskipun tidak selalu membawa kita keluar dari situasi-situasi yang sulit, Dia telah berjanji akan selalu menyertai kita.—Linda Washington
WAWASAN
Mazmur yang tidak diketahui penulisnya ini merupakan nyanyian syukur seluruh bangsa yang konon dinyanyikan pada saat peletakan dasar Bait Allah yang kedua. Penafsir Alkitab Derek Kidner menuliskan mengenai Mazmur 107: “Fitur utama mazmur yang luar biasa ini adalah keempat penggambaran kesusahan manusia dan campur tangan ilahi. Jika dibaca terpisah, petualangan-petualangan ini bukanlah situasi yang hanya dialami oleh bangsa Israel; tetapi fakta bahwa nyanyian ini digubah untuk merayakan kembalinya orang-orang buangan memberikan kemungkinan bahwa episode-episode itu adalah empat cara berbeda untuk menggambarkan kesulitan yang telah dilewati oleh bangsa tersebut.“ Bacaan hari ini menggambarkan bagaimana Israel bagaikan seseorang yang tersesat di padang gurun, yang diselamatkan oleh Allah dan dituntun pulang. Ayat-ayat ini juga menggambarkan betapa jauhnya kita terhilang sebelum Allah menyelamatkan kita. —Alyson Kieda
Kapan kamu pernah mengalami pertolongan Allah di waktu sulit? Bagaimana kamu dapat menyemangati seseorang yang sedang mengalami krisis Minggu ini?
Bapa Surgawi, aku bersyukur untuk kehadiran-Mu yang menghiburku.

Saturday, March 21, 2020

Camar Bernama Chirpy

Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.—1 Raja-raja 17:6
Camar Bernama Chirpy
Setiap hari selama dua belas tahun, seekor burung camar bernama Chirpy selalu mengunjungi seorang pria yang pernah membantu menyembuhkan kakinya yang patah. Ketika itu, John Sumner, nama pria itu, membujuk Chirpy agar mau datang kepadanya dengan memberinya biskuit anjing dan kemudian merawatnya sampai sembuh. Meskipun Chirpy hanya berdiam di Pantai Instow di Devon, Inggris, antara bulan September dan Maret, ia dengan mudah menemukan John—Chirpy langsung terbang menghampiri John setiap kali ia datang ke pantai dan tidak mendekati yang lain. Sungguh sebuah hubungan yang tidak lazim.
Ikatan yang terjalin antara John dan Chirpy mengingatkan saya pada hubungan yang lain antara seorang manusia dan seekor burung. Ketika Nabi Elia diperintahkan ke padang gurun untuk bersembunyi “di tepi sungai Kerit” selama masa kekeringan, Allah menyuruhnya minum dari sungai dan memerintahkan burung gagak membawakan makanan baginya (1Raj. 17:3-4). Meski berada dalam situasi dan kondisi alam yang sulit, kebutuhan Elia akan makanan dan minuman tetap terpenuhi. Gagak bukanlah jenis burung yang suka membawakan makanan—mereka sendiri menyantap makanan yang tidak sehat—tetapi justru burung-burung itu yang membawa makanan yang menyehatkan bagi Elia.
Bukan hal aneh kalau ada manusia menolong burung, tetapi ketika “pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging” untuk manusia, hal itu hanya dapat terjadi lewat kuasa dan pemeliharaan Allah (ay.6). Seperti halnya Nabi Elia, kita juga dapat mempercayai pemeliharaan Allah atas hidup kita.—Kirsten Holmberg
WAWASAN
Ahab (874–853 SM), raja kedelapan Kerajaan Utara Israel (1 Raja-Raja 16:29–22:40), menetapkan penyembahan Baal—dewa kesuburan Kanaan yang menguasai badai dan hujan—sebagai agama negara. Ia merupakan raja terjahat Israel, karena “ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya” (16:33). Allah memperingatkan bahwa Dia akan mengirimkan kekeringan dan kelaparan jika umat-Nya tidak setia (Ulangan 11:16-17; 28:22-24). Tidak adanya hujan selama tiga setengah tahun (1 Raja-Raja 17:1; Lukas 4:25) adalah serangan langsung terhadap Baal, yang memuncak pada kemenangan Yahweh atas ilah palsu tersebut di Gunung Karmel dengan hujan lebat yang dramatis (1 Raja-Raja 18:16-46). —K. T. Sim
Bagaimana Allah telah memenuhi segala kebutuhan kamu dengan cara-cara yang mengejutkan? Bagaimana pengalaman tersebut telah memperdalam kepercayaan kamu kepada-Nya?
Allah Mahakasih, mampukanlah aku untuk percaya bahwa setiap hal yang kami butuhkan sanggup Engkau penuhi, bagaimanapun sulitnya keadaan yang sedang kuhadapi.

Friday, March 20, 2020

Alasan Lambat Bertindak

Engkau Allah yang suka memaafkan, panjang sabar, murah hati dan penuh kasihan. —Nehemia 9:17 BIS
Alasan Lambat Bertindak
Dalam tayangan serial televisi BBC berjudul The Life of Mammals, pembawa acara David Attenborough memanjat pohon untuk melihat hewan kungkang tiga jari. Berhadap-hadapan langsung dengan mamalia yang paling lambat gerakannya di dunia itu, David menyapanya dengan berseru: “Ciluk-ba!” Setelah tidak mendapat reaksi apa pun dari hewan tersebut, David lantas menjelaskan bahwa gerakan kungkang yang lambat itu bukanlah tanpa alasan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena makanan pokok kungkang adalah daun-daunan yang sulit dicerna dengan kandungan nutrisi yang rendah.
Dalam sebuah pembahasan tentang sejarah Israel, Nehemia mengingatkan kita tentang contoh dan penjelasan lain tentang kelambatan (9:9-21). Menurut Nehemia, Allah kita adalah contoh utama kelambatan—dalam hal ini, lambat untuk marah atau “panjang sabar”. Nehemia menceritakan bagaimana Allah peduli kepada umat-Nya, memberikan hukum yang menghidupkan kepada mereka, menguatkan mereka dalam perjalanan keluar dari tanah Mesir dan menyediakan bagi mereka Tanah Perjanjian (ay.9-15). Meskipun bangsa Israel terus-menerus memberontak (ay.16), Allah tidak pernah berhenti mengasihi mereka. Apa alasannya? Nehemia menjelaskannya: Allah pencipta kita mempunyai sifat “suka memaafkan, panjang sabar, murah hati dan penuh kasihan” (ay.17 BIS). Jika tidak demikian, bagaimana mungkin Allah bisa begitu sabar menghadapi keluhan, ketidakpercayaan, dan pemberontakan umat selama empat puluh tahun? (ay.21). Itu semua karena kasih sayang Allah yang besar (ay.19).
Bagaimana dengan kita? Bukankah kita sering tidak sabar terhadap Allah? Namun, karena kebesaran hati-Nya, Allah masih mengizinkan kita untuk hidup mengasihi dan menantikan Dia.—Mart DeHaan
WAWASAN
Ketika para imam Israel memimpin umat untuk menyatakan bahwa Allah mereka itu panjang sabar, sesungguhnya mereka bersama-sama merenungkan sebuah kisah agung dari masa lampau (Keluaran 34:5-7). Belajar dari kesalahan nenek moyang mereka, orang Israel lalu meneguhkan kepercayaan mereka dalam Allah yang tetap sabar, mau, dan sanggup membantu mereka—sesuatu yang akan Dia lakukan meskipun mereka menderita akibat dosa-dosa nenek moyang mereka, kejahatan musuh-musuh mereka, dan penyesalan mereka yang mendalam (Nehemia 9:1-3). —Mart DeHaan
Dalam hal apa dan kepada siapa kamu perlu belajar untuk tidak cepat marah? Bagaimana perasaan kamu mengetahui bahwa Allah panjang sabar terhadap kamu?
Ya Bapa, penuhilah kami dengan Roh-Mu yang lembut, murah hati, pengampun, dan pengasih supaya orang lain tidak hanya melihat penguasaan diri kami tetapi juga kasih kami demi nama-Mu.

Thursday, March 19, 2020

Senang Membaca

Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam. —Yosua 1:8
Senang Membaca
Tsundoku. Kata yang pas untuk saya! Istilah dalam bahasa Jepang tersebut berarti tumpukan buku di meja samping tempat tidur yang menunggu untuk dibaca. Buku memang berpotensi memberikan pengetahuan atau pelarian diri ke waktu atau tempat yang berbeda, dan saya merindukan kesenangan dan wawasan yang dapat ditemukan di dalam halaman-halamannya. Karena itulah saya menyimpan setumpuk buku di sisi tempat tidur saya.
Pemikiran bahwa dari buku kita bisa mendapatkan kesenangan dan pertolongan sangatlah benar, terutama jika yang kita baca adalah buku segala buku, yaitu Alkitab. Saya melihat adanya dorongan untuk memenuhi hati dan pikiran dengan Kitab Suci dalam perintah Allah kepada Yosua, pemimpin baru Israel yang ditugaskan memimpin umat masuk ke Tanah Perjanjian (Yos. 1:8).
Mengetahui bahwa langkah Yosua tidak mudah, Allah meyakinkannya, “Aku akan menyertai engkau” (ay.5). Pertolongan-Nya akan datang, sebagian karena ketaatan Yosua pada perintah-perintah-Nya. Jadi, Allah memerintahkan Yosua: “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya” (ay.8). Meski memiliki Taurat, Yosua harus merenungkannya secara teratur untuk memperoleh pemahaman dan wawasan tentang diri Allah dan kehendak-Nya bagi umat-Nya.
Apakah kamu memerlukan petunjuk, kebenaran, dan dorongan yang menguatkan untuk hari ini? Saat mengambil waktu untuk membaca, menaati, dan menerima kekuatan melalui Kitab Suci, kita akan menikmati segala berkat yang terkandung dalam halaman-halamannya (2 Tim. 3:16).—Lisa M. Samra
WAWASAN
Janji Allah kepada Yosua bahwa “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5) adalah janji yang pertama-tama diberikan kepada bangsa Israel (Ulangan 4:31; 31:6) untuk mempersiapkan mereka dalam perjalanan ke tanah Kanaan. Setelah kematian Musa (Yosua 1:1), Allah memberikan janji ini langsung kepada Yosua. Allah berjanji bahwa Dia akan menyertai Yosua seperti Dia berjanji akan menyertai pendahulunya (Keluaran 3:12). Dengan bersandar pada kehadiran Allah dan merenungkan “kitab Taurat” (Yosua 1:8, yang merujuk kepada apa yang kita kenal sebagai kitab Ulangan), pemimpin baru ini akan menemukan keberanian untuk memanggul tanggung jawab yang sangat besar, yaitu memimpin umat Allah. —Monica La Rose
Apa saja yang biasanya menghalangi kamu untuk membaca Alkitab? Bagaimana kamu bertekad untuk lebih sering membacanya Minggu ini?
Bapa di surga, kami bersyukur untuk tuntunan-Mu melalui Kitab Suci. Berikan kami kerinduan yang lebih besar untuk mendengar suara-Mu melalui berbagai cara yang Engkau gunakan.

Wednesday, March 18, 2020

Sukacita Menantikan Hukuman Mati

Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan. —1 Petrus 1:8
Sukacita Menantikan Hukuman Mati
Pada tahun 1985, Anthony Ray Hinton didakwa membunuh dua orang manajer restoran. Ia sebenarnya dijebak, karena ketika pembunuhan itu terjadi ia sedang berada di tempat yang sangat jauh dari TKP. Namun, Ray tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Dalam persidangan, Ray mengampuni orang-orang yang memfitnahnya, dan mengatakan bahwa ia tetap memiliki sukacita meski diperlakukan tidak adil. “Setelah mati, saya akan pergi ke surga,” katanya. “Kalian sendiri akan pergi ke mana?”
Hidup sebagai terpidana mati sangatlah berat bagi Ray. Lampu-lampu penjara berkedip-kedip setiap kali kursi listrik digunakan untuk mengeksekusi narapidana lain, dan itu mengingatkannya pada hukuman yang menantinya kelak. Satu dari sekian banyak ketidakadilan yang dihadapi Ray dalam upaya naik banding adalah ketika ia berhasil melewati tes deteksi kebohongan tetapi pengadilan mengabaikan hasil tes tersebut.
Akhirnya, pada hari Jumat Agung 2015, hukuman pidana yang dijatuhkan atas Ray dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat. Saat itu, ia sudah hampir tiga puluh tahun menjadi terpidana mati. Hidupnya menjadi kesaksian bahwa Allah benar-benar ada. Karena imannya kepada Yesus, Ray memiliki pengharapan melampaui pencobaan yang ia alami (1 Ptr. 1:3-5) dan mengalami sukacita supernatural di hadapan ketidakadilan (ay.8). “Sukacita yang kumiliki” kata Ray setelah dibebaskan, “tidak dapat direnggut dariku di dalam penjara.” Sukacita sedemikian rupa membuktikan kemurnian imannya (ay.7-8).
Sukacita menantikan hukuman mati bukanlah hal yang bisa dipalsukan. Iman seperti itu mengarahkan kita kepada Allah yang selalu hadir meski tak terlihat dan yang siap menguatkan kita yang didera pencobaan berat.—Sheridan Voysey
WAWASAN
Ketika membaca 1 Petrus 1:3-9, kita mungkin salah mengira bahwa Petrus mengatakan kepada para pembaca suratnya untuk bersukacita karena penderitaan mereka. Namun, jika kita menyelidiki bacaan ini lebih dalam, Petrus menginginkan para pembaca untuk bersukacita bahwa melalui penderitaan , mereka akan menerima “puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (ay.7). Kemudian, Petrus menyatakan bahwa orang-orang yang percaya dalam Yesus seharusnya tidak heran ketika cobaan atau “nyala api siksaan” terjadi untuk menguji mereka (4:12). Sekali lagi, ia menyatakan bahwa menderita untuk Kristus adalah suatu alasan untuk bersukacita karena hal itu berarti “Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu” (ay.14). Lebih dari itu, cobaan-cobaan tersebut tidaklah berarti jika dibandingkan dengan sukacita dan kemuliaan kekal yang akan mereka dapatkan. Melalui cobaan, iman mereka akan dibuktikan kemurniannya (1:7), dan iman yang murni akan berujung pada keselamatan (ay.9)—sebuah alasan yang sangat baik untuk bersukacita! —Julie Schwab
Ingatlah orang-orang yang pernah mengalami sukacita Allah di tengah pencobaan berat. Bagaimana kualitas iman mereka? Bagaimana kamu dapat membawa sukacita Allah kepada seseorang yang saat ini sedang mengalami ketidakadilan?
Ya Allah sumber pengharapan kami, penuhilah kami dengan sukacita dan damai sejahtera-Mu seraya kami terus mempercayai-Mu terlepas apa pun situasi kami saat ini. Kami mengasihi-Mu!

Tuesday, March 17, 2020

Bahkan Sebelum Engkau Meminta

Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya. —Yesaya 65:24
Bahkan Sebelum Engkau Meminta
Teman saya Robert dan Colleen sudah menikah selama puluhan tahun dan menikmati pernikahan yang bahagia. Saya senang melihat cara mereka berinteraksi. Saat makan malam, yang satu akan mengulurkan mentega kepada pasangannya sebelum diminta. Lalu, yang lain mengisi ulang gelas minuman di saat yang tepat. Saat menceritakan kisah hidup mereka, keduanya saling menimpali dengan lancar. Terkadang mereka seperti bisa membaca pikiran satu sama lain.
Sungguh tenang rasanya ketika kita tahu Allah mengenal dan mempedulikan kita lebih dari siapa pun yang kita kenal dan kasihi. Nabi Yesaya menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya dalam kerajaan yang akan datang sebagai hubungan yang akrab dan penuh kasih. Allah berkata tentang umat-Nya, “Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya” (Yes. 65:24).
Namun, bagaimana mungkin itu benar? Ada beberapa hal yang telah saya doakan selama beberapa tahun tanpa pernah mendapatkan jawaban. Saya percaya saat kita bertumbuh dalam keintiman dengan Allah, menyelaraskan kerinduan hati kita dengan isi hati-Nya, kita dapat belajar mempercayai pemeliharaan dan penentuan waktu-Nya yang tepat. Kita dapat mulai merindukan apa yang Allah rindukan. Ketika berdoa, kita meminta—di antara banyak hal—segala sesuatu yang menjadi bagian dari Kerajaan Allah seperti tertulis dalam Yesaya 65: Berakhirnya kesedihan (ay.19). Rumah yang aman, perut yang kenyang, dan pekerjaan yang bermakna bagi semua orang (ay.21-23). Segala ciptaan hidup dalam damai (ay.25). Ketika Kerajaan Allah datang dalam kesempurnaan-Nya, Allah akan menjawab seluruh doa tersebut.—Amy Peterson
WAWASAN
Meskipun kitab ini ditulis untuk orang-orang Israel kuno, perkataan Yesaya mengantisipasi suatu peristiwa yang masih kita tunggu-tunggu. Sang nabi menulis, “di dalam [Yerusalem yang baru] tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erangpun tidak” (65:19). Ini cocok dengan penglihatan Yohanes dalam Wahyu 21, ketika Yohanes menulis, “aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru” (ay.1). Dalam keberadaan di masa depan ini, “’maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (ay.4). —Tim Gustafson
Bagaimana cara kamu terlibat dalam membawa Kerajaan Allah kepada dunia? Apa yang akan kamu minta kepada Allah hari ini?
Ya Allah, terima kasih Engkau selalu mendengar doa-doaku. Aku percaya Engkau mengasihiku dan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang telah Engkau panggil. Ubahlah segala hasratku agar aku merindukan yang Kaurindukan.

Monday, March 16, 2020

Keterampilan Luar Biasa

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. —Mazmur 139:14
Keterampilan Luar Biasa
Pemimpin kelompok paduan suara di kampus kami dapat mengarahkan sekaligus mengiringi nyanyian kami dengan permainan piano. Ia sangat piawai menyeimbangkan kedua tanggung jawab itu. Di akhir suatu konser, ia terlihat sangat lelah, maka saya pun bertanya kepadanya apakah semua baik-baik saja. Ia menjawab, “Aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.” Lalu ia menjelaskan, “Nada piano yang kumainkan tadi begitu sumbang sampai-sampai di sepanjang konser aku harus memainkan dua kunci berbeda dengan masing-masing tanganku!” Saya sangat terkejut melihat keterampilannya yang luar biasa itu, sekaligus kagum kepada Tuhan yang menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal tersebut.
Raja Daud mengungkapkan kekaguman yang lebih besar lagi ketika ia menulis, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mzm. 139:14). Baik menyaksikan kepiawaian manusia atau melihat keajaiban alam, kedahsyatan dan keajaiban karya ciptaan membawa kita menyadari keagungan Pencipta kita.
Suatu hari kelak, ketika kita berada di hadirat Allah, orang-orang dari setiap generasi akan menyembah Dia dengan berkata, ”Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11). Keterampilan luar biasa yang diberikan Allah kepada kita dan alam indah yang telah diciptakan-Nya sudah cukup untuk mendorong kita menyembah Dia.—Bill Crowder
WAWASAN
Dalam Mazmur 139, sang penulis, Raja Daud, menjelaskan dua dari karakteristik dasar Allah: kemahaadaan-Nya—Allah yang ada di segala tempat dalam segala waktu (ay.1-6) dan kemahatahuan-Nya—pengetahuan Allah akan segala hal (ay.7-18). Sang penulis menjelaskan bahwa ia tidak bisa pergi ke luar hadirat Allah: “Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (ay.9-10). Namun, kemudian ada perkataan yang menarik dalam ayat 13: sang penulis menghubungkan kehadiran Allah yang terus-menerus dengan penciptaan dirinya oleh Allah. Allah juga hadir dalam rahim seorang ibu dan akan terus bersama kita ke mana saja kita pergi. —J. R. Hudberg
Bagian mana dari karya ciptaan Allah yang membuat kamu senang menyembah-Nya? Mengapa penting bersyukur dan memuji Allah untuk keterampilan yang Dia berikan kepada kamu?
Betapa hebatnya Engkau, ya Allah! Aku melihat sentuhan tangan-Mu di mana-mana. Terima kasih untuk semua yang telah Kaubuat.

Sunday, March 15, 2020

Sudah Dibayar Lunas

Maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda. —Ulangan 26:12
Sudah Dibayar Lunas
“Apa yang kau alami?” tanya Zeal, seorang pengusaha Nigeria, sambil membungkukkan badannya di atas salah satu ranjang rumah sakit di Lagos. “Luka tembak,” jawab si pemuda yang pahanya diperban. Meski sudah cukup sehat untuk kembali ke rumah, pemuda itu tidak bisa pulang sebelum ia menyelesaikan tagihan rumah sakit—kebijakan yang diberlakukan di banyak rumah sakit pemerintah di wilayah tersebut. Setelah berkonsultasi dengan seorang pekerja sosial, Zeal diam-diam menanggung pembayaran tagihan tersebut melalui lembaga amal yang pernah ia dirikan sebagai wujud nyata dari imannya. Ia berharap orang-orang yang telah menerima berkat kebebasan itu kelak akan memberkati orang lain juga.
Membagikan berkat Allah kepada sesama merupakan tema yang muncul di sepanjang Alkitab. Misalnya, ketika Musa memberitahukan cara hidup di Tanah Perjanjian kepada orang Israel, ia meminta mereka untuk mengembalikan milik Allah terlebih dahulu (lihat Ul. 26:1-3) dan mempedulikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan—orang asing, yatim piatu, dan para janda (ay.12). Karena tinggal di “negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (ay.15), mereka harus rela menunjukkan kasih Allah kepada mereka yang membutuhkan.
Kita juga dapat menyebarkan kasih Allah dengan cara membagikan harta yang kita punya, dalam jumlah besar atau kecil. Mungkin kita tidak memiliki kesempatan untuk memberi secara pribadi seperti yang dilakukan Zeal, tetapi kita dapat meminta Allah untuk menunjukkan pertolongan seperti apa yang dapat kita berikan dan siapa yang membutuhkan bantuan kita.—Amy Boucher Pye
WAWASAN
Dalam Alkitab bahasa Ibrani, kitab-kitab biasanya dinamakan berdasarkan kata-kata pembukanya. Kitab Ulangan di dalam Alkitab Ibrani disebut “inilah perkataan-perkataan”—pernyataan pembuka dari Ulangan 1:1. Sementara itu, judul kitab ini lebih menggambarkan fungsi kitab tersebut, yaitu sebagai pengulangan penguraian hukum-hukum Taurat oleh Musa tidak lama sebelum kematiannya dan menceritakan penyeberangan bangsa Israel ke tanah perjanjian. Kitab ini mengingatkan tentang perjanjian mereka dengan Allah—sebuah perjanjian yang harus mereka jalankan di tanah tersebut. Kitab ini terbagi menjadi tiga bagian: konteks sejarahnya (1:1-4), pengulangan penguraian hukum Taurat (1:5–30:20), dan penunjukan Yosua sebagai persiapan kematian Musa (pasal 31–34). Sangat jelas bahwa “pengulangan” penguraian hukum Taurat adalah tujuan utama kitab Ulangan. —Bill Crowder
Menurut kamu, bagaimana perasaan si pasien yang tagihannya dilunasi oleh Zeal? Jika kamu pernah menerima berkat yang tidak terduga, apa yang menjadi respons kamu waktu itu?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau memperhatikan jiwa-jiwa yang membutuhkan pertolongan-Mu. Bukalah mataku agar dapat melihat kebutuhan jasmani dan rohani orang lain, yang jauh maupun dekat, dan tolong aku agar tahu cara yang terbaik untuk menolong mereka.

Saturday, March 14, 2020

Lebih Baik Daripada Hidup

Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.—Mazmur 63:4
Lebih Baik Daripada Hidup
Meskipun Mary mengasihi Tuhan Yesus, tetapi jalan hidupnya sangat sulit. Dua anak lelakinya sudah meninggal dunia, begitu juga dengan kedua cucu lelakinya yang sama-sama menjadi korban penembakan. Mary sendiri menderita stroke yang membuat bagian tubuh sebelah kirinya lumpuh. Namun, begitu bisa berdiri dan berjalan lagi, ia langsung pergi beribadah di gereja dan menyerukan puji-pujian bagi Allah, seperti yang biasa dilakukannya. Meski pelafalannya sudah tidak lancar, dari mulutnya masih keluar kata-kata seperti, “Aku mengasihi Yesus sepenuh jiwaku; terpujilah nama-Nya!”
Jauh sebelum Mary menyatakan pujiannya kepada Allah, Daud merangkai kata-kata dalam Mazmur 63. Di bagian pembukaan mazmurnya Daud menulis “ketika ia ada di padang gurun Yehuda.” Meski berada dalam situasi yang kurang mengenakkan—bahkan dalam keadaan putus asa—Daud tidak berkecil hati karena ia memiliki pengharapan dalam Tuhan. “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu . . . seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair” (ay.2).
Mungkin saat ini kamu sedang berada dalam kesulitan, tanpa arah yang jelas atau kekuatan yang memadai untuk menemukan jalan keluar. Situasi yang tidak nyaman seperti itu dapat membingungkan kita, tetapi kita tidak perlu tergelincir olehnya asalkan kita berpegang teguh kepada Dia yang setia mengasihi kita (ay.4), mengenyangkan kita (ay.6), menolong kita (ay.8), dan menopang kita dengan tangan kanan-Nya (ay.9). Karena kasih setia Allah lebih baik daripada hidup, maka seperti Mary dan Daud, kita dapat mengungkapkan kepuasan kita dengan bibir yang memuji dan memuliakan Allah (ay.4-6).—Arthur Jackson
WAWASAN
Mazmur 63:1 menjelaskan tentang sang penulis dan keadaannya: “Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda.” Dalam ayat 12, Daud menyebut dirinya sebagai “raja”, jadi kita tahu bahwa mazmur ini bukan ditulis ketika Raja Saul sedang mengejarnya. Kemungkinan besar, mazmur ini ditulis selama peristiwa yang dicatat dalam 2 Samuel 15, ketika Absalom, anak Daud, berkonspirasi melawan ayahnya untuk merebut takhta, mengumpulkan pendukung, dan bahkan merekrut Ahitofel, teman dekat dan penasihat Daud (ay.10-12). Peristiwa-peristiwa ini menyebabkan Daud melarikan diri dari Yerusalem menuju padang gurun (ay.14,23). —Alyson Kieda
Bagaimana kamu menggambarkan sikap kamu ketika berada dalam “padang gurun” kehidupan? Bagaimana Mazmur 63 dapat membantu kamu menyiapkan diri untuk masa-masa tersebut?
Tuhan Yesus, aku sangat bersyukur dapat memuji-Mu di saat aku putus asa dan tak berdaya, karena kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup!

Friday, March 13, 2020

Datang Bertubi-tubi

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.—1 Timotius 6:6
Datang Bertubi-tubi
kamu mungkin tahu bagaimana rasanya. Tagihan demi tagihan datang setelah kamu menjalani prosedur medis—dari dokter anestesi, dokter bedah, laboratorium, fasilitas medis lain. Jason pernah mengalami hal ini setelah menjalani suatu operasi darurat. Ia mengeluh, “Kami masih berutang ribuan dolar, padahal sebagian sudah ditanggung oleh asuransi. Kalau saja kami bisa melunasi semua tagihan ini, hidup kami pasti lebih baik dan saya akan bahagia! Namun, sekarang rasanya masalah datang begitu bertubi-tubi.”
Adakalanya seperti itulah masalah dalam hidup kita. Hal yang sama juga dialami oleh Rasul Paulus. Ia berkata, “Saya sudah mengalami hidup serba kekurangan” tetapi ia “sudah mengenal rahasianya untuk menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga”(Flp. 4:12 BIS). Apa rahasianya? “Dengan kuasa yang diberikan Kristus kepada saya, saya mempunyai kekuatan untuk menghadapi segala rupa keadaan” (ay.13 bis). Suatu waktu, saat sedang menghadapi keadaan yang mengecewakan, saya membaca tulisan ini pada selembar kartu ucapan: “Kalau tidak di sini, di mana lagi?” Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa jika saya tidak bisa merasa cukup dalam keadaan saat ini, lantas apa yang membuat saya yakin bahwa saya akan bahagia seandainya situasinya berbeda?
Bagaimana kita dapat belajar berserah kepada Yesus? Mungkin dengan mengatur ulang fokus kita. Dengan menikmati dan mengucap syukur untuk semua kebaikan yang kita terima. Dengan belajar lebih lagi tentang Bapa kita yang setia. Dengan bertumbuh dalam sikap percaya dan sabar. Dengan menyadari bahwa hidup adalah bagi Allah dan bukan bagi diri kita sendiri. Dengan meminta Allah mengajarkan rasa cukup yang hanya ditemukan di dalam Dia.—Anne Cetas
WAWASAN
Filipi 4:10-20 adalah salah satu eksposisi agung Paulus mengenai kepuasan, bersama dengan 1 Timotius 6:2-10. Sangat jelas dari kedua bacaan ini bahwa Paulus tidak memikirkan tentang kekayaan. Bahkan, fokusnya tidak berada pada kebutuhan dirinya sendiri namun pada keuntungan yang diberikan kepada para pemberi, “semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi” (Filipi 1:1). Paulus berkata, “Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu” (4:17). Ia melihat pemberian mereka yang murah hati sebagai persembahan untuk Allah dan mengatakan bahwa Allah sajalah yang akan memenuhi semua kebutuhan mereka (ay.18-19). —Tim Gustafson
Area mana saja dalam hidup kamu yang perlu lebih kamu syukuri? Bagaimana kamu dapat mengubah fokus kamu?
Ya Allah, Engkau baik dan semua yang Engkau lakukan sungguh baik. Ajarkan aku menemukan kepuasan di dalam Engkau. Aku mau belajar.

Thursday, March 12, 2020

Memakai Setiap Kesempatan

Hendaklah kalian hidup bijaksana dan memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya.—Kolose 4:5 BIS
Memakai Setiap Kesempatan
Pernah menangkap naga? Saya belum, sampai anak lelaki saya berhasil membujuk saya mengunduh sebuah gim di telepon genggam saya. Gim itu menampilkan peta digital yang mirip dengan dunia nyata sehingga kita bisa menangkap makhluk-makhluk berwarna-warni di sekitar kita.
Tidak seperti kebanyakan gim, yang ini mengharuskan pemainnya bergerak. Ke mana pun kita melangkah itulah tempat bermainnya. Hasilnya? Saya jadi sering jalan kaki! Tiap kali bermain, kami berusaha memakai setiap kesempatan yang ada untuk menangkap makhluk yang bermunculan di sekeliling kami.
Memang mudah untuk terfokus atau terobsesi pada gim yang dirancang untuk memikat para penggunanya. Namun, saat bermain gim ini, saya merasa tertegur oleh pertanyaan yang saya ajukan kepada diri sendiri: Apakah saya juga segigih ini dalam memakai kesempatan-kesempatan rohani di sekitar saya?
Paulus tahu pentingnya bersikap peka terhadap karya Allah di sekitar kita. Dalam Kolose 4, ia minta didoakan agar mendapat kesempatan mengabarkan Injil (ay.3). Kemudian, ia memberikan tantangan, “Di dalam hubungan kalian dengan orang-orang yang tidak percaya, hendaklah kalian hidup bijaksana dan memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya” (ay.5 BIS). Paulus tidak ingin jemaat Kolose melewatkan kesempatan apa pun untuk membawa orang lain kepada Kristus. Namun, untuk itu mereka harus benar-benar mengenali diri dan kebutuhan orang lain, lalu melakukannya dengan cara yang “penuh kasih” (ay.6).
Dalam dunia ini, ada begitu banyak hal yang lebih menuntut waktu dan perhatian kita daripada gim naga khayalan. Namun, Allah memanggil kita untuk menjelajahi “petualangan” di dunia nyata, dengan mencari kesempatan sehari-hari untuk membawa orang lain kepada Dia.—Adam Holz
WAWASAN
Selama menjadi tahanan rumah di Roma, Paulus menulis surat-surat yang sering kali disebut sebagai Surat-surat dari Penjara: Efesus, Filipi, Kolose, dan Filemon. Meskipun dikelompokkan menjadi satu karena sama-sama ditulis dari tempat Paulus dikurung, keempat surat itu memiliki pembaca dan tujuannya masing-masing. Salah satu surat dari penjara (Filipi) dikirimkan ke Yunani, sementara ketiga lainnya dikirimkan ke Asia Kecil (Turki masa kini). Efesus dan Kolose memiliki tema tentang tubuh Kristus dan Kristus sebagai kepala gereja—tetapi keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda. Efesus berfokus kepada Kristus sebagai kepala, sementara Kolose lebih banyak melihat kepada gereja. Filipi, yang ditulis kepada para anggota gereja pertama yang didirikan Paulus di tanah Eropa, menggambarkan bagaimana orang-orang percaya dapat mengalami sukacita bahkan di tengah-tengah keadaan yang sulit. Filemon adalah satu-satunya surat pribadi yang berada dalam kelompok ini, dan di dalamnya Paulus mendorong sahabat terkasihnya untuk berbaik hati kepada seorang hamba pelarian yang baru bertobat, Onesimus. —Bill Crowder
Kapan Allah memakai seseorang dengan cara yang tidak terduga untuk membawa kamu kepada hubungan yang lebih dalam dengan-Nya? Kapan Dia memakai kamu untuk memberi dampak pada hidup orang lain melalui keseharian kamu?
Tuhan Yesus, terima kasih Engkau senantiasa bekerja dalam diri orang-orang di sekitarku. Tolonglah aku memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk menunjukkan kasih dan anugerah-Mu.

Wednesday, March 11, 2020

Dia Tahu Semuanya

Kebijaksanaan-Nya tak terhingga.—Mazmur 147:5
Dia Tahu Semuanya
Kami memelihara Finn, seekor ikan cupang hias, di rumah kami selama dua tahun. Anak perempuan saya kerap membungkukkan badan di atas akuarium dan mengajaknya ngobrol setelah memberinya makan. Ketika ada topik tentang hewan peliharaan di taman kanak-kanaknya, ia dengan bangga bercerita tentang Finn. Pada suatu hari, Finn mati, dan putri saya sedih sekali.
Ibu saya menasihati agar saya sungguh-sungguh mendengarkan perasaan anak saya dan mengatakan kepadanya, “Tuhan sangat tahu perasaanmu.” Saya sependapat bahwa Allah tahu segala-galanya, tetapi juga bertanya-tanya dalam hati, Bagaimana mungkin hal itu dapat menghibur hati anak saya? Lalu, terpikir oleh saya bahwa Tuhan tidak hanya tahu segala peristiwa dalam hidup kita—dengan penuh belas kasihan Dia melihat ke dalam jiwa kita dan tahu bagaimana peristiwa-peristiwa itu mempengaruhi kita. Dia mengerti bahwa “hal-hal kecil” sekalipun dapat terasa besar tergantung dari usia kita, pengalaman luka batin di masa lalu, atau kekurangan jasmani yang kita alami.
Yesus melihat kebesaran sesungguhnya dari persembahan yang diberikan oleh seorang janda—dan juga kebesaran hatinya—ketika ia memasukkan dua keping uang ke dalam kotak persembahan di Bait Allah. Yesus menggambarkan makna persembahan itu bagi si janda dengan berkata, “Janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. . . . [Ia memberi] seluruh nafkahnya” (Mrk. 12:43-44).
Janda itu tidak bercerita tentang keadaan hidupnya tetapi Yesus mengerti bahwa jumlah persembahan yang mungkin kecil dan tak berarti bagi orang lain sebenarnya adalah suatu pengorbanan besar baginya. Tuhan melihat hidup kita dengan cara yang sama. Kiranya kita terhibur oleh pengertian-Nya yang tidak terbatas atas hidup kita—Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN
Kata peti persembahan dalam Markus 12:41 dan 43 merupakan terjemahan dari kata gazophulakion; yang berasal dari gaza, “harta” dan phulake, “tempat sesuatu dijaga.” Ketika digabungkan menjadi bermakna “rumah harta.” Kata ini digunakan oleh sejarawan Yahudi dari abad pertama, Yosefus, untuk merujuk pada “sebuah ruangan khusus dalam pelataran para wanita (Women’s Court) di Bait Allah tempat batangan emas dan perak disimpan” (Vine’s Complete Expository Dictionary). Orang-orang non-Yahudi diperbolehkan memasuki Bait Allah, tetapi hanya boleh sampai ruangan yang dinamakan Pelataran Kaum Non-Yahudi (Court of the Gentiles). Para wanita diperbolehkan masuk lebih dalam, tetapi hanya sampai Pelataran Para Wanita. Di dalam Pelataran Para Wanita ada tiga belas peti berbentuk trompet tempat orang-orang memasukkan persembahan mereka. Dicatat bahwa dari ketiga belas peti tersebut, enam adalah untuk persembahan umum dan tujuh adalah untuk persembahan khusus. Sang janda yang dilihat oleh Yesus di Bait Allah memasukkan uangnya ke dalam salah satu peti tersebut. —Arthur Jackson
Bagaimana kamu menunjukkan belas kasihan kepada seseorang yang kecewa karena masalah “kecil”? Bagaimana respons Allah saat kamu mencurahkan pergumulan kamu kepada-Nya?
Ya Allah, terima kasih Engkau mengenalku sepenuhnya dan tetap mengasihiku. Tolong aku merasakan penghiburan-Mu saat aku menyadari pengenalan-Mu yang tidak terbatas akan hidupku.

Tuesday, March 10, 2020

Dihancurkan untuk Dipakai Allah

Kamu harus memberi mereka makan!—Lukas 9:13
Dihancurkan untuk Dipakai Allah
Saya bertemu dengan seorang pria setiap Kamis setelah istrinya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Kadang ia datang membawa pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab; kadang dengan kenangan-kenangan yang ingin dihidupkannya kembali. Seiring waktu, ia bisa menerima bahwa meskipun kecelakaan itu adalah akibat dari kehancuran dalam dunia ini, Allah sanggup bekerja di tengah keadaan tersebut. Beberapa tahun kemudian, ia pun mengajar kelas pembinaan di gereja kami tentang kedukaan dan cara menjalani dukacita dengan baik. Tak lama kemudian, ia menjadi sosok yang selalu dicari untuk membimbing orang-orang yang sedang kehilangan orang yang mereka kasihi. Adakalanya ketika kita merasa tidak mempunyai apa pun yang bisa kita bagikan kepada orang lain, Allah mengambil perasaan “tidak cukup” itu dan mengubahnya menjadi “lebih dari cukup.”
Yesus menyuruh murid-murid-Nya memberi makan orang banyak. Mereka protes karena tidak mempunyai cukup makanan untuk dibagikan. Namun, kemudian Yesus melipatgandakan persediaan makanan mereka yang tidak seberapa, berbalik kepada murid-murid-Nya, lalu memberi mereka roti itu, seolah-olah berkata, “Aku tidak main-main. Kamu yang harus memberi mereka makan!” (lihat Luk. 9:13-16). Mukjizat adalah bagian Kristus, tetapi sering kali Dia memilih untuk melibatkan kita di dalam pekerjaan-Nya.
Yesus juga berkata kepada kamu, ”Serahkanlah dirimu dan apa yang kaumiliki kepada-Ku. Hidupmu yang hancur. Kisah hidupmu. Kerapuhan dan kegagalanmu, kepedihan dan penderitaanmu. Letakkan semuanya dalam tangan-Ku. Kamu akan takjub melihat apa yang sanggup Kulakukan dengan semua itu.” Yesus tahu bahwa dari kekosongan kita, Dia sanggup mendatangkan kepenuhan. Lewat kelemahan kita, Dia sanggup menunjukkan kekuatan-Nya.—Glenn Packiam
WAWASAN
Catatan Matius tentang pemberian makan lima ribu orang memberi kesan bahwa Yesus hendak mengasingkan diri ke tempat yang sunyi untuk meratapi kematian Yohanes Pembaptis (14:12-13). Namun, ketika orang banyak mengikuti Dia, “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka” (ay.14). Hal ini menunjukkan karakter-Nya yang memberi diri untuk orang lain. Dia menunda keinginan-Nya untuk memenuhi kebutuhan mereka yang datang kepada-Nya. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan” (Lukas 9:13). Bayangkan bagaimana kedengarannya. Yesus bukannya tidak tahu bahwa mereka tidak memiliki cukup makanan untuk semua orang. Yesus tahu apa yang kita miliki dan apa yang diperlukan untuk kita bisa melakukan apa yang Dia kehendaki. Ketika kita memberikan apa yang kita punyai kepada-Nya, Dia akan memakainya dengan cara-Nya sendiri. —J. R. Hudberg
Kehancuran apa yang pernah kamu hadapi? Apa yang akan terjadi saat kamu menyerahkannya kepada Yesus dan meminta-Nya memakai pengalaman itu untuk memberkati orang lain?
Ya Yesus, ambillah perasaan “tidak cukup” dalam diriku dan ubahlah menjadi “lebih dari cukup.” Ambillah kepedihanku, kegagalanku, kerapuhanku, dan ubahlah menjadi sesuatu yang bernilai.

Monday, March 9, 2020

Dalam Penjagaan Allah

Tuhanlah Penjagamu.—Mazmur 121:5
Dalam Penjagaan Allah
Cucu kecil kami melambaikan tangan dan mengucapkan sampai jumpa, tetapi kemudian berbalik dengan sebuah pertanyaan: “Mengapa Nenek masih berdiri di depan pintu dan melihat terus sampai kami pergi?” Saya tersenyum, karena itu pertanyaan yang “lucu” dari anak sekecil dirinya. Namun, melihat bahwa ia benar-benar bingung, saya mencoba memberikan jawaban yang baik. “Itu yang disebut sopan santun,” kata saya. “Mengantarkanmu sampai depan pintu dan melihat sampai kamu pergi menunjukkan Nenek peduli kepadamu.” Cucu saya mencerna jawaban itu, tetapi wajahnya masih tampak bingung. Jadi, saya mencoba menyampaikannya dengan lebih sederhana. “Nenek memperhatikanmu,” kata saya, “karena Nenek sayang kepadamu. Saat melihat mobilmu pergi, Nenek tahu kamu berangkat pulang dengan aman.” Cucu saya tersenyum dan memeluk saya dengan hangat. Akhirnya, ia mengerti.
Pemahamannya sebagai seorang anak mengingatkan saya pada apa yang patut kita semua ingat—bahwa Bapa kita di surga selalu mengawasi setiap dari kita, anak-anak-Nya yang berharga. Dalam Mazmur 121 dikatakan, “Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu” (ay.5).
Jaminan apakah yang diberikan kepada para peziarah Israel yang sedang menempuh perjalanan terjal dan berbahaya menuju Yerusalem untuk beribadah? “Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu” (ay.6-7). Demikian juga ketika kita menempuh perjalanan hidup yang berat, terkadang kita menghadapi ancaman atau bahaya rohani. Namun, “Tuhan akan menjaga keluar masuk [kita].” Mengapa? Karena kasih-Nya. Kapan? “Dari sekarang sampai selama-lamanya” (ay.8).—Patricia Raybon
WAWASAN
Mazmur 121 adalah salah satu “nyanyian ziarah” (Mazmur 120–134). Tiga kali setahun, pada Hari Raya Roti Tidak Beragi (Paskah), Hari Raya Menuai (Pentakosta), dan Hari Raya Pondok Daun (Tabernakel), orang-orang Yahudi diharuskan berkumpul bersama untuk beribadah (Keluaran 23:15-17). Nyanyian ziarah adalah lagu-lagu yang harus dinyanyikan oleh para peziarah yang pergi ke Yerusalem. Sebagai salah satu nyanyian ziarah, Mazmur 121 adalah lagu untuk perjalanan tersebut dan isinya berbicara tentang mencari bantuan Allah di tengah-tengah bahaya yang dapat ditemui di sepanjang jalan. Bahaya-bahaya ini termasuk tergelincir (ay.3) dan kepanasan atau kegilaan (lunacy/moon madness, ay.6). Sepanjang perjalanan yang berbahaya, umat Allah didorong untuk mencari pertolongan Allah—“yang menjadikan langit dan bumi”—dan bukannya mencari di gunung-gunung tinggi yang menjadi tempat penyembahan ilah-ilah palsu. —Bill Crowder
Jalan terjal apa yang sedang kamu lalui saat ini? Jaminan apa yang kamu terima setelah menyadari bahwa Allah selalu mengawasi dan menjaga kamu?
Bapa yang pengasih, saat kami menempuh perjalanan hidup ini, terima kasih Engkau selalu mengawasi dan menjaga kami supaya tetap aman.

Sunday, March 8, 2020

Ibadah yang Murni

Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.—Markus 11:17
Ibadah yang Murni
Jose menggembalakan sebuah gereja yang terkenal karena karya dan pementasan teaternya. Apa yang mereka kerjakan itu memang sangat baik, tetapi Jose khawatir segala kesibukan itu telah membuat gereja menjadi ajang bisnis. Ia bertanya-tanya apakah gerejanya bertumbuh karena alasan-alasan yang benar atau justru karena kegiatannya? Untuk mencari tahu, Jose lantas meniadakan semua kegiatan ekstra dari gerejanya selama satu tahun. Gereja hanya akan berfokus menjadi bait Allah yang hidup, tempat jemaat beribadah kepada-Nya.
Keputusan Jose terkesan ekstrem, tetapi perhatikanlah apa yang dilakukan Yesus ketika Dia memasuki halaman Bait Allah. Tempat kudus yang seharusnya memberi ruang bagi orang untuk menaikkan doa-doa sederhana telah berubah menjadi keramaian aktivitas bisnis untuk kebutuhan ibadah. “Beli merpati untuk korban persembahan di sini! Bunga bakung putih, seperti yang diinginkan Tuhan!” Yesus membalikkan meja-meja para pedagang dan menghentikan orang-orang yang berbelanja. Dalam kemarahan atas kelakuan mereka, Dia mengutip Yesaya 56 dan Yeremia 7: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (Mrk. 11:17). Pelataran tempat berkumpulnya bangsa-bangsa non-Yahudi yang datang untuk menyembah Allah telah diubah menjadi pasar dan ajang bisnis untuk mencari uang.
Memang tidak ada yang salah dengan bisnis atau kesibukan sehari-hari. Namun, itu bukanlah tujuan gereja. Kita adalah bait Allah yang hidup, dan tugas utama kita adalah menyembah Tuhan Yesus. Mungkin kita tidak perlu membalikkan meja seperti yang dilakukan Yesus, tetapi bisa jadi Dia memanggil kita untuk melakukan sesuatu yang sama tegasnya atas hidup kita.—Mike Wittmer
WAWASAN
Sebuah teknik sastra yang umum digunakan oleh Markus dalam Injilnya disebut “Markan sandwich”. Dalam teknik ini, Markus menyela suatu cerita (A) dengan cerita lain (B) sebelum kembali ke cerita pertama (A), supaya keduanya dapat menerangkan bagaimana kita mengerti setiap cerita tersebut secara terpisah. Markus 11 merupakan contoh klasik dari teknik “sandwich” ini. Pasal ini menceritakan tentang Yesus yang mengutuk sebuah pohon ara yang tak berbuah (ay.13-14), lalu berganti kepada Yesus mengusir para pedagang di Bait Allah (ay.15-18), sebelum kembali kepada pohon ara tersebut (ay.20-21). Kutukan Yesus atas pohon ara tersebut, yang kering sampai ke akar-akarnya (Markus 11:20) sepertinya melambangkan kutukan-Nya terhadap pimpinan Bait Allah yang menolak Dia. Mungkin Dia sedang mengingat Yeremia 8:13: “Tidak ada buah ara pada pohon ara, dan daun-daunan sudah layu; sebab itu Aku akan menetapkan bagi mereka orang-orang yang akan melindas mereka.” —Monica La Rose
Apa alasan kamu datang ke gereja dan berkumpul dengan saudara seiman? Apa saja maksud dan harapan kamu yang salah arah dalam beribadah dan perlu diubah oleh Roh Kudus?
Bapa, tunjukkanlah kepada kami maksud dan harapan kami yang salah arah dalam beribadah. Tolong kami menyadari bahwa seluruh ibadah kami hanyalah demi Engkau.

Saturday, March 7, 2020

Lebih Dari yang Terlihat

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.—1 Korintus 12:27
Lebih Dari yang Terlihat
Jika kamu menyaksikan kompetisi rodeo—atraksi ketangkasan menjerat hewan dengan tali dan menaikinya, kamu akan melihat banyak peserta yang memiliki empat jari dan satu jari buntung yang seharusnya jempol pada salah satu tangan mereka. Cedera tersebut umum terjadi dalam olahraga ini, yaitu ketika ibu jari terbelit tali yang ujungnya tersambung dengan seekor lembu jantan berbadan besar. Dalam keadaan itu, ibu jari biasanya putus. Meskipun bukan cedera yang mengakhiri karir si atlet, tetap saja ketiadaan ibu jari itu berpengaruh besar. Cobalah menyikat gigi, mengancingkan kemeja, menyisir rambut, mengikat tali sepatu, atau makan tanpa menggunakan ibu jari. Ternyata, anggota tubuh yang kecil dan sering terabaikan itu memainkan peran yang sangat penting.
Rasul Paulus menunjukkan skenario yang sama dalam gereja. Anggota-anggota gereja yang acap kali kurang terlihat dan kurang menonjol terkadang menerima sikap “aku tidak membutuhkan engkau” dari anggota lain (1 Kor. 12:21). Biasanya hal itu tidak terucapkan, tetapi adakalanya dikatakan dengan terus terang.
Allah memanggil kita untuk memperhatikan dan menghormati satu sama lain (ay.25). Setiap dari kita, tak terkecuali, adalah bagian tubuh Kristus (ay.27). Terlepas apa pun karunia yang kita miliki, kita semua saling membutuhkan. Sebagian dari kita adalah mata dan telinga, sementara sebagian yang lain adalah ibu jari. Namun, dalam tubuh Kristus setiap dari kita memainkan peran penting, terkadang lebih dari yang terlihat oleh orang.—John Blase
WAWASAN
Dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, ia menjelaskan dua cara para pembacanya telah mengabaikan tubuh Kristus. Pertama, mereka telah mengabaikan pentingnya berbagi roti dan anggur sebagai pengingat akan darah-Nya yang telah ditumpahkan dan tubuh-Nya yang telah diremukkan (1 Korintus 11:29). Selain itu, mereka juga gagal hidup untuk kebaikan satu sama lain. Paulus menjelaskan bahwa oleh Roh Kudus mereka telah diberikan karunia untuk bekerja sama, seperti anggota-anggota tubuh membantu dan mengandalkan satu sama lain (12:12-27). Paulus melihat para pembacanya sebagai anggota-anggota tubuh Kristus yang dipersatukan untuk saling menunjukkan hati penuh kasih yang dijabarkannya di pasal 13. —Mart DeHaan
Jika kamu “mata,” bagaimana cara kamu menguatkan mereka yang adalah “ibu jari”? Namun, jika kamu menganggap diri lebih rendah daripada yang lain, hafalkanlah 1 Korintus 12:27 sebagai kebenaran firman yang penting bagi kamu.
Allah Bapa, ampunilah kami karena kami sering melupakan kenyataan bahwa masing-masing dari kami adalah anggota tubuh Kristus. Kami semua anggota, dengan Engkau saja sebagai Kepala atas tubuh.

Friday, March 6, 2020

Berdua Lebih Menguntungkan

Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik.—Pengkhotbah 4:9 BIS
Berdua Lebih Menguntungkan
Meskipun sudah kepayahan, para pelari pada ajang triatlon Ironman tahun 1997 di Hawaii itu terus berjuang menuju garis finis. Di antara mereka ada dua atlet wanita yang sudah terhuyung-huyung. Pada satu titik, Sian Welch pun menubruk Wendy Ingraham dan keduanya jatuh ke tanah. Karena sulit berdiri, mereka terjerembap, lalu jatuh lagi kira-kira dua puluh meter dari garis finis. Para penonton bertepuk tangan ketika melihat Ingraham mulai merangkak. Ketika Welch juga mulai bangkit, penonton bersorak lebih keras lagi. Ingraham mencapai garis finis di posisi keempat, dan langsung ambruk ke dalam pelukan para pendukungnya. Namun, kemudian ia berbalik dan mengulurkan tangannya kepada Welch. Welch pun menjatuhkan badannya ke depan, mengulurkan tangannya yang letih ke arah Ingraham, dan melewati garis finis. Setelah ia menyelesaikan perlombaannya di posisi kelima, para penonton bersorak-sorai meneriakkan dukungan mereka.
Keberhasilan keduanya menyelesaikan rangkaian lomba renang, bersepeda, dan lari sejauh 225 km tersebut telah menginspirasi banyak orang. Namun, gambaran dua pesaing kelelahan yang telah berjuang bersama untuk menyelesaikan lomba itu tetap membekas dalam benak saya karena telah menegaskan kebenaran yang menguatkan dari Pengkhotbah 4:9-11.
Kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan dalam hidup ini (ay.9), terutama karena kita tidak mungkin betul-betul menyangkali kebutuhan kita atau menyembunyikannya dari Allah yang Mahatahu. Adakalanya kita jatuh, baik secara jasmani atau rohani. Ketika menyadari bahwa kita tidaklah sendirian, kita dapat terhibur sambil terus bertahan di dalam kesulitan yang kita hadapi. Di saat Allah Bapa yang penuh kasih itu menolong kita, Dia juga memampukan kita untuk melayani sesama kita yang membutuhkan, supaya mereka juga tahu bahwa mereka juga tidak sendirian.—Xochitl Dixon
WAWASAN
Bersama dengan kitab Ayub, Mazmur, Amsal, dan Kidung Agung, kitab Pengkhotbah dikategorikan sebagai salah satu dari kitab-kitab Hikmat dalam Alkitab. Kitab-kitab Hikmat menekankan keutamaan dari sikap takut akan Allah (Pengkhotbah 8:13; 12:13), dan membantu pembaca untuk menjelajahi kebaikan dan pahit-manisnya hidup ini dari sudut pandang Allah dan untuk mempercayai-Nya. Tujuan dari literatur Hikmat adalah membantu para pembacanya untuk “hidup dengan baik,” maka tidak heran jika kita menemukan banyaknya penggunaan kata lebih atau frasa lebih baik daripada. Keunggulan hikmat ditekankan dalam ayat-ayat seperti “Hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan” (2:13); “Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan” (9:16); “Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang” (9:18). Kita juga melihat penekanan ini dalam kitab Amsal: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat . . . karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas” (3:13-14). —Arthur Jackson
Pertolongan seperti apa yang pernah kamu terima? Bagaimana kamu dapat menyemangati orang lain sepanjang minggu ini?
Allah Mahakuasa, terima kasih karena Engkau meyakinkan kami akan kehadiran-Mu yang tetap di saat Engkau menolong kami dan memberi kami kesempatan untuk melayani dan membantu orang lain.

Thursday, March 5, 2020

Rencana yang Dibelokkan

Manusia mempunyai banyak rencana, tetapi hanya keputusan Tuhan yang terlaksana. —Amsal 19:21 BIS
Rencana yang Dibelokkan
Rencana Jane menjadi ahli terapi wicara batal karena saat menjalani kerja magang, ia baru menyadari ternyata pekerjaan itu memberinya tekanan emosional yang terlalu berat. Namun, ia mendapat kesempatan menulis untuk sebuah majalah. Meski sama sekali tidak pernah membayangkan akan menjadi penulis, bertahun-tahun kemudian ia senang dapat melayani keluarga-keluarga miskin dengan membela kepentingan mereka lewat tulisan-tulisannya. “Saat melihat ke belakang, aku bisa mengerti mengapa Allah membelokkan rencana saya,” katanya. “Dia mempunyai rencana yang lebih besar bagiku.”
Dalam Alkitab terdapat banyak kisah tentang rencana yang dibelokkan. Dalam perjalanan misinya yang kedua, Paulus berencana mengabarkan Injil ke Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka (Kis. 16:6-7). Hal itu pastilah membawa kebingungan: Mengapa Yesus membelokkan rencana yang sejalan dengan misi dari Allah? Jawabannya datang suatu malam dalam mimpi: Paulus lebih dibutuhkan di Makedonia. Di sanalah Paulus kemudian merintis jemaat pertama di tanah Eropa. Raja Salomo juga pernah menulis tentang perencanaan, “Manusia mempunyai banyak rencana, tetapi hanya keputusan Tuhan yang terlaksana” (Ams. 19:21 BIS).
Membuat rencana memang tindakan yang bijak, seperti kata pepatah, “Gagal berencana berarti berencana gagal.” Namun, Allah bisa membelokkan rencana kita agar kita mengikuti rencana-Nya. Kita pun ditantang untuk mendengarkan dan taat kepada pimpinan Allah, dalam kesadaran bahwa kita dapat mempercayai-Nya. Dengan tunduk kepada kehendak-Nya, kita akan berjalan semakin selaras dengan tujuan-Nya atas hidup kita.
Dalam rencana-rencana yang kita susun, ada baiknya kita menambahkan hal ini: Berencanalah untuk mendengar, dan dengarkanlah rencana Allah.—Leslie Koh
WAWASAN
Dalam penglihatan Paulus dalam Kisah Para Rasul 16:9-10, seorang Makedonia yang ia lihat tidak diidentifikasi lebih jauh. Namun, kita belajar sesuatu tentangnya di ayat 9. Kata yang diterjemahkan sebagai “tolong” (boetheo) berarti “datang menolong” dan mengindikasikan kebutuhan akan bantuan secara fisik. Sepertinya ini merujuk kepada seseorang yang tidak mengenal Injil atau bahkan bagaimana ia dapat ditolong.
Sangat menarik untuk mencatat bahwa ada perubahan kata ganti dari mereka (ay.6-9) menjadi kami di ayat 10: “Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia.” Kebanyakan ahli percaya bahwa ini menandakan bahwa Lukas, penulis Kisah Para Rasul, telah bergabung dengan kelompok tersebut.—Julie Schwab
Bagaimana kamu dapat menyerahkan rencana kamu kepada Allah hari ini? Bagaimana kamu dapat lebih mendengarkan-Nya ketika Dia menyatakan rencana-rencana-Nya bagi kamu?
Allah yang Mahatahu, berikanlah aku iman untuk mendengarkan-Mu ketika rencanaku dibelokkan oleh-Mu, karena aku tahu Engkau mempunyai maksud yang lebih besar dan mulia bagi hidupku.

Wednesday, March 4, 2020

Kesetrum

Kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.—2 Petrus 1:16
Kesetrum
“Saya merasa seperti kesetrum,” kata Profesor Holly Ordway tentang reaksinya setelah membaca puisi indah karya John Donne berjudul “Holy Sonnet 14”. Ada sesuatu yang kualami lewat puisi ini, entah apa, pikirnya. Ordway mengenangnya sebagai momen istimewa ketika pemikirannya yang dahulu ateis mulai terbuka terhadap kemungkinan adanya kekuatan supernatural. Pada akhirnya, Ordway pun percaya kepada kebenaran yang mengubahkan hidup tentang Kristus yang telah bangkit.
Mungkin itu pula reaksi Petrus, Yakobus, dan Yohanes saat mereka dibawa Yesus ke puncak gunung, tempat mereka menyaksikan suatu transformasi yang spektakuler. Pakaian Kristus menjadi “sangat putih berkilat-kilat” (Mrk. 9:3) lalu muncul Elia dan Musa—inilah peristiwa yang kita sebut sebagai transfigurasi.
Waktu mereka turun dari sana, Yesus berpesan kepada mereka agar tidak bercerita kepada siapa pun tentang apa yang telah mereka lihat, sebelum Dia bangkit dari kematian (ay.9). Namun, mereka bahkan tidak tahu apa yang dimaksudkan Yesus dengan ungkapan “bangkit dari antara orang mati” (ay.10).
Sayang sekali, pemahaman para murid tentang Kristus belumlah lengkap, karena mereka tidak dapat memahami bahwa rencana Allah memang mencakup kematian dan kebangkitan Yesus. Akan tetapi, pengalaman mereka dengan Tuhan yang telah bangkit akhirnya sungguh-sungguh mengubahkan hidup mereka. Di kemudian hari, Petrus menggambarkan pertemuannya dengan Kristus yang dimuliakan di atas gunung itu sebagai masa para murid menjadi “saksi mata [pertama] dari kebesaran-Nya” (2 Ptr. 1:16).
Ketika kita mengalami kuasa Yesus, kita pun akan “kesetrum” seperti yang dialami oleh Profesor Ordway dan para murid Yesus. Ada sesuatu yang kita alami lewat pengalaman itu. Kristus yang hidup sedang memanggil kita.—Tim Gustafson
WAWASAN
Sangatlah menarik melihat Musa dan Elia bergabung dengan Yesus yang dimuliakan di atas gunung (Markus 9:4). Meskipun terpisah ratusan tahun, pelayanan Musa dan Elia memiliki banyak kesamaan. Allah memakai Musa untuk membelah Laut Merah dengan lambang otoritasnya, yaitu tongkat gembala (Keluaran 14:15-16). Sementara itu, Elia membelah Sungai Yordan dengan jubahnya—yang melambangkan kedudukannya sebagai nabi (2 Raja-Raja 2:6-8). Keduanya bertemu dengan Allah di atas Gunung Sinai/Horeb secara spektakuler (Keluaran 34; 1 Raja-Raja 19). Allah memberikan makanan melalui mukjizat untuk Musa (dan bangsa Israel) di padang gurun (Keluaran 16), dan melakukan hal yang sama untuk Elia selama kelaparan yang disebabkan oleh kekeringan yang ia nubuatkan (1 Raja-Raja 17). Selain itu, peran Musa dan Elia dilanjutkan oleh orang-orang (Yosua dan Elisa—lihat Yosua 1:1-2; 1 Raja-Raja 19:16) yang namanya sama-sama berarti “Tuhan/Allah menyelamatkan.” Pakar Alkitab, H. H. Rowley, mengatakan tentang pelayanan para pahlawan iman Perjanjian Lama ini, “Tanpa Musa, agama Yahweh seperti yang ada dalam Perjanjian Lama tidak akan pernah lahir. Tanpa Elia, agama itu akan mati.” —Bill Crowder
Pernahkah kamu mengalami momen-momen ketika kamu bertemu Allah dalam cara yang sama sekali baru? Bagaimana pengenalan kamu tentang-Nya berubah seiring waktu?
Bapa, ketika kami menghampiri Engkau dalam doa, sesungguhnya kami tidak benar-benar mengerti apa yang ada di hadapan kami. Ampuni kami karena menganggap remeh keagungan hadirat-Mu.

Tuesday, March 3, 2020

Dikenal Sepenuhnya

Sebelum Aku membentuk engkau . . . Aku telah mengenal engkau. —Yeremia 1:5
Dikenal Sepenuhnya
“Seharusnya kamu tidak selamat. Untunglah Yang di Atas masih menjaga kamu,” kata sopir mobil derek kepada ibu saya setelah ia berhasil menderek mobil ibu dari tepi jurang gunung yang curam dan mengamati jejak ban mobil yang mengarah ke lokasi kecelakaan. Saat itu saya masih dikandung oleh Ibu. Ketika saya beranjak dewasa, ia sering menceritakan bagaimana Allah telah menyelamatkan hidup kami berdua hari itu, dan ia meyakinkan saya bahwa Allah memandang saya berharga bahkan sebelum saya lahir ke dunia.
Tak seorang pun luput dari perhatian Allah Pencipta kita yang Mahatahu. Lebih dari 2.500 tahun lalu Dia berkata kepada Nabi Yeremia, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau” (Yer. 1:5). Allah mengenal kita lebih mendalam daripada siapa pun juga dan Dia dapat memberikan tujuan dan makna hidup yang tidak dapat kita peroleh dari siapa pun juga. Dia tidak saja membentuk kita menurut hikmat dan kuasa-Nya, tetapi juga menopang keberadaan kita setiap saat—termasuk hal-hal pada diri kita yang berlangsung setiap saat tanpa kita sadari: dari detak jantung hingga cara kerja otak yang rumit. Saat memikirkan bagaimana Bapa di surga menopang setiap aspek keberadaan kita, Daud berseru, “Betapa berharganya pikiran-pikiran-Mu bagiku, ya Allah!“ (Mzm. 139:17, versi AYT).
Tidak ada yang lebih dekat kepada kita daripada Allah. Dialah yang menciptakan, mengenal, dan mengasihi kita, maka Dia layak menerima sembah dan pujian kita.—James Banks
WAWASAN
Alkitab mencatat Allah berbicara langsung hanya kepada beberapa orang saja; contohnya, Adam dan Hawa di taman Eden (Kejadian 1–3), Abram (ps. 12), Musa di semak yang terbakar (Keluaran 3) dan di Gunung Sinai (ps. 31), dan Elia di Gunung Horeb/Sinai (1 Raja-Raja 19). Dia juga berbicara secara langsung kepada para nabi yang menuliskan kitab-kitab para nabi di Perjanjian Lama. Frasa “Firman TUHAN datang kepadaku” atau “Beginilah firman TUHAN” ditemukan dalam kebanyakan kitab para nabi (lihat Yeremia 1:4). Ketika Allah berbicara, Dia mengungkapkan sesuatu mengenai diri-Nya. Dalam Yeremia 1:1-8, Dia mengungkapkan diri-Nya sebagai pencipta (ay.5), pengutus (ay.7), dan penyelamat (ay.8). Kita belajar tentang diri Allah melalui pengungkapan-pengungkapan-Nya. —J. R. Hudberg
Hal apa dari pemeliharaan Allah yang ingin kamu syukuri saat ini? Bagaimana kamu dapat menyemangati seseorang dengan menyatakan bahwa Allah peduli kepadanya?
Allah, Engkau luar biasa! Terima kasih karena Engkau telah menopangku dan menolongku menjalani setiap saat sepanjang hari.

Monday, March 2, 2020

Dipanggil untuk Meninggalkan

Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.—Matius 4:20
Dipanggil untuk Meninggalkan
Sewaktu masih muda, saya membayangkan akan menikah dengan kekasih saya di SMA—tetapi kemudian kami putus. Masa depan menjadi tidak jelas dan saya tidak tahu harus berbuat apa dengan hidup saya. Akhirnya, saya merasa Allah memimpin saya untuk melayani-Nya dengan cara melayani sesama, maka saya pun mendaftar ke seminari. Setelah itu barulah saya menyadari bahwa saya harus pergi meninggalkan kampung halaman, teman-teman, dan keluarga saya. Untuk menjawab panggilan Allah, saya harus meninggalkan semua itu.
Ketika Yesus sedang berjalan di pantai Danau Galilea, Dia melihat Petrus dan saudaranya, Andreas, sedang menangkap ikan di sana dengan jala. Dia berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19). Kemudian Yesus juga melihat dua nelayan lain yang bersaudara, Yakobus dan Yohanes, lalu memberikan panggilan yang sama pada mereka (ay.21).
Ketika murid-murid tersebut datang kepada Yesus, mereka juga meninggalkan sesuatu. Petrus dan Andreas “meninggalkan jalanya” (ay.20). Yakobus dan Yohanes “meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia” (ay.22). Dalam Injil Lukas ditulis seperti ini: “Sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus“ (Luk. 5:11).
Setiap panggilan mengikut Yesus juga termasuk panggilan meninggalkan hal-hal lain. Jala. Perahu. Orangtua. Teman-teman. Rumah. Allah memanggil kita semua untuk masuk ke dalam hubungan dengan diri-Nya. Kemudian Dia memanggil setiap kita untuk melayani.—Elisa Morgan
WAWASAN
Yesus memanggil dua belas orang sebagai rasul-rasul-Nya: “Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot” (Lukas 6:14-16). Semua dari mereka meninggalkan sesuatu atau seseorang untuk mengikut Yesus (Matius 19:27). Kita tahu dari Matius 4:18-22 bahwa kakak-beradik Simon Petrus dan Andreas serta Yakobus dan Yohanes meninggalkan jala mereka. Namun, bagaimana dengan yang lainnya? Simon orang Zelot adalah anggota sebuah kelompok politik radikal yang melawan penjajahan Romawi atas Israel atau kelompok keagamaan yang terkenal karena ketaatan mereka kepada hukum Taurat. Pastinya ia meninggalkan pandangan radikalnya. Namun, satu-satunya murid lain yang kisahnya kita ketahui secara spesifik hanyalah Matius (Lewi). Yesus mengatakan kepadanya, “Ikutlah Aku,” dan Matius pergi meninggalkan “rumah cukai”-nya (karier yang menjanjikan) untuk mengikut Yesus (9:9).
—Alyson Kieda
Bagaimana panggilan Allah untuk mengikut Dia juga memanggil kamu untuk meninggalkan hal-hal lain? Bagaimana kamu dapat mempercayakan hal-hal yang kamu tinggalkan itu kepada-Nya?
Allah yang penuh kasih, tolonglah aku memahami apa saja yang perlu kutinggalkan saat aku menjawab panggilan-Mu.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate