Pages - Menu

Wednesday, December 31, 2014

Berdiri Di Tepi

[Bangsa Israel] berangkat . . . untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan [mereka]. —Yosua 3:14
Berdiri Di Tepi
Putri kecil saya berdiri gelisah di pinggir kolam renang. Karena tidak bisa berenang, ia sedang belajar untuk merasa nyaman berada di dalam air. Guru renangnya menunggu di dalam kolam dengan kedua lengan yang terbuka lebar. Saat putri saya ragu, ada beragam pertanyaan tebersit di matanya: Apakah kau akan menangkapku? Apa yang akan terjadi bila kepalaku masuk ke dalam air?
Bangsa Israel mungkin juga bertanya-tanya apakah yang akan terjadi ketika mereka menyeberangi sungai Yordan. Dapatkah mereka percaya bahwa Allah akan membuat kering dasar sungai Yordan? Apakah Allah akan menyertai pemimpin baru mereka, Yosua, seperti Dia menyertai Musa? Apakah Allah akan menolong umat-Nya untuk mengalahkan ancaman bangsa Kanaan yang tinggal tepat di seberang sungai itu?
Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, bangsa Israel harus melewati sebuah ujian iman—mereka harus bertindak. Maka kemudian mereka “berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu” (ay.14). Menerapkan iman mereka membuat mereka dapat melihat bahwa Allah memang menyertai mereka. Allah masih membimbing Yosua, dan Dia akan menolong mereka untuk menetap di Kanaan (ay.7,10,17).
Menghadapi ujian iman, kamu dapat maju dengan mempercayai karakter Allah dan janji-Nya yang tidak pernah gagal. Bergantung kepada-Nya akan menolongmu untuk melangkah dari tempatmu sekarang menuju ke tempat yang dikehendaki-Nya bagimu. —JBS
Tuhan, kami cenderung cepat melupakan kebaikan dan pemeliharaan-Mu
atas kami. Kiranya kami mempercayakan diri kami kepada-Mu
pada hari ini dan di tahun yang baru—apa pun ketidakpastian yang
kami hadapi. Engkaulah Allah yang dapat kami percaya.
Ketakutan lenyap ketika kita mempercayai Bapa kita.

Tuesday, December 30, 2014

Dia Membimbingku

Ia membimbing aku ke air yang tenang. —Mazmur 23:2
Dia Membimbingku
Di Istanbul, Turki, pada tahun 2005, ada seekor domba meloncat dari sebuah tebing, lalu hampir 1.500 domba lain ikut terjun! Alhasil, kira-kira sepertiga dari kawanan domba itu mati. Karena tidak tahu ke mana harus melangkah, domba akan tanpa sadar mengikuti saja apa yang dilakukan domba-domba lain dalam kawanannya.
Tidak ada sosok yang lebih baik daripada domba yang dapat dipakai untuk menggambarkan kebutuhan kita akan seorang pemimpin yang dapat dipercaya. Kita semua, tulis Yesaya, seperti domba (Yes. 53:6). Kita cenderung memilih jalan kita sendiri. Namun sesungguhnya, kita sangat memerlukan pengarahan yang jelas dari seorang gembala.
Mazmur 23 menggambarkan karakter yang layak dipercaya dari Sang Gembala yang baik. Dia memelihara kita (ay.1); Dia menyediakan semua kebutuhan fisik kita (ay.2); Dia menunjukkan cara menjalani hidup yang benar (ay.3); Dia menyegarkan jiwa kita, menghibur kita, memulihkan kita, dan memberkati kita dengan limpah (ay.3-5); dan Dia tidak akan meninggalkan kita (ay.6).
Sungguh merupakan kelegaan yang luar biasa ketika mengetahui bahwa Allah membimbing kita dengan lembut dan pasti! Dia membimbing kita melalui nasihat Roh Kudus, pembacaan firman Tuhan, dan lewat doa. Allah adalah pemimpin yang kita perlukan dan dapat kita andalkan.
Sebagai pengakuan akan ketergantungan penuh pada Tuhan, kita bisa berkata bersama-sama pemazmur, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” —DCE
Seperti domba yang terkadang keluar dari kawanannya
Dalam lika-liku hidup yang dapat menyesatkan,
Aku perlu tangan Gembalaku dan pengawasan-Nya
Untuk selalu menjagaku agar jangan tersesat. —Sanders
Anak Domba yang mati untuk menyelamatkan kita adalah Gembala yang hidup untuk menuntun kita.

Monday, December 29, 2014

Penundaan Bukan Berarti Penolakan

Namun setelah didengar [Yesus], bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada. —Yohanes 11:6
Penundaan Bukan Berarti Penolakan
Putra-putra saya berulang tahun di bulan Desember. Dahulu ketika mereka masih kecil, Angus tahu betul bahwa jika ia belum mendapatkan mainan yang didamba-dambakannya untuk hadiah ulang tahunnya di awal bulan, hadiah itu mungkin akan ditemukannya di dalam gantungan kaus kakinya pada hari Natal. Dan jika David belum menerima hadiahnya pada hari Natal, mungkin hadiah itu akan diterimanya pada hari ulang tahunnya empat hari kemudian. Penundaan tidak selalu berarti penolakan.
Wajar apabila Maria dan Marta meminta Yesus datang ketika Lazarus sakit parah (Yoh. 11:1-3). Mungkin mereka sempat memandangi jalan dengan hati cemas dan penuh harap menantikan tanda-tanda kedatangan Yesus, tetapi Yesus tidak juga datang. Ketika akhirnya Yesus sampai di kota itu, Lazarus telah empat hari dikuburkan (ay.17).
Marta dengan tegas mengatakan kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ay.21). Lalu imannya menjadi semakin mantap, “Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya” (ay.22). Entah apa yang sebenarnya Marta harapkan. Lazarus sudah meninggal, dan Marta ragu-ragu soal membuka kembali makam itu. Namun sesuai perintah dari Yesus, roh Lazarus kembali kepada tubuhnya yang sudah membusuk (ay.41-44). Yesus sengaja tidak menyembuhkan Lazarus yang sakit, dengan maksud untuk mengadakan mukjizat yang jauh lebih besar, yaitu menghidupkan sahabat-Nya itu kembali.
Menantikan waktu Allah mungkin akan memberi kita mukjizat yang lebih besar daripada yang kita harapkan sebelumnya. —MS
Juruselamatku mendengarku kala aku berdoa,
Dalam firman-Nya aku percaya penuh;
Sesuai waktu-Nya, menurut jalan-Nya saja,
Aku tahu Dia akan memberiku yang terbaik. —Hewitt
Waktu yang dipakai untuk menantikan Allah tidak akan pernah sia-sia.

Sunday, December 28, 2014

Apakah Yesus Masih Di Sini?

[Apapun] tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. —Roma 8:38-39
Apakah Yesus Masih Di Sini?
Rumah Ted Robertson di Colorado, Amerika Serikat, adalah satu dari 500 lebih rumah yang musnah akibat kebakaran hutan yang dikenal sebagai peristiwa Black Forest Fire pada bulan Juni 2013. Ketika Ted diperbolehkan pulang dan menyusuri debu dan puing rumahnya, ia sangat berharap dapat menemukan sebuah peninggalan keluarga buatan istrinya yang sangat berharga—sebuah patung bayi Yesus dari bahan keramik yang berukuran hanya sebesar perangko. Sambil mencari di antara barang-barang yang telah hangus terbakar, ia terus bertanya-tanya, “Apakah bayi Yesus masih ada di sini?”
Ketika hidup kita diguncang oleh berbagai kekecewaan dan kehilangan, kita mungkin bertanya-tanya apakah Yesus masih di sini bersama kita. Jawaban Alkitab dengan tegas menyatakan Ya! “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, . . . tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:38-39).
Di sebuah pojok yang sebelumnya merupakan garasi rumahnya, Ted Robertson berhasil menemukan sisa-sisa dari replika kandang Natal yang sudah hangus. Di sana ia juga menemukan patung bayi Yesus yang sama sekali tidak rusak oleh api. Kepada sebuah saluran televisi lokal, Ted mengungkapkan, “[Kami] sempat khawatir, tetapi kini kembali dapat berharap . . . kami pasti akan dapat memulihkan sebagian dari hidup kami yang tadinya kami pikir sudah musnah.”
Apakah Yesus masih ada di sini? Tentulah Dia masih di sini, dan itulah keajaiban Natal yang abadi. —DCM
Ketika di sekelilingku hanya kegelapan
Dan sukacita dunia telah lenyap,
Juruselamatku membisikan janji-Nya
Takkan ditinggalkan-Nya aku sendiri. —NN.
Jika kamu mengenal Yesus, kamu tidak akan pernah berjalan sendiri.

Saturday, December 27, 2014

Keluar Dari Mesir

Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir. —Matius 2:13
Keluar Dari Mesir
Suatu waktu keluarga kami sedang bepergian menuju rumah Nenek dan melintasi Ohio, Amerika Serikat. Kami tiba di kota Columbus bersamaan dengan dikeluarkannya peringatan tentang bahaya tornado. Rencana kami berubah total karena kami mengkhawatirkan keadaan anak-anak kami.
Saya mengisahkan cerita tersebut untuk membantu kita membayangkan seperti apa rasanya saat Yusuf, Maria, dan anak mereka yang masih kecil harus pindah ke Mesir. Bukan tornado, melainkan Herodes yang mengancam mereka, karena ia berusaha membunuh putra kecil mereka. Bayangkan betapa menakutkannya keadaan tersebut bagi mereka, setelah tahu bahwa “Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia” (Mat. 2:13).
Pada umumnya kita mempunyai bayangan yang indah mengenai peristiwa Natal—sekawanan ternak yang melenguh dan para gembala yang berlutut di dalam adegan yang penuh kedamaian. Akan tetapi tidak ada damai bagi keluarga Yesus pada saat mereka berusaha melarikan diri dari kejaran Herodes. Setelah seorang malaikat memberi tahu mereka bahwa keadaan sudah kembali aman, barulah mereka keluar dari Mesir dan pulang kembali ke Nazaret (ay.20-23).
Pantaslah kita merasa takjub dan kagum atas peristiwa inkarnasi Yesus. Dia, yang menikmati segala kemegahan surga dalam kemitraan-Nya dengan Allah Bapa, meninggalkan semua itu dan dilahirkan dalam kemiskinan, menghadapi banyak bahaya, dan disalibkan bagi kita. Meninggalkan Mesir memang baik, tetapi meninggalkan surga mulia demi kita—itulah perbuatan yang paling agung dan menakjubkan dari kisah Kristus! —JDB
Yesus Juruselamat kami meninggalkan surga,
Datang ke dunia sebagai Hamba penuh kasih;
Tanggalkan semua kemuliaan-Nya saat Dia datang,
Bawa keselamatan oleh iman dalam nama-Nya. —Hess
Yesus datang ke dunia demi kita supaya kita dapat pergi ke surga bersama-Nya.

Friday, December 26, 2014

Di Antara Kita

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. —Yohanes 1:14
Di Antara Kita
Ada kabar menghebohkan yang tersebar di lingkungan perumahan kami. Seorang pemain sepakbola profesional yang terkenal baru saja pindah ke perumahan kami dan tempat tinggalnya hanya berjarak dua rumah dari tempat kami tinggal. Kami sering melihatnya di televisi dan membaca tentang kemampuannya yang hebat di atas lapangan, tetapi kami tidak pernah membayangkan bahwa ia akan memilih untuk tinggal di antara kami. Semula, kami semua berharap dapat menyambutnya di lingkungan kami dan kami semua akan menjadi teman baiknya. Namun hidupnya ternyata begitu sibuk sehingga tidak seorang pun dari lingkungan kami yang dapat mengenalnya secara dekat.
Bayangkan hal ini: Yesus—Tuhan atas alam semesta dan Pencipta dari segalanya—memilih untuk tinggal di antara kita! Dia meninggalkan surga dan datang ke dalam dunia ini. Inilah yang dikatakan Yohanes, “Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa” (Yoh. 1:14). Yesus memilih untuk terlibat dari dekat dengan semua orang yang mau datang kepada-Nya. Dan, yang lebih penting lagi, bagi setiap dari kita yang telah menerima kasih-Nya yang menebus kita, Roh Kudus kini telah berdiam di dalam hati kita untuk menghibur, menasihati, meyakinkan, memimpin, dan mengajar kita.
Ketika kita memikirkan tentang Sang Bayi yang ada di palungan, ingatlah betapa istimewanya kenyataan bahwa Dia tidak saja datang untuk tinggal “di antara kita”, tetapi Dia juga melakukannya supaya Dia dapat memberkati kita dengan kedekatan yang istimewa berupa kehadiran-Nya di dalam hati kita. —JMS
Tuhan, aku kagum bahwa Engkau, Pribadi yang teragung, mau
tinggal dan hidup di dalam kami! Tolong kami untuk menghargai
karunia kehadiran-Mu sebagai sukacita kami yang terbesar.
Rengkuhlah kami untuk menikmati keakraban bersama-Mu.
Jangan sia-siakan karunia kehadiran Allah.

Thursday, December 25, 2014

Bau Kandang

KomikStrip-WarungSateKamu-20141225-Imanuel
“Mereka akan menamakan Dia Imanuel”—yang berarti: Allah menyertai kita. —Matius 1:23
Bau Kandang
Kandang? Sebuah tempat yang tidak lazim untuk kelahiran Mesias! Bau dan bisingnya sebuah peternakan merupakan pengalaman pertama yang dialami Sang Juruselamat kita sebagai manusia. Sama seperti bayi-bayi lainnya, Dia mungkin menangis saat mendengar suara binatang dan orang asing yang lalu-lalang di sekitar tempat tidur sementara-Nya itu.
Jika benar demikian, air mata itu adalah yang pertama dari sekian banyak air mata-Nya. Yesus juga akan mengalami rasa kehilangan dan dukacita yang dialami setiap manusia, keraguan yang dirasakan oleh saudara dan keluarga-Nya tentang diri-Nya, serta kepedihan yang dialami ibu-Nya ketika melihat diri-Nya disiksa dan dihukum mati.
Semua kesulitan itu—dan masih banyak lagi—telah menanti Sang Bayi yang sedang mencoba tidur di malam pertama itu. Meskipun demikian, sedari awal sekali, Yesus adalah “Allah menyertai kita” (Mat. 1:23), dan Dia mengetahui apa artinya menjadi manusia. Pengalaman-pengalaman tersebut terus berlanjut hingga tiga dekade berikutnya, dan berakhir pada kematian-Nya di kayu salib.
Demi kasih-Nya untuk kamu dan saya, Yesus menjadi manusia sepenuhnya. Menjadi manusia memungkinkan Dia untuk ikut merasakan pengalaman kita. Kini, kita tidak mungkin lagi dapat mengatakan bahwa tidak ada yang mempedulikan kita. Jelaslah, Yesus peduli.
Kiranya di hari Natal ini, Terang yang masuk ke dunia pada malam itu memancarkan sinarnya hingga menembus ke lubuk hati kita yang terdalam dan memberikan kita kedamaian di bumi, seperti yang diberitakan oleh para malaikat di masa lampau. —RKK
Bapa, tolonglah hati kami untuk mengetahui
kasih Kristus dan untuk memuliakan-Nya
dengan pengabdian kami yang tak pernah lekang
sekarang dan selama-lamanya. Kami mengasihi-Mu.
Yesus peduli.

Wednesday, December 24, 2014

Damai Yang Abadi

Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah. —Efesus 2:14
Damai Yang Abadi
Pada malam Natal tahun 1914, di masa Perang Dunia I, tidak terdengar suara desing tembakan di Front Barat yang berjarak sepanjang 48 km. Dari parit-parit pertahanan, para prajurit mengintip dengan penuh kewaspadaan, sementara beberapa prajurit lainnya memperbaiki posisi mereka dan menguburkan rekan-rekan mereka yang telah gugur. Seiring datangnya kegelapan malam, sejumlah prajurit Jerman menyalakan lentera dan menyanyikan lagu-lagu Natal. Para serdadu di pihak Inggris pun bertepuk tangan, lalu meneriakkan salam.
Hari berikutnya, para prajurit Jerman, Prancis, dan Inggris bertemu di Daerah Tak Bertuan untuk saling berjabat tangan, berbagi makanan, dan bertukar kado. Itulah jeda yang singkat dari perang yang segera berakhir ketika artileri dan senapan mesin meraung kembali. Namun tak seorang pun yang mengalami peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Gencatan Senjata Natal” itu dapat melupakan perasaan yang mereka alami dan bagaimana peristiwa malam Natal tersebut membangkitkan kerinduan mereka akan damai yang abadi.
Dalam nubuat Nabi Yesaya mengenai Mesias yang akan datang, kita membaca, “Namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yes. 9:5). Dengan kematian-Nya di kayu salib, Yesus meniadakan “daerah tak bertuan” di antara kita dan Allah. “Karena Dialah damai sejahtera kita” (Ef. 2:14).
Di dalam Yesus, kita dapat menemukan kedamaian abadi dengan Allah dan keselarasan hidup dengan sesama. Itulah pesan Natal yang sanggup mengubahkan hidup! —DCM
Gita sorga bergema,
“Lahir Raja Mulia!
Damai dan sejahtera
Turun dalam dunia.” —Wesley
(Kidung Jemaat No. 99)
Hanya di dalam Kristus ada kedamaian sejati.

Tuesday, December 23, 2014

Yang Paling Utama Dan Berarti

Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! —2 Korintus 9:15
Yang Paling Utama Dan Berarti
Ketika anak-anak kami masih tinggal bersama kami, kami suka merayakan Natal di pagi hari dengan sebuah tradisi keluarga yang sederhana tetapi sangat berkesan. Kami sekeluarga berkumpul di sekeliling pohon Natal, di antara bungkusan-bungkusan hadiah yang akan kami berikan kepada satu sama lain. Di sana kami lalu membaca kisah Natal bersama. Hal tersebut sangat berguna untuk mengingatkan bahwa alasan kami untuk bertukar hadiah bukanlah karena para Majus datang membawa hadiah untuk bayi Kristus. Namun hadiah yang kami berikan kepada setiap anggota keluarga dalam kasih itu merupakan cerminan dari Hadiah yang jauh lebih indah dan agung yang diberikan Allah kepada kita dalam kasih.
Ketika kami menceritakan ulang kisah yang tidak asing lagi tentang para malaikat, gembala, dan palungan, kami mempunyai harapan agar karya Allah yang besar pada Natal pertama itu akan menjadi lebih utama daripada upaya kita yang terbaik sekalipun untuk menyatakan kasih kita kepada satu sama lain.
Tidak ada satu hal pun yang dapat menandingi hadiah yang telah Allah berikan kepada kita di dalam diri Anak-Nya. Inilah realitas yang digemakan Paulus lewat suratnya kepada jemaat di Korintus, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (2Kor. 9:15).
Jelaslah, kerelaan Allah dalam mengutus Anak-Nya untuk menjadi Juruselamat kita merupakan suatu hadiah yang tidak terungkapkan dengan kata-kata. Itulah hadiah yang kita rayakan di hari Natal—karena Kristus sendirilah yang paling utama dan berarti. —WEC
Oh, sungguh sederhana tempat kelahiran-Nya,
Tetapi besarlah yang Allah beri hari itu pada kita;
Dari palungan terbukalah jalan ke surga,
Jalan yang amat kudus dan sempurna! —Neidlinger
Kristuslah hadiah Natal terbaik yang pernah diberikan.

Monday, December 22, 2014

Ingat Kemasannya

[Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri, . . . dan menjadi sama dengan manusia. —Filipi 2:7
Ingat Kemasannya
Ada beberapa hal yang tidak pernah berubah dalam perayaan Natal di rumah kami. Salah satunya adalah himbauan Martie, istri saya, kepada anak-anak dan cucu-cucu saat mereka menyerbu hadiah mereka: “Kertas kadonya jangan dirusak. Kita bisa pakai lagi tahun depan!” Martie senang memberikan hadiah-hadiah yang indah, tetapi ia juga menghargai kemasannya. Penampilan merupakan bagian dari keindahan hadiah itu.
Hal tersebut membuat saya terpikir tentang kemasan yang Kristus pilih ketika Dia datang sebagai hadiah penebusan untuk menyelamatkan kita dari dosa. Yesus bisa saja datang dalam kemasan yang menunjukkan kuasa dahsyat dan menerangi seluruh cakrawala dengan kehadiran-Nya yang megah dan penuh kemuliaan. Namun, dalam suatu pembalikan yang indah dari Kejadian 1:26, Dia memilih untuk mengemas diri-Nya “menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7).
Lalu mengapa kemasan itu menjadi sedemikian penting? Karena dengan menjadi sama dengan kita, Dia dapat ikut merasakan pergumulan-pergumulan kita. Dia pernah merasakan kesepian yang mendalam dan pengkhianatan seorang sahabat. Dia pernah dipermalukan di depan orang banyak, disalah mengerti, dan dilontari tuduhan palsu. Singkat kata, Dia ikut merasakan kesakitan kita. Alhasil, penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibr. 4:16).
Ketika kamu memikirkan tentang Yesus yang menjadi hadiah terindah di Natal ini, ingatlah juga tentang “kemasan-Nya”! —JMS
Tuhan, terima kasih karena mengemas diri-Mu serupa dengan kami!
Ingatkan kami bahwa Engkau mengerti pergumulan kami dan bahwa
kami dapat dengan yakin menerima kasih karunia dan anugerah yang
Kau tawarkan supaya kami bisa menjadi pemenang.
Jangan abaikan kemasan dari hadiah Natal terindah yang pernah ada.

Sunday, December 21, 2014

Saat Yang Tepat

Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang. —Ibrani 9:11
Saat Yang Tepat
Sang dirigen telah berdiri di atas podiumnya, pandangan matanya menyusuri seluruh anggota paduan suara dan orkestra. Para penyanyi telah mengatur partitur musik di dalam map mereka, mengambil sikap berdiri yang nyaman, dan memegang map mereka sedemikian rupa agar mereka dapat melihat arahan sang dirigen. Para pemain orkestra menaruh partitur musik mereka di atas tiang penyangga kertas, menempati posisi yang nyaman di tempat duduk mereka, lalu duduk dengan tenang. Sang dirigen menunggu dan mengamati sampai setiap orang dalam keadaan siap. Kemudian, dengan satu ketukan dari tongkatnya, dimulailah “Overture to Messiah” (Lagu pembuka bagi oratorio Mesias) karya Handel yang berkumandang memenuhi seluruh ruang katedral.
Sambil menikmati alunan musik yang bergema di sekitar saya, saya pun merasa begitu terhisap dalam peristiwa Natal—ketika Allah, pada saat yang tepat, memberikan tanda untuk memulai pagelaran akbar yang diawali dengan kelahiran Sang Mesias, “Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang” (Ibr. 9:11).
Setiap Natal, sembari merayakan kedatangan Kristus yang pertama dengan musik yang megah, saya diingatkan bahwa, seperti para anggota paduan suara dan orkestra, umat Allah sedang bersiap-siap menantikan tanda berikutnya dari kedatangan Kristus kembali. Pada hari itu, kita semua akan mengambil bagian bersama Dia dalam pergerakan puncak dari simfoni penebusan Allah—karya Allah dalam menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:5). Dalam sikap penuh harap itulah, kita perlu memusatkan perhatian pada arahan Pemimpin kita dan memastikan bahwa kita sudah siap menyambut-Nya. —JAL
Kumandangkan pujian menggugah jiwa,
Seluruh malaikat membunyikan sangkakala;
Penantian panjang di bumi nyaris berakhir,
Kristus akan datang—datang segera! —Macomber
Pada masa advent ini, kita merayakan kelahiran-Nya dan menanti-nantikan kedatangan-Nya kembali.

Saturday, December 20, 2014

Dalam Nama Yesus

Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. —Yohanes 16:24
Dalam Nama Yesus
Salah satu koleksi foto favorit saya adalah foto dari acara makan malam bersama keluarga kami. Foto-foto yang tersimpan dalam album itu menampilkan ayah, putra-putranya beserta para istri, dan cucu-cucunya, dalam suatu acara pengucapan syukur dan doa bersama.
Ayah saya pernah mengalami serangkaian serangan stroke dan tidak lagi dapat berbicara selancar sebelumnya. Namun sepanjang doa syafaat itu, saya mendengar ia berkata-kata dengan keyakinan sepenuh hati: “Kami berdoa di dalam nama Yesus!” Kira-kira satu tahun kemudian, ayah pun meninggalkan dunia ini dan menghadap Pribadi yang nama-Nya ia percayai dengan sungguh itu.
Yesus mengajarkan kita untuk berdoa di dalam nama-Nya. Pada malam sebelum disalibkan, Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya: “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 16:24). Namun janji untuk meminta di dalam nama Yesus itu tidak berarti kita akan menerima apa saja yang kita kehendaki demi kepuasan diri kita sendiri.
Sebelum itu, Yesus telah mengajarkan bahwa Dia mengabulkan permohonan yang dinaikkan dalam nama-Nya supaya Dia memuliakan Bapa-Nya (Yoh. 14:13). Lalu pada malam itu, Yesus sendiri berdoa dalam kesesakan, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39).
Ketika berdoa, kita berserah pada hikmat, kasih, dan kedaulatan Allah, dan kita meminta dengan yakin “di dalam nama Yesus”. —HDF
Bapa di surga, tolong kami untuk tidak mengkhawatirkan apa yang
akan kami terima dari-Mu, tetapi biarlah kami lebih menanti apa
yang dapat kami pelajari dari-Mu. Biarlah seperti pengikut-pengikut-Mu,
kami juga berkata, “Tambahkanlah iman kami!” (Luk. 17:5).
Tak ada sesuatu yang berada di luar jangkauan doa kecuali apabila hal itu berada di luar kehendak Allah.

Friday, December 19, 2014

Makna Natal

Kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. —1 Timotius 1:14
Makna Natal
Novel A Christmas Carol karya Charles Dickens diterbitkan pada 19 Desember 1843, dan hingga kini selalu dicetak ulang. Novel itu berkisah tentang Ebenezer Scrooge, seorang pria kaya yang sinis dan kikir. Scrooge berkata, “Semua orang tolol, yang ke mana-mana mengucapkan ‘Selamat Hari Natal’, seharusnya ikut direbus dalam puding yang mereka masak sendiri!” Namun di suatu malam Natal, Scrooge berubah drastis menjadi pribadi yang ramah dan bahagia. Dengan humor dan wawasan yang memikat, novel karya Dickens tersebut menangkap dengan baik adanya kerinduan umat manusia di mana saja untuk memiliki kedamaian batin.
Pada masa mudanya, Rasul Paulus pernah menentang Yesus dan para pengikut-Nya dengan hati penuh dendam. Ia “berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara” (Kis 8:3). Namun suatu hari ia bertemu Kristus yang telah bangkit, dan jalan hidupnya berubah 180 derajat (Kis. 9:1-16).
Dalam surat kepada Timotius, anak rohaninya, Paulus menggambarkan perubahan hidupnya, bahwa meski tadinya ia adalah, “seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, . . . kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus” (1Tim. 1:13-14).
Yesus telah lahir ke dunia ini dan menyerahkan nyawa-Nya supaya kita dapat diampuni dan diubahkan melalui iman kepada-Nya. Itulah makna Natal! —DCM
Mari teman, nyanyikan t’rus
Pujian bagi Penebus;
Kar’na besar anug’rah-Nya
Kepada kita, umat-Nya. —English Carol
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 59)
Perubahan perilaku dimulai ketika Yesus mengubah hati kita.

Thursday, December 18, 2014

Aku dan Sahabatku

KomikStrip-WarungSateKamu-20141218-Aku-Dan-Sahabatku
Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. —1 Samuel 18:3
Saya Dan Sahabat Saya
John Chrysostom (347-407), seorang Uskup Agung dari Konstanstinopel, pernah mengucapkan ini: “Demikianlah yang disebut persahabatan, ketika melaluinya kita mencintai setiap tempat dan musim yang dilalui; karena bagaikan . . . bunga-bunga meluruhkan daun-daun indahnya pada tanah di sekitarnya, demikian juga para sahabat menebarkan kebaikan kepada tempat-tempat di mana mereka berada.”
Hubungan Yonatan dan Daud melukiskan indahnya sebuah persabahatan sejati. Alkitab mencatat adanya kesatuan hati yang begitu erat dan langsung terjadi di antara mereka (1Sam. 18:1). Mereka menjaga keakraban tersebut dengan membuktikan kesetiaan mereka kepada satu sama lain (18:3; 20:16,42; 23:18). Mereka juga memelihara persahabatan itu dengan sikap yang saling menunjukkan perhatian. Yonatan memberi hadiah kepada Daud (18:4) dan memperingatkannya pada saat beragam kesulitan mengancam nyawa Daud (19:1-2; 20:12-13).
Dalam 1 Samuel 23:16, kita melihat momen terbaik dalam persahabatan mereka. Saat Daud menjadi buronan sang ayah, “Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah.” Sahabat yang baik akan menolongmu menemukan kekuatan dalam Allah di titik nadir hidupmu.
Di dunia dimana banyak orang lebih mencari keuntungan diri dari relasi mereka dengan sesama, marilah kita menjadi pribadi yang lebih mengutamakan apa yang dapat kita berikan kepada sahabat kita. Yesus, Sahabat kita yang terbaik, telah membuktikan kepada kita bahwa “tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). —PFC
Terima kasih Tuhan, untuk para sahabat dari-Mu yang mengasihiku
tanpa memandang kegagalan dan kelemahanku. Tolong aku untuk
menerima mereka sebagaimana Engkau menerima kami. Ikatkanlah
kami di dalam Engkau dan mampukan kami untuk saling menolong.
Keindahan hidup dialami dengan mengasihi, memberi, melayani; bukan dengan dikasihi, diberi, dan dilayani.

Wednesday, December 17, 2014

Masih Terus Bertumbuh

Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. —2 Petrus 3:18
Masih Terus Bertumbuh
Pablo Casals dipandang sebagai pemain alat musik cello terbaik di pertengahan pertama dari abad ke-20. Ketika Casals masih bermain cello pada usianya yang menjelang satu abad, seorang wartawan muda pernah bertanya, “Tn. Casals, Anda sudah berumur 95 tahun dan Anda adalah pemain cello terbaik yang pernah ada. Mengapakah Anda masih berlatih selama 6 jam sehari?”
Casals pun menjawab, “Karena saya pikir saya masih bisa lebih maju lagi.”
Sungguh suatu sikap yang mengagumkan! Sebagai orang yang beriman kepada Kristus, sudah sepatutnya kita tidak cepat berpuas diri dan berpikir bahwa kita telah berhasil mencapai puncak keunggulan rohani yang kita buat-buat sendiri. Yang sepatutnya kita lakukan adalah terus bertumbuh “dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2Ptr. 3:18). Yesus mengingatkan kita dalam Yohanes 15:16 bahwa Dia memilih kita untuk “pergi dan menghasilkan buah”. Pertumbuhan yang sehat akan menghasilkan buah roh yang terus-menerus lebat di sepanjang hidup kita. Tuhan kita sendiri telah berjanji: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (ay.5).
Lewat suatu kemajuan yang tetap dan mantap untuk menjadi semakin serupa dengan Tuhan yang kita kasihi dan layani, kita dapat meyakini bahwa Dia yang telah memulai “pekerjaan yang baik” di antara kita akan meneruskannya sampai akhirnya tuntas pada hari Kristus datang kembali (Flp. 1:6). —CHK
Makin dekat dan melekat, Juruselamatku,
Engkaulah Pokok Anggur yang Mahakuasa;
Engkau saja yang dapat membuatku berbuah,
Engkaulah sumber berkat kekuatan ilahi. —Bosch
Pekerjaan Allah yang tidak kasat mata dalam hati kita menghasilkan buah yang nyata dalam kehidupan kita.

Tuesday, December 16, 2014

Natal Bangsa Ukraina

Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. —Lukas 2:14
Natal Bangsa Ukraina
Bangsa Ukraina memasukkan banyak unsur yang indah dalam perayaan Natal yang mereka lakukan. Ada kalanya mereka meletakkan beberapa helai jerami di atas meja makan pada saat makan malam untuk mengingatkan mereka pada palungan di Betlehem. Bagian lain dari perayaan Natal yang mereka selenggarakan melukiskan peristiwa-peristiwa pada malam kelahiran Sang Juruselamat ke dunia. Ada sepenggal doa Natal yang dipanjatkan, kemudian ayah sebagai kepala rumah tangga akan memberikan salam, dengan ucapan, “Kristus telah lahir.” Seluruh keluarga lalu membalasnya dengan menjawab, “Mari kita muliakan Dia!”
Kata-kata tersebut mengingatkan saya akan munculnya malaikat di langit Betlehem pada malam kelahiran Kristus. Seorang malaikat Tuhan menyerukan, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11). Sejumlah besar bala tentara surga pun membalas, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (ay.14).
Kedua pesan kembar tersebut membubuhkan makna yang sangat mendalam bagi Natal yang kita rayakan. Sang Juruselamat telah datang dengan membawa pengampunan dan harapan—dan Dia layak menerima setiap penyembahan yang dapat kita berikan bagi-Nya.
Kiranya setiap orang yang mengalami keajaiban anugerah-Nya, yakni hidup yang kekal, akan bergabung dengan suara-suara malaikat dan bala tentara surga yang berseru, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi.” —WEC
Permaklumkan Kabar Baik:
“Lahir Kristus, T’rang ajaib!”
Gita surga bergema,
“Lahir Raja Mulia.”—Wesley
(Kidung Jemaat, No. 99)
Keagungan yang menakjubkan dari kasih Allah bagi kita diungkapkan dalam kedatangan Yesus.

Monday, December 15, 2014

Penatalayan Kisah Hidup

Waspadalah . . . supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu . . . . Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu. —Ulangan 4:9
Penatalayan Kisah Hidup
Banyak orang begitu teliti untuk memastikan bahwa harta benda mereka akan digunakan dengan baik setelah mereka meninggal dunia. Mereka akan mengatur pengelolaan harta, menulis surat wasiat, dan mendirikan yayasan untuk menjamin agar aset mereka akan terus digunakan untuk tujuan yang baik setelah berakhirnya masa hidup mereka di dunia. Sikap itu kita sebut sebagai penatalayanan yang bertanggung jawab.
Namun yang tidak kalah pentingnya, kita juga perlu menjadi penatalayan yang baik atas kisah hidup kita. Allah memerintahkan bangsa Israel untuk tidak saja mengajarkan hukum-hukum-Nya kepada keturunan mereka, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak mengetahui sejarah dari keluarga mereka. Para orangtua dan kakek-nenek bertanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak mereka mengetahui kisah tentang karya Allah yang telah mereka alami (Ul. 4:1-14).
Allah telah memberikan kisah hidup yang unik kepada setiap dari kita. Rencana-Nya atas hidup kita pun berbeda-beda. Apakah orang lain mengetahui apa yang kamu percayai dan mengapa kamu mempercayainya? Apakah mereka tahu bagaimana kamu bisa beriman dan cara kerja Allah dalam hidupmu untuk menguatkan imanmu? Apakah mereka tahu bagaimana Allah telah menunjukkan kesetiaan-Nya dan telah menolongmu mengatasi beragam keraguan dan kekecewaan?
Kesetiaan Allah menjadi kisah yang berharga untuk kita ceritakan dan teruskan. Cobalah untuk merekam atau mencatat kisah tersebut, lalu bagikanlah dengan orang lain. Jadilah penatalayan yang baik atas kisah hidup yang telah Allah nyatakan melalui dirimu. —JAL
Betapa agung, ya Allah, perbuatan kasih-Mu!
Penyelamatan yang Engkau lakukan saat ini menyatakan
Bahwa generasi-generasi yang akan datang
Boleh berharap di dalam nama-Mu yang agung. —D. DeHaan
Hidup yang telah dipersembahkan bagi Allah akan meninggalkan warisan yang abadi.

Sunday, December 14, 2014

Kelahiran Istimewa

Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. —Yesaya 7:14
Kelahiran Istimewa
Dalam lembaran-lembaran Kitab Suci, tercatat sejumlah kelahiran bayi laki-laki yang cukup menonjol. Kain adalah anak pertama yang lahir setelah penciptaan. Ishak adalah harapan bagi masa depan bangsa Israel. Samuel menjadi jawaban dari doa yang dengan tekun dipanjatkan oleh seorang ibu. Semua kelahiran itu sangatlah penting. Semua itu telah dinantikan dengan penuh sukacita. Semuanya digambarkan persis sama oleh para penulis Kitab Suci: dalam setiap peristiwa kelahiran itu, disebutkan bahwa sang ibu mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (Kej. 4:1, 21:2-3; 1Sam. 1:20).
Sekarang, coba kita perhatikan kelahiran seorang bayi laki-laki yang satu ini. Gambaran dari kedatangan-Nya itu dijelaskan dengan jauh lebih rinci; dibutuhkan banyak keterangan untuk menceritakan kelahiran Yesus. Dalam kitab Mikha, disebutkan tentang tempat kelahiran-Nya, yaitu Bethlehem (5:1). Di kitab Yesaya, disebutkan bahwa ibu-Nya adalah seorang gadis atau perempuan muda (7:14), dan bahwa Dia akan datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa-dosa mereka (psl.53).
Dalam Perjanjian Baru, kita mendapat informasi penting tentang nama-Nya dan alasan Dia dinamai demikian (Mat. 1:21), tempat kelahiran-Nya yang sesuai dengan nubuat (2:6), dan cara Allah melibatkan ibu yang melahirkan-Nya dan ayah angkat-Nya dalam rencana-Nya (1:16).
Kelahiran Yesus jauh lebih penting dari segala kelahiran yang lain. Kedatangan-Nya telah mengubah dunia dan dapat mengubah hidup kita. Rayakan kehadiran-Nya! —JDB
Raja Damai yang besar, Surya Hidup yang benar,
Menyembuhkan dunia di naungan sayap-Nya,
Tak memandang diri-Nya, bahkan maut dit’rima-Nya,
Lahir untuk memberi hidup baru abadi! —Wesley
(Kidung Jemaat, No. 99)
Kristus adalah pemberian terbesar yang pernah diterima umat manusia.

Saturday, December 13, 2014

Pahlawan Lain Dalam Natal

KomikStrip-WarungSateKamu-20141213-Memilih-Untuk-Setia
Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. —Matius 1:19
Pahlawan Lain Dalam Natal
Hampir di sepanjang hidup saya, saya melewatkan pentingnya peran Yusuf dalam cerita Natal. Namun setelah saya sendiri menjadi seorang suami dan ayah, saya dapat lebih menghargai kepribadian Yusuf yang lemah lembut. Bahkan sebelum Yusuf tahu bagaimana Maria bisa mengandung, ia telah memutuskan tidak akan mempermalukan atau menghukum Maria atas kecurigaan bahwa ia telah berselingkuh (Mat. 1:19).
Saya mengagumi ketaatan dan kerendahan hati Yusuf, karena ia tidak hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh malaikat (ay.24) tetapi juga tidak melakukan hubungan suami-istri dengan Maria sampai Yesus lahir (ay.25). Kemudian kita juga melihat bahwa Yusuf bersedia meninggalkan tanah kelahirannya demi melindungi Yesus (2:13-23).
Bayangkan tekanan yang pasti dialami oleh Yusuf dan Maria ketika mengetahui bahwa mereka harus membesarkan dan merawat Yesus! Bayangkan kerumitan dan tekanan yang mereka alami setiap saat dalam kehidupan sehari-hari yang dijalani bersama Sang Anak Allah: tentulah ada tuntutan untuk terus-menerus hidup kudus di hadapan Dia. Alangkah luar biasanya pribadi Yusuf sehingga ia dipercaya Allah untuk mengemban tugas tersebut! Yusuf menjadi teladan yang sangat indah untuk kita ikuti, baik dalam membesarkan anak-anak kita sendiri maupun anak-anak milik orang lain yang saat ini berada di bawah asuhan kita.
Kiranya Allah memberi kita kekuatan untuk berlaku setia seperti Yusuf, bahkan ketika kita tidak memahami sepenuhnya rencana Allah bagi kita. —RKK
Ya Bapa, kami tahu bahwa hikmat-Mu jauh melebihi pengertian kami
yang sangat terbatas. Kami bersyukur, kami boleh bergantung
kepada-Mu yang akan menggenapi rencana-Mu yang terbaik
bagi kami. Engkau layak menerima kesetiaan kami sepenuhnya.
Rahasia pelayanan sejati terletak pada kesetiaan penuh kepada Allah di mana pun Dia menempatkanmu.

Friday, December 12, 2014

Bergelung Bagai Kepompong!

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. —Mazmur 4:9
Bergelung Bagai Kepompong!
Saat saya masih kecil, keluarga kami tinggal di sebuah rumah yang dibangun oleh ayah saya di bagian barat dari kota Duncanville, Texas, Amerika Serikat. Rumah kami mempunyai sebuah dapur sekaligus ruang makan kecil, dua kamar tidur, dan satu ruangan luas dengan perapian batu yang besar tempat kami biasa membakar batang-batang kayu pohon aras sepanjang 60 cm. Perapian itu menjadi pusat kehangatan dalam rumah kami.
Ada lima orang anggota keluarga kami: ayah dan ibu saya, saudari saya, sepupu saya, dan saya. Karena hanya ada dua kamar tidur, saya selalu tidur di beranda dengan kelambu dari kain kanvas yang menjuntai hingga ke lantai. Di musim panas, itu sangat menyenangkan, tetapi di musim dingin sangatlah dingin.
Saya ingat saya sering berlari kencang dari hangatnya ruang keluarga kami menuju beranda itu, berjingkat-jingkat tanpa alas kaki di atas dinginnya lantai kayu yang membeku, lalu melompat ke atas tempat tidur dan menyusup dalam gundukan selimut. Ketika hujan es atau salju menghantam rumah kami dan angin bergemuruh kencang melalui kisi-kisi atap rumah, saya suka meringkuk untuk bersembunyi dalam selimut. “Aman bergelung bagai kepompong” begitu ibu saya biasa menyebutnya. Rasanya tidak ada yang lebih hangat dan aman seperti tempat itu.
Kini saya mengenal pemberi rasa aman yang terbesar, yakni Allah sendiri. Saya bisa “dengan tenteram . . . membaringkan diri, lalu segera tidur” (Mzm. 4:9), karena tahu Allah adalah perlindungan saya dari badai hidup yang menerjang. Dilingkupi kehangatan kasih-Nya, saya merasa nyaman dan “aman bergelung bagai kepompong”. —DHR
Sandar, sandar,
‘Ku aman tiada bahaya,
Sandar, sandar,
Sandar pada lengan yang kekal. —Hoffman
(Kidung Puji-Pujian Kristen, No. 221)
Tiada yang lebih merasa aman daripada mereka yang berada dalam tangan Tuhan.

Thursday, December 11, 2014

Ular Dalam Kotak

Sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN. —Yesaya 11:9
Ular Dalam Kotak
Di suatu kebun raya, saya menyaksikan putri teman saya, seorang batita mungil berpipi kemerahan, menepuk-nepuk sisi luar dari sebuah kotak kaca yang besar. Di dalam kotak itu ada seekor ular bull snake bernama Billy yang sedang merayap lambat dan menatap gadis kecil itu. Billy mempunyai lingkar badan sebesar lengan atas saya dan tubuhnya berwarna cokelat kekuningan. Meski saya tahu Billy tidak akan kabur dari kotaknya, tetapi melihat makhluk yang berpenampilan ganas itu begitu dekat dengan seorang anak kecil, saya masih merasa ngeri.
Alkitab berbicara tentang suatu waktu di masa depan ketika binatang buas tidak akan lagi menjadi ancaman bagi binatang lainnya atau umat manusia. “Serigala akan tinggal bersama domba” dan “anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung” (Yes. 11:6,8). Semua makhluk di bumi akan hidup dengan harmonis dan damai.
Tuhan akan membangun lingkungan yang aman itu ketika Dia memulihkan dunia ini dengan hikmat, kuasa, dan pengetahuan-Nya. Pada saat itulah, Tuhan akan menghakimi dunia dengan kejujuran dan keadilan (11:4). Lalu setiap orang akan mengakui keagungan-Nya: “Seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN” (11:9).
Kini kita hidup dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Ketidakadilan dan perselisihan, ketakutan dan kesakitan adalah bagian yang dengan nyata dialami dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun kelak, Allah akan mengubah segalanya, dan “akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya” (Mal. 4:2). Pada akhirnya, Yesus akan memerintah dunia dalam kebenaran. —JBS
Tenang dan sabarlah, wahai jiwaku.
Sebentar lagi saat tibalah
Bahwa engkau berjumpa dengan Dia
Yang menghiburmu di masa lelah. —von Schlegel
(Pelengkap Kidung Jemaat, No. 166)
Serahkanlah penghakiman terakhir kepada tangan Allah yang adil.

Wednesday, December 10, 2014

Keajaiban Jantung

Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan. —Mazmur 71:6
Keajaiban Jantung
Setiap hari jantung kita berdetak sekitar 100.000 kali, memompa darah ke setiap sel yang ada dalam tubuh kita. Itu berarti secara total jumlahnya sekitar 35 juta detak per tahun dan 2,5 milyar detak sepanjang hidup manusia pada umumnya. Ilmu kedokteran memberi tahu kita bahwa setiap kontraksi yang terjadi itu setara dengan usaha yang kita butuhkan untuk menggenggam sebuah bola tenis dengan telapak tangan kita dan meremasnya kuat-kuat.
Akan tetapi, sehebat-hebatnya jantung kita, hal itu hanyalah satu contoh dari keberadaan dunia yang telah diciptakan untuk menyatakan sesuatu tentang diri Pencipta kita. Itulah gagasan yang terkandung di balik cerita tentang seorang laki-laki bernama Ayub.
Ketika Ayub dihempaskan oleh berbagai masalah yang menimpa silih berganti, ia pun merasa diabaikan. Pada saat Allah akhirnya berbicara, Dia tidak menyebutkan alasan mengapa Ayub menderita. Dia juga tidak mengatakan kepada Ayub bahwa kelak Dia sendiri akan menderita baginya. Sebaliknya, Allah menarik perhatian Ayub pada serangkaian keajaiban alam yang sebenarnya selalu tampak nyata di hadapan kita—bahkan terkadang dengan begitu gamblang—yakni suatu hikmat dan kuasa yang jauh lebih besar daripada hikmat dan kuasa kita sendiri (Ayb. 38:1-11).
Jadi, apa yang dapat kita pelajari dari canggihnya organ jantung yang selalu bekerja keras itu? Pelajarannya mungkin sama seperti yang kita terima ketika mendengar bunyi ombak yang menerjang tepian pantai dan melihat bintang-bintang yang bersinar lembut di langit pada malam hari. Kita belajar bahwa kuasa dan hikmat dari Allah Sang Pencipta kita itu membuat Dia layak kita percayai. —MRD II
Tuhan, Engkaulah Allah kami, kami milik-Mu;
Kami diciptakan dengan begitu menakjubkan;
Lewat setiap seluk-beluk rangka tubuh kami
Kami melihat hikmat, kuasa, dan kasih-Mu. —NN.
Ketika kita merenungkan kuasa Allah dalam mencipta, kita juga melihat kuasa-Nya dalam memelihara kita.

Tuesday, December 9, 2014

Hidup Kita Ibarat Buku

Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu . . . apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. —Ulangan 6:7
Hidup Kita Ibarat Buku
Buku The New England Primer (buku pelajaran dasar bagi siswa SD) diterbitkan di penghujung tahun 1600-an. Buku tersebut menjadi materi pelajaran yang digunakan secara luas di antara koloni-koloni yang di kemudian hari bersatu membentuk negara Amerika Serikat.
Sebagian besar isi dari buku pelajaran yang digunakan di Amerika pada zaman lampau itu didasarkan pada Alkitab. Di dalamnya digunakan beragam gambar dan sajak yang dilandaskan pada Kitab Suci dengan maksud untuk membantu anak-anak belajar membaca. Buku tersebut juga mencantumkan doa-doa seperti ini: “Kini aku ingin berbaring tidur, aku berdoa, ya Tuhan, jagalah aku. Jika aku mati sebelum kubangun, aku berdoa, ya Tuhan, bawalah jiwaku.”
Pada zaman kolonial di Amerika, cara itulah yang dipakai oleh sebuah generasi untuk meneruskan iman mereka pada generasi berikutnya. Hal itu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dari umat-Nya, bangsa Israel kuno, sebagaimana tercatat dalam Ulangan 6:6-7, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkan [perintah-perintah Allah] berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya . . . apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Ketika kita berbicara tentang diri Allah, perbuatan-perbuatan-Nya bagi kita, dan bagaimana Dia menghendaki kasih dan ketaatan kita, kehidupan kita dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Kita dapat menjadi alat pengajaran yang akan Allah pakai untuk menuntun orang lain dalam perjalanan iman mereka bersama-Nya. —HDF
Tuhan, kami mengasihi-Mu. Kami ingin belajar mengasihi-Mu
dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kami.
Pakailah hidup dan perkataan kami untuk membawa orang lain
kepada Engkau yang terlebih dulu mengasihi kami.
Ketika kita mengajar orang lain, kita tidak sedang menghabiskan waktu, tetapi menanamkan iman.

Monday, December 8, 2014

Batu-Batu Berteriak

Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak. —Lukas 19:40
Batu-Batu Berteriak
Dari tahun ke tahun, tampaknya Natal semakin dikomersialkan. Bahkan di negara-negara yang sebagian besar penduduknya menyebut diri beragama “Kristen”, Natal lebih banyak dihubungkan dengan kegiatan belanja daripada beribadah. Tekanan untuk membeli hadiah dan merencanakan pesta yang meriah membuat orang semakin sulit memusatkan perhatian pada arti Natal yang sebenarnya, yakni kelahiran Yesus, Putra tunggal Allah, Sang Juruselamat dunia.
Namun setiap kali menjelang Natal, saya juga mendengar Injil diberitakan di tempat-tempat yang tidak terduga—tempat-tempat yang justru sangat mengkomersialkan Natal, yaitu pusat-pusat perbelanjaan. Ketika mendengar pujian “Hai dunia bersyukurlah, menyambut Tuhanmu!” disuarakan dari pengeras suara, saya teringat pada perkataan Yesus kepada orang-orang Farisi yang menyuruh-Nya mendiamkan sekerumunan orang yang sedang memuji-Nya. “Jika mereka ini diam,” kata Yesus, “maka batu ini akan berteriak” (Luk. 19:40).
Pada masa Natal, kita mendengar batu-batu berteriak. Orang-orang yang belum lahir baru pun terbiasa menyanyikan puji-pujian Natal yang ditulis oleh orang-orang Kristen dari zaman lampau, dan ini mengingatkan kita bahwa sekeras apa pun usaha orang untuk memadamkan pesan Natal yang sesungguhnya, mereka tidak akan pernah berhasil.
Meskipun komersialisme mengancam untuk mengaburkan makna dari kelahiran Kristus, Allah akan membuat kabar baik-Nya itu tersebar luas di mana saja kuasa gelap merajalela. —JAL
Dosa keji tak berdaya
Derita pun lenyap
Dilimpahkan-Nya kasih karunia
Melawan kuasa g’lap. —Watts
(Nyanyian Kemenangan Iman, No. 44)
Sia-sia orang menahan pasang air laut, demikianlah usaha orang menyingkirkan Kristus dari Natal.

Sunday, December 7, 2014

Perlombaan Johnny

Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah. —1 Tesalonika 5:11
Perlombaan Johnny
Ketika Johnny Agar yang berusia 19 tahun menyelesaikan perlombaan lari 5 km, ada banyak orang yang mendukungnya. Mereka adalah anggota keluarga dan para sahabat yang ikut berbahagia atas keberhasilannya.
Johnny adalah penderita cerebral palsy (gangguan pada perkembangan otak) yang membuatnya sulit beraktivitas secara fisik. Namun bersama ayahnya, Jeff, mereka bersatu untuk menyelesaikan banyak perlombaan—dengan Jeff biasanya mendorong kursi roda yang diduduki Johnny. Namun suatu hari, Johnny ingin menyelesaikan perlombaannya sendiri. Di pertengahan lomba, sang ayah mengeluarkan Johnny dari kursi rodanya, membantunya memakai alat bantu jalan, dan mendampingi Johnny yang kemudian menyelesaikan perlombaan itu dengan berjalan di atas kakinya sendiri. Keberhasilan itu membuat para sahabat dan keluarga begitu bergembira. “Aku lebih mudah melakukannya berkat dukungan mereka semua,” kata Johnny pada seorang wartawan. “Dorongan semangat mereka itulah yang menguatkanku.”
Bukankah itu yang seharusnya dilakukan para pengikut Kristus? Ibrani 10:24 mengingatkan kita, “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” Ketika kita meneladan kasih Juruselamat kita (Yoh. 13:34-35), alangkah luar biasanya pengaruh yang akan dialami apabila kita semua bertekad untuk menguatkan satu sama lain—ketika kita yakin bahwa sahabat-sahabat kita akan selalu mendukung di belakang kita. Ketika kita sungguh-sungguh menghayati perintah berikut, “nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah” (1Tes. 5:11), perlombaan hidup ini akan kita jalani bersama dengan lebih mudah. —JDB
Tolong kami, Tuhan, untuk tak berpikir dapat menjalani hidup ini
tanpa kehadiran orang lain. Jauhkan kami dari ketidakpedulian.
Pakailah kami untuk memberkati orang lain, dan rendahkanlah diri
kami untuk mau menerima dorongan semangat dari sesama.
Perkataan yang memberi semangat dapat mendorong orang yang putus asa untuk bangkit dan terus maju.

Saturday, December 6, 2014

Lebih Baik Dari Sebelumnya

Lalu pulihlah tubuh [Naaman] kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. —2 Raja-Raja 5:14
Lebih Baik Dari Sebelumnya
Ketika masih batita, anak-anak saya memiliki kulit yang hampir sempurna. Kulit mereka begitu halus. Mereka tidak memiliki siku tangan yang kering atau bagian-bagian kasar pada kaki mereka. Begitu mulus dan segarnya kulit mereka sehingga sangat kontras dengan kulit saya yang selama bertahun-tahun telah diwarnai luka-luka lama yang membekas dan bagian kulit yang mengeras.
Sebagai seorang prajurit yang perkasa dan panglima dari tentara Syria, Naaman mungkin memiliki kulit yang kasar dan parut luka akibat perang. Selain itu, ia juga mengidap penyakit kulit yang parah, yakni kusta. Ketika seorang gadis pelayan menyebut bahwa Nabi Elisa dapat menyembuhkan dirinya, Naaman pun mengunjunginya. Ia mengikuti instruksi Elisa, dan tubuh yang berpenyakit itu lalu menjadi “seperti tubuh seorang anak” (2Raj. 5:14). Pemulihan itu membuat Naaman lebih sehat secara fisik maupun rohani. Setelah disembuhkan, ia pun berseru, “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel” (ay.15). Lewat pengalaman ajaib itu, ia belajar bahwa hanya ada satu Allah saja (1Kor. 8:6).
Seperti Naaman, kita dapat menerima pelajaran-pelajaran yang penting tentang Allah sebagai hasil dari beragam pengalaman hidup kita. Menerima sebuah berkat dapat menunjukkan belas kasih dan kebaikan-Nya kepada kita (Mat. 7:11). Pengalaman dalam mengatasi atau menanggung sebuah pencobaan dapat membantu kita untuk melihat kesanggupan dan pemeliharaan Allah. Bertumbuh dalam pengenalan akan Dia (2Ptr. 3:18) akan membuat kita semakin sehat secara rohani. —JBS
Bapa, tolong aku belajar lebih banyak tentang-Mu
sembari aku hidup di tengah dunia ini. Biarlah pengenalan itu
membangkitkan pujian yang baru di dalam hatiku
dan sebuah hasrat untuk semakin menjadi seperti-Mu.
Pelajaran-pelajaran tentang Allah dapat ditemukan lewat beragam pengalaman hidup.

Friday, December 5, 2014

Catur Manusia

Saudara-saudara yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. —1 Yohanes 4:7
Catur Manusia
Catur merupakan sebuah permainan strategi kuno. Setiap pemain memulai permainan dengan 16 bidak di papan catur dengan tujuan menjatuhkan bidak raja dari pemain lawan. Permainan itu sendiri telah mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Salah satu bentuk yang pernah ada ialah catur manusia, yang diperkenalkan sekitar tahun 735 oleh Charles Martel, seorang bangsawan Austrasia. Martel memainkan catur manusia di atas papan raksasa dengan orang sungguhan sebagai bidak catur. Orang-orang itu didandani dengan kostum yang sesuai status mereka masing-masing di atas papan permainan. Mereka berpindah tempat sesuai dengan kehendak para pemain yang mengaturnya demi mencapai tujuan mereka.
Mungkinkah permainan catur manusia itu juga terkadang kita mainkan? Kita dapat begitu mudahnya terobsesi dengan kemauan kita sehingga kita memanfaatkan orang lain bagaikan bidak-bidak catur yang kita gerakkan demi mencapai tujuan-tujuan itu. Namun Kitab Suci mengajak kita untuk memandang orang-orang di sekitar kita dengan cara yang berbeda. Kita harus melihat mereka sebagai pribadi-pribadi yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Mereka adalah penerima kasih Allah (Yoh. 3:16) dan mereka juga layak menerima kasih kita.
Rasul Yohanes menulis, “Saudara-saudara yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1Yoh. 4:7). Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita, maka kita harus menanggapinya dengan mengasihi Dia dan mengasihi sesama manusia yang Dia ciptakan menurut gambar-Nya. —WEC
Bukalah mataku, Tuhan, terhadap orang di sekelilingku,
Tolong aku melihat mereka seperti Engkau melihatnya;
Berilah aku hikmat dan kekuatan untuk bertindak,
Agar orang lain boleh melihat kedalaman kasih-Mu. —Kurt DeHaan
Sesama kita ada untuk dikasihi, bukan untuk dimanfaatkan.

Thursday, December 4, 2014

Dipanggil Namanya

KomikStrip-WarungSateKamu-20141204-Dipanggil-Namanya
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” —Lukas 19:5
Dipanggil Namanya
Pada suatu awal tahun ajaran baru, seorang kepala sekolah di kota kami mencanangkan tekadnya untuk menghafalkan seluruh nama dari 600 murid yang menempuh pendidikan di sekolahnya. Kemampuan dan tekad kepala sekolah itu tidak dapat diremehkan. Lihat saja rekam jejaknya. Pada tahun sebelumnya, kepala sekolah tersebut berhasil menghafal 700 nama murid-muridnya, dan tahun sebelumnya lagi, ia sanggup menghafal 400 nama anak dari sekolah yang lain. Bayangkan perasaan bangga dalam hati para murid itu ketika mereka dikenali sekaligus juga dipanggil menurut nama mereka.
Cerita tentang Zakheus dan Yesus (Luk. 19:1-10) mengandung suatu unsur kejutan tentang pengenalan pribadi. Ketika Yesus sedang melewati kota Yerikho, seorang pemungut cukai yang kaya bernama Zakheus memanjat pohon supaya dapat melihat-Nya. “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ‘Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu’” (ay.5). Yesus tidak mengabaikan Zakheus atau berkata, “Hei, kamu yang di atas pohon.” Namun yang dilakukan Yesus adalah memanggil nama Zakheus. Sejak saat itu, hidup Zakheus pun berubah.
Ketika rasanya tidak ada orang yang mengenalmu atau mempedulikan kehadiranmu, ingatlah Yesus. Dia mengenal nama kita dan Dia rindu supaya kita pun mengenal-Nya secara pribadi. Bapa kita di surga memandang kita dengan mata kasih-Nya dan Dia peduli terhadap setiap seluk-beluk kehidupan kita. —DCM
Bapa, terima kasih karena nilaiku di mata-Mu tidak ditentukan oleh
perbuatanku, tetapi semata-mata karena aku ini ciptaan-Mu.
Tolong aku untuk mengenali nilai yang sama dalam diri orang lain
saat aku menjadi wakil-Mu di tengah dunia ini.
Yesus mengenal namamu dan rindu kamu pun mengenal-Nya.

Wednesday, December 3, 2014

Anda Ada Di Pihak Mana?

Aku suka dekat pada Allah. —Mazmur 73:28
Anda Ada Di Pihak Mana?
Dalam sengitnya Perang Saudara di Amerika Serikat, salah seorang penasihat Presiden Lincoln mengatakan bahwa ia bersyukur karena Allah berada di pihak pemerintahan Perserikatan (Utara). Lincoln menjawab, “Tuan, kekhawatiran saya bukanlah apakah Allah berada di pihak kita; kekhawatiran terbesar saya adalah apakah kita berada di pihak Allah, karena Allah selalu benar.”
Pernyataan itu benar-benar menggugah kita yang selama ini menganggap bahwa Allah itu ada untuk semata-mata mendukung berbagai rencana, pandangan, keputusan, dan keinginan kita. Jawaban Lincoln mengingatkan kita bahwa rencana-rencana kita yang terbaik sekalipun belum tentu sesuai dengan kehendak Allah.
Dengan jelas kita melihat bahwa sang pemazmur ingin senantiasa berada di pihak Allah ketika ia memohon, “Selidikilah aku, ya Allah dan kenallah hatiku . . . lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). Ketika kita mengikuti teladan pemazmur untuk senantiasa “dekat pada Allah” (73:28), kita dapat memastikan bahwa kita berada di pihak-Nya, seiring Roh-Nya menolong kita untuk menyelaraskan setiap pikiran dan tindakan kita agar seturut dengan jalan-Nya yang selalu benar.
Jadi, tanyakanlah kepada diri sendiri: Apakah kita berada di pihak Tuhan? Berada di pihak-Nya berarti kita mencerminkan kasih-Nya kepada orang-orang di sekitar kita melalui cara kita berinteraksi dengan mereka. Kita akan mengampuni, memperlakukan orang lain dengan adil, dan mengusahakan perdamaian. Jalan-jalan Allah selalu menjadi yang paling baik. —JMS
Bapa, ajar kami mengenali jalan-jalan-Mu agar kami tahu bahwa
dalam keputusan penting hidup ini kami pun menaati-Mu.
Terima kasih karena ketika kami mendekat kepada-Mu,
Engkau pun mengaruniakan kepada kami hikmat dan kearifan.
Ketika kamu mendekat kepada Allah, kamu pasti berada di pihak-Nya.

Tuesday, December 2, 2014

Kehilangan Arah

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman. —1 Timotius 6:10
Kehilangan Arah
Suatu survei online yang diselenggarakan oleh sebuah firma hukum di New York mengungkapkan bahwa 52 persen dari para pedagang saham, pialang, bankir investasi, dan pelaku bisnis jasa keuangan lainnya di Wall Street pernah terlibat dalam kegiatan ilegal atau meyakini bahwa mereka mungkin perlu melakukan kegiatan ilegal itu untuk mencapai sukses. Survei tersebut menyimpulkan bahwa para pemimpin dalam bisnis keuangan itu “telah kehilangan kompas moral mereka” dan “menganggap perbuatan ilegal di dunia usaha sebagai kejahatan yang wajar dan perlu”.
Saat membimbing Timotius yang masih muda, Rasul Paulus memperingatkan bahwa sifat cinta uang dan hasrat untuk menjadi kaya telah menyebabkan sebagian orang tersesat dan kehilangan arah hidup. Mereka takluk kepada beragam godaan dan terjerat oleh “berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan” (1Tim. 6:9). Paulus melihat “cinta uang” (bukan uang itu sendiri) sebagai akar dari “segala kejahatan” (ay.10), terutama kejahatan berupa ketergantungan pada uang dan bukan ketergantungan pada Kristus.
Dengan terus belajar melihat Kristus sebagai sumber dari segala yang kita miliki, kita akan menemukan kepuasan di dalam Dia dan bukan dari harta benda. Ketika kita mengejar kesalehan daripada kekayaan, kita akan memperoleh sebuah kerinduan untuk selalu setia dengan segala sesuatu yang sudah kita terima.
Dengan penuh kesadaran, marilah kita mengembangkan sikap puas di dalam Allah, dan dengan setia berserah kepada-Nya, karena Allah yang Maha Pemelihara akan menjaga kita senantiasa. —MLW
Bapa, aku mudah melihat bahwa cinta uang itu masalah orang lain.
Namun, aku sadar aku juga bergumul demikian. Aku perlu
pertolongan-Mu untuk belajar bersyukur atas semua pemberian-Mu.
Tumbuhkan dalam diriku sikap puas di dalam Engkau.
Cinta uang berarti lupa pada Sang Sumber Kehidupan.

Monday, December 1, 2014

Bergumul Dengan Kecanduan

Sebab Allah setia. —1 Korintus 10:13
Bergumul Dengan Kecanduan
Eric sedang bergumul menghadapi kecanduan, dan ia menyadarinya. Para sahabat dan keluarga telah mendorongnya supaya berhenti. Ia tahu bahwa menghentikan kecanduannya adalah yang terbaik demi kesehatannya dan relasinya dengan sesama, tetapi ia merasa tidak berdaya. Ketika orang-orang menceritakan kepada Eric bagaimana mereka dapat berhenti dari kebiasaan buruk mereka, ia menjawab, “Aku senang kalian bisa berhenti, tetapi sepertinya aku takkan bisa berhenti! Andai saja aku tak tergoda sebelumnya. Aku ingin sekali Allah melenyapkan hasratku saat ini juga.”
Memang ada orang yang dapat lepas dari kecanduan dengan seketika, tetapi kebanyakan dari kita terus bergumul dari hari ke hari. Meskipun kita tidak selalu mengerti mengapa godaan itu tidak pergi juga, kita dapat datang kepada Allah bagaimanapun keadaan kita. Mungkin itulah aspek yang terpenting dari pergumulan kita. Kita belajar mengganti usaha kita yang sia-sia untuk berubah dengan sikap yang sepenuhnya bergantung kepada Allah.
Yesus juga dicobai, sama seperti kita, sehingga Dia memahami apa yang kita rasakan (Mrk. 1:13). Dia ikut merasakan pergumulan-pergumulan kita (Ibr. 4:15), dan kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (ay.16). Dia juga memakai orang lain, termasuk para konselor yang terampil, untuk menolong kita di tengah pergumulan.
Apa pun pergumulan yang kita hadapi hari ini, kita tahu bahwa Allah mengasihi kita jauh melebihi yang dapat kita bayangkan, dan Dia selalu siap untuk menolong kita. —AMC
Untuk Direnungkan
Baca Matius 4:1-11 tentang cara Yesus mengatasi pencobaan.
Baca juga 1 Korintus 10:11-13 untuk mengenali bagaimana Tuhan
dapat menolong kita ketika kita dicobai.
Kita dicobai bukan karena kita jahat; kita dicobai karena kita hanyalah manusia biasa.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate