Pages - Menu

Tuesday, September 30, 2014

Awal Yang Baru

Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. —Lukas 5:31
Awal Yang Baru
Di banyak negara, undang-undang kesehatan melarang penjualan atau penggunaan kembali kasur bekas pakai. Peraturan menetapkan bahwa hanya tempat penampungan sampah yang boleh menerimanya. Tim Keenan mengatasi masalah itu dan saat ini bisnisnya mempekerjakan selusin orang untuk memilah-milah komponen logam, kain, dan busa dari kasur-kasur bekas untuk didaur ulang. Namun bukan itu saja. Seorang wartawan bernama Bill Vogrin menulis, “Dari semua hal yang didaur ulang oleh Keenan . . . justru para pekerjanya yang menjadi kesuksesan terbesar Keenan” (The Gazette, Colorado Springs). Keenan mempekerjakan orang-orang dari sejumlah pusat rehabilitasi narapidana dan para tunawisma, dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk memulai hidup baru. Ia berkata, “Kami menerima orang-orang yang tidak diterima di tempat lain.”
Lukas 5:17-26 menceritakan bahwa Yesus menyembuhkan tubuh dan jiwa dari seorang yang lumpuh. Setelah peristiwa tersebut, Lewi menjawab panggilan Yesus untuk mengikut Dia dan mengundang para pemungut cukai dan teman-temannya dalam suatu perjamuan besar untuk menghormati Tuhan (ay.27-29). Ketika ada orang yang menuduh Yesus telah bergaul dengan para sampah masyarakat (ay.30), Dia mengingatkan mereka bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan tabib—seraya menambahkan, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (ay.32).
Bagi setiap orang yang merasa “terbuang” dan seakan menjadi sampah masyarakat, Yesus membuka tangan kasih-Nya dan menawarkan sebuah awal yang baru. Itulah alasan kedatangan-Nya! —DCM
Kuasa Allah dapat mengubah hati
Yang jahat dan dikuasai dosa;
Kasih Allah dapat mengubah hidup
Memperbarui dan memurnikan batinnya. —Fasick
Keselamatan berarti menerima kehidupan baru.

Monday, September 29, 2014

Ajaib Benar Anugerah-Nya

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman. —Efesus 2:8
Ajaib Benar Anugerah-Nya
Setelah menjalani wajib militer di Angkatan Laut Kerajaan Inggris, John Newton akhirnya didepak karena sikapnya yang membangkang dan ia pun beralih profesi menjadi pedagang budak. Newton bekerja di atas sebuah kapal pengangkut budak yang melayani perdagangan budak lintas Atlantik. Sekalipun dikenal sebagai orang yang punya tabiat kasar, Newton akhirnya berhasil mendapatkan posisi sebagai kapten.
Suatu peristiwa pertobatan yang dramatis di lautan bebas telah membawa Newton mengalami anugerah Allah. Ia selalu merasa tidak layak atas hidup baru yang diterimanya. Ia pun menjadi seorang penginjil yang berapi-api dan akhirnya memimpin gerakan untuk menghapuskan perbudakan. Newton berbicara di hadapan Parlemen, dan ia memberikan kesaksian yang dahsyat dari pengalamannya sendiri tentang betapa amoral dan kejamnya perdagangan budak pada masa itu. Kita juga mengenal Newton sebagai penulis lirik himne yang mungkin paling dikenal sepanjang masa, “Amazing Grace” (Ajaib Benar Anugerah).
Newton menyatakan bahwa kebaikan apa pun yang ada dalam dirinya merupakan karya dari anugerah Allah. Dengan demikian, ia berdiri sejajar dengan para pahlawan iman yang agung berikut ini—seorang pembunuh dan pezina (Raja Daud), seorang pengecut (Rasul Petrus), dan seorang penganiaya umat Kristen (Rasul Paulus).
Anugerah yang sama juga tersedia bagi setiap orang yang berseru kepada Allah, sebab “di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef. 1:7). —PDY
Ajaib benar anugerah
Pembaru hidupku!
‘Kuhilang, buta, bercela;
Oleh-Nya kusembuh. —Newton
(Kidung Jemaat, No. 40)
Hidup yang berakar pada anugerah Allah yang abadi takkan pernah tumbang.

Sunday, September 28, 2014

Setiap Kesukaran

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. —2 Korintus 12:9
Setiap Kesukaran
Seperti kota-kota lainnya, Enterprise di Alabama memiliki sebuah monumen megah. Namun monumen di Enterprise lain daripada yang lain. Patungnya bukan memperingati seorang warga yang terpandang; melainkan hasil karya seekor kumbang. Pada awal 1900-an, hama kumbang mulai melanda dari Meksiko hingga bagian selatan Amerika Serikat. Hanya dalam waktu beberapa tahun, hama itu menghancurkan seluruh panenan kapas yang menjadi sumber penghasilan utama mereka. Dalam keputusasaan, para petani mulai menanam tanaman lain, yaitu kacang. Mereka menyadari selama ini mereka hanya bergantung pada satu jenis tanaman, sehingga mereka merasa berutang pada kumbang yang telah memaksa mereka beralih ke tanaman lain, yang pada akhirnya memberi mereka kemakmuran yang lebih besar.
Hama kumbang itu ibarat hal-hal yang datang ke dalam hidup kita dan menghancurkan hasil kerja keras yang telah kita capai selama ini. Kehancuran itu bisa kita alami dalam segi finansial, emosi, atau fisik—dan itu semua menakutkan kita. Kita merasa sepertinya hidup kita sudah berakhir. Namun seperti yang dialami oleh warga kota Enterprise, hilangnya sesuatu yang sudah usang merupakan kesempatan untuk menemukan sesuatu yang baru. Allah mungkin menggunakan kesulitan untuk membuat kita meninggalkan suatu kebiasaan buruk atau mengembangkan suatu sikap yang baru. Allah menggunakan duri di dalam daging Paulus untuk mengajarnya tentang kasih karunia (2Kor. 12:7-9).
Daripada berusaha keras mempertahankan kebiasaan lama yang tidak lagi efektif, kita dapat melihat setiap kesulitan sebagai kesempatan bagi Allah untuk menanamkan sikap baru dalam diri kita. —JAL
Kaum beriman yang dihantam pencobaan,
Meski hatimu letih dan jiwamu didera kesakitan,
Segala kepedihan yang tiada henti melemahkanmu itu
Dapat menjadi saluran berkat yang tak ternilai. —NN.
Allah sering menggunakan pengalaman-pengalaman pahit untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik.

Saturday, September 27, 2014

Reuni Terakbar

Kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. —1 Tesalonika 4:17
Reuni Terakbar
Saya tidak akan pernah melupakan masa-masa ketika duduk berjaga di sisi tempat tidur ayah saya pada hari-hari terakhirnya bersama kami di dunia. Sampai saat ini, peristiwa kepulangannya tersebut masih terus memberikan pengaruh yang sangat besar bagi saya. Ayah adalah orang yang selalu siap menolong saya. Saya dapat meneleponnya kapan pun saya memerlukan nasihat. Saya menyimpan banyak kenangan indah dari pengalaman kami memancing bersama; kami suka berbincang tentang Allah dan Alkitab, dan saya juga sering meminta Ayah menceritakan hal-hal menarik dari masa mudanya ketika ia hidup di tengah lingkungan peternakan.
Namun saat Ayah menghembuskan napas terakhirnya, saya pun tersadar akan kematian sebagai akhir yang tidak dapat diubah. Ia telah pergi meninggalkan dunia ini. Dan hati saya pun terasa begitu hampa.
Namun demikian, bahkan di tengah-tengah rasa kehilangan dan dukacita yang mendalam, firman Allah memberikan dorongan kekuatan bagi sebuah hati yang hampa. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita bahwa pada saat kedatangan Tuhan Yesus, orang-orang yang telah mendahului kita akan dibangkitkan terlebih dahulu dan kita “akan diangkat bersama-sama dengan mereka . . . . Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:17). Itulah reuni yang sangat saya nanti-nantikan! Tidak hanya untuk dipertemukan kembali dengan Ayah, tetapi juga hidup bersama Yesus untuk selamanya.
C. S. Lewis berkata, “Orang Kristen takkan pernah mengucapkan selamat tinggal.” Saya tidak sabar menantikan reuni terakbar itu! —JMS
Tuhan, di tengah-tengah kesedihan dan rasa kehilangan kami,
ingatkan kami tentang reuni kekal nan agung yang menanti kami.
Hiburkanlah kami di tengah dukacita dan penuhi hati kami dengan
sukacita sembari kami menantikan hari kedatangan-Mu kembali!
Hai maut, di manakah sengatmu? —1 Korintus 15:55

Friday, September 26, 2014

Masalah Kepercayaan

KomikStrip-WarungSateKamu-20140926-Masalah-Kepercayaan
Semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka. —Mazmur 5:12
Masalah Kepercayaan
Sebuah berita dari Australia menceritakan kisah hidup dari Pascale Honore, seorang wanita penderita paraplegia (kelumpuhan tubuh bagian bawah). Setelah 18 tahun selalu duduk di atas kursi roda, Pascale memutuskan untuk belajar berselancar. Bagaimana caranya?
Ty Swan, seorang peselancar muda, mengikat tubuh Pascale ke atas punggungnya dengan menggunakan lakban. Setelah mendapatkan keseimbangan yang sempurna, Ty mendayung ke laut agar kemudian mereka bisa mengarungi ombak dan Pascale dapat merasakan kegembiraan berselancar dalam air. Aktivitas itu membutuhkan rasa percaya yang sangat besar karena besar pula kemungkinan untuk terjadinya kesalahan. Namun demikian, kuatnya keyakinan Pascale kepada Ty telah memampukannya untuk mewujudkan mimpinya, kendati apa yang mereka lakukan itu sangat berbahaya.
Demikianlah juga kehidupan seorang pengikut Kristus. Kita hidup di tengah dunia yang penuh bahaya dengan beragam tantangan yang tidak terduga dan jerat yang tidak terlihat. Meskipun demikian, kita tetap mempunyai sukacita karena kita mengenal Pribadi yang oleh kekuatan-Nya sanggup membawa kita mengatasi terjangan ombak kehidupan yang mengancam untuk menenggelamkan kita. Sang pemazmur menulis, “Semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu” (Mzm. 5:12).
Di hadapan segala bahaya dan tantangan besar dalam hidup ini, kita dapat mengalami sukacita yang timbul dari kepercayaan kita kepada Allah. Kekuatan-Nya lebih dari cukup untuk menolong kita! —WEC
Aku bahagia belajar mempercayai-Mu,
Yesus yang mulia, Juruselamat, dan Sahabat;
Dan kutahu bahwa Engkau menyertaiku,
Senantiasa bersamaku sampai akhir. —Stead
Iman kita diteguhkan ketika kelemahan kita diganti dengan kekuatan Allah.

Thursday, September 25, 2014

Burung Hantu Yang Bijak

Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. —Amsal 10:19
Burung Hantu Yang Bijak
Bertahun-tahun yang lalu seorang penulis tak dikenal pernah menulis suatu puisi singkat tentang manfaat dari menyaring ucapan kita.
Burung hantu bijak duduk di pohon ek;
Banyak melihat jadi sedikit berkata-kata;
Sedikit berkata jadi banyak mendengar;
Kenapa kita semua tak bisa seperti burung hantu bijak itu?
Kita bisa melihat hubungan antara hikmat dengan sikap mengekang lidah. Amsal 10:19 menulis, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”
Sikap bijak kita tunjukkan ketika kita menjaga apa dan berapa banyak yang kita ucapkan dalam situasi-situasi tertentu. Menjaga ucapan pada saat kita sedang marah juga merupakan perbuatan yang bijaksana. Yakobus mendorong sesama orang percaya dengan menasihati, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak. 1:19). Mengendalikan perkataan kita juga menunjukkan penghormatan kepada Allah. Salomo berkata, “Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit” (Pkh. 5:1). Saat ada seseorang yang sedang berduka, kehadiran kita tanpa banyak bicara mungkin akan lebih membantunya daripada ungkapan simpati yang kita ucapkan bertubi-tubi: “Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayb 2:13).
Meskipun ada waktu untuk berdiam diri dan ada waktu untuk berbicara (Pkh. 3:7), memilih untuk mengekang lidah akan memampukan kita untuk lebih siap mendengar. —JBS
Ya Tuhan, tolong berilah aku hikmat untuk tahu kapan
aku harus berbicara dan kapan aku harus mendengar.
Aku ingin menguatkan sesamaku dan memperhatikan mereka
sebagaimana Engkau telah selalu memperhatikanku.
Berdiamlah apabila tidak ada kata-kata baik yang dapat kamu ucapkan.

Wednesday, September 24, 2014

Siulan

Aku akan bersiul memanggil mereka dan Aku akan mengumpulkan mereka, sebab Aku sudah membebaskan mereka. —Zakharia 10:8
Siulan
Di La Gomera, salah satu pulau terkecil di Kepulauan Canaria, sedang digalakkan kembali penggunaan suatu bahasa yang bunyinya terdengar seperti nyanyian burung. Di tanah dengan lembah yang dalam dan jurang yang terjal, anak-anak sekolah dan para wisatawan mempelajari bagaimana siulan pernah dipakai untuk berkomunikasi hingga jarak sejauh 2 mil. Seorang gembala kambing yang kembali memanfaatkan bahasa kuno itu untuk berkomunikasi dengan ternaknya berkata, “Mereka mengenali siulan saya seperti mereka mengenali suara saya.”
Siulan juga ada dalam Alkitab, ketika Allah digambarkan sebagai gembala yang bersiul memanggil domba-domba-Nya. Gambaran itulah yang mungkin tertanam dalam benak sang nabi ketika menggambarkan Allah yang kelak akan bersiul memanggil umat yang telah tersesat dan tercerai-berai untuk kembali kepada-Nya (Zak. 10:8).
Berabad-abad kemudian Yesus bersabda, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10:27). Mungkin yang dimaksud adalah siulan seorang gembala. Domba tidak memahami kata-kata, tetapi mengenali bunyi yang menandakan keberadaan sang gembala.
Suara-suara yang menyesatkan dan bunyi-bunyian yang mengganggu terus bersaing untuk merebut perhatian kita (baca Zak. 10:2). Namun Allah selalu memiliki cara untuk memberikan tanda kehadiran-Nya kepada kita, dan tidak selalu dengan kata-kata. Melalui beragam peristiwa yang membuat kita waspada atau menguatkan kita, Allah mengingatkan kita akan tuntunan, perlindungan, dan kehadiran-Nya bagi kita. —MRD II
Bapa, dunia ini sungguh bising. Terima kasih karena Engkau
selalu memanggil kami di tengah hiruk-pikuk dan keributan
yang mengalihkan perhatian kami. Tolong kami untuk mengenali
suara-Mu dan mengikuti tuntunan-Mu.
Panggilan Allah senantiasa terdengar jelas.

Tuesday, September 23, 2014

Curahan Jiwa Yang Gundah Info

Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya. —2 Samuel 1:17
Curahan Jiwa Yang Gundah
Pada Maret 2011, bencana gelombang tsunami menerjang negeri Jepang, merenggut sedikitnya 16.000 jiwa dan meluluhlantakkan sejumlah kota dan desa yang terdapat di pesisir pantai. Seorang penulis dan penyair bernama Gretel Erlich lalu mengunjungi Jepang untuk merekam dan menyaksikan sendiri kerusakan yang terjadi. Ketika merasa tidak lagi berdaya untuk melaporkan segala kehancuran yang dilihatnya, ia pun menulis puisi tentang bencana itu. Dalam wawancara bagi program NewsHour di stasiun televisi PBS, Gretel mengatakan, “William Stafford, seorang sahabat karib dan penyair yang kini telah tiada, pernah berkata, ‘Puisi adalah curahan jiwa yang gundah.’”
Kita mendapati bahwa puisi digunakan di sepanjang Alkitab untuk mengungkapkan emosi yang mendalam, dari pujian penuh sukacita hingga rasa kehilangan yang teramat pedih. Ketika Raja Saul dan putranya, Yonatan, terbunuh di medan perang, Daud dilingkupi rasa dukacita yang sangat mendalam (2Sam. 1:1-12). Ia menuangkan isi hatinya dalam sebuah puisi yang disebutnya “Nyanyian Busur”: “Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. . . . Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! . . . Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku” (ay.23-26).
Ketika kita mengalami “kegundahan jiwa”—entah sedang bahagia atau sedih—doa-doa kita dapat menjadi suatu puisi kepada Tuhan. Pada saat kita menemui kesulitan dalam mengungkapkan apa yang kita rasakan, Bapa Surgawi kita mendengar setiap kata yang kita ucapkan sebagai ungkapan yang tulus dari hati kita. —DCM
Terkadang, aku tak berdoa dengan kata-kata—
Kubawa hatiku dalam tanganku kepada-Mu
Dan mempersembahkannya di hadapan Tuhan—
Aku lega karena Dia memahami bebanku. —Nicholson
Allah tidak sekadar mendengar kata-kata; Dia membaca isi hati kita.

Monday, September 22, 2014

Peringatan Yang Berulang

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain. —Galatia 1:6
Peringatan Yang Berulang
“Perhatian, Anda akan segera tiba di penghujung travelator (tangga datar berjalan). Perhatian, Anda akan segera tiba di penghujung travelator.” Jika kamu pernah memakai travelator otomatis di suatu bandara, kamu pasti pernah mendengar pengumuman semacam itu diberikan berulang kali.
Mengapa pihak bandara mengulang-ulang pengumuman itu? Itu untuk menjamin keselamatan dan melindungi bandara dari tanggung jawab apabila ada yang terluka.
Pengumuman yang diberikan berulang-ulang bisa saja mengganggu, tetapi ada maksud baik di dalamnya. Rasul Paulus bahkan berpikir bahwa mengulang-ulang suatu peringatan itu teramat penting sehingga ia menuliskannya dalam surat untuk jemaat di Galatia. Akan tetapi apa yang diperingatkannya jauh lebih bernilai daripada bahaya tergelincir di bandara. Paulus mengingatkan mereka untuk tidak mendengarkan ataupun mempercayai seseorang ataupun malaikat dari surga apabila mereka memberitakan “suatu injil yang berbeda” dengan Injil yang telah mereka dengar selama ini (1:8). Di ayat selanjutnya, Paulus mengulangi pernyataannya lagi. Peringatan itu memang tepat untuk diulang-ulang. Saat itu jemaat di Galatia mulai meyakini bahwa keselamatan mereka tergantung pada pekerjaan baik yang mereka lakukan dan bukan pada berita Injil yang benar, yaitu kepercayaan pada karya Kristus.
Kita mendapat hak istimewa sekaligus tanggung jawab untuk memberitakan Injil Yesus—kisah tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya demi pengampunan dosa manusia. Ketika kita memberitakan Injil, marilah kita menyatakan bahwa Yesus yang telah bangkit itu adalah satu-satunya jawaban bagi masalah dosa. —JDB
Dialah jalan, kebenaran, dan hidup—
Pribadi yang bernama Yesus;
Tiada nama lain di atas bumi ini,
Berkuasa untuk menyelamatkan kita. —Sper
Hanya ada satu jalan yang membawa kita ke surga— Yesus Kristus adalah jalan tersebut.

Sunday, September 21, 2014

Santapan Zaman Pertengahan

Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. —Mazmur 119:103
Santapan Zaman Pertengahan
Belum lama ini saya menghadiri sebuah konferensi yang membahas tentang sejarah Zaman Pertengahan. Dalam satu sesi dari seminar tersebut kami benar-benar menyiapkan sejumlah makanan yang biasa disantap pada masa pertengahan. Kami menggunakan alat penumbuk dan lumpang untuk menumbuk kayu manis dan buah-buahan menjadi bahan selai. Kami mengiris kulit jeruk dan memanggangnya dengan madu dan jahe untuk menghasilkan kudapan yang manis. Kami melumat kacang badam dengan air dan bahan-bahan lain untuk membuat susu dari kacang badam. Kemudian akhirnya kami memasak seekor ayam utuh sebagai sajian utama yang disantap dengan nasi. Ketika mencicipi hidangan tersebut, kami menikmati sebuah pengalaman kuliner yang sangat lezat.
Berbicara tentang santapan rohani bagi jiwa kita, Allah telah memberi kita suatu keragaman menu yang dapat kita kecap dan nikmati. Ketika kita menyantapnya, jiwa kita akan dikenyangkan dan dipuaskan. Kitab-kitab sejarah, puisi, literatur hikmat, nubuat, dan bagian-bagian lain dari Alkitab akan menguatkan kita pada saat kita lemah, memberi kita hikmat dan dorongan semangat, serta memelihara hidup kita dari hari ke hari (Mzm. 19:7-14; 119:97-104; Ibr. 5:12). Itulah yang dituliskan sang pemazmur bagi kita, “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (Mzm. 119:103).
Jadi, apalagi yang kita tunggu? Allah telah menyiapkan di hadapan kita suatu jamuan santapan rohani yang lezat dan Dia memanggil kita untuk datang dan bersantap bersama. Kita semua diundang! —HDF
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau mengundangku ke meja
perjamuan-Mu untuk menikmati sabda-Mu. Aku tahu bahwa aku
memerlukannya bagi pertumbuhan rohaniku dan agar aku semakin
mendekat kepada-Mu. Aku membuka hatiku bagi-Mu sekarang.
Alkitab adalah roti hidup yang takkan pernah lekang oleh zaman.

Saturday, September 20, 2014

Berakar

Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN selama hidup imam Yoyada. —2 Tawarikh 24:2
Berakar
Yoas pasti merasa bingung dan takut pada saat diberi tahu mengenai serangkaian perbuatan jahat yang dilakukan neneknya, Atalya. Sang nenek telah membunuh kakak-kakak dari Yoas demi merebut takhta kerajaan Yehuda. Namun Yoas yang masih bayi telah disembunyikan oleh paman dan bibinya selama enam tahun (2Taw. 22:10-12). Sepanjang masa pertumbuhannya, Yoas menerima kasih sayang dan pengajaran dari para pengasuhnya. Dalam usianya yang ke-7, Yoas diam-diam dinobatkan menjadi raja dan neneknya digulingkan dari takhta (23:12-15).
Raja Yoas yang muda mempunyai seorang penasihat yang bijaksana, yaitu pamannya sendiri, Yoyada (psl. 22-25). Yoas adalah salah satu dari “raja baik” yang jarang ada di Yehuda. Semasa pamannya masih hidup, Yoas sangat menaati Tuhan dengan selalu melakukan apa yang benar (24:2). Akan tetapi, saat pamannya sudah wafat dan tidak lagi bisa mengajar serta memberinya teladan, Yoas terjerumus dalam dosa dan hidupnya berakhir dengan menyedihkan. Rupanya iman Yoas tidak mengakar dengan dalam. Yoas bahkan mulai berpaling dan menyembah berhala. Mungkin saja “iman” Yoas sebenarnya lebih merupakan keyakinan sang paman daripada keyakinannya sendiri.
Orang lain memang dapat mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip dasar iman mereka, tetapi masing-masing dari kita haruslah beriman dengan teguh dan secara pribadi kepada Kristus. Iman yang sejati haruslah merupakan keyakinan kita sendiri. Allah akan menolong kita berjalan bersama-Nya sehingga kita berakar dan bertambah teguh dalam iman (Kol. 2:6-7). —CHK
Aku milik-Mu, Yesus, Tuhanku;
Kudengar suara-Mu.
‘Ku merindukan datang mendekat
Dan diraih oleh-Mu. —Crosby
(Kidung Jemaat, No. 362)
Iman yang terus bertahan sampai akhir membuktikan keaslian iman itu sejak awal.

Friday, September 19, 2014

Ketika Dikenal

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu . . . ; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. —Mazmur 32:5
Ketika Dikenal
Salah satu konflik batin yang tersulit dalam diri kita terjadi ketika hasrat kita untuk dikenal orang berbenturan dengan ketakutan kita untuk dikenali. Sebagai makhluk yang diciptakan serupa dengan gambar Allah, kita diciptakan supaya dikenal—dikenal oleh Allah dan juga oleh sesama. Namun karena natur kita sebagai makhluk yang berdosa, setiap dari kita mempunyai berbagai dosa dan kelemahan, dan kita tidak ingin orang lain mengetahuinya. Kita menggunakan istilah “sisi gelap” untuk mengacu pada aspek-aspek kehidupan yang kita sembunyikan rapat-rapat. Selain itu, kita menggunakan ungkapan seperti “tampilkan sisi terbaikmu” dengan maksud mendorong orang lain untuk menunjukkan sifat diri mereka yang terbaik.
Salah satu alasan mengapa kita tidak ingin mengambil risiko untuk dikenal adalah karena kita takut ditolak atau dipermalukan. Namun ketika kita mengetahui bahwa Allah mengenal kita, mengasihi kita, dan bahkan bersedia mengampuni hal terburuk yang pernah kita lakukan, maka ketakutan kita untuk dikenal Allah akan mulai memudar. Dan ketika kita menemukan sekelompok orang percaya yang memahami adanya hubungan yang dinamis antara pengampunan dan pengakuan dosa, kita pun merasa aman untuk saling mengakui dosa kita (Yak. 5:16).
Hidup dalam iman bukanlah berarti hidup dengan hanya menunjukkan sisi terbaik kita. Hidup itu juga termasuk menyingkapkan sisi gelap kita untuk disinari terang Kristus melalui pengakuan dosa kepada Allah dan juga kepada sesama. Dengan demikian, kita dapat menerima pemulihan dan menjalani hidup dalam kemerdekaan yang dialami oleh karena pengampunan. —JAL
Tuhan, tolonglah aku menyingkap dosaku,
Juga semua pelanggaran yang kusembunyikan,
Aku ingin mengakui semuanya kepada-Mu,
Senantiasa terbuka di hadapan-Mu. —D. DeHaan
Suara dosa mungkin terdengar nyaring, tetapi suara pengampunan jauh lebih nyaring. —D. L. Moody

Thursday, September 18, 2014

Suka Menuturkan Kisah-Nya

KomikStrip-WarungSateKamu-20140918-Kusuka-Menuturkan

Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! —1 Tawarikh 16:8
Suka Menuturkan Kisah-Nya
Ketika Studs Terkel, seorang penulis ternama, mencari tema untuk buku yang akan ditulisnya, seorang teman mengusulkan tema “kematian”. Awalnya ia menolak, tetapi ide itu akhirnya menjadi kenyataan saat sang istri yang telah mendampinginya selama 60 tahun meninggal dunia. Buku itu kemudian juga berisi upaya pencariannya sendiri: suatu hasrat untuk mengetahui apa yang terjadi di alam baka, tempat berpulangnya kekasih hatinya itu. Setiap halaman bukunya menjadi pengingat yang kuat tentang pencarian kita sendiri akan Yesus dan beragam pertanyaan serta pergumulan tentang kekekalan yang dialami di sepanjang perjalanan iman kita.
Saya bersyukur atas jaminan pasti bahwa kita akan bersama Yesus setelah kita meninggal, apabila kita telah mempercayai Dia untuk mengampuni dosa kita. Tidak ada pengharapan yang lebih besar daripada itu. Sekarang kita memiliki hak istimewa untuk memberitakan pengharapan itu pada sebanyak mungkin orang yang dapat kita jangkau. l Petrus 3:15 menguatkan kita: “. . . siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” Kita diberikan kesempatan oleh Allah, sebagaimana dikatakan Daud, untuk memanggil nama-Nya dan “memperkenalkan perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” (lTaw. 16:8).
Selama hidup orang-orang yang kita kasihi belum usai, kita diberi hak istimewa untuk menceritakan kasih Yesus kepada mereka. Kesempatan itu adalah anugerah yang amat berharga. —RKK
‘Kusuka menuturkan cerita mulia
Yang sungguh melebihi impian dunia.
‘Kusuka menuturkan semua padamu
Sebab cerita itu membawa s’lamatku. —Hankey
(Kidung Jemaat, No. 427)
Kiranya keseharian kita dipenuhi dengan kerinduan— dan kesempatan—menuturkan kisah kita tentang Yesus.

Wednesday, September 17, 2014

Menyerahkan Kepada Allah

Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. —Markus 10:22
Menyerahkan Kepada Allah
Sebagai seorang pahlawan bagi generasi yang tumbuh setelah Perang Dunia II, Corrie ten Boom meninggalkan warisan berupa hikmat dan kesalehan yang menjadi ciri hidupnya. Setelah menjadi korban dari pendudukan Nazi atas negeri Belanda, ia berhasil bertahan hidup untuk menceritakan kisah iman dan ketergantungannya kepada Allah di sepanjang masa penderitaannya yang sangat mengerikan itu.
“Aku pernah punya banyak hal yang kupegang,” kata Corrie, “dan aku kehilangan semuanya. Namun apa pun yang telah kuserahkan ke dalam tangan Allah, aku tetap memilikinya hingga kini.”
Corrie sangat mengerti arti kehilangan. Ia kehilangan keluarga, harta milik, dan juga masa-masa hidupnya yang direnggut oleh para musuh yang membencinya. Namun ia belajar untuk memperhatikan berkat rohani dan kekuatan jiwa yang akan diterimanya ketika ia menyerahkan segala sesuatunya ke tangan Bapa Surgawi.
Apa artinya itu bagi kita? Apa yang sepatutnya kita serahkan ke dalam tangan Allah untuk dipelihara oleh-Nya? Menurut kisah tentang seorang muda yang kaya dalam Markus 10, jawabannya adalah semuanya. Anak muda itu memiliki harta yang melimpah, tetapi ketika Yesus memintanya untuk melepaskan semuanya, pemuda itu menolak. Ia memilih untuk mempertahankan harta miliknya dan gagal menjadi pengikut Yesus—alhasil ia pun “pergi dengan sedih” (ay.22).
Sama seperti Corrie ten Boom, kita dapat mempunyai pengharapan ketika menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Allah dan kemudian mempercayakan masa depan kita kepada-Nya. —JDB
Berserah kepada Yesus
Tubuh, roh, dan jiwaku;
Kukasihi, kupercaya,
Kuikuti Dia ‘trus. —Van de Venter
(Kidung Jemaat, No. 364)
Hidup yang paling terjamin adalah hidup yang diserahkan kepada Allah.

Tuesday, September 16, 2014

Hati Yang Mau Berdoa

Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. —Mazmur 27:8
Hati Yang Mau Berdoa
Ketika bepergian dengan pesawat udara bersama anak-anaknya yang berusia 4 dan 2 tahun, seorang ibu muda berupaya membuat mereka sibuk supaya tidak mengganggu penumpang lain. Ketika suara pilot terdengar melalui interkom untuk suatu pengumuman, Catherine, putri yang termuda, menghentikan sejenak aktivitasnya dan menundukkan kepala. Saat pilot itu menyelesaikan pengumumannya, gadis kecil itu berbisik, “Amin.” Mungkin karena baru-baru ini pernah terjadi bencana alam, si gadis kecil itu mengira sang pilot sedang berdoa.
Seperti gadis kecil itu, saya ingin mempunyai hati yang mengarahkan pikiran saya untuk lekas berdoa. Rasanya tidak salah jika kita mengatakan bahwa Daud sang pemazmur mempunyai sikap hati semacam itu. Hal itu dapat terlihat dalam Mazmur 27 tatkala ia berbicara tentang menghadapi musuh-musuh yang kejam (ay.2). Ia berkata, “Wajah-Mu kucari, ya TUHAN” (ay.8). Ada orang mengatakan bahwa ketika Daud menuliskan mazmur itu, ia sedang mengingat masa-masa saat ia melarikan diri dari Saul (1Sam. 21:10) atau dari anaknya, Absalom (2Sam. 15:3-14). Doa dan ketergantungan kepada Allah adalah hal yang paling dipikirkan oleh Daud, dan di dalam Allah, ia mendapatkan tempat persembunyian yang aman (Mzm. 27:4-5).
Kita juga memerlukan tempat persembunyian yang aman. Mungkin dengan membaca serta berdoa menggunakan Mazmur 27 dan mazmur-mazmur lainnya, kita dapat ditolong untuk membangun kedekatan dengan Allah Bapa kita, seperti yang dimiliki oleh Daud. Ketika Allah menjadi tempat persembunyian kita, hati kita akan lebih lekas berpaling kepada-Nya untuk berdoa. —AMC
Ajarku ya Bapa, untuk berlari kepada-Mu dan menjadikan-Mu
sebagai tempat persembunyianku. Tolonglah aku agar tidak
mengkhawatirkan kata-kata yang hendak kudoakan, tetapi agar aku
sepenuhnya jujur mencurahkan isi hatiku dan mendekat kepada-Mu.
Dalam doa, Allah dapat menenangkan hati kita dan meneduhkan pikiran kita.

Monday, September 15, 2014

Mencari Kambing Hitam

Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu . . . TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau. —Kejadian 16:5
Mencari Kambing Hitam
Saat suami Jenny pergi meninggalkannya demi wanita lain, Jenny pun bersumpah tidak akan pernah menemui istri baru dari suaminya itu. Namun saat menyadari bahwa kepahitannya akan merusak relasi anak-anak dengan ayahnya, ia pun berdoa meminta Allah untuk memampukannya mengatasi kepahitan hati di tengah suatu keadaan yang tidak dapat diubahnya itu.
Dalam Kejadian 16, kita membaca kisah sepasang suami-istri yang dijanjikan Allah akan menerima seorang bayi. Ketika Sarai menyarankan suaminya, Abram, untuk menghampiri Hagar agar dapat mempunyai anak, sebenarnya ia tidak betul-betul percaya bahwa Allah akan memberikan seorang anak seperti yang dijanjikan-Nya. Saat bayi Hagar lahir, Hagar memandang rendah Sarai (Kej. 16:3-4) dan membuat Sarai sakit hati (ay.5-6).
Semula Hagar adalah seorang budak yang tidak punya hak dan tiba-tiba sekarang ia menerima perhatian khusus. Bagaimana reaksi Sarai? Ia menyalahkan orang lain, termasuk Abram (ay.5). Janji Allah lalu dipenuhi 14 tahun kemudian dengan kelahiran Ishak. Namun, acara perjamuan besar pada hari Ishak disapih juga dirusak oleh sikap Sarai (21:8-10).
Mungkin Sarai tidak pernah benar-benar menerima keadaan hidupnya yang harus menanggung akibat-akibat dari keputusan dirinya dan Abram untuk mendahului kehendak Allah. Diperlukan anugerah Allah untuk mengubah sikap Sarai yang pada akhirnya akan dapat mengubah seluruh hidupnya. Memang Sarai tidak dapat menarik kembali keputusannya dahulu, tetapi oleh kekuatan Allah, ia dimungkinkan untuk menjalani hidup dengan sikap yang berbeda dan memberikan kemuliaan kepada Allah. —MS
Terima kasih, Tuhan, walaupun keadaan kami mungkin tidak
berubah, anugerah-Mu cukup kuat untuk mengubah kami di tengah
keadaan yang kami hadapi. Tolong kami ketika kami bergumul
di sana-sini untuk menjalani hidup di dunia yang penuh dosa ini.
Oleh anugerah Allah, kita dapat memancarkan terang-Nya di tengah zaman yang gelap.

Sunday, September 14, 2014

Yesus Yang Lemah Lembut

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. —Matius 18:3
Yesus Yang Lemah Lemb ut
Charles Wesley (1707-1788) merupakan seorang penginjil Metodis yang telah menulis lebih dari 9.000 himne dan puisi rohani. Beberapa diantaranya seperti: O for a Thousand Tongues to Sing (Beribu Lidah Patutlah) merupakan himne yang agung dan megah. Namun puisi karyanya yang berjudul Gentle Jesus, Meek and Mild (Yesus, Lemah Lembut dan Pengasih), yang terbit pertama kali pada tahun 1742, merupakan doa seorang anak kecil yang merangkum pentingnya setiap dari kita untuk mencari Tuhan dengan iman yang tulus dan sederhana.
Yesus yang penuh kasih,
Domba Allah yang lemah lembut,
Ke dalam tangan kasih-Mu kuberserah,
Bentuklah aku, Juruselamat,
sesuai dengan kehendak-Mu,
Tinggallah selalu dalam hatiku.
Saat sejumlah murid Yesus sedang mengincar posisi dalam Kerajaan-Nya, Yesus “memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga’” (Mat. 18:2-3).
Tidak banyak anak yang mengincar posisi dan kekuasaan. Sebaliknya, mereka merindukan penerimaan dan perlindungan. Mereka bergantung kepada orang-orang dewasa yang mengasihi dan memperhatikan mereka. Yesus tidak pernah mengabaikan anak-anak.
Bait terakhir dari puisi Wesley memperlihatkan kerinduan seperti yang dirasakan seorang anak kecil untuk menjadi seperti Yesus: “Maka kuingin memuji-Mu / Melayani-Mu sepanjang hariku; / Agar dunia bisa selalu melihat / Kristus, Sang Anak Kudus ada di dalamku.” —DCM
Bapa, beriku iman seperti seorang anak. Aku ingin mengenal
kasih-Mu dan perhatian-Mu, dan bersandar dalam dekapan-Mu.
Beriku kerinduan untuk menjadi seperti-Mu dalam tiap langkah
hidupku agar aku menjalani hidup yang memuliakan-Mu.
Iman bersinar paling terang dalam hati yang tulus seperti hati seorang anak kecil.

Saturday, September 13, 2014

Tak Diingat Lagi Selamanya

Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu. —Yesaya 43:25
Tak Diingat Lagi Selamanya
Pada tahun-tahun awal saya baru percaya kepada Kristus, pikiran saya dipenuhi dengan kekhawatiran akan terjadinya sesuatu yang buruk di masa mendatang. Saya mempunyai bayangan bahwa apabila Yesus datang kembali, segala dosa saya akan terpampang pada suatu layar raksasa sehingga semua orang dapat melihatnya.
Namun sekarang saya tahu bahwa Allah memilih untuk tidak mengingat-ingat lagi satu pun dari pemberontakan saya. Setiap dosa saya telah dikuburkan-Nya di tubir laut yang terdalam, dan tidak akan pernah digali dan diungkit lagi.
Amy Carmichael menulis, “Beberapa hari yang lalu, aku agak sedih saat memikirkan masa laluku—begitu banyak dosaku, kegagalanku, dan kejatuhanku. Aku sedang membaca Yesaya 43, lalu aku melihat diriku sendiri pada ayat 24: ‘Engkau memberati Aku dengan dosamu, engkau menyusahi Aku dengan kesalahanmu.’ Lalu untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa tidak ada jeda di antara ayat 24 dan ayat 25: ‘Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.’”
Memang benar, kelak pada saat kedatangan kembali Tuhan kita, Dia akan “menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah” (1Kor. 4:5). Pada hari itu pekerjaan kita akan diuji, dan kita mungkin akan menderita kerugian, tetapi kita tidak akan dihukum karena dosa-dosa kita (3:11-15). Allah akan memandang karya yang telah dilakukan Yesus bagi diri kita. Dia “tidak mengingat dosa-dosa [kita].” —DHR
Di tempat yang tak tersapu oleh gelombang pasang dahsyat,
Yang timbulkan riak ombak yang dapat membangkitkan ingatan,
Aku telah menguburnya di sana, tak seorang pun bisa melihatnya!
Telah Kulemparkan semua dosamu jauh ke dalam tubir laut. —NN.
Tatkala Allah menyelamatkan kita, dosa-dosa kita telah diampuni untuk selamanya.

Friday, September 12, 2014

Raksasa Kecil

TUHAN . . . akan melepaskan aku. —1 Samuel 17:37
Raksasa Kecil
Seorang musuh bertubuh tinggi menjulang melangkah masuk ke Lembah Tarbantin. Tingginya 2,7 meter dan baju zirahnya yang terbuat dari pelat-pelat perunggu berkilau-kilauan terkena pantulan sinar matahari. Batang tombaknya dibalut tali sehingga tombak itu dapat diputar-putar di udara dan dilontarkan dari jauh dengan akurat. Tampaknya Goliat tak mungkin terkalahkan.
Namun Daud mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Meski sosok dan tingkah laku Goliat bagaikan raksasa, tetapi dibandingkan dengan Allah yang hidup, ia sangat kecil. Daud memiliki pandangan yang benar tentang Allah dan karena itu juga memiliki pandangan yang benar tentang keadaan yang ada. Ia melihat Goliat sebagai orang yang mencemooh barisan tentara Allah yang hidup (lSam. 17:26). Dengan percaya diri, Daud menghadapi Goliat dengan berpakaian sebagai gembala dan dengan tongkat, lima butir batu dan sebuah ketapel sebagai senjata. Keyakinan Daud bukan pada apa yang dimilikinya, tetapi pada Allah yang menyertainya (ay.45).
“Goliat” apa yang sedang kamu hadapi saat ini? Mungkin itu berupa situasi yang sulit di tempat kerja, kesulitan keuangan, atau relasi yang kandas. Semuanya itu kecil jika dibandingkan dengan kebesaran Allah. Tiada satu hal pun yang terlalu besar bagi Allah. Kata-kata yang ditulis oleh Charles Wesley, seorang penulis himne, berikut ini mengingatkan kita: “Iman yang teguh, memandang pada janji, dan hanya pada janji-Nya itu; iman menertawakan kemustahilan, dan berseru, itu pasti akan terjadi.” Allah sanggup melepaskanmu jika Dia memang menghendakinya, dan Dia mungkin melakukannya dengan cara-cara yang tak terpikirkan olehmu. —PFC
Pertempuran itu tidak dimenangi oleh yang kuat,
Perlombaan tidak direbut oleh yang gesit,
Namun bagi mereka yang benar dan setia,
Kemenangan telah dijanjikan melalui anugerah. —Crosby
Jangan katakan pada Allah sebesar apa raksasamu. Katakan pada raksasa itu seberapa besar Allahmu.

Thursday, September 11, 2014

Lahir Untuk Menyelamatkan

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. —Markus 10:45
Lahir Untuk Menyelamatkan
Pasca serangan teroris yang meruntuhkan gedung Menara Kembar di New York City pada tanggal 11 September 2001, Cynthia Otto memelihara sejumlah anjing pelacak korban bencana. Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan sebuah Pusat Pelatihan Anjing Pelacak, tempat anak-anak anjing mendapat pelatihan khusus supaya kelak mampu menolong para korban bencana.
Otto memberikan komentar tentang anjing-anjing penyelamat tersebut: “Ada banyak pekerjaan yang bisa memanfaatkan anjing-anjing pelacak ini . . . dan mereka juga bisa menyelamatkan nyawa manusia.” Otto mengatakan bahwa anak-anak anjing yang terlatih itu kelak akan sangat bermanfaat untuk memberikan pertolongan penting bagi orang-orang yang berada dalam situasi-situasi yang mengancam nyawa mereka. Bisa dikatakan anak-anak anjing itu “terlahir” untuk menyelamatkan nyawa manusia.
Alkitab mengisahkan tentang Mesias yang dilahirkan untuk menyelamatkan umat manusia dari hukuman dosa. Perbuatan-Nya sungguh tak terbandingkan dengan apa pun di bumi ini. 2000 tahun lalu, Allah sendiri menjadi manusia untuk melakukan bagi kita yang tidak dapat kita lakukan untuk diri kita sendiri. Ketika Yesus menjadi manusia, Dia mengerti dan menyatakan bahwa Dia dilahirkan untuk menyelamatkan (Yoh. 12:27). “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45).
Mari memuji Juruselamat kita yang agung—Yesus Kristus—yang dilahirkan untuk menyelamatkan semua yang bersedia menerima janji keselamatan yang ditawarkan-Nya. —HDF
Pakailah kami, Tuhan, dan buat kami rendah hati,
Lepaskan kami dari keangkuhan yang bodoh,
Dan pada saat kami mulai tersandung,
Arahkanlah pikiran kami kepada Kristus yang tersalib. —Sper
Kristus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Wednesday, September 10, 2014

Surat Yang Mengagumkan

KomikStrip-WarungSateKamu-20140910-Surat-yang-Mengagumkan

Firman-Mu tidak akan kulupakan. —Mazmur 119:16
Surat Yang Mengagumkan
Sesekali ketika saya dan istri membuka surat-surat yang kami terima, kami menemukan ada surat yang tidak berisi kata-kata. Ketika mengeluarkan “surat” itu dari amplopnya, kami menemukan secarik kertas yang hanya berisi coret-coretan spidol yang berwarna-warni. “Surat” itu menggembirakan hati kami karena itu dibuat oleh Katie, cucu kami yang masih batita, yang tinggal di negara bagian lain. Sekalipun tanpa kata, surat-surat itu memberitahukan kepada kami betapa Katie mengasihi kami dan memikirkan keadaan kami.
Tentunya kita memandang surat-surat dari orang yang kita kasihi dan yang mengasihi kita sebagai sesuatu yang berharga. Itulah sebabnya kita begitu bersukacita ketika menyadari bahwa Bapa kita di surga telah memberi kita sebuah surat yang disebut Alkitab. Nilai dari Kitab Suci ini jauh melampaui kata-katanya yang penuh dengan kuasa, tantangan, dan hikmat. Di antara semua kisah, pengajaran, dan tuntunan yang diberikan Alkitab, gagasannya yang terutama adalah tentang Allah yang mengasihi kita dan yang telah merencanakan keselamatan kita. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa Dia memperhatikan keberadaan kita (Mzm. 139), mencukupkan kebutuhan kita (Mat. 6:31-34), menghibur kita (2Kor. 1:3-4), dan menyelamatkan kita melalui pengorbanan Yesus, Anak-Nya (Rm. 1:16-17).
Kamu sangat dikasihi oleh Allah melebihi apa pun yang dapat kamu bayangkan. Allah sendiri yang mengatakannya melalui pesan yang diilhamkan-Nya dalam Alkitab bagimu. Tidak heran, pemazmur pun menuliskan, “firman-Mu tidak akan kulupakan” (Mzm. 119:16). Alkitab sungguh adalah surat yang mengagumkan! —JDB
Tuhan, tolong aku untuk menggali Alkitab, mengerti kebenarannya,
dan menerapkannya dalam hidupku. Kiranya aku senang menerima
dan membaca surat-Mu bagiku, sama seperti kesenanganku
menerima surat, e-mail, atau pesan Facebook dari teman.
Alkitab adalah surat Allah yang menyatakan kasih-Nya kepada kita.

Tuesday, September 9, 2014

Pose Posum

[TUHAN] tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. —Yesaya 40:28
Pose Posum
Posum adalah spesies binatang yang terkenal dengan kemampuan mereka untuk berpura-pura mati. Dalam aksi tersebut, tubuh posum menjadi lemas, lidahnya terjulur keluar, dan detak jantungnya menurun. Setelah sekitar 15 menit, binatang itu akan “hidup kembali”. Menariknya, para ahli hewan beranggapan bahwa posum bukanlah sengaja berpura-pura mati untuk menghindari pemangsa. Posum pingsan secara tidak sengaja ketika merasa sangat kewalahan dan cemas!
Raja Saul juga memiliki respons yang sama terhadap bahaya yang mengancam di akhir masa kekuasaannya. “Pada saat itu juga rebahlah Saul memanjang ke tanah sebab ia sangat ketakutan. . . . Juga tidak ada lagi kekuatannya” (1Sam. 28:20). Itulah respons Saul ketika Nabi Samuel memberitahukan bahwa keesokan harinya orang-orang Filistin akan menyerang Israel, dan Tuhan tidak akan menolong Saul. Karena hidup Saul telah diwarnai dengan ketidaktaatan, ketidaksabaran, dan kecemburuan, Allah tidak lagi memimpinnya (ay.16), dan usahanya untuk mempertahankan diri sendiri serta bangsa Israel akan menjadi sia-sia (ay.19).
Kita mungkin mengalami kelemahan dan keputusasaan yang disebabkan oleh pemberontakan kita atau oleh kesulitan-kesulitan yang menerpa hidup kita. Sekalipun kecemasan dapat mencuri kekuatan kita, Allah dapat memperbaruinya ketika kita bersandar kepada-Nya (Yes. 40:31). Allah “tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu” (ay.28), dan Dia bersedia melawat dan membangkitkan kita pada saat kita merasa tidak lagi dapat melangkah. —JBS
Yesus, Engkau sangat berarti bagiku.
Engkaulah hidupku dan segalanya bagiku. Aku bersyukur
untuk kekuatan yang Engkau berikan dari hari ke hari.
Aku sadar, tanpa Engkau hidupku tidak berarti.
Damai sejahtera diperoleh dengan jalan menyerahkan setiap kekhawatiran hidup ke dalam tangan Allah.

Monday, September 8, 2014

Apa Yang Kamu Tabur?

Siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap. —Amsal 11:18
Apa Yang Kamu Tabur?
Menara jam di Universitas Negara Bagian Michigan memiliki pahatan dalam gaya Art Deco berjudul The Sower (Sang Penabur). Di bawahnya terdapat tulisan dari Galatia 6:7, “Apa yang ditabur orang.” Hingga saat ini, kampus itu masih memiliki keunggulan dalam program penelitian pertaniannya. Namun, sekalipun teknik dan produksi pertanian telah banyak berkembang, ada fakta yang tak pernah berubah: Benih jagung tidak akan dapat menghasilkan panenan kacang.
Yesus banyak memakai perumpamaan dari dunia pertanian untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan tentang penabur (Mrk. 4), Dia membandingkan firman Allah dengan benih yang ditaburkan pada tanah yang berbeda-beda. Dalam perumpamaan itu dinyatakan bahwa penabur menabur tanpa pilih-pilih, sekalipun ia mengetahui bahwa sebagian benih akan jatuh di tempat di mana benih itu tidak akan tumbuh.
Seperti Yesus, kita juga harus menaburkan benih yang baik kapan dan di mana saja. Allah saja yang mengatur di mana benih itu akan jatuh dan bagaimana pertumbuhannya. Yang penting adalah kita menabur. Allah tidak menginginkan kita menuai kehancuran, jadi Dia ingin kita menaburkan yang baik dan benar (Ams. 11:18). Rasul Paulus menguraikan perumpamaan tersebut ketika ia memperingatkan orang percaya untuk tidak menaburkan benih kebinasaan. Sebaliknya, kita harus menabur benih yang akan menghasilkan tuaian hidup yang kekal (Gal. 6:8).
Jawaban dari pertanyaan, “Apa yang kamu tabur?” adalah “Taburlah yang ingin kamu tuai.” Untuk menuai buah yang baik dalam hidupmu, mulailah dengan menaburkan benih-benih kebaikan. —JAL
Yang menabur gagasan, akan menuai perbuatan;
Yang menabur perbuatan, akan menuai kebiasaan;
Yang menabur kebiasaan, akan menuai karakter;
Yang menabur karakter, akan menuai masa depan. —NN.
Benih ditanam, buah dituai; hidup yang ditabur bagi sesama akan menuai buah yang kekal.

Sunday, September 7, 2014

Dia Semakin Besar, Saya Semakin Kecil

Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. —Filipi 3:8
Dia Semakin Besar, Saya Semakin Kecil
Ketika menggembalakan sebuah gereja di awal pelayanan saya, Libby, putri saya, bertanya, “Ayah, apakah kita terkenal?” Saya menjawab, “Tidak, Libby, kita tidak terkenal.” Setelah berpikir sejenak, ia kemudian membalas saya dengan nada kesal, “Nah, coba ada lebih banyak orang yang mengenal kita, pasti kita akan terkenal!”
Kasihan betul Libby! Usianya baru 7 tahun, tetapi ia sudah bergumul dengan sesuatu yang digumulkan oleh banyak dari kita di sepanjang hidup ini: Adakah yang memperhatikan kita? Dan apakah kita telah mendapat pengakuan yang kita anggap patut kita dapatkan dari orang lain?
Hasrat kita untuk mendapat pengakuan tidaklah bermasalah apabila hal itu tidak membuat kita ingin menggeser Yesus yang menjadi pusat hidup kita. Namun ketika perhatian kita tersita hanya untuk memikirkan diri sendiri, Yesus pun akan tersingkir.
Dalam hidup ini, kita tidak dapat mengutamakan diri sendiri dan mengutamakan Yesus secara bersamaan. Inilah arti penting dari pernyataan Paulus yang menganggap bahwa baginya segala sesuatu itu rugi, “karena pengenalan akan Kristus Yesus . . . lebih mulia dari pada semuanya” (Flp. 3:8). Ketika dihadapkan dengan pilihan antara dirinya sendiri dan Yesus, secara sadar Paulus membuang segala sesuatu yang akan membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Ia melakukannya dengan maksud agar ia dapat memusatkan perhatiannya untuk semakin mengenal dan mengalami Yesus (ay.7-8,10).
Kita juga dihadapkan pada keputusan yang sama. Apakah kita hidup untuk menjadi pusat perhatian? Ataukah kita akan berfokus pada hak istimewa untuk semakin mengenal dan mengalami Yesus? —JMS
Tuhan, terima kasih karena telah mengingatkanku akan pentingnya
mengenal Engkau dengan lebih sungguh. Tolong aku
untuk mengesampingkan kepentingan diriku sendiri
saat aku berjuang untuk hidup semakin mengenal diri-Mu.
Apakah pilihan kita memuliakan Allah, atau justru memuliakan diri kita sendiri?

Saturday, September 6, 2014

Izinkan Saya Bernyanyi

Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya! —Mazmur 150:6
Izinkan Saya Bernyanyi
Ketika saya bertanya kepada seorang teman mengenai keadaan ibunya, ia menjelaskan bahwa demensia (menurunnya fungsi otak yang mempengaruhi daya pikir) telah merampas kemampuan ibunya untuk mengingat banyak nama dan peristiwa yang terjadi di masa lalu. “Walaupun demikian,” ia menambahkan, “Ibu masih dapat duduk dan memainkan piano tanpa melihat lembaran not musik. Ia dapat memainkan himne-himne indah yang ada di memorinya.”
Sekitar 2500 tahun yang lalu, Plato dan Aristoteles menulis tentang kekuatan musik dalam membantu dan menyembuhkan orang. Namun, berabad-abad sebelumnya, catatan-catatan dalam Alkitab telah dipenuhi dengan nyanyian.
Dimulai dengan Yubal, “bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling (Kej. 4:21), sampai kepada orang-orang yang “menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba” (Why. 15:3), musik menggema dalam halaman demi halaman Alkitab. Kitab Mazmur, yang sering disebut sebagai “buku lagu dalam Alkitab”, mengarahkan kita pada kasih dan kesetiaan Allah. Kitab itu ditutup dengan sebuah ajakan untuk terus-menerus memuji Tuhan, “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!” (Mzm. 150:6).
Saat ini kita begitu membutuhkan Allah untuk melawat hati kita dengan puji-pujian dari-Nya. Tidak peduli apa pun yang terjadi dari hari ke hari, kiranya di penghujung hari kita tetap rindu untuk menyanyikan, “Ya kekuatanku, bagi-Mu aku mau bermazmur; sebab Allah adalah kota bentengku, Allahku dengan kasih setia-Nya” (Mzm. 59:18). —DCM
Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini atau apa
yang akan terjadi jauh di masa depan. Namun aku bersyukur
karena Engkau berada di sisiku. Beriku semangat untuk memuji dan
bersyukur atas apa pun yang akan kuhadapi di masa mendatang.
Puji-pujian kepada Allah akan muncul secara alami saat kamu menghitung berkat-berkat dalam hidupmu.

Friday, September 5, 2014

Bersama Dia Selamanya!

Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. —Yakobus 4:14
Bersama Dia Selamanya!
Pada tahun 1859, sepanjang masa pergolakan sebelum terjadinya Perang Saudara Amerika, Abraham Lincoln mendapat kesempatan untuk berbicara di hadapan Lembaga Paguyuban Petani di Milwaukee, Wisconsin. Dalam ceramahnya itu, Lincoln menceritakan tentang kisah seorang raja pada masa silam yang sedang mencari sebaris kalimat yang “sesuai dan tepat di segala waktu dan untuk segala keadaan”. Menghadapi tantangan yang berat itu, para penasihat raja yang bijaksana memberinya sebuah kalimat yang berbunyi, “Dan ini, juga, akan berlalu.”
Pernyataan itu berlaku bagi dunia kita di zaman sekarang—dunia ini sedang menuju kemerosotan yang tidak terbendung. Bukan hanya dunia yang sedang menuju titik akhir; kita juga menghadapi kenyataan dalam hidup kita bahwa masa hidup kita akan berakhir. Yakobus menuliskan, “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yak. 4:14).
Meskipun hidup kita sekarang ini bersifat sementara dan akan berlalu, Allah yang kita sembah dan layani itu bersifat kekal. Dia telah memberikan kekekalan tersebut kepada kita dengan mengaruniakan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dia menjanjikan kepada kita suatu kehidupan yang tak akan pernah berlalu: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).
Ketika kelak Kristus datang kembali, Dia akan membawa kita pulang untuk tinggal bersama Dia selamanya! —WEC
Hai bangun, jiwaku,
Bernyanyilah serta,
Memuji Jurus’lamatmu
Kekal selamanya. —Bridges/Thring
(Kidung Jemaat, No. 226)
Untuk pengharapan hari ini, ingatlah akhir kisah kita— hidup kekal bersama Allah.

Thursday, September 4, 2014

Singa Yang Menggonggong

Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. —Amsal 22:1
Singa Yang Menggonggong
Para pengunjung sebuah kebun binatang mulai marah ketika seekor “singa Afrika” mulai menggonggong, dan bukannya mengaum. Staf kebun binatang mengatakan bahwa mereka menyamarkan seekor anjing yang sangat besar—jenis Tibetan mastiff— sebagai singa karena mereka tak mampu menghadirkan seekor singa yang asli. Dapat dipastikan reputasi kebun binatang itu tercoreng dan orang pun menjadi ragu untuk mengunjunginya.
Reputasi itu begitu rapuh; reputasi yang sudah hancur sulit dipulihkan kembali. Sudah banyak orang memilih untuk mengorbankan reputasi yang baik demi meraih kekuasaan, nama besar, atau keuntungan. Itu juga dapat kita alami. Namun Alkitab mendorong kita, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Ams. 22:1). Allah mengajar kita bahwa nilai yang benar tidaklah terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada keberadaan diri kita.
Sokrates, ahli filsafat Yunani kuno, mengatakan, “Cara memperoleh reputasi yang baik adalah dengan berusaha keras untuk menjadi sosok yang ingin kamu tampilkan.” Sebagai pengikut Yesus, kita menyandang nama-Nya. Karena kasih-Nya bagi kita, kita berjuang untuk menjalani hidup yang layak di hadapan-Nya, dengan mencerminkan keserupaan dengan Dia di dalam perkataan dan perbuatan kita.
Ketika kita gagal, Dia mengangkat kita kembali oleh kasih-Nya. Lewat teladan kita, orang-orang di sekitar kita akan tergerak untuk memuji Allah yang telah menebus dan mengubah kita (Mat. 5:16)— karena nama Tuhan memang layak untuk diagungkan, dimuliakan, dan menerima segala pujian.—PFC
Tuhan, aku ingin menjalani hidup yang memuliakan nama-Mu karena
Engkau telah menjadikanku milik-Mu. Hidupku tidaklah sempurna,
tetapi aku ingin setidaknya mencerminkan citra diri-Mu kepada
orang lain. Kiranya Engkau mau menyatakan diri-Mu melalui diriku.
Harta termurni yang dapat dimiliki dalam hidup yang fana ini adalah reputasi yang tak bercela. —Shakespeare

Wednesday, September 3, 2014

Harapan Untuk Terus Melangkah

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23
Harapan Untuk Terus Melangkah
Sebuah pesawat udara bertenaga surya yang dinamai “Solar Impulse” dapat terbang siang-malam tanpa bahan bakar. Para penemunya, Bertrand Piccard dan Andre Borschberg, berharap dapat menerbangkan pesawat itu keliling dunia pada tahun 2015. Sembari terbang di sepanjang siang dengan menggunakan tenaga surya, pesawat itu juga mengumpulkan cukup banyak tenaga yang memampukannya untuk dapat terbang sepanjang malam. Ketika matahari terbit di hari berikutnya, Piccard berkata, “Fajar selalu membawa kembali harapan baru yang mendorong kami untuk bisa melanjutkan perjalanan.”
Pemikiran tentang fajar yang membawa harapan baru bagi kita membuat saya terpikir tentang Ratapan 3 yang merupakan bacaan Alkitab hari ini, “Hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (ay.21-23). Meskipun umat Allah begitu merasa putus asa ketika kota Yerusalem diserang oleh pasukan Babel, Nabi Yeremia berkata bahwa mereka tetap memiliki alasan untuk berharap—mereka masih menerima kasih setia dan rahmat Tuhan.
Terkadang pergumulan kita terasa semakin sulit di tengah gelapnya malam. Akan tetapi, ketika fajar tiba, terbit harapan baru yang memampukan kita untuk terus melangkah. “Sepanjang malam ada tangisan,” kata pemazmur, “menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm. 30:6).
Terima kasih, Tuhan, untuk pengharapan yang Engkau berikan setiap kali fajar menyingsing. Kasih setia dan rahmat-Mu selalu baru setiap pagi! —AMC
Kemurahan baru setiap pagi,
Anugerah untuk setiap hari,
Harapan baru untuk setiap cobaan,
Dan keberanian untuk terus melangkah. —McVeigh
Setiap hari yang baru memberikan kepada kita alasan yang baru untuk memuji Tuhan.

Tuesday, September 2, 2014

Mengangguk Pun Tidak

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring. —Lukas 17:15
Mengangguk Pun Tidak
Namun saat pengemudi yang “baik” itu tak diberi anggukan atau lambaian sebagai ucapan terima kasih, ia mengamuk. Awalnya ia membuka jendela mobil dan meneriaki pengemudi yang dibiarkannya lewat tadi. Lalu ia memacu mobilnya seperti ingin menubruk mobil di depannya, menekan klakson, dan terus berteriak untuk meluapkan amarahnya.
Jalanan sedang macet-macetnya, dan orang-orang mudah terpancing untuk marah pada siang yang terik itu. Saat itu saya melihat sebuah mobil berisi dua pemuda yang tengah antre untuk dapat masuk ke jalan dari parkiran suatu restoran. Saya merasa pengemudi di depan saya telah berbaik hati dengan membiarkan mereka lewat terlebih dahulu.
Siapa yang “lebih salah”? Apakah sikap tak tahu berterima kasih dari pengemudi muda itu membenarkan sikap marah si pengemudi yang “baik” tadi? Apakah pengemudi muda itu berutang ucapan terima kasih?
Tentu ke-10 orang kusta yang disembuhkan Yesus berutang ucapan terima kasih kepada-Nya. Bagaimana mungkin hanya satu orang yang kembali untuk berterima kasih? Saya dikejutkan oleh jawaban Yesus, “Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk. 17:18). Apabila sang Raja atas segala raja saja hanya mendapatkan satu ucapan terima kasih dari sepuluh orang yang disembuhkan, patutkah kita berharap dapat menerima sikap yang lebih baik dari sesama kita? Yang lebih baik kita perbuat adalah melakukan perbuatan baik demi memuliakan Allah dan melayani sesama, daripada kita melakukannya hanya untuk menerima ucapan terima kasih. Kiranya kita tetap memperlihatkan kasih Allah sekalipun perbuatan baik kita tidak dihargai. —RKK
Tuhan, kami ingin dihargai atas semua yang kami lakukan. Tolong
kami mengingat bahwa orang lain tak berutang ucapan terima kasih
kepada kami, melainkan kami yang berutang ucapan syukur kepada-
Mu seumur hidup karena keselamatan dari-Mu di dalam Yesus.
Begitu juga terangmu harus bersinar di hadapan orang, supaya mereka . . . memuji Bapamu di surga. —Matius 5:16

Monday, September 1, 2014

Saya Tidak Dilupakan

Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! —Mazmur 33:20
Saya Tidak Dilupakan
Menanti merupakan perbuatan yang sulit; tetapi ketika hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan berlalu tanpa ada jawaban bagi doa-doa kita, sangatlah mudah merasa bahwa Allah telah melupakan kita. Mungkin kita bisa berjuang dari pagi hingga sore hari dengan menyibukkan diri, tetapi saat malam tiba, lebih sulit rasanya untuk dapat mengatasi kecemasan yang menghantui pikiran kita. Kekhawatiran terbayang di depan mata, dan masa-masa yang gelap tampaknya tak berujung. Kelesuan yang begitu membebani membuat kita tidak lagi sanggup menghadapi hari esok.
Pemazmur juga menjadi lesu dalam penantiannya (Mzm. 13:2). Ia merasa ditinggalkan —seakan musuh-musuhnya sedang berada di atas angin (ay.3). Ketika kita menantikan Allah untuk memecahkan persoalan sulit atau menjawab doa yang kita panjatkan berulang kali, mudah bagi kita untuk menjadi putus asa.
Iblis membisikkan bahwa Allah telah melupakan kita, dan keadaan kita takkan pernah berubah. Kita mungkin terbujuk untuk menyerah pada keputusasaan. Kita berpikir, apa gunanya lagi bersusah payah membaca Alkitab atau berdoa? Untuk apa susah-susah beribadah bersama saudara-saudara seiman dalam Kristus? Namun justru pada saat menanti, kita paling membutuhkan pertolongan rohani. Hal itulah yang menolong kita untuk bertahan dalam aliran kasih Allah dan menjadi peka pada Roh-Nya.
Pemazmur memiliki obat yang manjur. Ia mengarahkan hatinya pada segala yang diketahuinya tentang kasih Allah, mengingat kembali berkat-berkat di masa lalu, dan sungguh-sungguh memuji Allah yang takkan pernah melupakannya. Kita juga dapat melakukannya. —MS
Kekasih jiwaku, yang mendekat padaku
di malam yang panjang nan pekat, tolong aku
selalu percaya kepada-Mu, berbicara dengan-Mu,
dan bersandar pada janji-janji-Mu.
Allah layak kita nantikan; waktu-Nya selalu yang terbaik.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate