Pages - Menu

Thursday, February 28, 2013

Kakek Menyelinap Keluar


Baca: Mazmur 16

Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram. —Mazmur 16:9

Sepupu saya, Ken, berjuang melawan kanker dengan penuh semangat selama 4 tahun. Di hari-hari terakhirnya, istri, ketiga anaknya, dan beberapa orang cucunya berkumpul bersama, meluangkan waktu dan mengucapkan pesan-pesan terakhir untuk melepasnya. Pada satu waktu ketika semua orang sedang keluar sejenak dari kamar perawatan, Ken pun menghembuskan napas terakhirnya. Setelah keluarga menyadari bahwa Ken telah pergi, dengan manis salah seorang cucu perempuannya yang masih kecil berkata, “Tadi Kakek menyelinap keluar.” Pada satu detik, Tuhan ada bersama dengan Ken di bumi ini; pada detik berikutnya, roh Ken sudah bersama Tuhan di surga.

Mazmur 16 merupakan mazmur favorit Ken yang ia minta untuk dibacakan pada pemakamannya. Ia setuju dengan pemazmur Daud yang mengatakan bahwa tidak ada harta yang lebih berharga daripada hubungan pribadi seseorang dengan Allah (ay.2,5). Dengan Tuhan sebagai tempat perlindungannya, Daud juga tahu bahwa kematian tidak akan merampas kehidupan dari orang percaya. Ia berkata, “Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati” (ay.10). Ken dan siapa pun yang mengenal Yesus sebagai Juruselamat tidak akan ditinggalkan dalam kematian.

Karena kematian dan kebangkitan Yesus, kita juga akan bangkit suatu hari nanti (Kis. 2:25-28; 1 Kor. 15:20-22). Dan kita akan mengalami bahwa “di tangan kanan [Allah] ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11). —AMC

“Di dalam Dia yang dikasihi-Nya” aku diterima,
Bangkit, naik, dan duduk di tempat maha tinggi;
Bebas dari dosa lewat anugerah-Nya mulia,
Aku diberi satu tempat di surga. —Martin

Allah adalah harta kita sekarang, dan bersama-Nya di surga akan ada nikmat untuk selamanya.

Wednesday, February 27, 2013

Mengucap Syukur


Baca: Yohanes 11:32-44

Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.” —Yohanes 11:41

Suatu tragedi di tengah keluarga dapat meninggalkan kehampaan yang tak dapat diisi kembali oleh apa pun. Seorang bocah mengejar seekor kucing ke jalan raya lalu ditabrak sebuah truk. Ketika orangtuanya memeluk tubuh mungil yang sudah tidak bernyawa itu, sang kakak perempuan yang berusia 4 tahun hanya dapat menyaksikan dengan terpaku karena terguncang. Selama bertahun-tahun, kehampaan yang dialami karena peristiwa itu membuat keluarga itu terus bersedih. Ada perasaan yang membeku. Mati rasa menjadi sumber penghiburan. Rasanya tak mungkin dapat pulih kembali.

Penulis Ann Voskamp adalah si kakak yang berusia 4 tahun itu, dan duka yang timbul dari kematian adiknya telah membentuk pandangannya terhadap kehidupan dan Allah. Dunia tempat ia bertumbuh tidak mengenal konsep anugerah. Sukacita dianggap sebagai suatu pemikiran yang tidak realistis.

Sebagai seorang ibu muda, Voskamp bertekad untuk meraih sukacita dalam Alkitab yang terasa sulit untuk dialaminya. Kata sukacita dan anugerah berasal dari bahasa Yunani chairo, dan ia mendapatinya sebagai inti dari kata Yunani untuk ucapan syukur. Apakah memang sesederhana itu? pikirnya. Untuk menguji penemuannya, Voskamp memutuskan untuk mengucap syukur atas 1.000 anugerah yang telah dimilikinya. Ia memulai dengan perlahan, tetapi kemudian ucapan syukur pun mengalir dari hatinya dengan lancar.

Seperti halnya Yesus mengucap syukur sebelum, dan bukan sesudah, membangkitkan Lazarus (Yoh. 11:41), Voskamp mendapati bahwa ucapan syukur membangkitkan sukacita yang semula telah musnah bersama dengan kematian adiknya. Sukacita datang dari ucapan syukur. —JAL

Tuhan, aku berterima kasih atas kuasa-Mu yang sanggup
membangkitkan orang mati. Kiranya perasaan sukacita
yang timbul dari ucapan syukur kami menjadi
benih-benih anugerah bagi mereka yang telah merasa putus asa.

Sukacita hidup datang dari hati yang mengucap syukur.

Tuesday, February 26, 2013

Selalu Diterima


Baca: Yohanes 1:6-13

Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. —Yohanes 1:11

Warren Buffet, seorang ahli keuangan dan salah satu orang terkaya di dunia, pernah ditolak untuk kuliah di Sekolah Bisnis Harvard ketika ia berusia 19 tahun. Setelah gagal pada wawancara masuk, Buffet ingat bahwa ia “merasa sangat ketakutan” dan cemas membayangkan reaksi ayahnya terhadap berita itu. Ketika mengenang kembali peristiwa itu, ia berkata, “[Semua hal] dalam hidupku . . . yang pada waktu itu kukira merupakan kegagalan besar, kini telah kuanggap sebagai sesuatu yang membawa kebaikan.”

Walaupun pasti menyakitkan, penolakan yang kita terima tak seharusnya menghalangi kita untuk mencapai apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Warga dari kampung halaman Yesus menolak kenyataan bahwa Dia adalah Mesias (Yoh. 1:11), dan banyak pengikut-Nya yang kemudian menolak-Nya (6:66). Seperti halnya penolakan terhadap Yesus merupakan bagian dari rencana Allah bagi Anak-Nya (Yes. 53:3), demikian juga dengan keberlanjutan pelayanan Yesus. Meski harus menanggung penolakan dari manusia dan tahu bahwa Bapa akan meninggalkan-Nya di bukit Kalvari (Mat. 27:46), Yesus tetap melayani dengan menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat, dan memberitakan kabar baik kepada orang banyak. Sebelum penyaliban-Nya, Yesus berkata, “[Bapa], Aku telah menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya” (Yoh. 17:4).

Jika penolakan telah menjadi suatu hambatan bagi pekerjaan yang telah Allah kehendaki untuk Anda kerjakan, janganlah menyerah. Ingatlah bahwa Yesus mengerti, dan mereka yang datang kepada-Nya akan senantiasa diterima-Nya (6:37). —JBS

Tak ada yang lebih memahamimu selain Yesus
Saat hari-hari terasa gelap dan suram
Tak ada yang sedekat, penuh kasih, seperti Yesus;
Serahkan semua kekhawatiranmu kepada-Nya. —Peterson

Tidak ada yang lebih memahami kita selain Yesus.

Monday, February 25, 2013

Mercusuar Allah


Baca: Matius 5:1-14

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. —Matius 5:14

Mercusuar Mission Point didirikan pada tahun 1870 di suatu semenanjung di wilayah utara negara bagian Michigan dengan maksud memperingatkan kapal-kapal akan adanya pantai yang dangkal dan berbatu di sepanjang Danau Michigan. Mercusuar tersebut mendapatkan namanya dari sejenis mercusuar yang lain, yakni suatu gereja misi yang dibangun 31 tahun sebelumnya.

Pada tahun 1839, Pdt. Peter Dougherty menjawab panggilan menjadi gembala bagi suatu gereja di wilayah Old Mission yang terdiri dari para penduduk asli Amerika yang tinggal jauh di sebelah selatan dari semenanjung yang sama. Di bawah kepemimpinan Peter, suatu komunitas yang sedang bertumbuh dan meliputi kaum petani, guru, dan pekerja di sana saling bahumembahu untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi kepentingan bersama.

Ketika orang Kristen bekerja bersama dalam kesatuan, persekutuan iman mereka memancarkan terang rohani di tengah kegelapan dunia (Flp. 2:15-16). Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi . . . Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:14-16).

Mercusuar Mission Point memberikan peringatan bahaya pada semua kapal yang hendak berlabuh, tetapi Gereja Old Mission tadi memberikan arahan rohani kepada semua orang yang mau memperhatikan pesannya. Kaum percaya juga melakukan hal yang sama, baik secara pribadi maupun melalui gereja kita. Kita adalah mercusuar Allah karena Yesus hidup di dalam kita. —HDF

Engkau dipanggil dengan panggilan kudus
Untuk menjadi terang bagi dunia;
Mengangkat pelita Sang Juruselamat
Agar orang dapat melihat terang-Nya. —NN.

Orang percaya yang hidupnya bersinar terang akan menolong orang yang terhilang untuk kembali pulang.

Saturday, February 23, 2013

Tak Ada Resep Sederhana

Baca: Ibrani 4:11-16

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. —Ibrani 4:15

Untuk ulang tahun cucu laki-laki kami, istri saya memanggang dan menghias kue bertabur keping cokelat berukuran besar untuk pestanya. Ia mengeluarkan buku masakannya, mengumpulkan semua bahan, dan mulai mengikuti langkah-langkah sederhana yang diperlukan untuk membuat kue. Ia mengikuti resep yang sederhana dan semuanya berjalan dengan lancar.

Bukankah sangat menyenangkan jika hidup berjalan seperti itu? Ikuti saja sejumlah langkah yang mudah, lalu nikmati hidup yang bahagia.

Namun hidup tidak sesederhana itu. Kita hidup di dunia yang telah berdosa dan tidak ada resep sederhana yang jika diikuti pasti memberi hidup yang bebas dari rasa sakit, kehilangan, ketidakadilan, atau penderitaan.

Di tengah kepedihan hidup, kita memerlukan perhatian khusus dari Sang Juruselamat yang pernah hidup di dunia ini dan mengalami beragam pergumulan seperti yang kita alami. Ibrani 4:15 menguatkan kita: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Sebagai Pribadi yang telah mati untuk memberi kita hidup, Kristus sangat mampu membawa kita melalui segala kepedihan hati dan pergumulan berat yang kita alami. Kristus telah menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita (lihat Yes. 53:4).

Yesus tahu tidak ada “resep” sederhana untuk mencegah segala kepedihan hati dalam hidup, maka Dia turut merasakannya bersama kita. Apakah kita akan mempercayai-Nya dengan jalan menyerahkan air mata dan kesedihan kita kepada-Nya? —WEC

Saat beragam cobaan hidup membuatmu lelah
Masalahmu seakan terlalu berat untuk ditanggung,
Temukan pelipur lara dan penghiburan luar biasa
Dalam teduhnya persekutuan doa dengan Allah. —NN.

Kristus, yang telah mati agar kita hidup, juga akan menopang kita menjalani hidup penuh kesulitan ini.

Friday, February 22, 2013

Dimahkotai Kemuliaan

Bacaan: Mazmur 8
"Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?" - Mazmur 8:5

Pesawat ruang angkasa Voyager I yang diluncurkan pada 1977 kini berada pada lingkar luar dari sistem tata surya kita yang berjarak lebih dari 16 milyar km jauhnya. Pada Februari 1990, ketika Voyager I hampir berjarak 6 milyar km jauhnya, para ilmuwan memperlihatkan planet kita seperti sebuah titik biru yang hampir tak terlihat di tengah kosongnya ruang angkasa yang sangat luas.
Dalam alam semesta kita yang sangat luas, Bumi hanyalah satu titik kecil. Planet yang tampak hanya seperti sebongkah kerikil yang tidak berarti di antara lautan benda-benda angkasa ini adalah rumah bagi lebih dari tujuh miliar orang.
Jika hal ini membuat anda merasa tidak berarti, Allah punya kabar baik bagi anda. Dalam salah satu mazmur Daud terselip sebuah pertanyaan retoris yang dapat menggugah anda untuk melangkah keluar di malam hari, memandang langit, dan bersukacita. Mazmur 8:4-6 memberi tahu kita bahwa kita adalah maha bintang di mata Allah: "Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu... apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?... [Engkau] telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." Pikirkan itu! Allah - yang lewat firmanNya menciptakan alam semesta yang sedemikian luas sehingga teleskop Hublle pun belum sanggup menemukan ujungnya - menciptakan anda, dan Dia sangat mempedulikan anda. Begitu peduli sehingga Dia mengutus Yesus untuk meninggalkan surga dan mati bagi anda.
Dengan penuh kekaguman, pandanglah angkasa ciptaan Allah dan pujilah Dia karena Dia telah memahkotai anda dengan kemuliaan melalui AnakNya Yesus.

Kami memujiMu Bapa, atas ciptaanMu yang melampaui akal pikiran kami, atas pesona langit malam indah yang bergelimang cahaya, dan atas kasihMu bagi setiap dari kami sehingga Engkau memberikan Yesus menjadi juruselamat pribadi kami.

Ketika melihat kedahsyatan ciptaan Allah, kita merasakan kedahsyatan kasihNya


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 22 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Wednesday, February 20, 2013

Bejana Tanah Liat

Bacaan: 2 Korintus 4:7-15
"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." - 2 Korintus 4:7

Ketika anda membeli sebuah perhiasan yang indah, perhiasan tersebut sering diletakkan dalam kotak kecil berlapis kain beludru yang berwarna hitam atau gelap. Saya pikir hal itu dirancang sedemikian rupa agar perhatian anda segera tertuju pada keindahan perhiasan itu. Jika kemasannya dirancang dengan corak yang ramai, keindahan harta yang bernilai tersebut akan tersaingi.
Hal itu mengingatkan saya akan pendapat Paulus tentang pelayanan yang Yesus lakukan melalui diri kita, yakni ketika ia berkata, "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat" (2 Korintus 4:7). Kita mudah sekali lupa bahwa kita hanyalah kemasannya dan karya Allah itulah hartanya yang bernilai. Kita justru menghiasi bejana tanah liat kita dan menerima pujian untuk hal-hal yang kita lakukan dalam pelayanan untuk Kristus. Kita berusaha mencari kemuliaan bagi diri sendiri ketika kita telah mengampuni seseorang, atau menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, atau memberi kepada sesama dengan murah hati. Yang menjadi masalah, ketika kita mulai mencari penegasan dan pujian atas perbuatan baik yang kita lakukan, hal itu berarti kita sedang menyaingi kecemerlangan dari harta karya Allah yang bekerja melalui kita.
Ketika kita melakukan pelayanan untuk Kristus, hal itu bukanlah untuk diri kita tetapi demi kemuliaanNya. Semakin kita tidak menonjol, semakin cemerlanglah Kristus. Oleh karena itu, Paulus berkata bahwa harta itu dipunyai dalam bejana tanah liat supaya Allah sajalah yang akan dimuliakan. Lagipula, tidak ada yang menganggap bejana tanah liat sebagai benda yang penting. Harta yang ada di dalamnya itulah yang penting!

Tolong kami untuk tidak mengaburkan kemuliaan Allah, tidak juga oleh diri kami cahayaNya menjadi suram; Kiranya setiap pikiran ditaklukkan kepada Kristus, agar dikosongkan untuk diisi olehNya.

Kiranya kecemerlangan harta Kristus bersinar melalui anda ketika anda hidup bagiNya.

Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 21 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Tuesday, February 19, 2013

Rekapitulasi Ulang

Bacaan: Amsal 3:1-8
"Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." - Amsal 3:6

"Jangan khawatir. Aku pasti tahu arah tujuan kita," kata saya kepada penumpang. Lalu terdengar suara yang mirip suara manusia membocorkan informasi berulang-ulang dengan berkata: "Rekapitulasi ulang." Sekarang semua orang tahu jika saya tersesat!
Zaman ini, berjuta-juta pengemudi pasti mengenal kata-kata itu atau kata-kata lain yang sejenis sebagai tanda bahwa mereka sudah salah arah atau lupa berbelok. Alat navigasi GPS tidak hanya tahu kapan si pengemudi itu salah arah, tetapi juga secara otomatis segera merencakan arah perjalanan yang baru untuk kembali ke jalur yang benar.
Terkadang para pengikut Yesus perlu mendapatkan bantuan untuk kembali ke jalur yang benar dalam kerohanian mereka. Kita mungkin dengan sengaja keluar jalur karena kita merasa paling tahun atau kita pelan-pelan menyimpang. Kita tidak menyadari jika kita bergerak semakin jauh dari jalan yang Allah kehendaki bagi kita.
Namun Allah tidak membiarkan kita tersesat sendirian. Dia telah memberikan Roh Kudus kepada semua orang percaya (Yohanes 14:16-17; 1 Korintus 3:16), yang menyadarkan kita atas dosa (Yohanes 16:8, 13). Ketika kita salah arah, Dia membunyikan nada peringatan dan menghentak kesadaran kita (Galatia 5:16-25). Kita bisa saja mengabaikan peringatan tersebut, tetapi jika kita melakukannya, kita sedang menjerumuskan diri sendiri (Yesaya 63:10; Galatia 6:8).
Betapa hati kita terhibur saat tahu bahwa Allah bekerja dalam hidup kita melalui karya Roh Kudus yang membantu kita dalam kelemahan kita (Roma 8:26-27). Dengan pertolongan dan tuntunan Allah, kita dapat terus melangkah di jalan yang menyenangkanNya.

Roh Kudus, kami hendak mendengar bisikanMu yang lembut dan jelas; Tolong kami mengenali suaraMu yang lirih agar kami rela mengikuti kehendak Allah.

Pertolongan itu selalu dekat, karena Roh penolong ada di dalam diri kita.

Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 20 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Monday, February 18, 2013

Tunggu

Bacaan: 1 Samuel 13:7-14
"Kata Samuel kepada Saul: Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan, Allahmu, yang diperintahkanNya kepadamu;..." - 1 Samuel 13:13

Karena tidak sabar, seorang pria di San Fransisco, California, mencoba untuk melawan kemacetan dengan cara berbelok mengitari sederetan mobil yang sedang berhenti. Namun, lajur jalan yang dimasukinya ternyata baru saja disemen, dan mobil Porsche 911 miliknya pun terjebak. Si pengemudi harus membayar mahal akibat ketidaksabarannya.
Kitab Suci menceritakan tentang seorang raja yang juga membayar mahal akibat ketidaksabarannya. Didorong oleh keinginan yang besar agar Allah memberkati bangsa Israel dalam peperangan mereka melawan bangsa Filistin, Saul bertindak dengan tidak sabar. Ketika Samuel tidak tiba tepat pada waktunya untuk mempersembahkan korban bakaran bagi Allah, Saul menjadi tidak sabar dan melanggar perintah Allah (1 Samuel 13:8-9, 13). Ketidaksabaran ini membuat Saul berpikir bahwa dirinya di atas hukum dan berhak mengambil alih kedudukan imam yang bukan menjadi wewenangnya. Saul berpikir bahwa ia dapat melanggar perintah Allah tanpa harus menanggung konsekuensi yang serius. Ia telah salah menilai.
Ketika Samuel tiba, ia menegur Saul dengan keras akibat ketidaktaatannya dan menubuatkan bahwa Saul akan kehilangan kerajaannya (ayat 13-14). Penolakan Saul untuk menanti perkembangan dari rencana Allah menyebabkannya untuk bertindak tergesa-gesa, dan dalam ketergesa-gesaannya tersebut ia salah langkah (lihat Amsal 19:2). Ketidaksabarannya menjadi bukti utama dari kurangnya iman.
Tuhan akan memberikan tuntunanNya ketika dengan sabar kita menantikan Dia untuk menyatakan kehendakNya.

Arahkanlah hatimu yang cemas pada kesabaran, berjalanlah dengan iman kala penglihatanmu suram; Kasihilah Allah, dengan tenang dan percaya sepenuhnya, dan serahkanlah semua yang ada kepadaNya.

Kesabaran berarti menantikan waktu Allah dan mempercayai kasih Allah.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 19 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Pengaruh dari Peragaan

Bacaan: 1 Korintus 2:1-5
"Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." - 1 Korintus 4:20

Selama dua dekade, ahli ekologi Mike Hands telah bekerja untuk membantu para petani di Amerika Tengah dalam menggunakan metode-metode pertanian yang lebih efektif untuk tanaman mereka. Namun sulit bagi mereka untuk meninggalkan tradisi bertani yang lama dengan memakai cara "babat dan bakar," meski mereka tahu cara itu merusak tanah dan mencemari udara.
Oleh karena itu, Mike tak hanya sekadar berbicara kepada mereka, ia juga menunjukkan kepada mereka cara bertani yang lebih baik. Dalam film dokumenter "Up in Smoke (Terbakar Habis)" ia berkata, "Hal itu harus diperagakan. Anda tak bisa hanya sekadar menggambarkannya. Mereka harus bisa melihat langsung dan melakukannya sendiri."
Paulus menggunakan pendekatan yang sama untuk membagikan Injil Yesus Kristus. Ia menulis kepada jemaat di Korintus, "Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah" (1 Korintus 2:4-5). Selanjutnya dalam suratnya, Paulus memberitahukan kembali kepada mereka, "Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa" (1 Korintus 4:20).
Seiring anda menjalani hidup setiap hari, mintalah kepada Allah agar Dia menolong anda untuk mewujudkan perkataan anda dalam tindakan. Ketika kita mengijinkan Allah menyatakan dirinya melalui hidup kita, hal itu menjadi suatu peragaan anugerah dan kasihNya yang berpengaruh besar.

Perkenankan kami, Tuhan, untuk mewujudkan iman kami melalui apa yang kami perbuat, sehingga Injil dapat dilihat dengan jelas oleh mereka yang mencari Engkau.

Perkataan kita perlu diwujudkan lewat tindakan.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 18 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Saturday, February 16, 2013

Dikaruniai untuk Melayani

Bacaan: Roma 12:3-13
"Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang." - 1 Korintus 12:6

Suatu hari saya menyadari bahwa kaki kanan saya melakukan semua pekerjaan menginjak pedal ketika saya mengendarai mobil saya yang bertransmisi otomatis. Hanya kaki kanan saya yang menginjak gas dan rem. Kaki kiri saya tidak melakukan apapun. Apa yang terjadi jika saya memutuskan bahwa agar adil, kaki kiri saya harus mengambil alih fungsi kaki kanan saya di tengah perjalanan? Jika anda belum pernah melakukannya, saya harap anda jangan mencobanya!
Jika kita saja tidak menuntut kesetaraan fungsi dari anggota-anggota tubuh kita, mengapa justru kita terkadang menuntutnya dari orang-orang di gereja? Kelihatannya inilah yang dihadapi oleh jemaat pada abad pertama di Roma. Sebagian orang menganggap diri mereka lebih tinggi derajatnya daripada yang lain (Roma 12:3) hanya karena mereka mengerjakan hal-hal yang tidak dikerjakan oleh orang-orang lain. Namun Paulus mengingatkan kita bahwa "tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama" (ayat 4). Kita diberik karunia sesuai dengan kasih karunia yang dianugerahkan Allah kepada kita (ayat 6). Allah memberikan kita beragam karunia itu untuk melayani sesama, bukan diri kita sendiri (ayat 6-13). Pelayanan kita haruslah ditandai dengan sikap tekun dan penuh semangat. karena kita sedang melayani Tuhan, bukan manusia (ayat 11).
Oleh sebab itu, janganlah kita melihat apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh orang lain. Lihatlah bagaimana Allah dapat memakai anda di dalam kerajaanNya hari ini. Allah telah mengaruniai anda tepat sesuai dengan kehendakNya (ayat 3).

Tuhan, pimpinku hari ini seturut kehendakMu. Pakailah karunia yang telah Engkau berikan padaku untuk mendukung orang lain dalam iman mereka. Tolong aku tidak membandingkan diriku dengan orang lain, tetapi puas dengan diriku yang telah Engkau ciptakan.

Tidak semua punya peran yang sama di ladang Allah, tetapi kita semua harus bersatu padu dalam melayani.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 17 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Godspeed

Bacaan: 2 Yohanes 1:1-11
"Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya." (2 Yohanes 1:10)

Pada tahun 1962, John Glenn menorehkan sejarah sebagai orang Amerika pertama yang berhasil mengorbit bumi. Seiring dengan naiknya roket, ruang kendali berkata, "Godspeed, John Glenn." Istilah Godspeed berasal dari salam berkat, "Kiranya Allah memberkatimu."
Walaupun kita jarang mendengar istilah ini di masa kini, Rasul Yohanes menggunakannya dalam suratnya yang kedua: "Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam (Godspeed) kepadanya" (2 Yohanes 1:10).
Yohanes sering disebut sebagai "rasul kasih." Jadi, mengapa ia memperingatkan orang percaya untuk tidak memberikan salam berkat kepada orang lain? Para pemberita Injil yang berkelana pada masa itu bergantung kepada keramahtamahan dari orang-orang Kristen untuk menyediakan penginapan dan makanan bagi mereka. Yohanes memberitahu orang-orang percaya bahwa kebenaran alkitabiah itu bernilai penting. Jika sang penginjil keliling tidak memberitakan ajaran yang sesuai dengan ajaran para rasul, orang percaya tidak patut mendukung pelayanan mereka melalui penyediaan tempat penginapan atau pemberian bantuan keuangan.
Demikian juga halnya bagi orang percaya di masa kini. Kita patut memperlakukan siapa saja dengan kebaikan karena Allah baik kepada kita. Namun ketika diminta untuk memberikan dukungan dana bagi suatu pelayanan, penting bagi kita untuk selalu meminta hikmatNya. Roh Kudus yang memimpin kita ke dalam kebenaran (Yohanes 16:13) akan menunjukkan kepada kita kapan tepatnya kita membagikan berkat kepada orang-orang yang kita jumpai.

Ya Tuhan, Engkau mengenal hatiku. Aku mengasihiMu dan rindu agar kerajaanMu bertambah luas. Beriku hikmat untuk mengetahui di mana dan bagaimana Engkau menghendaki aku ambil bagian. Terima kasih Tuhan!

Roh Allah melalui firmanNya memberi kita hikmat untuk membedakan apa yang benar dan apa yang salah.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 16 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Friday, February 15, 2013

Bancakan 2.0, dengan Topik "Mobile Opportunities in Indonesia"

Malam ini saya menghadiri sebuah event yang digagas oleh Bancakan, sebuah komunitas orang-orang yang bergelut ataupun mencari pendapatan dari usaha startup. Acara ini diadakan di University Club, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tidak sedikit juga mahasiswa yang turut hadir dalam acara seminar malam ini.
Untuk pertama kalinya saya juga hadir, dan sekaligus atas permintaan atasan saya, saya pun ikut membantu sebagai petugas pendaftaran peserta (lumayanlah dapat kaos bancakan). Dan saya pun menjalankannya dengan cukup baik bersama dengan rekan-rekan panitia yang lain.
Jam 7 malam pun acara dimulai setelah diawali dengan makan malam prasmanan. Pembicara di event seminar kali ini antara lain Firstman Marpaun dari Intel Indonesia, Deddy Avianto seorang communitu activist, Hiro Whardana dari Three Indonesia, dan Cak Udy seorang marketing expert.
Berbagai teknologi terbaru dibahas oleh bang Firstman, terutama yang sedang dikembangkan oleh Intel. Dilanjutkan oleh bang Hiro yang membahas pola pemasaran dan development aplikasi yang dilakukan oleh Three, menyangkut BimaTri, sebuah digital personal assistant milik operator ini. Kemudian dilanjutkan oleh bang Deddy, yang membahas banyak hal tentang networking, atau membangun relasi. Beliau yang sangat berpengalaman dalam komunitas digital ini pun membagikan banyak hal yang bisa aku pelajari dan terapkan.
Terakhir, materi yang disampaikan oleh Cak Udy berkutat seputar bagaimana membangun pola dan plan yang baik bagi komunitas startup.
Acara malam ini benar-benar menarik, banyak relasi, dapat tambahan pengalaman, dan materi yang bisa dijadikan pedoman dalam membangun relasi dan bisnis startup.
Semoga bisa ikut lagi di kesempatan berikutnya.

Thursday, February 14, 2013

Berseru Kepada Allah

Bacaan: Mazmur 142
"...tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6)

Setelah bertahun-tahun lamanya menjadi orang percaya, saya masih saja tetap tidak sepenuhnya memahami doa. Doa merupakan suatu misteri bagi saya. Namun satu hal yang saya ketahui dengan pasti: Ketika kita sedang dalam kebutuhan yang mendesak, doa tiba-tiba keluar secara alami dari bibir kita dan dari lubuk hati kita yang terdalam.
Saat kita merasa sangat ketakutan, saat kita didesak melampaui batas kekuatan kita, saat kita ditarik keluar dari zona nyaman kita, saat keberadaan diri kita menghadapi tantangan dan bahaya, secara refleks dan tanpa sadar kita mengucapkan doa. "Tolong aku, ya Tuhan!" adalah seruan yang wajar kita ucapkan.
Penulis Eugene Peterson menulis: "Bahasa doa ditempa dalam suatu wadah peleburan berupa kesusahan. Saat kita tidak berdaya untuk menolong diri sendiri dan meminta pertolongan, saat kita tak betah dengan keadaan yang ada dan ingin keluar, saat kita tidak menyukai diri kita dan ingin berubah, kita menggunakan bahasa kita yang paling dasar, dan bahasa ini menjadi akar dari bahasa doa."
Doa bermula dalam kesulitan, dan terus berlanjut karena kita selalu menemui kesulitan kapan dan di mana saja. Doa tidak membutuhkan persiapan khusus, tidak mementingkan ketepatan kosa kata, dan tidak tergantung pada sikap tubuh tertentu. Doa muncul dari dalam diri saat kita diperhadapkan pada suatu kebutuhan, dan seiring dengan waktu, doa menjadi tanggapan yang biasa terhadap setiap hal - baik dan buruk - yang kita hadapi dalam hidup ini (Filipi 4:6). Sungguh merupakan hak istimewa untuk dapat membawa segala hal dalam doa kepada Allah!

Yesus Kawan yang sejati bagi kita yang lemah. Tiap hal boleh dibawa dalam doa padaNya.

Pertolongan Allah hanya sejauh doa.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 15 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati!

Wednesday, February 13, 2013

Merasa Dinomorduakan?

Bacaan: Kejadian 29:16-30
"...oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8)

Lea pasti telah terjaga semalaman memikirkan apa yang akan terjadi jika suami barunya terbangun. Ia tahu bahwa bukan wajahnya yang diharapkan akan dipandang Yakub, melainkan wajah Rahel. Yakub telah menjadi korban tipu daya, dan ketika menyadari bahwa ia terjerat oleh perjanjian palsu, Yakub segera mengikat perjanjian baru dengan Laban untuk mendapatkan wanita yang telah dijanjikan kepadanya (Kejadian 29:25-27).
Apakah anda pernah merasa tidak dianggap atau dinomorduakan? Lea merasa demikian. Hal ini terlihat dari nama-nama yang dipilih Lea untuk ketiga anaknya yang pertama (ayat 31-35). Ruben artinya "Perhatikan, Seorang anak laki-laki"; Simeon artinya "Didengar"; dan Lewi artinya "Lebih erat". Nama-nama mereka merupakan suatu permainan kata yang mengindikasikan kurangnya cinta dari Yakub yang dirasakan Lea. Setiap anak laki-lakinya lahir, Lea sangat berharap akan lebih dicintai dan mendapat kasih sayang dari Yakub. Namun perlahan sikap Lea berubah, dan ia menamai anak keempatnya Yehuda, yang artinya "Beryukur" (ayat 35). Meski merasa tidak dikasihi oleh suaminya, sekarang Lea menyadari bahwa ia sangat dikasihi oleh Allah.
Kita takkan pernah dapat "memperoleh" kasih Allah dengan usaha kita, karena kasihNya tidak bergantung pada apa yang kita perbuat. Sesungguhnya, Alkitab menyatakan bahwa "Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8). Di mata Allah, kita begitu berharga untuk menerima yang terbaik dari apa yang dapat Dia berikan, yakni AnakNya yang tunggal.

Kasih membuat Sang Juruselamat mati gantiku. Mengapa Dia sedemikian mengasihiku? Dia rela digiring ke salib Kalvari. Mengapa Dia sedemikian mengasihiku?

Tiada yang lebih jelas mengungkapkan kasih Allah daripada salib Kristus.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 14 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Tuesday, February 12, 2013

Pengorbanan Kecil

Bacaan: Markus 10:17-27
"Segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah" (Markus 10:27).

Dalam masa menjelang perayaan Paskah seperti ini, saya mulai berpikir tentang pengorbanan yang Yesus berikan sehingga hubungan saya dengan Allah dapat dipulihkan. Untuk membantu saya memusatkan perhatian pada semua yang telah Dia korbankan bagi saya, saya melakukan sebuah pengorbanan kecil: saya berpuasa dari sesuatu yang biasanya saya nikmati. Setiap keinginan terhadap makanan atau minuman atau kesukaan yang biasa saya lakukan mengingatkan saya tentang betapa besarnya pengorbanan yang telah diberikan Yesus kepada saya.
Akan tetapi karena ingin berhasil, saya cenderung mengorbankan sesuatu yang bukan merupakan cobaan besar bagi saya. Meski demikian, tetap saja saya gagal. Ketidakmampuan saya untuk menjadi sempurna dalam hal yang sedemikian kecil itu mengingatkan saya tentang pentingnya Paskah. Jika kita dapat menjadi sempurna, Yesus tidak perlu mati.
Seorang lelaki muda kaya yang Yesus temui dalam perjalananNya ke Yudea berusaha memperoleh hidup kekal dengan cara berbuat baik. Namun Yesus, yang tahu bahwa lelaki itu tidak akan pernah cukup baik untuk mencapai keselamatan, berkata, "Bagi manusia [keselamatan] itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah" (Markus 10:27).
Meski mengorbankan sesuatu tidak membuat seseorang menjadi baik, hal ini dapat mengingatkan kita bahwa tidak ada seorangpun yang baik, kecuali Allah (ayat 18). Hal ini penting untuk diingat, karena pengorbanan oleh Allah yang baik dan sempurna itulah yang telah membuka jalan keselamatan bagi kita.

'Ku b'rikan bagimu tubuhKu, darahKu, engkau pun 'Ku tebus, selamat jiwamu. Bagimu 'Ku b'ri hidupKu; apakah balasmu? Bagimu 'Ku b'ri hidupKu, apakah balasmu?

Yesus mengorbankan hidupNya agar kita dapat hidup.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 13 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Kehidupan yang Terbaik

Bacaan: Yohanes 1:35-42
"Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)" (Yohanes 1:41).

Beberapa bulan yang lalu, saya menempuh perjalanan pulang-pergi ke Florida. Dalam penerbangan pulang, saya terkejut sekaligus senang karena mendapatkan tempat duduk yang lega untuk meluruskan kaki. Rasanya enak sekali tak harus duduk di tempat sempit. Selain itu, tempat duduk di samping saya juga kosong! Alhasil, saya pun dapat tidur nyenyak.
Lalu saya teringat orang-orang yang ada di sekitar saya. Mereka duduk di tempat yang tidak senyaman saya. Saya mengajak beberapa orang yang saya kenal untuk bergabung dengan saya duduk di tempat yang lebih nyaman. Namun saya terkejut mereka semua tidak mau pindah karena berbagai alasan: mereka tidak mau repot-repot pindah atau sudah nyaman dengan tempat duduk mereka.
Sebagai pengikut Kristus, kita punya undangan yang lebih penting untuk dibagikan: Kita telah menerima hidup baru yang beriman kepada Yesus dan rindu supaya orang lain pun dapat mengalaminya. Ada yang memang ingin mengalaminya, tetapi ada pula yang tidak. Dalam Yohanes 1:40, kita membaca bahwa Andreas telah mengikut Yesus. Hal pertama yang Andreas lakukan adalah mencari saudaranya Simon dan mengundangnya untuk berjumpa pula dengan Yesus, san Mesias (ayat 41). Yesus mengundang mereka masuk dalam kehidupan baru yang indah dengan mengenal Dia dan menikmati janji-janjiNya: pengampunanNya (Roma 3:24), penyertaan yang senantiasa (Ibrani 13:5), pengharapan (Roma 15:13), damai sejahtera (Yohanes 14:27), dan masa depan kekal di dalam Dia (1 Tesalonika 4:17).
Maukah anda mengikut Dia? Yesus memberikan kehidupan yang terbaik.

Jika kita berserah kepada Kristus dan teguh mengikuti jalanNya, Dia akan memberi hidup yang puas, penuh makna setiap harinya.

Jika anda ingin seseorang mengalami karya Kristus, biarlah ia melihat karya Kristus di dalam diri anda.

Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 12 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Hari-hari yang Terbatas

Bacaan: Mazmur 90:7-17
"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12)

Setelah terkena dampak dari bencana angin ribut yang dahsyat, seorang pria berdiri di luar untuk melihat apa yang tersisa dari rumahnya. Di antara reruntuhan rumahnya itu tersebar perhiasan milik istrinya dan barang-barang koleksi berharga miliknya sendiri. Namun ia tidak berniat masuk ke rumahnya yang hampir runtuh itu hanya untuk mengumpulkan kembali barang-barang tersebut. "Usaha mencarinya tidak sepadan dengan resikonya," katanya.
Di masa krisis, kepekaan kita terhadap apa yang benar-benar penting  dalam hidup ini seringkali menjadi lebih kuat.
Dalam Mazmur 90, "Doa Musa", hamba Allah ini memandang kehidupan dari awal hingga akhirnya. Dengan mengingat betapa singkatnya masa hidup manusia (ayat 4-6) dan betapa nyatanya murka Allah yang pantas ditunjukkanNya (ayat 7-11), Musa memohon diberikan pengertian oleh Allah: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (ayat 12).
Musa melanjutkan Mazmur ini dengan memohon kasih Allah: "Sayangilah hamba-hambaMu. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setiaMu" (ayat 13-14). Lalu ia menutupnya dengan suatu doa untuk masa depan: "Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu" (ayat 17).
Hari-hari kita yang terbatas dan singkatnya masa hidup mengarahkan kita untuk menerima kasih Allah yang kekal dan, seperti Musa, untuk belajar memusatkan perhatian pada hal-hal yang terpenting.

Agunglah Allah yang kita sembah! Mulianya PutraNya yang kita puji! Cerahnya masa depan yang kita jelang - Hari-hari yang penuh kasih dan kekal.

Hari-hari kita yang terbatas mengarahkan kita pada kasih Allah yang kekal.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 11 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Monday, February 11, 2013

Diary 11 Februari 2013

Hari ini aktivitasku dimulai jam 6.45, saat aku benar-benar terbangun dan mempersiapkan segala sesuatunya. Sekitar satu jam kemudian, akupun tiba di kantor, dan memulai aktivitas rutin setiap pagi, yakni membaca daftar task yang harus dikerjakan hari ini, dan membagikannya kepada rekan-rekan setimku. Agak terkejut sewaktu melihat bahwa ada 19 task yang ditargetkan untuk selesai, belum lagi dengan adanya task tambahan di siang dan sore hari.
Akhirnya akupun bergegas mengerjakan satu demi satu task yang ada bersama dengan rekan-rekan setimku. Hingga siang hari, tidak terasa sudah sekitar 8 task yang aku selesaikan sendiri. Kecepatanku ini sayangnya tidak diimbangi oleh rekan-rekanku. Mereka baru menyelesaikan rata-rata satu task saja.
Apa boleh buat, sebagai PM akupun harus ngebut setelah makan siang agar bisa menyelesaikan sebanyak mungkin task yang ada dengan baik.
Hingga sore tiba, server dimana semua website di-host down dan akibatnya kami tidak dapat melanjutkan pekerjaan selama sekitar satu jam. Setelah satu jam berlalu, aku masih menyelesaikan sebuah task lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang dan melanjutkannya keesokan hari.
Dan pekerjaan kedua pun dimulai, sebuah pekerjaan yang cukup santai, tetapi dengan tanggung jawab yang besar. Sekitar satu hingga dua jam harus aku lalui di sini sambil mengistirahatkan pikiran yang begitu disibukkan dengan task sepanjang hari ini.
Yah, aku berharap supaya tidak lama lagi mendapatkan persetujuan dari Tuhan untuk menjadi seorang freelancer lagi seperti dulu, sebab aktivitas pekerjaanku saat ini sudah begitu menyita waktuku, dan aku sudah tidak nyaman dengan hal tersebut.
Yah, semoga saja tidak lama lagi.

Sunday, February 10, 2013

Harapan yang Tidak Mengecewakan

Malam ini, dalam ibadah youth bernuansa imlek di gereja, puji-pujian dan dekorasi dikemas dengan nuansa imlek. Para petugas pun dari usher yang bertugas di pintu masuk, para petugas mimbar, bahkan sebagian besar jemaat yang hadir mengenakan pakaian berwarna merah yang memberi kesan hadirnya nuansa imlek di dalam gereja.
Dalam khotbah malam ini pun beberapa kali disinggung mengenai perayaan imlek dari masa ke masa, khususnya di tahun ini. Dan tema khotbah malam ini pun sangat mengena bagi saya pribadi, karena di dalamnya tertera janji Allah bahwa pengharapan yang Ia berikan tidak akan pernah mengecewakan, karena ada meterai Allah, yakni Roh Kudus yang berdiam di dalam hidup setiap orang yang percaya kepadaNya (Roma 5:5).
Berulang kali ditekankan agar setiap jemaat yang hadir memiliki pengharapan yang benar, dan tidak melepaskan pengharapan itu dengan imbalan apapun, baik itu harta, jabatan, kedudukan, bahkan untuk apapun yang bisa ditawarkan oleh dunia ini. Karena pengharapan yang Tuhan berikan tidak hanya berlaku di dunia ini saja, melainkan terus berlanjut hingga kekekalan.
Semoga ini bisa menjadi perenungan untuk kita semua, milikilah pengharapan sejati di dalam Yesus Kristus, di dalam kematian dan kebangkitanNya, dan jangan pernah lepaskan pengharapan itu karena apapun juga.
Tuhan Yesus memberkati!

Sikap Hati Saat Berdoa

Pagi ini firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Moesarif Haryawan berbicara tentang sikap hati saat berdoa.
Umat Tuhan tentunya menyadari pentingnya arti doa bagi kehidupan setiap orang percaya, walaupun tidak semuanya giat dan tekun berdoa dalam hidupnya. Doa merupakan cara kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan, bahkan dikatakan bahwa Tuhan tidak jauh, Ia hanya sejauh doa.
Khotbah pagi ini dibuka dengan beberapa kisah di alkitab tentang tokoh-tokoh yang memiliki kehidupan doa yang luar biasa, seperti halnya raja daud dan yosafat. Mereka yang senantiasa menyerahkan seluruh perkaranya kepada Tuhan dan percaya bahwa hanya Tuhan yang paling mampu menolong mereka.
Dalam khotbah pagi ini ada beberapa poin penting yang saya tangkap, yaitu bahwa dalam berdoa, sikap hati kita sangat menentukan.
Berikut ini beberapa hal yang harus kita miliki dalam kehidupan doa kita tersebut:
1. Kerendahan hati
Orang yang sombong akan direndahkan, tetapi yang rendah hati akan ditinggikan. Tuhan berkenan pada doa yang dinaikkan dengan kerendahan hati.
2. Iman
Setiap orang yang berdoa harus percaya bahwa Allah sanggup menjawab doanya itu, seberapa sulit atau "mustahil" hal tersebut untuk terwujud.
3. Ketenangan hati
Dalam berdoa, kita harus menguasai diri kita sepenuhnya, dan datang kepada Allah dengan ketenangan dan fokus padaNya, bukan pada masalah kita ataupun pada hal-hal lainnya.
4. Pasrah akan kehendak Tuhan
Tidak jarang orang berdoa dan memaksakan kehendaknya kepada Tuhan, tetapi semestinya kita berdoa dan memaksakan kehendak Tuhan yang terjadi bukan kehendak kita.
5. Pengampunan
Sebelum kita datang untuk berdoa, kita harus bertanya terlebih dahulu pada hati kita, apakah kita masih menyimpan kesalahan orang lain di dalam hati kita. Jika ya, maka kita harus segera membereskannya, karena Tuhan tidak akan berkenan pada doa kita apabila masih ada kepahitan dalam hati kita.

Semoga bisa menjadi perenungan bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati!

Kota Tercinta

Pagi ini, jarang sekali aku datang benar-benar lebih awal dari biasanya. Saat aku tiba di gereja, baru ada beberapa orang saja. Dan segeralah aku menyalakan komputer LCD untuk melihat apakah komputer ini siap untuk digunakan, dan ternyata sejauh ini menurut pemantauanku, komputer ini siap untuk digunakan.
Akupun mempersiapkan schedule ibadah raya pertama, dan setelah siap, aku hendak memutar lagu rohani sembari jemaat menunggu dimulainya ibadah pagi ini. Sayangnya, sound komputer LCD tidak diaktifkan dari mixer sehingga aku tidak bisa memutar lagu dari komputer ini.
Saat melihat-lihat lagu yang ada, aku melihat sebuah lagu berjudul "Kota Tercinta." Sebuah lagu pujian yang menggambarkan kecintaan seseorang kepada Tuhan dan kota dimana ia bermukim, dan ia mendoakan agar kota itu disinari dengan terang kasih Tuhan. Sebuah pujian yang sederhana tetapi penuh makna. Mungkin sudah banyak orang yang hidup di kota jogja ini, akan tetapi saya tidak yakin kalau masih banyak yang ingat berdoa untuk kesejahteraan kota ini.
Ya Tuhan, aku berdoa supaya Engkau memberkati kota kami, memenuhinya dengan kasih dan lawatanMu, sehingga setiap orang bisa saling mengasihi satu dengan yang lain, dan nama Tuhan dipermuliakan atas kota kami tercinta ini.
Selamat hari minggu, saudara-saudaraku, dan selamat melayani Tuhan!
Tuhan Yesus memberkati!

Saturday, February 9, 2013

Api Yunani

Bacaan: Yakobus 3:1-12
"Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita.." (Yakobus 3:6).

Api Yunani adalah suatu larutan kimia yang digunakan oleh kekaisaran Romawi Timur dalam peperangan kuno melawan musuh-musuh mereka. Menurut salah satu sumber online, senjata kimia ini dikembangkan sekitar tahun 672 Masehi dan memiliki dampak yang sangat merusak, khususnya dalam pertempuran di laut, karena api ini dapat terbakar di air. Apa sebenarnya api Yunani ini? Komposisi kimia yang terkandung di dalamnya masih merupakan suatu misteri. Api Yunani merupakan suatu senjata militer yang begitu berharga sehingga formulanya dirahasiakan sedemikian ketat - hingga akhirnya hilang ditelan sejarah. Kini para peneliti masih berusaha meniru pembuatan formula kuno itu, tetapi sejauh ini belum berhasil.
Namun salah satu sumber kehancuran besar di antara orang percaya di dalam Kristus bukanlah suatu misteri. Yakobus memberitahukan kepada kita bahwa kerusakan hubungan kita dengan sesama seringkali bersumber dari suatu jenis api yang berbeda. Ia menuliskan, "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh." (Yakobus 3:6). Perkataan yang keras ini mengingatkan kita betapa besarnya kerusakan yang dapat timbul dari perkataan kita yang tak terkendali terhadap orang-orang di sekitar kita.
Daripada menciptakan suatu "api Yunani" berupa perkataan yang dapat menghancurkan hubungan dengan sesama, keluarga, dan gereja, marilah kita serahkan lidah kita di bawah kendali Roh Kudus dan menggunakan kata-kata kita untuk memuliakan Allah.

Tuhan, terkadang musuh terbesar kami adalah diri kami sendiri. Ampuni kami karena perkataan kami menyakiti saudara seiman kami, dan ajari kami untuk memakai kata-kata yang bijaksana, yang dapat menguatkan dan membangun hidup mereka bersamaMu.

Untuk mengekang lidah anda, serahkanlah kendali hati anda kepada Allah.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 10 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Diary 9 Februari 2013

Hari yang cukup melelahkan, sepulangnya dari wonosari, akupun tidak kuat lagi menahan rasa kantuk, dan membaringkan diri. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat aku terbangun, sudah lebih dari 2 jam aku tertidur sore ini. Perjalanan yang jauh turut menyumbang keletihan pada tubuhku.
Dan tidak lama setelah bangun, akupun melanjutkan kembali kegiatan malam ini, yakni berangkat ke gereja untuk membantu mempersiapkan komputer yang akan digunakan keesokan paginya.
Beberapa hal sudah berubah hari ini, entah apakah karena aku baru menyadarinya ataukah memang baru berubah hari ini, aku tidak tahu pasti.
Ya, segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti berubah, dan kita pun takkan luput dari yang namanya perubahan. Pertanyaan besarnya adalah "apakah kita siap akan perubahan?"
Jika kita bisa beradaptasi terhadap perubahan itu, kita pasti akan bertahan.
Hari ini telah menunjukkan padaku betapa pastinya kasih Allah, yaitu satu-satunya hal yang tidak pernah, dan tidak akan pernah berubah.

Sabtu Siang di Wonosari

Hari ini kembali aku memiliki jadwal untuk ke wonosari, melakukan pengecekan terhadap kesiapan kantor baru kami. Di tengah himpitan waktu, pembangunan dipercepat dengan menambah tenaga ahli bangunan sehingga diharapkan bangunan kantor baru akan dapat segere diselesaikan.
Sebab hingga saat ini, masih banyak hal yang belum selesai, padahal tenggat waktu habis kontrak kantor lama hanya tinggal seminggu lagi. Pak bos pun sudah tidak habis pikir mengapa waktu 6 bulan dengan sekian banyak biaya yang dikeluarkan masih belum cukup untuk menyelesaikan bangunan kantor baru ini.
Untungnya, jaringan LAN untuk kantor baru ini sudah dipersiapkan, hanya menunggu finishing dan menunggu pihak telkom dan speedy melakukan penyambungan jaringan telepon dan speedy.
Semoga saja dalam seminggu ke depan teman-teman di wonosari dapat merasakan bekerja di kantor baru yang lebih lapang dan nyaman (karena sudah terpasang AC). Yah, semoga saja.
Dan siang ini akan kuhabiskan di wonosari yang sedang panas-panasnya, cahaya mentari terik menyinari kota yang letaknya paling tinggi di propinsi yogyakarta.
Tapi tidak apalah, demi tambahan uang bulanan. ;)

Friday, February 8, 2013

Pengalihan oleh Allah

Bacaan: Matius 1:18-25
"Dan Yusuf menamakan Dia Yesus" (Matius 1:25).

Saya punya kecenderungan untuk terjebak pada rencana-rencana yang telah saya buat. Jadi, hal apapun yang mengalihkan saya dari kebiasaan dan rencana saya dapat membuat saya jengkel. Lebih parah dari itu, pengalihan dalam hidup terkadang menggoncang dan menyakitkan kita. Namun Allah, yang berkata, "Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu" (Yesaya 55:8), mengetahui bahwa Dia sering merasa perlu untuk mengalihkan perhatian kita supaya Dia dapat menggunakan hidup kita lebih maksimal daripada jika kita hanya mengikuti rencana awal kita.
Ingatlah kisah Yusuf. Allah mengalihkan jalan Yusuf ke Mesir untuk mempersiapkannya guna menyelamatkan bangsa pilihan Allah dari kelaparan. Atau ingatlah tentang Musa. Ia dialihkan dari gaya hidupnya yang mewah dalam istana Firaun untuk bertemu dengan Allah di padang belantara yang mempersiapkannya untuk memimpin umat Allah keluar menuju Tanah Perjanjian. Atau ingatlah tentang Yusuf dan Maria yang menerima kabar malaikat tentang suatu pengalihan jalan hidup yang terlebih utama dari semuanya. Maria akan mengandung seorang anak, dan anak itu akan dinamai "Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka" (Matius 1:21). Yusuf percaya akan tujuan agung yang Allah sediakan baginya, menerima pengalihan itu, dan dengan taat "menamakan Dia Yesus" (ayat 25). Kita semua tahu kelanjutan yang luar biasa dari kisah ini!
KIta dapat mempercayai rencana Allah yang agung karena Dia menggenapi karyaNya yang jauh lebih baik dalam seluruh sejarah kehidupan kita.

Tuhan, ajar kami untuk rela menyesuaikan rencana kami dengan rencanaMu. Kau merencanakan sesuatu yang lebih mulia bagi kami, lebih besar dari yang bisa kami bayangkan. Tolong kami untuk sabar menantikanMu bekerja dalam segala keadaan dalam hidup kami.

Biarkan Allah memimpin - atau mengalihkan - langkah anda.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 9 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Misteri Kebenaran

Bacaan: Yohanes 17:20-26
"Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihiNya" (Mazmur 116:15).

Terkadang ketika Allah yang tidak terbatas menyampaikan isi pikiranNya kepada manusia yang terbatas, hasilnya adalah sebuah misteri. Contohnya terlihat pada salah satu ayat terkemuka dalam kitab Mazmur yang cenderung lebih menimbulkan pertanyaan dibandingkan jawaban: "Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihiNya" (Mazmur 116:15).
Saya sulit menerimanya dan tidak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi. Saya memandang segala sesuatu dengan mata duniawi, dan saya merasa sulit untuk meliat apa yang "berharga" dari peristiwa meninggalnya putri kami akibat kecelakaan mobil di usianya yang ke-17 - atau ketika siapapun di antara kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi.
Namun kita mulai menguak misteri itu ketika memahami bahwa apa yang berharga di mata Tuhan tidaklah terbatas pada berkat-berkat duniawi. Ayat ini mengungkapkan cara pandang surgawi. Misalnya, saya memahami melalui Mazmur 139:26 bahwa kehadiran Melissa di surga telah dinantikan oleh Allah. Allah telah menantikan kedatangan Melissa di surga, dan ini merupakan suatu hal yang berharga di mata Allah. Pikirkan juga tentang hal ini: Bayangkan sukacita Bapa ketika Dia menyambut anak-anakNya pulang dan melihat sukacita mereka yang etrbesar ketika mereka akhirnya bertatap muka dengan Anak-Nya (lihat Yohanes 17:24).
Ketika kematian dialami para pengikut Kristus, Allah membuka tanganNya untuk menyambut mereka ke dalam hadiratNya. Bahkan di tengah lembah air mata, kita dapat melihat betapa berharganya hal itu di mata Allah.

Tuhan, ketika dukacita mencengkeram hati kami pada saat kami memikirkan kematian kekasih kami, ingatkan kami akan sukacita yang Kau rasakan ketika kekasih kami itu menikmati sukacita surga. Kiranya hal itu memberi kami pengharapan dan penghiburan.

Terbenamnya matahari di suatu tempat berarti terbitnya matahari di tempat lain.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 8 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

REAXML - A new Real Estate Apps


Recently, I had the joy of rebuilding the property exports for a new property listing system. This involved the tedious task of creating xmls for all the property data feeds to various real estate portals in Australia and across the World. With over 30 portals and some requiring a separate and unique xml specification, caused quite a headache for our developers.
There were 4 recurring issues which arose during this process and should be avoided by any new real estate application or real estate portal. These include; creating your own unique xml specification, requiring 3rd parties to sign confidentiality agreements, providing inadequate documentation and lastly, failure to provide upload confirmation reports.
  • Unique XML Specification – This has been a common mistake by new portals as they think they need to have their own unique xml feed specification. Although REA do not permit it, it is common knowledge that the REAXML is industry standard which is used/accepted by many existing portals (names withheld). Like any other developer we can set up an REAXML to a new portal in around 5 minutes. However, if a portal has their own unique XML then it could take days to write the XML and then days to test it.
  • Confidentiality Agreements – I’m bewildered why I’m required to sign a confidentiality agreement when all we are doing is sending an XML to a third party website. I can understand signing a Terms & Conditions for uploading agreement, but anything else is just a speed bump in the process to getting an XML in place.
  • Inadequate Documentation – Those portals who have their own XML specification need adequate and UP-TO-DATE documentation so developers can efficiently create the XML. Some portals do have excellent documentation while others have shocking documentation which is often out-of-date. IMPORTANT – Make sure your XML documentation is structured so it is easy to navigate and is up-to-date.
  • Upload Confirmation Reports – This is probably the most important aspect of running an efficient export/import system. These reports are sent back to the bulk loader after each XML has been parsed by the 3rd party portal. The reports highlight which properties have been added, updated or removed along with which properties had errors and what they are. Once again, REA have an excellent report system where they tell you the exact error for why a property was not added. As a further benefit, they also send a daily email to the real estate agency summing up the properties parsed for the day.
In my opinion the worst portals to export to are those controlled by the Real Estate Institutes. For some reason they believe having their own XML specification provides greater value to members. Most smaller portals accept the REAXML but only a few provide adequate upload confirmation reports which makes it hard to monitor the flow of properties.
For any new real applications it is important to reduce the barriers which allow them to receive property listings. There is no reason to “reinvent the wheel”, simply follow industry standard and use a system which is common practice.

Thursday, February 7, 2013

Diary 7 Februari 2013

Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya, aktifitas rutin setiap pagi menyapaku, hingga menghabiskan sebagian besar waktuku di kantor sebagai seorang project manager sebuah startup.
Hari pun berlalu dengan sangat cepat, seiring dengan selesainya task-task hari ini, dan jam 18.30 aku meninggalkan kantor dan menuju ke kantor keduaku, pekerjaan berikutnya telah menanti.
Akupun melalui satu jam di sana, dan kemudian melanjutkan lagi ke gereja untuk menginstal komputer gereja yang bermasalah. Puji Tuhan, semua masalah dapat dibereskan untuk saat ini, dan semoga saja tidak timbul masalah lain dalam waktu dekat.
Jam 9 malam beranjak dari gereja menuju ke rumah kontrakan seorang teman yang baru beberapa bulan menikah. Di sana kami mendapat jamuan makan malam yang sederhana namun nikmat.
Jam 11 malam beranjak pulang ke kost, dan dalam setengah jam akupun tiba di kost dalam kondisi letih, menghidupkan laptop, posting santapan harian untuk hari ini, dan diary ini juga.
Thanks God for today!

Terlantar

Bacaan: Kejadian 39:19-23
"Tetapi Tuhan menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setiaNya kepadanya." (ayat 21)

Menempuh perjalanan dengan bus dari Memphis di Tennessee ke St. Louis di Missouri biasanya memakan waktu sekitar 6 jam, kecuali jika sopir busnya menelantarkan anda di sebuah pompa bensin. Inilah yang dialami oleh 45 penumpang dari sebuah bus. Mereka harus menunggu selama 8 jam di tengah malam untuk mendapatkan seorang sopir pengganti, setelah sopir bus sebelumnya kabur dan menelantarkan mereka. Akibat penundaan ini, pasti mereka merasa frustrasi, khawatir atas apa yang akan terjadi, dan tidak sabar karena ingin segera diselamatkan.
Yusuf mungkin merasakan hal serupa ketika ia dipenjara karena suatu kejahatan yang tidak dilakukannya (Kejadian 39). Ia terlantar karena ia telah ditinggalkan dan dilupakan oleh orang-orang yang sebenarnya dapat menolongnya. Namun demikian, "Tuhan menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setiaNya kepadanya." (ayat 21). Pada akhirnya kepala penjara mengangkat Yusuf untuk mengawasi sesama tahanan di sana, dan apa saja yang dikerjakannya, "dibuat Tuhan berhasil" (ayat 23). Namun meski Allah menyertai dan memberkati Yusuf, ia tetap dipenjara selama bertahun-tahun.
Anda mungkin merasa terlantar di kamar suatu rumah sakit, di sebuah sel penjara, di suatu negeri yang jauh dari rumah, atau dalam kungkungan batin anda sendiri. Di manapun anda berada, atau berapa pun lamanya anda telah berada di sana, belas kasihan dan kebaikan Allah tetap dapat menolong anda. Karena Dia adalah Allah yang Mahakuasa (Keluaran 6:2) dan hadir di mana saja (Yeremia 23:23-24), DIa dapat melindungi, memulihkan, dan memelihara anda, bahkan ketika tampaknya tidak seorangpun dapat menolong anda.

Ya Allah, tolong kami untuk mengingat kehadiran dan kuasaMu bahkan ketika kami berada dalam keadaan yang sulit dalam hidup ini. Ingatkan kami untuk mencari wajahMu ketika tak seorangpun dapat menolong kami.

Allah hadir, bahkan ketika kita merasa Dia tidak peduli.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 7 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Wednesday, February 6, 2013

Melalui Perbuatan

Bacaan: Matius 23:23-31
"Anak-anakpun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya." (Amsal 20:11)

Suatu malam, ketika seorang pendeta sedang berjalan menuju gereja, seorang penjahat menodongkan senjata ke arahnya dan meminta uang atau nyawanya akan melayang. Ketika pendeta itu merogoh kantongnya untuk mengambil domper, penodong itu melihat kerah baju pendeta itu dan berkata, "Ternyata kau seorang pendeta. Baiklah, kau boleh pergi." Sang pendeta terkejut karena ia tak menduga penodong itu  akan mengasihaninya. Ia lalu menawarkan sebutir permen. Namun penodong itu berkata, "Tidak, terima kasih. Aku puasa makan permen pada masa pra-Paskah."
Sikap si penodong yang berpuasa makan permen pada masa pra-Paskah dianggapnya sebagai suatu pengorbanan, tetapi perbuatannya menodong orang lain menunjukkan watak pria itu yang sesungguhnya! Menurut penulis kitab amsal, perbuatan merupakan bukti terbaik dari watak seseorang. Jika seseorang berkata bahwa ia adalah orang yang saleh, itu hanya dapat dibuktikan dari perbuatan yang konsisten dengan perkataannya (Amsal 20:11). Ini juga berlaku bagi para pemimpin agama pada masa Yesus hidup. Dia menegur kaum Farisi dan menyingkap kemunafikan mereka, karena mereka mengaku hidup saleh, tetapi mengingkari sendiri pengakuan itu dengan hidup penuh dosa (Matius 23:13-36). Penampilan dan perkataan dapat menipu; tingkah laku merupakan cara terbaik untuk mengukur watal seseorang. Ini berlaku bagi kita semua.
Sebagai pengikut Yesus, kita menunjukkan kasih kita kepadaNya melalui perbuatan kita, bukan melalui perkataan semata. Kiranya pengabdian kita kepada Allah, karena kasihNya kepada kita, terlihat nyata dalam perbuatan kita sehari-hari.

Kata-kata rohani hanya menjadi sandungan jika tak didukung oleh sikap saleh kita. Sebaik dan sebagus apa pun keyakinan kita, tak berarti tanpa perbuatan yang menghormati Allah.

Tingkah laku adalah bukti terbaik dari watak seseorang.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 6 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati


Tuesday, February 5, 2013

Sebuah Pelajaran

Bacaan: Roma 12:14-21
"Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:21)

Pada suatu musim panas, ketika saya sedang berada di suatu acara reuni dengan teman-teman satu sekolah menengah atas, seseorang menepuk pundak saya dari belakang. Ketika membaca nama pada tanda pengenal wanita itu, pikiran saya dibawa ke masa lalu. Saya teringat pada secarik kertas yang dilipat sampai kecil dan diselipkan ke dalam loker saya. Di dalamnya tercantum kata-kata tajam berupa penolakan yang mempermalukan dan mematahkan semangat saya. Saya ingat pada waktu itu saya berpikir, kurang ajar sekali, orang itu harus diberi pelajaran! Meski saya merasa seakan mengalami kembali rasa sakit pada masa remaja itu, dengan susah payah saya memaksa diri untuk tersenyum seperlunya; dan kata-kata yang tidak tulus mulai keluar dari mulut saya.
Kami mulai bercakap-cakap. Ia mulai menceritakan kisah yang menyedihkan dari kehidupan keluarganya yang sulit dan pernikahannya yang tidak bahagia. Ketika mendengar semua itu, perkataan tentang "akar pahit" dari Ibrani 12:15 terbersit dalam pikiran saya. Itulah yang saya rasakan, pikir saya. Setelah bertahun-tahun berlalu, saya masih saja menyimpan akar pahit yang tersembunyi dalam diri saya dan terus membelit serta mencekik hati saya.
Lalu ayat ini muncul dalam pikiran saya: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:21)
Kami pun tidak hanya sekedar berbicara, tetapi juga menangis bersama. Tidak satupun di antara kami menyinggung kejadian di masa lalu itu. Allah mengajarkan kepada seseorang sebuah pelajaran pada siang itu - pelajaran tentang mengampuni dan membuang kepahitan. Allah mengajarkan semua itu kepada saya.

Tuhan, tolong aku untuk tidak menyimpan dendam dan kepahitan di hatiku. Dengan kuasa Roh Kudus, mampukan aku untuk membuang kepahitanku dan mengampuni mereka yang telah menyakitiku.

Dendam memenjarakan kita, tetapi pengampunan membebaskan kita.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 5 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati



Secukupnya


Bacaan: Matius 6:25-34
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33)

Saya senang menulis renungan untuk Our Daily Bread (Santapan Rohani). Namun harus saya akui, terkadang saya mengeluh kepada teman-teman saya tentang sulitnya menuangkan semua hal yang ingin saya katakan ke dalam sebuah renungan singkat. Andai saja saya boleh menggunakan lebih dari 220 kata.
Tahun ini, ketika mulai membaca kitab Matius sesuai dengan jadwal pembacaan Alkitab, saya menyadari sesuatu untuk pertama kalinya. Pada saat membaca tentang pencobaan Kristus di padang gurun (Matius 4:1-11), saya terkesima melihat betapa pendeknya bagian kisah itu. Matius memakai kurang dari 250 kata untuk menuliskan catatannya tentang salah satu kejadian terpenting dalam Kitab Suci. Lalu saya teringat beberapa bagian Alkitab lainnya, yang meski singkat, tetapi penuh makna: Mazmur 23 (90 kata) dan Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-13 (70 kata).
Yang jelas, saya tidak perlu menggunakan lebih banyak kata, saya hanya perlu menggunakan kata-kata dengan baik. Hal ini juga berlaku dalam aspek lain dari kehidupan kita seperti waktu, uang, dan ruang. Kitab Suci menegaskan bahwa Allah mencukupi segala kebutuhan orang-orang yang mencari dahulu kerajaanNya dan kebenaranNya (Matius 6:33). Pemazmur Daud mengatakan, "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orangNya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:10).
Jika hari ini anda berpikir, "Aku perlu lebih banyak dari apa yang kupunyai sekarang," coba pikirkanlah kemungkinan bahwa Allah telah memberikan kepada Anda segala sesuatu dengan "secukupnya."

Aku merasa tenang, Tuhan, dan merasa cukup, oleh anugerahMu, aku takkan bersedih atau cemas; Engkau memandu dan memeliharaku, inilah sukacitaku: kebutuhanku sekecil apapun selalu Kau ingat!

Orang yang kaya adalah orang yang merasa puas atas apa yang dimilikinya.

Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 4 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Sunday, February 3, 2013

Drupal Search Issue Fix with preg_replace error


Note: this change was needed due to a PCRE (PHP library) Update that cause Drupal search failing with preg_replace error

Overview

After a PHP update, the search function becomes malfunction, it return error message
"You must include at least one positive keyword with 3 characters or more"

It is required to update some configuration on the system.
Here are some links that can tell us about the issue:

Changes

To fix this issue, we must update the file using the update suggested here http://drupal.org/files/do-1446372-remove-surrogates.patch

1. Open this file:
 /home/o1.ftp/static/drupal-7.7/includes/unicode.inc
2. Go to line 76
3. Replace this code
'\x{D800}-\x{F8FF}\x{FB29}\x{FD3E}-\x{FD3F}\x{FDFC}-\x{FDFD}' .
with this one:
'\x{E000}-\x{F8FF}\x{FB29}\x{FD3E}-\x{FD3F}\x{FDFC}-\x{FDFD}' .

the difference is only the "D800" and "E000", and we need to change the "D800" to "E000"

Menikmati Rasa

Bacaan: Nehemia 8:1-13
"Maka pergilah semua orang itu untuk makan dan minum...dan berpesta ria..." (Nehemia 8:13).

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat ini, tidak banyak orang yang masih meluangkan waktu untuk menikmati makan bersama teman-teman dengan santai. Ada yang bahkan mengatakan bahwa di masa kini satu-satunya cara untuk menikmati tujuh jenis hidangan yang biasanya disajikan satu per satu adalah dengan mengemas semuanya dalam sebuah roti isi!
Setelah banyak orang Israel yang dibuang ke Babel kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci dan tembok kota, mereka berkumpul untuk mendengar Ezra membacakan Kitab Taurat yang diberikan Allah melalui Musa (Nehemia 8:2). Mereka mendengarkan firman Allah selama berjam-jam, sementara para guru memberi "keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti" (ayat 9).
Ketika rakyat itu menangis karena teringat pada kegagalan-kegagalan mereka, Ezra, bersama Nehemia sang kepada daerah, memberitahukan kepada mereka bahwa ini bukanlah saat untuk berdukacita, melainkan waktu untuk bersukacita. Bangsa itu diminta untuk menyiapkan suatu pesta dan merayakannya bersama dengan orang-orang yang berkekurangan, "sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu" (ayat 11). Lalu "pergilah semua orang itu untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala firman yang diberitahukan kepada mereka" (ayat 13).
Sajian rohani yang telah Allah siapkan bagi kita dalam firmanNya menjadi alasan bagi kita untuk bersukacita. Nikmatilah! Anda tidak akan menyesal!

Tuhan, beri kami rasa lapar dan dahaga untuk lebih mengenalMu yang hanya bisa dipuaskan dengan jalan menyediakan waktu bersamaMu dalam firmanMu. Tolong kami menikmati waktu itu, agar kami semakin bertumbuh dalam kasih kepadaMu setiap hari.

Kristus, Sang Roti Hidup, memuaskan rasa lapar rohani kita melalui firmanNya yang hidup.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 3 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Mata Baru

Bacaan: Efesus 1:15-21
"Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti... betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukanNya bagi orang-orang kudus." (Efesus 1:18)

Saya bertemu dengan seorang mahasiswi yang baru-baru ini mempercayakan hidupnya kepada Kristus. Ia menggambarkan awal perubahan hidupnya demikian: "Saat menerima Kristus sebagai Juruselamat, aku merasa seakan-akan Allah mengulurkan tanganNya dari surga dan memberikan sepasang mata baru bagiku. Kini aku bisa mengerti kebenaran rohani!"
Saya merasa terharu ketika mendengar bahwa perjumpaannya dengan Sang Juruselamat memberinya suatu pandangan rohani yang baru. Setiap orang dikaruniai pandangan rohani ketika mereka mempercayai Kristus untuk menjadi Juruselamat mereka. Akan tetapi, terkadang "kabut" datang dan menyelimuti serta mengaburkan pandangan rohani kita. Hal itu terjadi ketika kita menelantarkan hubungan kita dengan Allah.
Paulus sungguh-sungguh berdoa supaya orang-orang percaya memperoleh pandangan rohani, dan di dalam doa itu kita melihat betapa penting bagi kita untuk sepenuhnya menghargai semua yang telah diperbuat dan yang akan dilakukan Allah bagi kita melalui Kristus. Paulus berdoa supaya mata hati kita diterangi agar kita "mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukanNya bagi orang-orang kudus" (Efesus 1:18).
Setiap orang percaya telah diberi mata yang baru untuk dapat mengerti kebenaran rohani. Selama hati kita terus tertuju kepada Allah, Dia akan menolong kita untuk dapat melihat dengan mata rohani kita, semua yang telah Dia berikan kepada kita di dalam Kristus.

Dengan segenap jiwa aku merindukanMu hingga rupa Kristus menjadi nyata di dalamku; Kiranya kasih ilahi melapangkan hatiku, ya Tuhan, curahkan seluruh kepenuhanMu.

Dahulu aku buta, sekarang aku melihat!

Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 2 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Sikap Hati

Bacaan: Efesus 6:5-9
"Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah." (Efesus 6:6)

Saya suka menyaksikan keterampilan dan semangat para atlet ketika mereka bertanding dengan mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Hal itu menunjukkan kecintaan mereka terhadap olahraga itu sendiri. Sebaliknya, ketika suatu musim pertandingan yang panjang sudah akan berakhir dan sebuah tim tidak lagi mempunyai kesempatan untuk meraih juara atau lolos ke babak selanjutnya, terkadang para pemainnya bertanding seolah-olah hanya "mengikuti arus." Semangat mereka yang hilang dapat mengecewakan para penggemar yang telah membayar dengan harapan dapat menyaksikan pertandingan yang seru.
Semangat juga menjadi aspek utama dalam kehidupan pribadi kita. Sikap hati kita kepada Allah terlihat dari cara kita melayaniNya. Rasul Paulus mengatakan bahwa pelayanan kita mencakup cara kita melakukan pekerjaan sehari-hari. Dalam Efesus 6:6-7, kita membaca bagaimana seharusnya kita bersikap dalam bekerja: "Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia."
Bagi saya, kunci ayat ini terletak pada "dengan segenap hati." Saya mempunyai Bapa surgawi yang begitu mengasihi saya dan rela mengorbankan AnakNya bagi saya. Bagaimana mungkin saya tidak memberikan yang terbaik bagiNya? Semangat untuk hidup "dengan segenap hati" bagi Allah merupakan tanggapan kita yang terbaik kepada Dia yang telah berbuat begitu banyak bagi kita.

Bapa, setiap hari aku diberi kesempatan untuk menyatakan kasihku kepadaMu. Kiranya semangatku menjalani hidup, bekerja, melayani dan berhubungan dengan sesama menjadi ungkapan yang tepat dari rasa syukurku atas kasihMu bagiku. Dalam nama Yesus, amin.

Kasih Allah mendorong kita untuk hidup bagi Allah.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 1 Februari 2013.
Tuhan Yesus memberkati

Diselamatkan

Bacaan: 1 Korintus 15:1-4, 20-25
"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (Kisah Para Rasul 16:31)

Manuel Gonzales merupakan anggota tim penyelamat pertama yang berhasil menjangkau 33 orang  penambang yang terperangkap selama 69 hari dalam ledakan tambang di Chili pada tahun 2010. Dengan mempertaruhkan nyawanya, ia masuk lebih dari 600 meter ke bawah tanah untuk untuk mengangkat para pekerja yang terperangkap di dalam sana. Dunia menyaksikan dengan takjub ketika satu demi satu pekerja tambang diselamatkan untuk mendapatkan kebebasan.
Alkitab menceritakan suatu kisah penyelamatan yang jauh lebih mengagumkan. Karena ketidaktaatan Adam dan Hawa, seluruh manusia terperangkap dalam dosa (Kejadian 2:17; 3:6, 19; Roma 5:12). Karena tidak sanggup membebaskan diri sendiri, setiap manusia menghadapi kematian yang pasti - kematian secara fisik dan bersifat kekal. Akan tetapi Allah sudah menyediakan Juruselamat, yaitu Yesus Kristus, Anak Allah. Setiap orang yang menerima anugerah keselamatan cuma-cuma yang tersedia melalui kematian dan kebangkitanNya akan terbebas dari cengkeraman dosa yang berujung pada kematian (Roma 5:8-11; 10:9-11; Efesus 2:1-10).
Yesus Kristus adalah yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1 Korintus 15:20). Dialah yang pertama-tama bangkit dari antara orang mati dan hidup untuk selamanya. Demikianlah semua orang yang beriman kepada Kristus akan mendapat hidup yang kekal (Roma 8:11).
Apakah anda masih terperangkap dalam dosa? Terimalah anugerah keselamatan dari Yesus dan nikmatilah kemerdekaan hidup di dalam Kristus dan milikilah hidup kekal bersamaNya (Kisah Para Rasul 16:31); Efesus 2:1; Kolose 2:13).

Untuk Direnungkan
Apa yang menghalangi anda untuk berseru meminta kemerdekaan rohani dari Allah? Apa anda merasa terlalu berdosa dan tak layak untuk menerima anugerahNya? Baca dan renungkan Roma 3:23-26.

Melalui salibNya, Yesus menyelamatkan dan menebus kita.


Dikutip dari "Santapan Rohani - RBC Indonesia" edisi 31 Januari 2013.
Tuhan Yesus memberkati
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate