Pages - Menu

Wednesday, October 31, 2018

Harapan dalam Kegelapan

Sebab Aku akan membuat segar orang yang lelah, dan setiap orang yang merana akan Kubuat puas. —Yeremia 31:25
Harapan dalam Kegelapan
Menurut legenda, Qu Yuan adalah seorang pejabat pemerintah Tiongkok yang bijak dan patriotik. Ia hidup pada masa yang dikenal sebagai periode Perang Antarnegara (475-246 sm). Konon Qu Yuan berulang kali memperingatkan rajanya tentang ancaman besar yang akan menghancurkan negaranya, tetapi raja menolak nasihatnya. Akhirnya Qu Yuan diasingkan. Saat Qu Yuan mengetahui kejatuhan negaranya yang tercinta karena serangan musuh yang telah ia peringatkan sebelumnya, ia pun bunuh diri.
Kehidupan Qu Yuan mirip dengan beberapa aspek dari kehidupan Nabi Yeremia. Sang nabi juga melayani raja-raja yang mencemooh peringatannya, dan akhirnya negaranya dihancurkan. Namun, sementara Qu Yuan menyerah dalam keputusasaan, Nabi Yeremia justru menemukan pengharapan sejati. Apa bedanya?
Yeremia mengenal Tuhan yang memberikan satu-satunya harapan yang sejati. “Masih ada harapan untuk hari depanmu,” Allah meyakinkan sang nabi. “Anak-anak akan kembali ke daerah mereka” (Yer. 31:17). Meskipun Yerusalem hancur pada tahun 586 SM, kota itu kemudian berhasil dibangun kembali (lihat Neh. 6:15).
Pada masa-masa tertentu, kita semua akan mengalami situasi-situasi yang dapat membuat kita putus asa. Mungkin penyebabnya adalah hasil pemeriksaan medis yang buruk, pemutusan hubungan kerja secara mendadak, atau keretakan dalam keluarga. Namun, ketika kehidupan berusaha menghempaskan kita, kita masih bisa memandang kepada Allah, karena Dia masih berkuasa di atas tahta-Nya! Hari-hari kita ada di dalam tangan-Nya, dan Dia senantiasa menjaga kita dengan kasih-Nya. —Poh Fang Chia
Tuhan, penuhi aku dengan pengharapan dan ingatkanlah aku secara nyata hari ini bahwa segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan sesuai rencana dan waktu-Mu.
Dunia mengharapkan yang terbaik, tetapi Tuhan memberikan pengharapan yang terbaik. —John Wesley

Tuesday, October 30, 2018

Sepakat untuk Tak Setuju

Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera. —Roma 14:19
Sepakat untuk Tak Setuju
Saya ingat pernah mendengar ayah berbicara tentang sulitnya menjauhkan diri dari perdebatan yang tak berujung tentang perbedaan dalam penafsiran Alkitab. Ayah berkata bahwa alangkah baiknya apabila kedua pihak yang berdebat itu sepakat untuk tak setuju.
Namun, apakah kita benar-benar dapat mengesampingkan perbedaan yang tidak dapat disatukan ketika begitu banyak hal penting yang dipertaruhkan? Itulah salah satu pertanyaan yang dijawab Rasul Paulus di Perjanjian Baru dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Dalam tulisannya kepada para pembaca yang terhisap dalam beragam konflik sosial, politik, dan agama, Paulus menyarankan cara-cara untuk menemukan kesamaan sekalipun berada di tengah pertentangan yang sangat besar (14:5-6).
Menurut Paulus, sikap sepakat untuk tak setuju dapat dicapai apabila kita mengingat bahwa setiap dari kita akan memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan, tidak hanya untuk pendapat kita, tetapi juga untuk cara kita memperlakukan satu sama lain dalam perbedaan yang ada (ay.10).
Konflik yang terjadi sebenarnya dapat menjadi kesempatan untuk mengingat bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting daripada pemikiran kita sendiri—bahkan lebih penting daripada pemahaman kita tentang isi Kitab Suci. Kita semua akan ditanya apakah kita telah mengasihi satu sama lain, bahkan mengasihi musuh kita, sebagaimana Kristus telah mengasihi kita.
Setelah saya pikir-pikir, saya ingat bahwa ayah sering mengatakan bahwa meskipun sepakat untuk tak setuju itu baik, tetapi yang lebih penting adalah melakukannya dengan semangat mengasihi dan menghargai satu sama lain. —Mart DeHaan
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk bersikap sabar dan baik kepada orang-orang yang tidak sepenuhnya setuju dengan kami.
Dengan semangat kasih, kita dapat sepakat untuk tak setuju.

Monday, October 29, 2018

Senantiasa Mengucap Syukur

Apakah semua ikan di laut cukup untuk memberi makan kepada mereka? —Bilangan 11:22 BIS
Senantiasa Mengucap Syukur
Tahun-tahun yang melelahkan akibat penyakit kronis dan rasa frustrasi terhadap ruang gerak saya yang terbatas akhirnya memuncak. Ketidakpuasan yang saya rasakan membuat saya sering menuntut dan sulit mengucap syukur. Saya mulai mengeluh tentang perawatan yang diberikan suami. Saya mengomel tentang cara suami saya membersihkan rumah. Walaupun ia adalah koki terbaik yang pernah saya kenal, masih saja saya menggerutu tentang kurangnya variasi menu makanan kami. Ketika akhirnya ia mengatakan bahwa keluh-kesah saya melukai perasaannya, saya malah menjadi jengkel. Pikir saya, mana mungkin ia tahu apa yang saya alami? Namun akhirnya, Allah menolong saya untuk melihat segala kesalahan yang saya lakukan, dan saya pun meminta pengampunan dari suami dan Tuhan.
Harapan kita akan situasi yang berbeda dapat membuat kita berkeluh-kesah, bahkan menjadikan kita terlalu berpusat pada diri sendiri yang mengakibatkan hubungan kita dengan orang lain menjadi rusak. Bangsa Israel tidak asing lagi dengan masalah itu. Tampaknya mereka tidak pernah merasa puas dan selalu mengeluhkan pemeliharaan Allah (Kel. 17:1-3). Meskipun Tuhan memelihara umat-Nya di padang gurun dengan memberi mereka “hujan roti” dari langit (16:4), mereka mulai mendambakan makanan lain (Bil. 11:4). Alih-alih bersukacita atas mukjizat dari Allah yang diterima dari hari ke hari, bangsa Israel menghendaki yang lebih banyak, yang lebih baik, yang berbeda, atau bahkan yang dahulu pernah mereka miliki (ay.4-6). Bangsa Israel menumpahkan rasa frustrasi mereka kepada Musa (ay.10-14).
Mempercayai kebaikan dan kesetiaan Allah dapat menolong kita untuk senantiasa belajar mengucap syukur. Hari ini, marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala bentuk pemeliharaan-Nya yang tak terhingga banyaknya atas kita. —Xochitl Dixon
Pujian syukur memuaskan jiwa kita dan menyenangkan hati Allah.

Sunday, October 28, 2018

Kehendak-Mu, Bukan Kehendakku

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. —Amsal 3:5
Kehendak-Mu, Bukan Kehendakku
Kamil dan Joelle sangat terpukul ketika putri mereka yang berusia delapan tahun, Rima, didiagnosis mengidap penyakit leukemia langka. Penyakit itu menyebabkan radang otak dan stroke, dan Rima pun jatuh koma. Tim medis menyarankan Kamil dan Joelle untuk menyiapkan pemakaman bagi Rima, karena peluangnya untuk bertahan hidup kurang dari satu persen.
Kamil dan Joelle berdoa dan berpuasa untuk sebuah mukjizat. “Saat kami berdoa,” kata Kamil, “kami harus mempercayai Allah apa pun yang terjadi. Dan harus seperti Yesus—bukan kehendak-Ku, Bapa, tetapi kehendak-Mu yang terjadi.” “Namun, saya ingin sekali Allah menyembuhkan Rima!” jawab Joelle dengan jujur. “Benar! Dan kami harus memintanya!” lanjut Kamil. “Akan tetapi, Allah dimuliakan ketika kami menyerahkan diri kami kepada-Nya, meski itu sulit, karena itulah yang telah Yesus lakukan.”
Sebelum Yesus disalibkan, Dia berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42). Dengan berdoa, “ambilah cawan ini,” Yesus memohon untuk tidak disalibkan; tetapi Dia berserah kepada Bapa karena kasih.
Menyerahkan segala keinginan kita kepada Allah memang tidak mudah, dan hikmat-Nya bisa jadi sulit dimengerti dalam momen-momen yang sulit. Doa Kamil dan Joelle dijawab dengan cara yang menakjubkan—saat ini Rima adalah seorang gadis berusia lima belas tahun yang sehat walafiat.
Yesus mengerti setiap pergumulan manusia. Bahkan ketika permohonan-Nya tidak dikabulkan, demi kita, Yesus menunjukkan bagaimana kita dapat mempercayai Allah untuk memenuhi setiap hal yang kita butuhkan. —James Banks
Aku ingin hidup “total” bagi-Mu, ya Bapa. Aku percaya kepada kasih-Mu yang tak pernah berakhir dan kuserahkan diriku kepada-Mu sebagai hamba-Mu hari ini.
Allah selalu layak menerima penyerahan diri dan pujian kita.

Saturday, October 27, 2018

Kebaikan yang Tak Terduga

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. —Efesus 2:10
Kebaikan yang Tak Terduga
Teman saya sedang antre untuk membayar belanjaannya ketika pria di depannya berbalik dan memberinya kupon potongan harga sebesar £10 (sekitar Rp190.000). Karena kurang tidur, teman saya itu tiba-tiba menangis karena kebaikan pria itu; lalu mulai menertawakan dirinya sendiri karena tangisan tadi. Kebaikan yang tak terduga itu sungguh menyentuh hatinya dan memberinya pengharapan di tengah kelelahan yang dialaminya. Ia bersyukur untuk kebaikan Tuhan yang diteruskan kepadanya lewat orang lain.
Tema tentang memberi merupakan salah satu tema yang disinggung Paulus dalam suratnya kepada jemaat non-Yahudi di Efesus. Dia memanggil mereka untuk meninggalkan kehidupan lama dan menerapkan kehidupan yang baru, dengan mengatakan bahwa mereka sudah diselamatkan oleh kasih karunia. Ia menjelaskan bahwa dari kasih karunia keselamatan itu mengalirlah keinginan kita untuk “melakukan pekerjaan baik,” karena kita telah diciptakan menurut gambar Allah dan merupakan “buatan” tangan-Nya (2:10). Seperti pria di supermarket tadi, kita dapat menyebarkan kasih Allah melalui perilaku kita sehari-hari.
Tentu saja, membagikan anugerah Allah tidak perlu dengan memberikan materi; kita dapat menunjukkan kasih-Nya lewat banyak tindakan lainnya. Kita dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan seseorang yang berbicara dengan kita. Kita dapat menanyakan kabar seseorang yang telah melayani kita. Kita dapat berhenti sejenak untuk membantu seseorang yang membutuhkan. Sewaktu kita memberi kepada sesama, kita akan menerima sukacita sebagai balasannya (Kis. 20:35). —Amy Boucher Pye
Bapa terkasih, Engkau telah menciptakan kami menurut gambar-Mu, dan kami bersukacita dapat membagikan kasih dan hidup-Mu. Tolong kami agar melihat kesempatan-kesempatan untuk dapat memberi kepada orang lain hari ini.
Kita diciptakan untuk membagikan kasih Tuhan dengan meneruskan pemberian-Nya.

Friday, October 26, 2018

Kresendo Tertinggi

Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. —1 Yohanes 4:14
Kresendo Tertinggi
Saya diajar orangtua untuk menyukai semua jenis musik—dari musik country hingga musik klasik. Jadi jantung saya berdegup kencang ketika memasuki Moscow Conservatory, salah satu gedung konser terbaik di Rusia, untuk mendengar penampilan Simfoni Nasional Rusia. Ketika konduktor memimpin para musisi untuk melantunkan karya Tchaikovsky yang luar biasa, alunan musiknya berangsur-angsur meninggi hingga tiba pada kresendo tertinggi dengan kuat—itulah klimaks musikal yang amat mendalam dan dramatis. Itu bagaikan suatu momen magis sehingga penonton pun serentak berdiri memberikan pujian.
Kitab Suci juga bergerak menuju kresendo tertinggi dan terkuat dalam sejarah, yakni salib dan kebangkitan Yesus Kristus. Dalam momen-momen setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa di taman Eden, Allah berjanji bahwa seorang Penebus akan datang (Kej. 3:15), dan di sepanjang Perjanjian Lama, janji itu terus bergerak maju. Janji itu bergema dalam korban anak domba Paskah (Kel. 12:21), dalam harapan para nabi (1Ptr 1:10), dan dalam kerinduan dari umat Allah.
1 Yohanes 4:14 menegaskan puncak dari kisah Perjanjian Lama itu: “Kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” Apa yang dilakukan-Nya? Allah menggenapi janji penyelamatan-Nya atas dunia yang sudah hancur oleh dosa ini ketika Yesus mati dan bangkit kembali untuk mengampuni dan memulihkan kita kepada Sang Pencipta. Suatu hari nanti, Dia akan datang kembali dan memulihkan seluruh ciptaan-Nya.
Saat kita mengingat apa yang telah dilakukan Anak Allah bagi kita, kita pun merayakan kresendo tertinggi dari anugerah dan penyelamatan Allah bagi kita dan dunia-Nya—Yesus Kristus! —Bill Crowder
Ya Bapa, pengaruh dari kedatangan Anak-Mu ke dunia ini sungguh tiada tara. Aku bersyukur Dia telah datang untuk membebaskanku dan akan datang kembali untuk memulihkan dunia-Mu.
Rayakanlah Yesus, pemberian Allah yang terbesar bagi kita!

Thursday, October 25, 2018

Di Manakah Damai?

Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. —Roma 5:1
Di Manakah Damai?
“Masihkah kamu mengharapkan damai?” tanya seorang wartawan kepada penyanyi Bob Dylan pada tahun 1984.
“Takkan ada damai apa pun,” jawab Dylan. Respons itu menuai kritikan dari banyak pihak, tetapi tak bisa disangkal bahwa damai memang belum tercapai hingga saat ini.
Sekitar 600 tahun sebelum kedatangan Kristus, sebagian besar nabi meramalkan tercapainya kedamaian. Namun, tidak demikian dengan Yeremia, nabi Allah. Ia mengingatkan umat-Nya bahwa Allah telah berfirman, “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku” (Yer. 7:23). Namun, mereka berulang kali mengabaikan Tuhan dan perintah-perintah-Nya. Nabi-nabi palsu berkata, “Damai sejahtera! Damai sejahtera!” (8:11), tetapi Yeremia menubuatkan tibanya bencana. Yerusalem pun jatuh pada tahun 586 SM.
Kedamaian itu langka. Namun, di antara nubuat-nubuat yang mengenaskan dalam kitab Yeremia, kita menemukan Allah yang mengasihi tanpa henti. Tuhan berkata kepada umat-Nya yang memberontak, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal. . . . Aku akan membangun engkau kembali” (31:3-4).
Allah adalah Allah sumber kasih dan damai. Konflik muncul karena kita memberontak terhadap Dia. Dosa menghancurkan kedamaian dunia dan merampas kedamaian batin dari setiap kita. Yesus datang ke bumi ini untuk mendamaikan kita dengan Allah dan memberi kita kedamaian batin itu. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus,” tulis Rasul Paulus (Rm. 5:1). Sungguh suatu perkataan yang begitu sarat dengan pengharapan.
Baik kita tinggal di zona perang atau di lingkungan yang aman tenteram, Kristus mengundang kita untuk mengalami kedamaian-Nya. —Tim Gustafson
Allah tak bisa memberi kita sukacita dan damai di luar dari diri-Nya, karena hal itu memang tidak ada di luar sana. —C. S. Lewis

Wednesday, October 24, 2018

Takkan Dicengkeram

Karena tidak mungkin [Yesus] tetap berada dalam kuasa maut itu. —Kisah Para Rasul 2:24
Takkan Dicengkeram
Ketika berenang bersama teman-teman di Teluk Mexico, Caitlyn bertemu seekor hiu yang kemudian mencaplok kedua kakinya dan menarik tubuhnya. Caitlyn melawan dengan meninju hidung hiu tersebut. Ikan pemangsa itu pun melepaskan gigitannya dan akhirnya berenang menjauh. Ikan hiu itu tidak mampu untuk terus menahan Caitlyn dalam cengkeramannya, meskipun gigitan itu menimbulkan banyak luka dan membuat Caitlyn harus dirawat dengan lebih dari seratus jahitan.
Cerita itu mengingatkan saya pada fakta bahwa Yesus telah mengalahkan maut dengan telak dan menghabisi kuasanya yang mengintimidasi dan mengalahkan pengikut-pengikut-Nya. Petrus berkata, “Karena tidak mungkin [Yesus] tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kis. 2:24).
Petrus menyampaikan kata-kata tersebut kepada orang banyak di Yerusalem. Mungkin banyak di antara mereka adalah orang yang sama yang pernah berteriak, “Salibkan Dia!” untuk mendakwa Yesus (Mat. 27:22). Akibatnya, para tentara Romawi memakukan Yesus pada kayu salib dan menggantung-Nya di sana sampai mereka yakin bahwa Dia sudah mati. Tubuh Yesus lalu dibawa ke makam tempat Dia dikuburkan selama tiga hari sampai Allah membangkitkan-Nya. Setelah kebangkitan Yesus, Petrus dan murid-murid lainnya berbincang dan makan bersama-Nya, dan setelah empat puluh hari, mereka melihat-Nya naik ke surga (Kis. 1:9).
Kehidupan Yesus di bumi berakhir dengan penderitaan fisik dan siksaan batin, tetapi akhirnya kuasa Allah menaklukkan maut. Karena itu, maut—atau pergumulan apa pun—tak mampu mencengkeram kita selamanya. Suatu hari nanti, semua orang percaya akan mengalami kehidupan kekal yang utuh di dalam hadirat-Nya. Perhatian yang kita pusatkan pada masa depan itulah yang akan menolong kita mengalami kemerdekaan pada masa kini. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Tuhan Yesus, kemenangan-Mu atas kematian memberiku pengharapan! Aku memuji-Mu karena Engkau mati dan bangkit supaya aku beroleh hidup kekal.
Cengkeraman maut tidak akan sanggup mengalahkan kuasa Allah.

Tuesday, October 23, 2018

Memilih Jalan

Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya. —Matius 7:14
Memilih Jalan
Saya memiliki sebuah foto musim gugur yang indah. Di dalamnya tampak seorang anak muda menunggang kuda di pegunungan Colorado, dan rupanya ia sedang memikirkan jalan mana di depannya yang harus ia tempuh. Gambaran itu mengingatkan saya pada puisi karya Robert Frost “The Road Not Taken” (Jalan yang Tak Ditempuh). Dalam puisi itu, Frost sedang mempertimbangkan dua jalan di depannya. Kedua jalan itu sama-sama menarik hatinya, tetapi ia tidak yakin akan dapat kembali ke persimpangan jalan itu lagi, maka ia harus memilih salah satu jalan. Frost menulis, “Ada dua cabang jalan di hutan, dan saya—saya memilih jalan yang jarang dilalui, dan pilihan itulah yang mempengaruhi saya sampai sekarang.”
Dalam khotbah Yesus di bukit (Mat. 5-7), Tuhan berkata kepada para pendengar-Nya, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat. 7:13-14).
Di sepanjang perjalanan hidup ini, kita menghadapi banyak pilihan mengenai jalan mana yang harus ditempuh. Banyak jalan yang kelihatannya menjanjikan dan menarik, tetapi hanya ada satu jalan yang menuju pada kehidupan. Yesus memanggil kita untuk menapaki jalan pemuridan dan ketaatan pada firman Allah—untuk mengikut Dia daripada menapaki jalan yang dilewati banyak orang.
Ketika mempertimbangkan jalan yang ada di hadapan kita, kiranya Allah memberi kita hikmat dan keberanian untuk mengikuti jalan Nya—jalan kehidupan. Pilihan itu akan memberikan pengaruh terbesar bagi kita dan bagi semua orang yang kita kasihi! —David C. McCasland
Tuhan, saat kami menjalani hari ini, berilah kami mata yang dapat melihat jalan sempit yang menuju pada kehidupan dan juga keberanian untuk menapakinya.
Pilihlah jalan kehidupan bersama Yesus.

Monday, October 22, 2018

Harta di dalam Labu

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7
Harta di dalam Labu
Sebagai seorang ibu muda, saya bertekad mendokumentasikan kehidupan putri saya di tahun pertamanya. Saya memotretnya bulan demi bulan untuk melihat perubahan dan pertumbuhannya. Dalam salah satu foto favorit saya, ia duduk dengan ceria di dalam sebuah labu yang saya beli dari petani setempat dengan isi yang telah dikeluarkan. Ke dalam sebuah labu berukuran raksasa itulah, putri kesayangan saya masuk dan duduk. Labu itu akan layu dalam beberapa minggu, tetapi putri saya terus tumbuh dan berkembang.
Cara Paulus menggambarkan pengenalan akan kebenaran tentang Yesus mengingatkan saya pada foto anak saya itu. Paulus mengibaratkan pengenalan tentang Yesus di dalam hati kita itu sebagai harta yang tersimpan di dalam bejana tanah liat. Mengingat apa yang Yesus lakukan bagi kita akan memberikan keberanian dan kekuatan kepada kita untuk bertekun melewati pergumulan demi pergumulan sekalipun “dalam segala hal [kita] ditindas” (2Kor. 4:8). Karena kuasa Allah hadir dalam hidup kita, saat kita “dihempaskan, namun tidak binasa,” kita akan menunjukkan kehidupan Yesus secara nyata di dalam diri kita (ay.9-10).
Seperti labu yang layu, kita mungkin dibuat lelah dan tak berdaya oleh pencobaan-pencobaan yang kita hadapi. Namun, sukacita Yesus dalam diri kita dapat terus bertumbuh di tengah segala tantangan tersebut. Pengenalan kita akan Dia—akan kuasa-Nya yang terus bekerja di dalam diri kita—merupakan harta yang tersimpan dalam tubuh kita yang rapuh. Kita dapat bertumbuh saat menghadapi beragam kesulitan karena kuasa-Nya bekerja nyata dalam diri kita. —Kirsten Holmberg
Bapa terkasih, terima kasih karena Engkau telah menaruh kebenaran-Mu di dalam hati dan hidupku. Tolong aku untuk bertahan dalam menghadapi tantangan dengan kuasa-Mu. Kiranya orang lain melihat karya-Mu di hidupku dan mau mengenal-Mu.
Kuasa Allah terus bekerja di dalam diri kita.

Sunday, October 21, 2018

Tampil Apa Adanya

Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku. —1 Timotius 1:12
Tampil Apa Adanya
Selama bertahun-tahun, perasaan tak berharga dan malu atas masa lalu saya yang bobrok telah merusak hidup saya. Saya khawatir ada yang tahu tentang kebobrokan saya. Suatu hari saya mengundang seorang rohaniwan makan siang di rumah saya. Untuk itu, saya mencoba tampil sempurna. Saya memastikan rumah saya bersih total, menyiapkan hidangan berkelas, dan mengenakan pakaian yang terbaik.
Setelah itu, saya berusaha mematikan alat penyiram tanaman di halaman. Namun, saat memutar ujung pipa yang bocor, saya justru disembur air. Dengan rambut masih terbungkus handuk dan riasan wajah yang berlepotan, saya mengganti pakaian saya dengan celana santai dan kaos . . . dan bel pintu pun berbunyi. Dengan frustrasi, saya mengakui kelakuan dan motivasi saya pagi itu kepada tamu saya. Ia pun menceritakan pergumulannya menghadapi ketakutan dan ketidakpercayaan dirinya karena perasaan bersalahnya di masa lalu. Kami pun berdoa bersama. Dalam ketidaksempurnaan saya, saya merasa diterima.
Rasul Paulus menerima hidup barunya di dalam Kristus, tanpa menyangkali masa lalunya atau membiarkan hal itu menghalangi pelayanannya kepada Tuhan (1Tim. 1:12-14). Karena Paulus menyadari karya Yesus di kayu salib yang menyelamatkan dan mengubah hidupnya—sebagai yang paling berdosa dari semua pendosa—ia memuji Allah dan mendorong orang lain untuk memuliakan dan menaati-Nya juga (ay.15-17).
Saat menerima anugerah dan pengampunan Allah, kita dibebaskan dari masa lalu kita. Meski tercela, kita sangat dikasihi; karena itu kita tak perlu lagi malu untuk tampil apa adanya di saat kita melayani sesama dengan karunia yang diberikan Allah kepada kita. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih Engkau menghapus rasa malu dan ketidakpercayaan diri kami. Engkau mau memakai kami melayani-Mu, tanpa memandang hidup kami dahulu.
Allah menerima kita apa adanya, dan mengubah kita lewat pelayanan kasih kita kepada-Nya.

Saturday, October 20, 2018

Selalu Diterima

Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10
Selalu Diterima
Setelah bertahun-tahun bergumul dengan studinya, Angie akhirnya dipindahkan oleh orangtuanya dari sekolah dasarnya yang elite ke sekolah “normal”. Di dunia pendidikan Singapura yang sangat kompetitif, ketika prospek masa depan seseorang dapat meningkat dengan menjadi siswa di sekolah yang “bagus”, banyak orang akan melihat pengalaman Angie itu sebagai suatu kegagalan.
Orangtua Angie merasa kecewa, dan Angie sendiri juga merasa seolah-olah direndahkan. Namun, tidak lama setelah bergabung dengan sekolah barunya, anak perempuan berusia sembilan tahun itu baru menyadari apa artinya berada di suatu kelas yang isinya murid kebanyakan. “Mami, aku senang di sini,” katanya. “Aku bisa diterima teman-temanku!”
Sikapnya mengingatkan saya pada kegembiraan yang pasti dirasakan Zakhaeus, si pemungut cukai, ketika Yesus berencana menumpang di rumahnya (Luk. 19:5). Kristus mau makan bersama orang-orang yang menyadari keberdosaan dan ketidaklayakan mereka dalam menerima kasih karunia Allah (ay.10). Setelah menemukan kita—dan mengasihi kita—apa adanya, Yesus berjanji akan menyempurnakan kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kita akan disempurnakan semata-mata oleh anugerah-Nya.
Saya sendiri terus-menerus bergumul dalam perjalanan iman saya, karena menyadari bahwa hidup saya jauh dari rancangan Allah yang sempurna. Alangkah terhiburnya hati ini saat mengetahui bahwa kita selalu diterima oleh-Nya, karena Roh Kudus senantiasa bekerja untuk membentuk kita semakin serupa dengan Yesus. —Leslie Koh
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah mengasihiku apa adanya, dan menjadikanku sempurna melalui pengorbanan Anak-Mu. Ajarlah aku untuk bersedia diperbarui oleh-Mu setiap hari.
Kita tidak sempurna, tetapi kita dikasihi.

Friday, October 19, 2018

Bawa Perahu kamu

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. —Amsal 3:27
Bawa Perahu kamu
Pada tahun 2017, badai Harvey telah menyebabkan banjir besar di wilayah timur Texas. Guyuran hujan yang tiada henti telah membuat ribuan orang terjebak di dalam rumah mereka. Banyak warga sipil dari bagian lain di Texas atau wilayah lain di Amerika Serikat datang membawa perahu mereka guna membantu evakuasi para korban banjir. Karena bentuk pertolongan yang mereka berikan itu, mereka pun dijuluki “The Texas Navy” (Angkatan Laut Texas).
Tindakan orang-orang yang gagah berani dan murah hati itu mengingatkan kita pada dorongan yang tercantum dalam Amsal 3:27. Kita diperintahkan untuk menolong orang lain kapan pun kita sanggup melakukannya. Para warga sipil itu mempunyai kesanggupan untuk menolong para korban dengan perahu mereka, maka itulah yang mereka lakukan. Tindakan mereka menunjukkan adanya kerelaan untuk menggunakan sumber daya apa pun yang bisa mereka kerahkan demi kepentingan orang lain.
Mungkin kita tidak selalu merasa sanggup menjalankan tugas yang ada di depan kita; bahkan sering tak berdaya karena kita merasa tidak memiliki kecakapan, pengalaman, sumber daya, atau waktu untuk membantu orang lain. Perasaan itu membuat kita memandang rendah diri sendiri dan mengesampingkan apa yang sebenarnya kita miliki yang mungkin dapat membantu orang lain. The Texas Navy tidak dapat menghentikan luapan banjir atau mengatur bantuan pemerintah. Namun, mereka menggunakan apa yang mereka miliki dalam kesanggupan mereka—perahu mereka—untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan oleh sesama mereka. Kiranya kita semua rela membawa “perahu” kita—apa pun itu—untuk membantu orang-orang di sekitar kita menuju ke tempat yang lebih baik. —Kirsten Holmberg
Ya Tuhan, semua yang kumiliki berasal dari-Mu. Tolonglah aku agar selalu memakai apa yang telah Engkau berikan kepadaku untuk menolong sesamaku.
Allah memelihara umat-Nya melalui kebaikan hati umat-Nya.

Thursday, October 18, 2018

Duri yang Menusuk

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, . . . dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. —Yesaya 53:5
Duri yang Menusuk
Sebuah duri menusuk jari telunjuk saya dan membuatnya berdarah. Saya berteriak dan mengaduh, lalu menarik tangan saya dengan cepat. Namun, hal itu tidak seharusnya mengejutkan saya karena saya sedang memangkas semak berduri tanpa memakai sarung tangan.
Rasa sakit yang menjalar di jari saya—dan darah yang menetes—menandakan bahwa saya harus segera mencari pertolongan pertama. Sambil mencari perban, saya tiba-tiba teringat tentang Tuhan Yesus, Juruselamat saya. Para prajurit memaksa Yesus mengenakan mahkota duri di atas kepala-Nya (Yoh. 19:1-3). Jika satu duri saja sudah begitu menyakitkan seperti ini, entah sehebat apa penderitaan yang ditimbulkan oleh mahkota yang penuh duri itu? Itu pun hanya sebagian kecil dari penderitaan fisik yang dialami-Nya. Cambuk mencabik punggung-Nya. Paku menembus pergelangan tangan dan kaki-Nya. Tombak menusuk lambung-Nya.
Selain itu, Yesus juga menanggung penderitaan rohani. Yesaya 53:5 berkata, “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya.” Kata “keselamatan” yang disebutkan oleh Yesaya itu berbicara tentang pengampunan. Yesus memberi diri-Nya ditikam—dengan tombak, paku, dan mahkota duri—demi mendamaikan kita kepada Allah. Pengorbanan-Nya, yakni kerelaan-Nya untuk mati menggantikan kita, membuka jalan bagi kita untuk berhubungan kembali dengan Allah Bapa. Yesus melakukannya, seperti yang tertulis di Alkitab, bagimu, bagi saya. —Adam Holz
Bapa, aku tak bisa membayangkan besarnya derita yang harus dialami Anak-Mu demi menghapus dosaku. Terima kasih karena Engkau telah mengutus-Nya bagiku, untuk ditikam karena dosaku sehingga aku bisa menjalin kembali hubungan dengan-Mu.
Yesus memberi diri-Nya ditikam—dengan tombak, paku, dan mahkota duri—demi mendamaikan kita kepada Allah.

Wednesday, October 17, 2018

Doa dan Gergaji Listrik

Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini. —Nehemia 1:11
Doa dan Gergaji Listrik
Saya mengagumi semangat gagah berani bibi saya, Gladys, meskipun terkadang semangatnya itu membuat saya khawatir. Kekhawatiran saya muncul lewat kabar yang ia kirim melalui e-mail: “Kemarin aku baru saja menebang pohon walnut dengan gergaji listrik.”
Bagaimana saya tidak mengkhawatirkan bibi saya? Ia sudah berumur 76 tahun! Pohon itu tumbuh besar di halaman belakang rumahnya. Ketika akar pohon itu mulai menembus beton rumahnya, ia tahu pohon itu perlu disingkirkan. Namun, bibi saya juga berkata, “Aku selalu berdoa sebelum melakukan pekerjaan seperti itu.”
Ketika melayani sebagai juru minuman bagi raja Persia pada masa pembuangan Israel, Nehemia menerima kabar tentang umat Israel yang telah kembali ke Yerusalem. Ia mendengar tentang suatu masalah yang harus ditangani. “Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar” (Neh. 1:3). Tembok perlindungan yang roboh akan membuat mereka rawan terhadap serangan musuh. Nehemia berbelas kasihan kepada bangsanya dan ingin melibatkan diri dalam pembangunan tembok itu. Namun, pertama-tama ia memutuskan untuk berdoa, apalagi karena seorang raja baru telah mengirimkan surat untuk menghentikan upaya pembangunan di Yerusalem (lihat Ezra 4). Nehemia terlebih dahulu mendoakan bangsanya (Neh. 1:5-10), kemudian meminta pertolongan Allah sebelum mengajukan permintaan kepada raja untuk mengizinkannya pergi ke Yerusalem (ay.11).
Apakah doa menjadi respons pertamamu? Doa selalu menjadi cara terbaik untuk menghadapi tugas atau tantangan apa pun dalam hidup kita. —Linda Washington
Bapa, Roh Kudus-Mu mengingatkan kami untuk terlebih dahulu berdoa sebelum melakukan segala sesuatu. Hari ini, kami akan berdoa saat diingatkan oleh Roh-Mu.
Jadikan doa sebagai prioritas pertama, bukan pilihan terakhir.

Tuesday, October 16, 2018

Hal Buruk dan Hal Indah

Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! —Mazmur 57:9
Hal Buruk dan Hal Indah
Rasa takut dapat membuat kita tak berdaya. Kita tahu segala hal yang bisa membuat kita takut—segala sesuatu yang menyakiti kita di masa lalu, yang sangat mudah melukai kita kembali. Jadi terkadang kita terperangkap—tak bisa mengulang kembali, tetapi terlalu takut untuk melangkah maju. Aku tak bisa melakukannya. Aku tak cukup pintar, tak cukup kuat, tak cukup berani untuk maju, karena aku khawatir akan disakiti seperti itu lagi.
Saya tertarik dengan cara penulis Frederick Buechner mendeskripsikan anugerah Allah. Anugerah Allah itu seperti suara lembut yang berkata, “Inilah dunia. Hal buruk dan hal indah akan terjadi. Jangan takut. Aku menyertaimu.”
Hal buruk akan terjadi. Di dunia ini, manusia saling menyakiti, bahkan sering dengan cara yang sangat pedih. Seperti Daud sang pemazmur, kita membawa kenangan masa lalu saat kejahatan mengepung kita, saat orang lain melukai kita bagai “singa yang suka menerkam” (Mzm. 57:5), dan itu membuat kita berduka sehingga kita pun berseru kepada Allah (ay.2-3).
Namun, karena Allah menyertai kita, hal-hal indah juga dapat terjadi. Ketika datang kepada-Nya dengan membawa luka hati dan ketakutan kita, kita menyadari bahwa kita ditopang oleh kasih yang jauh lebih besar daripada kuasa apa pun yang hendak melukai kita (ay.2-4), kasih yang begitu besar hingga sampai ke langit (ay.11). Bahkan ketika bencana berkecamuk di sekitar kita, kasih-Nya menjadi tempat perlindungan yang aman bagi pemulihan hati kita (ay.2,8). Suatu hari nanti, kita akan dibangunkan untuk menerima keberanian yang baru, sehingga kita siap menyambut hari dengan menyanyikan syukur tentang kasih setia-Nya (ay.9-11). —Monica Brands
Penyembuh dan Penebus kami yang agung, terima kasih karena Engkau telah menyertai dan memulihkan kami dengan kasih setia-Mu yang tiada berkesudahan. Dalam kasih-Mu, tolonglah kami memperoleh keberanian untuk mengikuti-Mu dan membagikan kasih itu kepada orang-orang di sekitar kami.
Kasih dan keindahan Allah menjadikan kita berani.

Monday, October 15, 2018

Percaya kepada-Nya

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. —Mazmur 68:20
Percaya kepada-Nya
“Ayah, jangan lepaskan aku!”
“Tidak, Ayah akan memegangmu dengan erat. Ayah janji.”
Saat saya masih kecil dan takut pada air, ayah ingin saya tetap belajar berenang. Ia sengaja menarik saya menjauh dari tepi kolam renang menuju bagian kolam yang kedalamannya melebihi kepala saya. Di sana hanya ayah satu-satunya andalan saya. Lalu ayah mengajarkan agar saya tetap tenang dan berusaha mengapung.
Itu bukan hanya soal pelajaran berenang, melainkan juga latihan untuk percaya. Saya tahu ayah mengasihi saya dan takkan membiarkan saya dilukai secara sengaja, tetapi saya masih juga merasa takut. Biasanya saya merangkul erat leher ayah sampai ia berhasil meyakinkan saya bahwa takkan ada masalah. Pada akhirnya, kesabaran dan kebaikannya dapat menenangkan saya, dan saya pun mulai berenang. Namun, saya perlu mempercayai ayah terlebih dahulu.
Ketika saya merasa terbenam di dalam suatu kesulitan, saya sering mengingat kembali momen masa kecil tersebut. Semua itu menolong saya mengingat jaminan Tuhan kepada umat-Nya: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (Yes. 46:4).
Kita mungkin tidak selalu bisa merasakan tangan Allah yang menopang kita, tetapi Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Ketika kita percaya pada pemeliharaan dan janji-janji-Nya, Dia menolong kita untuk belajar mempercayai kesetiaan-Nya. Dia mengangkat kita keluar dari kekhawatiran untuk menemukan damai yang baru di dalam Dia. —James Banks
Abba, Bapa, aku memuji-Mu karena Engkau telah menopangku di sepanjang hidupku. Berilah aku iman untuk percaya bahwa Engkau selalu menyertaiku.
Allah membawa kita ke tempat-tempat baru yang penuh anugerah di saat kita percaya kepada-Nya.

Sunday, October 14, 2018

Bertanyalah kepada Binatang

Bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. —Ayub 12:7
Bertanyalah kepada Binatang
Dengan takjub, cucu-cucu kami melihat dari dekat seekor burung elang botak yang berhasil diselamatkan. Mereka bahkan diizinkan untuk membelainya. Ketika seorang pemandu kebun binatang menceritakan kehebatan burung yang bertengger pada lengannya itu, saya tercengang saat mengetahui bahwa lebar rentang sayap burung itu sekitar 2 m, tetapi karena tulang-tulangnya berongga, beratnya hanya sekitar 3,6 kg.
Makhluk itu mengingatkan saya pada seekor elang anggun yang pernah saya lihat melayang di atas danau, siap menukik dan mencengkeram mangsa dengan cakarnya. Saya juga membayangkan burung besar lainnya, yaitu bangau biru berkaki kurus yang diam berdiri di tepi danau dan sedang bersiap untuk menghunjamkan paruh panjangnya ke dalam air. Burung-burung itu hanyalah dua dari hampir 10.000 spesies burung yang dapat membawa kita merenungkan tentang Allah, Pencipta kita.
Di kitab Ayub, teman-teman Ayub sedang memperdebatkan alasan dari kesengsaraan yang dialami Ayub. Mereka bertanya, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah?” (lihat 11:5-9). Ayub menanggapi dengan menyatakan, “Bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan” (Ayb.12:7). Binatang menyatakan kebenaran bahwa Allah memang merancang, mempedulikan, dan mengendalikan ciptaan-Nya: “Di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia” (ay.10).
Karena Allah mempedulikan burung-burung (Mat. 6:26; 10:29), kita dapat yakin bahwa Dia mengasihi dan mempedulikanmu dan saya, bahkan di saat kita tidak memahami keadaan yang menimpa kita. Lihatlah sekelilingmu dan belajarlah tentang diri-Nya. —Alyson Kieda
Dunia milik Allah ini mengajarkan banyak hal tentang diri-Nya.

Saturday, October 13, 2018

Dia Memikul Beban Kita

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. —1 Petrus 2:24
Dia Memikul Beban Kita
Bukanlah hal yang luar biasa apabila kita menerima tagihan air atau listrik dalam jumlah besar. Namun, Kieran Healy dari Carolina Utara, Amerika Serikat, menerima tagihan pemakaian air yang sangat mengejutkan. Pemberitahuan tersebut menyebutkan bahwa ia berhutang 100 juta dolar! Karena yakin bahwa ia tidak menggunakan air sebanyak itu pada bulan sebelumnya, dengan setengah bercanda Healy menanyakan kepada pihak pengelola apakah ia boleh menyicil pembayarannya.
Berhutang 100 juta dolar memang bisa menjadi beban yang sangat berat, tetapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan beban yang harus kita pikul akibat dosa—beban yang nyata dan tak terukur besarnya. Jika kita mencoba untuk memikul beban dan konsekuensi dari dosa-dosa kita, pada akhirnya kita akan merasa kewalahan dan dipenuhi perasaan malu dan bersalah. Sesungguhnya kita tidak akan pernah sanggup memikul beban tersebut.
Kita memang tidak perlu memikul beban itu. Perkataan Petrus mengingatkan orang percaya bahwa hanya Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa, yang dapat memikul beban dosa kita dan konsekuensinya yang berat (1Ptr. 2:24). Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus sendirilah yang memikul semua kesalahan kita dan memberi kita pengampunan. Karena Yesus memikul seluruh beban dosa kita, kita tidak perlu menderita hukuman yang seharusnya kita terima.
Alih-alih hidup dalam ketakutan atau rasa bersalah, yaitu “cara hidup [kita] yang sia-sia yang [kita] warisi dari nenek moyang” kita (1:18 bis), kita dapat menikmati cara hidup yang baru dalam kasih dan kemerdekaan (1:22-23). —Marvin Williams
Tuhan, kadang beban rasa bersalah dan malu kami terasa begitu berat. Tolong kami menyerahkan masa lalu dan kepedihannya kepada Engkau agar kami merasakan damai-Mu, karena Engkau telah memikul semuanya dan memerdekakan kami.
Yesus memikul beban dosa kita supaya dapat memberi kita hidup baru.

Friday, October 12, 2018

Aman dalam Tangan-Nya

Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya. —Yesaya 40:11
Aman dalam Tangan-Nya
Cuaca di luar sangat tidak bersahabat, dan pemberitahuan yang saya terima di ponsel memperingatkan saya akan kemungkinan terjadinya banjir bandang. Banyak sekali kendaraan diparkir di lingkungan tempat tinggal saya selagi para orangtua dan yang lainnya menjemput anak-anak di tempat pemberhentian bus sekolah. Saat bus tiba, hujan pun sudah turun. Saat itulah saya mengamati seorang wanita keluar dari mobil dan mengambil payung dari bagasi. Ia menjemput seorang anak kecil dan memastikannya terlindungi dari hujan sampai mereka masuk kembali ke dalam mobil. Itulah gambaran yang indah akan pengasuhan dan perlindungan dari orangtua yang mengingatkan saya pada pemeliharaan Bapa Surgawi kita yang sempurna.
Nabi Yesaya menubuatkan jatuhnya hukuman atas ketidaktaatan yang disusul dengan hari-hari yang lebih baik bagi umat Allah (Yes. 40:1-8). Kabar baik yang diserukan dari atas gunung yang tinggi (ay.9) meyakinkan bangsa Israel akan dahsyatnya kehadiran Allah dan kelembutan perhatian-Nya. Kabar baiknya bagi mereka, dan kita: karena Allah kuat dan berkuasa, kita tidak perlu merasa takut (ay.9-10). Termasuk dalam kabar baik itu adalah berita tentang perlindungan Tuhan, seperti yang diberikan oleh gembala (ay.11): anak-anak domba yang rentan akan merasa aman di tangan Sang Gembala; induk-induk domba dituntun-Nya dengan lemah lembut.
Di dunia yang tidak selalu nyaman ini, gambaran akan rasa aman dan pemeliharaan ilahi itu mendorong kita untuk memandang dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan dengan segenap hati akan mendapatkan rasa aman dan kekuatan yang diperbarui di dalam Dia (ay.31). —Arthur Jackson
Ya Bapa, di dunia yang sering membuat kami merasa terancam ini, kami terhibur oleh pemeliharaan-Mu yang penuh kasih—di dalam dan melalui Tuhan kami, Yesus Kristus.
Alangkah bahagianya, Allah memelihara kita dengan sempurna!

Thursday, October 11, 2018

Kisah tentang Yesus

Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus. —Yohanes 21:25a
Kisah tentang Yesus
Saat masih kecil, saya senang mengunjungi perpustakaan kecil di wilayah saya. Suatu hari, sambil melihat-lihat rak-rak yang memuat buku-buku untuk dewasa-muda, saya sempat berpikir bahwa saya pasti bisa membaca setiap buku di sana. Antusiasme itu membuat saya lupa tentang satu fakta penting—buku-buku baru akan selalu rutin ditambahkan ke rak-rak itu. Sekuat apa pun usaha saya, tetap saja saya tidak akan dapat membaca buku-buku yang terlalu banyak itu.
Buku-buku baru akan terus terbit dan bertambah. Bisa jadi Rasul Yohanes akan dibuat takjub oleh tersedianya begitu banyak buku di masa kini karena lima kitab yang ditulisnya dalam Perjanjian Baru—Injil Yohanes; Kitab 1, 2, dan 3 Yohanes; dan Wahyu—ditulis tangan di atas gulungan-gulungan perkamen.
Yohanes menulis kitab-kitab itu karena didorong oleh Roh Kudus untuk memberikan catatan kepada umat Kristen sebagai saksi mata dari kehidupan dan pelayanan Yesus (1Yoh. 1:1-4). Namun, tulisan Yohanes itu hanyalah sebagian kecil dari apa yang Yesus lakukan dan ajarkan dalam pelayanan-Nya. Yohanes bahkan berkata bahwa apabila semua hal yang Yesus lakukan itu ditulis “maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25).
Pernyataan Yohanes terbukti benar sampai hari ini. Terlepas dari semua buku tentang Yesus yang pernah ditulis manusia, perpustakaan-perpustakaan di dunia ini tidak akan cukup besar untuk dapat menyimpan setiap kisah tentang kasih dan anugerah-Nya. Kita juga dapat bersyukur karena setiap dari kita mempunyai kisah kita sendiri tentang kasih Tuhan yang dapat kita bagikan dengan penuh sukacita untuk selama-lamanya (Mzm. 89:2)! —Lisa Samra
Dengan langit s’bagai kertas, batang pohon s’bagai pena, air laut s’bagai dawat, tiap orang penulisnya. Tak mungkin akan menuliskan kasih Allah yang besar, langit dari timur ke barat, tak akan memuatnya. —F. M. Lehman (kidung puji-pujian kristen, No. 27)
Kiranya hidupmu menceritakan tentang kasih dan anugerah Kristus.

Wednesday, October 10, 2018

Nyanyian untuk Regu Tembak

Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.” —Mazmur 116:10
Nyanyian untuk Regu Tembak
Dua pria yang dipidana karena mengedarkan obat terlarang telah menunggu waktu eksekusi mereka selama satu dekade. Di penjara itu, mereka mengenal kasih Allah bagi mereka di dalam Yesus Kristus dan hidup mereka pun diubahkan. Ketika tiba saatnya bagi mereka untuk berhadapan dengan regu tembak, mereka menghadapi para eksekutor itu sembari mengucapkan Doa Bapa Kami dan menyanyikan pujian “Amazing Grace” (Sangat Besar Anugerah-Nya). Karena iman mereka kepada Allah, oleh kekuatan Roh Kudus, mereka sanggup menghadapi kematian dengan keberanian yang luar biasa.
Mereka mengikuti teladan iman yang diberikan Juruselamat mereka, Yesus Kristus. Saat Yesus mengetahui kematian-Nya sudah dekat, Dia melewati malam itu dengan bernyanyi bersama sahabat-sahabat-Nya. Sungguh mengagumkan bagaimana Dia dapat bernyanyi dalam situasi seperti itu. Namun, yang lebih menakjubkan adalah apa yang dinyanyikan-Nya. Malam itu, Yesus dan sahabat-sahabat-Nya menikmati jamuan Paskah, yang selalu diakhiri dengan mengucapkan serangkaian mazmur yang dikenal sebagai Hallel, Mazmur 113-118. Menjelang kematian-Nya, Yesus bernyanyi tentang “tali-tali maut” yang melilit-Nya (Mzm. 116:3). Namun, Dia memuji kasih setia Allah (Mzm. 117:2) dan bersyukur kepada-Nya untuk keselamatan (Mzm. 118:14). Pastilah Mazmur itu telah menjadi penghiburan bagi Yesus pada malam sebelum Dia disalibkan.
Kepercayaan Yesus kepada Allah sangatlah besar. Jadi, meski kematian-Nya sudah dekat—kematian yang tidak layak diterima-Nya—Dia memilih untuk bernyanyi tentang kasih Allah. Karena Yesus, kita juga dapat memiliki keyakinan bahwa apa pun yang kita hadapi, Allah selalu menyertai kita. —Amy Peterson
Allah terkasih, teguhkanlah iman kami di dalam Engkau agar di saat kami menghadapi pencobaan, atau bahkan menjelang maut, kami dapat bernyanyi tentang kasih-Mu dengan penuh keyakinan.
Sungguh manis kabar anugerah Allah yang ajaib!

Tuesday, October 9, 2018

Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. —Roma 8:26
Lebih dari Sekadar Kata-Kata
Pada acara peresmian Alkitab yang telah berhasil diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa lokal di Afrika, kepala suku di wilayah itu menerima satu jilid Alkitab tersebut. Dengan penuh rasa syukur, ia mengangkat Alkitab itu dan berseru, ”Sekarang kita tahu bahwa Allah mengerti bahasa kita! Kini kita dapat membaca Alkitab dalam bahasa ibu kita.”
Bapa Surgawi kita mengerti apa pun bahasa yang kita gunakan. Namun, kita sering merasa tidak sanggup mengungkapkan kerinduan hati kita yang terdalam kepada-Nya. Rasul Paulus mendorong kita untuk tetap berdoa terlepas dari apa pun yang kita rasakan. Paulus berbicara tentang dunia yang menderita dan penderitaan kita sendiri: ”Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Rm. 8:22), dan ia membandingkan hal itu dengan karya Roh Kudus bagi kita. “Roh membantu kita dalam kelemahan kita,” tulisnya. “Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (ay.26).
Roh Kudus mengenal kita dengan intim. Dia tahu kerinduan kita, bahasa hati kita, dan kalimat-kalimat kita yang tidak terucapkan, dan Dia menolong kita untuk berkomunikasi dengan Allah. Roh-Nya membawa kita untuk diubahkan menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (ay.29).
Bapa Surgawi mengerti bahasa kita dan berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Di saat kita berpikir bahwa doa kita terlalu lemah atau terlalu pendek, Roh Kudus menolong kita dengan berbicara melalui kita kepada Bapa. Allah Bapa ingin kita berbicara dengan-Nya di dalam doa. —Lawrence Darmani
Tuhan, terima kasih karena Engkau memahami ungkapan dan kerinduan hatiku yang terdalam. Saat doaku lemah dan kering, topanglah diriku dengan Roh-Mu.
Ketika kita merasa terlalu lemah untuk berdoa, Roh Allah menolong kita dengan cara-cara yang tak pernah terbayangkan.

Monday, October 8, 2018

Bapa yang Bernyanyi

Tuhan Allahmu ada diantaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, . . . Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak sorai. —Zefanya 3:17
Bapa yang Bernyanyi
Sebelum saya dan istri mempunyai anak, tidak ada yang memberitahukan kami tentang pentingnya bernyanyi. Anak-anak kami sekarang berusia enam, delapan, dan sepuluh tahun. Ketika ketiganya masih lebih kecil, mereka sempat sulit tidur. Tiap malam, saya dan istri bergantian menidurkan mereka sambil berharap mereka akan segera terlelap. Ratusan jam saya habiskan untuk menggendong mereka, sambil menyanyikan lagu ninabobo yang (semoga) membuat mereka cepat tidur. Namun, ketika malam demi malam saya bernyanyi untuk mereka, sesuatu yang menakjubkan terjadi: rasa kasih sayang dan ikatan saya dengan anak-anak makin bertambah dalam lewat cara-cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Tahukah kamu, Alkitab juga menggambarkan Bapa kita di surga bernyanyi bagi anak-anak-Nya? Sama seperti saya menenangkan anak-anak dengan nyanyian, Nabi Zefanya memberikan gambaran tentang Bapa Surgawi yang bernyanyi gembira karena umat-Nya: “Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, . . . Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai” (3:17).
Sebagian besar nubuat Zefanya berisi peringatan akan datangnya penghakiman bagi mereka yang menolak Allah. Namun, itu bukanlah akhirnya. Zefanya tidak menutup dengan penghakiman, melainkan dengan gambaran tentang Allah yang tidak saja menyelamatkan umat-Nya dari semua penderitaan mereka (ay.19-20), tetapi juga yang mengasihi dengan lembut dan bersukacita karena mereka dengan sorak-sorai (ay.17).
Allah bukan hanya “pahlawan yang memberi kemenangan” dan memperbarui kita (ay.17), tetapi juga Bapa penuh kasih yang dengan lemah lembut melantunkan nyanyian kasih-Nya bagi kita. —Adam Holz
Bapa, tolong kami menyambut kasih-Mu dan “mendengar” lagu yang Kau nyanyikan.
Bapa Surgawi bergembira melihat anak-anak-Nya seperti orangtua yang bernyanyi untuk bayinya yang baru lahir.

Sunday, October 7, 2018

Sambutan yang Hangat

Marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. —Galatia 6:10
Sambutan yang Hangat
Dalam liburan kami baru-baru ini, saya dan istri mengunjungi sebuah kompleks olahraga yang terkenal. Pintu gerbangnya terbuka lebar, sehingga kami merasa tidak masalah masuk ke dalamnya. Kami sangat senang menyusuri lapangan dan mengagumi rumput lapangan yang terawat dengan baik. Namun, saat kami mau meninggalkan tempat itu, seseorang menegur kami dan mengatakan bahwa kami tidak seharusnya berada di tempat itu. Tiba-tiba saja kami diingatkan bahwa kami adalah orang luar—dan kami merasa tertolak.
Dalam liburan itu, kami juga beribadah di sebuah gereja. Pintunya juga terbuka dan kami pun masuk. Alangkah bedanya perlakuan yang kami terima! Banyak orang menyambut kami dengan hangat dan membuat kami betah. Kami meninggalkan gereja tersebut dengan perasaan disambut dan diterima.
Sayangnya tidak jarang orang luar yang datang ke sebuah gereja menangkap pesan yang memang tak terucapkan, tetapi jelas dirasakan, yakni, “kamu tak seharusnya berada di sini.” Namun, Kitab Suci memanggil kita untuk menunjukkan keramahtamahan kepada semua orang. Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, yang berarti menyambut mereka dalam hidup dan gereja kita (Mat. 22:39). Dalam kitab Ibrani, kita diingatkan untuk “memberi tumpangan kepada orang” (Ibr. 13:2). Lukas dan Paulus menginstruksikan kita untuk aktif mengasihi sesama yang mempunyai kebutuhan fisik dan sosial (Luk. 14:13-14; Rm. 12:13). Dan di antara komunitas orang percaya, kita memiliki tanggung jawab istimewa untuk menunjukkan kasih (Gal. 6:10).
Ketika kita menyambut semua orang dengan kasih Kristus, kita mencerminkan kasih dan belas kasihan Sang Juruselamat. —Dave Branon
Tuhan, bukalah hati kami untuk menyambut siapa saja yang masuk ke dalam hidup kami dengan menunjukkan kasih Kristus dan keramahtamahan kepada mereka. Mampukan kami untuk menolong mereka merasakan kehangatan kasih Yesus.
Ketika kita menunjukkan keramahtamahan kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang membagikan kebaikan Allah.

Saturday, October 6, 2018

Berkelip-kelip

[Bercahayalah] di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan. —Filipi 2:15-16
Berkelip-kelip
“Twinkle, Twinkle, Little Star” adalah lagu pengantar tidur berbahasa lnggris yang terkenal. Liriknya yang berasal dari puisi karya Jane Taylor mengungkapkan keajaiban alam semesta ciptaan Allah dengan bintang-bintang yang tergantung “tinggi di langit”. Bait berikutnya yang jarang dinyanyikan menyatakan bahwa bintang-bintang itu memberikan panduan: “Kerlipmu yang terang menyinari jalan pengembara dalam gelapnya malam.”
Dalam suratnya, Paulus menantang jemaat di Filipi untuk hidup benar dan suci sehingga mereka “bercahaya . . . seperti bintang-bintang di dunia” ketika memberitakan kabar baik kepada orang-orang di sekitar mereka (2:15-16). Mungkin kita bingung bagaimana kita dapat bercahaya seperti bintang. Kita sering merasa tak layak dan tidak yakin apakah “cahaya” kita cukup memberikan pengaruh. Namun, bintang hanya perlu memancarkan terang. Terang mengubah dunia kita, dan juga mengubah kita. Allah menciptakan terang ke dalam dunia kita (Kej. 1:3); dan melalui Yesus, Allah membawa terang rohani ke dalam hidup kita (Yoh. 1:1-4).
Kita yang memiliki terang Allah dalam diri kita harus bercahaya sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar kita melihat cahaya itu dan tertarik untuk mengenal sumbernya. Seperti bintang-bintang yang tergantung di langit malam, terang kita memberikan pengaruh karena natur dari terang itu sendiri: ia bercahaya! Saat kita bersinar, kita mengikuti perintah Paulus untuk “berpegang pada firman kehidupan” di tengah dunia yang kelam, dan kita menarik orang lain untuk datang kepada sumber pengharapan kita: Tuhan Yesus Kristus. —Elisa Morgan
Allah yang baik, kiranya sinar-Mu terpancar dari kerapuhan diri kami di saat kami terus memegang firman kehidupan dan memberitakannya kepada sesama.
Yesus membawa terang ke dalam hidup kita.

Friday, October 5, 2018

Menjadi Lebih Baik

Buatlah aku gembira lagi karena keselamatan daripada-Mu, berilah aku hati yang rela untuk taat kepada-Mu. —Mazmur 51:14 BIS
Menjadi Lebih Baik
Suatu waktu, sekelompok nelayan penangkap ikan salmon di Skotlandia sedang berkumpul di sebuah restoran setelah seharian memancing. Saat salah seorang dari mereka menggambarkan ikan yang ditangkapnya kepada teman-temannya, tangannya tidak sengaja menyenggol gelas kaca hingga terpental ke dinding. Gelas itu pun pecah dan meninggalkan noda pada permukaan dinding restoran yang dicat putih. Pria tersebut meminta maaf kepada pemilik restoran dan menawarkan diri untuk membayar kerusakan yang ada, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya terhadap dinding yang sudah ternoda. Tiba-tiba, seorang pria yang duduk tidak jauh dari situ berkata, “Jangan khawatir.” Ia berdiri, mengambil alat lukis dari sakunya, dan mulai menggambar sketsa di sekitar noda pada dinding itu. Lambat laun terlihatlah gambar kepala rusa yang anggun. Pria itu adalah Sir E. H. Landseer, seorang pelukis binatang yang terkemuka di Skotlandia.
Daud, raja Israel yang terkemuka dan penulis Mazmur 51, pernah mempermalukan dirinya dan bangsanya sendiri karena dosanya. Ia berzinah dengan istri salah seorang sahabatnya dan merekayasa kematian sahabatnya itu—dua perbuatan yang layak dihukum mati. Sepertinya hidupnya sudah hancur total. Namun, ia memohon kepada Allah: “Buatlah aku gembira lagi karena keselamatan daripada-Mu, berilah aku hati yang rela untuk taat kepada-Mu” (ay.14 BIS).
Seperti Daud, mungkin kita pernah melakukan perbuatan yang memalukan di masa lalu dan kenangan itu terus menghantui kita. Andai saja kita bisa mengulang atau memperbaiki peristiwa itu. Namun, yakinlah bahwa Allah yang beranugerah tidak hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga mengubah kita menjadi lebih baik. Dia tidak pernah menyia-nyiakan apa pun. —David H. Roper
Tuhan, aku gagal lagi. Ampunilah aku. Ubahlah aku. Kembalikanlah aku. Ajarilah aku untuk setia mengikuti jalan-Mu.
Allah memiliki mata yang Maha Melihat dan hati yang Maha Pengampun.

Thursday, October 4, 2018

Berani Berdiri Teguh

Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. —Efesus 6:12
Berani Berdiri Teguh
Teresa Prekerowa masih remaja ketika tentara Nazi menyerang tanah kelahirannya, Polandia, pada awal Perang Dunia ke-2. Masa itu merupakan permulaan terjadinya Holocaust, ketika para tetangganya yang berdarah Yahudi mulai menghilang karena ditangkap oleh Nazi. Teresa dan orang-orang sebangsanya lalu mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan tetangga-tetangga mereka dari ghetto di Warsawa dan pembersihan etnis yang dilakukan pihak Nazi. Kelak Teresa menjadi salah seorang sejarawan penting di bidang Perang Dunia dan Holocaust. Namun, keberaniannya untuk berdiri teguh menentang kejahatan besar itulah yang membuatnya mendapat penghormatan masuk dalam daftar Orang Baik dari Berbagai Bangsa yang tercatat pada Museum Peringatan Holocaust Yad Vashem di Yerusalem.
Keberanian memang dibutuhkan untuk menentang kejahatan. Kepada jemaat di Efesus, Paulus mengatakan, “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Jelaslah lawan yang tak terlihat itu tidak akan dapat dihadapi dengan kekuatan kita sendiri, karena itu Allah memberi kita sumber daya rohani yang diperlukan (“seluruh perlengkapan senjata Allah”) untuk memampukan kita “bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (ay.11).
Apa saja yang mungkin Allah mau kita lakukan dengan berani? Mungkin kita dipanggil untuk menentang suatu ketidakadilan atau ikut membantu seseorang yang terancam menjadi korban. Apa pun bentuk konflik yang mungkin terjadi, kita bisa memiliki keberanian—karena Allah kita telah menyediakan segala hal yang kita butuhkan untuk berdiri teguh bagi-Nya dan bertahan melawan kejahatan. —Bill Crowder
Allah memampukan kita untuk berdiri teguh bagi-Nya.

Wednesday, October 3, 2018

Meminta Pertolongan

Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” —Markus 10:51
Meminta Pertolongan
E-mail dari seorang teman tiba di penghujung hari yang melelahkan. Saya belum sempat membacanya karena saya sedang bekerja sampai larut malam untuk merawat anggota keluarga yang sakit parah. Saya benar-benar tak punya waktu untuk hal lain.
Namun, keesokan harinya, saya membuka e-mail itu dan membaca pertanyaan teman saya: “Apa yang kamu ingin kulakukan untukmu?” Karena merasa malu, saya ingin menjawab tidak ada. Kemudian saya menghela napas dan menenangkan diri. Saya merasa pertanyaannya itu tidak asing.
Benar saja! Yesus pernah mengajukan pertanyaan seperti itu saat Dia mendengar seorang pengemis buta berseru kepada-Nya di jalanan Yerikho. Yesus berhenti dan mengajukan pertanyaan serupa kepada Bartimeus, pengemis itu. Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (Mrk. 10:51).
Suatu pertanyaan yang menakjubkan, karena itu menunjukkan bahwa Yesus, Sang Penyembuh, rindu menolong kita. Namun sebelumnya, kita diundang untuk mengakui bahwa kita membutuhkan-Nya dan kemudian merendahkan diri kita. Bartimeus si pengemis memang berkebutuhan—miskin, sendirian, mungkin kelaparan, dan dikucilkan. Namun, karena menginginkan kehidupan yang baru, ia pun menyatakan kebutuhannya yang paling mendasar, “Rabuni, supaya aku dapat melihat.”
Bagi orang buta, itu adalah permohonan yang jujur. Yesus segera menyembuhkannya. Teman saya juga ingin saya jujur kepadanya. Jadi saya berjanji kepadanya untuk berdoa agar saya tahu kebutuhan saya yang paling mendasar dan, yang lebih penting, saya rela menceritakan kebutuhan saya kepadanya. Apa kebutuhan kamu yang paling mendasar saat ini? Bila ada seorang teman yang bertanya, katakanlah kepadanya. Lalu nyatakanlah permohonanmu itu kepada Allah. —Patricia Raybon
Tuhan, aku memerlukan-Mu. Aku ingin menceritakan isi hatiku kepada-Mu saat ini. Tolonglah agar hatiku juga rela menerima pertolongan dari sesamaku.
Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. —1 Petrus 5:5

Tuesday, October 2, 2018

Puntung Kayu Allah

Dosamu telah kubuang, engkau akan kuberi pakaian yang baru. —Zakharia 3:4 BIS
Puntung Kayu Allah
Setelah meraih anak yang terkecil, pelayan wanita yang panik itu bergegas keluar dari rumah yang sedang dilalap api. Ia masih berteriak keras memanggil Jacky, anak yang berumur lima tahun.
Namun, Jacky tidak mengikutinya. Di luar rumah, seorang warga cepat-cepat mengambil tindakan. Ia memanjat bahu temannya untuk menaiki jendela loteng, lalu ia menarik Jacky keluar dan membawanya ke tempat aman—persis sebelum atap rumah itu runtuh. “Jacky kecil seperti puntung kayu yang ditarik dari api,” kata Susanna, ibunya. “Puntung kayu” itu kemudian tumbuh menjadi pemberita Injil besar bernama John Wesley (1703-1791).
Susanna Wesley mengutip tulisan Zakharia, seorang nabi yang memberi kita wawasan berharga tentang karakter Allah. Saat menulis tentang penglihatan yang diterimanya, Zakharia membawa kita memasuki ruang pengadilan tempat Iblis berdiri di sebelah Imam Besar Yosua (3:1). Iblis mendakwa Yosua, tetapi Tuhan menghardik Iblis dan berkata, “Orang ini bagaikan puntung kayu yang ditarik dari nyala api” (ay.2 BIS). Kemudian Tuhan berkata kepada Yosua, “Dosamu telah kubuang, engkau akan kuberi pakaian yang baru” (ay.4 BIS).
Lalu Tuhan memberi Yosua tantangan—dan kesempatan: “Kalau engkau mematuhi hukum-hukum-Ku dan melakukan tugas-tugas yang Kuberikan kepadamu, maka untuk seterusnya engkau boleh menjadi pemimpin di dalam Rumah-Ku dan mengurus pelatarannya” (ay.7 BIS).
Sungguh indah gambaran anugerah yang kita terima dari Allah melalui iman kita kepada Yesus! Dia menarik kita dari api neraka, membersihkan kita, dan berkarya dalam diri kita sembari kita mengikuti tuntunan Roh-Nya. Kita pun dapat disebut sebagai puntung kayu yang ditarik dari api oleh Allah. —Tim Gustafson
Bapa, terima kasih karena Engkau menyelamatkan kami dan mendamaikan kami dengan-Mu. Kami mohon tuntunan Roh-Mu saat kami melayani-Mu hari ini.
Allah menyelamatkan kita karena Dia mengasihi kita; lalu Dia memperlengkapi kita untuk membagikan kasih-Nya kepada sesama.

Monday, October 1, 2018

Bagi Sahabat-Sahabat Kita

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. —Yohanes 15:12
Bagi Sahabat-Sahabat Kita
Dalam novel Wuthering Heights karya Emily Bronte, seorang tokoh pemarah yang sering mengutip ayat Alkitab untuk mengkritik orang lain digambarkan seperti “orang Farisi yang merasa paling benar, yang selalu menyelidiki Alkitab untuk mengumpulkan janji-janji di dalamnya bagi dirinya sendiri, tetapi melontarkan kutuk kepada orang-orang di sekitarnya.”
Penggambaran yang kritis itu mungkin mengingatkan kita pada orang-orang tertentu. Namun, bukankah kita semua juga bisa bersikap seperti tokoh itu? Bukankah kita cenderung cepat menghakimi kegagalan orang lain, tetapi berusaha membenarkan kegagalan kita sendiri?
Dalam Kitab Suci, ada tokoh-tokoh luar biasa yang bertindak sebaliknya. Mereka rela melepaskan janji-janji Allah bagi mereka, bahkan rela dikutuk demi keselamatan orang lain. Contohnya, Musa berkata bahwa lebih baik namanya dihapus dari kitab yang telah ditulis Allah daripada melihat orang Israel tidak diampuni (Kel. 32:32). Atau Paulus, yang berkata bahwa ia rela “terkutuk dan terpisah dari Kristus” jika itu dapat membuat bangsanya mengenal Kristus (Rm. 9:3).
Berbeda dari kecenderungan kita yang suka membenarkan diri sendiri, Kitab Suci menyoroti orang-orang yang mengasihi sesamanya lebih daripada diri mereka sendiri. Pada puncaknya, kasih seperti itu membawa kita kepada Yesus, yang mengajarkan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Bahkan sebelum kita mengenal-Nya, Yesus mengasihi kita “sampai kepada kesudahannya” (Yoh. 13:1)—dengan memilih kematian agar kita dapat menerima kehidupan.
Kini kita diundang menjadi anggota keluarga Allah, untuk mengasihi dan dikasihi dengan kasih itu (Yoh. 15:9-12). Saat kita membagikan keajaiban kasih Kristus kepada sesama, dunia akan melihat Dia. —Monica Brands
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menunjukkan kepada kami apa artinya mengasihi. Tolonglah kami untuk mengasihi seturut dengan teladan-Mu.
Bila kita mengasihi Kristus, kita juga akan mengasihi sesama.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate