Pages - Menu

Wednesday, May 31, 2017

Indahnya Kehancuran

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur. —Mazmur 51:19
Indahnya Kehancuran
Kintsugi merupakan seni memperbaiki tembikar hancur yang berasal dari Jepang dan telah berusia ratusan tahun. Serbuk emas yang dicampur dengan resin digunakan untuk menyambung patahan keramik atau menambal retakan hingga menghasilkan suatu perpaduan yang indah. Alih-alih menyembunyikan perbaikannya, seni tersebut justru menonjolkan sisi indah dari suatu kehancuran.
Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah juga memandang kehancuran kita sebagai sesuatu yang bernilai, ketika kita tulus mengakui dosa yang telah kita lakukan. Setelah Daud berzinah dengan Batsyeba dan merancang kematian suaminya, ia ditegur oleh Nabi Natan dan kemudian bertobat. Doa Daud setelah pertobatannya memberikan kepada kita pengertian tentang apa yang dirindukan Allah ketika kita berdosa: “Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mzm. 51:18-19).
Ketika kita menyesal dan hati kita hancur karena dosa, Allah akan memulihkannya dengan pengampunan tak ternilai yang dikaruniakan oleh Juruselamat kita di kayu salib. Dengan penuh kasih, Dia menerima kita ketika kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Hubungan kita dengan-Nya pun dipulihkan kembali.
Alangkah murah hatinya Allah! Dengan mengingat kerinduan-Nya akan hati yang hancur dan keindahan kebaikan-Nya yang luar biasa, marilah hari ini kita berdoa dengan sebuah doa lainnya dari Kitab Suci: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). —James Banks
Bapa yang penuh kasih, aku ingin membuat-Mu bersukacita dengan merendahkan diri dan bertobat hari ini.
Dukacita ilahi atas dosa akan membawa kita kepada sukacita.

Tuesday, May 30, 2017

Belas Kasihan

Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. —Lukas 18:13
Belas Kasihan
Ketika saya mengeluhkan keputusan seorang teman yang membawanya semakin jatuh ke dalam dosa dan dampak dari perbuatannya itu terhadap saya, seorang wanita yang setiap Minggu berdoa bersama saya meletakkan tangannya di atas tangan saya. Ia berkata, “Mari berdoa untuk kita semua.”
Saya terkejut, “Kita semua?”
“Ya,” jawabnya. “Bukankah kamu yang selalu berkata bahwa Yesuslah yang menetapkan standar kekudusan, dan karena itu kita tidak seharusnya membandingkan dosa kita dengan dosa orang lain?”
“Ya, kamu benar,” kata saya. “Sikapku yang menghakiminya dan kesombongan rohaniku tidak lebih baik atau lebih buruk dari dosanya.” “Lalu, dengan membicarakan temanmu, kita telah bergosip. Jadi—”
“Kita telah berdosa.” Saya pun menundukkan kepala. “Silakan, berdoalah untuk kita semua.”
Dalam Lukas 18, Yesus menceritakan perumpamaan tentang dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa dengan cara yang sangat berbeda (ay.9-14). Seperti orang Farisi itu, kita bisa terjebak untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita meninggikan diri (ay.11-12) dan menjalani hidup seolah-olah kita berhak menghakimi orang lain dan merasa bertanggung jawab untuk mengubah mereka.
Namun, ketika kita menjadikan Yesus sebagai teladan untuk hidup kudus dan mengalami kebaikan-Nya secara pribadi, sama seperti si pemungut cukai, kita pun menyadari bahwa kita sangat membutuhkan anugerah Allah (ay.13). Pada saat kita mengalami belas kasihan Tuhan dan pengampunan-Nya secara pribadi, kita akan diubahkan selamanya. Kita juga akan dimampukan untuk lebih menerima dan menunjukkan belas kasihan kepada orang lain daripada menghakimi mereka. —Xochitl Dixon
Tuhan, jagalah kami agar tidak terjebak untuk membandingkan diri kami dengan orang lain. Ubahlah dan bentuklah kami semakin serupa diri-Mu.
Ketika kita menyadari betapa kita sangat membutuhkan belas kasihan, kita akan lebih siap menunjukkan belas kasihan kepada orang lain.

Monday, May 29, 2017

Pengabdian Sepenuh Hati

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. —Matius 6:1
Pengabdian Sepenuh Hati
Saya selalu terkesan akan kesederhanaan yang anggun dan khidmat dari upacara Pertukaran Prajurit Penjaga di Makam Pahlawan Tak Dikenal di Taman Makam Nasional Arlington. Acara yang dikoreografi dengan saksama itu merupakan penghormatan bagi para tentara yang namanya—dan pengorbanannya—“hanya dikenal oleh Allah”. Yang sama mengesankannya adalah momen-momen di saat tidak ada orang yang menyaksikan mereka: para prajurit itu tetap melangkah bolak-balik dengan teratur, jam demi jam, hari demi hari, bahkan dalam cuaca yang paling buruk sekalipun.
Ketika Badai Isabel sedang mengancam Washington, DC, pada September 2003, para penjaga dihimbau untuk mencari perlindungan. Seperti dapat diduga, para penjaga itu menolak melakukannya. Tanpa memikirkan kepentingan mereka sendiri, mereka tetap berjaga bahkan di tengah ancaman badai untuk menghormati rekan-rekan mereka yang telah gugur.
Saya percaya, dasar dari pengajaran Yesus dalam Matius 6:1-6 adalah kerinduan-Nya bagi kita untuk hidup dengan pengabdian yang tanpa pamrih dan tiada henti kepada-Nya. Alkitab memanggil kita untuk berbuat baik dan menjalani hidup dalam kekudusan, tetapi itu haruslah dalam penyembahan dan ketaatan (ay.4-6), bukan tindakan yang dibuat-buat untuk meninggikan diri (ay.2). Rasul Paulus mendorong pengabdian seumur hidup ini ketika ia menasihatkan kita untuk menyerahkan tubuh kita sebagai “persembahan yang hidup” (Rm. 12:1).
Baik sedang seorang diri atau ada di depan umum, kiranya kami dapat menunjukkan pengabdian dan komitmen kami yang sepenuh hati kepada-Mu, Tuhan. —Randy Kilgore
Berilah aku kekuatan hari ini, ya Tuhan, untuk bertekun, dan untuk memuliakan nama-Mu di mana pun aku melayani. Aku rindu menyerahkan diriku dalam pengabdian yang tanpa pamrih karena Engkau mengasihiku.
Semakin kita melayani Kristus, semakin enggan kita melayani diri sendiri.

Sunday, May 28, 2017

Tak Seekor Burung Pun

Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya. —Mazmur 116:15
Tak Seekor Burung Pun
Di sepanjang hidupnya, ibu saya adalah seorang wanita yang sangat menjaga martabat dan perilakunya. Namun, kini ia terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit karena termakan usia. Pergulatan Ibu untuk bernapas dan kondisi fisiknya yang semakin menurun terasa sangat berlawanan dengan cerahnya suasana musim semi yang terlihat dari jendela kamar rumah sakit.
Meski secara emosional kami telah siap, tetap saja kami tak mampu menghadapi kenyataan dari perpisahan yang ada di depan mata. Kematian itu sungguh sebuah penghinaan! pikir saya.
Saya pun mengalihkan pandangan ke tempat pakan burung yang ada di luar jendela. Seekor burung terbang mendekati tempat itu untuk mematuk biji-bijian yang tersedia. Langsung terlintas di benak saya suatu frasa yang tidak asing lagi, “Seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat. 10:29). Yesus memang mengatakannya kepada murid-murid-Nya ketika Dia mengutus mereka untuk melayani di Yudea, tetapi prinsip itu juga berlaku bagi kita semua. “Kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit,” kata Yesus kepada mereka (ay.31).
Ibu saya bergerak-gerak dan membuka matanya. Ketika ingatannya kembali ke masa kanak-kanaknya, beliau mengucapkan sebuah istilah dalam bahasa Belanda untuk mengungkapkan kasih kepada ibunya dan menyatakan, “Muti sudah tiada.”
“Ya,” ujar istri saya. “Ia sudah bersama Yesus sekarang.” Masih tidak yakin, Ibu melanjutkan: “Joyce dan Jim?” Ia bertanya tentang saudara perempuan dan laki-lakinya. “Ya, mereka juga sudah bersama Yesus,” jawab istri saya. “Kita juga akan segera bersama mereka.”
“Aku sudah tak sabar lagi,” kata Ibu dengan lirih. —Tim Gustafson
Bapa Surgawi, hidup ini kadang terasa berat dan menyakitkan. Namun, Engkau selalu menyertai kami, mengasihi kami, menjaga kami, memegang kami! Dan Engkau berjanji takkan pernah meninggalkan dan menelantarkan kami.
Kematian adalah kegelapan terakhir sebelum terbitnya fajar surga.

Saturday, May 27, 2017

Disfungsi

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. —Roma 3:23
Disfungsi
Kata disfungsi sering digunakan untuk menjelaskan tentang keadaan dari individu, keluarga, hubungan, organisasi, bahkan pemerintah. Berfungsi berarti berjalan sesuai aturan, sementara disfungsi memiliki arti yang berlawanan—rusak, tidak berjalan seharusnya, tidak dapat mengerjakan apa yang menjadi tujuan pembuatannya.
Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus mengawalinya dengan menggambarkan keadaan umat manusia yang mengalami disfungsi secara rohani (1:18-32). Kita semua termasuk dalam golongan pemberontak: “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. . . . Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (3:12,23).
Kabar baiknya adalah kita semua “oleh kasih karunia [Allah] telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus . . . karena iman” (ay.24-25). Ketika kita mengundang Kristus masuk ke dalam hidup kita dan menerima pengampunan serta hidup baru yang ditawarkan Allah, kita pun berjalan dalam jalur yang akan membawa kita menjadi pribadi yang sesuai dengan tujuan-Nya. Memang kita tidak serta-merta menjadi sempurna, tetapi kita tidak lagi berada dalam keadaan rusak dan mengalami disfungsi.
Melalui Roh Kudus, kita menerima kekuatan hari demi hari untuk memuliakan Allah melalui perkataan dan perbuatan kita, dan untuk “menanggalkan manusia lama [kita] . . . supaya [kita] dibaharui di dalam roh dan pikiran [kita], dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:22-24). —David McCasland
Tuhan, dalam hidup kami yang mengalami disfungsi ini, kami memohon agar Engkau memulihkan dan menguatkan kami. Terima kasih untuk anugerah dan kasih-Mu yang ajaib!
Mendekatkan diri kepada Kristus akan memampukan kita menjalani hidup sesuai dengan tujuan-Nya atas hidup kita.

Friday, May 26, 2017

Mengarungi Derasnya Arus

Janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab Tuhan Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau. —1 Tawarikh 28:20
Mengarungi Derasnya Arus
Awalnya saya menikmati pengalaman pertama saya berarung jeram, tetapi kemudian saya mendengar debur arus air yang deras di depan saya. Emosi saya pun bercampur aduk—rasa ketidakyakinan, ketakutan, dan ketidakamanan muncul bersamaan. Mengarungi jeram merupakan pengalaman yang sangat menggentarkan! Namun kemudian, tiba-tiba saja, semua itu selesai. Pemandu kami yang duduk di bagian belakang rakit telah berhasil memandu kami melewati jeram itu. Saya aman—setidaknya sampai menghadapi jeram-jeram berikutnya.
Masa-masa transisi dalam hidup kita dapat diibaratkan berarung jeram. Kita mengalami loncatan-loncatan perubahan yang tidak dapat kita hindari dari satu masa kehidupan ke masa berikutnya—dari berkuliah ke berkarier, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari tinggal bersama orangtua menjadi tinggal sendiri atau bersama pasangan, dari masa kerja ke masa pensiun, dari masa muda menjadi masa tua. Semua perubahan itu ditandai dengan rasa tidak pasti dan tidak aman.
Dalam salah satu masa transisi terpenting yang pernah dicatat dalam sejarah Perjanjian Lama, Salomo mewarisi takhta dari ayahnya, Daud. Saya yakin pada saat itu ia dipenuhi dengan keraguan akan masa depannya. Apa nasihat ayahnya? “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; . . . sebab Tuhan Allah, Allahku, menyertai engkau” (1Taw. 28:20).
Kita semua akan mengalami masa-masa transisi yang sulit dalam hidup ini. Namun, bersama Allah di dalam rakit kehidupan ini, kita tidak akan pernah sendirian. Dengan memusatkan pandangan kita kepada Pribadi yang memandu kita dalam melintasi jeram-jeram kehidupan, kita akan mengalami sukacita dan rasa aman. Bukankah Dia telah memandu banyak orang sebelum kita? —Joe Stowell
Allah akan memandu kita melintasi derasnya arus perubahan zaman.

Thursday, May 25, 2017

Obat Iri Hati

Sejak hari itu [Saul] iri hati kepada Daud. —1 Samuel 18:9 BIS
Obat Iri Hati
Dengan senang hati saya menjaga kedua cucu saya sementara orangtua mereka pergi keluar suatu malam. Saya menanyakan apa yang mereka lakukan akhir pekan yang lalu. (Keduanya memiliki petualangan yang berbeda). Bridger, umur 3 tahun, menceritakan dengan seru pengalamannya bermalam di rumah om dan tantenya—di sana ia makan es krim, naik komedi putar, dan nonton film! Lalu giliran Samuel yang berumur 5 tahun untuk menceritakan pengalamannya. Ketika ditanya apa yang dilakukannya, ia menjawab dengan singkat, “Berkemah.” “Asyik, tidak?” tanya saya. “Biasa saja,” jawabnya dengan muram.
Ternyata Samuel merasa iri kepada adiknya. Sewaktu mendengar Bridger menceritakan pengalamannya dengan penuh semangat, Samuel melupakan begitu saja kegembiraan yang dialaminya saat berkemah dengan ayahnya.
Kita semua dapat dijerat oleh perasaan iri hati. Raja Saul ditelan oleh rasa iri hati ketika pujian yang diterima Daud melebihi pujian yang diterimanya: “Saul membunuh beribu-ribu musuh, tetapi Daud berpuluh-puluh ribu” (1Sam. 18:7 BIS). Saul menjadi sangat marah dan “sejak hari itu ia iri hati kepada Daud” (ay.9 BIS). Begitu murkanya Saul sehingga ia berusaha membunuh Daud!
Membanding-bandingkan diri adalah tindakan yang bodoh dan merusak diri sendiri. Orang lain akan selalu memiliki sesuatu yang kita tidak miliki atau menikmati pengalaman yang berbeda dengan apa yang kita alami. Allah telah memberi kita banyak berkat, termasuk hidup di atas bumi ini dan janji hidup kekal kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Mengandalkan pertolongan-Nya dan menujukan ucapan syukur kita kepada-Nya dapat menolong kita mengatasi perasaan iri hati. —Alyson Kieda
Tuhan, Engkau telah memberi kami hidup dan janji hidup kekal saat kami mempercayai-Mu sebagai Juruselamat kami. Untuk itulah— dan untuk banyak berkat lainnya—kami memuji-Mu!
Iri hati hanya dapat diobati dengan rasa syukur kepada Allah.

Wednesday, May 24, 2017

Kembaran

Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. —2 Korintus 3:18
Kembaran
Konon ada yang mengatakan bahwa masing-masing dari kita memiliki satu kembaran. Maksudnya adalah seseorang yang tidak berhubungan darah dengan kita, tetapi wajahnya sangat mirip dengan kita.
Kembaran saya kebetulan adalah James Taylor, seorang penyanyi terkenal. Ketika menghadiri salah satu konsernya, saya sering diperhatikan oleh para penggemar lainnya. Namun sayangnya, saya bukanlah James Taylor yang pandai bernyanyi dan bermain gitar. Kebetulan saja kami mirip.
Mirip dengan siapakah kamu? Saat memikirkan pertanyaan itu, renungkanlah 2 Korintus 3:18. Di sana Paulus mengatakan bahwa kita “diubah menjadi serupa dengan gambar [Tuhan].” Dalam upaya kita memuliakan Tuhan Yesus dengan hidup kita, salah satu tujuan kita adalah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Tentu saja, itu tidak berarti bahwa kita harus menumbuhkan jenggot dan memakai sandal—melainkan berarti bahwa Roh Kudus menolong kita menunjukkan karakteristik yang menyerupai Kristus dalam cara kita menjalani hidup. Misalnya, dalam sikap (rendah hati), dalam karakter (mengasihi), dan dalam belas kasih (menolong orang yang ada dalam kesulitan), kita harus menjadi serupa dengan Yesus dan mengikuti teladan-Nya.
Ketika kita “mencerminkan kemuliaan Tuhan” dengan mengarahkan pandangan kita kepada Yesus, kita dapat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan-Nya. Betapa menakjubkannya apabila orang mengamati kita dan berkata, “Aku melihat Yesus dalam dirimu!” —Dave Branon
Tuhan, tolong kami untuk memandang-Mu, mempelajari-Mu, mengenal-Mu. Ubahlah kami menurut gambaran-Mu dalam perkataan kami, cara kami mengasihi orang lain, dan cara kami menyembah-Mu. Kiranya orang lain melihat Yesus di dalam kami.
Kasih merupakan identitas keluarga yang harus dilihat dunia di dalam diri para pengikut Kristus.

Tuesday, May 23, 2017

Membela Allah

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. —Amsal 15:1
Membela Allah
Stiker-stiker bernada kebencian terhadap Allah yang ditempel pada bumper sebuah mobil telah menarik perhatian seorang dosen. Dosen yang dahulu ateis itu berpikir bahwa mungkin saja pemilik mobil itu bermaksud menyulut kemarahan orang Kristen. “Kemarahan orang Kristen justru membuat orang ateis membenarkan pandangan ateisnya,” jelas sang dosen. Ia pun memperingatkan, “Sayangnya, orang ateis itu sering kali berhasil mencapai tujuannya.”
Ia teringat pada perhatian seorang sahabat Kristen yang dahulu mendorongnya untuk mempertimbangkan kebenaran tentang Kristus. Sahabatnya menyampaikan kebenaran itu dengan “perasaan mendesak tetapi tanpa kemarahan sedikit pun”. Ia tidak pernah lupa pada tulusnya sikap hormat dan kebaikan yang diterimanya dari sang sahabat saat itu.
Orang Kristen sering tersinggung ketika ada pihak-pihak yang menolak Yesus. Namun, bagaimana Yesus sendiri menanggapi penolakan itu? Yesus terus-menerus menghadapi ancaman dan kebencian, tetapi Dia tidak tersinggung ketika ada yang meragukan identitas-Nya. Pada waktu sebuah desa menolak menerima-Nya, Yakobus dan Yohanes ingin membalas perbuatan mereka. Mereka bertanya, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54). Yesus tidak menghendaki itu dan Dia “berpaling dan menegor mereka” (ay.55). Lagi pula, “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:17).
Mungkin kita terkejut saat menyadari bahwa Allah tidak memerlukan pembelaan dari kita. Dia justru ingin kita mewakiliNya! Itu membutuhkan kesabaran, kerja keras, pengendalian diri, dan kasih. —Tim Gustafson
Tuhan, saat kami menghadapi kebencian, tolong kami untuk tidak membenci, melainkan merespons seperti Anak-Mu: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:34
Cara terbaik membela Yesus: Jalani hidup seperti Dia menjalaninya.

Monday, May 22, 2017

Pikirkan Allah Saat Berkedip

Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. —Ulangan 32:10
Pikirkan Allah Saat Berkedip
“Allah itu bagaikan kelopak mata,” kata teman saya Ryley. Saya terkejut mendengarnya. Apa yang ia maksudkan?
“Coba kamu jelaskan,” jawab saya. Kami baru saja mempelajari gambaran-gambaran mengejutkan tentang Allah dalam Alkitab, sebagai contoh gambaran Allah sebagai perempuan yang melahirkan (Yes. 42:14) atau sebagai peternak lebah (Yes. 7:18). Namun, apa yang dikatakan Ryley tadi baru pertama kali saya dengar. Ia mengajak saya membaca di Ulangan 32 di mana Musa memuji cara Allah dalam memelihara umat-Nya. Ayat 10 mengatakan bahwa Allah melindungi dan mengawasi umat-Nya, menjaga mereka “sebagai biji mata-Nya”.
Ryley bertanya kepada saya, benda apa yang mengelilingi dan menjaga biji mata? Tentu saja kelopak mata! Allah itu seperti kelopak mata, yang secara alami melindungi mata yang rentan. Kelopak mata berfungsi menjaga mata dari bahaya, dan membantu menghilangkan kotoran atau debu di mata melalui kedipan. Kelopak mata mencegah keringat masuk ke mata. Kelopak mata melumasi biji mata dan menjaganya agar tetap sehat. Saat kelopak mata menutup, mata pun beristirahat.
Ketika saya memikirkan gambaran Allah sebagai kelopak mata, saya hanya dapat bersyukur kepada-Nya. Ada begitu banyak gambaran yang telah diberikan Allah untuk menolong kita memahami kasih-Nya bagi kita. Ketika kita menutup mata pada malam hari dan membuka mata pada pagi hari, kita dapat memikirkan tentang Allah, dan memuji-Nya untuk perlindungan dan pemeliharaan-Nya yang penuh kasih atas kita. —Amy Peterson
Allah, terima kasih untuk gambaran mengejutkan yang menolong kami memahami-Mu dengan lebih baik. Terima kasih karena Engkau telah menjaga kami seperti kelopak mata yang melindungi biji mata.
Saat kamu berkedip, ingatlah untuk bersyukur kepada Allah atas perlindungan-Nya.

Sunday, May 21, 2017

Melihat Allah

Tuhan itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman. —Bilangan 14:18
Melihat Allah
Ada banyak pelukis karikatur yang menjajakan jasanya di tempat umum dan melukis orang-orang yang mau membayar sejumlah uang untuk mendapatkan lukisan yang lucu dari diri mereka. Lukisan-lukisan tersebut menghibur karena menonjolkan salah satu atau sebagian karakteristik tubuh kita dengan cara yang jenaka.
Di sisi lain, membuat karikatur tentang Allah tidaklah lucu sama sekali. Menonjolkan salah satu sifat-Nya akan menghasilkan gambaran yang menyimpang dan yang mudah ditolak orang. Sebagaimana dengan sebuah karikatur, gambaran yang menyimpang tentang diri Allah akan membuat orang menyepelekan Allah. Orang yang menggambarkan Allah hanya sebagai sosok yang pemarah dan penuntut akan mudah terbuai oleh mereka yang menekankan belas kasih. Sebaliknya, mereka yang memandang Allah hanya sebagai sosok yang baik hati akan menolak gambaran tersebut ketika mereka menuntut keadilan. Orang yang menganggap bahwa Allah hanyalah gagasan intelektual dan bukan Pribadi yang hidup dan pengasih pada akhirnya akan menemukan gagasan-gagasan lain yang lebih memikat buat mereka. Mereka yang hanya melihat Allah sebagai sosok sahabat yang baik akan cenderung meninggalkan-Nya saat mereka menemukan sahabat manusia yang lebih cocok dengan mereka.
Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah penyayang dan pengasih, tetapi yang juga adil dalam menghukum yang bersalah (Kel. 34:6-7).
Dalam menerapkan iman kita, sudah sepatutnya kita tidak menggambarkan Allah hanya menurut sifat-sifat-Nya yang kita sukai. Kita harus menyembah Allah seutuhnya, tidak hanya sebagian sifat-Nya yang kita sukai. —Julie Ackerman Link
Bapa, Anak, dan Roh Kudus, aku menyembah-Mu. Engkau kudus, adil, baik, dan penuh kasih. Engkaulah satu-satunya Allah.
Allah sajalah Allah.

Saturday, May 20, 2017

Menemukan Jalan Keluar

Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. —1 Korintus 10:13
Menemukan Jalan Keluar
Ada sebuah jalan dengan nama yang menarik di Santa Barbara, California. Nama jalan itu adalah “Salsipuedes”, yang artinya “hindari jika bisa”. Ketika jalan itu dinamai, wilayah itu memang berbatasan dengan sebuah rawa yang kadangkala dilanda banjir, dan para perencana kota yang berbahasa Spanyol menjuluki area itu dengan nama tersebut sebagai peringatan agar orang menghindari jalan itu.
Firman Tuhan juga mengingatkan kita untuk menjauhi “jalan yang salah” dari dosa dan godaan: “Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus” (Ams. 4:15). Namun, Kitab Suci tidak sekadar mengatakan “hindari jika bisa”. Alkitab juga memberikan jaminan dan memberi tahu ke mana kita harus melangkah: “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13).
Janji bahwa Allah tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita merupakan suatu pengingat yang sangat menguatkan. Saat pencobaan datang dan kita berpaling kepada Allah, kita tahu bahwa Allah mau menolong kita untuk menjauhi pencobaan itu.
Alkitab menegaskan bahwa Yesus “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.” Bahkan, “Ia sudah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita sendiri; hanya Ia tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15 BIS). Yesus mengetahui jalan keluar untuk setiap pencobaan yang kita alami. Dia akan menunjukkannya ketika kita datang kepada-Nya! —James Banks
Tuhan, terima kasih atas janji-Mu untuk tetap setia menolongku dan memberikan jalan keluar kapan pun aku dicobai. Aku memuji-Mu karena Engkau bersedia memberiku seluruh kekuatan yang kuperlukan!
Allah berjanji untuk menolong kita saat kita dicobai.

Friday, May 19, 2017

Menyiapkan Anak

Kami mau mewartakan kepada angkatan yang kemudian tentang kuasa Tuhan dan karya-karyaNya yang besar, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. —Mazmur 78:4 BIS
Menyiapkan Anak
Frasa di banyak situs web tentang pengasuhan anak menyatakan, “Siapkan anakmu untuk menjalani hidup daripada menyiapkan jalan untuk anakmu.” Daripada berusaha menghilangkan semua rintangan dan memuluskan jalan hidup anak-anak kita, kita seharusnya membekali mereka agar dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang akan mereka temui di perjalanan hidup mereka mendatang.
Pemazmur menulis, “Kami mau mewartakan kepada angkatan yang kemudian tentang kuasa Tuhan dan karya-karya-Nya yang besar, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. . . . Ia memberi hukum-Nya, . . . . Ia menyuruh nenek moyang kita mengajarkannya kepada anak-anak mereka, supaya angkatan berikut mengenal-Nya, lalu meneruskannya kepada anak-anak mereka” (Mzm. 78:4-6 BIS). Tujuannya adalah agar mereka “menaruh harapannya kepada Allah, dan tidak melupakan perbuatan-Nya, tetapi selalu taat pada perintah-Nya” (Mzm. 78:7 BIS).
Pikirkan kuatnya pengaruh rohani yang diberikan orang lain dalam hidup kita melalui perkataan dan cara hidup mereka. Percakapan dan perbuatan nyata mereka memikat perhatian kita dan membangkitkan semangat kita untuk mau mengikut Yesus sama seperti mereka.
Meneruskan firman Allah dan rencana-Nya bagi hidup kita kepada generasi-generasi mendatang adalah kesempatan sekaligus tanggung jawab yang istimewa. Apa pun yang mereka hadapi kelak dalam perjalanan hidup mereka, kita rindu mereka telah dibekali dan siap sedia menghadapi semua itu dengan kekuatan dari Tuhan. —David McCasland
Bapa di surga, kami memohon hikmat dan tuntunan-Mu untuk menyiapkan anak-anak yang kami kasihi agar mereka berjalan bersama-Mu dalam iman.
Lewat percakapan dan perbuatan nyata, marilah menolong anak-anak untuk mengikut Tuhan dalam perjalanan hidup mereka.

Thursday, May 18, 2017

Diberi Allah Pakaian yang Baru

Dosamu telah kubuang, engkau akan kuberi pakaian yang baru. —Zakharia 3:4 BIS
Diberi Allah Pakaian yang Baru
Ketika anak-anak saya masih batita, mereka biasa bermain di luar rumah, di atas rumput yang basah. Tidak lama kemudian tubuh mereka sudah penuh dengan lumpur. Demi kebaikan mereka dan kebersihan lantai rumah, saya menanggalkan baju mereka di depan pintu dan menyelimuti mereka dengan handuk sebelum memandikan mereka. Mereka pun segera berubah dari kotor menjadi bersih dengan bantuan sabun, air, dan pelukan.
Dalam penglihatan yang diterima oleh Zakharia, kita melihat Yosua sang imam besar mengenakan pakaian kotor yang melambangkan dosa dan pelanggaran (Zak. 3:3). Namun, Tuhan menjadikannya bersih dengan menanggalkan pakaian kotor itu dan mengenakan pakaian yang baru kepadanya (ay.5). Serban yang bersih dan pakaian yang baru itu menandakan bahwa Tuhan telah membuang dosa-dosa Yosua.
Kita juga dapat menerima pembersihan dari Allah saat kita terbebas dari pelanggaran kita melalui karya keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Sebagai hasil dari kematian-Nya di kayu salib, segala lumpur dosa yang melekat pada diri kita akan dibersihkan ketika kita menerima “pakaian yang baru” sebagai anak-anak Allah. Kita tidak lagi dikenal menurut pelanggaran yang telah kita lakukan (baik itu berbohong, bergosip, mencuri, iri hati, atau yang lainnya), tetapi kita dapat dikenal menurut identitas yang diberikan Allah kepada mereka yang dikasihi-Nya—dipulihkan, diperbarui, disucikan, dibebaskan.
Mintalah kepada Allah untuk membuang semua pakaian kotor yang masih kamu kenakan agar kamu juga dapat mengenakan pakaian baru yang telah disiapkan-Nya bagi kamu. —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus, melalui kematian-Mu di kayu salib yang menyelamatkan kami, kami diterima dan dikasihi. Kiranya kami menerima karunia tersebut untuk kemuliaan-Mu.
Siapa yang mampu menghapus dosaku? Tuhan Yesus Kristus!

Wednesday, May 17, 2017

Hidup Bersama Singa

Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya. —Daniel 6:27
Hidup Bersama Singa
Ketika saya mengunjungi sebuah museum di Chicago, saya melihat salah satu relief asli dari Striding Lions of Babylon. Relief itu adalah sebuah lukisan dinding berukuran besar yang menggambarkan seekor singa bersayap yang sedang melangkah dengan ekspresi garang. Sebagai simbol dari Dewi Ishtar - dewi cinta dan perang orang Babel - singa itu merupakan salah satu contoh dari 120 relief singa serupa yang pernah menghiasi jalan di Babel selama tahun 604-562 SM.
Para ahli sejarah mengatakan bahwa setelah Babel menaklukkan Yerusalem, orang-orang Israel yang ditawan pasti pernah melihat singa-singa tersebut selama masa pemerintahan Raja Nebukadnezar. Para sejarawan juga mengatakan bahwa bisa saja sejumlah orang Israel mempercayai bahwa Dewi Ishtar telah menaklukkan Allah Israel.
Namun Daniel, salah seorang tawanan dari Israel, tidak mengalami keraguan seperti yang mungkin dialami orang-orang sebangsanya. Pandangannya tentang Allah dan komitmennya kepada Allah tetap teguh. Daniel berdoa tiga kali sehari - dengan jendela-jendela kamar yang terbuka - meski ia tahu bahwa tindakan itu akan membuatnya dilemparkan ke gua singa. Setelah Allah membebaskan Daniel dari singa-singa yang kelaparan itu, Raja Darius berkata, “Allahnya Daniel, . . . Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; . . . Dia melepaskan dan menolong” (Dan. 6:27-28). Kesetiaan Daniel telah membawa pengaruh yang kuat bagi para pemimpin Babel.
Keteguhan iman dan kesetiaan kita kepada Allah di tengah berbagai tekanan dan kekecewaan yang ada dapat menguatkan orang lain untuk ikut memuliakan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk tetap percaya kepada-Mu di saat aku merasa kecewa. Tolong aku untuk mengalami kasih-Mu yang tak berkesudahan dan untuk tetap setia kepada-Mu.
Kesetiaan kita kepada Allah dapat menguatkan orang lain.

Tuesday, May 16, 2017

Menjadi Sahabat Sejati

Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur. —Kejadian 14:18
Menjadi Sahabat Sejati
Penyair Samuel Foss menuliskan, “Biarlah aku hidup di tepi jalan dan menjadi sahabat bagi seseorang” (The House by the Side of the Road). Itulah yang saya inginkan—menjadi sahabat bagi orang lain. Saya ingin berdiri di tepi jalan untuk menanti para pengembara yang kelelahan. Untuk mencari mereka yang babak belur dan diperlakukan tidak adil oleh orang lain, mereka yang hatinya telah terluka dan kecewa. Untuk merawat dan menyegarkan mereka dengan kata-kata yang membangkitkan semangat dan menolong mereka melanjutkan perjalanan. Saya mungkin tidak dapat “membenahi” mereka atau persoalan mereka, tetapi saya dapat memberkati mereka.
Melkisedek, raja Salem sekaligus seorang imam, memberkati Abraham yang kelelahan setelah pulang dari peperangan (Kej. 14). “Berkat” ini bukan sesuatu yang diucapkan dengan sikap basa-basi. Kita memberkati orang lain dengan membawa mereka kepada Allah yang menjadi sumber berkat. Melkisedek memberkati Abram dengan berkata, “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi” (ay.19).
Kita dapat memberkati orang lain dengan cara berdoa bersama mereka; kita dapat membawa mereka ke hadapan takhta kasih karunia supaya mereka menerima pertolongan tepat pada waktunya (Ibr. 4:16). Kita mungkin tidak dapat mengubah keadaan mereka, tetapi kita dapat menunjukkan Allah kepada mereka. Itulah yang patut dilakukan oleh seorang sahabat sejati. —David Roper
Tuhan Yesus, ajari kami untuk menjadi sahabat bagi sesama seperti Engkau menjadi sahabat kami. Berilah kami mata yang peka untuk melihat kebutuhan mereka dan menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka. Tolong kami untuk membawa mereka kepada-Mu, Sang Sumber Hidup.
Mustahil mengasihi tanpa sikap mau mendengar.

Monday, May 15, 2017

Bunga yang Tak Layu

Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita—tetap untuk selama-lamanya. —Yesaya 40:8
Bunga yang Tak Layu
Ketika masih balita, putra saya Xavier suka memberi saya bunga. Saya menghargai setiap rumput segar yang dipetiknya atau bunga mekar yang dibelinya dari toko bunga bersama ayahnya. Saya menikmati setiap pemberiannya sampai bunga-bunga itu menjadi layu dan harus dibuang.
Suatu hari, Xavier memberi saya rangkaian bunga palsu yang indah. Ia menyeringai saat menata bunga bakung yang terbuat dari sutera putih, bunga matahari yang berwarna kuning, dan bunga hydrangea yang berwarna ungu di dalam vas kaca. Ia berkata, “Mami, bunga-bunga ini tak akan pernah layu. Seperti sayangku padamu.”
Bocah mungil itu kini telah menjadi seorang pemuda. Bunga-bunga sutera itu juga sudah usang. Warnanya telah memudar. Meski demikian, bunga yang tak layu itu senantiasa mengingatkan saya akan kasih sayangnya. Dan itu juga mengingatkan saya tentang satu hal lain yang benar-benar abadi, yaitu kasih Allah yang tak terbatas dan tak pernah berakhir, seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya yang sempurna dan kekal (Yes. 40:8).
Ketika bangsa Israel terus-menerus menghadapi pencobaan, Yesaya menghibur mereka dengan keyakinan pada firman Allah yang tetap selama-lamanya (40:1). Ia menegaskan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa orang Israel (ay.2), menjamin pengharapan mereka akan Mesias yang akan datang (ay.3-5). Umat Israel mempercayai sang nabi karena pandangannya tetap kepada Allah dan bukan pada situasi mereka.
Di dunia yang penuh dengan penderitaan dan ketidakpastian ini, opini dari orang lain dan perasaan kita sendiri akan selalu berubah-ubah dan terbatas karena kita adalah makhluk fana (ay.6-7). Meski demikian, kita dapat mempercayai kasih dan sifat Allah yang tak pernah berubah, sebagaimana dinyatakan oleh firman-Nya yang teguh dan benar untuk selama-lamanya. —Xochitl Dixon
Allah meneguhkan kasih-Nya melalui firman-Nya yang teguh dan tak berubah, yang tetap ada sekarang sampai selama-lamanya.

Sunday, May 14, 2017

Benih yang Ditaburkan

[Benih] yang ditaburkan di tanah yang baik . . . berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. —Matius 13:23
Benih yang Ditaburkan
Saya menerima sebuah e-mail istimewa dari seorang wanita yang menulis, “Ibu kamu pernah menjadi guru kelas 1 saya di Putnam City pada tahun 1958. Beliau adalah guru yang hebat dan baik hati, tetapi juga sangat tegas! Beliau mengharuskan murid-muridnya menghafal Mazmur 23 dan mengucapkannya di depan kelas, dan saya sangat ketakutan. Itulah sekali-sekalinya saya membaca Alkitab, sampai kemudian saya menjadi Kristen pada tahun 1997. Saya pun teringat pada ibumu saat saya membaca kembali Mazmur 23.”
Kepada orang banyak yang mendengarkan-Nya, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang petani yang menaburkan benih yang jatuh di atas beragam jenis tanah— di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik (Mat. 13:1-9). Meskipun sebagian benih itu tidak dapat tumbuh, “[benih] yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (ay.23).
Selama dua puluh tahun, ibu saya mengajar murid-murid kelas 1 di sejumlah sekolah negeri. Sambil mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung, beliau menaburkan benih-benih kebaikan dan kabar tentang kasih Allah.
E-mail dari mantan muridnya itu diakhiri dengan kalimat, “Tentu saja ada banyak orang yang telah mempengaruhi perjalanan iman saya setelah saya percaya kepada Tuhan. Meski demikian, saya selalu mengenang Mazmur 23 dan kelembutan ibu kamu dalam hati saya.”
Benih kasih Allah yang ditaburkan hari ini mungkin akan menghasilkan tuaian yang luar biasa kelak. —David McCasland
Tuhan, aku ingin hidupku menaburkan benih yang baik bagi orang di sekitarku. Tolonglah aku meneruskan apa yang telah Engkau percayakan kepadaku.
Kita yang menabur benih, Allah yang menghasilkan tuaian.

Saturday, May 13, 2017

Mazmur untuk Berkemah

Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! —Mazmur 8:2
Mazmur untuk Berkemah
Ketika saya dan suami berjalan-jalan keluar menikmati alam, biasanya kami membawa kamera untuk memotret dari jarak dekat tanaman-tanaman kecil di dekat kaki kami. Segala tanaman itu terlihat seperti sebuah dunia kecil. Alangkah menakjubkan keragaman dan keindahan yang kami lihat, seperti jamur yang mekar pada malam hari dan menghiasi hutan dengan warna oranye, merah, dan kuning yang cerah!
Potret-potret kehidupan di sekeliling kami telah menginspirasi saya untuk memandang kepada Allah Sang Pencipta yang tidak hanya menciptakan tanaman tetapi juga bintang-bintang di langit. Dia telah merancang suatu dunia dengan ragam dan lingkup yang tiada batasnya. Dan Dia menciptakan kamu dan saya serta menempatkan kita di tengah semua keindahan itu agar kita dapat menikmati keindahannya dan berkuasa atasnya (Kej. 1:27-28; Mzm. 8:7-9).
Saya pun teringat pada salah satu mazmur yang sering dibaca keluarga kami saat berkemah dan duduk mengelilingi perapian. “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. . . . Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:2-5).
Sungguh menakjubkan bahwa Allah Mahabesar yang menciptakan dunia dengan segala kemegahannya itu peduli kepada kamu dan saya! —Alyson Kieda
Ya Tuhan, Pencipta yang agung, hati kami dipenuhi pujian saat kami melihat potret keindahan dari dunia-Mu. Terima kasih Engkau telah menciptakan kami! Tolong kami untuk memerintah dunia-Mu dengan bijaksana.
Allah yang sesuai hikmat-Nya menciptakan saya dan dunia yang saya diami ini tentu juga akan menjaga saya sesuai hikmat-Nya. —Philip Yancey

Friday, May 12, 2017

Sang Penolong

Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. —Yohanes 16:13
Sang Penolong
Saat memasuki pesawat yang akan membawa saya ke suatu kota berjarak seribu mil dari rumah untuk meneruskan studi, saya merasa begitu gugup dan sendirian. Namun selama penerbangan, saya ingat bahwa kepada murid-murid-Nya, Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan hadir untuk menolong dan menghibur mereka.
Para sahabat Yesus pasti merasa bingung ketika Yesus berkata kepada mereka, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi” (Yoh. 16:7). Bagaimana mungkin mereka yang telah menyaksikan mukjizat-Nya dan belajar dari ajaran-Nya dapat menjadi lebih baik tanpa kehadiran-Nya? Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa jika Dia pergi, Sang Penolong, yaitu Roh Kudus, akan datang.
Menjelang waktu-waktu terakhir-Nya di bumi, Yesus memberikan pesan kepada murid-murid-Nya (dalam Yoh. 14-17 yang dikenal sebagai “Pesan Perpisahan”) untuk menolong mereka agar memahami arti kematian dan kenaikan-Nya ke surga. Pusat pembicaraan mereka adalah tentang kedatangan Roh Kudus, Sang Penolong yang akan menyertai mereka (14:16-17), mengajar (15:15), bersaksi (15:26), dan memimpin mereka (16:13).
Kita yang telah menerima hidup baru dari Allah juga telah dianugerahi Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita. Roh Kudus juga memberi kita begitu banyak: Dia menginsafkan kita akan dosa dan menolong kita untuk menyesalinya. Dia memberi kita penghiburan tatkala kita menderita, kekuatan untuk menanggung kesulitan, hikmat untuk memahami pengajaran Allah, pengharapan dan iman untuk percaya, dan kasih yang rela berbagi.
Marilah kita bersukacita karena Tuhan Yesus telah mengutus Sang Penolong untuk kita. —Amy Boucher Pye
Bapa Surgawi, Engkau memberikan Anak-Mu untuk menyelamatkan kami dan Roh-Mu untuk menghibur dan mengingatkan kami. Kiranya kami senantiasa memuliakan-Mu saat kami mensyukuri kebaikan dan kasih-Mu.
Roh Kudus memenuhi hidup para pengikut Yesus.

Thursday, May 11, 2017

Bernyanyi Bersama Violet

Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. —Filipi 1:23-24
Bernyanyi Bersama Violet
Seorang wanita lanjut usia bernama Violet sedang duduk di atas ranjang rumah sakitnya di Jamaika. Ia tersenyum saat sejumlah remaja datang menjenguknya. Udara tengah hari yang panas dan lembab membuat ruangan itu semakin sesak, tetapi Violet tidak mengeluh. Sebaliknya, ia mulai memikir-mikirkan sebuah lagu untuk dinyanyikannya. Akhirnya, sambil tersenyum lebar, ia pun bernyanyi, “Aku berlari, meloncat, melompat, memuji Tuhan!” Saat bernyanyi, ia mengayunkan lengannya ke depan dan ke belakang seolah-olah sedang berlari. Air mata pun membanjiri wajah orang-orang yang mengelilinginya, karena Violet tidak lagi mempunyai kaki. Violet berkata bahwa ia bernyanyi karena, “Yesus sayang padaku—dan di surga aku akan punya kaki untuk berlari.”
Sukacita dan pengharapan akan surga yang dimiliki Violet seakan menegaskan perkataan Paulus dalam Filipi 1 ketika berbicara tentang soal hidup dan mati. “Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik” (ay.22-23).
Setiap dari kita pernah menghadapi masa-masa sulit yang mungkin membuat kita merindukan janji dari kelegaan yang kita terima di surga kelak. Namun, seperti Violet yang tetap menunjukkan sukacita di tengah kondisinya saat ini, kita juga dapat terus “berlari, meloncat, melompat, memuji Tuhan”—baik untuk kehidupan melimpah yang diberikan-Nya di dunia ini maupun untuk sukacita terbesar yang menanti kita di surga mulia. —Dave Branon
Tuhan, di saat-saat yang sulit, tolonglah kami untuk menemukan sukacita. Tolong kami untuk menjalani hidup di tengah masa-masa sulit di dunia ini dengan kebahagiaan sambil menantikan kekekalan yang “jauh lebih baik”.
Ketika Allah memberi kita awal yang baru, kita menerima sukacita yang takkan pernah berakhir.

Wednesday, May 10, 2017

Jalanan Tak Berlampu

Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi. —Yosua 1:9
Jalanan Tak Berlampu
Dalam perjalanan pulang setelah liburan keluarga, kami menyusuri jalan yang melewati bagian-bagian terpencil di pusat negara bagian Oregon. Selama hampir dua jam setelah senja turun, kami berkendara melewati tebing yang curam dan melintasi gurun belantara. Sinar lampu dari 20 mobil yang lewat pada saat itu tidak cukup mengurangi pekatnya malam. Akhirnya bulan pun terbit di cakrawala hingga terlihat jelas ketika kami melintasi jalan yang mendaki, tetapi tertutup saat kami melintasi dataran. Putri saya berkomentar bahwa sinar bulan itu mengingatkannya akan kehadiran Allah. Saya bertanya apakah ia perlu melihat sinar bulan itu untuk meyakinkannya bahwa Allah hadir. Putri saya menjawab, “Memang tidak perlu, tetapi sinar itu sangat membantu.”
Setelah kematian Musa, Yosua melanjutkan kepemimpinan atas bangsa Israel dan ditugasi untuk membawa umat pilihan Allah itu masuk ke Tanah Perjanjian. Meski tugas itu diterimanya dari Allah, Yosua pastilah merasa gentar oleh besarnya tanggung jawab itu. Allah pun berkenan memberikan jaminan kepada Yosua bahwa Dia akan menyertainya ke mana pun ia akan melangkah (Yos. 1:9).
Dalam perjalanan hidup ini, sering kita harus melewati wilayah-wilayah yang belum pernah kita lalui sebelumnya. Kita mengarungi masa demi masa dengan jalan yang tidak selalu jelas di depan kita. Rencana Allah mungkin tidak selalu dapat kita lihat dengan jelas, tetapi Dia telah berjanji untuk menyertai kita “senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Sungguh luar biasa jaminan yang kita terima di tengah ketidakpastian atau tantangan apa pun yang mungkin kita hadapi. Bahkan ketika perjalanan hidup kita terasa gelap, Tuhan Sumber Terang itu senantiasa menyertai kita. —Kirsten Holmberg
Tuhan, terima kasih karena Engkau senantiasa hadir di dekatku bahkan di saat aku tak bisa melihat-Mu. Hiburlah aku dengan kehadiran-Mu.
Allah senantiasa menyertai kita bahkan di saat kita tak bisa melihat-Nya.

Tuesday, May 9, 2017

Penting untuk Dibagikan

[Yohanes] datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. —Yohanes 1:7
Penting untuk Dibagikan
Di beberapa negara, para saksi yang hadir dalam ruang pengadilan mempunyai peran lebih besar daripada sekadar menjadi pengamat atau penonton. Mereka terlibat aktif dalam membantu untuk menentukan hasil dari sebuah kasus. Demikian juga dengan kesaksian kita bagi Kristus. Kita harus terlibat aktif dalam hal-hal yang mempunyai kepentingan mutlak, yakni kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Ketika Yohanes Pembaptis datang untuk memberikan kesaksian tentang Yesus, Sang Terang Dunia, kepada orang banyak, Yohanes melakukannya dengan menyatakan pengenalannya akan Yesus. Yohanes sang murid, yang mencatat peristiwa-peristiwa itu, bersaksi tentang pengalamannya bersama Yesus: “Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Rasul Paulus kemudian menjabarkan pemikiran itu dengan mengatakan kepada Timotius, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2Tim. 2:2).
Semua orang Kristen telah dipanggil untuk terlibat dalam persidangan dunia. Alkitab mengatakan bahwa kita bukan hanya penonton, tetapi peserta yang terlibat aktif. Kita menjadi saksi dari kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Seperti Yohanes Pembaptis menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun, kita juga dapat bersuara di tempat kerja, lingkungan, gereja, dan di antara keluarga dan teman-teman kita. Kita dapat menjadi saksi-saksi yang aktif memberi tahu orang lain tentang realitas kehadiran Tuhan Yesus dalam hidup kita. —Lawrence Darmani
Apakah tindakan kita memampukan kita untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus? Apa sajakah cara-cara kreatif yang dapat kita pakai untuk bersaksi hari ini?
Injil itu terlampau penting untuk tidak dibagikan.

Monday, May 8, 2017

Sulitnya Menunggu

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. —Mazmur 90:12
Sulitnya Menunggu
Beberapa tahun terakhir, dua anggota keluarga saya terdiagnosis menderita penyakit yang mengancam nyawa mereka. Bagi saya, bagian tersulit dari usaha saya menguatkan mereka sepanjang perawatan adalah ketidakpastian yang terus-menerus ada. Saya selalu menghendaki penjelasan yang terus terang dari dokter, tetapi itu jarang sekali terjadi. Alih-alih diberi penjelasan, kami sering diminta untuk menunggu.
Memang tidak mudah berada dalam ketidakpastian yang membuat kami terus bertanya-tanya tentang apa yang akan ditunjukkan oleh hasil tes berikutnya. Berapa lama lagi waktu yang kami punya—berapa Minggu, bulan, tahun, atau dekade—sebelum kematian memisahkan kami? Namun, terlepas dari penyakit dan diagnosis, masing-masing dari kita pasti akan meninggal dunia suatu hari nanti, dan hal seperti kanker membuat kita lebih cepat memikirkan tentang kefanaan kita— sesuatu yang selama ini mungkin hanya terpendam di dalam benak.
Ketika diingatkan kembali tentang kefanaan manusia, saya pun berdoa dengan kata-kata yang dahulu menjadi doa Musa. Mazmur 90 mengatakan kepada kita bahwa meskipun hidup kita seperti rumput yang akan lisut dan layu (ay.5-6), kita memiliki Allah sebagai tempat perteduhan (ay.1). Seperti Musa, kita dapat meminta Allah untuk mengajar kita menghitung hari-hari supaya kita bisa membuat keputusan-keputusan yang bijaksana (ay.12), dan untuk membuat hidup kita yang singkat ini berbuah dengan menjadikan segala karya tangan kita bagi-Nya berhasil (ay.17). Pada akhirnya, mazmur itu mengingatkan kita bahwa pengharapan kita tidaklah diletakkan pada diagnosis dari dokter, melainkan pada Allah yang kekal “dari selama-lamanya sampai selama-lamanya”. —Amy Peterson
Bagaimana kita dapat menggunakan waktu yang telah diberikan kepada kita dengan baik?
Kita sanggup menghadapi kenyataan akan kefanaan kita karena kita percaya kepada Allah.

Sunday, May 7, 2017

Pujian dalam Kekelaman

Sebab itu, dengan perantaraan Yesus, hendaklah kita selalu memuji-muji Allah; itu merupakan kurban syukur kita kepada-Nya, yang kita persembahkan melalui ucapan bibir untuk memuliakan nama-Nya. —Ibrani 13:15 BIS
Pujian dalam Kekelaman
Meskipun teman saya Mickey telah kehilangan penglihatannya, ia mengatakan kepada saya, “Aku akan terus memuji Allah setiap hari, karena Dia telah melakukan banyak kebaikan dalam hidupku.”
Yesus memberi Mickey, dan juga kita, alasan utama untuk terus memuji Allah. Pasal 26 dalam Injil Matius menceritakan tentang Yesus yang mengadakan perjamuan Paskah bersama murid-murid-Nya pada malam sebelum Dia disalibkan. Ayat 30 menyatakan bagaimana mereka mengakhiri perjamuan itu, “Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.”
Bukan sembarang nyanyian yang mereka nyanyikan malam itu, tetapi nyanyian pujian. Selama ribuan tahun, orang Yahudi telah menyanyikan sekumpulan Mazmur yang disebut “Hallel” pada peringatan Paskah (hallel adalah kata Ibrani untuk “pujian”). Bagian akhir dari seluruh doa dan nyanyian pujian yang ditemukan dalam Mazmur 113-118 itu memuliakan Allah yang telah menjadi keselamatan kita (118:21). Pujian itu menyebut tentang batu yang dibuang dan yang telah menjadi batu penjuru (ay.22) dan pribadi yang datang dalam nama Tuhan (ay.26). Sangat mungkin mereka bernyanyi, “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (ay.24).
Sebagaimana Yesus bernyanyi bersama murid-murid-Nya di malam Paskah itu, Dia memberi kita alasan utama bagi kita untuk memandang melampaui keadaan yang ada di hadapan kita. Dia mengajak kita memuji kasih dan kesetiaan Allah yang tak pernah berakhir. —James Banks
Tuhan, Engkau selalu layak menerima pujian, bahkan saat aku sulit untuk melakukannya. Tolonglah aku untuk semakin rindu memuji-Mu.
Memuji Allah memampukan kita untuk mengingat kembali kebaikan-Nya yang tidak pernah berakhir.

Saturday, May 6, 2017

Haruskah Saya Mengampuni?

Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. —Kolose 3:13
Haruskah Saya Mengampuni?
Saya tiba di gereja lebih awal untuk menyiapkan sebuah acara. Di ujung ruang kebaktian, ada seorang wanita berdiri sambil menangis. Saya ingat, dahulu ia pernah membenci dan menggosipkan saya. Saya pun mengabaikan tangisannya dan menyalakan alat penyedot debu yang saya pakai. Mengapa saya harus peduli kepada orang yang tidak menyukai saya?
Namun, saat Roh Kudus mengingatkan tentang besarnya pengampunan Allah bagi saya, saya pun menghampiri wanita itu. Ia bercerita tentang bayinya yang dirawat di rumah sakit berbulan-bulan. Kami berpelukan, menangis, dan berdoa bersama untuk anaknya. Setelah menyelesaikan masalah di antara kami, kami sekarang telah menjadi sahabat baik.
Di Matius 18, Yesus mengumpamakan kerajaan surga seperti seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan para hambanya. Seorang hamba yang berutang sangat banyak memohon belas kasihan dari raja. Namun, tak lama setelah raja menghapus utangnya, ia malah mencari dan menghukum orang lain yang berhutang kepadanya jauh lebih sedikit dari utangnya kepada raja. Saat mendengar berita itu, sang raja memenjarakan hamba yang jahat itu karena sikapnya yang tidak mau mengampuni (ay.23-34).
Memilih untuk mengampuni bukan berarti kita menyetujui dosa, membenarkan ketidakadilan yang dilakukan orang terhadap kita, atau mengecilkan kepedihan kita. Memberikan pengampunan sesungguhnya memerdekakan kita untuk menikmati belas kasihan Allah yang tak layak kita terima, dan itu terjadi ketika kita mengundang-Nya untuk menggenapi karya mulia anugerah-Nya yang membawa kembali kedamaian di dalam hidup dan hubungan kita. —Xochitl Dixon
Tuhan, tolong kami menyerahkan kepedihanku kepada-Mu sehingga Engkau dapat mengubah-Nya menjadi kebaikan. Mampukan kami untuk mengampuni dengan tulus dan total. Berilah kami Roh-Mu yang mempersatukan.
Mengampuni sesama menjadi ungkapan keyakinan kita pada hak Allah untuk menghakimi sesuai dengan kesempurnaan dan kebaikan-Nya.

Friday, May 5, 2017

Berkat dari Kenangan

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, . . . yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. —Yeremia 29:11
Berkat dari Kenangan
Mengalami kehilangan dan kekecewaan dapat membuat kita merasa marah, bersalah, dan bingung. Mungkin kesempatan telah tertutup karena pilihan kita sendiri atau kita mengalami tragedi karena perbuatan orang lain. Akibatnya, kita mengalami apa yang disebut Oswald Chambers sebagai “kesedihan tak terkatakan atas ‘apa yang seharusnya terjadi’”. Apalagi, usaha kita untuk mengenyahkan kenangan yang menyakitkan itu tidak pernah berhasil.
Chambers mengingatkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam hidup kita. Ia menasihati, “Jangan pernah takut saat Allah membawa kembali kenangan tentang masa lalu. Biarkan itu muncul. Segala teguran, hukuman, dan kepedihan yang dialami merupakan pelayanan dari Allah. Allah akan mengubah ‘apa yang seharusnya terjadi’ menjadi sarana pertumbuhan yang indah untuk masa depan.”
Di masa Perjanjian Lama, saat Allah membuang orang Israel ke Babel, Dia meminta mereka untuk melayani-Nya di negeri asing itu dan terus bertumbuh dalam iman sampai waktunya Dia membawa mereka kembali ke tanah air mereka. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer. 29:11).
Allah mendesak mereka untuk tidak mengabaikan masa lalu atau terjebak di dalamnya, melainkan berfokus kepada-Nya dan memandang masa depan. Pengampunan Tuhan sanggup mengubah kenangan yang pedih menjadi keyakinan pada kasih-Nya yang kekal. —David McCasland
Ya Bapa, terima kasih untuk rancangan-Mu bagi kami, dan untuk masa depan yang menanti kami dalam kasih-Mu.
Allah dapat memakai kekecewaan kita yang terdalam untuk menumbuhkan iman kita kepada-Nya.

Thursday, May 4, 2017

Aturan Lima Menit

Ia akan mendengar doa umat-Nya yang melarat, dan tidak menolak permohonan mereka. —Mazmur 102:18 BIS
Aturan Lima Menit
Saya membaca tentang seorang ibu yang memberlakukan Aturan Lima Menit untuk anak-anaknya. Setiap hari, anak-anak harus sudah siap bersekolah dan berkumpul lima menit sebelum berangkat.
Ketika mereka semua sudah berkumpul mengelilingi sang ibu, ia lalu mendoakan mereka satu per satu untuk memohon berkat Tuhan atas hari yang akan mereka jalani. Sang ibu akan mencium mereka sebelum kemudian mereka berangkat ke sekolah. Anak-anak tetangga yang sedang mampir pun ikut didoakan. Bertahun-tahun kemudian, salah seorang dari anak-anak itu mengatakan bahwa pengalaman tersebut mengajarkan tentang pentingnya doa bagi hari yang akan dijalaninya.
Penulis Mazmur 102 sangat mengetahui pentingnya doa. Mazmur ini diberi pendahuluan, “Doa orang sengsara yang dalam keadaan letih lesu mengeluh kepada Tuhan.” Sang pemazmur berseru, “Ya Tuhan, dengarlah doaku . . . . Dengarlah bila aku berseru, dan jawablah aku segera” (ay.1-3 BIS). Allah pun “memandang dari tempat-Nya yang tinggi, dari surga Ia menengok ke bumi” (ay.20 BIS).
Allah peduli kepadamu dan rindu mendengarkanmu. Entah kamu mengikuti Aturan Lima Menit untuk memohon berkat-Nya untuk sepanjang hari atau kamu membutuhkan lebih banyak waktu untuk berseru kepada-Nya dalam kesesakan, berbicaralah kepada-Nya setiap hari. Teladanmu dapat membawa pengaruh besar bagi keluarga dan orang-orang yang dekat denganmu. —Anne Cetas
Tuhan, ajarku untuk menyadari kehadiran-Mu, dan berbicara kepada-Mu dengan leluasa setiap waktu.
Doa adalah pengakuan tentang kebutuhan kita akan Allah.

Wednesday, May 3, 2017

Sendirian di Ruang Angkasa

Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya. —Kejadian 28:16
Sendirian di Ruang Angkasa
Al Worden, salah seorang astronot dalam misi Apollo 15, tahu bagaimana rasanya berada di sisi bulan yang gelap dan tidak menghadap bumi. Selama tiga hari pada tahun 1971, Worden terbang sendirian di dalam modul komandonya yang bernama Endeavor, sementara dua awak lain bekerja ribuan mil jauhnya di atas permukaan bulan. Yang menemaninya saat itu hanyalah bintang-bintang yang bertaburan di atas kepalanya. Ia mengingat bagaimana bintang-bintang yang sangat banyak itu seolah-olah menyelimuti dirinya dengan cahaya.
Saat matahari terbenam pada malam pertama Yakub pergi dari rumahnya, ia juga sendirian, tetapi karena alasan yang berbeda. Ia sedang melarikan diri dari seorang kakak yang ingin membunuhnya karena Yakub telah mencuri berkat yang biasanya diberikan kepada anak sulung dalam keluarga. Namun saat tertidur, Yakub bermimpi tentang sebuah tangga yang menghubungkan langit dan bumi. Saat melihat malaikat-malaikat turun-naik pada tangga itu, Yakub mendengar suara Allah yang berjanji untuk menyertainya dan memberkati seluruh bumi melalui keturunannya. Ketika bangun dari tidurnya, Yakub pun berkata, “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya” (Kej. 28:16).
Memang Yakub telah mengucilkan diri karena penipuan yang dilakukannya. Namun, meskipun kesalahannya begitu nyata dan kelam, ia berada di hadapan satu Pribadi yang mempunyai rencana jauh lebih baik dan lebih besar pengaruhnya daripada apa pun yang kita rencanakan. Surga tidaklah sejauh yang kita pikirkan, karena “Allah Yakub” selalu menyertai kita. —Mart DeHaan
Bapa, terima kasih karena Engkau memakai kisah Yakub untuk menunjukkan kepada kami bahwa kemuliaan dari kehadiran-Mu yang tak kasat mata dan kebaikan-Mu amat jauh melampaui apa yang dapat kami bayangkan.
Allah itu lebih dekat daripada yang kita pikirkan.

Tuesday, May 2, 2017

Hanya Sebuah Sentuhan

Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu. —Matius 8:3
Hanya Sebuah Sentuhan
Kiley tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke sebuah daerah terpencil di Afrika Timur guna membantu pelayanan medis di sana. Ia sempat ragu karena menyadari bahwa ia tidak mempunyai pengalaman medis apa pun. Namun, ia masih bisa menolong dengan memberikan perawatan dasar.
Di sana, ia bertemu dengan seorang wanita yang menderita suatu penyakit parah yang masih dapat diobati. Walau sempat merasa jijik saat melihat luka di kaki wanita itu, Kiley tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu. Wanita itu mulai menangis saat Kiley membersihkan dan membalut kakinya. Karena cemas, Kiley bertanya apakah ia telah menyakiti wanita itu. “Tidak,” jawab wanita itu. “Ini pertama kalinya ada orang menyentuhku dalam sembilan tahun.”
Kusta adalah jenis penyakit lain yang dapat membuat orang merasa jijik terhadap penderitanya. Budaya Yahudi kuno memiliki pedoman yang ketat untuk mencegah penyebaran penyakit kusta. Hukum Taurat menyatakan, “Ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan” (Im. 13:46).
Itulah mengapa sungguh luar biasa ketika seorang penderita kusta mendekati Yesus dan mengatakan, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Mat. 8:2). Kemudian “Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’” (ay.3).
Dengan menyentuh kaki penuh luka dari wanita yang kesepian itu, Kiley menunjukkan kasih Yesus yang tak kenal takut dan mau merengkuh sesama. Itulah dampak dari sebuah sentuhan. —Tim Gustafson
Tuhan, kami ingin menunjukkan kasih yang tak kenal takut seperti yang Engkau tunjukkan saat Engkau dahulu hidup di atas bumi.
Dampak apa yang akan kita berikan jika kita mengatasi rasa takut dan menyerahkan diri kita kepada Allah untuk dipakai-Nya?

Monday, May 1, 2017

Pertanyaan untuk Allah

Pergilah dengan kekuatanmu . . . . Akulah yang menyertai engkau. —Hakim-Hakim 6:14,16
Pertanyaan untuk Allah
Apa yang akan kamu lakukan jika Tuhan tiba-tiba muncul di hadapanmu dengan membawa sebuah pesan? Itulah yang dialami Gideon pada masa Israel kuno. “Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: ‘Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.’” Gideon bisa saja menjawab cukup dengan sebuah anggukan, tetapi ia justru berkata: “Ah, tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?” (Hak. 6:12-13). Gideon ingin tahu mengapa seolah-olah Allah telah meninggalkan umat-Nya.
Allah tidak menjawab pertanyaan itu. Meskipun Gideon dan bangsanya telah mengalami serangan musuh, kelaparan, dan bersembunyi di gua-gua selama tujuh tahun terakhir, Allah tidak menjelaskan mengapa Dia tidak pernah turun tangan. Allah bisa saja menyingkapkan dosa-dosa bangsa Israel di masa lalu sebagai alasan, tetapi sebaliknya Dia memberi Gideon pengharapan untuk masa depan. Allah berkata, “Pergilah dengan kekuatanmu . . . . Akulah yang menyertai engkau” (ay.14,16).
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa Allah mengizinkan penderitaan terjadi dalam hidupmu? Daripada menjawab pertanyaan yang spesifik itu, Allah dapat memuaskanmu dengan kedekatan-Nya dengan kamu hari ini dan mengingatkan bahwa kamu dapat mengandalkan kekuatan-Nya di saat kamu merasa lemah. Ketika Gideon akhirnya percaya bahwa Allah menyertainya dan akan menolongnya, ia pun membangun mezbah dan menamainya “Tuhan itu keselamatan” (ay.24).
Alangkah damainya saat mengetahui bahwa apa pun yang kita lakukan dan ke mana pun kita melangkah, kita melakukannya bersama dengan Allah yang berjanji tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan anak-anak-Nya. —Jennifer Benson Schuldt
Yang lebih baik daripada menerima jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanmu? Mempercayai Allah yang Mahabaik dan Mahakuasa.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate