Pages - Menu

Thursday, October 31, 2013

Mata Kasih

Baca: Markus 10:17-27

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya. —Markus 10:21

Banyak orang yang datang ke pertunjukan mentalist Marc Salem berpikir bahwa Marc dapat membaca pikiran seseorang. Namun ia tidak mengaku bahwa itulah yang dilakukannya. Ia mengatakan bahwa ia bukanlah seorang paranormal atau pesulap, tetapi seorang pengamat manusia yang sangat cermat. Katanya kepada penulis Jennifer Mulson, “Kita hidup di dunia yang sebagian besarnya tidak terlihat oleh kita karena kita tidak menaruh perhatian . . . . Saya sangat peka pada apa yang dipancarkan oleh seseorang” (The Gazette, Colorado Springs).

Sungguh menarik untuk memperhatikan apa yang Yesus lihat pada saat Dia bertemu dengan orang-orang. Pertemuan-Nya dengan seorang pemuda kaya yang sedang mencari kehidupan kekal tercatat dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas. Markus menambahkan rincian yang penting berikut ini, “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (Mrk. 10:21). Mungkin ada yang melihat pemuda ini sebagai orang yang sombong (ay.19-20), ada juga yang mungkin iri dengan kekayaannya, tetapi Yesus memandangnya dengan penuh kasih.

Kita sering memusatkan perhatian kita pada bagian ketika pemuda itu meninggalkan Yesus dengan sedih dan keengganannya untuk menjual semua kekayaannya dan mengikut Yesus (ay.22). Ketika para murid gempar dan membayangkan betapa sulitnya seorang kaya memasuki Kerajaan Allah (ay.26), “Yesus memandang mereka dan berkata: ‘Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.’” (ay.27).

Hari ini, Yesus memandang kita melalui mata kasih-Nya dan mengundang kita untuk mengikut-Nya. —DCM

Dia tinggalkan kemuliaan-Nya di surga,
Datang ke dalam dunia penuh dosa;
Dia pikul sendiri semua dosa dan hinaku,
Mengapa Dia sedemikian mengasihiku? —Roth

Allah memiliki mata yang melihat semuanya dan hati yang mengampuni sepenuhnya.

Allah Yang Menolong dan Menguatkan

Santapan Harian
Yesaya 41:8-20

Allah tidak pernah berjanji bahwa hidup kita sebagai seorang Kristen akan selalu lancar dan tanpa kesulitan. Namun jangan putus asa, karena Allah menjanjikan bahwa Ia akan menuntun, menyertai, dan memberi kita kekuatan dalam menjalani kehidupan yang penuh permasalahan yang rumit.

Ayat 1-7 menggambarkan ketidakbergunaan berhala-berhala dan dilema orang-orang kafir yang memilih untuk bergantung kepada sesamanya, dan kepada berhala (5-7). Lalu Allah berseru kepada Israel yang telah Dia pilih agar tidak takut dan bimbang karena Allah menyertai mereka (8-10).

Ada tiga alasan kenapa Israel tidak perlu takut dan dapat bergantung kepada Allah dengan tenang. Pertama, walaupun banyak musuh yang marah terhadap Israel, Allah akan membuat malu musuh-musuh umat-Nya (11-12), sebab Tuhan sendiri yang memegang tangan Israel dan menolong mereka (13). Kedua, walaupun umat Allah lemah (digambarkan dengan "cacing Yakub" dan "ulat Israel"), tetapi itu bukan masalah, Karena Allah akan "memegang tangan kanan" mereka dan menolong mereka (13-14). Allah akan menguatkan sehingga si cacing atau si ulat akan menjadi "papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar, " sehingga akan "mengirik gunung dan menghancurkannya" (14-15). Ketiga, walaupun keadaan begitu sulit sehingga orang- orang sengsara tidak dapat menemukan air hingga jadi kehausan, tetapi Tuhan akan menjawab mereka dan tidak meninggalkan mereka (17). Bahkan Tuhan akan membuat "mata-mata air membual di tengah dataran, dan membuat padang gurun menjadi telaga, dan memancarkan air dari tanah kering (18). Bahkan tanaman-tanaman akan ditumbuhkan dan semua orang kemudian mengetahui bahwa Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menjadikan semua itu (19-20).

Tidak ada situasi apa pun dimana Allah yang Mahakuasa tidak dapat menolong kita. Dengan demikian kita tidak perlu takut kepada musuh yang marah, pada kelemahan diri kita sendiri, maupun keadaan yang begitu menyulitkan, karena ada Allah yang menyertai dan menuntun tangan kita.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Wednesday, October 30, 2013

Bab Terakhir

Baca: Wahyu 22:6-20
Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! —Filipi 4:5
Saya punya seorang sahabat yang biasa membaca terlebih dahulu bab terakhir dari sebuah buku baru yang menegangkan. “Untuk mengurangi kecemasan saat membaca,” jelasnya. Demikian juga dengan orang-orang Kristen: Karena kita sudah tahu akhir kisah dari dunia ini, kita bisa menjadi sumber damai di tengah keadaan yang begitu kacau, dan tetap bersikap tenang di tengah bencana yang mengancam.
Rasul Paulus menyebut sikap ini sebagai “kebaikan hati” dalam Filipi 4:5. Istilah ini menyiratkan adanya “kedamaian hati di bawah tekanan”. Hal ini mengacu pada sikap tenang dan berhati-hati yang kita gunakan untuk menghadapi keadaan yang meresahkan kita sehari-hari. Kerajaan demi kerajaan mungkin ambruk, persahabatan mungkin goyah, gereja-gereja mungkin ditutup, lautan mungkin bergelora, dan gunung-gunung mungkin runtuh, tetapi kita bisa tetap merasa tenang dan hati kita merasa damai.
Bagaimana caranya kita mempertahankan sikap tenang seperti itu? Dengan mengingat bahwa “Tuhan sudah dekat” (Flp. 4:5); Dia akan segera datang. Tuhan kita sedang menantikan waktu bagi-Nya untuk menerobos dan membalikkan segala sesuatu yang salah menjadi benar. Pada saat itulah dunia ini dan seluruh isinya akan berada dalam tangan Tuhan, Raja kita, dan “bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut” (Hab. 2:14).
Yesus berkata, “Ya, Aku datang segera!” (Why. 22:20). Mungkin saja itu terjadi hari ini! Itulah hal terakhir yang dikatakan-Nya dalam pasal terakhir dari Alkitab-Nya. —DHR
Tuhan, terima kasih Engkau mengusir rasa takut dari kehidupan kami
dengan mengizinkan kami mengetahui akhir kisah dunia ini.
Kami dapat tenang dalam kepastian bahwa sebagai pengikut-Mu,
kami akan bersama-Mu dalam Kerajaan-Mu yang mulia dan kekal.
Keyakinan pada kedatangan Tuhan kembali sangat erat kaitannya dengan hidup sehari-hari.

Tuesday, October 29, 2013

Ajaib!

Baca: Ayub 42:1-6
Tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. —Ayub 42:3
Ketika pesawat kami sudah hendak mendarat, seorang pramugari datang dan membacakan sebuah daftar panjang tentang informasi kedatangan. Ia membacakannya seolah-olah untuk keseribu kalinya pada hari itu—tanpa emosi atau minat sembari ia terus membeberkan informasi menjelang pendaratan dengan gaya yang monoton. Lalu, dengan suaranya yang tetap terdengar lelah dan tanpa semangat, ia mengakhiri pengumumannya dengan mengatakan, “Selamat menikmati hari yang indah ini.” Datarnya nada bicara pramugari ini sungguh bertolak belakang dengan kata-kata penutup yang diucapkannya tadi. Ia memang menyebutkan kata “indah”, tetapi dengan cara yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takjub atas keindahan yang ada.
Terkadang saya khawatir kita menjalani persekutuan kita bersama Allah dengan cara yang sama: Rutin. Bosan. Apatis. Tanpa minat. Melalui Kristus, kita telah memiliki hak istimewa karena kita diterima ke dalam keluarga Allah yang hidup, tetapi seringkali kita tidak menunjukkan rasa takjub yang seharusnya menyertai kenyataan yang sungguh ajaib tersebut.
Ayub mempertanyakan Allah tentang penderitaannya, tetapi ketika ditantang oleh-Nya, Ayub pun tertegun oleh keajaiban Sang Pencipta dan karya ciptaan-Nya. Ayub menjawab, “Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui” (Ayb. 42:3).
Saya rindu keajaiban Allah dapat menguasai hati saya. Saya diterima menjadi anak Allah—alangkah ajaibnya! —WEC
Sungguh luar biasa! Sungguh ajaib!
Itulah pujian yang kulantunkan:
Sungguh luar biasa! Sungguh ajaib
Kasih Juruselamat bagiku! —Gabriel
Tiada yang dapat mengisi hati kita melebihi keajaiban Allah dan kasih-Nya.

Nantikanlah Tuhan

Baca: Mazmur 27
Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. —Mazmur 40:2
Dengan begitu banyaknya media komunikasi instan dewasa ini, ketidaksabaran kita dalam menantikan jawaban dari seseorang terkadang sangat menggelikan. Seorang kenalan saya mengirim e-mail kepada istrinya, tetapi ia kemudian menghubungi istrinya itu dengan telepon genggam karena merasa tidak sabar dalam menunggu jawabannya!
Terkadang kita merasa bahwa Allah telah mengecewakan kita karena Dia tidak segera menjawab doa kita. Sering kali sikap kita menjadi, “Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku!” (Mzm. 143:7).
Namun menantikan Tuhan dapat mengubah kita menjadi seseorang yang bertumbuh dalam iman. Raja Daud sudah bertahun-tahun menantikan saatnya ia dinobatkan menjadi raja dan melarikan diri dari Saul yang murka kepadanya. Daud menulis, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mzm. 27:14). Dan dalam mazmur lainnya, ia menguatkan kita dengan perkataan ini, “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. . . . Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku” (40:2-3). Daud tumbuh menjadi “seorang yang berkenan di hati [Allah]” dengan jalan menantikan Tuhan (Kis. 13:22; lih. 1Sam. 13:14).
Ketika kita merasa frustrasi karena Allah kelihatannya menunda untuk menjawab doa kita, alangkah baiknya kita mengingat bahwa Dia rindu untuk mengembangkan iman dan ketekunan dalam karakter diri kita (Yak. 1:2-4). Nantikanlah Tuhan! —HDF
Indahnya saat yang teduh
Penampung permohonanku
Kepada yang Mahabenar
Yang bersedia mendengar. —Walford
(Kidung Jemaat, No. 454)
Allah menguji kesabaran kita dengan maksud untuk membentuk karakter kita.

Sunday, October 27, 2013

Allah Di Dalam Badai

Baca: Ayub 37:14-24
Yang Mahakuasa, . . . besar kekuasaan dan keadilan-Nya. —Ayub 37:23
Di suatu subuh, angin mulai bertiup dan tetes hujan sebesar kerikil menerpa rumah saya. Saya mengintip ke luar untuk melihat langit kelabu kekuningan dan mengamati batang-batang pohon yang meliuk-liuk diterpa angin kencang. Sulur-sulur petir menerangi langit disertai derak guntur yang menggelegar. Listrik pun sempat mati, lalu menyala lagi, dan saya bertanya-tanya sampai berapa lama cuaca buruk ini akan berlangsung.
Setelah badai berlalu, saya membuka Alkitab untuk memulai hari saya dengan membaca Kitab Suci. Saya membaca sebuah bagian dalam kitab Ayub yang membandingkan kuasa Tuhan dengan kekuatan badai yang kuat di alam semesta. Teman Ayub, Elihu, berkata, “Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan” (37:5). Dan, “Kedua tangan-Nya diselubungi-Nya dengan kilat petir dan menyuruhnya menyambar sasaran” (36:32). Memang, Allah itu “besar kekuasaan dan keadilan-Nya” (37:23).
Dibandingkan dengan Allah, kita adalah manusia yang tak berdaya. Kita tidak sanggup membangun jiwa kita sendiri, memulihkan hati kita sendiri, atau mengatasi ketidakadilan yang sering kita alami. Namun bersyukurlah, Allah yang menguasai badai itu mempedulikan makhluk-makhluk yang tidak berdaya seperti kita; “Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Mzm. 103:14). Lebih dari itu, Allah “memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes. 40:29). Karena Allah itu kuat, Dia dapat menolong kita yang lemah. —JBS
Kunyanyikan keagungan kuasa Allah
Yang membuat gunung-gunung menjulang,
Yang menebarkan air laut mengalir luas
Dan yang membuat langit begitu tinggi. —Watts
Allah adalah sumber kekuatan kita.

Kandungan Bahan Yang Sehat

Baca: Amsal 4:14-27
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. —Amsal 4:23
Istri saya, Martie, adalah seorang pembelanja yang berhati-hati dalam membeli makanan yang sehat dan bergizi. Semenarik apa pun kemasannya, ia selalu memeriksa dahulu daftar kandungan bahan di bagian belakang kemasan itu. Banyaknya kata yang sulit dieja biasanya menunjukkan adanya kandungan bahan pengawet yang akan merusak nutrisi yang baik. Martie selalu mengembalikan barang-barang itu ke rak pajang dan melanjutkan usahanya untuk mencari label kemasan yang berisi daftar bahan makanan alami yang bermanfaat bagi kesehatan.
Saya sering berpikir bahwa kebiasaan Martie dalam berbelanja itu sangat mirip dengan apa yang dicari Allah di dalam hidup kita: Tidak peduli semenarik apa pun penampilan luar kita, yang penting adalah yang ada di dalam batin kita. Tidaklah mengherankan bahwa penulis hikmat dalam kitab Amsal mengingatkan kita untuk menjaga apa saja yang masuk ke dalam hati kita, “karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23). Mengenakan busana yang pantas dan menjaga kondisi tubuh supaya tampak awet muda tidaklah begitu penting jika ternyata hati kita dipenuhi dengan keserakahan, kebencian, gerutu, sikap mengasihani diri sendiri, dan kandungan-kandungan lainnya yang justru merusak diri.
Jadi, tanyakan kepada diri Anda sendiri: Ketika orang lain memandang saya melampaui penampilan saya, apakah mereka bisa mengalami ungkapan hati saya yang penuh dengan kandungan bahan yang menyehatkan dan memuliakan Kristus? Dengan memiliki kemurahan hati, kebaikan, kesabaran, dan belas kasihan, kita akan dapat mencerminkan sifat Kristus yang indah. —JMS
Tuhan, ajarku untuk menghargai hatiku lebih daripada penampilanku.
Beriku hikmat untuk memupuk bahan di dalam diriku
yang akan menjadikan hatiku sebagai mata air kehidupan
bagi mereka yang bertemu denganku hari ini.
Isi hati Anda jauh lebih penting daripada penampilan luar Anda.

Friday, October 25, 2013

Mengasihi Dan Mengetahui

Baca: Roma 5:6-11
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8
Dalam novel karya Jonathan Safran Foer, salah satu tokohnya mengomentari Empire State Building di New York dengan mengatakan, “Aku tahu bangunan ini karena aku mencintainya.”
Pernyataan tersebut membuat saya berpikir tentang hubungan antara cinta dan pengetahuan. Ketika kita mencintai sesuatu, kita ingin tahu segala sesuatu tentang hal tersebut. Ketika kita mencintai suatu tempat, kita ingin menjelajahi setiap jengkal tempat itu. Ketika kita mencintai seseorang, kita ingin tahu setiap seluk-beluk kehidupannya. Kita ingin tahu apa yang disukainya, bagaimana ia menggunakan waktunya, di mana ia dibesarkan, siapa teman-temannya, apa keyakinannya. Daftar ini tak ada habisnya. Namun ada di antara kita yang ingin dicintai tetapi tidak mau membuka diri dan membiarkan orang lain tahu tentang diri kita. Kita takut kita tidak akan dicintai jika jati diri kita yang sebenarnya terungkap.
Kita tidak perlu khawatir tentang hal itu terjadi dengan Allah. Kasih-Nya jauh lebih tinggi dibandingkan kasih kita: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Selain itu, Dia membuat diri-Nya dikenal oleh kita. Melalui penciptaan, Kitab Suci, dan Kristus, Allah mengungkapkan karakter-Nya dan kasih-Nya. Karena Allah mengasihi kita tanpa memandang ketidaksempurnaan kita, dengan aman kita dapat mengakui segala kesalahan kita kepada-Nya. Dengan Allah, kita tidak perlu takut untuk membuka diri. Itulah mengapa mengenal Allah berarti juga mengasihi-Nya. —JAL
Diamlah dan ketahuilah, Dialah Allah
Meski jalannya curam dan kasar,
Bukan yang diberikan-Nya, tetapi keberadaan-Nya
Akan senantiasa cukuplah. —NN.
Tiada sukacita yang lebih besar daripada mengetahui bahwa Allah mengasihi kita.

Thursday, October 24, 2013

Penciptaan Kembali

Baca: 2 Korintus 5:12-21
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. —2 Korintus 5:17
Kehidupan Chris Simpson dahulu dipenuhi kebencian. Setelah ia dan istrinya kehilangan anak sulung mereka, Chris merasa bingung dan menjadi pemarah. Ia pun melampiaskan kemarahan itu terhadap beragam kelompok etnis yang berbeda darinya dan memenuhi seluruh tubuhnya dengan tato yang penuh dengan pesan kebencian.
Namun setelah mendengar putranya mempunyai sikap yang meniru kebenciannya, Simpson pun sadar ia harus berubah. Ia menyaksikan sebuah film Kristen tentang nilai-nilai keberanian dan mulai menghadiri ibadah di gereja. Satu bulan kemudian ia dibaptis sebagai pengikut Yesus Kristus. Simpson sekarang menjadi seorang manusia baru. Ia pun memutuskan untuk menghapus tato-tatonya, suatu proses yang mahal dan menyakitkan demi tekadnya menanggalkan kebenciannya di masa lalu.
Rasul Paulus mengalami sendiri perubahan yang luar biasa mendalam ini. Ia pernah membenci Yesus dan menganiaya para pengikut-Nya (Kis. 22:4-5; 1Kor. 15:9). Namun suatu perjumpaan pribadi dan penyatuan rohani dengan Kristus (Kis. 9:1-20) mengubah semua itu, dan ini mendorong Paulus untuk mengkaji ulang hidupnya menurut apa yang telah dilakukan Yesus di atas kayu salib. Penyatuan dengan Kristus ini menjadikan Paulus seorang manusia baru. Manusia lama yang penuh dosa, kematian, dan egoisme telah berlalu dan digantikan oleh suatu awal yang baru, perjanjian yang baru, pandangan dan cara hidup yang baru.
Mengikut Yesus bukanlah sekadar membuka lembaran baru, melainkan awal dari suatu kehidupan baru yang dipimpin oleh Tuan yang baru. —MLW
Untuk Direnungkan Lebih Lanjut
Apakah buktinya penyatuan saya dengan Kristus telah mengubah
kemanusiaan saya yang lama? Adakah tanda-tanda bahwa
saya tidak sama lagi seperti diri saya yang sebelumnya?
Hidup di dalam Kristus bukan rehabilitasi, melainkan diciptakan kembali.

Wednesday, October 23, 2013

Kehilangan & Menemukan

Baca: Lukas 9:18-27
Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. —Lukas 9:24
Ketika Bunda Teresa meninggal pada tahun 1997, orang-orang kembali mengagumi teladan kerendahan hatinya dalam melayani Kristus dan kaum yang sangat membutuhkan pertolongan. Selama 50 tahun, ia telah melayani orang-orang yang miskin, sakit, yatim piatu, dan sekarat melalui ordo Misionaris Charitas di Kalkuta, India.
Setelah mewawancarai beliau secara ekstensif, Malcolm Muggeridge, seorang wartawan asal Inggris menulis: “Pada masa kini, banyak orang yang berbicara tentang usaha menemukan jati diri, seolah-olah jati diri itu sesuatu yang perlu untuk dicari, seperti mencari nomor pemenang dalam lotere; lalu ketika ditemukan, jati diri itu ditimbun dan disimpan baik-baik. Sebenarnya, . . . semakin besar jati diri itu dicurahkan, semakin berlimpah jati diri itu. Demikianlah Bunda Teresa, dengan tidak menonjolkan dirinya, ia menjadi dirinya sendiri. Saya belum pernah bertemu seseorang yang lebih mengesankan daripada dirinya.”
Saya menduga bahwa banyak dari kita mungkin takut pada apa yang akan terjadi apabila kita menaati perkataan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 9:23-24).
Juruselamat kita mengingatkan para pengikut-Nya bahwa Dia datang untuk memberi kita hidup berkelimpahan (Yoh. 10:10). Kita dipanggil untuk kehilangan hidup kita demi Kristus, dan dengan melakukannya, kita menemukan kepenuhan hidup di dalam Dia. —DCM
“Angkatlah salibmu dan ikutlah Aku,”
‘Ku dengar panggilan Juruselamat;
Mungkinkah aku enggan memberi
Padahal Yesus telah beri seluruh-Nya? —Ackley
Ketika kita kehilangan hidup kita demi Kristus, kita menemukan kepenuhan hidup di dalam Dia.

Tuesday, October 22, 2013

Gerakan Berlaku Baik

Baca: Roma 15:1-7
Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. —Roma 14:19
Setiap tahun para pemuda di lingkungan kami berpartisipasi dalam gerakan sosial berjudul “Be Nice” (Berlakulah Baik) yang dipelopori oleh sebuah organisasi kesehatan mental. Dalam salah satu acara mereka di tahun 2012, sekitar 6.000 orang siswa membentuk kata-kata “BE NICE” dengan gerak tubuh mereka di tengah lapangan olahraga sekolah mereka masing-masing. Salah seorang kepala sekolah mengatakan, “Kami ingin para siswa dapat datang ke sekolah dan belajar tanpa diusik perasaan takut atau sedih atau merasa tidak nyaman di sekitar teman-teman sebaya mereka. Kami bekerja keras untuk memastikan bahwa semua siswa akan mendukung satu sama lain, dan bukan saling menjatuhkan.”
Paulus merindukan agar jemaat di Roma memiliki standar kasih yang lebih tinggi lagi. Di dalam jemaat itu terdapat sikap saling menghakimi dan menghina antara orang yang imannya kuat dengan yang imannya lemah (Rm. 14:1-12). Mereka membenci satu sama lain ketika mereka memperdebatkan makanan apa saja yang boleh dimakan (ay.2-3) dan hari-hari khusus apa saja yang harus dirayakan (ay.5-6). Paulus menantang mereka: “Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (ay.19). Ia mengingatkan bahwa mereka seharusnya memikirkan apa yang menyenangkan orang lain, dan bukan menyenangkan diri sendiri. Ia berkata, “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri” (15:3), Dia pun rela melayani.
Dengan bergabung dalam gerakan untuk mau mengasihi orang lain tanpa memandang perbedaan yang ada, Anda akan memuliakan Allah (ay.7). —AMC
Ya Tuhan, aku ingin menjadi orang yang baik dan penuh kasih
kepada sesama. Tolong aku untuk mengucapkan kata-kata
yang membangun semangat orang lain dan membawa pujian
dan kemuliaan bagi nama-Mu.
Kebaikan semata-mata adalah kasih yang mengalir keluar dalam sikap yang lemah lembut.

Sunday, October 20, 2013

Hati Yang Tersesat

Baca: Keluaran 32:21-35
Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: “Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka.” —Keluaran 32:31
Pada musim gugur tahun lalu, sebuah jalan bebas hambatan di kota saya ditutup selama beberapa jam karena ada sebuah truk pengangkut ternak yang terbalik. Ternak yang tadinya diangkut kini telah melarikan diri dan terlihat berkeliaran di sepanjang jalan raya. Membaca berita tentang ternak yang tersesat membuat saya berpikir tentang sesuatu yang baru saya pelajari dari Keluaran 32 mengenai umat Allah yang melarikan diri dari-Nya.
Di dalam kerajaan Israel kuno yang telah terpecah dua, Raja Yerobeam mendirikan dua anak lembu jantan dari emas untuk disembah bangsanya (1Raj. 12:25-32). Namun ide untuk menyembah sebongkah emas bukanlah pemikirannya sendiri. Bahkan setelah lolos dari perbudakan yang kejam dan menyaksikan kuasa dan kemuliaan Tuhan yang dinyatakan dengan dahsyat, bangsa Israel cepat sekali membiarkan hati mereka berpaling dari Allah (Kel. 32). Ketika Musa sedang berada di Gunung Sinai untuk menerima hukum-hukum dari Allah, Harun saudaranya membantu umat Allah jatuh sesat dengan membuat sebuah berhala dalam rupa patung anak lembu emas. Penulis kitab Ibrani mengingatkan kita akan murka Allah terhadap penyembahan berhala ini dan kepada mereka yang “sesat hati” (Ibr. 3:10).
Allah tahu bahwa hati kita memiliki kecenderungan untuk sesat. Firman-Nya jelas menyatakan bahwa Dialah Tuhan dan kita tidak boleh menyembah ”allah lain” (Kel. 20:2-6).
“Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah” (Mzm. 95:3). Dialah satu-satunya Allah yang benar! —CHK
Tiap hari ‘ku berutang pada kasih abadi,
Rantailah hatiku curang dengan rahmat tak henti.
‘Ku dipikat pencobaan meninggalkan kasih-Mu;
Inilah hatiku, Tuhan, meteraikan bagi-Mu! —Robinson
(Kidung Jemaat, No. 240)
Jika Engkau sangat ingin sesuatu, apalagi lebih daripada menginginkan Allah, itulah berhalamu. —A. B. Simpson

Saturday, October 19, 2013

Berapa Lama Lagi?

Baca: Mazmur 13
Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? —Mazmur 13:2
Selama 9 tahun, Raja Saul memburu Daud seperti “orang memburu seekor ayam hutan di gunung-gunung” (1Sam. 26:20). “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?” Daud berdoa. “Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? . . . Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (Mzm 13:2-3).
Penderitaan yang berkepanjangan sering membuat kita dongkol juga. Kita ingin segera mendapatkan solusi atau suatu penyelesaian yang secepat kilat. Namun memang ada hal-hal yang tidak dapat diselesaikan dan hanya dapat kita tanggung.
Namun kita dapat datang kepada Allah untuk membawa segala kesulitan kita. Kita memiliki Bapa Surgawi yang menginginkan kita untuk melibatkan-Nya di tengah perjuangan kita. Tidak ada yang dapat memahami anak-anak-Nya sebaik Dia sendiri.
Ketika datang kepada-Nya dengan keluhan kita, kita akan kembali sadar. Dalam pengalaman Daud, ia teringat kembali pada sesuatu yang pasti dalam hidup, yaitu kasih Allah. Daud mengingatkan dirinya sendiri: “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (ay.6). Penderitaan boleh berlanjut, tetapi kini Daud dapat bernyanyi di tengah pergumulannya, karena ia adalah anak Allah yang terkasih. Hanya itu yang perlu diketahuinya.
A. W. Thorold menulis, “Puncak tertinggi dalam kehidupan rohani bukanlah sukacita girang di tengah hari yang selalu indah, melainkan kepercayaan yang mutlak dan tanpa ragu terhadap kasih Allah.” Bahkan di tengah masalah kita, kasih Allah dapat dipercaya. —DHR
Memang Dia peduli; kutahu Dia peduli,
Hati-Nya peduli pada kepedihanku;
Di tengah penatnya hari dan malam yang suram,
Kutahu Juruselamatku peduli! —Graeff
Kasih Allah bertahan ketika yang lain mengecewakan.

Friday, October 18, 2013

Sebuah Akhir?

Baca: 1 Korintus 15:50-58
Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. —1 Korintus 15:57
Segala sesuatu di dunia ini pasti akan berakhir, dan kenyataan itu terkadang membuat ciut hati. Perasaan seperti itu Anda rasakan ketika Anda sedang membaca sebuah buku yang begitu bagus sehingga Anda tidak ingin buku tersebut tamat. Atau ketika Anda menonton sebuah film dan Anda berharap filmnya bisa berlanjut sedikit lebih panjang lagi.
Namun segala hal—baik atau buruk—pasti akan mencapai “akhir”. Bahkan, kehidupan juga pasti berakhir—terkadang lebih cepat dari yang kita harapkan. Setiap dari kita yang pernah berdiri di sisi peti mati dari seseorang yang kita sayangi pastilah mengetahui betapa pedihnya perasaan hampa dalam hati yang berharap seandainya hidup kekasih kita itu belum berakhir.
Syukurlah, Yesus melangkah ke tengah kancah kekecewaan yang timbul atas kematian, dan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia memberi kita pengharapan. Di dalam Dia, “akhir” adalah sebuah awal menuju kekekalan yang bebas dari kematian, dan kata-kata seperti “segalanya sudah berakhir” pun diganti dengan ungkapan penuh sukacita dari “sampai selama-selamanya”. Karena tubuh kita tidak abadi, Paulus meyakinkan kita bahwa “kita semuanya akan diubah” (1Kor. 15:51) dan mengingatkan kita bahwa karena Kristus telah menaklukkan kematian, kita dapat dengan penuh keyakinan berkata, “Hai maut di manakah kemenanganmu?” (ay.55).
Jadi janganlah hati Anda gelisah. Kesedihan kita memang nyata, tetapi hati kita dapat dipenuhi dengan rasa syukur, karena Allah “telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (ay.57). —JMS
Tuhan, jaga mata dan hati kami agar tidak terpaku pada sukacita
atau kekecewaan yang sifatnya sementara, melainkan kepada
keabadian yang penuh kemenangan. Terima kasih atas kematian dan
kebangkitan-Mu yang menjamin masa depan kami selamanya.
Dalam Kristus, akhir hidup menjadi permulaan baru.

Thursday, October 17, 2013

Cinta Tanpa Halangan

Baca: Matius 23:37-39
Yerusalem, Yerusalem . . . Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. —Matius 23:37
Belum lama ini, saya mendengar kicauan panik seekor burung dari arah rumah tetangga kami. Saya menemukan ada sebuah sarang berisi anak-anak burung di dalam suatu lubang angin yang tertutup selembar kasa, sehingga si induk terhalang untuk memberi makan anak-anaknya yang kelaparan. Setelah saya memberi tahu tetangga saya itu, mereka pun melepaskan lembaran kasa tersebut dan memindahkan sarang beserta isinya ke tempat yang lebih aman agar anak-anak burung tersebut dapat diberi makan oleh induknya.
Memang memilukan saat kasih terhalang untuk diwujudkan. Kristus, Mesias yang telah lama dinantikan bangsa Israel, menemui halangan terhadap kasih-Nya ketika umat pilihan-Nya menolak Dia. Dia menggunakan gambaran seekor induk ayam dan anak-anaknya dalam menggambarkan keengganan mereka untuk menerima kasih-Nya: “Yerusalem, Yerusalem . . . Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat. 23:37).
Dosa kita merupakan penghalang yang memisahkan kita dari Allah (Yes. 59:2). Namun “begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Yesus mengatasi penghalang terhadap kasih Allah melalui kematian-Nya di atas salib dan kebangkitan-Nya (Rm. 5:8-17; 8:11). Sekarang Dia rindu agar kita mengalami kasih-Nya dan menerima pemberian ini. —HDF
Hatiku tergerak setiap kali aku memikirkan Yesus,
Nama indah yang membebaskan para tawanan;
Satu-satunya Nama yang memberiku keselamatan.
Tiada nama lain di bumi terlebih indah bagiku. —Eliason
Melalui salib-Nya, Yesus menyelamatkan dan menebus.

Wednesday, October 16, 2013

Batu Coade

Baca: 1 Petrus 2:1-10
Sebab itu, datanglah kepada Tuhan. Ia bagaikan batu yang hidup, batu yang dibuang oleh manusia karena dianggap tidak berguna; tetapi yang dipilih oleh Allah sebagai batu yang berharga. —1 Petrus 2:4 BIS
Di seluruh penjuru kota London, terdapat banyak patung dan benda-benda lain yang terbuat dari bahan bangunan unik yang disebut batu Coade. Batu buatan yang dirancang oleh Eleanor Coade sebagai produksi usaha keluarganya di akhir abad ke-18 ini hampir tidak terhancurkan dan punya kemampuan untuk bertahan terhadap waktu, cuaca, dan polusi buatan manusia. Meski hal ini merupakan suatu penemuan yang hebat pada masa Revolusi Industri, batu Coade tidak lagi dibuat sejak 1840-an setelah kematian Eleanor, dan digantikan dengan semen Portland sebagai suatu bahan bangunan. Meski demikian, dewasa ini masih terdapat banyak karya berbahan batu keras mirip keramik ini yang telah bertahan selama lebih dari 150 tahun di tengah iklim London yang sering tak menentu.
Rasul Petrus menggambarkan Yesus sebagai batu yang hidup. Ia menuliskan, “Datanglah kepada Tuhan. Ia bagaikan batu yang hidup, batu yang dibuang oleh manusia karena dianggap tidak berguna; tetapi yang dipilih oleh Allah sebagai batu yang berharga. Kalian seperti batu-batu yang hidup. Sebab itu hendaklah kalian mau dipakai untuk membangun Rumah Allah yang rohani” (1Ptr. 2:4-5 bis). Pengorbanan Kristus Sang Gunung Batu keselamatan kita itu berharga di mata Bapa. Kristus adalah gunung batu kekal yang menjadi dasar Bapa untuk membangun keselamatan kita dan Dialah satu-satunya dasar untuk kehidupan yang bermakna (1Kor. 3:11).
Hanya ketika hidup kita dibangun di atas kekuatan-Nya, kita dapat bertahan terhadap kerasnya kehidupan di dunia yang berdosa. —WEC
Tiada lain landasanku,
Hanyalah pada darah-Mu;
Tiada lain harapanku,
‘Ku bersandarkan nama-Mu. —Mote
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 120)
Tak perlu kita takut jika kita dekat dengan Kristus, Gunung Batu yang kekal.

Tuesday, October 15, 2013

Impian Masa Kanak-kanak

Baca: Mazmur 8
Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan. —Mazmur 8:3
Bertahun-tahun yang lalu, saya meminta sejumlah murid kelas lima untuk mempersiapkan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada Yesus seandainya Dia hadir pada minggu berikutnya. Saya juga meminta beberapa kelompok orang dewasa melakukan hal yang sama. Hasilnya sungguh berbeda. Pertanyaan anak-anak itu berkisar dari yang menggemaskan hingga yang mengharukan: “Akankah kami terus duduk memakai jubah dan menyanyi sepanjang hari di surga? Apakah aku akan bertemu anak anjingku di surga? Apakah ikan paus ada di dalam atau di luar bahtera Nuh? Apa kabar kakekku di surga sana dengan-Mu?” Hampir semua pertanyaan mereka bebas dari keraguan pada keberadaan surga atau cara kerja Allah yang supernatural.
Di sisi lain, orang dewasa menampilkan pertanyaan-pertanyan yang jauh berbeda: “Mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang-orang baik? Bagaimana saya bisa yakin Engkau mendengarkan doa-doaku? Mengapa hanya ada satu jalan ke surga? Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih mengizinkan tragedi ini terjadi padaku?”
Pada umumnya, anak-anak menjalani hidup yang tidak terbelenggu oleh kekhawatiran dan kesedihan yang membebani orang dewasa. Iman mereka membuat mereka lebih mudah percaya kepada Allah. Sementara orang-orang dewasa seperti kita sering tersesat dalam pencobaan dan penderitaan, anak-anak memiliki pandangan terhadap kehidupan seperti yang dimiliki sang pemazmur—suatu sudut pandang kekal yang menyaksikan kebesaran Allah (Mzm. 8:2-3).
Allah dapat dipercaya, dan Dia rindu agar kita mempercayai-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh anak-anak (Mat. 18:3). —RKK
Ya Bapa, kiranya aku dapat menemukan kembali impian masa
kanak-kanak ketika pemikiran akan Engkau memenuhiku dengan
rasa damai dan aku rindu untuk lebih mengenal-Mu.
Berilah aku iman yang mempercayai-Mu sepenuhnya.
Hidup yang dekat dengan Allah membuat perhatian kita beralih dari ujian masa kini kepada kemenangan kekal.

Monday, October 14, 2013

Benih Dan Tanah

Baca: Matius 13:1-9
Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. —2 Petrus 3:18
Jika Anda suka menanam buah labu, Anda mungkin pernah mendengar tentang benih biji labu premium varietas raksasa yang disebut Dill’s Atlantic Giant. Dikembangkan di tengah suatu perkebunan keluarga di wilayah Atlantik Kanada, buah-buah labu yang tumbuh dari benih ini terus mencatat rekor di berbagai belahan dunia. Pada tahun 2011, sebuah labu yang ditanam di Quebec berhasil mencetak rekor dunia baru karena beratnya 825 kg . Dari labu sebesar itu dapat dibuat hampir 1000 potong kue labu!
Ketika para wartawan berita menanyakan bagaimana labu tersebut dapat tumbuh menjadi sebesar itu, sang petani menjawab bahwa itu terjadi karena kualitas tanahnya. Benihnya memang berasal dari varietas yang menghasilkan buah berukuran besar, tetapi tanahnya juga harus tepat, karena jika tidak, labu tidak akan dapat tumbuh dengan baik.
Tuhan Yesus menggunakan sebuah ilustrasi yang membandingkan beragam jenis tanah dengan cara orang menerima firman Allah (Mat. 13). Ada benih yang dimakan burung, ada benih yang mulai tumbuh namun kemudian terhimpit oleh semak duri, sementara benih lainnya tumbuh cepat tetapi tidak mempunyai tanah yang baik untuk menunjang pertumbuhannya. Namun benih yang jatuh di tanah yang baik “lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (ay.8).
Setiap dari kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Jenis tanah apakah saya?” Tuhan ingin menanamkan firman-Nya di dalam hati kita sehingga kita pun dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Dia. —Brent Hackett, Direktur RBC Kanada
Semakin ingin kukenal Yesus
Semakin ingin kupahami kehendak-Nya yang kudus;
Roh Allah, jadilah guruku,
Nyatakan padaku Kristus seutuhnya. —Hewitt
Buah Roh bertumbuh di atas tanah ketaatan.

Sunday, October 13, 2013

Menghadapi Masa Lalu Kita

Baca: Kisah Para Rasul 9:20-30
Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid. —Kisah Para Rasul 9:26
Chuck Colson, pendiri Prison Fellowship (Persekutuan Penjara), menghabiskan 40 tahun hidupnya membantu orang-orang menerima dan memahami kabar baik tentang Yesus Kristus. Ketika ia meninggal pada bulan April 2012, judul artikel pada sebuah surat kabar berbunyi “Charles Colson, ‘kaki tangan’ Nixon yang licik, meninggal pada usia 80 tahun”. Sungguh mencengangkan melihat seorang pria yang telah begitu diubahkan oleh iman masih saja dikenal dari hal-hal yang dilakukannya sebagai seorang pembantu presiden yang zalim berpuluh-puluh tahun sebelum ia mengenal Sang Juruselamat.
Pertobatan Rasul Paulus dan masa-masa awal hidupnya sebagai saksi Kristus disambut dengan keraguan dan rasa takut. Ketika ia mulai berkhotbah bahwa Yesus adalah Anak Allah, orang banyak berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” (Kis. 9:21). Selanjutnya, ketika Paulus pergi ke Yerusalem dan berusaha bergabung dengan para murid, mereka takut kepadanya (ay.26). Bertahun-tahun kemudian, Paulus tak pernah melupakan masa lalunya, dan justru menyaksikannya sebagai bukti kasih karunia Allah (1Tim. 1:13-14).
Seperti Paulus, kita tidak perlu memamerkan kegagalan kita atau berpura-pura bahwa hal tersebut tidak terjadi. Sebaliknya, kita dapat mengucap syukur kepada Tuhan karena melalui kasih dan kuasa-Nya, masa lalu kita sudah diampuni, hidup kita sekarang diubah, dan masa depan kita dipenuhi dengan pengharapan akan segala sesuatu yang telah disediakan-Nya untuk kita. —DCM
Diubahkan oleh rahmat Ilahi,
Kemuliaan hanyalah bagi-Mu;
Kepada kehendak-Mu yang kudus, oh Tuhan,
Kini kami tunduk sepenuhnya. —Burroughs
Hanya Yesus yang dapat mengubah hidup kita.

Saturday, October 12, 2013

Jalan-jalan ke Belgia Bagian 1

Perjalanan saya kali ini ke Belgia adalah karena mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah konferensi dari sebuah perusahaan teknologi terkenal asal Amerika Serikat. Saya selama beberapa waktu terakhir telah menjadi volunteer untuk perusahaan tersebut.
Setelah mendapatkan undangan resmi, saya pun segera mengatur segala sesuatu yang diperlukan, termasuk mempersiapkan dokumen perjalanan, seperti paspor dan visa. Segeralah saya mengurus paspor ke kantor imigrasi di Yogyakarta, tempat domisili saya.
Proses pembuatan paspor di kantor imigrasi sebenarnya tidaklah terlalu rumit, asalkan kita mengikuti semua prosedur yang ada, mengurus sendiri paspor bukanlah momok yang perlu ditakuti. Asalkan semua persyaratan dokumen terpenuhi, niscaya paspor pun akan kita terima. Proses pembuatan paspor dimulai dengan pengisian dan penyerahan formulir paspor yang dapat diperoleh secara cuma-cuma di kantor imigrasi, dilengkapi dengan beberapa dokumen pendukung (asli dan fotokopi), persyaratan lengkap untuk pembuatan paspor dapat dilihat di sini: http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/paspor-biasa
Setelah menyerahkan formulir dan dokumen pendukung, kita akan diberi tahu tanggal wawancara untuk paspor kita (biasanya 2 atau 3 hari setelah penyerahan formulir). Dan dua hari kemudian, saya pun mengikuti proses wawancara dan melakukan pembayaran biaya pembuatan paspor. Silahkan cek di website imigrasi.go.id untuk mengetahui biaya pembuatan paspor saat ini.
Setelah wawancara, petugas pun memberikan informasi tanggal pengambilan paspor, dan saat hari itu tiba, saya pun membawa pulang paspor yang masih kosong (maklum waktu itu belum ada rencana ke luar negeri).
Satu bulan kemudian, pihak pengundang pun memberikan informasi booking pesawat, penginapan, dan surat pendukung untuk pembuatan visa. Karena untuk bepergian ke Belgia membutuhkan visa Schengen (untuk kunjungan singkat), dan pengurusan visa Schengen Belgia diwakilkan di Kedutaan Besar Belanda, maka saya harus membuat janji temu di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta. Setelah menemukan tanggal yang tepat untuk wawancara visa, saya pun segera mempersiapkan diri untuk mengikuti wawancara tersebut, dan segera mencari tau teknik-teknik dan hal-hal yang perlu dipersiapkan agar visa disetujui.
Saya pun menghabiskan beberapa minggu untuk mempelajari teknik-teknik agar visa disetujui, termasuk mempersiapkan sejumlah dana di rekening bank (sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena semua biaya ditanggung pihak pengundang, dan hal tersebut tertulis di surat undangan). Setelah semua dokumen siap, dan waktunya tiba, maka saya pun mengikuti wawancara visa di Kedutaan Besar Belanda, dan waktu itu saya diwawancara oleh seorang Bapak yang notabene adalah orang Indonesia. Setelah melalui tahap wawancara, saya harus menunggu satu hari, dan keesokan harinya visa Schengen pun tertera di dalam paspor saya. Alangkah bahagianya saya waktu itu! Kini tinggal menunggu tanggal keberangkatan ke Belgia. Sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa apabila dapat berkunjung ke sana tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun (semua biaya ditanggung pihak pengundang, termasuk biaya visa).

Dalam postingan berikutnya, akan saya tuliskan mengenai perjalanan saya ke negeri Belgia. Tunggu postingan saya selanjutnya ya!

Saya Tidak Dipandang

Baca: Yesaya 40:25-31
[Tuhan] memberi kekuatan kepada yang lelah. —Yesaya 40:29
Teman saya Jane pernah mengatakan sesuatu dalam suatu rapat kerja dan tidak ada yang menanggapinya. Jadi ia mengulangi perkataannya dan sekali lagi tidak ada yang menanggapinya; rekan sekerjanya mengabaikannya sama sekali. Ia menyadari bahwa pendapatnya tidak berpengaruh besar. Ia pun merasa diabaikan dan tidak dipandang. Anda mungkin pernah merasakannya juga.
Umat Allah juga merasakan hal yang sama sebagai sebuah bangsa (Yes. 40). Hanya saja mereka meyakini bahwa Allah tidak melihat atau memahami perjuangan mereka sehari-hari untuk bertahan hidup! Kerajaan Selatan telah ditawan dan dibuang ke Babel, dan bangsa yang sedang dalam pengasingan itu mengeluh: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (ay.27).
Walaupun Yesaya setuju bahwa jika dibandingkan dengan Allah, “bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca” (ay.15), ia juga ingin agar bangsa itu mengetahui bahwa Allah memberi kekuatan kepada yang lemah dan menambah semangat kepada yang membutuhkannya (ay.29). Jika mereka menantikan Tuhan, kata Yesaya, Dia akan memberikan mereka kekuatan baru. Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka akan berlari dan tidak menjadi lelah (ay.31).
Ketika Anda merasa tidak dipandang dan terabaikan, ingatlah bahwa Allah memandang Anda dan Dia mempedulikan Anda. Nantikanlah Dia, dan Dia akan memberikan kekuatan baru. —AMC
Umat-Mu lemah dan dari debu,
Tetap memegang janji-Mu teguh.
Kasih setia-Mu berlimpah terus,
Ya Khalik, Pembela, dan Kawan kudus! —Grant
(Kidung Jemaat, No. 4)
Bahkan di saat kita tidak merasakan kehadiran Allah, kasih pemeliharaan-Nya tetap melingkupi

Friday, October 11, 2013

Sangat Indah Di Dalam

Baca: Roma 8:1-11
Keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. —Roma 8:6
Di pinggir suatu jalan yang ramai terletak sebuah rumah yang terlihat biasa-biasa saja. Orang bisa saja melewatkannya karena rumah itu tidak punya ciri khas apa pun. Namun beberapa hari yang lalu ketika melewatinya, saya melihat ada papan tanda “Dijual” di halamannya. Sebuah tulisan yang lebih kecil ditambahkan pada papan tersebut yang mengumumkan dengan nada riang: “Masuklah, aku sangat indah di dalam.” Meski saya tidak sedang mencari rumah baru, tanda yang terpampang itu memikat saya. Hal apa yang dapat membuat rumah yang terlihat biasa dari luar itu sangat indah di dalamnya?
Hal ini juga membuat saya bertanya-tanya: Apakah tanda tersebut juga berlaku bagi kita sebagai pengikut Yesus? Pikirkanlah. Bagaimanapun penampilan luar kita, bukankah seharusnya di dalam batin kita terdapat kecantikan yang memancarkan kasih dan karya Allah dalam hidup kita?
Apa yang dikatakan Alkitab mengenai kecantikan di dalam batin? Kita dapat memulai dari Roma 7:22, yang mengatakan, “Sebab di dalam batinku, aku suka akan hukum Allah.” Beberapa ayat berikutnya dalam Roma 8:6, Paulus berbicara tentang pikiran yang dikuasai oleh Roh Kudus dan bercirikan “hidup dan damai sejahtera.” Dan di kitab Galatia, kita melihat bahwa jika kita membiarkan Roh Kudus mengendalikan batin kita, maka di dalam diri kita akan tumbuh “buah Roh” (5:22), suatu rangkaian kualitas diri yang indah seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, dan kemurahan.
Bersukacita di dalam firman Allah dan mengizinkan Roh Kudus bekerja di dalam hati kita akan memperindah batin kita—dan akan membuahkan hidup yang memuliakan Allah. —JDB
Ya Tuhan, aku berdoa agar melalui karya Roh-Mu di dalamku,
aku diubahkan sehingga hidupku akan menampilkan
keindahan buah Roh yang akan menarik orang lain
kepada-Mu dan mencerminkan kemuliaan nama-Mu.
Kebenaran dalam hati Anda akan melahirkan keindahan dalam karakter Anda.

Thursday, October 10, 2013

Komik Strip: Kasih Itu Bertindak

Oleh Aprilia Akhsa T., peserta workshop komik strip “I Love To Draw The Story” “Kasih itu bertindak. Bukan hanya sekedar kata-kata kosong.”
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18)

Sudahkah kita sungguh-sungguh mendoakan orang yang kita telah berkata akan kita doakan?

Wednesday, October 9, 2013

Hidup Tanpa Roti

Baca: Yohanes 6:25-35
Akulah roti hidup. —Yohanes 6:48
Di dalam budaya-budaya yang berlimpah dengan pilihan makanan, roti tidak lagi menjadi unsur penting dari menu makanan. Jadi karena berbagai alasan, ada sebagian orang yang memilih untuk tidak mengkonsumsi roti. Namun di abad pertama, roti dipandang sebagai bahan makanan pokok yang sangat penting. Makan tanpa roti adalah sesuatu yang tidak lazim.
Suatu hari sekelompok orang mencari Yesus karena Dia telah melakukan mukjizat dengan melipatgandakan roti (Yoh. 6:11,26). Mereka meminta-Nya untuk mempertunjukkan suatu tanda mukjizat seperti manna dari surga yang disediakan Allah bagi umat-Nya di padang gurun (6:30-31; Kel. 16:4). Ketika Yesus berkata bahwa Dia adalah “roti yang benar dari sorga” (Yoh. 6:32), orang-orang itu tidak memahami perkataan-Nya. Yang mereka inginkan adalah roti jasmani untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Namun Yesus berkata bahwa Dia telah diutus untuk menjadi roti rohani mereka; Dia akan menyediakan kebutuhan jiwa mereka hari demi hari. Jika dengan iman, mereka sungguh-sungguh menerima dan mempercayai firman dan hidup-Nya di dalam jiwa mereka, mereka akan mengalami kepuasan yang kekal (ay.35).
Yesus tidak ingin menjadi semacam bahan makanan alternatif dalam menu hidup kita; Dia ingin menjadi bahan pokok yang utama dalam kehidupan kita, makanan kita yang “terpenting”. Seperti halnya orang-orang Yahudi di abad pertama yang tidak bisa membayangkan hidup tanpa roti jasmani, janganlah kita berusaha menjalani hidup tanpa Yesus, roti rohani kita! —MLW
Untuk Direnungkan Lebih Lanjut
Apa sajakah yang bisa Anda lakukan untuk
mengizinkan Yesus, Sang Roti Hidup, dan firman-Nya
memuaskan kelaparan jiwa Anda hari ini?
Hanya roti rohani yang mengenyangkan kelaparan jiwa.

Tuesday, October 8, 2013

Bagaimana Cara Allah Memelihara?

Baca: Ulangan 24:19-22
Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan. —Amsal 12:11
Di luar jendela kantor saya, sekawanan tupai sedang menyambut datangnya musim dingin dengan cepat-cepat menimbun biji pohon ek di tempat yang aman dan mudah mereka jangkau. Kegaduhan mereka menarik perhatian saya. Sekelompok besar rusa bisa melintasi halaman belakang kami tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi seekor tupai saja bisa menimbulkan kegaduhan.
Dua binatang ini juga berbeda dalam hal yang lain. Rusa tidak perlu bersiap-siap untuk musim dingin. Ketika salju turun, mereka akan memakan apa saja yang mereka temukan di sepanjang jalan (termasuk semak-semak hias di halaman kami). Akan tetapi, tupai akan kelaparan jika mereka mengikuti cara ini. Mereka tidak akan mampu menemukan makanan yang cocok.
Rusa dan tupai menggambarkan cara Allah memelihara kita. Dia memampukan kita untuk bekerja dan menabung untuk masa depan, dan Dia menyediakan kebutuhan kita saat persediaan kita menjadi langka. Seperti yang diajarkan oleh kitab-kitab hikmat, Allah menyediakan bagi kita masa-masa kelimpahan sehingga kita bisa bersiap-siap untuk masa-masa paceklik (Ams. 12:11). Dan seperti yang dikatakan Mazmur 23, Tuhan menuntun kita melewati tempat-tempat yang penuh dengan marabahaya hingga tiba di padang rumput yang menenteramkan.
Cara lain Allah dalam memelihara umat-Nya adalah dengan memerintahkan mereka yang berkelimpahan untuk berbagi dengan mereka yang kekurangan (Ul. 24:19). Demikianlah amanat Alkitab tentang persediaan hidup kita: Bekerjalah selagi kita bisa, tabunglah yang bisa kita simpan, berbagilah apa yang bisa kita bagikan, dan percayalah Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita. —JAL
Terima kasih Tuhan, atas janji-Mu bahwa Engkau akan memenuhi
kebutuhan kami. Tolonglah supaya kami tidak takut atau ragu.
Kami bersyukur karena Engkau memperhatikan kami
dan seruan kami meminta tolong selalu Engkau dengar.
Segala kebutuhan kita tidak akan pernah menguras persediaan Allah.

Monday, October 7, 2013

Pujian Di Muka Umum

Baca: Mazmur 96
Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. —Mazmur 96:3
Saya sangat menyukai video YouTube yang menampilkan orang-orang di pujasera (pusat jajanan serba ada) dalam sebuah mal. Mereka sedang melakukan kegiatan seperti biasa, dan tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang berdiri dan mulai menyanyikan lagu pujian “Haleluya” dengan berani. Saat semua orang masih terkejut, ada lagi seseorang yang berdiri dan ikut menyanyi, lalu diikuti oleh satu demi satu orang lainnya. Segera saja pujasera itu dipenuhi dengan perpaduan suara yang indah dari pujian mahakarya Handel. Sebuah sanggar opera setempat telah menempatkan penyanyi-penyanyi mereka di tempat-tempat yang strategis sehingga mereka dapat dengan riang menyisipkan kemuliaan Allah ke dalam keseharian para pengunjung yang sedang menikmati makan siang mereka.
Setiap kali menyaksikan video itu, saya meneteskan air mata. Ini mengingatkan saya bahwa kita memang dipanggil untuk membawa kemuliaan Allah dalam keseharian kita melalui keindahan diri yang menyerupai Kristus. Pikirkanlah cara-cara yang dapat Anda lakukan dengan sengaja untuk menunjukkan kemurahan Allah kepada orang-orang yang sedang terpuruk dalam kegagalan mereka; untuk berbagi kasih Kristus dengan seseorang yang membutuhkan kasih itu; untuk menjadi perpanjangan tangan Yesus yang rela menguatkan seorang teman yang sedang keletihan; atau untuk membawa damai di tengah keadaan yang kacau dan membingungkan.
Seperti yang diingatkan oleh Pemazmur, kita mendapat kehormatan yang mulia dan suci untuk menceritakan “kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa” (Mzm. 96:3). —JMS
Terima kasih, Tuhan, Engkau memenuhi kami dengan kemampuan
untuk memuliakan-Mu melalui tindakan dan tanggapan kami kepada
orang lain. Beri kami karunia untuk menunjukkan keindahan
jalan-jalan-Mu dalam setiap perjumpaan kami dengan sesama.
Kejutkanlah dunia dengan keajaiban Kristus yang bersinar melalui diri Anda!

Sunday, October 6, 2013

Tantangan Yang Berbahaya


Baca: 2 Tawarikh 20:1,15-22
Sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. —2 Tawarikh 20:15
Di hadapan jutaan orang yang menonton lewat televisi, Nik Wallenda berjalan menyeberangi Air Terjun Niagara di atas seutas kabel sepanjang kira-kira 550 m yang berdiameter hanya 12,7 cm. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencegah kemungkinan yang bisa saja terjadi. Namun selain menghadapi tantangan dari ketinggian yang mencekam dan derasnya air di bawah yang berbahaya, ada kabut tebal yang menghalangi pandangan Nik, tiupan angin yang mengancam keseimbangannya, dan cipratan air terjun yang mengganggu pijakannya. Di tengah-tengah—dan mungkin karena—ancaman bahaya tersebut, ia berkata bahwa ia “banyak berdoa” dan memuji Allah.
Bangsa Israel juga memuji Allah di tengah tantangan yang berbahaya berupa suatu laskar besar yang berkumpul untuk memerangi mereka (2Taw. 20:2). Setelah merendahkan diri untuk meminta pertolongan Allah, Raja Yosafat memerintahkan para pemuji untuk berbaris maju ke medan pertempuran di depan pasukan Israel. Mereka bernyanyi: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ay.21). Ketika mereka mulai memuji, Tuhan membuat pasukan musuh saling menyerang dan menghancurkan satu sama lain.
Memuji Allah di tengah suatu keadaan yang menantang mungkin mengharuskan kita untuk menolak mengikuti desakan dari naluri kita. Kita cenderung membela diri sendiri, menyusun strategi, dan merasa khawatir. Namun, menyembah Allah dapat melindungi hati kita dari pemikiran yang membuat gelisah dan sikap mengandalkan diri sendiri. Kita diingatkan pada pelajaran yang telah dipetik oleh bangsa Israel: “Bukan [kita] yang akan berperang melainkan Allah” (ay.15). —JBS
Tuhan, aku memuji-Mu, karena belas kasih-Mu kekal.
Tolonglah aku untuk mengingat bahwa dalam setiap peperangan
hidup ini, Engkaulah yang berperang. Hasil akhirnya
tergantung pada-Mu karena Engkaulah yang berdaulat.
Apa pun yang ada di depan kita, Allah selalu mendukung kita dari belakang.

Saturday, October 5, 2013

Nilai Satu Jiwa

Baca: Lukas 15:1-10
Siapakah . . . yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? —Lukas 15:4
Hanya beberapa jam sebelum Kim Haskins mengikuti upacara kelulusannya dari SMA, suatu kecelakaan mobil merenggut nyawa ayahnya dan mengakibatkan Kim dan ibunya masuk rumah sakit. Keesokan harinya, Joe Garrett, kepala sekolah SMA itu, menjenguknya di rumah sakit dan berkata bahwa mereka ingin melakukan sesuatu yang khusus untuknya di sekolah. Artikel surat kabar The Gazette (Colorado Springs) yang ditulis oleh James Drew menggambarkan besarnya kasih dan dukungan yang diberikan para guru, pegawai administrasi, dan teman-teman sekelas Kim kepadanya. Beberapa hari kemudian, mereka yang begitu tersentuh dengan kehilangan yang Kim alami itu memenuhi aula sekolah untuk suatu upacara kelulusan yang khusus diadakan baginya.
Garrett berkata, “Dalam dunia pendidikan kita berbicara tentang prinsip ‘tidak boleh ada murid yang tertinggal’. Dalam dunia militer, ada prinsip ‘tidak boleh ada prajurit yang tertinggal’. Hari ini, kita menyatakan bahwa ‘tidak boleh ada lulusan yang tertinggal.’”
Yesus menekankan pentingnya nilai setiap orang bagi Allah dengan tiga kisah tentang sesuatu yang hilang—domba, dirham, dan anak (Lukas 15). Dalam setiap kisah itu, seseorang telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Saat ditemukan kembali, para sahabat dan tetangga pun diundang untuk bersukacita bersama dan merayakannya.
Maksud kisah-kisah itu sangat jelas: Kita semua sangat berharga bagi Allah, yang menawarkan kepada kita pengampunan dan hidup baru melalui Kristus. Dan dengan setia Dia mencari kita dalam kasih dan kemurahan-Nya. Ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat (ay.7). —DCM
Aku terhilang tetapi Yesus menemukanku—
Dia temukan aku domba yang tersesat,
Memelukku dengan tangan kasih-Nya,
Tuntunku kembali ke dalam jalan-Nya. —Rowley
Nilai diri kita diukur menurut apa yang telah Allah perbuat untuk kita.

Friday, October 4, 2013

Jauh Lebih Banyak

Baca: Efesus 3:14-21
Sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. —1 Yohanes 4:4
Semua itu takkan terjadi, Tante Julie. Sudahlah, hapus saja pikiran itu dari pikiran Tante.”
“Aku tahu kemungkinan besar itu tidak akan terjadi,” saya berkata. “Namun hal itu bukan tidak mungkin.”
Bertahun-tahun lamanya, saya dan keponakan perempuan saya telah terlibat dalam beragam percakapan semacam itu mengenai suatu keadaan yang berlangsung di tengah keluarga kami. Kalimat berikutnya, yang jarang saya ucapkan, adalah, “Aku tahu hal itu bisa terjadi karena aku selalu mendengar cerita tentang bagaimana Allah membuat sesuatu yang mustahil itu menjadi kenyataan.” Namun bagian dari kalimat itu yang hanya saya ucapkan kepada diri saya sendiri, yaitu: “Tetapi hal itu pastilah hanya terjadi pada keluarga lain.”
Baru-baru ini pendeta saya berkhotbah dari kitab Efesus. Di akhir setiap kebaktian kami mengucapkan doa: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin” (Ef. 3:20-21).
Inilah tahun dimana Allah berkehendak untuk melakukan “jauh lebih banyak” di dalam keluarga kami. Dia menggantikan sikap acuh tak acuh kami dengan kasih. Bagaimana Dia melakukannya? Saya tidak tahu. Namun saya sungguh melihatnya terjadi. Lalu mengapa saya harus merasa heran? Jika Iblis saja bisa mengubah kasih menjadi sikap acuh tak acuh, tentulah Allah mampu mengubah kembali sikap acuh tak acuh itu menjadi kasih. —JAL
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah melakukan jauh lebih
banyak di dalam kehidupan kami melebihi apa yang dapat kami
bayangkan. Aku sangat bersyukur karena Engkau mampu dan
sering mengubah suatu keadaan yang mustahil menjadi kenyataan.
Kuasa Allah untuk memulihkan itu lebih kuat daripada kuasa Iblis untuk menghancurkan.

Thursday, October 3, 2013

Berkat Kehadiran

Baca: Yohanes 11:14-27
Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. —Yohanes 11:19
Beberapa tahun lalu, saat baru menjadi manajer bidang personalia untuk sebuah perusahaan, saya datang ke rumah duka dan menghadiri upacara pemakaman seorang karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan itu, tetapi belum pernah saya jumpai. Almarhum bekerja sebagai tukang bangunan. Meski ia dicintai rekan-rekan sekerjanya, hanya sedikit yang datang untuk menghibur istrinya. Saya mendengar seseorang yang berusaha menghiburnya mengatakan bahwa mereka tidak datang karena takut salah bicara atau bertindak, dan tidak ingin membuat keluarga yang ditinggalkan menjadi lebih berduka.
Namun sebenarnya dalam masa duka, orang jarang mengingat apa yang kita katakan. Yang paling mereka ingat adalah kehadiran kita. Kehadiran orang-orang yang mereka kenal akan memberikan kekuatan yang luar biasa serta penghiburan atas rasa sepi dari peristiwa kehilangan yang mereka alami. “Berkat kehadiran” ini mampu diberikan oleh kita semua, bahkan saat kita merasa tidak mampu berkata-kata atau salah tingkah.
Marta dan Maria dikelilingi oleh para sahabat dan penduka yang hendak menghibur mereka ketika Lazarus, saudara laki-laki mereka, meninggal (Yoh. 11:19). Kemudian datanglah satu Pribadi yang paling mereka nantikan—Yesus—dan Dia menangis bersama mereka (ay.33-35). Orang-orang pun menanggapinya, “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” (ay.36).
Apa pun bentuk kehilangan yang dialami seseorang, Yesus selalu hadir untuk menghibur, dan kita mampu meneruskan belas kasihan-Nya dengan sekadar hadir mendampingi mereka yang berduka. —RKK
Kiranya aku tak pernah lalai untuk melihat
Penghiburan yang mungkin kaubutuhkan dariku;
Dan kuharap kau tahu bahwa aku selalu hadir
Membalut jiwamu saat kita saling berbagi duka. —Kilgore
Kehadiran kita sering kali menjadi bentuk penghiburan yang terbaik.

Wednesday, October 2, 2013

Menikahi Bangsawan

Baca: Wahyu 19:6-9
Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. —Wahyu 19:7
Buku To Marry an English Lord (Cara Menikahi Seorang Bangsawan Inggris) memaparkan fenomena abad ke-19 ketika para wanita ahli waris Amerika yang kaya berusaha mencari kaum ningrat Inggris untuk dinikahi. Meski sudah kaya, mereka tetap menginginkan status sosial bangsawan. Buku ini dimulai dengan kisah Pangeran Albert, putra Ratu Victoria, yang pergi ke Amerika Serikat untuk melakukan kunjungan sosial. Sekumpulan wanita kaya pun membanjiri acara pesta dansa yang diadakan untuk Pangeran Albert. Setiap dari mereka memimpikan dapat menjadi pengantinnya dan memperoleh gelar bangsawan.
Umat yang percaya kepada Kristus tidak perlu memimpikan hal ini karena kelak mereka pasti akan bersanding dengan Sang Raja di surga. Yohanes berbicara tentang hal ini dalam kitab Wahyu, “‘Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!’ [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]” (19:7-8). Yesus adalah Sang Anak Domba, Mempelai laki-laki yang disebutkan di dalam bagian Kitab Suci tersebut, dan umat percaya adalah mempelai perempuan-Nya.
Sebagai mempelai Kristus, kita harus memiliki sikap “siap sedia” untuk hari itu dengan cara berjuang untuk hidup dekat dengan-Nya saat ini dalam penantian akan masa depan kita bersama-Nya di surga. Di sana kita akan “bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan” (ay.7) Raja segala raja dan Tuhan di atas segala tuan! —HDF
Yesus, kami menanti-nantikan saat kami akan bersama-Mu.
Kami ingin siap sedia, tetapi kami tahu bahwa kami tak bisa
menjalani hidup dalam kekudusan tanpa Engkau hadir
di dalam kami untuk menolong kami. Ubahlah dan penuhilah kami.
Tidak ada hak istimewa yang lebih besar daripada mengenal Raja segala raja.

Tuesday, October 1, 2013

Hubble, Kebun Binatang, Dan Nyanyian Anak

Baca: Mazmur 148
Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! —Mazmur 148:3
Apakah kesamaan antara teleskop luar angkasa Hubble, kebun binatang, dan anak-anak yang sedang beryanyi? Menurut pengajaran dalam Mazmur 148, kita dapat menyimpulkan bahwa semua itu mengarah kepada karya ciptaan Allah yang luar biasa.
Ide bahwa Allah menciptakan dunia kita memang sering dipertanyakan, jadi mungkin inilah waktu yang baik untuk mengingat akan pujian yang patut kita dan seluruh ciptaan limpahkan kepada Bapa kita di surga atas karya tangan-Nya yang luar biasa.
Teleskop Hubble dapat membantu kita melakukannya melalui rekaman foto dari alam semesta kita yang mempesona. Setiap foto yang luar biasa itu menunjukkan bintang-bintang yang mengarahkan perhatian kita pada keagungan ciptaan Allah. Ayat 3 berkata, “Pujilah Dia, hai segala bintang terang!”
Mengunjungi kebun binatang dapat menunjukkan kepada kita betapa beragamnya kehidupan dunia hewan yang Allah ciptakan. Kita membaca ayat 7 dan 10 dan mengucap syukur kepada Allah atas berbagai jenis makhluk laut, binatang liar, serangga, dan burung.
Dan menyaksikan anak-anak kecil yang menyanyikan pujian bagi Allah dengan lantang melambangkan kebenaran bahwa semua orang di atas bumi patut mengangkat suara untuk memuliakan Pencipta kita (ay.11-13).
Kumpulan bintang, kawanan hewan, dan anak-anak: “Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur” (ay.13). Marilah kita turut mengucap syukur atas ciptaan-Nya. “Pujilah nama Tuhan!” —JDB
Pujilah Tuhan, Sang Raja yang Mahamulia!
Segenap hati dan jiwaku, pujilah Dia!
Datang berkaum, b’rilah musikmu bergaung;
Angkatlah puji-pujian! —Neander
(Kidung Jemaat, No. 10)
Karya ciptaan menunjukkan kuasa Allah.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate