Pages - Menu

Thursday, May 31, 2018

Persekutuan yang Terputus

Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? —Matius 27:46
Persekutuan yang Terputus
Jeritan pilu yang nyaring menembus gelapnya udara petang itu. Saya membayangkan jeritan itu mengalahkan tangis dan ratapan dari para sahabat dan orang-orang terkasih yang berada di bawah salib Yesus. Jeritan itu mengalahkan rintihan dua penjahat yang sekarat, yang disalibkan di kedua sisi Yesus. Dan jeritan itu pastilah mengejutkan semua orang yang mendengarnya.
Eli, Eli, lama sabakhtani?” seru Yesus dalam kesakitan dan kepedihan yang amat sangat saat tergantung di kayu salib yang memalukan di Golgota (Mat. 27:45-46).
Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Saya tak bisa membayangkan ada kata-kata lain yang lebih memilukan hati. Sejak kekekalan, Yesus, Allah Anak, telah mempunyai persekutuan yang sempurna dengan Allah Bapa. Bersama-sama mereka menciptakan alam semesta, membentuk manusia sesuai dengan gambar dan rupa mereka, dan merencanakan karya keselamatan manusia. Tak pernah sekali pun mereka tidak bersekutu secara sempurna dalam kekekalan.
Dan sekarang, saat penderitaan salib itu terus membawa kepedihan yang besar bagi Yesus, untuk pertama kalinya Dia merasa ditinggalkan oleh Allah Bapa sementara Dia menanggung dosa seluruh dunia.
Itulah satu-satunya cara yang harus ditempuh. Hanya melalui persekutuan yang terputus itulah keselamatan dapat menjadi milik kita. Dan hanya karena Yesus bersedia mengalami pengabaian dari Allah saat Dia tergantung di kayu salib, maka manusia dapat kembali menjalin persekutuan dengan Allah.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menanggung penderitaan yang begitu berat agar kami dapat diampuni. —Dave Branon
Yesus, kami kembali takjub melihat pengorbanan-Mu. Kami bersujud di hadirat-Mu dan bersyukur atas semua yang telah Engkau lakukan bagi kami di kayu salib. Terima kasih, karena karya-Mu, kami dapat bersekutu dengan Allah Bapa selamanya.
Salib menyingkapkan kerinduan hati Allah bagi jiwa-jiwa yang terhilang.

Wednesday, May 30, 2018

Salah Berkata-Kata

Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu. —Mazmur 33:22
Salah Berkata-Kata
Baru-baru ini, saya mengirimkan pesan pendek kepada istri saya, Cari, dengan menggunakan program deteksi suara untuk menuliskan pesan itu. Saat itu saya hendak keluar menuju ke mobil untuk mengajak Cari pulang dari tempat kerjanya. Saya bermaksud mengirimkan pesan, “Mau dijemput di mana, mami sayang?”
Saya biasa memanggil Cari dengan “mami sayang”—sebuah julukan khusus yang kami gunakan dalam keluarga kami. Namun, ponsel saya tidak “menangkap” frasa itu, sehingga yang terkirim adalah pesan dengan sebutan “mami siang”. Beda sekali dari maksud saya!
Saya beruntung karena Cari segera mengerti apa yang telah terjadi dan melihatnya sebagai sebuah kesalahan yang lucu. Kemudian ia menggunggah pesan saya itu di media sosial dan bertanya kepada teman-temannya, “Aku harus tersinggung ga ya?” Kami berdua bisa sama-sama menertawakan hal itu.
Respons istri saya yang tidak marah terhadap pesan saya hari itu membuat saya terpikir tentang Allah yang sangat memahami isi dari doa-doa kita. Saat berdoa, mungkin kita tidak tahu apa yang harus kita katakan atau bahkan apa yang perlu kita minta. Namun, ketika kita menjadi milik Kristus, Roh-Nya di dalam kita “berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm. 8:26). Dengan penuh kasih, Roh Kudus menolong kita mengungkapkan kerinduan kita yang terdalam kepada Allah.
Bapa Surgawi tidak sedang diam dan menunggu sampai kita dapat berdoa dengan benar. Kita dapat datang kepada-Nya dengan setiap kebutuhan kita, karena kita yakin bahwa Dia memahami dan menerima kita dengan kasih. —James Banks
Abba, Bapa, terima kasih karena aku boleh datang kepada-Mu tanpa merasa takut kalau kata-kata doaku tidak tepat. Tolonglah aku tetap berdoa kepada-Mu hari ini.
Keindahan kasih Allah sungguh tak terungkapkan dengan kata-kata.

Tuesday, May 29, 2018

Menatap Cakrawala

Kita mencari kota yang akan datang. —Ibrani 13:14
Menatap Cakrawala
Segera setelah feri mulai bergerak, putri kecil saya mengatakan bahwa ia merasa kurang enak badan. Ia mulai merasa mabuk laut. Tak lama kemudian, saya juga merasa mual. “Tatap cakrawala,” saya mencoba mengingatkan diri sendiri. Para pelaut mengatakan bahwa menatap cakrawala akan menolong sudut pandang kita untuk benar kembali.
Sang Pencipta cakrawala (Ayb. 26:10) tahu bahwa adakalanya dalam hidup ini, kita merasa takut dan gelisah. Sudut pandang kita dapat dibenarkan kembali ketika kita memusatkan perhatian pada satu titik yang tetap dari tujuan kita yang kekal di ujung jalan.
Penulis kitab Ibrani memahami hal itu. Ia dapat merasakan kegelisahan dan keputusasaan para pembacanya. Penganiayaan telah membuat banyak orang meninggalkan rumah mereka. Jadi ia mengingatkan mereka bahwa orang-orang beriman lainnya juga pernah mengalami pencobaan yang lebih berat dan kehilangan tempat tinggal. Mereka dapat bertahan di tengah-tengah semua penderitaan itu karena mereka menantikan sesuatu yang lebih baik.
Sebagai kaum yang terbuang, para pembaca kitab itu dapat menantikan sebuah kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah, yakni tanah air surgawi yang telah disiapkan Allah bagi mereka (Ibr. 11:10,14,16). Jadi dalam nasihat terakhirnya, penulis mendorong para pembacanya untuk berfokus pada janji-janji Allah. “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (13:14).
Masalah-masalah yang kita hadapi saat ini hanyalah sementara. Kita adalah “orang asing dan pendatang di bumi ini” (11:13), tetapi dengan menatap cakrawala dari janji-janji Allah, kita menerima pedoman yang kita perlukan. —Keila Ochoa
Bapa, di tengah-tengah masalah yang kualami, tolong aku untuk berfokus pada janji-janji-Mu.
Berfokuslah kepada Allah dan sudut pandang kita akan benar kembali.

Monday, May 28, 2018

Panggilan Terakhir

Telah gugur para pahlawan bangsa. —2 Samuel 1:27 BIS
Panggilan Terakhir
Setelah mengabdi bagi negaranya selama dua dekade sebagai pilot helikopter, James pulang ke kotanya untuk mengabdi sebagai guru. Namun, karena masih rindu menerbangkan helikopter, ia pun bekerja sebagai tenaga evakuasi medis melalui udara bagi rumah sakit setempat. Ia melakukan tugas itu sampai akhir hidupnya.
Sekarang, tiba saatnya untuk mengucapkan perpisahan terakhir kepada James. Ketika teman-teman, keluarga, dan rekan kerjanya dalam seragam hadir di sekitar makam almarhum, seorang rekan melakukan panggilan via radio untuk satu misi terakhir. Segera setelah itu, terdengar suara khas baling-baling yang membelah udara. Sebuah helikopter terbang mengelilingi kompleks pemakaman, melayang sebentar memberikan penghormatan terakhir, lalu terbang kembali ke rumah sakit. Semua yang hadir di pemakaman, bahkan anggota militer sekalipun, tak bisa menahan air mata mereka.
Ketika Raja Saul dan putranya, Yonatan, terbunuh dalam pertempuran, Daud menuliskan sebuah elegi (syair dukacita) yang disebut sebagai “nyanyian ratapan” (2 Sam. 1:17). “Israel, di bukit-bukitmu, nun di sana gugurlah pahlawan, para putra negara, runtuhlah mereka sebagai bunga bangsa” (ay.19 BIS). Yonatan adalah sahabat sekaligus saudara bagi Daud. Meskipun Daud dan Saul bermusuhan, Daud tetap menghormati Saul dan anaknya. “Ratapilah Saul,” tulis Daud. “Yonatan, hai saudaraku, hatiku pilu” (ay.24,26 BIS).
Mengucapkan salam perpisahan tentu tidak mudah. Namun, bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, kenangan itu terasa jauh lebih indah daripada menyedihkan, karena perpisahan tidak akan berlangsung selamanya. Alangkah baiknya bila kita dapat menghormati mereka yang telah melayani sesamanya! —Tim Gustafson
Tuhan, kami berterima kasih kepada-Mu untuk orang-orang yang melayani komunitas mereka di garis depan. Kami memohon kiranya Engkau senantiasa menjaga keselamatan mereka.
Kita menghormati Allah Sang Pencipta ketika kita mengenang jasa-jasa orang yang diciptakan-Nya.

Sunday, May 27, 2018

Perwujudan Allah

Tolonglah mencukupi kebutuhan orang-orang Kristen lain dan sambutlah saudara-saudara seiman yang tidak Saudara kenal, dengan senang hati di dalam rumahmu. —Roma 12:13 BIS
Perwujudan Allah
Suami saya mendapat tugas yang mengharuskannya pergi selama sebulan penuh. Saya pun langsung kewalahan menghadapi tugas-tugas untuk mengurus pekerjaan saya, rumah kami, dan anak-anak kami. Ada tenggat penulisan yang semakin dekat. Ada alat pemotong rumput yang rusak. Ada anak-anak yang sedang libur sekolah dan butuh hiburan. Bagaimana saya bisa mengerjakan semua tugas itu seorang diri?
Namun, saya segera menyadari bahwa saya tidak benar-benar seorang diri. Teman-teman dari gereja datang untuk membantu. Josh datang untuk memperbaiki alat pemotong rumput. John membawakan saya makan siang. Cassidy mengurus cucian. Abi mengajak anak-anak saya bermain bersamanya sehingga saya dapat menyelesaikan pekerjaan saya. Allah bekerja melalui setiap dari mereka untuk mencukupi kebutuhan saya. Mereka adalah wujud nyata dari suatu komunitas yang digambarkan Paulus dalam Roma 12. Mereka mengasihi dengan tulus (ay.9), mengutamakan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan mereka (ay.10), memberikan bantuan saat saya sedang membutuhkannya, dan menunjukkan keramahtamahan (ay.13).
Karena kasih yang ditunjukkan teman-teman itu, saya dapat tetap bersukacita “dalam pengharapan” dan bersabar “dalam kesesakan” (ay.12), bahkan saat saya mengasuh sendiri anak-anak selama sebulan. Saudara-saudari dalam Kristus itu telah menjadi perwujudan Allah bagi saya. Mereka menunjukkan ketulusan kasih yang sepatutnya dibagikan kepada setiap orang, terutama kepada yang seiman dengan kita (Gal. 6:10). Saya berharap dapat semakin meniru teladan mereka. —Amy Peterson
Ya Allah, terima kasih karena Engkau menempatkan kami dalam beragam komunitas. Tolong kami untuk melihat kebutuhan orang lain dan siap sedia menolongnya.
Kepada siapa saya perlu menjadi perwujudan Allah yang nyata hari ini?

Saturday, May 26, 2018

Tak Ada yang Peduli Padaku

Waktu aku menoleh ke samping, kulihat tak ada bantuan bagiku. Tak ada yang melindungi aku, atau yang peduli akan diriku. —Mazmur 142:5 BIS
Tak Ada yang Peduli Padaku
Ketika masih anak-anak, saat saya merasa kesepian, tertolak, atau mengasihani diri sendiri, adakalanya ibu berusaha menghibur saya dengan menyanyikan lagu-lagu lucu. Lalu, saat senyum mulai terlihat di wajah saya yang murung, ibu akan menolong saya untuk melihat banyaknya hubungan yang indah dan berbagai hal yang sepatutnya saya syukuri.
Ketika saya membaca di Alkitab bagaimana Daud merasa tak ada orang yang mempedulikan dirinya, lagu-lagu lucu dari ibu saya terngiang kembali di telinga saya. Namun, penderitaan Daud bukanlah hal yang dibesar-besarkannya. Saya hanya merasakan kesepian yang biasa dialami anak-anak, tetapi Daud benar-benar memiliki alasan kuat untuk merasa tidak dipedulikan. Ia menulis kata-kata tersebut dari dalam sebuah gua gelap yang menjadi tempat persembunyiannya dari Raja Saul yang mengejarnya dan hendak membunuhnya (1Sam. 22:1; 24:3-10). Daud telah diurapi untuk menjadi raja Israel di masa mendatang (16:13) dan telah melayani Saul selama bertahun-tahun, tetapi sekarang ia hidup dalam pelarian dengan selalu merasa bahwa nyawanya terancam. Di tengah kesepian yang dirasakannya, Daud berseru kepada Allah yang menjadi “tempat perlindungan . . . yang [ia] perlukan dalam hidup ini” (Mzm. 142:6 bis).
Ketika kita merasa kesepian, seperti Daud, kita dapat berseru kepada Allah dan mencurahkan perasaan kita kepada-Nya karena kita yakin akan kasih-Nya kepada kita. Allah tidak pernah menyepelekan kesepian yang kita rasakan. Dia ingin menemani kita di dalam kekelaman yang menyelimuti kehidupan kita. Sekalipun kita merasa tidak ada orang yang mempedulikan kita, Allah peduli! —Kirsten Holmberg
Tuhan, Engkaulah sahabatku saat aku merasa kesepian. Terima kasih karena Engkau selalu menyertaiku di dalam kekelaman yang menyelimuti hidupku.
Allah adalah sahabat terbaik kita di tengah kesepian.

Friday, May 25, 2018

Kebijaksanaan yang Tak Disengaja

Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, . . . pikirkanlah semuanya itu. —Filipi 4:8
Kebijaksanaan yang Tak Disengaja
Beberapa tahun yang lalu, seorang wanita menceritakan kepada saya apa yang dilakukannya ketika melihat putranya yang masih beranjak remaja menonton liputan berita tentang suatu peristiwa kekerasan. Ia langsung meraih alat pengendali TV dan mengganti salurannya. “Jangan menonton hal-hal semacam itu,” kata ibu itu kepada anaknya dengan tegas. Mereka sempat berdebat, tetapi akhirnya ibu itu mengimbau putranya untuk mengisi pikirannya dengan “semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, . . . .” (Flp. 4:8). Kemudian, setelah makan malam, wanita itu dan suaminya sedang menonton berita saat tiba-tiba putri mereka yang berusia lima tahun memasuki ruangan dan mematikan TV. “Jangan menonton hal-hal semacam itu,” katanya dengan meniru suara dan gaya ibunya. “Kita harus mengisi pikiran dengan ayat-ayat Alkitab!”
Sebagai orang dewasa, kita dapat menyerap dan memproses berita lebih baik daripada anak-anak kita. Meski begitu, perilaku anak kecil yang menirukan perintah-perintah yang pernah diucapkan ibunya tersebut memang kocak sekaligus bijaksana. Bahkan orang dewasa yang matang pun masih dapat terkena dampak negatif dari tayangan-tayangan yang terus-menerus menampilkan sisi gelap dari kehidupan manusia. Ketika melihat kondisi di sekitar kita, adakalanya kita merasa begitu muram dan murung. Merenungkan hal-hal yang dicantumkan Paulus dalam Filipi 4:8 menjadi obat penawar yang kuat terhadap kesuraman yang kita rasakan itu.
Dengan mempertimbangkan masak-masak apa saja yang kita izinkan untuk masuk dan mengisi pikiran kita, kita sedang menghormati Allah sekaligus menjaga hati kita. —Randy Kilgore
Bapa, bukalah mata kami hari ini untuk melihat hal-hal yang indah. Ajarilah kami untuk merenungkan-Mu.
Apa yang mengisi pikiran kita akan membentuk jiwa kita.

Thursday, May 24, 2018

Gelisah Tak Bisa Tidur

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman. —Mazmur 4:9
Gelisah Tak Bisa Tidur
Apa yang membuat kamu terjaga di malam hari? Akhir-akhir ini saya sering kurang tidur dan merasa gelisah di atas tempat tidur karena berusaha mencari solusi atas suatu masalah. Akhirnya saya mulai mengkhawatirkan keadaan saya yang tidak cukup beristirahat dan merasa ragu akan dapat mengatasi tantangan-tantangan yang muncul keesokan harinya!
Kamu pernah mengalami hal serupa? Masalah dalam hubungan, masa depan yang tidak menentu, apa pun itu—pada satu waktu, kita juga pasti digelisahkan oleh rasa khawatir.
Raja Daud merasa sangat tertekan saat menulis Mazmur 4. Orang-orang sedang menjatuhkan reputasinya dengan tuduhan yang tak berdasar (ay.3). Ditambah lagi sejumlah pihak mempertanyakan kemampuannya dalam memimpin (ay.7). Daud mungkin marah karena diperlakukan tidak adil. Tentulah Daud menghabiskan malam-malamnya dengan terus memikirkan segala kesusahan itu. Namun, kita membaca kata-katanya yang luar biasa, “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur” (ay.9).
Charles Spurgeon menjelaskan ayat 9 dengan indah, “Dengan membaringkan diri, . . . [Daud] mempercayakan dirinya kepada Allah; ia pasrah total, ia tidur tanpa terbebani masalah; ada rasa percaya yang sempurna.” Apa yang menginspirasi rasa percaya itu? Dari semula, Daud yakin bahwa Allah akan menjawab doa-doanya (ay.4). Dan Daud yakin bahwa karena Allah telah memilih untuk mengasihinya, Dia juga akan memenuhi segala kebutuhannya dengan sepenuh kasih.
Saat kekhawatiran melanda, kiranya Allah menolong kita beristirahat dalam kuasa dan hadirat-Nya. Dalam tangan kasih-Nya yang berdaulat, kita dapat “membaringkan diri, lalu segera tidur.” —Poh Fang Chia
Bapa, terima kasih karena Engkau mendengarku saat aku berseru. Aku serahkan segala kekhawatiranku kepada-Mu dan bersandar pada kuasa dan kehadiran-Mu.
Kita dapat menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah yang sepenuhnya terpercaya.

Wednesday, May 23, 2018

Wanita Babushka

Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. —Kisah Para Rasul 2:36
Wanita Babushka
“Wanita Babushka” menjadi salah satu misteri yang menyelimuti peristiwa pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pada tahun 1963. Wanita misterius yang tertangkap kamera sedang merekam peristiwa tersebut ternyata tidak mudah untuk dikenali. Ia terlihat mengenakan mantel dan syal penutup kepala (mirip dengan yang biasa dikenakan kaum nenek di Rusia). Sampai saat ini, ia tidak pernah teridentifikasi dan hasil rekamannya tidak pernah diketahui keberadaannya. Selama puluhan tahun, pakar sejarah berspekulasi bahwa rasa takut telah menghalangi “Wanita Babushka” itu untuk menceritakan pengalamannya tentang hari yang kelabu tersebut.
Namun, kita tak perlu berspekulasi untuk memahami mengapa murid-murid Yesus bersembunyi. Mereka ketakutan karena pihak penguasa telah membunuh Guru mereka (Yoh. 20:19). Mereka enggan tampil dan menceritakan pengalaman mereka. Namun, Yesus kemudian bangkit dari kematian. Roh Kudus juga datang dan tak ada lagi yang bisa membungkam para pengikut Kristus yang tadinya penakut! Pada hari Pentakosta, Roh memampukan Simon Petrus untuk mengatakan, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36).
Kesempatan untuk berani berbicara dalam nama Yesus tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang berjiwa pemberani atau yang pernah mendapatkan pelatihan penginjilan. Roh Allah yang berdiam dalam diri kitalah yang memampukan kita untuk memberitakan kabar baik tentang Yesus. Oleh kuasa-Nya, kita mempunyai keberanian untuk menceritakan tentang Juruselamat kita kepada orang lain. —Bill Crowder
Tuhan, beriku kekuatan dan keberanian untuk menceritakan tentang Engkau kepada orang lain.
Ceritakanlah tentang kasih Kristus yang tiada bandingnya kepada siapa pun yang perlu mendengarnya.

Tuesday, May 22, 2018

Naik ke Atas Pohon

Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku. —Yunus 2:2
Naik ke Atas Pohon
Ibu saya menemukan anak kucing peliharaan saya, Velvet, di atas meja dapur sedang melahap roti buatannya. Dengan gusar, ibu mengusirnya keluar. Berjam-jam kemudian, kami harus mencari kucing yang hilang tersebut di halaman rumah kami dengan sia-sia. Ketika akhirnya terdengar sayup-sayup suara meong yang lirih, saya memandang ke salah satu ujung pohon dan melihat sesosok berwarna hitam bergelayut di salah satu dahan.
Dalam usahanya melarikan diri dari kegusaran ibu saya atas kelakuannya, Velvet justru memilih situasi yang lebih berbahaya. Mungkinkah kita juga terkadang melakukan hal serupa—melarikan diri dari kesalahan yang kita lakukan dan menempatkan diri kita sendiri dalam bahaya? Bahkan pada saat seperti itu Allah datang untuk menyelamatkan kita.
Nabi Yunus melarikan diri dalam ketidaktaatan kepada Allah yang memanggilnya untuk berkhotbah kepada orang Niniwe, dan akhirnya ditelan seekor ikan besar. “Berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya: ‘Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku’” (Yun. 2:1-2). Allah mendengarkan permohonan Yunus dan, “berfirmanlah [Dia] kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat” (ay.10). Kemudian Allah memberikan kesempatan kedua kepada Yunus (3:1).
Setelah usaha kami membujuk Velvet turun menemui kegagalan, kami pun menghubungi pemadam kebakaran setempat. Dengan menaiki tangga panjang yang dibentang hingga maksimal, seorang pria yang baik hati memanjat sampai mendekati ujung pohon, menarik kucing saya dari tempatnya, lalu membawanya turun hingga kembali aman dalam pelukan saya.
Betapa tinggi—dan dalamnya—kasih penebusan Allah yang membuat-Nya rela bertindak untuk menyelamatkan kita dari ketidaktaatan kita! —Elisa Morgan
Allah terkasih, betapa kami membutuhkan penyelamatan-Mu hari ini!
Kematian Yesus di kayu salib telah menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita.

Monday, May 21, 2018

Doa Pengampunan

Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. —Lukas 6:27-28
Doa Pengampunan
Pada tahun 1960, Ruby Bridges yang berusia enam tahun adalah murid Afrika-Amerika pertama yang masuk ke sekolah dasar negeri yang dikhususkan untuk siswa berkulit putih di wilayah selatan Amerika Serikat. Setiap hari selama berbulan-bulan, petugas pengamanan khusus mengantar Ruby melewati sekelompok orangtua yang marah, mengutuk, mengancam, dan mengejeknya. Setelah tiba dengan aman di kelas, Ruby belajar seorang diri bersama Barbara Henry, satu-satunya guru yang bersedia mengajarnya sementara orangtua mencegah anak-anak mereka belajar bersama Ruby.
Psikolog anak, Robert Coles, bertemu Ruby selama beberapa bulan untuk membantunya mengatasi rasa takut dan stres. Coles takjub mengetahui doa yang diucapkan Ruby setiap hari saat pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. “Tuhan, ampuni mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (lihat Luk. 23:34).
Kata-kata Yesus yang diucapkan dari atas salib jauh lebih kuat daripada kebencian dan ejekan yang ditujukan kepada-Nya. Dalam saat-saat yang paling menyiksa dalam hidup-Nya, Tuhan kita menunjukkan respons radikal yang pernah Dia ajarkan kepada para pengikut-Nya, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu . . . . Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:27-28,36).
Sikap yang luar biasa itu hanya mungkin terjadi ketika kita menyadari kasih teragung yang telah Yesus berikan kepada kita—kasih yang lebih kuat bahkan dari kebencian terbesar sekalipun.
Ruby Bridges meneladankannya bagi kita. —David C. McCasland
Bapa, Engkau telah mengampuni kami dengan murah hati. Tolonglah kami hari ini untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kami.
Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu dan berdoalah bagi orang yang mencacimu.

Sunday, May 20, 2018

Komunitas Baru

Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. —Kisah Para Rasul 2:44
Komunitas Baru
Teman saya, Carrie, mempunyai putri berusia lima tahun, Maija. Maija suka bermain dengan cara yang menarik, yakni dengan mencampur boneka-boneka dari beragam permainan menjadi suatu komunitas baru. Di dunia imajinasinya, semua boneka itu saling memiliki. Boneka-boneka itu adalah miliknya. Ia yakin semua boneka itu merasa paling senang saat berkumpul bersama, meskipun ukuran dan bentuk mereka berbeda-beda.
Kreativitas Maija mengingatkan saya tentang maksud Allah bagi gereja. Pada hari Pentakosta, penulis Lukas berkata, “Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit” (Kis. 2:5). Meski mereka berbeda budaya dan bahasa, kedatangan Roh Kudus menjadikan mereka suatu komunitas baru: gereja. Sejak saat itu, mereka dijadikan satu tubuh, disatukan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Para pemimpin dari satu tubuh yang baru itu merupakan sekelompok orang yang dipersatukan Yesus selama Dia berada di bumi, yakni murid-murid-Nya. Jika Yesus tidak pernah mempersatukan mereka, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bersatu. Dan sekarang lebih banyak orang—“kira-kira tiga ribu jiwa” (Kis. 2:41)—telah menjadi pengikut Kristus. Syukur kepada Roh Kudus, orang-orang yang dahulu terpisah kini menjadi sekelompok orang yang menganggap “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” (ay.44). Mereka bersedia membagikan apa saja yang mereka miliki kepada satu sama lain.
Roh Kudus terus menjembatani kesenjangan antara berbagai kelompok manusia yang berbeda-beda. Kita mungkin tidak selalu akur, juga tidak selalu dapat memahami satu sama lain. Namun, sebagai umat percaya di dalam Kristus, kita saling memiliki. —Linda Washington
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah mati bagi kami dan menyatukan kami menjadi satu umat di dalam gereja.
Roh Kudus mengubah “kami” dan “mereka” menjadi “kita”.

Saturday, May 19, 2018

Seandainya

Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami . . . dari perapian yang menyala-nyala itu . . . tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku. —Daniel 3:17-18
Seandainya
Adakalanya masalah seakan menerjang hidup kita. Di lain kesempatan, mukjizat terjadi dalam hidup kita.
Tiga pemuda yang berada dalam pembuangan di Babel dihadapkan dengan raja yang menakutkan dari negeri itu. Dalam keadaan itu, mereka dengan berani menyatakan bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menyembah patung emas raksasa yang menjulang di depan mereka. Bersama-sama mereka menyatakan, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan . . . menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Dan. 3:17-18).
Ketiga pemuda itu—Sadrakh, Mesakh, Abednego—akhirnya dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Namun, Allah secara ajaib melepaskan mereka sehingga tak sehelai pun rambut mereka yang hangus dan pakaian mereka pun tidak berubah, bahkan bau kebakaran pun tidak ada (ay.19-27). Mereka sudah siap menghadapi kematian tetapi kepercayaan mereka kepada Allah tetap tidak tergoyahkan—bahkan “seandainya” Allah tidak menyelamatkan mereka.
Allah ingin kita terus bergantung kepada-Nya—bahkan seandainya orang yang kita kasihi tidak mengalami kesembuhan, bahkan seandainya kita kehilangan pekerjaan, bahkan seandainya kita dianiaya. Terkadang Allah menyelamatkan kita dari marabahaya dalam hidup ini, tetapi adakalanya juga tidak. Namun, kita dapat memegang teguh kebenaran ini: “Allah [kita] yang kita puja sanggup,” dan Dia mengasihi serta menyertai kita di setiap pencobaan, di setiap seandainya. —Alyson Kieda
Tuhan, kami mengasihi-Mu! Berilah kami iman yang tak tergoyahkan—dan kekuatan serta pengharapan hari demi hari—untuk situasi apa pun yang kami hadapi.
Allah sanggup.

Friday, May 18, 2018

Meluap

Semoga Allah sumber pengharapan memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu. —Roma 15:13
Meluap
“Oh, tidak! Tidak! TIDAK!” teriak saya. Namun, teriakan saya tidak menolong sama sekali. Ide saya untuk mengatasi masalah penyumbatan dengan menyiram air sekali lagi ternyata membawa akibat yang berlawanan sama sekali dengan maksud saya. Saya tahu saya telah membuat kesalahan segera setelah menekan tuas kakusnya. Saya hanya bisa berdiri dan pasrah melihat air kakus itu meluap keluar.
Entah berapa kali anak-anak kita berusaha menuang susu dengan cara yang keliru hingga tumpah ke mana-mana. Atau kita pernah lupa pada botol soda berukuran besar yang berguling-guling di bagasi mobil, hingga ketika dibuka tersemburlah isinya dengan dahsyat.
Luapan-luapan semacam itu tentu tidak diharapkan. Namun, ada satu luapan yang berbeda. Rasul Paulus menggunakan “luapan” untuk menggambarkan orang-orang yang dipenuhi oleh kekuatan Roh Allah. Dari dalam diri mereka meluaplah pengharapan secara alami dan berlimpah-limpah (Rm. 15:13). Saya menyukai gambaran tentang seseorang yang begitu dipenuhi dengan sukacita, damai sejahtera, dan iman sampai meluap karena Allah hadir dengan penuh kuasa di dalam hidup kita. Kelimpahan itu membuat kita, tidak mungkin tidak, akan memancarkan dan mengekspresikan keyakinan yang teguh kepada Allah, Bapa Surgawi kita. Itu mungkin terjadi pada masa-masa yang indah dan menyenangkan dalam hidup kita. Namun, itu mungkin juga terjadi saat hidup kita sedang mengalami guncangan. Bagaimanapun kondisinya, kiranya yang meluap keluar dari diri kita adalah pengharapan yang memberikan hidup kepada orang-orang di sekitar kita. —Adam Holz
Tuhan, saat terjadi hal-hal yang tidak kami duga, penuhilah kami dengan Roh-Mu agar apa yang meluap dari diri kami adalah pengharapan yang memberkati orang lain di sekitar kami.
Bapa memberi kita Roh yang menjadikan kita serupa dengan Sang Anak.

Thursday, May 17, 2018

Memuji Kebaikan Allah

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 136:1
Memuji Kebaikan Allah
Salah satu anggota kelompok pemahaman Alkitab kami pernah mengusulkan agar kami menulis mazmur kami sendiri. Awalnya, sebagian anggota keberatan karena merasa tak berbakat menulis, tetapi setelah disemangati, masing-masing dari kami sanggup menulis lagu puitis yang mengharukan untuk menceritakan bagaimana Allah telah bekerja dalam hidup kami. Dari pengalaman pencobaan, perlindungan, pemeliharaan, bahkan derita dan air mata yang kami alami, timbul pesan-pesan abadi yang membuat mazmur-mazmur kami dipenuhi tema-tema yang luar biasa. Seperti Mazmur 136, setiap mazmur menyingkapkan kebenaran bahwa untuk selama-lamanya kasih setia Allah.
Kita semua memiliki kisah tentang kasih Allah yang bisa kita tuliskan, nyanyikan, atau ceritakan. Bagi beberapa orang, pengalamannya mungkin berlangsung dramatis dan penuh ketegangan—seperti penulis Mazmur 136 yang menceritakan kembali bagaimana Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan dan menaklukkan musuh-Nya (ay.10-15). Yang lain mungkin mengagumi keagungan alam ciptaan Allah: “Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan . . . menghamparkan bumi di atas air . . . menjadikan benda-benda penerang yang besar . . . matahari untuk menguasai siang . . . bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam” (ay.5-9).
Mengingat tentang diri Allah dan apa yang telah dikerjakan-Nya akan membangkitkan dalam hati kita puji-pujian dan ucapan syukur yang memuliakan-Nya. Kemudian kita dapat “[berkata-kata] seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani” (Ef. 5:19) tentang kebaikan Tuhan yang untuk selama-lamanya kasih setia-Nya! Tuangkanlah pengalamanmu dengan kasih Allah dalam bentuk nyanyian pujian kamu sendiri dan nikmatilah kebaikan-Nya yang selalu mengalir tiada henti. —Lawrence Darmani
Tuhan, terima kasih untuk dunia yang Engkau ciptakan dan untuk segala berkat-Mu yang tercurah dalam hidupku. Penuhilah hatiku dengan ucapan syukur dan pakailah mulutku untuk menyatakan kemuliaan-Mu.
Dari kekekalan sampai kekekalan, untuk selama-lamanya kasih setia Allah.

Wednesday, May 16, 2018

Bebas Mengikut

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. —Matius 11:29
Bebas Mengikut
Pelatih lari lintas alam di SMA saya dahulu pernah menasihati saya sebelum lomba, “Jangan berusaha untuk memimpin. Mereka yang berada di depan biasanya akan cepat kelelahan.” Ia menyarankan agar saya berlari dekat dengan para pelari yang tercepat. Dengan membiarkan mereka mengatur kecepatan, saya dapat menjaga kekuatan mental dan fisik yang saya butuhkan untuk menyelesaikan perlombaan dengan baik.
Memimpin bisa membuat lelah, tetapi menjadi pengikut bisa memberikan kelegaan. Memahami prinsip itu telah meningkatkan kemampuan lari saya, tetapi butuh waktu lebih lama bagi saya untuk menyadari bahwa itu juga berlaku dalam pemuridan orang Kristen. Saya sendiri tergoda untuk berpikir bahwa hidup sebagai murid Yesus mengharuskan saya untuk berusaha keras. Ketika saya berusaha mengejar bayangan murid Kristus yang ada dalam pikiran saya sendiri, ternyata saya telah kehilangan sukacita dan kemerdekaan yang sesungguhnya hanya ditemukan dengan mengikut Dia (Yoh. 8:32,36)
Kita tidak ditentukan untuk mengatur sendiri arah hidup kita, dan Yesus tidak datang untuk memperbaiki kualitas hidup kita. Sebaliknya, Dia berjanji bahwa saat kita mencari-Nya, kita akan mendapatkan kelegaan yang kita rindukan (Mat. 11:25-28). Kebanyakan guru agama pada masa itu menekankan penggalian Kitab Suci yang ketat atau kepatuhan pada serangkaian hukum sebagai syarat untuk mengenal Allah. Namun, Yesus mengajarkan bahwa untuk dapat mengenal Allah, kita hanya perlu mengenal Dia (ay.27). Dengan mencari Dia, beban berat kita pun terangkat (ay.28-30) dan hidup kita diperbarui.
Mengikut Yesus, Pemimpin kita yang lemah lembut dan rendah hati (ay.29), bukanlah beban, melainkan sumber pengharapan dan pemulihan. Bersandar pada kasih-Nya akan memerdekakan kita. —Monica Brands
Tuhan, aku sangat bersyukur karena tak harus menanggung beban hidupku sendiri. Tolong aku agar selalu bersandar kepada-Mu.
Kemerdekaan sejati dialami ketika kita mengikut Kristus.

Tuesday, May 15, 2018

Allah Bekerja

[Allah] kiranya . . . mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. —Ibrani 13:21
Allah Bekerja
“Pernahkah kalian melihat Allah bekerja baru-baru ini?” tanya saya kepada sejumlah teman. Seorang teman menjawab, “Aku melihat Allah bekerja saat aku membaca Kitab Suci setiap pagi; saat Dia menolongku menghadapi setiap hari baru; saat aku menyadari bagaimana Dia telah menyertai setiap langkahku—aku menyadari bagaimana Dia menolongku menghadapi setiap tantangan sekaligus memberiku sukacita.” Saya menyukai jawabannya karena itu mencerminkan bahwa melalui firman Allah dan Roh Kudus yang mendiami hati kita, Allah senantiasa menyertai dan bekerja di dalam diri mereka yang mengasihi-Nya.
Allah bekerja dalam diri para pengikut-Nya. Itulah rahasia indah yang disebut oleh penulis kitab Ibrani saat ia hendak menutup tulisannya dengan sebuah doa penutup: “[Allah] kiranya . . . mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus“ (Ibr. 13:21). Dengan kesimpulan tersebut, penulis menegaskan pesan yang sangat penting dari suratnya, yakni Allah akan memperlengkapi umat-Nya untuk mengikut Dia dan bahwa Allah akan bekerja di dalam dan melalui diri mereka demi kemuliaan-Nya.
Karya Allah di dalam diri kita dapat membuat kita sendiri terkejut; mungkin kita dimampukan untuk mengampuni seseorang yang bersalah kepada kita atau untuk menunjukkan kesabaran terhadap seseorang yang kita pikir tidak mudah untuk diajak berteman. “Allah damai sejahtera” (ay.20) menebarkan kasih dan damai-Nya di dalam dan melalui kita. Karya Allah apa yang kamu lihat baru-baru ini? —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memperlengkapiku untuk melakukan pekerjaan-Mu demi kemuliaan-Mu. Bukalah mataku hari ini agar aku mengerti panggilan-Mu kepada kami untuk mengikut-Mu.
Allah bekerja di dalam dan melalui diri para pengikut-Nya.

Monday, May 14, 2018

Tak Seperti yang Diperkirakan

Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah. —1 Yohanes 4:1
Tak Seperti yang Diperkirakan
“Dengar!” kata istri saya lewat telepon. “Ada monyet di halaman rumah kita!” Ia mengangkat teleponnya supaya saya bisa mendengar suara itu. Ya, memang seperti suara monyet. Aneh sekali, karena tempat monyet liar yang terdekat dari tempat tinggal kami berjarak lebih dari 3.200 km jauhnya.
Namun, ayah mertua saya menjawab keheranan kami, “Itu burung hantu,” tukasnya. Kenyataannya tak seperti yang kami perkirakan.
Ketika pasukan Asyur yang diperintah Raja Sanherib mengepung Hizkia, Raja Yehuda, di dalam kota Yerusalem, mereka mengira telah meraih kemenangan. Namun, kenyataan berbicara lain. Walaupun juru minuman Asyur bermulut manis dan mengaku berbicara bagi Allah, Tuhan tetap berada di pihak umat-Nya.
“Adakah di luar kehendak Tuhan aku maju melawan tempat ini untuk memusnahkannya?” tanya si juru minuman Asyur (2Raj. 18:25). Dalam usahanya membujuk Yerusalem agar menyerah, ia bahkan berkata, “Kalau kamu menuruti apa yang kuanjurkan kepadamu, kamu akan hidup, tidak mati” (ay.32 BIS).
Itu terdengar mirip dengan firman Tuhan. Namun, Nabi Yesaya memberitakan firman Tuhan yang sebenarnya kepada bangsa Israel. “[Sanherib] tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana,” Allah berfirman. “Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya” (2Raj. 19:32-34; Yes. 37:35). Malam itu juga, “Malaikat Tuhan” menghancurkan pasukan Asyur (2Raj. 19:35).
Adakalanya kita menjumpai orang-orang bermulut manis yang sepertinya “menasihati” kita padahal sebenarnya mereka menyangkal kuasa Allah. Yakinlah, itu bukan suara Allah. Dia berbicara kepada kita melalui firman-Nya dan memandu kita dengan Roh-Nya. Tangan-Nya berada di pihak orang-orang yang mengikut-Nya, dan Dia takkan pernah meninggalkan kita. —Tim Gustafson
Tuhan, ajarlah kami untuk bisa mengenali suara-Mu.
Allah selalu dapat dipercaya.

Sunday, May 13, 2018

Harta di Surga

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. —Matius 6:21
Harta di Surga
Saat beranjak dewasa, saya dan kedua saudari saya suka duduk berdampingan di atas kotak kayu besar milik ibu saya. Ibu saya menyimpan baju-baju hangat dari bahan wol yang disulam atau dibordir oleh nenek saya di dalam kotak kayu itu. Ibu sangat menghargai isi kotak tersebut dan menggunakan bau wewangian kayu cemara untuk mengusir ngengat agar tidak merusak apa yang disimpan di dalam kotak itu.
Sebagian besar harta duniawi dapat dengan mudah dirusak oleh ngengat atau berkarat, atau bahkan dapat hilang dicuri. Matius 6 mendorong kita untuk memusatkan perhatian khusus, bukan pada benda-benda yang tidak akan bertahan lama, melainkan pada hal-hal yang bernilai kekal. Ketika ibu saya meninggal dunia pada usia 57 tahun, beliau tidak mengumpulkan banyak harta di dunia, tetapi saya membayangkan bahwa ia tentu telah mengumpulkan harta baginya di surga (ay.19-20).
Saya ingat betapa ibu saya sangat mengasihi Allah dan melayani-Nya lewat perbuatan-perbuatan yang tidak menonjol, seperti merawat keluarganya dengan setia, mengajar anak-anak di sekolah Minggu, berteman dengan seorang wanita yang ditinggalkan oleh suaminya, menghibur seorang ibu muda yang kehilangan bayinya. Dan ibu saya tekun berdoa . . . bahkan setelah kehilangan penglihatannya dan gerak-geriknya dibatasi oleh kursi roda, ibu saya terus mengasihi dan mendoakan orang lain.
Harta kita yang sesungguhnya tidaklah diukur dengan seberapa banyak benda yang kita kumpulkan, melainkan apa dan siapa yang menerima investasi waktu dan perhatian kita. Apa saja “harta” yang sedang kita kumpulkan di surga lewat pelayanan dan ketaatan kita kepada Tuhan Yesus? —Cindy Hess Kasper
Bapa, tolong aku untuk memilih menginvestasikan hidupku pada hal-hal yang bersifat kekal.
Apa yang kita investasikan untuk kekekalan adalah kekayaan kita yang sesungguhnya.

Saturday, May 12, 2018

Meluangkan Waktu

Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. —Lukas 19:5
Meluangkan Waktu
Rima, seorang wanita asal Suriah yang baru-baru ini pindah ke Amerika Serikat, menggunakan gerakan tangan dan bahasa Inggris yang terbatas untuk menjelaskan kekecewaannya kepada tutornya. Air mata mengalir di pipinya saat ia mengangkat sepiring besar fatayer (semacam roti berisi daging, keju, dan bayam) yang telah dibuat dan ditatanya dengan indah. Lalu ia berkata, “Satu orang,” sembari menunjuk pintu rumah ke ruang tamu lalu kembali ke pintu. Tutor itu lalu teringat bahwa ada beberapa orang dari gereja dekat sana yang seharusnya datang mengunjungi Rima dan keluarganya serta membawa sejumlah hadiah untuk mereka. Namun, ternyata hanya satu orang yang datang. Orang itu pun buru-buru masuk, menaruh sekotak barang-barang, lalu keluar begitu saja. Ia sibuk menjalankan tanggung jawabnya, sementara Rima dan keluarganya merasa kesepian dan merindukan suatu komunitas tempat mereka bisa berbagi fatayer dengan teman-teman barunya.
Yesus senang meluangkan waktu-Nya dengan siapa saja. Dia menghadiri perjamuan makan malam, mengajar orang banyak, dan memberikan waktu untuk berinteraksi secara pribadi dengan sejumlah orang. Dia bahkan memutuskan untuk berkunjung ke rumah seorang bernama Zakheus. Si pemungut cukai itu telah memanjat pohon agar dapat melihat Yesus, dan ketika Yesus melihat ke atas, Dia berkata, “Segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk. 19:1-9). Hidup Zakheus pun diubahkan selamanya.
Mungkin kita tak selalu bisa meluangkan waktu karena adanya kewajiban-kewajiban lain. Namun ketika dapat melakukannya, kita mendapat kesempatan istimewa untuk menjalin kebersamaan dengan orang lain dan melihat karya Tuhan melalui diri kita. —Anne Cetas
Bagaimana orang lain meluangkan waktunya bersamamu? Bagaimana kamu dapat menunjukkan kasih Yesus kepada seseorang dalam minggu ini?
Mungkin, hadiah terbaik yang dapat kamu berikan kepada orang lain adalah waktumu.

Friday, May 11, 2018

Bertahan dengan Damai Sejahtera

Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab Tuhan menopang aku! —Mazmur 3:6
Bertahan dengan Damai Sejahtera
Dalam upaya saya untuk terus mempercayai Allah di tengah pergumulan dengan rasa sakit yang kronis, kemunduran sekecil apa pun terasa seperti pukulan telak. Serangan demi serangan seakan menghantam saya dari samping, belakang, dan juga depan. Saat kekuatan saya melemah dan pertolongan tidak segera datang, melarikan diri dan bersembunyi tampaknya merupakan ide cemerlang. Namun, karena tak bisa melepaskan diri dari rasa sakit, mengubah keadaan, atau mengabaikan emosi saya, saya belajar sedikit demi sedikit untuk bersandar kepada Allah yang menopang saya melalui semua itu.
Ketika memerlukan penguatan, penghiburan, dan keberanian, saya menghayati pujian-pujian para pemazmur yang membawa pergumulan mereka kepada Allah. Dalam salah satu mazmur favorit saya, Raja Daud melarikan diri dari Absalom, anaknya yang ingin membunuh dan merebut kerajaannya. Meski Daud meratapi situasinya yang sulit (Mzm. 3:2-3), ia yakin Allah melindunginya dan percaya Allah akan menjawab doanya (ay.4-5). Daud tidak membiarkan kekhawatiran dan ketakutan tentang masa depan mengusik waktu tidurnya, karena ia percaya bahwa Allah akan menopang dan menyelamatkannya (ay.6-9).
Penderitaan fisik dan emosional sering terasa bagaikan serangan gencar dari musuh. Kita mungkin tergoda untuk menyerah atau melarikan diri di saat kita tak berdaya dan tak bisa melihat akhir dari pergumulan tersebut. Namun, seperti Daud, kita dapat belajar percaya bahwa Allah akan menopang dan menolong kita untuk mengandalkan kehadiran-Nya yang setia dan penuh kasih. —Xochitl Dixon
Tuhan, kami bersyukur untuk damai sejahtera yang kami terima lewat kehadiran-Mu yang setia dan untuk kepastian kemenangan yang telah Engkau rebut bagi kami.
Allah memberi kita damai sejahtera dengan menopang dan menyertai kita di tengah setiap percobaan yang kita hadapi.

Thursday, May 10, 2018

Negeri yang Terbentang Jauh

Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, akan melihat negeri yang terbentang jauh. —Yesaya 33:17
Negeri yang Terbentang Jauh
Amy Carmichael (1867-1951) dikenal karena usahanya dalam menyelamatkan gadis-gadis yatim piatu di India dan memberi mereka kehidupan yang baru. Di tengah-tengah pelayanan yang menguras tenaga itu, ia mengalami apa yang disebutnya sebagai “momen-momen penglihatan”. Dalam bukunya Gold by Moonlight, ia menulis, “Di tengah suatu hari yang sibuk, kami diberi secercah gambaran tentang suatu ‘negeri yang terbentang jauh’, dan kami hanya bisa berdiri, terpaku di tengah jalan.”
Nabi Yesaya berbicara tentang suatu masa ketika umat Allah yang pernah memberontak akhirnya berbalik kepada-Nya. “Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, akan melihat negeri yang terbentang jauh” (Yes. 33:17). Memandang “negeri yang terbentang jauh” tersebut berarti mengalihkan pandangan kita dari segala situasi yang terjadi saat ini hingga kita mendapatkan sudut pandang kekekalan. Di tengah masa-masa sulit, Tuhan memampukan kita untuk melihat hidup kita dari sudut pandang-Nya dan memperoleh pengharapan di dalam Dia. “Sebab Tuhan ialah Hakim kita, Tuhan ialah yang memberi hukum bagi kita; Tuhan ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita” (ay.22).
Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: melihat keadaan kita yang mengecewakan atau mengarahkan pandangan kita kepada “negeri yang terbentang jauh” dan melihat “betapa mulia Tuhan kita” (ay.21).
Amy Carmichael menghabiskan waktu lebih dari 50 tahun di India untuk menolong para gadis yang sangat membutuhkan bantuan. Bagaimana ia melakukannya? Setiap hari ia mengarahkan pandangannya kepada Yesus dan menyerahkan hidupnya ke dalam tangan pemeliharaan-Nya. Kita pun dapat melakukan hal yang sama. —David C. McCasland
Tuhan, hari ini kami mengalihkan pandangan dari situasi-situasi yang mengecewakan kami dan melihat-Mu sebagai Raja, sehingga kami beroleh damai sejahtera.
Arahkan pandanganmu senantiasa kepada Yesus.

Wednesday, May 9, 2018

Tak Dapat Ditarik Kembali

Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh. —Yakobus 3:6
Tak Dapat Ditarik Kembali
Ini bukan sekadar soal menyeberangi sungai. Secara hukum, tidak ada jenderal Romawi yang diizinkan untuk memimpin pasukan bersenjata masuk ke kota Roma. Jadi, saat Julius Caesar memimpin pasukannya menyeberangi sungai Rubicon dan memasuki Italia pada 49 SM, itu adalah suatu pengkhianatan. Dampak dari tindakannya tak bisa diputar kembali dan perang saudara selama bertahun-tahun pun terjadi hingga jenderal agung itu berkuasa mutlak atas Romawi. Sampai saat ini, istilah “menyeberangi Rubicon” melambangkan sesuatu yang “tidak dapat ditarik kembali”.
Dalam hubungan kita dengan orang lain, “menyeberangi Rubicon” dapat terjadi oleh karena ucapan kita. Begitu diucapkan, kata-kata kita tak bisa ditarik kembali. Ucapan kita bisa menolong dan menghibur, atau sebaliknya membawa kerusakan yang rasanya tak lagi dapat diperbaiki. Yakobus memberikan gambaran lain tentang dampak kata-kata, dengan mengatakan, “Lidahpun adalah api, ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” (Yak. 3:6).
Saat kita merasa telah menyakiti seseorang, kita dapat meminta pengampunan dari orang itu dan juga pengampunan Allah (Mat. 5:23-24; 1Yoh. 1:9). Namun, akan jauh lebih baik apabila kita mengandalkan Roh Allah setiap hari dan memperhatikan dorongan Paulus, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih” (Kol. 4:6), sehingga perkataan kita tidak saja menghormati Tuhan, tetapi juga menghibur dan menguatkan orang-orang di sekitar kita. - Bill Crowder
Tuhan, jagalah hati dan ucapanku hari ini. Kiranya aku hanya mengucapkan kata-kata yang menyenangkan-Mu dan membawa kebaikan serta kesembuhan bagi orang lain.
Saat kata-kata menjadi senjata, hubungan kita dengan sesama menjadi korbannya.

Tuesday, May 8, 2018

Mengikuti Pimpinan Allah

Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. —Matius 4:20
Mengikuti Pimpinan Allah
Pada bulan Agustus 2015, ketika sedang menyiapkan diri untuk berkuliah di universitas yang kampusnya berjarak lumayan jauh dari rumah, saya menyadari bahwa mungkin saya tidak akan kembali tinggal di rumah setelah lulus. Pikiran saya pun menjadi kalut. Bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah? Keluargaku? Gerejaku? Bagaimana jika nanti Allah memanggilku pergi ke daerah atau negara lain?
Seperti Musa, ketika Allah memerintahkan dirinya menghadap “Firaun untuk membawa umat-[Nya], orang Israel, keluar dari Mesir” (Kel. 3:10), saya juga merasa takut. Saya tidak ingin meninggalkan zona nyaman saya. Musa memang menaati dan mengikuti perintah Allah, tetapi ia baru melakukannya setelah mempertanyakan Allah dan meminta agar orang lain saja yang pergi menggantikannya (ay.11-13; 4:13).
Lewat contoh Musa, kita bisa melihat apa yang tidak seharusnya dilakukan ketika kita merasa mendapatkan panggilan yang jelas. Sebaliknya, kita dapat berusaha untuk bersikap seperti murid-murid Yesus. Ketika Yesus memanggil mereka, mereka segera meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat. 4:20-22; Luk. 5:28). Merasa takut memang wajar, tetapi kita dapat mempercayai rencana Allah.
Tinggal jauh dari rumah masih terasa berat. Namun, saat saya terus mencari Allah, Dia membukakan pintu demi pintu kesempatan bagi saya, sehingga saya diyakinkan bahwa memang di sinilah seharusnya saya berada.
Ketika dibawa keluar dari zona nyaman kita, kita bisa memilih untuk melangkah pergi dengan enggan, seperti Musa, atau dengan sukarela seperti para murid—mengikuti Yesus ke mana pun Dia memimpin. Terkadang itu berarti meninggalkan hidup kita yang nyaman dan pergi hingga ratusan atau ribuan mil jauhnya. Namun, sesulit apa pun pilihan kita, mengikut Yesus itu sungguh sepadan. —Julie Schwab
Tuhan, mampukan aku untuk mengikut-Mu ke mana pun Engkau memimpinku.
Kita tidak dipanggil untuk menikmati zona nyaman kita.

Monday, May 7, 2018

Sidik Jari Allah

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. —Efesus 2:10
Sidik Jari Allah
Lygon Stevens suka sekali mendaki gunung bersama saudaranya, Nick. Mereka berdua adalah pendaki yang berpengalaman dan sama-sama pernah mencapai Puncak Denali di Gunung McKinley, puncak gunung tertinggi di Amerika Utara. Namun pada bulan Januari 2008, longsoran salju pada sebuah gunung di Colorado membuat Nick terluka dan menewaskan Lygon yang masih berusia 20 tahun. Ketika suatu hari Nick menemukan catatan harian Lygon di salah satu tasnya, ia sangat terhibur oleh isinya. Catatan harian adik perempuannya itu dipenuhi dengan perenungan, doa, dan pujian kepada Allah. Salah satu tulisannya adalah sebagai berikut: “Aku adalah karya seni buatan Allah. Akan tetapi, Dia belum selesai; bahkan Dia baru saja memulai karyanya. . . . Sidik jari Allah membekas di setiap bagian hidupku. Takkan pernah ada orang lain yang sama seperti diriku . . . dalam hidup ini, aku mendapat tugas yang harus kulakukan dan tugas itu tak bisa dilakukan oleh orang lain.”
Meskipun Lygon sudah meninggalkan dunia ini, melalui teladan dan catatan hariannya, ia masih memberikan inspirasi sekaligus tantangan kepada orang-orang yang masih hidup.
Karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26), setiap manusia adalah “karya seni buatan Allah”. Itulah yang dikatakan Rasul Paulus, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10).
Bersyukur kepada Allah karena Dia memakai setiap dari kita, sesuai waktu dan cara-Nya, untuk menolong satu sama lain. —Dennis Fisher
Bagaimana Engkau akan memakai diriku, Tuhan? Aku siap dan rela dipakai oleh-Mu.
Setiap manusia merupakan karya unik dari rancangan kasih Allah.

Sunday, May 6, 2018

Berpegang pada Janji Allah

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. —Yohanes 15:7
Berpegang pada Janji Allah
Saat masih anak-anak, teman saya diyakinkan kakaknya bahwa sebuah payung cukup kuat untuk membuatnya terbang jika ia “percaya saja”. Jadi “dengan iman”, teman saya meloncat dari atap sebuah lumbung hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri dan menderita gegar otak ringan.
Apa yang sudah dijanjikan Allah pasti akan digenapi-Nya. Namun, kita harus yakin bahwa kita berpegang pada firman Allah yang sesungguhnya saat kita mengklaim janji-Nya. Dengan demikian, kita memperoleh jaminan bahwa Allah akan melakukan atau memberikan apa yang dijanjikan-Nya. Iman itu sendiri tidak memiliki kekuatan apa-apa. Iman hanya berdampak apabila dilandaskan pada janji yang gamblang dan jelas dari Allah. Di luar itu, yang ada hanyalah angan-angan belaka.
Contohnya sebagai berikut: Tuhan Yesus berjanji, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh. 15:7-8). Ayat-ayat itu tidak menjanjikan bahwa Allah akan menjawab setiap doa yang kita ucapkan. Namun, itu adalah janji bahwa Allah akan menanggapi setiap kerinduan kita untuk memperoleh kebajikan yang disebut Rasul Paulus sebagai “buah Roh” (Gal. 5:22-23) dalam diri kita. Apabila kita sungguh-sungguh merindukan kekudusan dan memintanya kepada Allah, Dia akan memuaskan kerinduan itu. Memang dibutuhkan waktu, karena pertumbuhan rohani terjadi secara bertahap, sama seperti pertumbuhan jasmani. Jangan menyerah. Teruslah meminta kepada Allah untuk menguduskanmu. Pada waktu yang ditentukan-Nya, Kamu “akan menerimanya.” Allah tidak menjanjikan apa yang tidak akan digenapi-Nya. —David H. Roper
Tuhan, terima kasih untuk banyaknya janji-Mu bagi kami dalam firman-Mu. Terima kasih Engkau telah mengutus Roh Kudus-Mu yang memberi kami hikmat.
Kita memiliki Allah yang selalu menepati janji.

Saturday, May 5, 2018

Memegang Erat

Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. —Ulangan 6:8
Memegang Erat
Saat berjalan kaki pulang setelah mengantar putri saya ke sekolah, saya berkesempatan untuk menghafalkan beberapa ayat Alkitab. Ketika saya menggunakan menit-menit itu untuk memusatkan pikiran saya pada firman Allah, firman itu sering saya ingat kembali di sepanjang hari dan itu memberikan penghiburan dan hikmat kepada saya.
Ketika Musa menyiapkan bangsa Israel untuk memasuki Tanah Perjanjian, ia mendorong mereka untuk memegang erat semua perintah dan ketetapan Allah (Ul. 6:1-2). Dalam kerinduan melihat bangsa itu bertumbuh, Musa berkata bahwa mereka harus memperhatikan perintah dan ketetapan itu berulang-ulang dan membicarakannya dengan anak-anak mereka (ay.6-7). Ia bahkan memerintahkan untuk mengikatkan perintah itu pada tangan dan dahi mereka (ay.8). Ia tidak ingin mereka lupa bahwa Allah menghendaki mereka untuk menjalani hidup sebagai umat yang menghormati Allah dan menikmati berkat-berkat-Nya.
Bagaimana cara kamu untuk memperhatikan firman Allah hari ini? Salah satu caranya adalah dengan menuliskan satu ayat Alkitab di suatu tempat, dan setiap kali kamu mencuci tangan atau minum, baca dan renungkanlah ayat yang kamu tulis itu. Atau sebelum kamu tidur, renungkanlah satu bagian singkat dari Alkitab. Ada banyak cara untuk memegang erat firman Allah di dalam hati kita! —Amy Boucher Pye
Tuhan Allah, terima kasih karena Engkau memberi kami Alkitab, sumber air hidup bagi kami. Tolong kami untuk membaca dan merenungkannya dengan setia hari ini.
Lingkupilah dirimu dengan firman Allah.

Friday, May 4, 2018

Sebelum Segalanya Bermula

Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. —Yohanes 17:24
Sebelum Segalanya Bermula
“Tetapi kalau Allah tidak memiliki awal dan akhir, dan selalu ada, apa yang dilakukan-Nya sebelum Dia menciptakan semuanya? Bagaimana Dia mengisi waktu-Nya?” Sejumlah anak sekolah Minggu yang ingin tahu selalu menanyakan hal-hal itu ketika kami membahas tentang natur kekekalan Allah. Saya biasanya menjawab bahwa sebagian dari hal itu merupakan misteri. Namun baru-baru ini, saya belajar bahwa Alkitab memberi kita jawaban untuk pertanyaan tersebut.
Ketika Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dalam Yohanes 17, Dia berkata, “Ya Bapa . . . Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (ay.24). Inilah yang disingkapkan Yesus kepada kita tentang Allah: Sebelum dunia diciptakan, Allah adalah Trinitas atau Tritunggal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus)—ketiga-Nya saling mengasihi dan dikasihi. Ketika Yesus dibaptis, Allah mengirimkan Roh-Nya dalam rupa seekor burung merpati dan berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi” (Mat. 3:17). Aspek paling mendasar dari identitas Allah adalah kasih-Nya yang terus mengalir dan memberi hidup.
Sungguh suatu kebenaran tentang Allah yang sangat indah dan menguatkan! Kasih timbal balik yang dipancarkan tiada henti oleh masing-masing oknum dalam Trinitas itu—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—merupakan kunci untuk memahami natur Allah. Apa yang Allah lakukan sebelum segalanya bermula? Allah melakukan apa yang selalu dilakukan-Nya: Dia mengasihi karena Dia adalah kasih (1Yoh. 4:8). —Amy Peterson
Ya Allah, terima kasih untuk kasih-Mu yang melimpah dan rela berkorban.
Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang penuh kasih.

Thursday, May 3, 2018

Perubahan Sudut Pandang

Hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah. —Mazmur 73:16-17
Perubahan Sudut Pandang
Kota tempat saya tinggal pernah mengalami hujan salju yang terdahsyat dalam 30 tahun terakhir. Otot-otot saya terasa nyeri setelah berjam-jam mengeruk timbunan salju yang tidak habis-habisnya. Saya pun masuk ke rumah setelah bekerja keras dalam upaya yang sepertinya tidak membuahkan hasil. Setelah melepas sepatu bot, saya pun disambut oleh hangatnya perapian dan anak-anak saya yang berkumpul di sekelilingnya. Saat saya memandang keluar dari jendela rumah, sudut pandang saya terhadap cuaca buruk itu berubah total. Saya tidak lagi memandang timbunan salju di luar sebagai beban pekerjaan, melainkan saya menikmati keindahan dari ranting-ranting pohon yang membeku dan bentangan salju putih yang menyelimuti pemandangan suram di musim dingin.
Saya melihat pergeseran yang serupa, tetapi yang jauh lebih memilukan, dialami oleh Asaf ketika saya membaca kata-katanya dalam Mazmur 73. Awalnya, ia meratapi apa yang terjadi di dunia, ketika kejahatan tampaknya lebih berjaya dan dipuja. Ia meragukan manfaat dari hidup yang tampil beda dari kebanyakan orang dan menjalani hidup yang mengutamakan kebaikan orang lain (ay.13). Namun saat ia masuk ke dalam tempat kudus Allah, sudut pandangnya berubah (ay.16-17): ia ingat bahwa Allah akan berurusan dengan dunia dan segala permasalahannya secara sempurna dan, yang terpenting, jauh lebih baik untuk berada dekat dengan Allah (ay.28)
Ketika kita dibuat penat oleh masalah-masalah yang seakan tidak habis-habisnya di dunia ini, kita dapat masuk dalam tempat kudus Allah melalui doa. Kita akan diteguhkan oleh kebenaran yang mengubah sudut pandang dan hidup ini, yaitu bahwa penilaian-Nya lebih baik daripada penilaian kita. Meskipun situasi-situasi di sekitar kita mungkin tidak berubah, sudut pandang kita dapat berubah. —Kirsten Holmberg
Tuhan, aku mengakui betapa mudahnya aku merasa frustrasi dengan apa yang kulihat di sekitarku. Tolong aku untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Mu.
Allah memberi kita sudut pandang yang benar.

Wednesday, May 2, 2018

Merindukan Allah

Hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. —Mazmur 84:3
Merindukan Allah
Suatu hari putri saya berkunjung ke rumah kami bersama anak laki-lakinya yang berumur satu tahun. Saat itu saya sedang bersiap-siap meninggalkan rumah untuk sebuah pekerjaan. Namun, begitu saya keluar dari ruangan, cucu saya mulai menangis. Itu terjadi dua kali, dan setiap kali saya selalu kembali ke ruangan untuk menemaninya sebentar. Begitu saya mengarah ke pintu untuk ketiga kalinya, bibir mungilnya mulai bergetar lagi. Saat itu putri saya berkata, “Ayah, ajak saja ia ikut denganmu.”
Rasanya kakek mana pun akan melakukan apa yang saya lakukan selanjutnya. Saya mengajak cucu saya ikut dengan saya, karena saya mengasihinya.
Sungguh bahagia saat mengetahui bahwa kerinduan hati kita kepada Allah juga dibalas oleh-Nya dengan penuh kasih. Alkitab meyakinkan kita bahwa “kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1Yoh. 4:16). Allah mengasihi kita bukan karena apa yang kita miliki atau yang sudah kita lakukan. Kasih-Nya sama sekali tidak didasarkan pada kelayakan kita, melainkan pada kebaikan dan kesetiaan-Nya. Ketika dunia di sekitar kita sedang kehilangan kasih dan kebaikan, kita dapat mengandalkan kasih Allah yang tak pernah berubah sebagai sumber pengharapan dan damai sejahtera kita.
Bapa Surgawi membuktikan kebesaran kasih-Nya kepada kita dengan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal dan Roh-Nya yang kudus. Alangkah terhiburnya hati kita oleh kepastian bahwa Allah mengasihi kita dengan kasih yang tak pernah berakhir! —James Banks
Tuhan yang penuh kasih, terima kasih untuk belas kasih-Mu kepadaku yang Engkau buktikan di kayu salib. Tolonglah aku untuk menaati dan mengasihi-Mu hari ini.
Allah rindu kita merindukan-Nya.

Tuesday, May 1, 2018

Menanti dengan Penuh Harap

Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. —Mazmur 130:6
Menanti dengan Penuh Harap
Setiap hari May Day (1 Mei) di Oxford, Inggris, orang-orang sudah berkumpul sejak pagi-pagi buta untuk menyambut musim semi. Pada jam 6 pagi, Magdalen College Choir akan menyanyi dari atas Magdalen Tower. Ribuan orang menanti dengan penuh harap ketika kegelapan dihalau oleh fajar yang merekah diiringi lantunan lagu dan dentang lonceng.
Seperti para hadirin di Oxford, saya pun sering menanti. Saya menantikan jawaban atas doa atau petunjuk yang saya mohonkan kepada Allah. Walaupun saya tidak tahu pasti kapan persisnya penantian saya berakhir, saya belajar untuk menanti dengan penuh harap. Dalam Mazmur 130, pemazmur menuliskan kesedihannya yang mendalam saat menghadapi situasi yang sepekat malam. Di tengah-tengah masalahnya, ia memilih untuk percaya kepada Allah dan berjaga-jaga seperti pengawal yang bertugas untuk mengumumkan datangnya fajar. “Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi” (ay.6).
Penantian yang penuh harap akan kesetiaan Allah dalam menghalau kegelapan itu telah memberikan pengharapan kepada pemazmur untuk tetap bertahan di tengah-tengah penderitaannya. Berdasarkan janji-janji Allah yang terdapat di sepanjang Kitab Suci, pengharapan itu memampukannya untuk terus menanti meskipun ia belum melihat cahaya matahari yang terbit.
Jika kamu merasa berada di tengah-tengah kegelapan malam, kuatkanlah hatimu. Fajar segera menyingsing, entah dalam kehidupan sekarang atau kelak di surga! Sementara itu, janganlah menyerah, tetapi teruslah berjaga-jaga untuk menantikan pembebasan dari Tuhan. Dia selamanya setia. —Lisa Samra
Ya Bapa, sinarilah kegelapan hidupku. Bukalah mataku untuk melihat karya-Mu dan percaya sepenuhnya kepada-Mu. Aku bersyukur karena Engkau setia.
Allah dapat dipercaya baik dalam terang maupun dalam kegelapan.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate