Pages - Menu

Monday, October 31, 2016

Tak Pernah Habis

[Allah] telah melahirkan kita kembali . . . untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa. —1 Petrus 1:3-4
Tak Pernah Habis
Ketika saya bertanya kepada seorang teman yang hendak pensiun tentang apa yang ia khawatirkan dalam masa hidupnya mendatang, ia mengatakan, “Aku ingin memastikan bahwa aku tidak akan kehabisan uang.” Keesokan harinya, saat berbicara kepada seorang konsultan keuangan, saya diberi nasihat tentang langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk memiliki jaminan keuangan. Tentu saja kita semua ingin merasakan ketenangan dengan mengetahui bahwa kita memiliki kecukupan dana yang dibutuhkan untuk sisa hidup kita.
Memang tidak ada rencana keuangan yang dapat menyediakan jaminan keamanan yang pasti di dunia ini. Namun ada suatu rencana yang jauh melampaui hidup ini dan tak terbatas sampai selama-lamanya. Rasul Petrus menggambarkannya demikian: “Karena rahmat-Nya yang besar [Allah] telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu” (1Ptr. 1:3-4).
Ketika kita mempercayai Yesus untuk mengampuni dosa-dosa kita, kita menerima warisan kekal yang diberikan Allah dengan kuasa-Nya. Karena warisan itulah, kita akan hidup untuk selamanya dan tidak akan pernah kekurangan segala sesuatu yang kita butuhkan.
Merencanakan pensiun tentu baik jika kita mampu melakukannya. Namun yang lebih penting adalah memiliki warisan kekal yang tidak akan pernah habis dan binasa—dan itu hanya dapat kamu miliki dengan beriman kepada Yesus Kristus. —Dave Branon
Ya Allah, aku menginginkan jaminan warisan kekal—kepastian dari hidup yang tak berkesudahan bersama-Mu. Aku mempercayai Yesus untuk mengampuni dosa-dosaku dan aku mau menjadi anak-Nya. Terima kasih karena Engkau telah menyelamatkanku dan menyiapkan tempat untukku di kerajaan-Mu yang kekal.
Surga yang dijanjikan Allah adalah harapan kita yang kekal.

Sunday, October 30, 2016

Mendengarkan Allah

Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” —1 Samuel 3:10
Mendengarkan Allah
Saya pernah merasa begitu lemah, yakni ketika flu dan alergi meredam dan membungkam pendengaran saya. Selama berminggu-minggu saya berjuang untuk dapat mendengar dengan jelas. Kondisi tersebut membuat saya menyadari betapa saya telah menyepelekan pendengaran saya sebelumnya.
Samuel kecil yang tinggal di bait suci tentu bertanya-tanya tentang apa yang didengarnya ketika ia terbangun dari tidur setelah mendengar namanya dipanggil (1Sam. 3:4). Tiga kali ia mendatangi imam Eli. Saat yang ketiga kalinya, Eli baru menyadari bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel. Pada masa itu firman Tuhan jarang (ay.1), dan orang-orang tidak mengenali suara-Nya. Namun Eli mengajari Samuel bagaimana ia harus merespons kepada Allah (ay.9).
Tuhan berbicara lebih banyak pada masa kini dibandingkan pada zaman Samuel. Surat kepada jemaat Ibrani menyatakan kepada kita, “Pada zaman dahulu Allah . . . berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (1:1-2). Dan di Kisah Para Rasul 2, kita membaca tentang turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (ay.1-4). Roh Kuduslah yang memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran yang diajarkan Kristus kepada kita (Yoh. 16:13). Namun kita perlu belajar mendengarkan suara-Nya dan menanggapi dengan taat.
Adakalanya kita sulit mendengar dengan jelas. Kita perlu menguji apa yang kita anggap sebagai pimpinan Tuhan dengan mengacu kepada Alkitab dan berbicara dengan orang Kristen yang telah dewasa dalam iman. Sebagai umat kesayangan Allah, kita sungguh mendengar suara-Nya. Dia senang menguatkan kita dengan firman-Nya. —Amy Boucher Pye
Bukalah mata kami, Tuhan, agar kami dapat melihat-Mu. Bukalah telinga kami, agar kami mendengar-Mu. Bukalah mulut kami, agar kami dapat memuji-Mu.
Tuhan berbicara kepada anak-anak-Nya, tetapi kita harus bisa mengenali suara-Nya.

Saturday, October 29, 2016

Pasien Pendoa

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. —Yohanes 17:11
Pasien Pendoa
Almarhum Alan Nanninga, seorang tokoh di kota kami, disebut dalam obituarinya sebagai “saksi Kristus yang terkemuka dan penuh dedikasi”. Setelah menceritakan tentang kehidupan keluarga dan karier Alan, artikel tersebut menyebutkan tentang kesehatannya yang semakin merosot selama hampir sepuluh tahun terakhir. Obituari itu ditutup dengan catatan, “Selama dirawat di rumah sakit . . . Alan mendapat sebutan terhormat sebagai ‘Pasien Pendoa’”, dan itu karena pelayanannya kepada para pasien lain. Alan adalah seseorang yang di dalam masa penderitaannya justru bersedia melayani dengan cara berdoa untuk dan bersama orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan pertolongan.
Beberapa jam sebelum Yudas mengkhianati-Nya, Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya. “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:11). Dengan mengetahui apa yang akan terjadi, Yesus mengabaikan kepentingan diri-Nya sendiri demi memusatkan perhatian-Nya kepada para pengikut dan sahabat-Nya.
Saat kita mengalami sakit dan penderitaan, kita merindukan dan membutuhkan doa dari orang lain. Doa-doa tersebut sangat menolong dan menguatkan kita! Namun hendaknya kita juga, sama seperti Tuhan kita, membuka mata hati kita untuk mendoakan orang-orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan pertolongan Tuhan. —David McCasland
Ya Tuhan, kiranya di dalam saat-saat sulit, kami tetap memuliakan-Mu dan menguatkan orang lain dengan mendoakan mereka yang tengah menderita hari ini.
Masalah-masalah yang kita alami dapat membuat doa-doa kita dipenuhi rasa kasih dan empati terhadap orang lain.

Friday, October 28, 2016

Belajar Berhitung

Bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! —Mazmur 139:17
Belajar Berhitung
Putra saya sedang belajar berhitung dari satu sampai sepuluh. Ia menghitung semuanya, mulai dari mainan sampai pepohonan. Ia menghitung hal-hal yang cenderung saya abaikan, seperti bunga-bunga di pinggir jalan dalam perjalanannya ke sekolah atau jumlah jari pada kaki saya.
Putra saya juga mengajarkan saya untuk kembali berhitung. Sering kali saya terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum saya selesaikan atau yang tidak saya miliki sehingga saya gagal memperhatikan segala kebaikan yang ada di sekeliling saya. Saya lupa untuk menghitung berapa jumlah teman baru yang saya kenal tahun ini dan berapa banyak jawaban doa yang telah saya terima. Saya juga sering lupa menghitung sudah berapa banyak air mata sukacita yang mengalir dan saat-saat penuh canda tawa bersama para sahabat.
Kesepuluh jari saya tidaklah cukup untuk menghitung semua yang telah Allah berikan kepada saya dari hari ke hari. “Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung” (Mzm. 40:6). Bagaimana caranya kita dapat menghitung segala berkat rohani berupa keselamatan, perdamaian, dan hidup abadi?
Bersama Daud, marilah kita memuji Allah atas segala pemikiran-Nya yang indah tentang kita dan atas segala sesuatu yang telah Dia lakukan untuk kita. Daud berseru, “Bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir” (139:17-18).
Mari belajar berhitung lagi! —Keila Ochoa
Tuhan, karya-Mu yang sangat baik terlampau banyak untuk kuhitung semuanya. Namun aku bersyukur untuk tiap-tiap berkat-Mu itu.
Bersyukurlah kepada Allah untuk berkat-berkat-Nya yang tak terhitung.

Thursday, October 27, 2016

Tahap demi Tahap

Musa menuliskan perjalanan mereka dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan sesuai dengan titah Tuhan. —Bilangan 33:2
Tahap demi Tahap
Bilangan pasal 33 mungkin termasuk bagian Alkitab yang mudah terlewat begitu saja tanpa kita renungkan. Kelihatannya pasal itu tidak lebih dari sebuah daftar panjang berisi nama-nama tempat yang disinggahi bangsa Israel dalam perjalanan mereka dari Rameses di Mesir hingga ke dataran Moab. Namun daftar itu pasti bernilai penting karena itulah satu-satunya bagian dalam kitab Bilangan yang dimulai dengan kata-kata: “Musa menuliskan . . . sesuai dengan titah Tuhan” (ay.2).
Mengapa daftar itu perlu dituliskan? Mungkinkah daftar tersebut akan menjadi pegangan bangsa Israel yang telah melewati padang gurun untuk mengingat kembali perjalanan mereka selama 40 tahun dan mengenang kesetiaan Allah di setiap tempat yang mereka singgahi?
Saya membayangkan seorang pria Israel duduk di dekat perapian sambil mengenang beberapa peristiwa bersama putranya. Ayah itu mengatakan: “Ayah takkan pernah melupakan Rafidim! Waktu itu Ayah merasa begitu haus, karena tak ada apa pun di sana kecuali hamparan pasir dan semak-semak sepanjang ratusan mil. Kemudian Allah memerintahkan Musa untuk mengambil tongkatnya dan memukulkannya pada batu karang—suatu lempengan batu yang sangat keras. Ayah sempat berpikir, Sia-sia saja tindakan Musa itu; batu itu takkan mengeluarkan apa-apa. Namun Ayah kaget, karena air memang terpancar dari batu karang itu! Aliran air yang melimpah itu memuaskan ribuan orang Israel yang kehausan. Aku takkan pernah melupakan hari itu!” (Lihat Mzm. 114:8; Bil. 20:8-13; 33:14).
Jadi, mengapa kamu tidak mencobanya? Renungkan hidupmu— tahap demi tahap—dan ingatlah semua cara yang telah Allah tempuh untuk menunjukkan kasih setia-Nya kepadamu. —David Roper
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasih-Nya. —Johnson Oatman Jr.
Kesetiaan Allah kekal dari generasi ke generasi.

Wednesday, October 26, 2016

Memperbaiki Hati

Kamu adalah terang dunia. —Matius 5:14
Memperbaiki Hati
Belum lama ini saya pergi kepada seorang penjahit untuk memperbaiki sejumlah pakaian. Saat memasuki tokonya, saya terhibur oleh sesuatu yang saya baca pada dinding toko itu. Ada satu papan yang bertuliskan, “Kami dapat memperbaiki pakaianmu, tetapi hanya Allah yang dapat memperbaiki hatimu.” Di dekat papan itu terdapat lukisan Maria Magdalena yang sedang menangis di saat Kristus yang bangkit hendak menampakkan diri kepadanya. Ada tulisan di papan lain yang bertanya, “Butuh didoakan? Kami mau mendoakanmu.”
Sang pemilik toko mengatakan bahwa ia sudah menjalankan bisnis kecil-kecilannya itu selama 15 tahun. “Kami terkejut sekaligus bersyukur melihat bagaimana Tuhan telah bekerja melalui berbagai pernyataan iman yang kami pasang di beberapa tempat. Beberapa waktu lalu, ada orang yang mempercayai Kristus sebagai Juruselamatnya di sini. Kami sungguh kagum melihat cara Allah bekerja.” Saya mengatakan kepadanya bahwa saya juga seorang Kristen dan memuji tekadnya untuk memberitakan Kristus kepada orang-orang melalui tempat usahanya.
Tidak semua dari kita dapat bersaksi di tempat kerja dengan cara yang terang-terangan seperti itu. Akan tetapi, kita dapat menggunakan banyak cara yang kreatif dan praktis untuk menunjukkan kasih, kesabaran, dan kebaikan yang tak terduga kepada sesama di mana pun kita berada. Sejak meninggalkan toko itu, saya terus berpikir tentang banyaknya cara yang bisa kita gunakan untuk menerapkan pernyataan Tuhan kita: “Kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:14). —Dennis Fisher
Ya Bapa, pakailah aku hari ini untuk menjadi terang bagi dunia di sekitarku. Aku mengasihi-Mu dan ingin orang lain mengenal dan mengasihi-Mu juga.
Allah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati kita supaya kasih itu mengalir pada kehidupan orang lain.

Tuesday, October 25, 2016

Anugerah Ini

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. —2 Korintus 12:9
Anugerah Ini
Beberapa tahun lalu saya pernah menulis sebuah esai tentang koleksi tongkat pembantu jalan yang saya miliki. Saya bercanda bahwa suatu hari nanti saya akan membutuhkan alat bantu jalan yang lebih canggih. Hari itu telah tiba. Kombinasi masalah tulang belakang dan kerusakan saraf perifer telah memaksa saya untuk menggunakan alat bantu jalan beroda tiga. Saya tidak dapat lagi menjelajahi alam. Saya tidak dapat lagi memancing. Saya tidak dapat lagi melakukan banyak hal yang selama ini memberikan kesenangan bagi saya.
Namun demikian, saya mencoba untuk menerima keterbatasan saya, apa pun itu, sebagai anugerah dari Allah, dan dengan anugerah inilah saya harus melayani Dia. Anugerah ini dan bukan yang lain. Itu juga berlaku bagi kita semua, entah kita mengalami keterbatasan dari segi emosi, fisik, atau intelektual. Dengan blak-blakan, Paulus mengatakan bahwa ia bermegah atas kelemahannya, karena justru dalam kelemahan itulah kuasa Allah dinyatakan di dalam dirinya (2Kor. 12:9).
Bila kita memandang segala sesuatu yang kita anggap sebagai kendala dengan cara seperti itu, kita akan dimampukan untuk melakukan tanggung jawab kita dengan penuh keberanian dan keyakinan. Daripada mengeluh, mengasihani diri, atau mengasingkan diri, lebih baik kita memberi diri untuk dipakai Allah menggenapi tujuan-tujuan yang telah ditentukan-Nya.
Saya tidak tahu apa yang dikehendaki Allah bagi kamu dan saya, tetapi kita tidak perlu mengkhawatirkannya. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menerima saja segala sesuatu sebagaimana adanya dan merasa cukup, dengan menyadari bahwa di dalam kasih, hikmat, dan pemeliharaan Allah, keadaan inilah yang terbaik bagi kita. —David Roper
Ya Tuhan, aku tahu Engkau baik dan mengasihiku. Aku percaya Engkau akan memberikan segala sesuatu yang kuperlukan untuk hari ini.
Rasa cukup memampukan kita untuk bertumbuh di mana pun Allah menempatkanmu.

Monday, October 24, 2016

Memilih untuk Berubah

Hentikan segala kejahatan yang kamu lakukan dan biarlah hati dan pikiranmu menjadi baru. —Yehezkiel 18:31 BIS
Memilih untuk Berubah
Ketika putra saya mendapat sebuah robot mainan kecil, ia gemar memprogramnya untuk melakukan tugas-tugas sederhana. Robot itu dapat bergerak maju, berhenti, dan kemudian melangkah mundur. Ia bahkan membuat robot itu dapat mengeluarkan bunyi “bip” dan memutar ulang bunyi-bunyian yang direkamnya. Robot itu melakukan tepat seperti yang diperintahkan putra saya. Robot itu tidak pernah tertawa secara spontan atau bergerak ke arah yang tidak direncanakan. Robot itu tidak mempunyai pilihan.
Ketika Allah menciptakan manusia, Dia bukan menciptakan robot. Allah menjadikan kita menurut gambar-Nya, dan itu berarti kita dapat berpikir, mempunyai akal, dan membuat keputusan. Kita dapat memilih antara yang baik dan yang salah. Bahkan apabila kita sering gagal menaati Allah, kita dapat memutuskan untuk mengarahkan kembali hidup kita ke jalan yang benar.
Ketika Allah mendapati bangsa Israel kuno terus-terusan menentang-Nya, Dia berbicara kepada mereka melalui Nabi Yehezkiel. Yehezkiel berkata, “Bertobatlah dari dosa-dosamu. Jangan biarkan dosamu menghancurkan dirimu. . . . Biarlah hati dan pikiranmu menjadi baru” (Yeh. 18:30-31 BIS).
Perubahan itu dapat dimulai cukup dengan satu keputusan, yakni dengan memilih untuk dikuasai Roh Kudus (Rm. 8:13). Mungkin itu berarti kamu harus berani berkata tidak pada hal-hal tertentu dalam hidupmu. Tidak lagi bergosip, tidak lagi serakah, atau tidak lagi iri hati. Tidak lagi _________________ (Isilah dengan jawabanmu sendiri). Jika kamu mengenal Yesus, kamu tidak lagi menjadi hamba dosa. Kamu bisa memilih untuk berubah, dan dengan pertolongan Allah, revolusi dirimu dapat dimulai hari ini. —Jennifer Benson Schuldt
Tuhan, tiada yang mustahil bagi-Mu. Dengan kuasa kebangkitan Yesus, tolonglah aku melangkah menuju ketaatan yang makin teguh kepada-Mu.
Untuk suatu awal yang baru, mintalah hati yang baru kepada Allah.

Sunday, October 23, 2016

Aku Menyertai Engkau

Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau. —Yeremia 1:8
Aku Menyertai Engkau
Ketika magang di sebuah majalah rohani, saya pernah menuliskan kisah tentang seseorang yang bertobat dan menjadi Kristen. Dalam perubahan yang dialaminya secara dramatis, tokoh tersebut melepaskan kehidupan lamanya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dalam hidup yang baru. Beberapa hari setelah majalah itu diterbitkan, seseorang yang tidak menyebutkan namanya mengancam saya lewat telepon dengan mengatakan: “Awas kau, Darmani. Kami mengawasimu! Hidupmu tidak akan aman di negeri ini kalau kamu terus menulis kisah-kisah semacam itu.”
Itu bukanlah satu-satunya ancaman yang pernah saya terima karena upaya saya memperkenalkan orang kepada Kristus. Seorang pria pernah mengusir dan mengancam saya ketika saya memberikan traktat kepadanya! Jujur saya merasa gentar. Namun itu semua hanyalah ancaman lisan. Banyak orang Kristen menghadapi berbagai ancaman atas hidup mereka. Bahkan menjalani hidup yang saleh pun dapat mengundang perlakuan buruk dari orang-orang.
Tuhan berfirman kepada Yeremia, “Kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan” (Yer. 1:7), dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat. 10:16). Memang kita mungkin menghadapi ancaman, penderitaan, dan kepedihan. Namun Allah menjamin kehadiran-Nya. “Aku menyertai engkau,” firman-Nya kepada Yeremia (Yer. 1:8). Yesus meyakinkan para pengikut-Nya, “Aku menyertai kamu senantiasa” (Mat. 28:20).
Apa pun pergumulan yang kita hadapi dalam upaya kita menjalani hidup bagi Tuhan, kita dapat mempercayai bahwa Dia menyertai kita senantiasa. —Lawrence Darmani
Tuhan, kami bersyukur karena Engkau menyertai kami dalam keadaan apa pun yang kami hadapi. Lindungilah umat-Mu di seluruh dunia.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Matius 5:10

Saturday, October 22, 2016

Saudara-Ku

Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40
Saudara-Ku
Beberapa tahun lalu ketika perekonomian di California Selatan sedang merosot, Pendeta Bob Johnson melihat adanya peluang di balik kesulitan itu. Ia bertemu dengan walikotanya dan bertanya, “Adakah yang bisa dilakukan gereja kami untuk membantumu?” Walikota itu takjub. Biasanya orang datang kepadanya untuk meminta pertolongan, tetapi pendeta itu datang justru menawarkan bantuan dari seluruh jemaatnya.
Sang walikota dan pendeta itu pun membuat perencanaan untuk mengatasi sejumlah kebutuhan yang mendesak. Di wilayah mereka saja terdapat lebih dari 20.000 kaum lansia yang tidak pernah dikunjungi sepanjang tahun sebelumnya. Ratusan anak yatim-piatu membutuhkan pengasuhan keluarga. Dan banyak anak lainnya memerlukan les pelajaran untuk membantu mereka berhasil di sekolah.
Beberapa dari kebutuhan itu memang dapat diatasi tanpa membutuhkan dana yang besar, tetapi semuanya membutuhkan waktu dan perhatian. Itulah yang kemudian diberikan oleh gereja tersebut.
Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya tentang suatu hari di masa mendatang ketika Dia akan berkata kepada para pengikut-Nya yang setia, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu” (Mat. 25:34). Dia juga berkata bahwa mereka akan terheran-heran dengan upah yang mereka terima. Kemudian Dia akan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (ay.40).
Kerajaan Allah dibangun ketika dengan murah hati kita memberikan waktu, kasih, daya, dan dana kita yang telah diberikan-Nya terlebih dahulu bagi kita. —Tim Gustafson
Adakah seseorang yang mungkin membutuhkan perhatian kamu saat ini? Dapatkah kamu mengunjunginya, meneleponnya, atau menyuratinya? Adakah anak muda kenalanmu yang membutuhkan waktu dan perhatianmu?
Memberi bukan saja tugas orang kaya, melainkan tugas kita semua.

Friday, October 21, 2016

Kasih Setia

Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. —Mazmur 63:4
Kasih Setia
Baru-baru ini dalam sebuah penerbangan, pesawat kami mengalami pendaratan yang kurang mulus. Pesawat itu mengguncang kami ke kiri dan ke kanan di sepanjang landasan. Sejumlah penumpang terlihat sangat tegang, tetapi ketegangan itu segera mereda ketika dua gadis kecil yang duduk di belakang saya berseru-seru, “Asyik! Lagi dong!”
Anak-anak sangat menyukai petualangan baru dan mereka melihat kehidupan ini dengan rasa kagum yang polos dan sederhana. Mungkin itu sebagian dari maksud Yesus ketika berkata bahwa kita harus “menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil” (Mrk. 10:15).
Kehidupan ini penuh dengan tantangan dan kesakitan. Tidak ada yang lebih menyadari kenyataan tersebut daripada Yeremia, seorang nabi yang mendapat sebutan “nabi yang meratap”. Namun di tengah segala masalah yang Yeremia alami, Allah menguatkannya dengan satu kebenaran yang menakjubkan: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Rat. 3:22-23).
Rahmat Allah yang selalu baru dapat tercurah ke dalam kehidupan kita kapan saja. Rahmat itu selalu tersedia, dan kita dapat melihatnya apabila kita menjalani hidup dengan penuh pengharapan layaknya seorang anak kecil—yakni melihat dan menanti-nantikan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Yeremia tahu bahwa kebaikan Allah tidak hanya ditentukan oleh keadaan kita sekarang ini. Ia juga tahu bahwa kasih setia Allah jauh lebih besar daripada segala permasalahan hidup yang kita alami. Nantikanlah rahmat Allah yang baru hari ini. —James Banks
Tuhan, tolonglah aku untuk memiliki iman seperti seorang anak kecil, agar aku hidup dengan penuh pengharapan dan selalu menanti-nantikan apa yang hendak Engkau lakukan selanjutnya.
Allah jauh lebih besar daripada apa pun yang kita alami.

Thursday, October 20, 2016

Perjalananmu

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. —Yohanes 14:18
Perjalananmu
Saya tumbuh dalam suasana pemberontakan sosial di era 1960-an dan sama sekali tidak berminat pada hal-hal rohani. Meski sepanjang hidup tidak pernah absen ke gereja, saya baru sungguh-sungguh beriman pada awal usia dua puluhan setelah mengalami suatu kecelakaan yang mengerikan. Sejak saat itu, saya mengisi hidup saya dengan memberitakan kepada sesama tentang kasih Yesus bagi mereka. Sungguh suatu perjalanan hidup yang luar biasa.
Hidup dalam dunia berdosa ini memang dapat digambarkan sebagai “perjalanan”. Di sepanjang perjalanan itu, kita menghadapi gunung dan lembah, sungai dan dataran, jalan yang ramai dan jalan yang sepi—keberhasilan dan kegagalan, suka dan duka, konflik dan kehilangan, penderitaan dan kesepian. Kita tidak bisa melihat jalan di depan kita, jadi kita harus menerima apa saja yang dihadapi, meski tidak selalu seperti yang kita harapkan.
Namun seorang pengikut Kristus tidak akan pernah menghadapi perjalanan itu sendirian. Kitab Suci mengingatkan kita tentang Allah yang senantiasa hadir. Tidak ada tempat di mana Dia tidak hadir di sana (Mzm. 139:7-12). Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita (Ul. 31:6; Ibr. 13:5). Setelah berjanji akan mengirimkan Roh Kudus, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yoh. 14:18).
Berbagai tantangan dan peluang dalam perjalanan hidup ini dapat kita hadapi dengan penuh keyakinan, karena Allah telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita. —Bill Crowder
Tuhan yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau tak hanya tahu jalan yang akan kutempuh, tetapi Engkau juga menyertaiku. Tolong aku untuk mengandalkan kehadiran, pertolongan, dan hikmat-Mu setiap hari sepanjang perjalananku dalam hidup ini.
Orang yang beriman tak pernah tahu ke mana ia dituntun, tetapi ia mengasihi dan mengenal Pribadi yang menuntunnya. —Oswald Chambers

Wednesday, October 19, 2016

Desert Solitaire

Allah melihat bahwa semuanya itu baik. —Kejadian 1:12
<em>Desert Solitaire</em>
Desert Solitaire (Gurun Sunyi) adalah buku karya Edward Abbey yang menceritakan pengalamannya selama bertugas sebagai polisi taman yang menjaga Taman Nasional Arches di Utah. Buku tersebut layak dibaca karena gaya cerita Abbey yang cerdas dan penggambarannya yang hidup tentang wilayah Barat Daya Amerika. Namun Abbey adalah seorang ateis yang tidak bisa melihat lebih jauh daripada keindahan yang dikaguminya di permukaan. Sungguh menyedihkan! Ia menjalani seluruh hidupnya dengan mengagumi keindahan karya ciptaan yang dilihatnya, tetapi kehilangan makna sejati dari itu semua.
Kebanyakan bangsa kuno memiliki teori asal-usul yang dikemas dalam legenda, mitos, atau lagu. Namun kisah penciptaan yang dimiliki Israel sungguh unik: Kisah itu bercerita tentang Allah yang menciptakan keindahan untuk dinikmati dan disukai manusia. Allah merancang alam semesta, lalu menciptakannya dengan firman-Nya, dan menyebut hasil ciptaan-Nya itu “indah”. (Bahasa Ibrani untuk kata baik juga berarti indah). Kemudian, setelah menciptakan alam yang indah itu, di dalam kasih-Nya, Allah berfirman menciptakan manusia, menempatkannya di Taman Eden, dan berkata kepada mereka, “Nikmatilah!”
Sejumlah orang melihat dan menikmati keindahan dari segala karya Sang Pencipta yang baik di sekitar mereka, tetapi mereka “tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap” (Rm. 1:21).
Sementara yang lain melihat keindahan karya ciptaan Allah, lalu berkata “Terima kasih, Tuhan,” dan hati mereka pun diterangi untuk semakin mengenal-Nya. —David Roper
Bapa yang penuh kasih, kami memuji-Mu sebab Engkau baik. Terima kasih karena ciptaan-Mu begitu indah dan bermanfaat, dan karena Engkau menempatkan kami di bumi ini agar kami menikmatinya dengan mengenal-Mu. Kasih setia-Mu kekal selama-lamanya!
Seluruh karya ciptaan mencerminkan keindahan Allah.

Tuesday, October 18, 2016

Dari Lubuk Hati

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang. —Yoel 2:13
Dari Lubuk Hati
Di banyak budaya, menangis dengan suara kencang, meratap, dan mengoyakkan pakaian adalah cara-cara yang lazim digunakan untuk mengungkapkan rasa duka pribadi atau kesedihan atas bencana besar yang dialami suatu bangsa. Bangsa Israel semasa Perjanjian Lama juga bersikap serupa dalam mengungkapkan dukacita mereka yang mendalam dan pertobatan atas pemberontakan mereka kepada Tuhan.
Pertobatan yang diungkapkan secara terbuka itu bisa berdampak dahsyat jika memang keluar dari lubuk hati kita. Namun tanpa pertobatan yang tulus di dalam hati kepada Allah, bisa saja kita sekadar berbasa-basi, meskipun kita melakukannya bersama-sama dengan saudara-saudara seiman yang lain.
Setelah wabah belalang merusakkan tanah Yehuda, Allah melalui Nabi Yoel memanggil umat-Nya untuk sungguh-sungguh bertobat agar mereka terhindar dari penghukuman-Nya. “‘Sekarang juga,’ demikianlah firman Tuhan, ‘berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh’” (Yoel 2:12).
Lalu Nabi Yoel menyerukan kepada bangsa itu untuk menanggapi panggilan Allah dari lubuk hati mereka: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (ay.13). Pertobatan sejati berasal dari dalam hati.
Tuhan rindu kita rela mengakui dosa-dosa kita kepada-Nya dan menerima pengampunan-Nya, agar kemudian kita dapat mengasihi dan melayani-Nya dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita.
Apa pun yang perlu kamu ungkapkan kepada Tuhan hari ini, nyatakanlah kepada-Nya dengan ketulusan hati. —David McCasland
Tuhan, berilah aku hati yang rela bertobat agar melihat diriku seperti Engkau melihatku. Anugerahkan kepadaku ketaatan pada seruan-Mu untuk berubah.
Allah rindu mendengar isi hati kita.

Monday, October 17, 2016

Haruskah Berdoa?

Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. —ukas 5:16
Haruskah Berdoa?
Joie selalu memulai kebaktian anak-anak dengan berdoa, lalu dilanjutkan dengan bernyanyi bersama. Seorang anak berusia 6 tahun bernama Emmanuel duduk dengan gelisah ketika Joie kembali mengajak berdoa setelah memperkenalkan Aaron yang akan mengajar kelas itu. Aaron juga memulai dan mengakhiri pengajarannya dengan doa. Emmanuel pun mengeluh: “Banyak sekali doanya! Aku sudah tak tahan lagi!”
Jika kamu berpikir apa yang dihadapi Emmanuel itu memang berat, perhatikan pesan dari 1 Tesalonika 5:17, yang berkata, “Tetaplah berdoa,” atau dengan kata lain: Tetaplah dalam sikap hati yang berdoa. Sebagian dari kita yang sudah dewasa pun dapat menganggap doa sebagai hal yang menjemukan. Mungkin itu disebabkan karena kita tidak tahu apa yang harus kita ucapkan atau kita tidak memahami bahwa doa adalah percakapan dengan Allah Bapa kita.
Saya sangat terbantu oleh tulisan François Fénelon dari abad ke-17 tentang doa, “Kemukakanlah kepada Allah segala sesuatu yang ada di hatimu, seperti seseorang yang mencurahkan isi hatinya, suka dan dukanya, kepada sahabatnya. Ceritakanlah masalahmu agar Dia dapat menghiburmu; ceritakanlah sukacitamu agar Dia dapat meneduhkannya; ceritakanlah segala kerinduanmu agar Dia dapat memurnikannya.” Fénelon menuliskan lebih lanjut, “Nyatakan kepada-Nya pencobaan-pencobaan yang engkau alami, agar Dia dapat melindungimu: tunjukkan luka hatimu kepada-Nya agar Dia dapat menyembuhkannya . . . Karena jika engkau menceritakan semua kelemahan, kebutuhan, dan masalahmu, kamu tak lagi kekurangan kata-kata saat berdoa.”
Kiranya kita semakin bertumbuh dalam kedekatan kita dengan Allah sehingga kita semakin rindu meluangkan lebih banyak waktu bersama-Nya. —Anne Cetas
Untuk penggalian lebih lanjut, bacalah teladan Yesus dalam berdoa di Yohanes 17 dan Lukas 5:16.
Doa merupakan percakapan yang akrab dengan Allah kita.

Sunday, October 16, 2016

Tetap Semangat

Kami minta dan nasihatkan kamu . . . baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. —1 Tesalonika 4:1
Tetap Semangat
Putra saya suka membaca. Jika ia membaca lebih banyak buku daripada yang diwajibkan oleh sekolahnya, ia akan mendapatkan sertifikat penghargaan. Dorongan semacam itu memotivasinya untuk tetap bersemangat melakukan hal yang baik itu.
Ketika Paulus menulis surat untuk jemaat di Tesalonika, ia memotivasi mereka bukan dengan memberikan hadiah, melainkan dengan kata-kata yang menguatkan. Ia berkata, “Saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi” (1Tes. 4:1). Hidup orang Kristen di Tesalonika telah berkenan kepada Allah, dan Paulus menyemangati mereka untuk terus menjalani hidup bagi-Nya dengan lebih bersungguh-sungguh lagi.
Mungkin saat ini kamu dan saya telah melakukan yang terbaik untuk mengenal, mengasihi, dan menyenangkan Allah Bapa kita. Marilah kita menjadikan perkataan Paulus itu sebagai dorongan untuk terus bersemangat hidup bagi Tuhan.
Namun demikian, marilah kita maju selangkah lagi. Adakah seseorang yang dapat kita semangati dengan kata-kata Paulus tersebut? Apakah kamu teringat kepada seseorang yang selama ini tekun mengikut Tuhan dan selalu berusaha menyenangkan hati-Nya? Kamu dapat mengirimkan pesan singkat atau menghubungi orang tersebut untuk mendorongnya agar tetap bersemangat dalam perjalanan imannya bersama Tuhan. Mungkin saja, pesan atau ucapan kamu itu memang sedang mereka butuhkan agar mereka tetap kuat mengikut dan melayani Yesus. —Keila Ochoa
Ya Tuhan, aku bersyukur atas dorongan yang Engkau berikan melalui firman-Mu agar aku terus setia menjalani hidup ini bagi-Mu.
Hari ini, doronglah seseorang untuk terus menjalani hidupnya bagi Allah.

Saturday, October 15, 2016

Suporter Setia

Pada hari kesesakanku aku berseru kepadaMu, sebab Engkau menjawab aku. —Mazmur 86:7
Suporter Setia
Cade Pope, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun asal Oklahoma, mengirimkan 32 surat berisi tulisan tangannya sendiri kepada masing-masing pemilik dari setiap tim Liga Nasional Sepakbola Amerika (NFL). Cade menulis, “Aku dan keluargaku sangat suka football. Kami suka memainkan fantasy football di internet dan menonton pertandingan yang ditayangkan tiap akhir pekan. . . . Aku sedang memilih tim NFL mana yang akan kudukung selamanya!”
Jerry Richardson, pemilik tim Carolina Panthers, membalas surat Cade dengan surat yang juga ditulisnya sendiri dengan tangan. Ia mengawali suratnya: “Kami sangat terhormat apabila [tim] kami mendapatkan dukunganmu. Kami berjanji akan membuatmu bangga.” Richardson melanjutkan suratnya dengan memuji sejumlah pemain dalam timnya. Surat balasan itu tak hanya menunjukkan kepedulian dan keramahan Richardson—surat itu juga merupakan satu-satunya balasan yang diterima Cade. Maka tidak heran, Cade pun akhirnya menjadi suporter setia dari tim Carolina Panthers.
Dalam Mazmur 86, Daud berbicara tentang kesetiaannya kepada satu-satunya Allah yang sejati. Ia mengatakan, “Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku. Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat” (ay.7-8). Pengabdian kita kepada Allah lahir dari keyakinan kita akan sifat-Nya dan kepedulian-Nya atas kita. Dialah satu-satunya yang menjawab doa-doa kita, membimbing kita dengan Roh-Nya, dan menyelamatkan kita melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya, Yesus Kristus. Karena itulah, Dia layak menerima pengabdian kita, seumur hidup kita. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allahku, tiada yang seperti Engkau. Tolonglah aku untuk terus mengingat kekudusan-Mu dan bimbing aku agar semakin sungguh mengabdi kepada-Mu.
Hanya Allah yang layak menerima penyembahan dan pengabdian kita.

Friday, October 14, 2016

Berkorban bagi Sesama

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. —Yohanes 10:11
Berkorban bagi Sesama
Saya penyuka burung, dan itulah alasan saya membeli enam burung peliharaan di dalam sangkar dan membawanya pulang untuk dirawat setiap hari oleh putri kami, Alice. Suatu hari, salah seekor burung itu sakit dan mati. Kami berpikir barangkali burung-burung tersebut lebih senang jika tidak di dalam sangkar. Maka kami pun melepaskan lima burung yang masih hidup dan mengamati burung-burung itu terbang menjauh dengan gembira.
Alice kemudian berujar, “Tahukah Ayah, karena kematian seekor burung, kita membebaskan lima burung lainnya?”
Bukankah itu seperti yang dilakukan Tuhan Yesus bagi kita? Sama seperti dosa satu orang (Adam) membawa penghukuman bagi dunia, demikianlah kebenaran satu Manusia (Yesus) membawa keselamatan bagi mereka yang percaya (Rm. 5:12-19). Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11).
Yohanes menerapkan pernyataan Yesus itu dengan mengatakan, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (1Yoh. 3:16). Itu tidak selalu berarti kematian harfiah, tetapi ketika kita menyelaraskan kehidupan kita dengan teladan kasih Yesus yang rela berkorban, itu berarti kita sedang “menyerahkan nyawa kita.” Sebagai contoh, kita bisa memilih untuk melepaskan harta benda yang kita miliki dan membagi-bagikannya kepada orang lain yang berkekurangan (1Yoh. 3:17) atau meluangkan waktu mendampingi seseorang yang sedang membutuhkan penghiburan kita.
Untuk siapakah kamu perlu berkorban hari ini? —Lawrence Darmani
Dalam hal apakah orang lain telah berkorban demi kebaikanmu?
Pengorbanan Kristus yang terbesar bagi kita memotivasi kita untuk mengorbankan diri kita demi orang lain.

Thursday, October 13, 2016

Semua Boleh Datang!

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat. —Lukas 5:32
Semua Boleh Datang!
Malam pemutaran film yang sudah lama didoakan untuk diadakan di persekutuan pemuda gereja itu akhirnya tiba juga. Poster telah dipajang di seluruh penjuru kota dan pizza sudah siap dihidangkan. Steve, pembina kaum muda gereja itu, berharap bahwa film tentang para anggota geng di New York yang mengenal Yesus setelah dilayani oleh seorang pendeta muda itu akan membawa banyak jiwa baru ke dalam persekutuan pemudanya.
Namun Steve tidak menyadari bahwa pada malam itu di televisi sedang ditayangkan sebuah pertandingan sepakbola, sehingga jumlah peserta yang hadir jauh dari harapan. Sambil mendesah, ia mulai meredupkan lampu ruangan dan memutar filmnya. Tiba-tiba, lima pemuda anggota geng motor di kota itu memasuki ruangan. Steve pun menjadi pucat.
Pemimpin geng itu, yang dikenal dengan sebutan TDog, menoleh ke arah Steve. “Ini gratis dan untuk umum, kan?” tanyanya. Awalnya, Steve hendak mengatakan, “Hanya untuk jemaat persekutuan.” Namun TDog membungkuk dan memungut sebuah gelang yang bertuliskan WWJD (What Would Jesus Do—Apa yang akan Yesus Lakukan). “Milikmu, bro?” tanya TDog. Steve mengangguk dengan wajah yang tersipu, lalu menanti sampai semua anggota geng motor itu mendapatkan tempat duduk.
Pernahkah kamu mengalami apa yang dialami Steve? Memang kamu rindu membagikan kabar baik tentang Yesus, tetapi diam-diam kamu “menyeleksi” siapa saja yang kamu pikir pantas menerima kabar baik itu. Yesus sering dikecam oleh para pemuka agama karena orang-orang yang berada di sekitar-Nya. Namun Yesus justru menyambut mereka yang terkucil dan dihindari orang, karena Dia tahu mereka sangat membutuhkan diri-Nya (Luk. 5:31-32). —Marion Stroud
Tuhan, tolong aku untuk melihat orang-orang dengan mata kasih-Mu dan menyambut semua orang yang Engkau hadirkan dalam hidupku.
Hati yang terbuka bagi Kristus akan menyambut siapa saja yang dikasihi-Nya.

Wednesday, October 12, 2016

Peringatan!

Ia orang bodoh— sama dengan arti namanya. —1 Samuel 25:25 BIS
Peringatan!
Peringatan-peringatan berikut dapat dibaca pada berbagai produk yang kita gunakan:
“Jangan dibanting!” (barang pecah-belah)
“Hanya dengan resep dokter.” (obat-obatan)
“Awas tersedak! Tidak disarankan untuk anak di bawah 3 tahun.” (mainan)
Label peringatan yang cocok untuk Nabal bisa jadi adalah: “Awas! Orang bodoh pasti akan bertindak bodoh” (lihat 1Sam. 25). Nabal sedang tidak berpikir jernih ketika ia berbicara tentang Daud. Di tengah pelarian dirinya dari Saul, Daud telah membantu menjaga kawanan domba milik seorang kaya bernama Nabal. Ketika Daud mengetahui bahwa Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya dan mengadakan perayaan, ia mengutus sepuluh anak buahnya untuk meminta baik-baik makanan sebagai imbalan atas penjagaan yang telah dilakukannya (ay.4-8).
Respons Nabal terhadap permintaan Daud sangatlah tidak pantas. Ia berkata, “Daud? Siapa dia? . . . Mana bisa aku mengambil roti dan air minumku, serta daging yang telah kusediakan bagi para pengguntingku, lalu kuberikan semua itu kepada orang yang tidak jelas asal usulnya!” (ay.10-11 BIS). Nabal melanggar norma sosial dengan tidak mengundang Daud datang ke perayaannya, tidak menunjukkan rasa hormat dengan memaki-maki Daud, dan pada dasarnya mencuri hak Daud dengan tidak bersedia membayar upahnya.
Sebenarnya, kita juga memiliki sedikit sifat Nabal dalam diri kita masing-masing. Adakalanya kita bertindak bodoh. Satu-satunya cara untuk mengatasi sifat tersebut adalah dengan mengakui dosa kita kepada Allah. Dia akan bertindak dengan mengampuni kita, mengajar kita, dan memberikan kita hikmat-Nya. —Marvin Williams
Tuhan, adakalanya aku bersikap egois. Aku lebih mementingkan kebutuhanku daripada kebutuhan orang lain. Berikanku hati yang jujur dan berbelas kasih.
Hikmat Allah sanggup mengatasi keegoisan kita.

Tuesday, October 11, 2016

Hati yang Berubah

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. —Lukas 6:36
Hati yang Berubah
Joshua Chamberlain adalah perwira yang memimpin pasukan Perserikatan pada hari berakhirnya Perang Saudara AS. Para prajurit yang dipimpinnya berbaris di kedua sisi jalan sambil menyaksikan pasukan Konfederasi yang telah menyerahkan diri berjalan di antara mereka. Satu ucapan yang tidak patut atau satu tindakan agresif dapat membuyarkan perdamaian yang telah lama diidam-idamkan itu. Lewat tindakan yang brilian sekaligus menyentuh hati, Chamberlain memerintahkan pasukannya untuk memberi hormat kepada lawan mereka! Tidak ada celaan atau makian—hanya ada senapan dan pedang yang diangkat sebagai tanda penghormatan.
Dalam pengajaran Yesus tentang hal mengampuni di Lukas 6, Dia menolong kita untuk memahami perbedaan antara orang yang telah dan yang belum mengalami anugerah Allah. Mereka yang telah menerima pengampunan-Nya haruslah tampil berbeda dari orang-orang pada umumnya. Kita harus melakukan apa yang dianggap orang tidak mungkin, yakni mengampuni dan mengasihi musuh kita. Yesus berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (ay.36).
Bayangkan dampak yang terjadi bila kita menerapkan prinsip itu di tempat kerja dan di tengah keluarga kita. Jika suatu tanda penghormatan saja dapat membuat para prajurit berdamai kembali, terlebih lagi kuasa dari anugerah Kristus yang terpancar melalui diri kita! Kitab Suci memberikan bukti tentang hal itu lewat tindakan Esau yang menerima kembali sang adik yang pernah memperdayanya (Kej. 33:4), lewat pertobatan Zakheus yang penuh sukacita (Luk. 19:1-10), dan lewat gambaran seorang ayah yang berlari menyambut anaknya yang pulang kembali (Luk. 15).
Oleh anugerah Tuhan, kiranya kita dimampukan untuk mengakhiri kepahitan dan perselisihan kita dengan musuh kita. —Randy Kilgore
Tuhan, kami tahu bahwa pengampunan yang penuh kasih sanggup memulihkan hubungan yang rusak. Berikanlah kepada kami keberanian untuk mengakhiri perselisihan yang terjadi dengan mengandalkan anugerah-Mu.
Kemarahan pun sirna jika dibalas dengan anugerah.

Monday, October 10, 2016

Melakukan Hal yang Berlawanan

Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. —Kolose 3:3
Melakukan Hal yang Berlawanan
Seorang penjelajah alam membutuhkan air minum lebih banyak daripada yang dapat mereka bawa. Karena itu, mereka menyiapkan sebuah botol minum dengan saringan khusus di dalamnya, supaya mereka dapat memanfaatkan sumber air apa pun yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Akan tetapi, untuk minum dari botol seperti itu, seseorang tidak cukup hanya membalikkan botolnya, tetapi ia harus lebih dahulu meniup botol itu dengan kuat untuk mendorong air melewati saringan. Tindakan itu berlawanan dengan cara minum yang lazim.
Saat mengikut Yesus, kita pun menemukan banyak hal yang tampaknya berlawanan. Paulus memberikan satu contoh: Menaati berbagai aturan tidak akan membuat kita lebih dekat kepada Allah. Ia bertanya, “Mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu . . . hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia” (Kol. 2:20-22).
Jadi, apa yang harus kita lakukan? Paulus menjawab, “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas” (3:1). “Kamu telah mati,” ujarnya kepada orang-orang yang masih hidup, “dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (3:3).
Kita harus menganggap diri kita “telah mati” terhadap nilai-nilai dari dunia ini, tetapi yang kini hidup untuk Kristus. Sekarang kita rindu untuk menjalani hidup sebagaimana diteladankan oleh Tuhan kita yang berkata, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26). —Tim Gustafson
Pikirkan arti dari prinsip Alkitab yang tampaknya berlawanan ini: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 16:25); “Yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat. 20:16); “Jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10).
Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat. 1 Korintus 1:27

Sunday, October 9, 2016

Dipersatukan dalam Kristus

Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil. —Markus 3:14
Dipersatukan dalam Kristus
Ketika kita melihat daftar nama dalam Alkitab, kita mungkin cenderung melewatkannya begitu saja. Namun sebenarnya kita dapat menemukan banyak hal berharga di dalamnya, seperti dalam daftar nama 12 rasul yang dipanggil Yesus untuk melayani bersama-Nya. Banyak nama yang sudah tidak asing—Simon yang disebut Yesus sebagai Petrus, sang batu karang. Dua nelayan yang bersaudara, Yakobus dan Yohanes. Yudas Iskariot, si pengkhianat. Akan tetapi, kita bisa dengan mudah melewatkan fakta bahwa Matius si pemungut cukai dan Simon orang Zelot pasti pernah menjadi musuh.
Matius pernah memungut pajak untuk pemerintah Romawi. Oleh karena itu, di mata saudara-saudara sebangsanya orang Yahudi, Matius telah bekerja sama dengan pihak musuh. Para pemungut pajak dibenci karena praktik korup yang mereka lakukan dan karena mereka memaksa orang Yahudi untuk memberikan uang kepada otoritas lain di luar Allah. Di sisi lain, sebelum dipanggil oleh Yesus, Simon orang Zelot pernah bergabung dengan sekelompok kaum nasionalis Yahudi yang membenci kekuasaan Romawi dan berusaha menumbangkannya melalui cara-cara yang agresif dan penuh kekerasan.
Meskipun Matius dan Simon memiliki pandangan politik yang bertentangan, kitab-kitab Injil tidak mencatat adanya pertengkaran atau perkelahian di antara keduanya tentang hal tersebut. Rupanya mereka berhasil menanggalkan kesetiaan mereka yang dahulu ketika mereka mengikut Kristus.
Ketika kita mengarahkan pandangan kita kepada Yesus, Allah yang menjadi manusia itu, kesatuan kita dengan sesama orang percaya juga akan semakin diteguhkan oleh ikatan Roh Kudus. —Amy Boucher Pye
Bapa, Anak, dan Roh Kudus, Engkau satu dalam harmoni sempurna. Kiranya Roh-Mu berdiam dalam kami agar dunia bisa melihat-Mu dan percaya.
Kesetiaan kita yang terutama adalah kepada Kristus, yang mempersatukan satu sama lain di antara kita.

Saturday, October 8, 2016

Buku yang dapat Diminum

Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. —Yohanes 4:14b
Buku yang dapat Diminum
Karena di belahan dunia tertentu sebagian orang masih sangat sulit mendapatkan air minum yang bersih, sebuah organisasi bernama Water is Life mengembangkan sebuah bahan menarik yang disebut “The Drinkable Book” (Buku yang Dapat Diminum). Kertas dalam buku tersebut dilapisi nanopartikel perak yang bisa menyaring bakteri berbahaya hingga 99,9 persen! Setiap lembar kertas dari buku itu dapat disobek dan digunakan berulang kali untuk menyaring hingga 100 liter air dengan biaya hanya empat sen per lembarnya.
Alkitab juga merupakan Kitab “yang dapat diminum”. Di Yohanes 4, kita membaca tentang kehausan akan sejenis air yang khusus. Dalam kisah tersebut, perempuan di tepi sumur itu tidak hanya butuh dipuaskan dahaga fisiknya dengan meminum air yang bersih. Ia juga sangat ingin mendapatkan sumber “air hidup”. Yang dibutuhkan perempuan itu adalah anugerah dan pengampunan yang berasal dari Allah saja.
Firman Tuhan adalah Kitab terpenting “yang dapat diminum” karena firman itu menunjukkan Sang Anak Allah sebagai satu-satunya sumber “air hidup”. Orang-orang yang menerima air yang Yesus berikan akan memiliki “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (ay.14). —Cindy Hess Kasper
Bapa, kami merindukan kepuasan sejati yang datang dari Engkau saja. Tolong kami membuang hal-hal yang membuat kami merasa hampa dan dahaga, dan gantilah dengan kepuasan dari air hidup yang Engkau berikan.
Yesuslah satu-satunya sumber air hidup.

Friday, October 7, 2016

Mendekap Salib

Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku juga dapat menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. —Filipi 3:12
Mendekap Salib
Pada tahun 1856, Charles Spurgeon, seorang pengkhotbah besar dari London, mendirikan Pastors’ College guna melatih para pemuda untuk terjun ke pelayanan. Kampus itu berubah nama menjadi Spurgeon’s College pada tahun 1923. Saat ini, lencana kampus itu memperlihatkan sebuah tangan yang mendekap salib dengan tulisan dalam bahasa Latin, Et Teneo, Et Teneor, yang berarti, “Aku mendekap dan aku didekap”.
Dalam autobiografinya, Spurgeon menulis, “Ini adalah semboyan kampus kita. Kita . . . mendekap erat Salib Kristus dengan tangan kita . . . karena Salib itu mendekap kita dengan erat oleh kuasa-Nya yang menarik kita. Kita rindu agar setiap orang dapat mendekap Kebenaran, dan didekap olehnya juga; terutama kebenaran tentang Kristus yang disalibkan.”
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus mengungkapkan kebenaran itu sebagai dasar hidupnya. “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Sebagai pengikut Yesus, kita memberitakan kabar tentang salib itu kepada sesama kita, dan Yesus terus mendekap kita dengan erat dalam anugerah dan kuasa-Nya. “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20).
Tuhan selalu mendekap kita dalam genggaman kasih-Nya setiap hari—dan kita patut meneruskan kabar tentang kasih-Nya itu kepada sesama kita. —David McCasland
Tuhan Yesus, salib-Mu adalah peristiwa terpenting dalam sejarah dan titik balik dari kehidupan kami. Dekaplah kami dengan erat saat kami mengandalkan salib-Mu dan membagikan kasih-Mu kepada sesama kami.
Kami mendekap erat Salib Kristus dan kita pun didekap erat oleh-Nya.

Thursday, October 6, 2016

Memuji dan Memohon

Bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. —2 Tawarikh 6:18
Memuji dan Memohon
Teen Challenge, sebuah pelayanan bagi kaum muda bermasalah yang dimulai di kota New York, lahir dari komitmen pendirinya yang gigih berdoa. David Wilkerson menjual perangkat televisinya dan mengganti kegiatannya menonton (dua jam setiap malam) dengan berdoa. Bulan demi bulan, ia tidak hanya semakin diteguhkan dalam komitmennya itu, tetapi ia juga belajar menyeimbangkan isi doanya antara memuji Allah dengan memohon pertolongan-Nya.
Doa yang pernah dinaikkan Raja Salomo dalam peresmian Bait Allah menunjukkan keseimbangan tersebut. Salomo memulainya dengan menyanjung kekudusan dan kesetiaan Allah. Kemudian ia memuji Allah atas keberhasilan pembangunan itu dan mengagungkan kebesaran-Nya, dengan menyatakan, “Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (2Taw. 6:18).
Setelah mengagungkan Allah, Salomo memohon kepada-Nya agar memberikan perhatian khusus terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam bait itu. Ia memohon Allah untuk menunjukkan belas kasihan kepada bangsa Israel dan mengampuni mereka saat mereka mengakui dosa mereka.
Segera setelah Salomo selesai berdoa, “apipun turun dari langit memakan habis korban bakaran dan korban-korban sembelihan itu, dan kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu” (2Taw. 7:1). Tanggapan luar biasa itu mengingatkan kita bahwa Pribadi Agung yang kita puji dan yang kita ajak bicara dalam doa itu adalah Pribadi yang juga mendengarkan dan memperhatikan setiap permohonan kita. —Jennifer Benson Schuldt
Bagaimana kamu menggambarkan percakapanmu dengan Allah? Apakah yang dapat menolongmu bertumbuh semakin dekat kepada-Nya selagi kamu berdoa?
Doa menolong kita memandang segala sesuatu sebagaimana Allah memandangnya.

Wednesday, October 5, 2016

Obat yang Manjur

Hati yang gembira adalah obat yang manjur. —Amsal 17:22
Obat yang Manjur
Cara mengemudi yang serampangan, emosi yang memuncak, dan lontaran bahasa kasar di kalangan pengemudi taksi dan angkutan umum merupakan penyebab utama terjadinya keributan di jalanan kota kami, Accra, Ghana. Namun suatu hari, saya menyaksikan salah satu kecelakaan lalu lintas yang berakhir dengan tidak lazim. Sebuah bus hampir ditabrak oleh taksi yang dikemudikan dengan sembrono. Saya mengira sopir bus itu akan marah dan meneriaki si pengemudi taksi. Ternyata tidak. Sopir bus itu justru mengendurkan raut wajahnya yang tegang dan tersenyum lebar ke arah si pengemudi taksi yang terlihat merasa bersalah. Senyuman itu sangat manjur. Sambil melambaikan tangan, sopir taksi itu meminta maaf, balas tersenyum, lalu melanjutkan perjalanannya. Ketegangan pun memudar.
Sebuah senyuman mempunyai dampak yang menakjubkan bagi kinerja otak kita. Para peneliti telah menemukan bahwa “ketika kita tersenyum, otak kita melepaskan senyawa kimiawi bernama endorfin yang benar-benar menghasilkan efek menenangkan secara fisiologis.” Sebuah senyuman tak hanya dapat meredakan situasi yang tegang, tetapi juga dapat meredakan ketegangan dalam diri kita. Emosi kita mempengaruhi diri sendiri dan juga orang lain. Alkitab mengajar kita, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain” (Ef. 4:31-32).
Ketika kemarahan, ketegangan, atau kepahitan mengancam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, baiklah kita mengingat bahwa “hati yang gembira adalah obat yang manjur” agar kita tetap bersukacita dan mengalami damai sejahtera. —Lawrence Darmani
Pikirkan suatu waktu ketika kamu marah kepada seseorang atau ketika kamu berdebat sengit dengan seseorang. Bagaimana perasaanmu? Bagian manakah dalam hidupmu yang dipengaruhi oleh perasaan tersebut?
Kita menemukan sukacita ketika kita belajar untuk hidup dalam kasih Yesus.

Tuesday, October 4, 2016

Membebaskan Tahanan

Tuhan membebaskan para tahanan. —Mazmur 146:7 BIS
Membebaskan Tahanan
Ketika saya dan istri berkunjung ke Museum Nasional dari The Mighty Eighth Air Force di dekat kota Savannah, Georgia, Amerika Serikat, kami sangat tersentuh oleh bagian pameran yang menceritakan tentang para tahanan perang, lengkap dengan benda-benda pameran yang dibuat menyerupai barak-barak tahanan perang di Jerman.
Ayah mertua saya, Jim, pernah bertugas dalam pasukan udara The “Mighty” Eighth Air Force, ketika mereka bertempur di atas langit Eropa pada masa Perang Dunia ke-2. Di sepanjang perang, anggota pasukan The Eighth Air Force yang terluka sebanyak 47.000 orang dan yang meninggal lebih dari 26.000 orang. Jim adalah salah seorang anggota yang pesawatnya tertembak jatuh dan kemudian ditawan sebagai tahanan perang. Saat kami menyusuri pameran itu, kami teringat pada cerita Jim tentang sukacita besar yang dirasakan olehnya dan para tahanan lainnya pada hari mereka dibebaskan.
Kepedulian Allah bagi mereka yang tertindas dan pembebasan para tahanan dinyatakan dalam Mazmur 146. Pemazmur menggambarkan tentang Allah yang “membela hak orang-orang yang tertindas, dan memberi makan kepada orang yang lapar” dan “membebaskan para tahanan” (ay.7 BIS). Semua itu patut dipuji dan dirayakan. Namun kemerdekaan yang terbesar dari segalanya adalah kemerdekaan dari dosa dan rasa malu yang kita derita. Maka tidak mengherankan jika Yesus berkata, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36).
Lewat pengorbanan Kristus, kita dimerdekakan dari penjara dosa untuk mengalami sukacita dan kasih-Nya, serta kemerdekaan yang hanya dapat dialami melalui pengampunan-Nya. —Bill Crowder
Penjara dosa tidak mampu menahan kuasa pengampunan Kristus.

Monday, October 3, 2016

Bukan Orang Asing

Apakah yang dimintakan dari padamu oleh Tuhan, Allahmu, selain dari takut akan Tuhan, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia. —Ulangan 10:12
Bukan Orang Asing
Di pelosok Ghana,tempat saya tinggal semasa kanak-kanak, ada ungkapan yang berkata: “Dilarang berkunjung pada waktu makan”. Penduduk di sana menganggap tidak sopan seseorang berkunjung pada “waktu makan” karena makanan yang tersedia sangat terbatas, dan itu berlaku baik bagi tetangga ataupun orang asing.
Namun di Filipina, sekalipun seseorang berkunjung tanpa pemberitahuan pada waktu makan, sang tuan rumah akan bersikeras menjamunya tanpa melihat apakah makanan yang tersedia cukup atau tidak bagi mereka sendiri. Budaya bisa berbeda-beda menurut apa yang dipandang baik di suatu masyarakat.
Ketika orang Israel meninggalkan Mesir, Allah memberikan instruksi khusus tentang cara hidup mereka. Namun hukum dari Allah itu tak dapat dijalankan tanpa adanya perubahan hati. Maka Musa berkata, “Kamu harus taat kepada Tuhan dan janganlah berkeras kepala lagi” (Ul. 10:16 BIS). Segera setelah memberikan tantangan itu, Musa membahas tentang perlakuan Israel terhadap orang asing. Allah “menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing,” kata Musa, “dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian. Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (ay.18-19).
Israel menyembah “Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat” (ay.17). Salah satu cara terbaik untuk menunjukkan pengenalan mereka akan Allah adalah dengan mengasihi orang asing—yakni siapa saja yang berbeda budaya dengan mereka.
Apakah makna dari karakter Allah itu bagi kita hari ini? Bagaimana cara kita menunjukkan kasih-Nya kepada orang-orang di sekitar kita yang terpinggirkan dan membutuhkan pertolongan? —Tim Gustafson
Bapa Surgawi, tolonglah kami untuk menjadi berkat bagi orang lain hari ini dengan menunjukkan kasih-Mu lewat perbuatan-perbuatan sederhana.
Di dalam Kristus, tidak ada orang asing.

Sunday, October 2, 2016

Peringatan dari Allah

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?” —Markus 8:21
Peringatan dari Allah
Seorang teman saya, Bob Honer, menyebut Yesus sebagai “Pemberi Peringatan yang Agung”. Itu benar sekali, karena kita memang sering ragu dan lupa. Entah sudah berapa sering Yesus memenuhi kebutuhan orang-orang yang datang kepada-Nya semasa Dia hidup, tetapi murid-murid-Nya tetap merasa khawatir bahwa mereka akan berkekurangan. Setelah menyaksikan mukjizat demi mukjizat yang diperbuat Yesus, mereka tetap gagal memahami maksud lebih besar yang Tuhan kehendaki untuk mereka ingat.
Dalam perjalanan menyeberangi Danau Galilea, para murid menyadari bahwa mereka lupa membawa roti dan sedang membicarakan hal itu. Yesus pun bertanya kepada mereka, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi?” (Mrk. 8:17-18). Kemudian Dia mengingatkan mereka bahwa ketika Dia memberi makan lima ribu orang dengan lima roti, para murid mengumpulkan sisa roti sebanyak dua belas bakul. Lalu ketika Dia memberi makan empat ribu orang dengan tujuh roti, mereka memperoleh sisa roti sebanyak tujuh bakul. “Lalu kata-Nya kepada mereka: ‘Masihkah kamu belum mengerti?’”(ay.21).
Mukjizat pemeliharaan Tuhan bagi kebutuhan jasmani orang banyak itu menunjuk pada kebenaran yang lebih besar dan agung—yakni Dialah Roti Hidup yang tubuh-Nya akan “dipecah-pecahkan” bagi mereka dan bagi kita.
Setiap kali kita memakan roti dan minum anggur dalam Perjamuan Kudus, kita diingatkan kembali akan kasih dan pemeliharaan Tuhan yang agung atas kita. —David McCasland
Lewat Perjamuan Tuhan, Yesus memberikan kepada kita peringatan yang kuat tentang pengorbanan-Nya. Bacalah tentang hal itu dalam Matius 26:17-30; Lukas 22:14-20; 1 Korintus 11:23-26.
Perjamuan Kudus diberikan Tuhan untuk mengingatkan kita akan kasih dan pemeliharaan-Nya.

Saturday, October 1, 2016

Berpegang Erat

Berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan. —Filipi 4:1
Berpegang Erat
Gunung Tianmen di Zhangjiajie, Tiongkok, dianggap sebagai salah satu gunung terindah di dunia. Untuk melihat tebing-tebingnya yang menjulang tinggi dengan megah, kamu harus menaiki kereta gantung Tianmen Shan, yang menempuh jarak sejauh 7.455 meter (4,5 mil). Sungguh menakjubkan melihat kereta gantung itu dapat melintasi jarak sedemikian jauh dan melewati kawasan pegunungan yang begitu curam tanpa adanya mesin di dalam kereta itu sendiri. Namun, kereta gantung itu bisa melaju dengan aman pada ketinggian-ketinggian yang sangat spektakuler dengan cara mencengkeram kuat-kuat seutas kawat baja yang digerakkan oleh sebuah mesin yang kuat.
Dalam perjalanan iman kita, bagaimana kita dapat menyelesaikan perlombaan dengan baik dan “berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”? (Flp. 3:14). Sama dengan kereta gantung tadi, kita berpegang erat kepada Kristus, sebagaimana dimaksudkan Paulus ketika ia mengatakan, “Berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan” (4:1). Kita tidak memiliki kesanggupan dalam diri kita sendiri. Kita bergantung sepenuhnya kepada Kristus untuk membawa kita terus melangkah maju. Dia akan membawa kita melewati tantangan demi tantangan yang ada hingga kita tiba di rumah surgawi kita dengan selamat.
Menjelang akhir hidupnya di dunia, Rasul Paulus menyatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7). Kamu juga bisa melakukannya. Berpeganglah erat kepada Kristus. —Albert Lee
Kami bersyukur, ya Tuhan, karena ketika kami berusaha berpegang erat kepada-Mu, Engkau selalu memegang kami dengan kuat! Engkau terus bekerja di dalam diri kami dan memberikan apa yang kami perlukan untuk senantiasa mempercayai-Mu dalam perjalanan iman kami.
Memelihara iman berarti mempercayai Allah yang setia memelihara kamu.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate