Pages - Menu

Monday, July 31, 2017

Manusia Baru

Kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil. —Kolose 1:23
Manusia Baru
Saat sekelompok remaja mengunjungi panti wreda di Montego Bay, Jamaika, seorang remaja putri memperhatikan seorang pria yang terlihat kesepian di ujung ruangan. Pria itu tidak dapat turun dari tempat tidur karena keterbatasan fisiknya.
Remaja tadi langsung membagikan cerita tentang kasih Allah dan membacakan ayat-ayat Alkitab kepada pria itu. “Saat berbagi dengannya,” kata remaja itu kemudian, “saya dapat merasakan keinginannya untuk mendengar lebih banyak lagi.” Remaja putri itu kemudian menjelaskan keajaiban dari kematian Yesus yang berkorban bagi kita. “Sulit bagi pria yang sudah tak punya harapan dan keluarga itu untuk memahami bahwa satu Pribadi yang tidak pernah dikenalnya begitu mengasihinya sampai rela mati di kayu salib untuk menebus dosanya,” ujar remaja putri itu.
Ia pun menceritakan lebih banyak lagi tentang Yesus—dan juga janji akan surga (termasuk tubuh yang baru) bagi semua yang percaya. Pria tersebut lalu bertanya, “Maukah kamu berdansa denganku nanti di atas sana?” Remaja putri tersebut melihat pria itu mulai membayangkan dirinya terbebas dari tubuhnya yang rapuh dan lumpuh.
Saat pria tersebut mengatakan ingin menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, remaja itu menolongnya berdoa memohon pengampunan dan iman. Saat remaja itu ingin berfoto bersamanya, pria tersebut menjawab, “Tentu saja, jika kamu mau menolongku untuk duduk. Sekarang aku adalah manusia baru.”
Syukur kepada Allah untuk Injil Yesus Kristus yang mengubahkan hidup, memberi pengharapan, dan tersedia bagi semua orang! Injil Yesus Kristus memberikan hidup baru bagi semua yang percaya kepada-Nya (Kol. 1:5,23). —Dave Branon
Tuhan, terima kasih untuk hidup baru yang kami miliki dalam Yesus Kristus. Tolonglah kami membagikan pengharapan dari hidup baru itu kepada orang lain agar mereka pun dijadikan baru.
Yesus memberikan hidup yang baru.

Sunday, July 30, 2017

Semua Generasi

Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. —Mazmur 145:13
Semua Generasi
Orangtua saya menikah pada tahun 1933 sewaktu masa Depresi Besar. Saya dan istri lahir pada era Baby Boomers, di mana angka kelahiran meningkat drastis setelah Perang Dunia II. Keempat putri kami lahir pada dekade 70-an dan 80-an, dan mereka termasuk Generasi X dan Y. Karena besar pada masa-masa yang sangat berbeda, tidaklah heran apabila masing-masing dari kami berbeda pendapat tentang banyak hal!
Setiap generasi sangat berbeda dalam pengalaman dan nilai-nilai kehidupan yang mereka anut. Itu juga terjadi di antara para pengikut Yesus Kristus. Mungkin selera pakaian dan musik kita masing-masing sangat berbeda, tetapi ikatan rohani kita jauh lebih kuat daripada segala perbedaan tersebut.
Mazmur 145, sebuah pujian agung kepada Allah, menyerukan tentang ikatan rohani kita tersebut. “Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. . . . Peringatan kepada besarnya kebajikan-Mu akan dimasyhurkan mereka, dan tentang keadilan-Mu mereka akan bersorak-sorai” (ay.4,7). Dengan usia dan pengalaman yang begitu berbeda-beda, kita semua disatukan untuk memuliakan Tuhan. “Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu” (ay.11).
Meskipun perbedaan dan pilihan dapat memisahkan kita, iman yang sama dalam Tuhan Yesus Kristus menyatukan kita untuk saling mempercayai, mendukung, dan memuji. Berapa pun usia dan apa pun pandangan kita, kita membutuhkan satu sama lain! Apa pun generasi kita, kita dapat belajar dari satu sama lain dan bersama-sama memuliakan Tuhan—“untuk memberitahukan keperkasaan-[Nya] kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-[Nya]” (ay.12). —David McCasland
Tuhan, satukanlah umat-Mu dari segala generasi untuk memuliakan dan memuji-Mu seiring kami bersaksi tentang kasih-Mu kepada dunia.
Kerajaan Allah hidup dan bertumbuh dari generasi ke generasi.

Saturday, July 29, 2017

Akses Istimewa

Kamu sudah datang . . . kepada jemaat anak-anak sulung. —Ibrani 12:22-23
Akses Istimewa
Walaupun hanya replika, kemah suci yang didirikan di wilayah selatan Israel itu sangatlah mengagumkan. Replika kemah suci yang teguh berdiri di padang Negeb itu dibangun sesuai ukuran asli dan semirip mungkin dengan spesifikasi yang terdapat dalam Keluaran 25-27 (tentunya tanpa emas murni dan kayu akasia).
Saat kelompok tur kami dibawa menyusuri “Tempat Kudus” dan kemudian “Tempat Mahakudus” untuk melihat “tabut perjanjian”, beberapa dari kami merasa ragu. Bukankah itu adalah tempat mahakudus, dan hanya imam besar yang diperbolehkan masuk? Bagaimana mungkin kami bisa memasuki tempat tesebut dengan santai?
Saya dapat membayangkan betapa takutnya bangsa Israel setiap kali menghampiri Kemah Pertemuan dengan korban sembelihan mereka, karena menyadari bahwa mereka datang menghadap Allah yang Mahakuasa. Dan mereka juga pasti merasakan kegentaran, setiap kali Allah memberikan pesan kepada mereka melalui Musa.
Hari ini, kamu dan saya dapat langsung datang kepada Allah dengan penuh keberanian, karena menyadari bahwa pengorbanan Tuhan Yesus telah meruntuhkan penghalang antara kita dan Allah (Ibr. 12:22-23). Setiap dari kita dapat berbicara kepada Allah kapan pun kita menginginkannya, dan mendengar suara-Nya secara langsung saat kita membaca firmanNya dalam Kitab Suci. Kita menikmati akses langsung yang hanya dapat diimpikan oleh bangsa Israel. Kiranya kita tidak menyia-nyiakannya, tetapi menghargai hak istimewa tersebut dengan datang setiap hari kepada Allah Bapa sebagai anak-anaknya yang terkasih. —Leslie Koh
Bapa, terima kasih untuk hak istimewa yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada kami, sehingga kami dapat datang kepada-Mu dengan menyadari bahwa kami telah diampuni dan disucikan dengan darah Kristus. Kiranya kami tidak pernah lupa betapa besar pengorbanan-Nya bagi kami.
Melalui doa, kita memiliki akses langsung kepada Bapa kita.

Friday, July 28, 2017

Diampuni!

Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini. —Mazmur 119:176
Diampuni!
Teman saya, Norm Cook, terkadang memberikan kejutan untuk keluarganya ketika ia tiba di rumah sepulang kerja. Ia masuk dari pintu depan, dan berteriak, “Kalian diampuni!” Itu bukan karena anggota keluarganya telah berbuat salah kepadanya dan membutuhkan pengampunannya. Ia bermaksud mengingatkan mereka bahwa meskipun mereka pasti dan telah berbuat dosa di sepanjang hari, mereka diampuni sepenuhnya oleh anugerah Allah.
Rasul Yohanes memberikan catatan ini tentang anugerah: “Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa [tidak mempunyai keinginan untuk berdosa], maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:7-9).
“Hidup di dalam terang” merupakan kiasan dari mengikut Yesus. Menurut Yohanes, menjadi serupa dengan Yesus oleh pertolongan Roh Kudus menjadi tanda bahwa kita telah bergabung dengan para rasul dalam suatu persekutuan iman. Kita sudah sah menjadi orang Kristen. Namun, lanjutnya, janganlah kita terpedaya: Kita pasti akan membuat pilihan-pilihan yang salah sewaktu-waktu. Kendati demikian, anugerah Allah diberikan sepenuhnya: Kita dapat menerima pengampunan yang kita butuhkan.
Kita tidak sempurna, tetapi diampuni oleh Yesus! Itulah kata-kata yang patut kita ingat hari ini. —David Roper
Tuhan, aku sadar aku jauh dari sempurna. Karena itulah, aku membutuhkan Engkau dan pengampunan-Mu dalam hidupku. Aku akan terhilang tanpa-Mu.
Selidikilah hatimu setiap hari agar tidak menyimpang dari hikmat Allah.

Thursday, July 27, 2017

Persahabatan yang Indah

Roh Kebenaran . . . menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. —Yohanes 14:17
Persahabatan yang Indah
Seorang wanita tua di panti wreda tidak berbicara kepada siapa pun atau meminta apa pun. Tampaknya ia hanya sekadarnya hidup dengan duduk di atas kursi goyang tuanya yang sudah berderit. Ia tidak memiliki banyak pengunjung, jadi seorang suster muda akan sering masuk ke kamarnya pada jam istirahatnya. Tanpa mengajukan banyak pertanyaan untuk berusaha membuat wanita tua itu bicara, suster muda itu hanya menarik kursi lain dan duduk bergoyang bersama wanita tua itu. Setelah beberapa bulan berlalu, wanita tua itu pun berkata kepada susternya, “Terima kasih telah duduk bergoyang denganku.” Ia bersyukur untuk pendampingan tersebut.
Sebelum kembali ke surga, Yesus berjanji untuk mengirimkan Pribadi yang akan setia menyertai murid-murid-Nya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka sendirian tetapi akan mengirimkan Roh Kudus untuk menyertai mereka (Yoh. 14:17). Janji itu masih berlaku bagi orang yang percaya kepada Yesus hari ini. Yesus berkata bahwa Allah Tritunggal “diam bersama-sama” dengan kita (ay.23).
Tuhan adalah pendamping kita yang dekat dan setia di sepanjang hidup ini. Dia akan membimbing kita dalam pergumulan kita yang terdalam, mengampuni dosa kita, mendengar setiap doa kita yang tak terucapkan, dan menanggung beban yang tidak sanggup kita pikul.
Kita bisa menikmati penyertaan-Nya yang indah itu hari ini. —Anne Cetas
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memberi kami Roh-Mu yang selalu setia menyertai kami.
Hati orang Kristen adalah tempat berdiamnya Roh Kudus.

Wednesday, July 26, 2017

Dari Air yang Dalam

Dari atas Tuhan mengulurkan tanganNya; dipegang-Nya aku dan ditarik-Nya dari air yang dalam. —2 Samuel 22:17 BIS
Dari Air yang Dalam
Saya meninjau kolam renang dengan saksama dan siap sedia jika ada tanda-tanda masalah. Selama enam jam giliran saya bertugas sebagai pengawas perenang, saya mengawasi dari tepi kolam untuk memastikan keamanan orang-orang yang berenang. Meninggalkan tempat saya berjaga, atau bahkan sedikit saja perhatian saya lengah, bisa mengakibatkan konsekuensi serius bagi orang-orang di dalam kolam. Jika perenang nyaris tenggelam karena cedera atau belum pandai berenang, saya bertanggung jawab untuk menarik mereka dari air dan membawa mereka ke tempat yang aman di tepi kolam.
Setelah menerima pertolongan Allah dalam pertempuran melawan orang Filistin (2Sam. 21:15-22), Daud mengibaratkan upaya penyelamatannya seperti ditarik dari “air yang dalam” (22:17 BIS). Hidup Daud—sekaligus para pengikutnya—sedang dalam bahaya besar karena diancam oleh musuh-musuh mereka. Allah menopang Daud di saat ia tenggelam dalam bencana. Para penjaga pantai dibayar untuk memastikan keselamatan para perenang, tetapi Allah menyelamatkan Daud karena Dia berkenan kepadanya (ay.20). Hati saya bersukacita ketika menyadari bahwa Allah menjaga dan melindungi saya karena Dia ingin melakukannya, bukan karena Dia berkewajiban untuk melakukannya.
Ketika kita merasa kewalahan menghadapi segala masalah kehidupan, kita dapat merasa tenang saat mengetahui bahwa Allah, Penjaga kita, melihat pergumulan kita sekaligus mengawasi dan melindungi kita, karena Dia berkenan kepada kita. —Kirsten Holmberg
Tuhan, terima kasih karena Engkau melihat pergumulanku dan selalu siap sedia untuk menyelamatkanku. Tolong aku untuk semakin mempercayai kasih-Mu yang menyelamatkanku.
Allah berkenan menyelamatkan anak-anak-Nya.

Tuesday, July 25, 2017

Yang Kita Bawa Pulang

Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti. —Mazmur 37:25
Yang Kita Bawa Pulang
John F. Burns bekerja selama 40 tahun meliput peristiwa-peristiwa dunia untuk surat kabar The New York Times. Dalam artikel yang ditulisnya setelah pensiun pada tahun 2015, Burns mengingat kata-kata dari seorang sahabat dekat sekaligus rekan jurnalisnya yang sekarat karena kanker. “Jangan pernah lupa,” kata rekannya, “Yang penting bukanlah seberapa jauh kamu bepergian; tetapi apa yang kamu bawa pulang.”
Mazmur 37 bisa dianggap sebagai daftar Daud tentang apa yang “dibawanya pulang” dari perjalanan hidupnya, sejak menjadi gembala hingga kemudian prajurit dan raja. Mazmur itu merupakan serangkaian sajak yang mengontraskan orang fasik dengan orang benar, dan menguatkan mereka yang percaya kepada Tuhan.
“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau” (ay.1-2).
“Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya” (ay.23-24).
“Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” (ay.25).
Apa yang telah Allah ajarkan kepada kita melalui pengalaman-pengalaman hidup kita? Bagaimana kita mengalami kesetiaan dan kasih-Nya? Dalam hal apakah kasih Tuhan telah membentuk hidup kita?
Yang penting bukanlah seberapa jauh kita bepergian, tetapi apa yang kita bawa pulang. —David McCasland
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau menyertaiku di sepanjang hidupku. Tolong aku untuk selalu mengingat kesetiaan-Mu.
Tahun demi tahun bertambah, kesetiaan Tuhan pun terus berlipat ganda.

Monday, July 24, 2017

Membangun Komunitas

Orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. —Efesus 3:6
Membangun Komunitas
Henri Nouwen berkata, “‘Komunitas’ adalah tempat di mana orang yang paling tidak kita inginkan kehadirannya selalu tinggal bersama kita.” Kita sering menempatkan diri di tengah orang-orang yang paling kita inginkan kehadirannya bersama kita. Bersama mereka, kita membuat perkumpulan eksklusif, dan itu bukan komunitas. Setiap orang bisa membuat perkumpulan, tetapi dibutuhkan kasih karunia, visi yang sama, dan kerja keras untuk membentuk komunitas.
Gereja Kristen adalah institusi pertama dalam sejarah yang menyatukan secara setara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, pria dan wanita, budak dan orang merdeka. Rasul Paulus menyebut itu sebagai “rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah”. Paulus mengatakan bahwa dengan membentuk komunitas yang terdiri dari anggota-anggota yang beragam, kita memiliki kesempatan untuk memikat perhatian dunia ini dan juga dunia supernatural (Ef. 3:9-10).
Sayangnya, dalam banyak hal, gereja telah gagal melakukan tugas itu. Walaupun demikian, gereja merupakan satu-satunya tempat yang pernah saya kunjungi yang mempersatukan berbagai generasi: bayi yang masih digendong ibunya, anak-anak yang berceloteh dan tertawa sesuka hati, orang dewasa yang bertanggung jawab dan yang tahu bagaimana bersikap sepatutnya di setiap saat, dan mereka yang mungkin tertidur ketika pengkhotbah berbicara panjang lebar.
Jika kita menginginkan pengalaman komunitas yang Allah tawarkan kepada kita, kita bisa menemukannya dalam jemaat yang terdiri dari orang-orang yang “tidak seperti kita”. —Philip Yancey
Tuhan, ingatkanlah kami bahwa gereja adalah karya-Mu, dan Engkau mengumpulkan kami semua untuk menggenapi kehendak-Mu yang mulia. Tolong kami untuk meneruskan kasih-Mu kepada orang lain.
Orang yang tinggal dalam komunitas yang kecil sesungguhnya tinggal dalam dunia yang jauh lebih besar. —G. K. Chesterton

Sunday, July 23, 2017

Tidak Mendapat Pujian?

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16
Tidak Mendapat Pujian?
Film-film musikal Hollywood sangat populer selama dekade 1950-an dan 1960-an, dan tiga aktris khususnya—Audrey Hepburn, Natalie Wood, dan Deborah Kerr—begitu memukau penonton dengan penampilan mereka yang mengagumkan. Namun, salah satu faktor terbesar yang membuat ketiga aktris itu disukai adalah nyanyian luar biasa yang memperkuat akting mereka. Sebenarnya kesuksesan film-film klasik itu diraih berkat bantuan Marni Nixon, yang mengisi nyanyian dari setiap aktris tersebut. Untuk jangka waktu yang lama, Nixon sempat tidak mendapat pujian atas kontribusinya yang sangat penting tersebut.
Dalam tubuh Kristus, sering ada orang-orang yang dengan setia mendukung orang lain yang tampil dalam pelayanan di depan umum. Rasul Paulus sangat bergantung kepada orang-orang seperti itu dalam pelayanannya. Pekerjaan Tertius sebagai penulis memberi Paulus gaya tulisan yang penuh kuasa (Rm. 16:22). Doa-doa yang konsisten dari Epafras yang berada di balik layar menjadi dasar yang kuat bagi pelayanan Paulus dan gereja mula-mula (Kol. 4:12-13). Lidia dengan murah hati membuka rumahnya ketika Paulus yang kelelahan membutuhkan pemulihan (Kis. 16:15). Pekerjaan Paulus tidak akan pernah terwujud tanpa dukungan dari rekan-rekan sepelayanannya dalam Kristus (Kol. 4:7-18).
Kita mungkin tidak selalu mendapatkan peran yang menonjol dan terlihat oleh orang banyak, tetapi kita tahu bahwa Allah disenangkan ketika kita taat menjalani peran penting kita dalam rencana-Nya. Ketika kita “[giat] selalu dalam pekerjaan Tuhan” (1Kor. 15:58), kita menemukan nilai dan makna dalam pelayanan kita, karena itu memuliakan Allah dan menarik orang-orang kepada-Nya (Mat. 5:16). —Cindy Hess Kasper
Tuhan, tolonglah aku agar taat dan setia menjalani peran yang telah Engkau tetapkan bagiku.
Kunci dari pelayanan yang sejati adalah kesetiaan mutlak di mana saja Allah menempatkan kamu.

Saturday, July 22, 2017

“Aku Sangat Takut . . .”

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. —Filipi 4:6

“Aku sangat takut.” Pesan memilukan itu dikirim seorang remaja kepada teman-temannya di Facebook, ketika ia bercerita kepada mereka tentang sejumlah tes kesehatan yang akan dijalaninya. Kemungkinan besar ia harus dirawat dan menjalani serangkaian pemeriksaan di rumah sakit yang berada di suatu kota yang berjarak tiga jam dari rumahnya. Dengan cemas ia menunggu kabar dari para dokter yang masih mencari tahu sumber dari sejumlah gangguan kesehatan serius yang sedang dialaminya.
Adakah di antara kita, baik muda maupun tua, yang belum pernah merasakan ketakutan yang serupa ketika dihadapkan pada momen-momen yang tidak diharapkan dan benar-benar menakutkan? Ke mana dan kepada siapa kita mencari pertolongan? Penghiburan apakah yang bisa kita temukan dari Kitab Suci, yang memberi kita keberanian dalam menghadapi situasi-siatuasi seperti itu?
Kenyataan bahwa Allah akan menyertai kita di tengah pencobaan dapat menolong kita untuk terus berharap. Yesaya 41:13 menyatakan kepada kita, “Sebab Aku ini,Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: ‘Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.’”
Lebih dari itu, Allah memberikan damai sejahtera yang tak terlukiskan dan yang memelihara hati ketika kita mau menyatakan segala kekhawatiran kita kepada-Nya dalam doa (Flp. 4:6-7).
Melalui kehadiran Allah yang tak pernah berakhir dan damai sejahtera-Nya yang “melampaui segala akal” (ay.7), kita dapat menemukan pengharapan dan pertolongan yang kita butuhkan untuk bertahan dalam situasi-situasi yang membuat kita sangat ketakutan. —Dave Branon
Bapa Surgawi, ketika aku takut, ingatkan aku bahwa Engkau memegang tanganku dan memberiku damai sejahtera. Aku bersyukur dapat bersandar kepada-Mu dan mendapatkan pertolongan saat aku takut. Engkau baik bagiku.
Allah menyertai kita dalam semua pergumulan kita.

Friday, July 21, 2017

Mengenakan Pakaian Terbaik

Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus. —Roma 13:14
Mengenakan Pakaian Terbaik
Dalam bukunya Wearing God (Mengenakan Allah), penulis Lauren Winner mengatakan bahwa secara diam-diam, pakaian kita dapat mengungkapkan jati diri kita kepada orang lain. Apa yang kita kenakan dapat saja menunjukkan karier, komunitas atau identitas, suasana hati, atau status sosial kita. Pikirkanlah apa yang digambarkan oleh kaos dengan slogan tertentu, setelan bisnis, seragam, atau celana jin yang berlumur minyak. Winner menulis, “Sungguh menarik, sama seperti pakaian, orang Kristen mungkin secara diam-diam menyatakan sesuatu tentang Yesus.”
Menurut Paulus, kita juga dapat mengungkapkan tentang Kristus tanpa kata-kata. Roma 13:14 memerintahkan kita, “kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuh [kita] untuk memuaskan keinginannya.” Apa artinya? Ketika kita menjadi orang Kristen, kita mengenakan identitas Kristus. Kita semua adalah “anak-anak Allah karena iman” (Gal. 3:26-27). Itulah status kita. Namun, setiap hari kita perlu mengenakan karakter-Nya. Kita melakukannya dengan berjuang untuk hidup bagi Tuhan Yesus dan menjadi semakin serupa dengan-Nya, bertumbuh dalam kesalehan, kasih, dan ketaatan, serta meninggalkan dosa-dosa yang pernah memperbudak kita.
Pertumbuhan di dalam Kristus ini merupakan hasil dari karya Roh Kudus di dalam kita dan buah dari kerinduan kita untuk semakin mengenal-Nya melalui penggalian firman Tuhan, doa, dan persekutuan dengan sesama orang percaya (Yoh. 14:26). Ketika orang lain melihat perkataan dan perilaku kita, pernyataan apakah yang sedang kita tunjukkan tentang Kristus? —Alyson Kieda
Ya Tuhan, kami ingin mencerminkan Engkau. Tolonglah kami untuk menjadi semakin serupa dengan-Mu hari demi hari. Buatlah kami bertumbuh dalam kesalehan, kasih, sukacita, dan kesabaran.
Saat orang lain melihat kita, kiranya apa yang mereka lihat menyatakan kebenaran tentang Sang Juruselamat.

Thursday, July 20, 2017

Segala Sesuatu Ada Masanya

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. —Pengkhotbah 3:1
Segala Sesuatu Ada Masanya
Saat dalam penerbangan baru-baru ini, saya melihat seorang ibu dan anak-anaknya yang duduk beberapa baris di depan saya. Sementara anaknya yang balita asyik bermain sendiri, sang ibu menatap mata bayinya yang baru lahir, tersenyum padanya, dan membelai pipinya. Sang bayi menatap balik ibunya dengan mata terbelalak penuh keheranan. Saya menikmati momen tersebut dengan sedikit sedih, karena teringat pada anak-anak saya sendiri pada usia tersebut dan masa-masa yang telah lalu.
Namun, saya merenungkan perkataan Raja Salomo dalam kitab Pengkhotbah tentang “apapun di bawah langit” (3:1). Dengan menyebutkan serangkaian peristiwa yang bertolak-belakang, ia menekankan bahwa “untuk segala sesuatu ada masanya” (ay.1): “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam” (ay.2). Mungkin pada ayat-ayat itu, Raja Salomo merasa putus asa dengan apa yang dilihatnya sebagai siklus hidup yang sia-sia. Namun, ia juga mengakui adanya campur tangan Allah dalam setiap masa, bahwa pekerjaan kita adalah “pemberian Allah” (ay.13) dan bahwa “segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya” (ay.14).
Mungkin kita mengingat masa-masa tertentu dalam hidup kita dengan penuh kerinduan, seperti saya yang teringat anak-anak saya ketika mereka masih bayi. Namun demikian, kita tahu bahwa Tuhan berjanji menyertai kita dalam setiap masa kehidupan kita (Yes. 41:10). Kita dapat mengandalkan kehadiran-Nya dan mendapati bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk hidup bersama dengan-Nya. —Sheridan Voysey
Tuhan Allah, Engkau memimpinku melewati masa demi masa. Dalam suka maupun duka, aku tahu Engkau selalu bersamaku. Tolonglah aku melayani seseorang dengan kasih-Mu hari ini.
Allah memberi kita masa demi masa dalam hidup kita.

Wednesday, July 19, 2017

Lebih Besar dari Semua

Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, Tuhan berpakaian, berikat pinggang kekuatan. —Mazmur 93:1
Lebih Besar dari Semua
Air terjun Iguazu di perbatasan Brazil dan Argentina merupakan rangkaian spektakuler dari 275 air terjun yang terbentang sepanjang 2,7 KM di Sungai Iguazu. Pada dinding di sisi yang berada di wilayah Brazil terpahat teks Mazmur 93:4, “Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat Tuhan di tempat tinggi.” Tepat di bawahnya tertulis kalimat, “Allah selalu lebih besar daripada semua masalah kita.”
Penulis Mazmur 93, yang menuliskan mazmurnya pada masa pemerintahan raja-raja, mengetahui bahwa Allah adalah Raja di atas segala raja. “Tuhan adalah Raja,” tulisnya. “Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada” (ay.1-2). Setinggi apa pun air bah atau gelombang ombak, Tuhan tetaplah lebih besar dari segalanya.
Deru air terjun memang dashyat, tetapi kamu tidak akan menyukainya apabila kamu berada di dalam air dan terseret menuju ke air terjun. Mungkin itulah gambaran situasi yang kamu hadapi saat ini. Masalah kesehatan, keuangan, atau relasi semakin membebanimu, dan kamu merasa hampir terjatuh dalam pusaran air terjun itu. Dalam situasi seperti itu, orang Kristen memiliki satu Pribadi yang dapat menolongnya. Dialah Tuhan, “yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Ef. 3:20) karena Dia jauh lebih besar dari semua masalah kita. —C. P. Hia
Tuhan, aku tahu Engkau penuh kuasa dan jauh lebih besar daripada persoalan apa pun yang kuhadapi. Aku mempercayai-Mu untuk menolongku melewati semua itu.
Jangan pernah mengukur kuasa Allah yang tak terbatas dengan pengharapan kita yang terbatas.

Tuesday, July 18, 2017

Menghapus Cap

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8
Menghapus Cap
Sebuah gereja di kota saya memiliki kartu sambutan pengunjung dengan tulisan unik yang menunjukkan kasih dan anugerah Allah bagi setiap orang. Kartu itu menyatakan, “Baik kamu . . . orang baik, orang berdosa, pecundang, pemenang”—dilanjutkan dengan banyak istilah lain yang suka digunakan untuk menggambarkan orang yang bermasalah—“pemabuk, orang munafik, penipu, penakut, orang aneh . . . Kami senang menyambutmu!” Salah seorang pendetanya mengatakan kepada saya, “Kami membacakan isi kartu tersebut dengan suara lantang bersama-sama dalam kebaktian tiap Minggu.”
Berapa sering kita diberi cap oleh seseorang dan membiarkan cap itu membentuk gambaran diri kita? Dan betapa mudahnya juga bagi kita untuk memberikan cap pada diri orang lain. Namun, anugerah Allah menghapus semua cap itu karena anugerah itu berakar pada kasih-Nya, bukan pada persepsi kita sendiri. Entah kita memandang diri kita hebat atau buruk, mampu atau tidak mampu, kita dapat menerima hidup kekal yang dikaruniakan Allah. Rasul Paulus mengingatkan para pengikut Yesus di Roma, pada “waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Rm. 5:6).
Allah tidak menuntut kita untuk berubah dengan kekuatan kita sendiri. Sebaliknya Dia mengundang kita supaya datang apa adanya untuk menemukan pengharapan, pemulihan, dan kebebasan di dalam Dia. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (ay.8). Tuhan siap dan bersedia menerima kita apa adanya. —David McCasland
Bapa Surgawi, terima kasih atas kasih-Mu yang ajaib di dalam Yesus Kristus.
Pengampunan Allah mengangkat orang yang dicap pecundang dan merendahkan orang yang tinggi hati.

Monday, July 17, 2017

Sama Seperti Ayah

Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. —Yohanes 5:19
Sama Seperti Ayah
Bukankah menggemaskan saat melihat seorang anak meniru gerak-gerik orangtuanya? Sering kita melihat anak kecil duduk di kursi mobil dengan memegang setir khayalannya sambil mengamati terus gerakan ayahnya yang sedang mengemudi.
Saya ingat melakukan hal yang sama semasa kecil. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ayah saya—dan saya yakin ayah merasa lebih senang lagi melihat saya meniru setiap tindakannya.
Saya pikir Allah Bapa tentu merasakan sukacita yang sama ketika Dia melihat Anak-Nya yang terkasih melakukan persis sama dengan apa yang dilakukan-Nya—mencari jiwa yang terhilang, menolong yang membutuhkan, dan menyembuhkan yang sakit. Yesus berkata, “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19).
Kita juga dipanggil untuk melakukan yang sama—menjadi “penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan [hidup] di dalam kasih” (Ef. 5:1-2). Sambil terus bertumbuh semakin menyerupai Yesus, kiranya kita selalu mengasihi seperti Bapa mengasihi, mengampuni seperti Dia mengampuni, peduli seperti Dia mempedulikan, dan menjalani hidup yang menyenangkan-Nya. Sungguh menyenangkan untuk meniru tindakan-Nya oleh kuasa Roh, dan upah kita adalah kasih sayang dan senyum lembut dari Bapa yang penuh kasih. —Leslie Koh
Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah menunjukkan jalan kepada Bapa. Tolong kami untuk menjadi semakin serupa dengan-Mu dan Bapa setiap hari.
Allah Bapa memberi kita Roh Kudus untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya.

Sunday, July 16, 2017

Akar yang Dalam

Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. —Lukas 24:45
Akar yang Dalam
Pohon sequoia, satu dari tiga spesies pohon redwoods, merupakan salah satu organisme paling besar dan paling lama bertahan hidup di dunia. Pohon tersebut dapat bertumbuh hingga ketinggian lebih dari 90 meter, dengan berat lebih dari 1,1 juta kilogram, dan hidup hingga 3.000 tahun. Namun, ukuran yang besar dan usia yang panjang dari pohon sequoia yang megah itu banyak bergantung pada apa yang terdapat di bawah permukaan tanah. Akar-akar pohon yang saling terjalin sampai kedalaman 3-4 meter, dan terbentang luas hingga satu hektar tanah, menjadi dasar yang kuat untuk menopang pohon dengan tinggi dan bobot yang luar biasa tersebut.
Namun, sistem akar pohon redwood yang tersebar luas itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan sejarah, agama, dan penantian suatu bangsa yang menjadi dasar bagi kehidupan Yesus. Pada suatu peristiwa, Dia berkata kepada sekelompok pemimpin agama bahwa Kitab Suci yang mereka cintai dan yakini sebenarnya memberikan kesaksian tentang diri-Nya (Yoh. 5:39). Dalam sinagoge di Nazaret, Yesus membuka gulungan kitab Yesaya, membacakan gambaran mengenai Mesias Israel, dan berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21).
Kemudian, setelah kebangkitan-Nya, Yesus menolong murid-muridNya untuk memahami bagaimana perkataan Musa, perkataan para nabi, dan bahkan puji-pujian Israel menunjukkan mengapa Dia harus menderita, mati, dan bangkit dari kematian (24:46).
Sungguh agung dan indah melihat bahwa kehidupan Yesus memiliki akar yang kuat dalam sejarah dan Kitab Suci dari suatu bangsa, dan melihat bagaimana hidup kita pun sangat didasari pada kebutuhan kita akan Dia. —Mart DeHaan
Bapa di surga, tolong kami agar tidak pernah lupa bahwa sejarah Israel dan Kitab Suci mengajarkan kami untuk sadar bahwa kami membutuhkan Yesus, Anak-Mu.
Kitab Suci menolong kita untuk melihat bahwa kita membutuhkan Yesus.

Saturday, July 15, 2017

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang . . . akan melepaskan aku. —1 Samuel 17:37
Apakah Kamu Sedang Disiapkan?
Ketika masih di SMA, saya pernah bekerja di sebuah restoran cepat saji selama lebih dari dua tahun. Ada hal-hal tertentu dalam pekerjaan itu yang terasa sulit. Misalnya menghadapi pelanggan yang marah karena ia menemukan ada selembar keju yang tidak diinginkannya di dalam roti isi yang tidak saya buat. Segera setelah keluar dari sana, saya melamar pekerjaan komputerisasi di kampus saya. Atasan saya lebih tertarik dengan pengalaman kerja saya di restoran cepat saji daripada keahlian komputer saya. Mereka ingin tahu cara saya menghadapi orang. Pengalaman di tempat kerja yang tidak menyenangkan itu justru telah menyiapkan saya untuk pekerjaan yang lebih baik!
Daud yang masih muda pernah berhasil melewati sebuah peristiwa yang mungkin tidak menyenangkan di mata kita. Ketika Israel ditantang untuk mengirimkan seseorang sebagai lawan Goliat, tidak ada seorang pun yang cukup berani untuk melakukannya, kecuali Daud. Raja Saul sebenarnya enggan mengirim Daud berperang. Namun, Daud menjelaskan bahwa sebagai gembala, ia pernah melawan dan membunuh singa dan beruang demi menyelamatkan domba-dombanya (1SAM. 17:34-36). Dengan percaya diri, ia menyatakan, “Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (ay.37).
Bekerja sebagai gembala tidak membuat Daud dihormati banyak orang, tetapi hal itu telah menyiapkannya untuk berperang melawan Goliat, dan pada akhirnya menjadi raja teragung bangsa Israel. Kita mungkin sedang berada dalam situasi-situasi yang sulit, tetapi melalui semua itu Allah mungkin sedang menyiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar! —Julie Schwab, penulis tamu
Tuhan, tolong aku untuk bertahan selama masa-masa yang tidak menyenangkan dalam hidupku. Aku percaya bahwa mungkin Engkau sedang menyiapkan aku untuk sesuatu yang lebih besar.
Allah memakai situasi saat ini untuk menyiapkan kita bagi masa depan.

Friday, July 14, 2017

Bertatap Muka

Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. —Keluaran 33:11
Bertatap Muka
Meski saat ini dunia kita sudah terhubung secara elektronik dengan begitu luasnya, tetap saja tidak ada yang dapat mengalahkan kebersamaan yang dilakukan dengan tatap muka. Saat kita bertukar cerita dan tertawa bersama, tanpa disadari, kita bisa merasakan perasaan lawan bicara kita hanya dengan melihat mimik mereka. Para kerabat atau sahabat yang saling mengasihi tentu merasa senang sekali apabila mereka dapat bertemu dan bertatap muka.
Kita melihat hubungan seperti itu terjadi antara Tuhan dengan Musa, orang yang dipilih Allah untuk memimpin umat-Nya. Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, Musa semakin mantap mengikut Allah. Ia bahkan terus mengikut Allah walaupun bangsanya memberontak dan menyembah berhala. Setelah bangsa itu menyembah anak lembu tuangan dan bukan Tuhan (lihat Kel. 32), Musa mendirikan kemah di luar perkemahan sebagai tempat untuk bertemu Allah, sementara bangsa itu melihatnya dari kejauhan (33:7-11). Ketika tiang awan yang melambangkan kehadiran Allah turun ke kemah itu, Musa berbicara atas nama bangsanya. Allah berjanji bahwa kehadiran-Nya akan menyertai mereka (ay.14).
Karena kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita tidak lagi membutuhkan seseorang seperti Musa untuk berbicara kepada Allah bagi kita. Sebaliknya, seperti yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya, kita dapat menjalin persahabatan dengan Allah melalui Kristus (Yoh. 15:15). Kita pun dapat berjumpa dengan Allah, saat Dia berbicara kepada kita seperti seseorang berbicara kepada sahabatnya. —Sheridan Voysey
Nanti muka dengan muka langsung akan kukenal. Tuhan Yesus, Juruselamat, Pengasihku yang kekal! —Carrie E. Breck (Kidung Jemaat, No. 267)
Kita dapat berbicara kepada Tuhan layaknya berbicara dengan sahabat.

Thursday, July 13, 2017

Mengenal Sepenuhnya

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. —Mazmur 139:2
Mengenal Sepenuhnya
Alam semesta kita sangatlah luas. Saat ini, bulan berputar mengelilingi bumi kita dengan kecepatan hampir 3.700 KM per jam. Bumi kita berputar mengelilingi matahari dengan kecepatan lebih dari 100.000 KM per jam. Matahari merupakan satu di antara 200 miliar bintang dan triliunan planet lainnya di galaksi kita, dan galaksi kita hanyalah satu dari 100 miliar galaksi lainnya yang beredar di angkasa. Sungguh mengagumkan!
Dibandingkan dengan alam semesta yang begitu luas, Bumi kita yang kecil ini bagaikan kerikil, dan setiap manusia ibarat sebutir pasir. Namun menurut Kitab Suci, Allah yang mengatur seluruh galaksi mengenal setiap dari kita yang teramat kecil ini dengan sepenuhnya. Dia melihat kita sebelum kita ada (Mzm. 139:13-16); Dia memperhatikan ketika kita menjalani hari demi hari dan memahami setiap buah pikiran kita (ay.1-6).
Terkadang semua itu terasa sulit untuk dipercaya. Bumi yang mungil ini dilanda berbagai masalah besar seperti perang dan kelaparan, dan kita bisa mempertanyakan pemeliharaan Allah pada saat kita mengalami penderitaan. Namun, ketika Raja Daud menulis Mazmur 139, ia sendiri sedang berada dalam krisis (ay.19-20). Dan ketika Yesus berkata bahwa Allah mengetahui jumlah helai rambut di kepala kita (Mat. 10:30), Dia sedang hidup di zaman penindasan Romawi. Ketika Alkitab berbicara mengenai perhatian dan pemeliharaan Allah, itu bukanlah suatu impian yang mengawang-awang, melainkan kebenaran yang nyata.
Pribadi agung yang menjaga galaksi-galaksi terus berputar itu juga mengenal kita sepenuhnya. Kebenaran itu dapat menolong kita di tengah masa-masa yang sulit. —Sheridan Voysey
Allah Bapa, Engkau memperhatikanku sama seperti Engkau menjaga bintang-bintang di langit. Terima kasih untuk kasih, kepedulian, dan perhatian-Mu.
Allah yang mengatur seluruh alam semesta memperhatikan dan mengenal kita sepenuhnya.

Wednesday, July 12, 2017

Datang kepada Allah

Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah. —Mazmur 73:28
Datang kepada Allah
Seorang wanita yang ingin berdoa mengambil kursi kosong dan berlutut di depannya. Dengan berurai air mata, ia berkata, “Allah Bapaku, kumohon, duduklah di sini; aku ingin mencurahkan isi hatiku!” Sembari memandang kursi yang kosong itu, ia berdoa. Wanita itu menunjukkan keyakinan saat datang kepada Tuhan, dengan membayangkan Allah duduk di atas kursi itu dan meyakini bahwa Allah sedang mendengarkan permohonannya.
Waktu bersama Allah merupakan momen yang penting, karena pada saat itulah kita berhubungan dengan Sang Mahakuasa. Allah mendekat kepada kita saat kita juga mendekat kepada-Nya (Yak. 4:8). Dia telah berjanji kepada kita, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Bapa kita di surga selalu menantikan kita untuk datang kepada-Nya, dan Dia selalu siap mendengarkan kita.
Adakalanya kita sulit untuk berdoa ketika kita merasa lelah, mengantuk, sakit, dan kepayahan. Namun, di saat kita lemah atau menghadapi pencobaan, Yesus ikut merasakannya (Ibr. 4:15). Karena itulah, kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (ay.16). —Lawrence Darmani
Ya Tuhan, terima kasih karena aku dapat berdoa kepada-Mu kapan pun, di mana pun. Tanamkan hasrat di hatiku untuk selalu mendekat kepada-Mu. Aku ingin belajar untuk datang kepada-Mu dengan iman dan keberanian.
Allah yang Mahahadir selalu siap mendengarkan kita kapan pun.

Tuesday, July 11, 2017

Berserah kepada Yesus

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. —Roma 6:11
Berserah kepada Yesus
Mereka menyebutnya “Jejak Kaki Iblis”. Itu merupakan cetakan mirip jejak kaki pada batu granit yang terletak di sebelah gereja di Ipswich, Massachusetts, Amerika Serikat. Menurut legenda, “jejak kaki” tersebut muncul pada suatu hari di musim gugur tahun 1740, saat penginjil George Whitefield berkhotbah dengan begitu bersemangatnya hingga Iblis melompat dari menara gereja dan mendarat di batu granit tersebut ketika hendak melarikan diri keluar kota.
Walaupun itu hanya merupakan legenda, kisah tersebut mengingatkan kita tentang kebenaran firman Allah yang menguatkan kita. Yakobus 4:7 mengingatkan, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Allah telah memberi kita kekuatan yang diperlukan untuk melawan musuh dan pencobaan di dalam hidup kita. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa “[kita] tidak akan dikuasai lagi oleh dosa” (Rm. 6:14) karena kasih karunia Allah yang diberikan kepada kita melalui Yesus Kristus. Ketika kita dicobai dan kita berpaling kepada Tuhan Yesus, Dia akan memampukan kita untuk teguh berdiri dengan kekuatan-Nya. Tidak ada satu hal pun yang kita hadapi di dunia ini yang dapat mengalahkan-Nya, karena Dia “telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).
Sang Juruselamat akan menolong kita pada saat kita menyerahkan diri dan kehendak kita kepada-Nya dalam ketaatan kepada firman-Nya. Ketika kita memilih untuk berserah kepada-Nya dan tidak menyerah pada pencobaan, Dia sanggup menolong kita menghadapi pergumulan hidup ini. Di dalam Allah, kita pasti menang. —James Banks
Tuhan Yesus, aku menyerahkan kehendakku kepada-Mu hari ini. Tolong aku untuk selalu dekat dengan-Mu di setiap waktu dan mengasihi-Mu dengan selalu menaati-Mu.
Doa orang percaya yang terlemah sekalipun . . . membawa kengerian bagi Iblis. —Oswald Chambers

Monday, July 10, 2017

Lolos dari Masalah

Karena iman [Habel] masih berbicara, sesudah ia mati. —Ibrani 11:4
Lolos dari Masalah
Pada Juni 2004, dalam sebuah galeri seni di Vancouver, Beckie Scott, pemain ski lintas alam asal Kanada, menerima medali emas Olimpiade. Itu bukanlah hal yang lazim karena Olimpiade Musim Dingin telah berlangsung pada tahun 2002 di Utah. Dalam ajang itu, Scott meraih medali perunggu, tetapi dua atlet yang mengunggulinya harus didiskualifikasi dua bulan kemudian karena ketahuan menggunakan obat terlarang.
Pemberian medali emas itu memang baik, tetapi Scott kehilangan kesempatan selamanya untuk berdiri di atas podium penyerahan medali sambil mendengarkan lagu kebangsaan negaranya dikumandangkan. Ketidakadilan itu tak mungkin diperbaiki.
Ketidakadilan dalam bentuk apa pun mengusik rasa keadilan kita, dan pastilah ada banyak kesalahan yang lebih besar daripada kehilangan hak meraih medali emas. Ketidakadilan terbesar dapat kita lihat dalam kisah Kain dan Habel (Kej. 4:8). Sekilas kelihatannya Kain dapat lolos dari masalah setelah membunuh adiknya. Lagipula, Kain menjalani hidup dengan sejahtera, bahkan berhasil mendirikan sebuah kota (ay.17).
Namun, Allah sendiri kemudian menegur Kain. Dia berfirman, “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah” (ay.10). Dalam Perjanjian Baru, Kain dijadikan contoh yang harus dihindari (1Yoh. 3:12, YUD. 1:11). Namun, tentang Habel, kita membaca, “Karena iman Habel masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibr. 11:4).
Allah sangat peduli pada keadilan, pada tegaknya kebenaran, dan pada hak-hak kaum yang lemah. Pada akhirnya, tidak akan ada ketidakadilan yang dibiarkan-Nya. Sebaliknya, segala perbuatan yang kita lakukan dalam iman kepada Allah tidak dianggap sia-sia oleh-Nya. —Tim Gustafson
Bapa, seperti doa yang diajarkan Anak-Mu, kami memohon untuk kebaikan dari dunia yang rusak ini, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu. Terima kasih karena Engkau telah menebus kami.
Dosa tidak akan dihakimi dengan cara kita, tetapi dengan cara Allah.

Sunday, July 9, 2017

Hati yang Penuh Sukacita

Bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! —Mazmur 100:1
Hati yang Penuh Sukacita
Cucu saya, Moriah, sangat menyukai salah satu lagu mars karya John Philip Sousa. Sousa, yang dijuluki sebagai “Raja Mars”, adalah komposer asal Amerika Serikat yang hidup pada akhir abad ke-19. Moriah yang berusia 20 bulan sangat menyukai iramanya dan bisa menyenandungkan beberapa nada dari lagu itu. Ia mengaitkan lagu itu dengan saat-saat yang gembira. Ketika keluarga kami berkumpul, kami sering menyenandungkan lagu itu sembari bertepuk tangan dan membuat suara-suara lainnya. Lalu cucu-cucu kami menari dan berbaris melingkar mengikuti irama. Mereka melakukannya sampai kepala mereka terasa pusing karena berputar-putar dan tidak bisa berhenti tertawa.
Keceriaan kami mengingatkan saya pada sebuah mazmur yang mendorong kita: “Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita” (Mzm. 100:2). Ketika Raja Salomo mempersembahkan rumah Tuhan, bangsa Israel merayakannya dengan puji-pujian (2Taw. 7:5-6). Mazmur 100 mungkin menjadi salah satu mazmur yang mereka nyanyikan. Mazmur itu menyerukan, “Bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! . . . Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” (ay.1-2,4). Mengapa? “Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun” (ay.5).
Allah kita yang baik sangat mengasihi kita! Sebagai ungkapan syukur, “bersorak-soraklah bagi Tuhan” (Mzm. 100:1). —Alyson Kieda
Tuhan terkasih, berilah kami hati yang bersyukur untuk memuji-Mu, karena Engkau baik dan sungguh baik semua perbuatan-Mu. Kasih setia-Mu kekal untuk selamanya!
Pujian adalah luapan dari hati yang penuh dengan sukacita.

Saturday, July 8, 2017

Hari untuk Beristirahat

Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti. —Keluaran 23:12
Hari untuk Beristirahat
Pada suatu hari Minggu, saya berdiri di tepi aliran sungai yang bergemericik dan mengalir berkelok melintasi wilayah kami di London bagian utara. Saya menikmati keindahan sungai itu di tengah wilayah yang penuh dengan bangunan ini. Saya merasa begitu santai saat mendengar deru aliran air dan kicauan burung-burung. Saya pun terdiam sejenak untuk bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah menolong kita mengalami keteduhan bagi jiwa kita.
Tuhan menetapkan adanya hari Sabat—waktu untuk beristirahat dan disegarkan kembali—bagi umat-Nya karena Dia ingin mereka terus bertumbuh. Seperti tertulis di kitab Keluaran, Dia memerintahkan mereka membajak ladang selama enam tahun dan berhenti untuk sementara waktu pada tahun ketujuh. Umat Israel juga diperintahkan untuk bekerja selama enam hari dan beristirahat di hari ketujuh. Cara hidup yang ditetapkan Tuhan itu membedakan umat Israel dari bangsa-bangsa lain, karena aturan itu tidak hanya ditujukan bagi mereka, tetapi juga boleh diikuti oleh orang asing dan para budak di rumah mereka.
Kita dapat menyambut hari untuk beristirahat itu dengan penuh penantian dan cara yang kreatif. Kita diberi kesempatan untuk beribadah dan melakukan sesuatu yang menyegarkan jiwa kita. Sejumlah orang menggunakan waktunya untuk bermain; ada yang berkebun; yang lain makan bersama teman dan keluarga; dan ada pula yang memilih untuk tidur siang.
Jika selama ini kamu terlalu sibuk, apa yang harus kamu lakukan untuk menemukan kembali keindahan dan kelimpahan dari satu hari yang disisihkan untuk beristirahat? —Sheridan Voysey
Tuhan Allah, kami menemukan perteduhan kami di dalam-Mu. Terima kasih karena Engkau telah menciptakan kami untuk bekerja dan juga beristirahat. Tolonglah kami menemukan ritme yang tepat dan seimbang bagi hidup kami.
Dalam iman dan pelayanan, beristirahat sama pentingnya dengan bekerja.

Friday, July 7, 2017

Kebaikan Sejati

Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. —Filipi 3:8
Kebaikan Sejati
Karena saya bertumbuh besar di Jamaika, orang tua membesarkan saya dan saudara perempuan saya untuk menjadi “orang baik”. Di rumah kami, baik itu berarti menaati orangtua, bicara jujur, berhasil di sekolah dan pekerjaan, dan pergi ke gereja . . . setidaknya saat Paskah dan Natal. Saya pikir definisi tentang orang baik seperti itu dimiliki oleh banyak orang, apa pun budayanya. Bahkan di Filipi 3, Rasul Paulus memakai definisi “baik” dalam budayanya untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam.
Sebagai orang Yahudi yang taat di abad pertama, Paulus mengikuti persis norma dan hukum moral dalam budayanya. Ia lahir dalam keluarga yang “baik”, berpendidikan “baik”, dan beragama dengan “baik”. Bisa dikatakan, Paulus adalah contoh ideal dari orang baik menurut budaya Yahudi. Di ayat 4, Paulus menulis bahwa ia bisa saja membanggakan semua kebaikannya itu. Namun, sebaik apa pun dirinya, Paulus menyatakan kepada pembacanya (dan kita semua) bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada menjadi orang baik. Ia tahu bahwa menjadi orang baik, meski itu sendiri adalah baik, tidaklah sama dengan menyenangkan hati Allah.
Menyenangkan hati Allah, seperti yang ditulis Paulus di ayat 7-8, berarti mengenal Yesus. Paulus menganggap segala kebaikan dirinya sebagai “sampah” jika dibandingkan dengan “pengenalan akan Kristus Yesus, . . . lebih mulia dari pada semuanya.” Yang baik—dan menyenangkan Allah—adalah beriman dan berharap hanya kepada Kristus, bukan pada kebaikan diri kita sendiri. —Karen Wolfe
Ya Allah, dalam usahaku menjalani hidup yang baik, tolonglah aku mengingat bahwa mengenal Yesus adalah satu-satunya jalan kepada kebaikan sejati.
Yang baik—dan menyenangkan Allah—adalah beriman dan berharap hanya kepada Kristus, bukan pada kebaikan diri kita sendiri.

Thursday, July 6, 2017

Melakukan Lebih Dahulu

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. —1 Yohanes 4:19
Melakukan Lebih Dahulu
Kami dengan sabar menolong anak kami untuk segera pulih dan menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya bersama keluarga kami. Trauma dari pengalaman awalnya di panti asuhan telah memicu sejumlah perilaku negatif. Meskipun saya mencoba semampu saya untuk memahami segala kesulitan yang pernah ia alami, saya merasa mulai menarik diri secara emosional darinya karena perilakunya itu. Dengan malu, saya menceritakan pergumulan saya kepada terapisnya. Jawaban sang terapis menyentak saya dengan lembut: “Ia menunggu kamu untuk melakukannya lebih dahulu . . . untuk menunjukkan kepadanya bahwa ia layak menerima kasihmu, sebelum ia bisa mengasihi kamu.”
Yohanes membawa para penerima suratnya untuk mengalami kedalaman kasih yang luar biasa, ketika ia menyebutkan kasih Allah sebagai sumber sekaligus alasan untuk mengasihi satu sama lain (1Yoh. 4:7,11). Saya harus mengakui bahwa saya sering gagal menunjukkan kasih seperti itu kepada sesama, baik itu orang yang tak saya kenal, teman-teman, atau anak-anak saya sendiri. Namun, kata-kata Yohanes ini membangkitkan dalam diri saya suatu keinginan dan kemampuan baru untuk mengasihi sesama: Allah lebih dahulu mengasihi kita. Dia mengutus Anak-Nya untuk menunjukkan kepenuhan kasih-Nya bagi setiap dari kita. Saya sangat bersyukur Allah tidak menarik diri dari kita, sesuatu yang cenderung kita lakukan terhadap sesama.
Meskipun perbuatan dosa kita membuat kita tidak layak, Allah tetap kukuh untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita (Rm. 5:8). Kasih yang dinyatakan-Nya “lebih dahulu” mendorong kita untuk merespons dan mencerminkan kasih itu dengan saling mengasihi. —Kirsten Holmberg
Tuhan, terima kasih karena Engkau tetap mengasihiku meski aku berdosa. Tolonglah aku untuk “lebih dahulu” mengasihi orang lain.
Allah lebih dahulu mengasihi kita supaya kita bisa mengasihi sesama.

Wednesday, July 5, 2017

Bolehkah Aku Mengatakannya?

Bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah. —Kejadian 45:8
Bolehkah Aku Mengatakannya?
“Anggapan adanya anak kesayangan adalah salah satu pemicu terbesar timbulnya perseteruan antar saudara kandung,” kata Dr. Barbara Howard, seorang dokter anak spesialis perkembangan perilaku (artikel “When Parents Have a Favorite Child” di nytimes.com). Contoh anak kesayangan di Perjanjian Lama adalah Yusuf. Sikap ayahnya itu membuat kakak-kakak Yusuf marah (Kej. 37:3-4). Akibatnya, mereka menjual Yusuf kepada para pedagang yang sedang menuju ke Mesir. Mereka juga merekayasa agar tampaknya binatang buaslah yang membunuh Yusuf (37:12-36). Mimpi Yusuf pun hancur dan masa depannya seolah tanpa harapan.
Namun, di sepanjang perjalanan hidupnya, Yusuf memilih untuk mempercayai Allah sepenuhnya dan mengandalkanNya bahkan ketika imannya seakan membuat keadaannya memburuk. Setelah difitnah oleh istri majikannya dan dipenjara karena sesuatu yang tidak dilakukannya, Yusuf bergumul dengan ketidakadilan yang dialaminya, tetapi ia terus mempercayai Tuhan.
Bertahun-tahun kemudian saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli gandum pada masa kelaparan. Mereka menjadi takut saat mengetahui bahwa adik yang dahulu mereka benci kini telah menjadi Perdana Menteri di Mesir. Namun, Yusuf mengatakan kepada mereka, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan jangan menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu . . . . Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (Kej. 45:5,8).
Tutur kata yang baik dari Yusuf membuat saya berpikir. Jika saya berada dalam posisinya, apakah saya akan membalas dendam, atau justru menunjukkan kasih karena hati saya mempercayai Tuhan sepenuhnya? —David McCasland
Bapa, berilah kami iman untuk mempercayai-Mu hari ini dan kemampuan untuk melihat karya tangan-Mu yang baik di sepanjang hidup kami.
Dalam masa-masa hidup yang terkelam sekalipun, hanya dengan mata imanlah kita dapat melihat tangan Allah yang penuh kasih.

Tuesday, July 4, 2017

Merayakan Kemerdekaan

Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. —Roma 8:2
Merayakan Kemerdekaan
Setelah diculik, disandera selama tiga belas hari, dan dibebaskan, Olaf Wiig, seorang juru kamera televisi asal Selandia Baru, menyatakan dengan senyum lebar di wajahnya, “Saya merasa lebih hidup sekarang dibandingkan dengan hidup saya sebelum terjadinya peristiwa ini.”
Karena alasan tertentu yang sulit dipahami, pengalaman dibebaskan terasa lebih berarti daripada kemerdekaan yang selama ini telah dinikmati.
Bagi mereka yang menikmati kemerdekaan hidup setiap hari, sukacita Olaf mengingatkan dengan baik bagaimana kita mudah lupa betapa kita sangat diberkati. Kebenaran itu juga berlaku dalam kehidupan rohani. Banyak dari kita yang telah cukup lama percaya dan menjadi Kristen sering lupa bagaimana rasanya menjadi tawanan dosa. Kita dapat terlena, bahkan tidak lagi bersyukur. Namun kemudian, Allah mengingatkan kita lewat kehadiran seorang petobat baru yang memberikan kesaksiannya dengan penuh semangat tentang apa yang telah Allah lakukan di dalam hidupnya. Lewat kehadirannya, sekali lagi kita melihat sukacita yang telah kita miliki ketika kita dimerdekakan “dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm. 8:2).
Jika kebebasan terasa menjemukan bagimu, atau jika kamu cenderung berfokus pada apa yang tidak boleh kamu lakukan, ingatlah akan hal ini: Bukan saja tidak lagi menjadi budak dosa, kamu juga dimerdekakan supaya kamu menerima pengudusan dan hidup kekal bersama Kristus Yesus! (Rm. 6:22).
Rayakanlah kemerdekaanmu di dalam Kristus dengan bersyukur kepada Allah atas kesanggupan dan kebebasan yang kamu miliki untuk melayani Dia sebagai hamba-Nya. —Julie Ackerman Link
Hidup bagi Kristus memberikan kemerdekaan sejati.

Monday, July 3, 2017

Menghancurkan Dosa

Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu. —Yosua 7:12
Menghancurkan Dosa
Tenggat penyelesaian penulisan sudah dekat, tetapi perdebatan dengan suami tadi pagi masih berkecamuk di benak saya. Saya menatap kursor yang berkedip-kedip di layar komputer dengan jari-jari yang terdiam di atas keyboard. Ia juga salah, Tuhan.
Saat layar komputer mati, pantulan di situ seolah balik mencemooh saya. Kesalahan yang enggan saya akui itu tidak saja menghambat pekerjaan yang harus saya selesaikan, tetapi juga membawa ketegangan dalam hubungan saya dengan suami dan juga Allah.
Saya pun mengambil ponsel, mengabaikan gengsi, dan meminta maaf kepada suami. Setelah berdamai dengan suami yang juga meminta maaf, saya bersyukur kepada Allah dan menyelesaikan tulisan saya tepat waktu.
Bangsa Israel mengalami pedihnya dosa pribadi sekaligus sukacita dari pemulihan. Yosua sudah mengingatkan umat Allah untuk tidak memperkaya diri mereka dalam pertempuran untuk merebut Yerikho (YOS. 6:18). Namun, Akhan mencuri barang jarahan dan menyembunyikannya di kemahnya (7:1). Setelah dosa Akhan terungkap dan dituntaskan (ay.4-12), barulah bangsa Israel bisa berdamai kembali dengan Allah.
Seperti Akhan, kita tidak selalu menyadari bahwa dosa yang kita sembunyikan membuat hati kita berpaling dari Allah dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Mengakui Yesus sebagai Tuhan, mengakui dosa kita, dan meminta pengampunan dari-Nya memberikan dasar bagi suatu hubungan yang sehat dan setia dengan Allah dan sesama. Dengan berserah setiap hari kepada Allah, Pencipta dan Penopang kita yang penuh kasih, kita dapat melayani-Nya sekaligus menikmati kehadiran-Nya di tengah kita semua. —Xochitl Dixon
Tuhan, tolonglah kami menyadari, mengakui, dan berbalik dari dosa kami, agar kami dapat membangun hubungan yang penuh kasih dengan-Mu dan sesama.
Allah dapat membersihkan hati kita dari dosa yang merusak kedekatan kita dengan-Nya dan hubungan kita dengan sesama.

Sunday, July 2, 2017

Mengambil Jalan Pintas

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. —Lukas 9:23
Mengambil Jalan Pintas
Sembari menghirup teh, Nancy menatap keluar jendela rumah temannya dan menghela napas. Hujan musim semi dan sinar mentari telah berpadu menghasilkan hamparan bunga yang berwarna-warni dan indah dalam taman yang terawat baik. “Andai aku punya taman seperti itu tanpa perlu merawatnya,” kata Nancy.
Terkadang jalan pintas itu baik dan praktis. Namun, ada jalan pintas yang bisa mematahkan semangat dan melemahkan kepekaan kita. Contohnya, kita mengingini cinta tetapi enggan menghadapi kesulitan dan kerumitan yang datang dari perbedaan kita dengan pasangan. Kita ingin sukses tetapi tidak mau menerima risiko dan kegagalan yang biasa terjadi dalam kehidupan ini. Kita ingin menyenangkan Allah, sepanjang itu tidak membuat kita susah.
Yesus jelas menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa tak ada jalan pintas untuk menghindari pilihan sulit yang menyertai penyerahan hidup kita kepada-Nya. Dia memperingatkan, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62). Mengikut Kristus menuntut kita untuk sepenuhnya loyal kepada-Nya.
Saat percaya kepada Yesus, kita menerima tugas baru. Namun, tugas itu layak untuk kita lakukan karena Dia juga mengatakan kepada kita bahwa setiap orang yang menyerahkan segalanya “karena Aku dan karena Injil . . . pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat . . . dan pada zaman yang akan datang . . . akan menerima hidup yang kekal” (Mrk. 10:29-30). Mengikut Kristus memang sulit, tetapi Dia telah memberi kita Roh-Nya, dan kita pun menerima upah berupa hidup yang berlimpah dengan sukacita sekarang dan selamanya. —Tim Gustafson
Bapa, kekuatan untuk melakukan tugas dari-Mu akan kuterima ketika aku bergantung pada Roh Kudus-Mu. Tolong aku untuk mengingat hal itu hari ini.
Tugas yang layak untuk dilakukan itu biasanya adalah pekerjaan yang sulit.

Saturday, July 1, 2017

Membersihkan Rumah

Buanglah dari dirimu segala yang jahat; jangan lagi berdusta, dan jangan berpura-pura. Jangan iri hati, dan jangan menghina orang lain. —1 Petrus 2:1 BIS
Membersihkan Rumah
Baru-baru ini, saya pindah dari satu kamar ke kamar lain di rumah yang saya sewa. Ternyata dibutuhkan waktu lebih lama dari yang saya perkirakan karena saya tidak ingin kamar baru saya berantakan seperti kamar yang lama. Saya ingin awal yang serba rapi dan segar. Setelah berjam-jam membersihkan dan memilah barang, saya menaruh beberapa kantong di pintu depan berisi barang-barang yang akan dibuang, didonasikan, atau didaur ulang. Namun, akhir dari proses yang melelahkan itu adalah kamar bersih yang membuat saya betah di dalamnya.
Usaha pembersihan kamar itu memberi saya pencerahan baru saat membaca kembali 1 Petrus 2:1 (BIS), “Sebab itu, buanglah dari dirimu segala yang jahat; jangan lagi berdusta, dan jangan berpura-pura. Jangan iri hati, dan jangan menghina orang lain.” Yang menarik, baru setelah mengungkapkan sukacita atas hidup mereka yang baru di dalam Kristus (1:1-12), mereka diperintahkan Petrus untuk membuang segala kebiasaan yang buruk (1:13-2:3). Saat perjalanan kita bersama Tuhan terasa berat dan kasih kita kepada sesama menjadi dingin, janganlah itu membuat kita mempertanyakan keselamatan kita. Kita tidak berubah demi diselamatkan, tetapi justru karena kita telah diselamatkan (1:23).
Memang, kita telah menjalani hidup baru di dalam Kristus, tetapi kebiasaan-kebiasaan buruk kita tidak hilang begitu saja. Karena itu, setiap hari kita perlu membuang semua yang menghalangi kita untuk sepenuhnya mengasihi sesama (1:22) dan bertumbuh (2:2). Lalu, setelah diperbarui dan dibersihkan, kita dapat mengalami keindahan dari pembangunan kembali yang dikerjakan Kristus lewat kuasa dan kehidupan-Nya (2:5). —Monica Brands
Bapa Surgawi, terima kasih untuk hidup baru yang Engkau bangun dalam diri kami melalui Tuhan Yesus Kristus. Tolonglah kami untuk datang kepada-Mu setiap hari agar senantiasa dibersihkan dan dibarui.
Tiap hari, tolaklah kebiasaan buruk dan alamilah hidup baru dalam Yesus.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate