Pages - Menu

Monday, November 23, 2015

Suara Keheningan

Perkataan orang yang baik, merupakan berkat bagi banyak orang; —Amsal 10:21 BIS
Suara Keheningan
Baru-baru ini seorang teman menyebutkan pepatah lama yang berbunyi, “Air beriak tanda tak dalam”. Ia bermaksud mengatakan bahwa dari pengamatannya, seseorang yang banyak bicara biasanya justru isi perkataannya kurang berbobot. Masalahnya diperparah ketika kita juga tidak mendengarkan orang lain dengan baik. Saya teringat pada lirik lagu lama dari Simon dan Garfunkel berjudul Sounds of Silence (Suara Keheningan). Lagu itu berbicara tentang seseorang yang mendengar, tetapi tak menyimak. Mereka mendengar orang lain berbicara tetapi gagal menenangkan pikiran mereka sendiri agar dapat menyimak dengan baik. Alangkah baiknya apabila kita semua belajar untuk berdiam diri.
“Ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara” (Pkh. 3:7). Sikap berdiam diri yang baik adalah diam untuk mendengarkan, berdiam diri dengan rendah hati. Sikap itu membuat kita dapat mendengarkan dengan benar, memahami dengan benar, dan berkata-kata dengan benar. “Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam,” kata Amsal, “tetapi orang yang pandai tahu menimbanya” (Ams. 20:5). Dibutuhkan kerelaan yang besar untuk mendengar dengan tekun agar seseorang dapat menyelami isi hati orang lain.
Sementara kita mendengarkan orang lain, kita juga perlu mendengarkan Allah dan menyimak firman-Nya. Saya terpikir tentang Yesus, yang menulis dengan jari-Nya di tanah sementara orang Farisi membawa perempuan yang tertangkap berzina (lihat Yoh. 8:1-11). Apa yang sedang Yesus lakukan? Menurut saya, Yesus mungkin sedang mendengarkan suara Bapa-Nya dan bertanya, “Apa yang sebaiknya Kita katakan pada kerumunan orang dan perempuan ini?” Tanggapan luar biasa yang diberikan Yesus masih berpengaruh hingga hari ini. —David Roper
Ya Bapa, kiranya hari ini Roh-Mu mengingatkan kami untuk berdiam diri sehingga kami bisa mendengar suara-Mu lebih dulu, lalu mengerti isi hati orang lain. Ajar kami untuk tahu waktunya untuk berbicara atau berdiam diri.
Berdiam diri di saat yang tepat lebih berbicara banyak daripada kata-kata.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate