Pages - Menu

Sunday, December 6, 2015

Lahirnya Natal

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya. —Matius 1:24
Lahirnya Natal
Ketika malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria dan kemudian kepada para gembala untuk menyampaikan kabar baik bagi dunia (Luk. 1:26-27; 2:10), apakah itu benar-benar kabar baik bagi Maria yang masih remaja itu? Mungkin Maria berpikir: Bagaimana aku akan menjelaskan kehamilanku pada keluargaku? Akankah tunanganku, Yusuf, membatalkan pertunangan kami? Apa yang akan dikatakan orang-orang di desaku? Walaupun hidupku tidak terancam, bagaimana aku akan bertahan hidup sendirian sebagai seorang ibu?
Ketika Yusuf mendengar tentang kehamilan Maria, ia pun cemas. Ia mempunyai tiga pilihan. Melanjutkan rencana pernikahan, menceraikan Maria di muka umum dan membiarkannya dicemooh, atau membatalkan pertunangan mereka secara diam-diam. Yusuf memilih alternatif ketiga, tetapi kemudian Allah ikut campur tangan. Dia menyatakan kepada Yusuf dalam suatu mimpi, “Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20).
Bagi Maria dan Yusuf, Natal diawali dengan penyerahan diri mereka kepada Allah, walaupun pergulatan emosional yang tak terbayangkan akan menghadang mereka. Mereka mempercayakan diri mereka kepada Allah dan dengan berbuat demikian membuktikan kepada kita janji dalam 1 Yohanes 2:5, “Barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah.”
Kiranya kasih Allah memenuhi hati kita di masa Natal ini—dan di setiap hari—ketika kita taat berjalan bersama-Nya. —Albert Lee
Penuhi hatiku, ya Tuhan, dengan sukacita karena kasih karunia dan pengampunan-Mu yang tercurah melalui Anak-Mu Yesus.
Ketaatan kepada Allah mengalir leluasa dari hati yang mengasihi.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate