Pages - Menu

Saturday, March 26, 2016

Tidak akan Pernah Ditinggalkan

Berserulah Yesus dengan suara nyaring: . . . Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? —Matius 27:46
Tidak akan Pernah Ditinggalkan
Penulis asal Rusia, Fyodor Dostoyevsky, pernah berkata, “Tingkat peradaban suatu masyarakat dapat dinilai dengan melihat isi penjaranya.” Sambil mengingat pernyataan itu, saya membaca sebuah artikel di dunia maya yang mengupas tentang “8 Penjara Paling Mematikan di Dunia”. Dalam salah satu penjara yang disebutkan, setiap tahanannya dikurung dalam sel isolasi.
Manusia dimaksudkan untuk menjalani hidup dan berhubungan dengan sesamanya dalam suatu komunitas, bukan dalam isolasi. Alasan itulah yang membuat sel isolasi menjadi hukuman yang sangat berat.
Isolasi adalah bentuk penderitaan yang ditanggung Kristus pada saat hubungan-Nya yang kekal dengan Bapa-Nya terputus di kayu salib. Kita mendengarnya dalam seruan Yesus yang tertulis di Matius 27:46: “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ketika Yesus menderita dan mati dengan menanggung beban dosa-dosa kita, tiba-tiba saja Dia ditinggalkan sendirian, terisolasi, dan terputus dari hubungan-Nya dengan Bapa. Namun isolasi yang diderita-Nya itu telah memberi kita jaminan dari janji Bapa: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5).
Kristus telah menanggung penderitaan dan diabaikan di kayu salib demi kita, agar kita tidak pernah dibiarkan sendirian atau diabaikan oleh Allah kita selamanya. —Bill Crowder
Bapa, terima kasih Engkau telah membuka jalan bagiku untuk menjadi anak-Mu. Selamanya aku bersyukur untuk harga yang dibayar Yesus agar hubungan itu dapat terjalin. Terima kasih karena Engkau berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku.
Semua yang mengenal Yesus tidak pernah dibiarkan sendirian.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Translate