Pages - Menu

Wednesday, July 5, 2017

Bolehkah Aku Mengatakannya?

Bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah. —Kejadian 45:8
Bolehkah Aku Mengatakannya?
“Anggapan adanya anak kesayangan adalah salah satu pemicu terbesar timbulnya perseteruan antar saudara kandung,” kata Dr. Barbara Howard, seorang dokter anak spesialis perkembangan perilaku (artikel “When Parents Have a Favorite Child” di nytimes.com). Contoh anak kesayangan di Perjanjian Lama adalah Yusuf. Sikap ayahnya itu membuat kakak-kakak Yusuf marah (Kej. 37:3-4). Akibatnya, mereka menjual Yusuf kepada para pedagang yang sedang menuju ke Mesir. Mereka juga merekayasa agar tampaknya binatang buaslah yang membunuh Yusuf (37:12-36). Mimpi Yusuf pun hancur dan masa depannya seolah tanpa harapan.
Namun, di sepanjang perjalanan hidupnya, Yusuf memilih untuk mempercayai Allah sepenuhnya dan mengandalkanNya bahkan ketika imannya seakan membuat keadaannya memburuk. Setelah difitnah oleh istri majikannya dan dipenjara karena sesuatu yang tidak dilakukannya, Yusuf bergumul dengan ketidakadilan yang dialaminya, tetapi ia terus mempercayai Tuhan.
Bertahun-tahun kemudian saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli gandum pada masa kelaparan. Mereka menjadi takut saat mengetahui bahwa adik yang dahulu mereka benci kini telah menjadi Perdana Menteri di Mesir. Namun, Yusuf mengatakan kepada mereka, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan jangan menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu . . . . Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (Kej. 45:5,8).
Tutur kata yang baik dari Yusuf membuat saya berpikir. Jika saya berada dalam posisinya, apakah saya akan membalas dendam, atau justru menunjukkan kasih karena hati saya mempercayai Tuhan sepenuhnya? —David McCasland
Bapa, berilah kami iman untuk mempercayai-Mu hari ini dan kemampuan untuk melihat karya tangan-Mu yang baik di sepanjang hidup kami.
Dalam masa-masa hidup yang terkelam sekalipun, hanya dengan mata imanlah kita dapat melihat tangan Allah yang penuh kasih.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate