Pages - Menu

Monday, October 9, 2017

Dari Cacing Sampai Perang

Berfirmanlah Tuhan kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” —Hakim-Hakim 6:23
Dari Cacing Sampai Perang
Inilah pertama kalinya Cleo yang berusia sepuluh tahun memancing ikan. Ketika melihat wadah yang berisi umpan, ia terlihat ragu untuk memulainya. Akhirnya, ia berseru kepada suami saya, “Tolong, Kek!” Ketika suami saya menanyakan masalahnya, Cleo menjawab dengan terbata-bata, “Aku . . . aku . . . aku takut cacing!” Ketakutan Cleo membuatnya tidak mampu berbuat apa-apa.
Ketakutan juga dapat melumpuhkan orang dewasa. Gideon tentu merasa ketakutan ketika malaikat Tuhan mendatanginya di saat ia sedang mengirik gandum secara diam-diam, karena bersembunyi dari orang Midian musuh bangsa Israel (Hak. 6:11). Sang malaikat berkata bahwa Gideon telah dipilih Allah untuk memimpin umat-Nya berperang (ay.12-14).
Apa reaksi Gideon? “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku” (ay.15). Meskipun telah diyakinkan oleh kehadiran Tuhan, Gideon masih juga merasa takut dan meminta tanda yang membuktikan bahwa ia memang akan dipakai Allah untuk menyelamatkan Israel seperti yang dijanjikan-Nya (ay.36-40). Allah pun memenuhi permintaan Gideon. Bangsa Israel berhasil memenangi peperangan itu dan kemudian menikmati kedamaian selama 40 tahun.
Kita semua memiliki beragam ketakutan—dari takut cacing sampai takut perang. Cerita Gideon mengajarkan bahwa kita dapat meyakini satu hal: Jika Allah memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu, Dia akan memberi kita kekuatan dan kesanggupan untuk melakukannya. —Anne Cetas
Tuhan, terima kasih untuk kepastian bahwa Engkau selalu menyertai kami.
Untuk mengenyahkan ketakutan dalam hidup, berimanlah kepada Allah yang hidup.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate