Pages - Menu

Sunday, May 12, 2019

Kasih Takkan Berhenti

Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. —Lukas 15:6
Kasih Takkan Berhenti
Saat saya berumur 19, bertahun-tahun sebelum memiliki pager ataupun ponsel, saya pindah ke satu wilayah yang berjarak 1.000 kilometer lebih dari rumah ibu saya. Suatu hari, saya berangkat pagi-pagi sekali untuk suatu keperluan, hingga lupa kalau saya sudah berjanji akan menelepon ibu saya. Malam itu, 2 petugas polisi datang ke rumah. Ternyata ibu saya khawatir karena sebelumnya saya tidak pernah lupa dengan janji saya. Setelah menelepon berkali-kali dan mendengar nada sibuk, ibu saya meminta polisi mengecek kondisi saya. Salah seorang polisi itu berkata kepada saya, “Anda sungguh diberkati karena kasih ibu takkan berhenti mencari sampai Anda ditemukan.”
Saat mengangkat telepon untuk menghubungi ibu saya, saya baru sadar rupanya gagang telepon tidak diletakkan dengan benar di atas perangkatnya. Sesudah saya meminta maaf, ibu saya berkata ia harus menyebarkan kabar baik tentang saya yang ditemukan kembali kepada keluarga dan teman-temannya. Saya merasa ibu saya agak sedikit berlebihan, walaupun saya merasa senang karena disayang begitu rupa.
Kitab Suci memberikan gambaran indah tentang Allah, Sang Kasih, yang tanpa henti memanggil anak-anaknya yang terhilang. Seperti gembala yang baik, Dia mempedulikan dan mencari setiap domba yang hilang, dan dengan itu menegaskan bahwa setiap anak Allah sungguh tak ternilai di hadapan-Nya (Luk. 15:1-7).
Kasih takkan berhenti mencari kita. Dia akan selalu mencari kita sampai kita kembali kepada-Nya. Kita juga dapat berdoa untuk mereka yang perlu mengetahui bahwa Kasih—Allah itu sendiri—tidak akan pernah berhenti mencari mereka. —Xochitl Dixon
WAWASAN

Perumpamaan ini (Lukas 15:1-7) adalah yang pertama dalam rangkaian perumpamaan tentang kehilangan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan perumpamaan terkenal tentang anak bungsu yang hilang (ay.11-32). Yang membuat Yesus menceritakan kisah-kisah ini adalah gerutuan “orang Farisi dan ahli-ahli Taurat”—para pemimpin agama. Kita lekas sekali menghakimi para pemimpin yang merasa dirinya benar itu, tetapi mungkin kita perlu berhenti sejenak dan memikirkan alasan kejengkelan mereka. Para pemuka itu kesal karena Yesus menerima “para pemungut cukai dan orang-orang berdosa” (ay.1-2) yang bahkan tidak berupaya hidup menenuhi standar yang ditetapkan oleh kalangan elit agama bagi mereka. Para pemungut cukai misalnya, mereka memeras sesama orang Ibrani, memanfaatkan kekuasaan penjajah Romawi demi mendapat uang dari bangsa mereka sendiri. Yesus memandang orang-orang itu bukan sebagai kaum pengacau yang perlu dihindari, melainkan sebagai “domba yang hilang,” berharga dan perlu diselamatkan. —Tim Gustafson
Bagaimana rasanya mengetahui bahwa Allah selalu mencari Anda karena kasih-Nya? Bagaimana Dia memakai Anda untuk membawa kasih-Nya kepada orang lain?
Tuhan, terima kasih karena Engkau terus mencari kami dan menyediakan tempat perlindungan yang aman bagi kami yang kembali ke pelukan-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate