Pages - Menu

Saturday, June 1, 2019

Objek dalam Cermin

[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.—Filipi 3:14
Objek dalam Cermin
“Harus. Lari. Lebih cepat.” Begitulah ucapan legendaris Dr. Ian Malcolm, diperankan oleh Jeff Goldblum, dalam adegan film Jurassic Park keluaran tahun 1993 saat ia dan dua rekannya melarikan diri dari amukan tiranosaurus dengan mengendarai sebuah mobil jip. Ketika pengemudi melihat ke belakang dari kaca spion, rahang dari reptil raksasa itu terlihat tepat di atas kata-kata: “OBJEK DALAM CERMIN MUNGKIN LEBIH DEKAT DARIPADA YANG TERLIHAT.”
Adegan tersebut sukses memadukan ketegangan dengan rasa humor. Namun, adakalanya kita memang merasa bahwa “raksasa-raksasa” dari masa lalu seakan terus mengejar kita. Kita melihat dalam “cermin” kehidupan dan kesalahan demi kesalahan masa lalu terlihat begitu menjulang, hendak menelan kita dengan rasa bersalah atau malu.
Rasul Paulus mengerti bagaimana masa lalu mempunyai potensi untuk melemahkan kita. Selama bertahun-tahun ia pernah mencoba hidup tanpa Kristus sama sekali, bahkan menganiaya umat Kristen (Flp. 3:1-9). Penyesalan akan masa lalu bisa saja melemahkan dirinya.
Namun, Paulus menemukan keindahan dan kekuatan dalam hubungannya dengan Kristus sehingga ia terdorong untuk melepaskan hidup lamanya (ay.8-9). Ia pun terbebas untuk memandang ke depan dan tidak lagi menoleh ke belakang dalam ketakutan atau penyesalan: “Ini yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan” (ay.13-14).
Penebusan kita dalam Kristus telah membebaskan kita untuk hidup bagi-Nya. Kita tidak perlu membiarkan “objek dalam cermin” mendikte arah langkah kita untuk maju. —Adam Holz
WAWASAN
Dalam Filipi 3:13, Paulus berkomitmen, “Ini yang kulakukan. . .” Ada tiga hal yang kemudian disebutkannya, dan setiap poin memiliki makna penting. Pertama, Paulus hendak “melupakan apa yang telah di belakang.” Hal ini mungkin merujuk pada hal-hal yang membuatnya “menaruh percaya pada hal-hal lahiriah” di masa lalu (ay.4-6) karena dahulu ia menghidupi Yudaisme dengan sekuat tenaga. Kedua, Paulus “mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapan[nya].” Ia tidak menjelaskan maksudnya, tetapi pernyataan ini sejalan dengan Filipi 1:21, yaitu bahwa “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Terakhir, ia berkomitmen untuk “berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah” (3:14)—analogi ini mengacu pada hadiah yang diterima oleh pemenang dalam lomba atletik Yunani. Secara keseluruhan, tujuan akhir Paulus adalah menyelesaikan semua panggilannya dalam Kristus. —Bill Crowder
Bagaimana pemahaman Paulus tentang pengampunan Yesus bagi kita menolongmu mengatasi pergumulan soal masa lalu kamu? Bila kamu bergumul dengan konsekuensi dari keputusan di masa lalu, kepada siapa kamu meminta tolong agar dapat terus melangkah maju?

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate