Pages - Menu

Tuesday, July 23, 2019

Mata di Belakang Kepala

Dari tempat kediaman-Nya [Allah] menilik semua penduduk bumi. —Mazmur 33:14
Mata di Belakang Kepala
Semasa kecil, seperti lazimnya anak-anak lain yang seusia, saya sering nakal dan berusaha menyembunyikan kenakalan itu agar tidak dimarahi. Namun, ibu saya biasanya langsung tahu apa yang telah saya perbuat. Saya ingat betapa kagumnya saya kepadanya karena dengan cepat ia mengetahui ulah saya. Ketika saya heran dan bertanya bagaimana ia bisa tahu, ibu saya selalu menjawab, “Ibu punya mata di belakang kepala.” Tentu saja, jawaban itu membuat saya penasaran dan mengamati kepala ibu saya setiap kali ia berbalik membelakangi saya. Saya bertanya-tanya, apakah matanya tidak terlihat atau tertutup oleh rambut merahnya? Setelah besar, saya berhenti mencari bukti sepasang mata tambahan ibu saya sembari menyadari bahwa ternyata saya memang tidak selihai yang saya kira. Pengamatan ibu saya yang jeli menjadi bukti kasih dan perhatiannya kepada anak-anaknya.
Walaupun sangat mensyukuri perhatian ibu saya (meskipun kadang-kadang kecewa karena ulah nakal saya selalu ketahuan), saya jauh lebih bersyukur kepada Allah karena Dia “melihat semua anak manusia” pada saat memandang kita dari surga (Mzm. 33:13). Dia tidak hanya melihat perbuatan kita; tetapi lebih daripada itu, Dia melihat kesedihan kita, sukacita kita, dan kasih kita kepada satu sama lain.
Allah melihat karakter kita yang sejati dan selalu mengetahui dengan tepat apa yang kita perlukan. Dengan pandangan-Nya yang sempurna, yang melihat jauh sampai ke kedalaman hati kita, mata Allah tertuju kepada mereka yang mengasihi-Nya dan yang berharap penuh kepada-Nya (ay.18). Dialah Bapa kita yang penuh perhatian dan kasih setia. —Kirsten Holmberg
WAWASAN
Paralelisme adalah teknik sastra yang berupa pengulangan—baik kalimat senada maupun yang bertentangan—untuk menekankan atau memperjelas pesan yang hendak disampaikan. Dalam Mazmur 33, penulis memakai teknik sastra puisi Ibrani ini untuk menegaskan kuasa dan kepedulian Tuhan pada umat-Nya. Dalam ayat 6, Firman Allah sebagai Pencipta digambarkan dengan istilah yang sama yaitu “firman TUHAN” dan “nafas dari mulut-Nya.” “Surga” dan “tentaranya” juga merupakan istilah dengan pengertian serupa. Paralelisme juga membantu untuk mengetahui makna suatu ungkapan, misalnya: ”Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!” (ay. 8). Dalam ayat ini, jelas bahwa yang dimaksud dengan “takut akan Tuhan” adalah menghormati-Nya dan “gentar terhadap Dia.” —Arthur Jackson
Apakah kamu terhibur karena mengetahui bahwa Allah melihat segala sesuatu dan selalu memperhatikanmu? Apa yang sedang dikerjakan-Nya untuk membentuk karaktermu belakangan ini?
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau senantiasa memperhatikan umat-Mu dan selalu mengetahui apa yang terjadi di dunia dan di dalam hidupku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate