Pages - Menu

Saturday, August 3, 2019

Demi Kasih atau Uang

Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu. —Lukas 12:15
Demi Kasih atau Uang
Oscar Wilde, penyair asal Irlandia pernah berkata, “Waktu saya muda, saya pikir uanglah yang terpenting dalam hidup; sekarang setelah saya tua, saya tahu bahwa itu memang benar.” Ia mengatakan itu sebagai guyonan, sementara ia sendiri hanya hidup sampai umur empat puluh enam tahun, jadi belum benar-benar “tua”. Wilde mengerti sepenuhnya bahwa hidup bukanlah soal uang semata-mata.
Uang hanya bersifat sementara, sesuatu yang bisa datang dan pergi. Oleh karena itu, kehidupan ini harus lebih daripada hanya soal uang dan apa yang bisa dibeli olehnya. Yesus menantang orang-orang sezaman-Nya—kaya maupun miskin—untuk mengatur ulang sistem nilai yang mereka anut. Dalam Lukas 12:15, Yesus berkata, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Dalam budaya kita yang selalu mengejar lebih banyak, lebih baru, lebih bagus, ada berkat tersendiri ketika kita memiliki kepuasan batin dan sudut pandang yang benar terhadap uang dan harta benda.
Setelah bertemu dengan Yesus, seorang pemimpin muda yang kaya pergi dengan hati sedih, sebab ia tidak rela melepaskan harta bendanya yang banyak (lihat Luk. 18:18-25). Sebaliknya, Zakheus si pemungut cukai melepaskan dengan rela sebagian besar harta yang telah ia kumpulkan sepanjang hidupnya (Luk. 19:8). Perbedaannya terletak pada sikap mereka dalam memahami hati Kristus. Oleh anugerah-Nya, kita pun dapat memiliki sudut pandang yang benar terhadap harta benda yang kita miliki agar semua itu tidak berbalik menguasai kita. —Bill Crowder
WAWASAN
Sebagai kepala pemungut cukai, Zakheus adalah orang kaya (Lukas 19:2). Dalam dunia Perjanjian Baru, para pemungut cukai dianggap “orang berdosa” (ay.7) dan sangat dibenci oleh masyarakat karena banyak dari mereka menjadi kaya dengan cara mencurangi orang lain. Tawaran Zakheus untuk memberikan setengah dari harta miliknya kepada yang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang ia peras (ay.8) membuktikan bahwa hatinya sungguh telah berubah. Hal ini menunjukkan apa yang ia rela serahkan demi Yesus. Kristus pun menghargai Zakheus di depan orang banyak dengan menyebutnya “anak Abraham,” menyatakan keselamatan baginya dan keluarganya (ay.9). Zakheus terhilang, tetapi ia ditemukan dan diselamatkan oleh Anak Manusia (ay.10). —Julie Schwab
Apa yang tidak bisa kamu lepaskan dalam hidup ini? Mengapa demikian? Apakah hal tersebut sesuatu yang bersifat kekal atau hanya sementara?
Bapa, berilah hikmat-Mu agar aku memiliki sudut pandang yang benar terhadap harta benda dan sistem nilai yang mencerminkan kekekalan.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate