Pages - Menu

Tuesday, September 3, 2019

Awas, Licin!

Jangan condongkan hatiku kepada yang jahat. —Mazmur 141:4
Awas, Licin!
Bertahun-tahun lalu, saat sedang belajar bermain ski, saya mengikuti anak saya, Josh, menuruni lereng yang kelihatannya landai. Karena mata saya hanya tertuju kepadanya, saya tidak memperhatikan bahwa ia sedang menuruni bukit yang paling curam di gunung itu. Karena kaget dan tidak siap, saya pun meluncur tak terkendali di lereng curam tersebut dan jatuh hingga jungkir balik.
Mazmur 141 menunjukkan bagaimana kita bisa dengan mudahnya tergelincir ke dalam dosa. Doa menjadi salah satu cara untuk tetap waspada terhadap ancaman dosa: “Jangan condongkan hatiku kepada yang jahat” (ay.4) merupakan permohonan yang hampir mirip dengan sebaris kalimat dalam Doa Bapa Kami: “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” (Mat. 6:13). Karena kebaikan-Nya, Allah mendengar dan menjawab doa tersebut.
Dalam Mazmur ini saya juga menemukan saluran anugerah yang lain: teman yang setia. “Jika seorang baik menegur aku, dan dengan tulus menghajar aku, itu seperti minyak yang paling baik bagiku. Semoga aku tidak menolaknya” (Mzm. 141:5 BIS). Godaan bisa datang dengan halus. Kita tidak selalu menyadari bahwa kita sudah menyimpang. Teman yang sejati dapat bersikap objektif. ”Seorang kawan memukul dengan maksud baik” (Ams. 27:6). Menerima teguran memang tidak mudah, tetapi bila kita melihatnya sebagai suatu kebaikan, hal itu dapat menjadi dorongan yang membuat kita berbalik kepada jalan ketaatan.
Kiranya kita mau terbuka menerima teguran dari seorang teman yang terpercaya dan bergantung kepada Allah dalam doa. —David H. Roper
WAWASAN
Setiap kita tentu pernah mengalami perasaan seperti yang diungkapkan dalam doa Daud, “Lindungilah aku terhadap katupan jerat yang mereka pasang terhadap aku, dan dari perangkap orang-orang yang melakukan kejahatan” (Mazmur 141:9). Namun, kita juga perlu meminta perlindungan dari diri sendiri, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (ay.3). Daud mungkin sedang melarikan diri dari Raja Saul ketika ia menulis mazmur ini, sebab kata-katanya yang menyatakan pengendalian diri sesuai dengan situasi dan sikapnya terhadap Saul. Daud tidak mau mencelakakan “orang yang diurapi TUHAN” meskipun ia berkesempatan melakukannya (1 Samuel 24:2-8; 26:7-24). Ia tahu betul godaan untuk mengucapkan sesuatu yang menghasut atau mengikuti “nasihat” untuk membunuh Saul (26:8). Barangkali itulah yang Daud maksudkan dengan apa “yang jahat” (Mazmur 141:4) yang ingin dihindarinya. Daud menghendaki keadilan, tetapi ia berserah kepada Allah. —Tim Gustafson
Hal apa saja yang mengancam untuk membuatmu tergelincir ke dalam dosa? Bagaimana kamu dapat menjaga hatimu dari ancaman tersebut?
Ya Bapa, jagalah kakiku agar tidak tergelincir ke dalam dosa. Tolonglah aku untuk mendengarkan suara-Mu dan nasihat dari teman-teman baikku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate