Pages - Menu

Thursday, October 17, 2019

Kebenaran itu Pahit atau Manis?

Lalu aku memakan-nya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku. —Yehezkiel 3:3
Kebenaran itu Pahit atau Manis?
Di hidung saya sempat muncul bintik dan saya membiarkannya selama beberapa waktu sebelum akhirnya memeriksakannya ke dokter. Hasil biopsi yang diterima beberapa hari kemudian memberikan kesimpulan yang tidak ingin saya dengar: kanker kulit. Meskipun kanker itu bisa diangkat dan tidak mematikan, tetap saja kenyataan itu bagaikan pil pahit yang harus ditelan.
Allah memerintahkan Yehezkiel untuk menelan pil pahit, yakni gulungan kitab berisi nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah, dan rintihan (Yeh. 2:10; 3:1-2). Perintah-Nya kepada Yehezkiel, “Isilah perutmu dengan itu” (3:3), dan ia harus menyampaikan perkataan-perkataan Allah kepada bangsa Israel yang “keras kepala dan tegar hati” (2:4). Gulungan kitab yang berisi teguran kemungkinan besar terasa bagaikan pil pahit. Namun, Yehezkiel justru menyebutkan rasanya “manis seperti madu” dalam mulutnya (3:3).
Yehezkiel tampaknya mulai memahami teguran Allah. Alih-alih menganggap teguran-Nya sebagai sesuatu yang harus dihindari, Yehezkiel menyadari bahwa sesuatu yang berguna bagi jiwa pastilah “manis”. Allah mengajar dan mengoreksi kita dengan penuh kasih sayang, menolong kita agar hidup dengan cara yang memuliakan dan menyenangkan Dia.
Sejumlah kebenaran terasa bagai pil pahit yang harus kita telan, tetapi ada juga yang terasa manis. Jika kita ingat betapa Allah sangat mengasihi kita, kebenaran-Nya akan terasa seperti madu. Firman-Nya diberikan untuk kebaikan kita, memberi kita hikmat dan kekuatan untuk mengampuni orang lain, menahan diri untuk tidak bergosip, dan tetap tabah meski diperlakukan tidak baik. Tolonglah kami, ya Allah, untuk mengenali hikmat-Mu sebagai nasihat yang manis! —Kirsten Holmberg
WAWASAN
Yehezkiel bukanlah satu-satunya nabi yang pernah diperintahkan Allah untuk memakan “gulungan kitab” ratapan dan penghakiman (2:9-3:3). Rasul Yohanes di Pulau Patmos juga disuruh memakan sebuah gulungan kitab. Karena Yohanes menubuatkan penghakiman berat dan kesengsaraan besar atas umat Allah, gulungan kitab itu “membuat perut [Yohanes] terasa pahit” (Wahyu 10:9). Kendati demikian, karena itu adalah firman Allah, “di dalam mulut [Yohanes] ia terasa manis seperti madu” (ay.10), sama seperti kesaksian orang-orang yang mengasihi Allah: Firman-Nya “lebih indah dari pada emas . . . dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mazmur 19:10). —K.T. Sim
Kebenaran apa yang Allah tunjukkan kepada kamu baru-baru ini? Bagaimana kamu menerimanya? Sebagai pil pahit atau madu yang manis?
Kebenaran Allah itu manis.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate