Pages - Menu

Tuesday, October 8, 2019

Perlindungan dari Badai

Apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku sampai Aku berjalan lewat. —Keluaran 33:22
Perlindungan dari Badai
Konon, pada tahun 1763, seorang pendeta muda yang sedang menyusuri jalan setapak di bibir tebing di Somerset, Inggris, harus menyusup ke sebuah gua untuk menyelamatkan diri dari sambaran petir dan hujan yang sangat deras. Saat memandang ke arah Ngarai Cheddar, ia merenungkan anugerah perlindungan dan damai sejahtera yang dimilikinya di dalam Tuhan. Sambil menunggu badai reda, ia pun menuliskan himne berjudul “Batu Karang yang Teguh”, dengan lirik pembuka yang begitu lekat dalam ingatan: “Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh” (Kidung Jemaat No. 37).
Kita tidak tahu apakah Augustus Toplady terpikir tentang pengalaman Musa di dalam lekuk gunung ketika ia menuliskan himne tersebut (Kel. 33:22). Bukan tidak mungkin itu yang terjadi. Kitab Keluaran menceritakan bagaimana Musa meminta jaminan dan jawaban dari Allah. Ketika Musa meminta Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepadanya, Allah menanggapinya dengan lembut, karena Dia tahu bahwa “tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (ay.20). Allah menempatkan Musa dalam lekuk gunung ketika Dia lewat, sehingga Musa hanya melihat punggung-Nya. Musa pun tahu bahwa Allah menyertainya.
Kita dapat meyakini bahwa, seperti yang dikatakan Allah kepada Musa, “Aku sendiri hendak membimbing engkau” (ay.14), kita juga akan memperoleh perlindungan di dalam Dia. Mungkin kita akan mengalami banyak badai dalam hidup kita, seperti yang dialami Musa dan pendeta muda dalam cerita di atas, tetapi saat kita berseru kepada-Nya, Dia akan memberikan kita damai sejahtera dari kehadiran-Nya. —Amy Boucher Pye
WAWASAN
Musa memiliki hubungan yang istimewa dengan Allah. Dalam Keluaran 33:11 tertulis, “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Namun, pada ayat 20 Allah berfirman kepadanya, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Interaksi antara Musa dengan Allah adalah begitu akrab tetapi tetap ada pemisahan antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Melalui kelahiran-Nya (kedatangan Kristus ke dunia sebagai Allah dan manusia), Yesus menjembatani jarak tersebut. Sang Pencipta menjadi ciptaan sehingga kita bisa kembali memiliki persekutuan dengan-Nya. —J.R. Hudberg
Saat kamu melihat kembali berbagai pengalaman hidupmu, apakah kamu melihat kehadiran Allah yang penuh kasih di tengah badai kehidupan yang terjadi? Bagaimana kamu telah mengalami kehadiran-Nya hari ini?
Allah Bapa, tolonglah aku untuk selalu percaya bahwa Engkau menyertaiku, bahkan di tengah badai hidup yang kualami.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate