Pages - Menu

Friday, November 1, 2019

Pintu Perdamaian

Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami. —2 Korintus 5:18
Pintu Perdamaian
Di Katedral St. Patrick di Dublin, Irlandia, ada sebuah pintu yang menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi lima abad lalu. Pada tahun 1492, keluarga Butler dan FitzGerald bertengkar memperebutkan sebuah jabatan di daerah tersebut. Pertengkaran mereka semakin sengit, hingga membuat keluarga Butler mengungsi ke katedral tadi. Ketika keluarga FitzGerald datang untuk meminta perdamaian, keluarga Butler takut untuk membuka pintu. Akhirnya keluarga FitzGerald membuat lubang pada pintu dan pemimpinnya mengulurkan tangan ke dalam sebagai tanda perdamaian. Kedua keluarga itu pun berdamai, dari musuh menjadi teman.
Allah mempunyai pintu perdamaian yang ditulis Rasul Paulus dengan bersemangat dalam surat kepada jemaat di Korintus. Atas inisiatif-Nya dan karena kasih-Nya yang tak terbatas, Allah memulihkan hubungan yang rusak dengan manusia lewat kematian Kristus di kayu salib. Kita pernah jauh dari Allah, tetapi dalam belas kasih-Nya, Dia tidak meninggalkan kita. Dia menawarkan perdamaian dengan-Nya—“dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka” (2 Kor. 5:19). Tuntutan keadilan terpenuhi ketika “[Yesus] yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (ay.21).
Setelah kita menerima uluran tangan perdamaian Allah, kita diberi tugas penting untuk membawa pesan perdamaian tersebut kepada orang lain. Kini kita mewakili Allah yang ajaib dan penuh kasih, yang menawarkan pengampunan dan pemulihan penuh kepada setiap orang yang percaya. —Estera Pirosca Escobar
WAWASAN
Kalimat kunci dari nas hari ini terdapat dalam ayat 20, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami.” Tyndale Bible Dictionary mendefinisikan utusan sebagai “pembawa pesan atau duta yang secara resmi mewakili otoritas yang lebih tinggi.” Hal ini menjelaskan bahwa pengertian seorang utusan dalam Perjanjian Lama adalah “pengantar pesan, duta, atau negosiator yang diutus dalam misi khusus sebagai wakil resmi dari sang raja, pemerintah, atau otoritas yang mengutusnya.” Deskripsi ini memberikan latar belakang tentang tantangan yang dihadapi Paulus (dan kita) sebagai utusan Allah bagi dunia. Misi kita adalah menjadi wakil dari otoritas tertinggi di alam semesta—sang Pencipta sendiri—dan menyampaikan pesan atas nama-Nya kepada orang-orang yang kita jumpai. —Bill Crowder
Apa arti perdamaian yang Allah tawarkan bagimu ? Bagaimana cara kamu meneruskan tawaran-Nya kepada mereka yang perlu mendengarnya hari ini?
Ya Allah, terima kasih karena Engkau tidak meninggalkanku tanpa harapan, dan terpisah dari-Mu selamanya. Terima kasih karena pengorbanan Anak-Mu yang terkasih, Yesus, telah membuka jalanku untuk datang kepada-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate