Pages - Menu

Monday, December 9, 2019

Pelita Penuntun Kami

Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku. —2 Samuel 22:29
Pelita Penuntun Kami
Di sebuah museum, saya cukup lama memperhatikan lampu-lampu kuno yang dipamerkan. Keterangan menyebutkan bahwa lampu-lampu itu berasal dari Israel. Wadah-wadah oval yang berukir dan berbahan tanah liat itu memiliki 2 bukaan—satu untuk memasukkan minyak, dan satu lagi untuk sumbu. Meskipun bangsa Israel biasa menaruhnya di ceruk dinding, tetapi lampu-lampu itu cukup kecil untuk bisa digenggam dan dibawa-bawa.
Mungkin pelita kecil seperti itulah yang mengilhami Raja Daud untuk menulis syair pujian yang berkata, “Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku” (2 Sam. 22:29). Daud menyanyikan kata-kata ini setelah Allah memberinya kemenangan dalam pertempuran. Musuh-musuh, baik dari dalam atau pun dari luar bangsanya, telah membuntutinya ke mana-mana dengan maksud untuk membunuhnya. Daud tidak menjadi ciut karena ia dekat kepada Allah. Ia pun menghadapi musuh dengan keyakinan yang datang dari hadirat Allah. Dengan pertolongan Allah, Daud bisa melihat segala sesuatu dengan jelas sehingga ia mampu mengambil keputusan yang benar bagi dirinya, pasukannya, dan juga bangsanya.
Kegelapan yang dimaksud oleh Daud dalam pujiannya mungkin meliputi ketakutan terhadap kelemahan, kekalahan, dan kematian. Banyak dari kita yang hidup dengan kekhawatiran yang sama, sehingga kita menjadi gelisah dan sangat tertekan. Di saat kegelapan datang menghimpit, kita dapat mengalami damai sejahtera karena kita tahu Allah menyertai kita juga. Api Roh Kudus senantiasa hidup dalam diri kita untuk menerangi jalan kita, sampai kelak kita berhadapan muka langsung dengan Tuhan Yesus.—Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN
Bacaan hari ini adalah bagian dari nyanyian lebih panjang yang Daud tulis “pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul” (2 Samuel 22:1). Nyanyian ini adalah perayaan penuh sukacita dari seseorang yang telah “dilepaskan” dari pelarian dan persembunyian selama bertahun-tahun—baik dari musuh-musuh di negara-negara lain maupun dari bangsanya sendiri. Sementara kita tidak tahu persis berapa lama Daud hidup dalam pelarian, kita tahu bahwa ia sempat hidup bersama orang Filistin selama enam belas bulan (1 Samuel 27:7). Sungguh menakjubkan jika kita ingat klaim awalnya terhadap ketenaran adalah lewat membunuh jagoan mereka (pasal 17). —J.R. Hudberg
Mengapa Allah bisa dipercaya untuk menolong kamu mengatasi ketakutan yang kamu alami? Apa yang bisa kamu lakukan untuk mencari tuntunan Allah bagi hidupmu?
Ya Tuhan, ketika aku takut, yakinkanlah aku akan penyertaan-Mu. Tolonglah aku mengingat bahwa Engkau telah mengalahkan kuasa kegelapan melalui kematian dan kebangkitan-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate