Pages - Menu

Thursday, December 19, 2019

Tertulis dalam Hati

Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. —2 Korintus 3:2
Tertulis dalam Hati
Sebagai dosen, saya sering diminta para mahasiswa membuatkan surat rekomendasi bagi mereka—untuk mengisi posisi kepemimpinan, mengikuti program belajar di luar negeri, mendaftar kuliah pascasarjana, bahkan melamar pekerjaan. Dalam setiap surat tersebut, saya mendapat kesempatan untuk memuji kecakapan dan karakter murid-murid saya.
Pada masa silam, orang-orang Kristen biasa membawa “surat pujian” dari jemaat asal mereka saat melakukan perjalanan. Surat tersebut memberikan kepastian bahwa mereka akan diterima dengan baik oleh saudara-saudari seiman mereka.
Rasul Paulus tidak memerlukan surat pujian tersebut ketika berbicara kepada jemaat di Korintus, karena mereka mengenal dirinya. Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat itu, Paulus menulis bahwa ia memberitakan Injil dengan maksud yang murni dan bukan untuk keuntungan pribadi (2 Kor. 2:17). Namun, Paulus bertanya-tanya apakah pembaca suratnya berpikir bahwa dengan membela motivasinya memberitakan Injil, Paulus berusaha menulis surat pujian untuk dirinya sendiri.
Ia tidak membutuhkan surat pujian tersebut, kata Paulus, karena jemaat Tuhan di Korintus itu sendiri yang menjadi surat pujiannya. Karya Kristus yang terlihat nyata dalam hidup mereka bagaikan surat yang “ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup” (3:3). Hidup mereka menjadi kesaksian dari Injil sejati yang diberitakan Paulus—hidup mereka adalah surat pujian “yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (3:2). Kiranya kebenaran yang sama juga berlaku dalam kehidupan kita sebagai pengikut Yesus, yaitu kehidupan yang menyaksikan kebenaran Injil.—Amy Peterson
WAWASAN
Pemberian surat rekomendasi untuk memperkenalkan dan memberikan dukungan atau otoritas kepada seseorang merupakan hal yang lazim dilakukan pada zaman dahulu (lihat Ezra 7:11-26; Nehemia 2:7-8; Kisah Para Rasul 18:27; Roma 16:1-2; 1 Korintus 16:3; Kolose 4:10; 3 Yohanes 1:9). Karena Paulus tidak memiliki surat semacam itu, lawan-lawannya mengatakan ia bukan rasul sejati. Dalam argumennya, Paulus berkata ia tidak membutuhkan surat rekomendasi atau otorisasi dari siapa pun, Paulus mengatakan bahwa jemaat di Korintus itu sendiri, sebagai orang yang percaya kepada Kristus, dapat mengenali keotentikan status kerasulan Paulus (2 Korintus 3:1-3). Paulus sempat menyatakan hal itu sebelumnya: “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan? Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku” (1 Korintus 9:1-2). —K.T. Sim
Ketika orang membaca “surat” hidup kita, apa yang mereka lihat tentang Kristus? Siapa saja pribadi yang telah meninggalkan jejaknya yang baik dalam hidupmu?
Tuhan Yesus, aku rindu orang lain melihat Engkau dalam kehidupanku. Biarlah aku semakin kecil dan Engkau semakin besar.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate