Pages - Menu

Friday, January 17, 2020

Pemburu Badai

Dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. —Mazmur 107:29
Pemburu Badai
“Memburu tornado,” ujar Warren Faidley, “sering kali terasa seperti permainan catur tiga dimensi raksasa yang dimainkan di bidang yang luasnya ribuan kilometer persegi.” Wartawan foto dan pemburu badai itu menambahkan: “Berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, merupakan perpaduan dari ramalan cuaca dan navigasi, sementara kita berusaha menghindari hantaman segala macam benda, mulai dari butiran hujan es sebesar bola sofbol, badai debu, dan perangkat pertanian yang beterbangan.”
Penjelasan Faidley membuat telapak tangan saya berkeringat dan jantung saya berdebar kencang. Meski kagum pada keberanian dan kegigihan mereka yang memburu badai demi ilmu pengetahuan, saya sendiri tidak akan berani terjun ke tengah kondisi cuaca ekstrem yang dapat berakibat fatal itu.
Namun, menurut pengalaman saya, badai kehidupan tidak perlu dikejar—karena justru badai itulah yang mengejar saya. Pengalaman itu tercermin dalam Mazmur 107 yang menggambarkan para pelaut yang sedang terjebak badai. Mereka dikejar-kejar oleh akibat dari pilihan mereka yang salah, tetapi pemazmur berkata, “Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda” (Mzm. 107:28-30).
Entah badai hidup yang kita hadapi merupakan akibat perbuatan kita sendiri atau dampak dari dunia yang berdosa, Allah Bapa kita jauh lebih besar. Ketika badai melanda hidup kita, hanya Dia yang mampu menenangkannya—dan juga meneduhkan hati kita.—Bill Crowder
WAWASAN
Penulis Mazmur 107 tidak diketahui. Banyak ahli percaya bahwa mazmur ini ditulis setelah sebagian orang Yahudi kembali ke Israel sesudah tujuh puluh tahun pembuangan mereka di Babel. Mazmur ini menyebutkan empat jenis orang yang sedang dalam kesukaran dan bagaimana Allah menyelamatkan mereka. Mereka adalah pengembara di padang belantara (ay.4-9), orang-orang yang dikurung (ay.10-16), mereka yang sakit (ay.17-22), dan mereka yang sedang dalam bahaya (ay.23-32). Dalam setiap bagian kita menemukan refrain berikut: “Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka” (ay.6,13,19,28). Dan setiap kali, setelah Allah menyelamatkan mereka karena rahmat-Nya, orang-orang tersebut didorong untuk bersyukur: “Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia” (ay.8,15,21,31). —Alyson Kieda
Saat dalam kesulitan, ke manakah kamu mencari pertolongan? Bagaimana kamu mempercayai Bapa Surgawi, yang lebih besar daripada badai yang kamu hadapi?
Terima kasih, Bapa, karena Engkau bersamaku dalam setiap pergumulan dan kuasa-Mu lebih besar daripada segala badai dalam hidupku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate