Pages - Menu

Tuesday, February 25, 2020

Kaya di Hadapan Allah

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. —1 Timotius 6:6
Kaya di Hadapan Allah
Kedua orangtua saya tahu apa artinya hidup susah sejak kecil karena mereka dibesarkan pada masa Depresi Besar. Alhasil, mereka suka bekerja keras dan sangat cermat mengatur uang. Namun, mereka tidak pelit. Mereka tidak segan-segan memberikan waktu, talenta, dan harta mereka kepada gereja, yayasan amal, dan kaum yang membutuhkan bantuan. Mereka benar-benar mengelola uang mereka dengan bijak dan memberi dengan sukacita.
Sebagai pengikut Yesus, orangtua saya benar-benar menaati peringatan Rasul Paulus: “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Tim. 6:9).
Paulus memberikan nasihat tersebut kepada Timotius, gembala muda di Efesus, kota makmur dengan kekayaan yang menggoda semua orang. Paulus mengingatkan, “Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ay.10). Jika demikian, apa penawar bagi keserakahan? Yesus berkata, dengan menjadi “kaya di hadapan Allah” (lihat Luk. 12:13-21). Dengan mencari, menghargai, dan mengasihi Bapa Surgawi kita lebih dari segalanya, Dia akan terus menjadi sukacita kita yang terbesar. Pemazmur menulis, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami” (Mzm. 90:14).
Dengan bersukacita di dalam Allah setiap hari, kita dibebaskan dari nafsu untuk mendambakan sesuatu yang lebih, dan kita pun menemukan rasa puas. Kiranya Yesus memurnikan kerinduan hati kita dan menjadikan kita kaya di hadapan Allah!—Patricia Raybon
WAWASAN
Kata-kata Paulus kepada Timotius mengenai uang merefleksikan kata-katanya dalam Kisah Para Rasul 20:35 ketika ia mengutip kata-kata Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Namun, dalam Perjanjian Baru, tidak ada catatan bahwa Yesus mengucapkan kata-kata tersebut secara persis. Jadi dari mana Paulus mendapatkan perkataan tersebut? Salah satu kemungkinan adalah ia sedang mengutip tradisi oral yang diwariskan dari para saksi mata. Kemungkinan lainnya adalah Paulus mengatakan, dengan kata-katanya sendiri, apa yang telah ia pelajari dari kehidupan dan kata-kata Yesus.
Paulus dididik dalam sebuah sistem yang cenderung menghasilkan pemimpin-pemimpin yang mencintai uang dengan mengorbankan orang-orang miskin (Lukas 16:14; 20:46-47). Sungguh terjadi perubahan yang drastis pada jiwanya untuk dapat mendengar dan mempercayai teladan Yesus dalam perkataan dan perbuatan—bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan dari seberapa banyak yang kita miliki (12:15).—Mart DeHaan
Pernahkah kamu lalai mengelola uang, atau memandangnya secara berlebihan? Apakah kamu mau menyerahkan kekhawatiranmu tentang keuangan kepada Allah?
Ya Allah, kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu dan gantikan keserakahan kami dengan kerinduan yang suci akan Engkau.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate