Pages - Menu

Monday, March 30, 2020

Roti yang Diberkati

Yesus mengambil roti, mengucap berkat. —Matius 26:26
Roti yang Diberkati
Ketika putri tertua kami beranjak remaja, saya dan istri memberinya sebuah buku harian yang sudah kami tulis sejak kelahirannya. Di dalamnya, kami mencatat hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, polah tingkah dan celetukan-celetukannya yang menggemaskan. Di beberapa bagian, tulisan di dalamnya lebih terlihat seperti surat, berisi penggambaran apa yang kami lihat dari dirinya serta karya Allah dalam dirinya. Ketika kami memberikan buku harian itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ketiga belas, ia begitu terpesona. Ia menerima kesempatan yang berharga untuk mengetahui bagian penting dari permulaan identitas dirinya.
Lewat tindakan-Nya memberkati sesuatu yang sangat biasa seperti roti, Yesus sedang menunjukkan identitas benda tersebut. Apa tujuan benda itu—dan seluruh ciptaan—dibuat? Untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Saya percaya Yesus juga merujuk kepada masa depan dari alam ciptaan. Suatu hari nanti, seluruh ciptaan akan dipenuhi kemuliaan Allah. Jadi, dengan memberkati roti (Mat. 26:26), Yesus sedang menunjukkan permulaan sekaligus tujuan dari ciptaan (Rm. 8:21-22).
Mungkin kisah hidup kamu diawali dengan kekacauan. Mungkin kamu merasa tidak lagi punya masa depan. Namun, ada kisah lain yang lebih besar—kisah Allah yang menjadikan kamu sesuai rencana-Nya dan untuk suatu tujuan; Dia Allah yang berkenan kepada kamu. Itulah kisah Allah yang datang menyelamatkan kamu (Mat. 26:28); Allah yang menempatkan Roh-Nya di dalam diri kamu untuk memperbarui dan memulihkan identitas kamu. Itulah kisah Allah yang ingin memberkati kamu.—Glenn Packiam
WAWASAN
Paskah adalah acara makan bersama keluarga yang dilaksanakan pada awal kalender keagamaan Israel, untuk mengingat penyelamatan mereka dari perbudakan Mesir dan merayakan awal dari sebuah umat yang ditebus menjadi milik Allah (Keluaran 12:1-3; 13:3; 14–16; 19:5-6). Karena Yesus adalah Anak domba Paskah yang sejati (Yohanes 1:29; 1 Korintus 5:7), Dia memulai sebuah acara makan bersama keluarga yang baru. Perjamuan makan Paskah dengan murid-murid-Nya menunjuk kepada terbentuknya suatu Kerajaan Allah yang baru—umat tebusan yang baru dan keluarga Allah yang baru. Sekarang kita menyebutnya sebagai Perjamuan Terakhir karena perjamuan tersebut merupakan perjamuan Paskah terakhir Yesus sebelum Dia disalibkan (Matius 26:17-30). Banyak ahli percaya bahwa perjamuan besar selanjutnya akan terjadi pada pesta perjamuan kawin bersama Sang Mesias, ketika Yesus kembali untuk mendirikan kerajaan Bapa-Nya di bumi (lihat Yesaya 25:6; Lukas 13:29; 14:15). —K. T. Sim
Ketika memahami bahwa kamu diciptakan sesuai rencana Allah dan untuk suatu tujuan, bagaimana hal tersebut mengubah cara kamu memandang diri sendiri? Adakah kisah lain yang lebih besar daripada situasi kamu saat ini?
Ya Tuhan Yesus, kuletakkan hidupku seperti roti di tangan-Mu. Hanya Engkau yang dapat mengembalikanku kepada tujuan awal aku dijadikan. Hanya Engkau yang dapat membawaku menggenapi tujuan akhir hidupku. Engkaulah pencipta dan penyempurna imanku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate