Pages - Menu

Wednesday, March 18, 2020

Sukacita Menantikan Hukuman Mati

Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan. —1 Petrus 1:8
Sukacita Menantikan Hukuman Mati
Pada tahun 1985, Anthony Ray Hinton didakwa membunuh dua orang manajer restoran. Ia sebenarnya dijebak, karena ketika pembunuhan itu terjadi ia sedang berada di tempat yang sangat jauh dari TKP. Namun, Ray tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Dalam persidangan, Ray mengampuni orang-orang yang memfitnahnya, dan mengatakan bahwa ia tetap memiliki sukacita meski diperlakukan tidak adil. “Setelah mati, saya akan pergi ke surga,” katanya. “Kalian sendiri akan pergi ke mana?”
Hidup sebagai terpidana mati sangatlah berat bagi Ray. Lampu-lampu penjara berkedip-kedip setiap kali kursi listrik digunakan untuk mengeksekusi narapidana lain, dan itu mengingatkannya pada hukuman yang menantinya kelak. Satu dari sekian banyak ketidakadilan yang dihadapi Ray dalam upaya naik banding adalah ketika ia berhasil melewati tes deteksi kebohongan tetapi pengadilan mengabaikan hasil tes tersebut.
Akhirnya, pada hari Jumat Agung 2015, hukuman pidana yang dijatuhkan atas Ray dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat. Saat itu, ia sudah hampir tiga puluh tahun menjadi terpidana mati. Hidupnya menjadi kesaksian bahwa Allah benar-benar ada. Karena imannya kepada Yesus, Ray memiliki pengharapan melampaui pencobaan yang ia alami (1 Ptr. 1:3-5) dan mengalami sukacita supernatural di hadapan ketidakadilan (ay.8). “Sukacita yang kumiliki” kata Ray setelah dibebaskan, “tidak dapat direnggut dariku di dalam penjara.” Sukacita sedemikian rupa membuktikan kemurnian imannya (ay.7-8).
Sukacita menantikan hukuman mati bukanlah hal yang bisa dipalsukan. Iman seperti itu mengarahkan kita kepada Allah yang selalu hadir meski tak terlihat dan yang siap menguatkan kita yang didera pencobaan berat.—Sheridan Voysey
WAWASAN
Ketika membaca 1 Petrus 1:3-9, kita mungkin salah mengira bahwa Petrus mengatakan kepada para pembaca suratnya untuk bersukacita karena penderitaan mereka. Namun, jika kita menyelidiki bacaan ini lebih dalam, Petrus menginginkan para pembaca untuk bersukacita bahwa melalui penderitaan , mereka akan menerima “puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (ay.7). Kemudian, Petrus menyatakan bahwa orang-orang yang percaya dalam Yesus seharusnya tidak heran ketika cobaan atau “nyala api siksaan” terjadi untuk menguji mereka (4:12). Sekali lagi, ia menyatakan bahwa menderita untuk Kristus adalah suatu alasan untuk bersukacita karena hal itu berarti “Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu” (ay.14). Lebih dari itu, cobaan-cobaan tersebut tidaklah berarti jika dibandingkan dengan sukacita dan kemuliaan kekal yang akan mereka dapatkan. Melalui cobaan, iman mereka akan dibuktikan kemurniannya (1:7), dan iman yang murni akan berujung pada keselamatan (ay.9)—sebuah alasan yang sangat baik untuk bersukacita! —Julie Schwab
Ingatlah orang-orang yang pernah mengalami sukacita Allah di tengah pencobaan berat. Bagaimana kualitas iman mereka? Bagaimana kamu dapat membawa sukacita Allah kepada seseorang yang saat ini sedang mengalami ketidakadilan?
Ya Allah sumber pengharapan kami, penuhilah kami dengan sukacita dan damai sejahtera-Mu seraya kami terus mempercayai-Mu terlepas apa pun situasi kami saat ini. Kami mengasihi-Mu!

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate