Pages - Menu

Wednesday, April 29, 2020

Tepat di Sisimu

Tuhan Allah kita dekat kepada kita. Ia menjawab kapan saja kita berseru minta tolong kepada-Nya.—Ulangan 4:7 BIS
Tepat di Sisimu
Setiap hari, para petugas kantor pos di Yerusalem menyortir tumpukan surat yang tidak bisa terkirim untuk mencari mana saja surat yang masih bisa diantarkan ke tujuan. Namun, banyak yang akhirnya masuk ke dalam kotak bertuliskan “Surat untuk Tuhan.”
Setiap tahun sekitar 1.000 pucuk surat seperti itu sampai ke Yerusalem dan dialamatkan kepada Allah atau Yesus. Surat-surat itu lalu dibawa seorang pegawai kantor pos ke Tembok Ratapan di Yerusalem untuk diselipkan pada tembok-tembok bersama surat-surat doa lainnya. Sebagian besar surat berisi permohonan pekerjaan, jodoh, atau kesehatan. Ada juga yang isinya meminta pengampunan, atau sekadar mengucap syukur. Bahkan ada surat permohonan seorang suami yang meminta kepada Allah agar almarhumah istrinya dapat menemuinya dalam mimpi karena ia rindu bertemu dengannya. Para pengirim surat percaya Allah akan mendengar doa mereka, seandainya Dia bisa dijangkau.
Dalam perjalanan melintasi padang gurun, orang Israel mempelajari bahwa Allah mereka tidaklah sama dengan sesembahan lain pada masa itu—dewa-dewa yang jauh, tidak bisa mendengar, terikat oleh lokasi, dan hanya bisa ditemui lewat perjalanan ziarah atau lewat surat. “Tuhan Allah kita dekat kepada kita. Ia menjawab kapan saja kita berseru minta tolong kepada-Nya” (Ul. 4:7 BIS). Adakah bangsa lain yang dapat mengatakan itu tentang Allah mereka? Sungguh ini kabar yang revolusioner!
Allah tidak tinggal di Yerusalem. Dia dekat dengan kita, di mana pun kita berada. Ada sebagian orang yang masih perlu mengetahui kebenaran yang radikal ini. Seandainya surat-surat itu bisa dibalas, inilah jawabannya: Allah tepat di sisimu . Berbicaralah langsung dengan-Nya. —Sheridan Voysey
WAWASAN
Ulangan 4:5-8 hadir ketika Musa baru saja menceritakan kekecewaan terbesar dalam hidupnya yang panjang. Allah mencegah Musa memasuki Tanah Perjanjian karena kegagalannya menahan amarah terhadap umat Israel (3:23-27; juga dalam Bil. 20:1-3). Walaupun sedih, Musa terus melayani Allah dengan menasihati bangsa-Nya bahkan saat ia sedang mengalihkan kepemimpinannya kepada Yosua. Di sini Musa menekankan keistimewaan Israel. “Bangsa besar (lain) manakah?” tanya Musa secara retoris (Ul. 4:7-8). Lagi pula, Allah telah memilih bangsa ini untuk menjadi harta kesayangan-Nya sendiri (lihat Kel. 19:5; Ul. 14:2; 26:18). Mereka yang mengikut Yesus adalah juga kesayangan Allah dan dikhususkan bagi Dia. Petrus mengingatkan kita, “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Ptr. 2:9).—Tim Gustafson
Kita sungguh diberkati karena dapat datang kepada Allah di dalam doa. Bagaimana cara kamu untuk tidak menyia-nyiakannya? Dalam hidupmu, siapakah yang perlu mengetahui bahwa Allah siap mendengar doa-doa mereka?
Ya Allah, Engkau jauh lebih besar dari alam semesta tetapi begitu dekat dengan kami. Terima kasih karena Engkau mempedulikan kami dan menanggapi setiap doa kami.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate