Pages - Menu

Friday, May 22, 2020

Bawalah Air Matamu kepada Allah

Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya, sampai Tuhan memandang dari atas dan melihat dari sorga. —Ratapan 3:49-50

Bawalah Air Matamu kepada Allah

Musim panas lalu, seekor ikan paus pembunuh bernama Talequah melahirkan. Karena paus pembunuh termasuk spesies yang terancam punah, bayi paus itu memberikan harapan bagi kelangsungan hidup mereka. Akan tetapi, bayi tersebut ternyata hanya bertahan hidup kurang dari satu jam. Banyak orang di seluruh dunia menyaksikan Talequah menunjukkan kesedihannya dengan mendorong-dorong anaknya yang sudah mati itu di Samudra Pasifik yang dingin selama tujuh belas hari sebelum akhirnya melepaskannya.

Terkadang orang percaya juga bergumul harus berbuat apa saat berduka. Mungkin kita khawatir kesedihan kita akan menunjukkan seolah-olah kita tidak punya pengharapan. Akan tetapi, Alkitab memberikan kepada kita banyak contoh tentang pribadi-pribadi yang berseru kepada Allah dalam kesedihan mereka. Meratap dan berharap sama-sama dapat menjadi bagian dari respons yang beriman.

Kitab Ratapan berisi lima syair yang mengungkapkan perasaan dukacita dari orang-orang yang telah kehilangan kampung halaman mereka. Mereka dikejar-kejar musuh dan hampir mati (Rat. 3:52-54). Mereka meratap dan memanggil Allah agar Dia menyatakan keadilan-Nya (ay.64). Mereka berseru kepada Allah bukan karena telah kehilangan pengharapan, tetapi karena percaya bahwa Allah mendengar. Ketika mereka berseru, Allah datang mendekat kepada mereka (ay.57).

Tidaklah salah meratapi kehancuran yang terjadi di dalam dunia ini atau dalam kehidupanmu. Allah selalu mendengar ratapanmu. Yakinlah bahwa Allah melihat dari surga dan memahami kesedihanmu. —Amy Peterson

WAWASAN
Kitab Ratapan memberikan kepada kita gambaran seorang pujangga tentang akibat dari perang. Yerusalem telah diinvasi oleh para jenderal Babel pada 586 SM (Yeremia pasal 52). Allah segala allah telah menyerahkan umat pilihan-Nya kepada musuh-musuh mereka, seperti yang telah Dia peringatkan sedari awal jika mereka tegar tengkuk dan melupakan misi mereka sebagai terang bagi bangsa-bangsa lain (Ulangan 28). Emosi sang pujangga yang mengalir mencerminkan sebuah bangsa yang sekarang tidak punya tempat pelarian selain kepada ingatan masa lalu mereka dan berharap kepada Allah nan kekal yang terasa sangat jauh dari mereka pada masa-masa penderitaan yang seakan takkan berakhir tersebut (Ratapan 5:19-22). —Mart DeHaan

Bagaimana kamu dapat berlatih membawa seluruh perasaanmu kepada Allah? Kapan kamu merasa bahwa Allah datang mendekat kepadamu di saat kamu bersedih?

Allah Mahakasih, tolonglah kami mengingat bahwa tidaklah salah meratapi kesalahan kami sebelum kami dapat memperbaikinya.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate