Pages - Menu

Wednesday, May 6, 2020

Pengampunan yang Mustahil

Ya Bapa, ampunilah mereka. —Lukas 23:34

Pengampunan yang Mustahil

Pasukan yang berhasil membebaskan para tawanan di kamp konsentrasi Ravensbruck tempat hampir 50.000 wanita dibinasakan oleh Nazi menemukan secarik kertas lusuh bertuliskan doa ini: Ya Tuhan, janganlah hanya mengingat orang-orang baik, tetapi ingat jugalah mereka yang jahat. Namun, janganlah mengingat penderitaan yang mereka perbuat terhadap kami. Ingatlah buah-buah yang kami hasilkan berkat penderitaan ini—persahabatan, kesetiaan, kerendahan hati, keberanian, kemurahan hati, kebesaran hati kami yang tumbuh dari peristiwa ini. Ketika kelak mereka menghadap-Mu untuk dihakimi, biarlah semua buah yang telah kami hasilkan membawa pengampunan bagi mereka.

Saya tak dapat membayangkan ketakutan dan penderitaan berat yang dialami oleh wanita yang menuliskan doa ini. Betapa luar biasanya anugerah yang ia miliki sehingga dapat menuliskan kata-kata ini. Ia melakukan sesuatu yang tidak masuk akal: meminta pengampunan Allah bagi orang-orang yang menindasnya.

Doa itu menggemakan doa Kristus sendiri. Setelah difitnah, dihina, dipukuli, dan dipermalukan di depan banyak orang, Yesus disalibkan “dan juga kedua orang penjahat itu” (Luk. 23:33). Melihat Yesus tergantung di kayu salib yang kasar, dalam keadaan babak belur dan napas tersengal-sengal, siapa pun bakal mengira Dia pasti mengutuk para penyiksa-Nya, membalas dendam, atau menuntut balasan dari surga. Namun, Yesus justru mengucapkan doa yang berlawanan dengan dorongan hati manusia pada umumnya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (ay.34).

Pengampunan yang diberikan Yesus terasa mustahil, tetapi itulah yang juga ditawarkan-Nya kepada kita. Oleh kasih karunia-Nya yang ajaib, pengampunan tersebut tersedia cuma-cuma dengan limpah bagi semua orang.—Winn Collier

WAWASAN
Penyaliban digambarkan dalam sebuah nubuat yang diucapkan sekitar 600 tahun sebelum hukuman itu diciptakan: “Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku” (Mzm. 22:18-19). Di abad pertama, pakaian sehari-hari seorang pria Yahudi terdiri atas lima potong pakaian—sepatu, serban, ikat pinggang, cawat, dan jubah luar. Para prajurit menelanjangi Yesus, dan setelah menyalibkan Dia, mereka membagi-bagi pakaian-Nya sebagai rampasan untuk pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Lalu mereka membuang undi untuk mendapatkan jubah-Nya (Yoh. 19:2-24). —Bill Crowder

Bagaimana pengampunan Allah yang terasa mustahil itu telah mengubahkan hidupmu? Bagaimana kita dapat menolong orang lain mengalami pengampunan sejati dari-Nya?

Ya Allah, pengampunan-Mu begitu tidak lazim dan terasa mustahil. Sungguh kami tidak dapat membayangkannya di saat kami menderita. Karena itu, tolonglah kami dan ajarilah kami kasih-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate