Pages - Menu

Monday, July 20, 2020

Cara untuk Menunggu

Dengarlah, Tuhan, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! —Mazmur 27:7
Cara untuk Menunggu
Karena merasa frustrasi dan kecewa dengan gereja, Trevor yang berumur tujuh belas tahun mulai berkelana mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Namun, pencarian itu tak kunjung memuaskan hasratnya atau menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Pengalaman itu memang membawa Trevor lebih dekat dengan orangtuanya. Namun, ia tetap sulit menerima iman Kristen. Dalam sebuah diskusi, ia pernah dengan getir berkata, “Alkitab itu penuh janji-janji kosong.”
Daud juga menghadapi kekecewaan dan kesulitan hidup yang menimbulkan keragu-raguan dalam dirinya. Namun, ketika lari dari para musuh yang ingin membunuhnya, reaksi Daud bukanlah menjauh dari Allah melainkan justru memuji-Nya. “Sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya” (Mzm. 27:3).
Meski demikian, masih ada sedikit keraguan yang tersirat dalam syair Daud. Seruannya, “Kasihanilah aku dan jawablah aku” (ay.7), terdengar seperti keluar dari seseorang yang takut dan ragu. “Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku,” seru Daud. “Janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku” (ay.9).
Namun, Daud tidak membiarkan keraguan melumpuhkan dirinya. Di tengah keraguannya sekalipun, ia tetap berseru, “Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup” (ay.13). Lalu Daud menyerukan kepada orang-orang yang membaca mazmur ini—kamu, saya, dan orang-orang seperti Trevor: “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!” (ay.14).
Mungkin kita tidak segera mendapatkan jawaban yang tepat dan sederhana bagi pertanyaan-pertanyaan kita yang kompleks. Namun, kita akan bertemu dengan Allah yang bisa diandalkan—bila kita menantikan-Nya.—Tim Gustafson
WAWASAN
Dua kali penulis Mazmur 27:14, yang dipercaya adalah Daud, mendorong umat di segala generasi: “Nantikanlah TUHAN!” Kata Ibrani untuk “nantikan” adalah qavah yang berarti “menanti, menunggu-nunggu, mengharapkan, mendambakan.” Kata inilah yang dipakai dalam Yesaya 40:31, ayat terkenal dalam Perjanjian Lama yang menceritakan tentang menantikan Allah: “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. Seorang ahli Alkitab menjelaskan “menanti-nantikan” sebagai hidup “dalam kegelisahan yang bercampur dengan keyakinan dan semangat. . . . Hidup dengan berpegang pada janji-janji yang sudah dinyatakan tetapi belum terpenuhi. . . . [Menanti] dengan kerinduan yang menggebu-gebu” (Ortlund, Isaiah: God Saves Sinners). —Arthur Jackson
Apa yang kamu lakukan terhadap segala pertanyaan kompleks dalam pikiranmu? Kapan kamu mendapatkan jawaban “di negeri orang-orang yang hidup” (Mzm. 27:13), dan apakah masih ada pertanyaanmu yang belum terjawab?
Ya Bapa, lembutkanlah hatiku supaya reda takut dan amarahku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate