Pages - Menu

Tuesday, July 14, 2020

Hikmah dari Rasa Malu

Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. —Yakobus 4:6
Hikmah dari Rasa Malu
Pengalaman saya yang paling memalukan terjadi ketika saya menyampaikan kata sambutan di hadapan para dosen, mahasiswa, dan sahabat dari suatu seminari pada perayaan hari jadinya yang kelima puluh. Saya maju ke mimbar sambil memegang naskah pidato dan memandang para hadirin, tetapi mata saya tertuju kepada para guru besar terhormat yang duduk di deretan depan dengan mengenakan toga dan terlihat sangat serius. Tiba-tiba saja saya merasa gugup. Mulut saya mendadak kering dan tak terhubung lagi dengan otak. Saya mengucapkan beberapa kalimat pertama dengan tergagap-gagap dan kemudian saya mulai berimprovisasi. Karena tidak tahu pidato saya sudah sampai di mana, dengan panik saya mulai membolak-balik catatan sambil berbicara sekenanya dan membuat bingung semua orang. Entah bagaimana akhirnya saya berhasil menyelesaikan pidato, kembali ke tempat duduk, lalu tertunduk memandangi lantai dengan perasaan malu yang luar biasa. Rasanya saya ingin mati saja saat itu.
Meski demikian, saya belajar bahwa perasaan malu dapat bermanfaat jika hal tersebut membawa kita kepada sikap rendah hati, karena itulah kunci untuk berkenan di hati Tuhan. Alkitab berkata, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Orang yang rendah hati dilimpahi-Nya dengan anugerah. Allah sendiri berkata, “Kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku” (Yes. 66:2). Saat kita merendahkan diri di hadapan Allah, Dia akan meninggikan kita (Yak. 4:10).
Perasaan malu dan aib dapat membawa kita kepada Allah agar kita dibentuk oleh-Nya. Baiklah ketika kita jatuh, kita jatuh ke dalam tangan-Nya.—David H. Roper
WAWASAN
Penekanan surat Yakobus tentang melawan pencobaan cocok dengan pengajarannya yang lebih luas tentang perilaku orang-orang yang percaya kepada Yesus. Bagi Yakobus, “menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja” (1:22) adalah inti menjadi orang percaya, yang sesuai dengan perkataan Kristus tentang iman sejati yang dibuktikan dengan ketaatan melakukan firman Tuhan (Lukas 6:49; 11:28).
Dalam perikop hari ini, Yakobus menolong orang percaya memahami bahwa satu-satunya cara hidup berintegritas adalah dengan kerendahan hati. Yakobus 4:6, yang mengacu kepada Amsal 3:34, cocok dengan banyak tulisan bijak orang Yahudi yang menekankan hubungan antara kerendahan hati dan hidup saleh. Kerendahan hati memampukan kita menundukkan diri secara alamiah kepada Allah dan rencana-Nya (ay.7). Menyerahkan diri kepada Allah berarti kita menjalin “persahabatan” dengan-Nya, dan bukan dengan dunia (ay.4). Ketika bersahabat dengan Allah, kita pun hidup seturut dengan nilai-nilai kerajaan-Nya, dan bukan nilai-nilai dunia (3:15,17). Jika kita hidup rendah hati dengan Allah (lihat Mikha 6:8), maka Dia akan meninggikan kita (Yakobus 4:10), mendekat kepada kita (ay.8), dan membuat Iblis tidak berdaya. —Monica La Rose
Peristiwa apa yang paling membuat kamu merasa malu? Hikmah apa yang dapat kamu petik dari kejadian tersebut?
Allah Maha Pengasih, tolonglah aku untuk rela merasa malu jikalau melaluinya nama-Mu dapat ditinggikan dan dimuliakan.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate