Pages - Menu

Thursday, July 23, 2020

Kerlip Lampu di Laut

Waktu itu kamu tanpa Kristus, . . . tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. —Efesus 2:12
Kerlip Lampu di Laut
“Saya berbaring di tempat tidur, berkubang dalam minuman keras dan diselimuti perasaan putus asa,” tulis jurnalis Malcolm Muggeridge, tentang suatu malam yang sangat suram yang dialaminya saat bekerja sebagai mata-mata pada Perang Dunia II. “Sendirian di alam semesta, di keabadian, tanpa setitik pun cahaya.”
Dalam kondisi seperti itu, ia melakukan satu-satunya hal yang sepertinya paling masuk akal; ia berusaha menenggelamkan dirinya sendiri. Setelah mengendarai mobilnya ke pesisir pantai Madagaskar, Muggeridge mulai berenang jauh ke laut lepas sampai ia merasa kelelahan. Lalu saat menoleh ke belakang, ia melihat kerlip lampu-lampu pantai di kejauhan. Entah mengapa, tanpa alasan yang jelas, ia mulai berenang kembali menuju cahaya lampu-lampu itu. Meski sangat kelelahan, Muggeridge ingat dirinya merasakan “sukacita yang luar biasa.”
Muggeridge tidak tahu bagaimana persisnya, tetapi yang ia tahu, Allah menggapainya di momen yang gelap itu dan memenuhinya dengan pengharapan yang bersifat supranatural. Rasul Paulus sering menulis mengenai pengharapan semacam itu. Dalam surat Efesus, ia menulis bahwa, sebelum mengenal Kristus, setiap dari kita “sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa [kita] . . . tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (2:1,12). Namun, “Allah yang kaya dengan rahmat, . . . telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita” (ay.4-5).
Dunia ini berusaha menenggelamkan kita ke dalam keputusasaan, tetapi tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah. Inilah yang dikatakan Muggeridge tentang pengalamannya di tengah laut, “Akhirnya saya mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada kegelapan, melainkan sayalah yang gagal melihat cahaya yang bersinar abadi.”—Tim Gustafson
WAWASAN
Orang-orang Israel percaya bahwa hanya mereka yang diselamatkan dan dipilih oleh Allah “dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya” (Ulangan 7:6; 14:2). Sunat, yang menandai mereka sebagai umat Allah (Kejadian 17:10), kemudian menjadi lambang keunggulan mereka secara rohani dan nasional dibandingkan bangsa-bangsa lain, sehingga tercipta sikap eksklusif yang menghalangi mereka menjadi “terang untuk bangsa-bangsa” yang membawa keselamatan-Nya sampai ke seluruh dunia (Yesaya 42:6; 49:6). Orang-orang Yahudi menjuluki bangsa-bangsa di luar mereka sebagai “orang-orang tak bersunat” (Efesus 2:11), dan salah paham dengan meyakini bahwa Allah tidak akan pernah mengasihi orang-orang bukan Yahudi. Rasul Paulus mengoreksi ini dengan berkata bahwa “orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (3:6). Baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi sama-sama diselamatkan karena kasih karunia oleh iman (2:1-9; Roma 3:29-30). Dengan salib-Nya, Yesus telah meruntuhkan tembok permusuhan yang memisahkan orang Yahudi dan bukan Yahudi, serta menempatkan mereka dalam satu tubuh, keluarga Allah, yang disebut gereja (Efesus 2:14-22). K.T. Sim
Apa momen tergelap dalam hidupmu? Di mana sajakah kamu telah melihat secercah “cahaya yang bersinar abadi”?
Bapa, Engkaulah sumber seluruh pengharapan kami yang sejati. Penuhilah kami dengan sinar dan sukacita-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate