Pages - Menu

Monday, August 10, 2020

Di Ujung Tanduk

 

Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia. —1 Petrus 2:9

Di Ujung Tanduk

Sebuah artikel berita di Amerika Serikat pada bulan Mei 1970 memuat idiom baru pada masanya, yaitu “on the bubble” (di ujung tanduk). Ungkapan yang merujuk pada suatu keadaan yang tidak aman itu digunakan untuk menerangkan posisi seorang pembalap pemula bernama Steve Krisiloff yang “berada di ujung tanduk,” setelah menyelesaikan babak kualifikasi balap mobil Indianapolis 500 dengan catatan waktu yang lambat. Belakangan, dipastikan bahwa catatan waktunya—meskipun yang paling lambat di antara para pembalap lain—ternyata memenuhi syarat untuk ikut lomba utama.

Adakalanya kita merasa hidup kita seperti berada “di ujung tanduk”, ketika kita tidak cukup yakin dapat menjalani atau menyelesaikan perlombaan hidup ini. Ketika merasakan hal tersebut, kita patut mengingat bahwa di dalam Yesus, kita tidak pernah berada “di ujung tanduk”. Sebagai anak-anak Allah, tempat kita di dalam Kerajaan-Nya sudah aman (Yoh. 14:3). Keyakinan kita berasal dari Allah yang telah memilih Yesus sebagai “batu penjuru” yang menjadi dasar hidup kita, dan Dia pun memilih kita untuk menjadi “batu hidup” yang dipenuhi Roh Allah, sehingga kita mampu menjadi pribadi yang dikehendaki Allah (1 Ptr. 2:5-6).

Dalam Kristus, masa depan kita aman sembari kita berharap kepada-Nya dan mengikuti Dia (ay.6). Karena kitalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya [kita] memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil [kita] keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (ay.9).

Di mata Yesus, kita tidak berada “di ujung tanduk”. Kita sungguh berharga dan dikasihi-Nya (ay.4).—Ruth O’Reilly-Smith

WAWASAN
Petrus menuliskan suratnya kepada para pembaca yang didera penganiayaan dan sedang membutuhkan penguatan. Solusi apa yang diberikannya? Ia mengingatkan mereka pada identitas mereka sebagai orang-orang percaya di dalam Tuhan Yesus.
Dengan mengacu kepada dua bagian dari Perjanjian Lama, Petrus menggunakan beberapa frasa untuk menggambarkan identitas baru mereka “yang dahulu bukan umat Allah” (1 Petrus 2:10). Dari Keluaran 19:6, ayat yang mendahului diterimanya Sepuluh Perintah Allah, Petrus memberitahu pembacanya bahwa mereka adalah “imamat yang rajani” dan “bangsa yang kudus” (1 Petrus 2:9). Dari Yesaya 43:20-21, dia memberitahu mereka adalah “bangsa yang terpilih” untuk “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari [Allah]” (1 Petrus 2:9). Petrus mengingatkan para pembacanya, dan juga kita, bahwa seperti Israel yang mendahului mereka, mereka adalah umat istimewa kepunyaan Allah melalui tindakan penebusan-Nya.—J.R. Hudberg

Dalam bagian kehidupan manakah kamu merasa berada “di ujung tanduk” dan serba tidak pasti? Apa yang dapat kamu lakukan untuk kembali memiliki keyakinan pasti kepada Tuhan Yesus?

Ya Bapa, ketika berbagai kekecewaan melemahkan keyakinanku akan identitasku sebagai anak-Mu, ingatkanlah aku untuk tetap berharap dan percaya kepada-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate