Pages - Menu

Friday, November 27, 2020

Menghadapi Pertempuran

 

Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! —1 Tawarikh 16:11

Menghadapi Pertempuran

Belum lama ini saya bertemu dengan beberapa teman, dan lewat obrolan kami, saya menduga masing-masing dari kami sedang menghadapi pertempuran berat. Dua dari kami memiliki orangtua yang sedang berjuang melawan penyakit kanker, ada satu yang anaknya mengidap penyakit gangguan makan, seorang teman menderita sakit kronis, dan seorang yang lain sedang menghadapi operasi besar. Sungguh tidak mudah bagi kami yang berusia antara tiga puluhan hingga empat puluhan. 1 Tawarikh 16 menceritakan suatu momen penting dalam sejarah Israel ketika Tabut Perjanjian dibawa ke kota Daud (Yerusalem). Samuel menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada masa damai ketika tidak ada pertempuran (2 Sam. 7:1). Ketika tabut itu sudah berada di tempatnya, sebagai lambang kehadiran Allah, Daud memimpin rakyatnya untuk menyanyikan syukur (1 Taw. 16:8-36). Bersama-sama, bangsa itu bernyanyi tentang kuasa Allah yang ajaib, janji-Nya yang selalu ditepati, dan perlindungan-Nya di masa lalu (ay.12-22). “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya,” mereka berseru; “carilah wajah-Nya selalu!” (ay.11). Mereka perlu melakukannya, karena masih ada banyak pertempuran yang akan datang. Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya. Carilah wajah-Nya selalu. Ini nasihat yang patut kita ikuti di saat kita menghadapi penyakit, masalah keluarga, dan pertempuran-pertempuran lainnya, karena kita tidak pernah dibiarkan bertarung sendirian dengan kekuatan kita yang terbatas. Allah hadir dan Dia kuat; Dia yang telah menjaga kita di masa lalu, Dia pasti akan melakukannya lagi. Allah akan membawa kita kepada kemenangan.—SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Sebuah momen pribadi menodai kegembiraan Daud dalam menyambut datangnya tabut Allah ke Yerusalem. Istrinya, Mikhal, mengatakan kepada Daud bahwa ia malu melihat Daud menari-nari di jalanan Yerusalem (1 Tawarikh 15:29; 2 Samuel 6:16-23). Mikhal mungkin berbicara karena didorong rasa sakit hatinya. Dia adalah anak perempuan dari seorang raja yang memberikannya kepada Daud dengan niat membunuh Daud (1 Samuel 18:20-28). Kemudian Saul memberikan Mikhal sebagai hadiah kepada seorang temannya (25:44)—lalu direbut kembali oleh Daud ketika ia naik takhta (2 Samuel 3:13-16). Dengan terbunuhnya ayah dan saudara-saudara lelakinya dalam peperangan (1 Tawarikh 10), sosok Mikhal menjadi kenangan tentang jejak sang ayah yang penuh persoalan (2 Samuel 6:23). —Mart DeHaan

Pertempuran apa yang menuntutmu memakai kekuatan Allah untuk menghadapinya? Bagaimana kamu dapat menyerahkan pergumulanmu kepada-Nya saat ini?

Ya Allah yang ajaib, aku menyerahkan pertempuran di hadapanku ke dalam tangan-Mu. Aku percaya pada kekuatan dan janji-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate