Pages - Menu

Tuesday, November 17, 2020

Seandainya Bisa...

 

Tuhan adalah kekuatan umat-Nya. —Mazmur 28:8

Seandainya Bisa . . .

Pohon aras Alaska itu meliuk-liuk tertiup angin badai yang kencang. Pohon itu disayang Regie bukan hanya karena menjadi tempat berteduh dari terik matahari tetapi juga memberi perlindungan bagi keluarganya. Sekarang badai dahsyat telah mencabut akar pohon itu dari tanah. Bersama anaknya yang berumur lima belas tahun, Regie cepat-cepat berlari untuk menyelamatkan pohon itu. Dengan tubuh seberat empat puluh kilogram dan kedua tangannya, Regie dan anaknya berusaha menahan pohon itu agar tidak tumbang. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat. 

Allah adalah kekuatan Raja Daud ketika ia berteriak minta tolong dalam pergumulannya (Mzm. 28:8). Sejumlah ahli Alkitab mengatakan Daud menulis mazmur ini saat hidupnya sedang hancur berantakan. Anak lelakinya bangkit melawannya dan berusaha merebut takhtanya (2 Sam. 15). Ia merasa begitu lemah dan tak berdaya, sehingga ia takut Allah akan terus berdiam, dan ia akan mati (Mzm. 28:1). “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong,” seru Daud kepada Allah (ay.2). Allah pun memberi Daud kekuatan untuk terus melangkah maju, meskipun hubungan Daud dengan anaknya tidak pernah membaik. Betapa kita rindu dapat mencegah hal-hal buruk terjadi! Andai saja kita bisa. Namun, dalam kelemahan kita, Allah berjanji bahwa kita selalu bisa berseru kepada-Nya agar Dia menjadi Gunung Batu tempat kita berlindung (ay.1-2). Di saat kita tidak lagi memiliki kekuatan, Sang Gembala yang baik akan mendukung kita selama-lamanya (ay.8-9).—Anne Cetas

WAWASAN
Mazmur 28 disebut sebagai mazmur kutukan—sebuah mazmur yang menyerukan murka atau kutukan atas seseorang atau suatu bangsa yang berbuat kesalahan. Kutukan dalam ayat 4-5 menggambarkan kebencian Allah terhadap dosa. Dalam keadaannya yang pedih, Daud berseru kepada Allah, gunung batunya (ay.1). Penafsir John Phillips menulis tentang sebutan terhadap Allah ini, “Sebuah gunung batu memberikan kesan permanen, besar, dan tak tergoyahkan. Dalam Perjanjian Lama figur sebuah gunung batu tidak pernah digunakan untuk manusia, hanya untuk Allah. Allah sama tetapnya dengan sebuah gunung batu.” Ketika kehidupan Daud terguncang, ia menyandarkan dirinya kepada Sang gunung batu. Allah mendengar seruannya, dan Daud pun merespons dengan puji-pujian (ay.6-7). —Alyson Kieda

Kapan kamu pernah merasa lemah dan tidak berdaya memperbaiki suatu masalah? Bagaimana pengalamanmu menerima pertolongan Allah?

Ya Allah, rasanya ada saja yang membuatku selalu membutuhkan kekuatan ekstra dari-Mu. Tolonglah aku untuk mengingat bahwa tanpa-Mu aku tidak bisa berbuat apa-apa.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate