Pages - Menu

Thursday, December 10, 2020

Hamba yang Sejati

 

Dalam keadaan sebagai manusia, [Yesus] telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. —Filipi 2:8

Hamba yang Sejati

Pada tahun 27 SM, seorang penguasa Romawi bernama Octavianus menghadap Senat untuk menyerahkan kekuasaannya. Ia telah memenangi perang saudara, menjadi penguasa tunggal atas wilayah tersebut, dan berfungsi layaknya kaisar. Namun, ia tahu kekuasaan yang sedemikian besar dapat membuatnya dicurigai. Maka, Octavianus melepaskan kekuasaannya di hadapan Senat dan bersumpah hanya akan menjadi pejabat biasa. Bagaimana respons Senat? Mereka justru menghormati Octavianus dengan mengenakan mahkota daun kepadanya dan menjulukinya sebagai abdi rakyat Romawi. Ia juga diberi gelar Agustus—berarti “Yang Agung”.

Rasul Paulus menulis bagaimana Yesus mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Agustus tampaknya melakukan hal yang sama. Atau benarkah demikian? Agustus hanya seolah-olah menyerahkan kekuasaannya, padahal sebenarnya ia berbuat demikian untuk keuntungannya sendiri. Sementara Yesus “telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Kematian di kayu salib bagi orang Romawi merupakan bentuk penghinaan dan aib yang terburuk.

Pada zaman sekarang, alasan utama orang memuji “gaya kepemimpinan yang melayani” adalah karena Yesus. Kerendahan hati bukanlah sifat yang dikagumi orang Yunani atau Romawi. Namun, karena Yesus mati di kayu salib bagi kita, Dialah Hamba yang sejati. Dialah Juruselamat yang sesungguhnya.

Kristus menjadi hamba dengan tujuan untuk menolong kita. Dia “telah mengosongkan diri-Nya sendiri” (ay.7) supaya kita memperoleh sesuatu yang mulia—anugerah keselamatan dan kehidupan kekal. —Glenn Packiam

WAWASAN
Dalam Filipi 2, Paulus menggunakan istilah merendahkan diri untuk menyebut tentang kematian Yesus (ay.8). Meskipun tindakan Kristus menjadi manusia memang adalah suatu perendahan diri, tetapi kematian-Nya secara khusus adalah puncak perendahan diri bagi Pribadi kedua dalam Tritunggal, yang kekal dan abadi itu. Paulus mengatakan bahwa Yesus “merendahkan diri-Nya” (ay.8). Yesus tidak direndahkan oleh kematian; Dia secara sukarela merendahkan diri-Nya sendiri dalam kepatuhan supaya Dia dapat mati. Karena Dia merendahkan diri-Nya, Allah mengembalikan-Nya kepada kedudukan asal-Nya yang terhormat. Kelak semua makhluk akan bertekuk lutut di hadapan Yesus Kristus. (ay.10). J.R. Hudberg

Benarkah kita tidak pernah jauh dari jangkauan Allah? Apa artinya bagi kamu ketika kamu tahu bahwa Yesus adalah Hamba sejati yang menderita dan mati untuk menyelamatkanmu?

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau sudah menyerahkan nyawa-Mu bagiku. Penghambaan-Mu bukanlah suatu pertunjukan belaka melainkan bukti nyata dari kasih-Mu kepadaku. Penuhilah hatiku dengan kasih dan rasa syukur hari ini.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate