Pages - Menu

Tuesday, April 2, 2019

Kasih yang Tidak Terselami

Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. —Yohanes 13:34
Kasih yang Tidak Terselami
Jemaat kecil kami memutuskan memberi kejutan pada anak lelaki saya pada ulang tahunnya yang keenam. Mereka menghiasi ruang kelas Sekolah Minggu dengan balon-balon dan menyiapkan satu meja kecil dengan kue di atasnya. Ketika anak saya membuka pintu, semua orang pun berteriak: “Selamat ulang tahun!”
Belakangan, saat saya memotong kue, anak saya datang menghampiri dan berbisik di telinga saya, “Ibu, mengapa semua orang di sini sayang padaku?” Saya juga memiliki pertanyaan yang sama! Kami baru enam bulan mengenal mereka tetapi mereka memperlakukan kami seolah-olah kawan lama.
Kasih mereka kepada anak saya mencerminkan kasih Allah kepada kita. Kita tidak bisa memahami mengapa Dia mengasihi kita, tetapi itulah yang Dia lakukan—dan kasih-Nya diberikan secara cuma-cuma. Kita tidak melakukan apa pun yang membuat kita layak menerima kasih-Nya, tetapi Dia melimpahi kita dengan kasih-Nya. Kitab Suci mengatakan: “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8). Itulah Dia.
Allah telah mencurahkan kasih-Nya kepada kita supaya kita dapat menunjukkan kasih yang sama kepada sesama. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34-35)
Jemaat di gereja kecil kami mengasihi karena kasih Allah ada dalam mereka. Kasih itu terpancar dan menandai mereka sebagai pengikut-pengikut Yesus. Kita tidak sepenuhnya bisa memahami kasih Allah, tetapi kita dapat mencurahkan kasih itu kepada sesama, sehingga kita menjadi contoh kasih-Nya yang tidak terselami. —Keila Ochoa
WAWASAN

Kata kunci dalam bacaan hari ini adalah mulia (dipermuliakan). Lima kali kata itu dipakai dalam ayat 31-32. Yesus berbicara tentang kemuliaan-Nya (dipermuliakan), kemuliaan Allah (Bapa), dan hubungan antara dua kemuliaan tersebut. Hubungannya timbal balik: ketika Yesus dipermuliakan, Allah dipermuliakan; ketika Allah dipermuliakan, Yesus pun dipermuliakan.
Menurut kamus konkordansi Strong, mempermuliakan artinya “memberi bobot dengan mengakui nilai sesungguhnya.” “Mempermuliakan Allah” berarti mengakui Dia sebagaimana Pribadi-Nya yang sesungguhnya. Sebagai contoh, “memberi kemuliaan kepada Allah” ialah secara pribadi mengakui Allah dalam karakter (esensi)-Nya yang sejati.”
Yesus mengungkapkan siapa Dia sebenarnya; ketika jati diri-Nya disingkapkan, Dia juga mengungkapkan Bapa. —J.R. Hudberg
Bentuk kasih Allah apa yang baru-baru ini Anda alami melalui orang lain? Apa yang dapat Anda lakukan untuk menunjukkan belas kasih-Nya kepada sesama hari ini?
Karena Allah mengasihi kita, kita dapat mengasihi sesama.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate