Pages - Menu

Monday, May 27, 2019

Kenangan yang Terus Hidup

Berkatalah Daud: “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.” —2 Samuel 9:1
Kenangan yang Terus Hidup
Saya besar di gereja yang sarat tradisi. Salah satu tradisi itu diterapkan ketika ada anggota keluarga atau sahabat terkasih yang meninggal dunia. Sering kali, tidak lama sesudahnya, muncul lempengan tembaga yang disematkan pada bangku gereja atau lukisan yang terpajang di lorong dengan tulisan: “Untuk mengenang . . .” Nama orang yang sudah meninggal itu terukir pada lempeng tersebut sebagai kenangan atas kehidupan yang sudah berlalu. Saya menghargai kenangan semacam itu. Sampai sekarang pun masih. Namun, di saat yang sama, saya sering merenung karena benda-benda itu mati dan statis, dalam arti benar-benar “tidak hidup.” Adakah cara untuk menambahkan suatu elemen “kehidupan” pada benda kenangan tersebut?
Setelah kematian sahabatnya, Yonatan, Daud ingin mengenangnya dan menepati janji kepadanya (1 Sam. 20:12-17). Namun, alih-alih membuat kenangan dari benda mati, Daud mencari dan menemukan sesuatu yang hidup—anak laki-laki Yonatan (2 Sam. 9:3). Keputusan Daud sangat dramatis. Ia memilih menunjukkan kasih (ay.1) kepada Mefiboset (ay.6-7) dalam bentuk yang spesifik, yaitu pengembalian segala harta benda (“segala ladang Saul, nenekmu”) dan jaminan persediaan makanan dan minuman selamanya (“engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku”).
Sambil terus mengenang mereka yang telah meninggal dunia dengan nama yang terukir pada lempengan dan lukisan, baiklah kita juga mengingat contoh yang Daud berikan dan menunjukkan kasih kepada mereka yang masih hidup. —John Blase
WAWASAN

Saul, ayah Yonatan, membenci dan ingin membunuh Daud karena iri (1 Samuel 18:1-16). Daud bisa saja meneruskan rasa permusuhan kepada anggota keluarga Saul yang masih hidup, tetapi ia memilih untuk menghormati keluarga Yonatan. Ia mendapati bahwa salah seorang putra Yonatan, yaitu Mefiboset, masih hidup, walaupun cedera dan menderita cacat permanen. Ia terjatuh dari gendongan inang pengasuhnya dalam kekacauan saat terdengar kabar kematian ayah dan kakeknya (2 Samuel 4:4). Daud sendiri belakangan membutuhkan belas kasihan (Mazmur 25:11). Kemurahannya menjadi bayang-bayang kedatangan Kristus (Lukas 1:26–27), yang demi nama-Nya, Allah memerintahkan kita untuk berbelas kasih dan bermurah hati satu sama lain. —Mart DeHaan
Adakah para pendahulu yang ingin selalu Anda kenang? Bentuk kebaikan khusus apa yang ingin Anda lakukan untuk orang lain?
Tuhan Yesus, berikan aku kekuatan untuk menunjukkan kasih tidak saja karena mengingat kebaikan yang kuterima dari orang lain, tetapi yang terutama karena kebaikan-Mu yang sangat besar bagiku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate