Pages - Menu

Friday, June 21, 2019

Mengakhiri Iri Hati

Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri. —Galatia 6:4
Mengakhiri Iri Hati
Seniman Perancis terkenal, Edgar Degas, dikenang di seluruh dunia karena lukisan-lukisan penari baletnya. Namun tidak banyak orang tahu bahwa ternyata ia iri hati kepada rekan seniman dan pelukis andal saingannya, Édouard Manet. Kata Degas tentang Manet, “Setiap hal yang ia lakukan pasti langsung sukses, sementara aku harus bersusah payah, tetapi tetap tidak pernah berhasil.”
Iri hati adalah emosi yang mengherankan—dicatat oleh Rasul Paulus sebagai salah satu sifat terburuk, sama buruknya dengan “rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan” (Rm. 1:29). Paulus menuliskan iri hati datang dari pemikiran yang rusak—karena orang menyembah berhala daripada menyembah Allah (ay.28).
Penulis Christina Fox mengatakan bahwa iri hati berkembang di antara orang percaya “karena hati kita telah berbalik dari kekasih sejati kita.” Ketika kita merasa iri hati, ia berkata, “kita mengejar kesenangan duniawi yang lebih rendah nilainya daripada melihat kepada Yesus. Intinya, kita lupa milik siapa kita sesungguhnya.”
Syukurlah, iri hati dapat diobati. Dengan berpaling kembali kepada Tuhan. “Serahkanlah dirimu kepada Allah,” tulis Paulus (Rm. 6:13)—terutama pekerjaan dan kehidupanmu. Dalam suratnya yang lain, Paulus menulis, “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal. 6:4).
Bersyukurlah kepada Tuhan atas berkat-berkat-Nya—bukan hanya berkat materi, melainkan juga kasih karunia-Nya yang memerdekakan. Saat kita melihat segala karunia yang Allah berikan bagi kita, kita akan kembali mengalami kepuasan. —Patricia Raybon
WAWASAN
Dalam Roma 6, Paulus menyatakan bahwa sebagai orang percaya, manusia lama kita sudah disalibkan bersama Kristus, dan sekarang kita “mati bagi dosa” serta “hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (ay.6-7, 11). Kalau begitu, mengapa kita masih berbuat dosa? Memang, kita masih rentan terhadap dosa dan harus berjaga-jaga melawannya, tetapi dosa tak lagi berkuasa atas kita (ay.14). Dengan mati dan bangkit bersama Yesus, orang percaya menerima kerinduan baru untuk hidup bagi Allah dan membuang cara hidup yang lama. Meski hal ini membutuhkan niat dari pihak kita, Roh Kudus yang tinggal dalam kitalah yang memimpin dan mengubahkan sehingga kita semakin serupa dengan Kristus (Yohanes 16:13; 2 Korintus 3:18). —Alyson Kieda
Apa saja talenta, karunia rohani, dan berkat yang telah Allah berikan bagimu, tetapi yang lupa kamu hargai? Ketika memikirkan semua itu, bagaimana perasaan kamu ketika berpaling kembali kepada Allah Sang Pemberi dan mensyukurinya?

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate