Pages - Menu

Saturday, June 22, 2019

Bermain Petak Umpet

Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” —Kejadian 3:9
Bermain Petak Umpet
Duh, bakal ketahuan tempat persembunyianku,” pikir saya. Saya merasakan jantung berdebar kencang sewaktu mendengar langkah-langkah kaki saudara sepupu saya yang berusia lima tahun berbelok ke ruangan saya. Semakin dekat. Lima langkah lagi. Tiga. Dua. “Ketemu!”
Sebagian dari kita memiliki kenangan indah bermain petak umpet semasa kecil. Namun terkadang dalam kehidupan nyata, rasa takut bakal ketahuan bukanlah perasaan yang menyenangkan. Naluri hati kita lebih condong untuk melarikan diri. Adakalanya kita tidak suka pada apa yang kita lihat.
Sebagai anak-anak yang hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, kita cenderung memainkan apa yang disebut sebagai “petak umpet dengan Tuhan.” Sesungguhnya, yang kita lakukan hanyalah pura-pura bersembunyi—karena tentulah Tuhan bisa melihat segala jalan pikiran dan pilihan kita yang bobrok. Kita juga tahu itu, tetapi kita bersikap seolah-olah Dia tidak bisa melihatnya.
Meski demikian, Allah terus mencari kita. Dia memanggil kita, “Keluarlah. Aku ingin melihatmu, bahkan bagian-bagian hidupmu yang paling memalukan”—seperti yang Allah katakan dahulu pada saat Dia memanggil manusia pertama yang bersembunyi karena ketakutan: “Di manakah engkau?” (Kej. 3:9). Undangan lembut itu disuarakan lewat pertanyaan yang tajam. Allah seakan berkata, “Keluarlah dari persembunyianmu, anak-Ku, dan jalin kembali hubungan dengan-Ku.”
Mungkin itu tampaknya terlalu berisiko, bahkan tidak masuk akal. Namun, dalam kehangatan kasih Bapa yang aman, siapa pun kita, apa pun keberhasilan atau kegagalan kita, kita sepenuhnya dikenali dan tetap dikasihi oleh-Nya. —Jeff Olson
WAWASAN
Dalam bacaan hari ini, kita melihat bagaimana Iblis menyimpangkan firman Allah. Adam dan Hawa dilarang mendekati satu pohon saja—“pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 2:16-17)—bukan semua pohon (3:1). “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (ay.4) adalah kebohongan yang disengaja (2:17). Hawa juga menambahi perintah Allah dengan berkata, “Jangan kamu makan ataupun raba buah itu” (3:3). Paulus mengatakan bahwa Hawa tertipu oleh kelicikan Iblis (2 Korintus 11:3). Kita harus berjaga-jaga (1 Petrus 5:8) “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita” (2 Korintus 2:11). —K.T. Sim
Bagaimana kamu terhibur oleh kesadaran bahwa Allah tetap merindukan kita datang kepada-Nya sekalipun Dia melihat dan mengetahui semua keburukan kita? Bagaimana kesadaran itu justru memerdekakanmu?
Pribadi yang paling mengerti kita itu mengasihi kita apa adanya.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate