Pages - Menu

Wednesday, July 31, 2019

Siapakah Kita?

Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku. —Kisah Para Rasul 9:15
Siapakah Kita?
Saya tidak akan pernah lupa apa yang terjadi pada saat saya membawa calon istri bertemu dengan keluarga saya. Dengan gaya iseng, kedua kakak saya bertanya kepadanya, “Apa sih yang kamu lihat dari laki-laki ini?” Calon istri saya tersenyum dan meyakinkan kakak-kakak saya bahwa oleh anugerah Tuhan saya telah bertumbuh menjadi pria yang dicintainya.
Saya sangat senang dengan jawaban cerdas itu karena hal itu juga mencerminkan bahwa di dalam Kristus, Allah melihat lebih jauh daripada masa lalu kita. Dalam Kisah Para Rasul 9, Dia mengarahkan Ananias untuk menyembuhkan Saulus, seorang penganiaya jemaat yang telah dibutakan oleh Tuhan. Ananias terkejut dan tidak percaya saat menerima perintah tersebut, karena Saulus pernah memburu orang-orang percaya untuk dianiaya dan bahkan dihukum mati. Allah memerintahkan Ananias untuk tidak berfokus pada diri Saulus yang dahulu, melainkan pada diri Saulus yang telah berubah: seorang pemberita Injil yang akan membawa kabar baik ke seluruh dunia pada masa itu, termasuk kepada orang-orang bukan Yahudi dan raja-raja (ay.15). Ananias melihat Saulus adalah orang Farisi dan penganiaya, tetapi Allah melihatnya sebagai Paulus sang rasul dan pemberita Injil.
Terkadang kita hanya dapat melihat diri kita yang dahulu—dengan segala kegagalan dan kekurangannya. Namun, Allah melihat kita sebagai ciptaan baru, bukan diri kita yang dahulu, melainkan jati diri kita yang sekarang di dalam Yesus, dan diri kita yang mendatang setelah diubah terus-menerus oleh kuasa Roh Kudus. Ya Allah, ajarlah kami memandang diri kami dan orang lain sedemikian rupa! —Peter Chin
WAWASAN
Ada tiga catatan mengenai pertobatan Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul (9:1-19; 22:3-21; 26:9-29). Paulus juga memberikan kesaksiannya dalam 1 Korintus 15:9-10; Galatia 1:11-17; Filipi 3:4-6; dan 1 Timotius 1:12-17. Sebagai orang yang pernah memusuhi Kristus, Paulus selalu bersyukur bahwa Allah masih mau menyelamatkannya, padahal ia adalah orang yang paling tidak layak menerima belas kasihan dan kemurahan Allah (1 Timotius 1:13-14). Allah berfirman kepada Ananias bahwa Dia akan menjadikan Paulus sebagai “alat pilihan” yang akan memberitakan Injil kepada orang non-Yahudi (Kisah Para Rasul 9:15). Akan tetapi, Paulus melihat alasan lain mengapa Allah memakainya: “agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya” (1 Timotius 1:16). Allah memikirkan kita ketika Dia menyelamatkan Paulus. Bila Paulus, seorang yang sangat berdosa saja, diselamatkan, maka tak ada seorang pun yang bisa luput dari belas kasihan dan kasih Allah. —K. T. Sim
Bagaimana kamu bisa lebih tepat memandang dirimu dan orang lain dengan mengingat identitasmu dalam Kristus? Apakah kamu dikuatkan saat menyadari bahwa Allah masih terus bekerja untuk menumbuhkan dan memurnikanmu?
Bapa Surgawi, tolonglah aku menemukan jati diriku yang seutuhnya di dalam Engkau. Mampukan aku dengan rendah hati memandang orang lain melalui mata-Mu yang penuh kasih!

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate