Pages - Menu

Saturday, September 14, 2019

Berapa pun yang Harus Dibayar

Mereka tidak berani mengakui itu dengan terus terang, sebab mereka takut. —Yohanes 12:42 BIS
Berapa pun yang Harus Dibayar
Film “Paul, Apostle of Christ” menggambarkan dengan kuat penganiayaan yang dahulu dialami jemaat Kristen mula-mula. Bahkan para tokoh figuran dalam film itu memperlihatkan bahaya besar yang diterima pengikut Yesus. Lihat saja daftar peran yang tercantum di akhir film: Perempuan yang Dipukuli; Lelaki yang Dipukuli; Korban Kristen 1, 2, dan 3.
Keputusan mengikut Kristus acap kali harus dibayar mahal. Pada masa kini, di banyak tempat di dunia, mengikut Yesus masih mendatangkan bahaya. Masih banyak jemaat dianiaya karena iman mereka. Namun, beberapa dari kita mungkin terlalu cepat merasa “teraniaya”—marah ketika iman kita diejek atau curiga bahwa kegagalan kita mendapatkan promosi dalam karier adalah karena iman kita.
Jelas ada perbedaan besar antara mengorbankan status sosial dan mengorbankan nyawa. Namun, pada kenyataannya, kepentingan diri, stabilitas keuangan, dan penerimaan sosial masih terus menjadi motivasi yang kuat bagi manusia. Itu bisa kita lihat dalam tindakan sejumlah orang yang pernah percaya kepada Yesus. Rasul Yohanes menuliskan bahwa, hanya beberapa hari sebelum penyaliban Yesus, meskipun sebagian besar orang Israel masih menolak Dia (Yoh. 12:37), banyak “di antara penguasa Yahudi percaya kepada Yesus” (ay.42 BIS). Namun, “mereka tidak berani mengakui itu dengan terus terang . . . mereka lebih suka mendapat pujian manusia daripada penghargaan Allah” (ay. 42-43 BIS).
Saat ini, sebagian dari kita masih menghadapi tekanan sosial (bahkan mungkin lebih parah dari itu) untuk menyembunyikan iman kita kepada Kristus. Namun, berapa pun harga yang harus dibayar, marilah kita berdiri teguh sebagai umat yang lebih suka menerima penghargaan Allah daripada pujian manusia. —Tim Gustafson
WAWASAN
Ketika Yohanes (12:38-40) mengutip Yesaya 53:1 dan 6:10, mungkin tampaknya ia menyalahkan Allah karena Dia mengeraskan hati orang-orang tertentu sehingga mereka tidak percaya. Namun, bila kita membaca Yesaya dan Yohanes sesuai konteksnya, tampak bahwa sejak semula, Allah telah memberikan kehendak bebas kepada manusia sehingga mereka bisa bertindak sesuai pilihannya sendiri. Sejauh mana mereka melangkah, sejauh itu pulalah Allah akan mengulurkan tangan untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi pilihan mereka sendiri. Yohanes berbicara tentang pemimpin agama yang takut untuk percaya kepada Yesus karena alasan politis dan religius (Yohanes 11:45-53; 12:42-43). Yesaya, nabi yang hidup enam abad sebelum Kristus, menulis tentang seorang Raja yang kelak muncul dalam kemuliaan (Yesaya 6:1-10; Yohanes 12:41) di tengah manusia dengan kehendak bebas yang menolak percaya. Tanpa wahyu ilahi, mereka tidak dapat dan tidak akan percaya bahwa Kristus adalah Juruselamat. —Mart DeHaan
Kita mungkin tergoda menghakimi anggota jemaat mula-mula yang menyembunyikan iman mereka, tetapi apakah kita benar-benar berbeda dari mereka? Apakah kita pernah memilih diam supaya orang tidak mengenali kita sebagai pengikut Yesus?
Tuhan Yesus, aku ingin menjadi sahabat terdekat-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate