Pages - Menu

Saturday, September 7, 2019

Berjalan Mundur

Melainkan [Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri. —Filipi 2:7
Berjalan Mundur
Tanpa sengaja, saya menemukan potongan film milik kru berita Inggris yang merekam Flannery O’Connor saat masih berumur enam tahun di lahan pertanian keluarganya pada tahun 1932. Flannery menarik perhatian kru tersebut karena mengajari seekor ayam berjalan mundur. Bagi saya, terlepas dari uniknya perbuatan Flannery, potongan masa lampau itu adalah gambaran yang sempurna dari pencapaian Flannery di kemudian hari sebagai penulis terkenal. Lewat ketajaman sastra dan keyakinan imannya, Flannery menghabiskan tiga puluh sembilan tahun masa hidupnya berpikir dan menulis dengan “berjalan mundur”—melawan arus budaya pada masanya. Baik penerbit maupun pembaca dibuat tercengang karena tema-tema iman yang diangkatnya telah melawan arus pandangan agama yang lazim saat itu.
Kehidupan yang melawan arus juga tidak terhindarkan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin meneladani Yesus. Dalam surat Filipi kita melihat bagaimana Yesus, yang “walaupun dalam rupa Allah”, melakukan sesuatu yang tak terduga dan tak lazim (Flp. 2:6). Dia tidak menganggap kuasa-Nya “sebagai milik yang harus dipertahankan”, tetapi justru “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (ay.6-7). Kristus, Tuhan atas seluruh ciptaan, telah menyerahkan nyawa-Nya karena kasih. Dia tidak mengejar gengsi tetapi justru menunjukkan kerendahan hati. Dia tidak merebut kekuasaan tetapi justru melepaskan kendali. Dengan kata lain, Yesus “berjalan mundur”—melawan arus dunia yang mengejar dan mengutamakan kuasa.
Kitab Suci memerintahkan kita untuk melakukan hal yang sama (ay.5). Seperti Yesus, kita dipanggil untuk melayani dan bukan mendominasi. Kita mengejar kerendahan hati dan tidak meninggikan diri. Kita harus lebih suka memberi daripada menerima. Dengan kuasa Tuhan Yesus, kita pun berani melawan arus. —Winn Collier
WAWASAN
Dalam Filipi 2:1-11, Paulus menasihati orang percaya untuk tidak terseret oleh kebudayaan mereka. Ia paham bahwa orang-orang percaya bisa saja digerakkan oleh “kepentingan sendiri” (ay.3), oleh ambisi atas kuasa atau kendali. Sangat wajar bila orang percaya di Filipi meneruskan kebiasaan yang mereka serap dari budayanya, suatu gaya hidup yang Paulus gambarkan sebagai “angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat” (ay.15). Namun, Paulus mendorong mereka untuk hidup “berpadanan dengan Injil Kristus” (1:27). Dalam pasal 2, ia memaparkan gaya hidup luar biasa yang seharusnya dinikmati oleh orang percaya, yaitu kasih yang berkorban (ay.1-4). Hidup dalam komunitas yang penuh kerukunan, sukacita, dan kebebasan hanya bisa terjadi bila kita mengikuti teladan Kristus (ay.5) dan tetap berakar dalam Roh, dipelihara, serta ditopang oleh-Nya (ay.1). —Monica Brands
Bagaimana Yesus memperlihatkan cara hidup yang melawan arus di dunia ini? Di manakah Allah memanggilmu untuk meneladani Kristus yang rendah hati?
Satu-satunya jalan menuju pemulihan, kebaikan, dan kemajuan, adalah dengan “berjalan mundur” dan melawan arus bersama Yesus.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate