Pages - Menu

Monday, October 28, 2019

Berjalan Seperti Pahlawan

Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada [Gideon] dan berfirman kepadanya, . . . “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” —Hakim-hakim 6:12
Berjalan Seperti Pahlawan
Emma yang berusia delapan belas tahun sangat setia berbicara tentang Yesus di media sosial, meskipun banyak orang yang mengkritik semangat dan kasihnya kepada Kristus. Beberapa orang mengejek penampilannya. Yang lain menganggapnya bodoh karena imannya kepada Allah. Meskipun ejekan itu sangat menyakiti hati, Emma tetap mengabarkan Injil dengan keberanian dan kasih. Namun, ia sempat tergoda meyakini bahwa identitas dan nilai dirinya ditentukan oleh kritikan orang. Saat itu terjadi, ia meminta Allah menolongnya, berdoa bagi mereka yang memusuhinya, merenungkan Alkitab, dan tetap bertekun dengan keberanian dan keyakinan dari Roh Kudus.
Gideon juga menghadapi orang-orang Midian yang kejam (Hak. 6:1-10). Meskipun Allah menyebutnya “pahlawan yang gagah berani,” Gideon bergumul mengenyahkan keragu-raguannya, batasan yang dibuatnya sendiri, dan ketidakpercayaan dirinya (ay.11-15). Beberapa kali ia mempertanyakan kehadiran Tuhan dan kemampuan dirinya sendiri, tetapi akhirnya ia mau berserah dalam iman kepada Allah.
Ketika kita mempercayai Allah, kita bisa hidup dengan mempercayai bahwa apa yang difirmankan-Nya tentang kita adalah benar. Bahkan di saat pertentangan membuat kita mempertanyakan identitas kita, Bapa yang penuh kasih menegaskan bahwa Dia hadir dan berperang untuk kita. Dia menegaskan bahwa kita bisa berjalan seperti pahlawan yang gagah berani, dipersenjatai dengan kasih-Nya yang luar biasa, dipelihara dengan anugerah-Nya yang tidak berkesudahan, dan terlindung aman dalam kebenaran-Nya yang dapat diandalkan. —Xochitl Dixon
WAWASAN
Ketika bangsa Israel berseru kepada Allah dan meminta tolong setelah bertahun-tahun mengabaikan-Nya (Hakim-hakim 6:6), Dia mengutus seorang nabi untuk menegur mereka (ay.7-10). Kemudian Allah mulai bekerja, tetapi Gideon tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “Datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra” (ay.11). Gideon bertanya kepada-Nya, “Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami?” (ay.13). Ketika api membakar habis persembahan Gideon (ay.21), barulah ia merasakan hadirat Allah (ay.22). Setelah tanda ajaib ini, Gideon masih membutuhkan jaminan yang lebih banyak dari-Nya (ay.36-40) sebelum memimpin kawanan yang sedikit jumlahnya untuk melawan musuh (ps.7). —Tim Gustafson
Bagian Alkitab mana yang membantu kamu tetap kuat ketika kamu mulai meragukan identitas dan nilai dirimu? Apa yang dapat kamu lakukan untuk menghadapi ucapan-ucapan yang mengkritikmu?
Ya Tuhan, tolong kami mengingat kasih-Mu dan menanggapi dengan penuh kasih setiap kali seseorang menggoda kami untuk meragukan nilai diri kami atau mempertanyakan peran yang Engkau percayakan kepada kami.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate