Pages - Menu

Tuesday, October 29, 2019

Jalan yang Tidak Dikenal

Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. —Yesaya 42:16
Jalan yang Tidak Dikenal
Orang-orang bertanya apakah saya mempunyai rencana lima tahunan. Bagaimana mungkin saya merencanakan lima tahun ke depan sementara saya belum pernah menjalaninya?
Saya terkenang kembali ke dekade 1960-an sewaktu saya menjadi pembina rohani bagi para mahasiswa Universitas Stanford. Waktu kuliah, saya mengambil jurusan pendidikan jasmani dan sangat menikmati masa-masa itu, tetapi saya tidak mempunyai pengalaman mengajar. Saya merasa sangat tidak kompeten dalam kedudukan baru saya. Saya sering berkeliling di kampus, seperti orang buta yang menggapai-gapai dalam kegelapan, memohon Allah untuk menunjukkan apa yang harus saya lakukan. Suatu hari, seorang mahasiswa tiba-tiba meminta saya memimpin pendalaman Alkitab untuk kelompoknya. Dari sanalah semuanya bermula.
Allah tidak berdiri di persimpangan jalan dan menunjukkan arah yang harus kita tempuh, karena Dia bukan rambu jalan. Dia adalah Pemandu yang berjalan bersama kita, menuntun kita ke jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Kita hanya perlu berjalan bersama-Nya.
Jalannya tidak mudah; akan ada “tanah yang berkeluk-keluk”, tetapi Allah telah berjanji akan “membuat kegelapan . . . menjadi terang” dan Dia tidak akan pernah meninggalkan kita (Yes. 42:16). Dia akan selalu menyertai kita di sepanjang jalan.
Paulus berkata bahwa Allah “dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Ef. 3:20). Kita bisa merencanakan dan membayangkan apa yang mau kita lakukan, tetapi pemikiran Tuhan jauh melampaui rencana kita. Serahkanlah rencana kita kepada-Nya dan lihatlah apa yang menjadi kehendak-Nya atas kita. —David H. Roper
WAWASAN
Dalam Yesaya 42:1-9, Allah berfirman mengenai “hamba-Ku,” nubuat pertama dari empat nubuatan Yesaya (42:1-9; 49:1-13; 50:4-11; 52:13-53:12) yang dikenal dengan “Nyanyian Hamba.” Pertama, hamba merujuk kepada bangsa Israel (Yesaya 41:8; 49:3) dan kemudian kepada Yesus (Matius 12:17-20). Setelah memberitahukan tugas dan belas kasih hamba Allah (Yesaya 42:1-9), sang nabi menuliskan “nyanyian baru” (ay.10), mengajak kita “bersorak sorai . . . [dan] memberi penghormatan kepada TUHAN” (ay.11-12) atas keselamatan dari-Nya. —K.T. Sim
Bagaimana cara Allah mengubah kegelapanmu menjadi terang? Apa sukacita terbesarmu ketika kamu berjalan bersama-Nya?
Tuhan Yesus, aku mengucap syukur karena rencana-Mu bagiku jauh melampaui yang dapat kubayangkan. Tolonglah aku setia mengikut-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate