Pages - Menu

Friday, November 22, 2019

Si Anak Sulung

Bersungut-sungutlah [mereka], katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” —Lukas 15:2
Si Anak Sulung
Penulis Henri Nouwen mengingat kembali kunjungannya ke sebuah museum di St. Petersburg, Rusia. Ia pernah menghabiskan waktu berjam-jam di sana merenungi lukisan karya Rembrandt tentang kisah anak yang hilang. Seiring berjalannya waktu, pergeseran dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela ke arah lukisan membuat Nouwen seolah-olah melihat lukisan yang berbeda-beda akibat pencahayaan yang berubah-ubah. Setiap pergeseran seolah menyingkapkan hal baru tentang kasih seorang ayah kepada anak lelakinya yang terpuruk.
Nouwen menggambarkan bagaimana pada pukul empat sore, tiga tokoh dalam lukisan itu terlihat seperti “maju selangkah.” Salah satunya adalah sosok anak sulung yang tidak menyukai rencana sang ayah menyambut kepulangan adiknya dengan menyelenggarakan pesta meriah. Lagi pula, bukankah adiknya itu telah menghabiskan warisan keluarga, membuat mereka semua sakit hati dan malu? (Luk. 15:28-30).
Dua sosok lain mengingatkan Nouwen kepada para pemuka agama yang hadir pada saat Yesus menceritakan perumpamaan-Nya. Merekalah yang bersungut-sungut tentang orang-orang berdosa yang tertarik kepada Yesus (ay.1-2).
Nouwen seakan melihat gambaran dirinya sendiri dalam semua sosok itu—si anak bungsu yang menyia-nyiakan hidupnya, si kakak sulung dan para pemuka agama yang bersungut-sungut, dan Sang Bapa dengan hati yang penuh belas kasihan kepada siapa saja dan semua orang.
Bagaimana dengan kita? Dapatkah kita melihat diri kita sendiri dalam lukisan karya Rembrandt itu? Sesungguhnya, setiap kisah yang diceritakan Yesus adalah tentang kita juga. —Mart DeHaan
WAWASAN
Lukas 15 merupakan satu kesatuan perumpamaan dengan tiga bagian terpisah tetapi saling berhubungan. Yesus menggambarkan tiga hal yang hilang—domba, dirham, dan anak. Setiap bagian berakhir dengan sukacita menemukan yang hilang, untuk memperlihatkan bahwa akan ada kegirangan di surga karena “satu orang berdosa yang bertobat” (ay.7,10,32). Para pendengarnya saat itu adalah orang Farisi dan para pemuka yang mengecam Yesus karena Dia menerima orang-orang berdosa (ay.1-2). Lewat perumpamaan si anak sulung (ay.25-31), Yesus mengemukakan perlunya orang Farisi bertobat. Dia tidak menjelaskan apakah si sulung akhirnya menghadiri perayaan adiknya, seolah-olah Dia menempatkan orang Farisi sebagai sang kakak dan menunjukkan bahwa mereka punya pilihan: bertobat atau tidak. —Julie Schwab
Bagaimana kamu dapat merenungkan kembali kisah yang diceritakan Yesus dan lukisan Rembrandt? Ketika cahaya matahari yang menerangi lukisan itu bergeser, di manakah kamu dalam lukisan tersebut?
Bapa, mampukan aku melihat diriku dari besarnya kasih-Mu padaku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate