Pages - Menu

Monday, November 11, 2019

Terserah Allah

Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. —Matius 6:10
Terserah Allah
Nate dan Sherilyn menikmati kunjungan mereka ke sebuah restoran omakase saat sedang berada di kota New York. Omakase adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti “terserah Anda”. Maksudnya, para pengunjung restoran seperti itu mengizinkan koki memilihkan hidangan apa yang akan mereka santap. Walau baru pertama kalinya mencoba hidangan jenis itu dan awalnya agak ragu, ternyata Nate dan Sherilyn sangat menyukai makanan yang dipilihkan dan disiapkan koki untuk mereka.
Gagasan yang sama dapat juga kita terapkan dalam sikap kita di hadapan Allah saat membawa doa dan permohonan kita: “Terserah Engkau.” Para murid melihat Yesus sering “mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa” (Luk. 5:16), maka suatu hari mereka meminta kepada-Nya untuk mengajari mereka cara berdoa. Dia mengajar mereka untuk meminta pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari, pengampunan, dan kelepasan dari pencobaan. Bagian dari pengajaran-Nya juga menunjukkan suatu sikap yang berserah: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10).
Kita dapat mengutarakan kebutuhan-kebutuhan kita kepada Allah karena Dia mau mendengar apa yang ada dalam hati kita—dan Dia senang memberikannya. Namun, sebagai manusia yang terbatas, kita tidak selalu tahu apa yang terbaik, maka sungguh masuk akal untuk meminta dengan kerendahan hati dan ketundukan kepada-Nya. Kita dapat menyerahkan jawaban doa itu kepada Allah, dengan meyakini bahwa Dia layak dipercaya dan akan memilih serta menyediakan segala sesuatu yang baik untuk kita. —Anne Cetas
WAWASAN
Mengapa Yesus memulai bagian tentang doa (Matius 6:5-15) dengan peringatan? Siapakah “orang-orang munafik” yang Dia kecam (ay.5)? Markus 12 mengindikasikan bahwa mereka adalah “ahli-ahli Taurat” yang “menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (ay.38-40). Berdoa di depan umum tidaklah salah, tetapi beresiko besar. Jangan-jangan kita berdoa untuk mengesankan orang-orang yang mendengar, bukan dengan sikap hati yang tulus kepada Allah yang melihat batin kita dan menjawab doa-doa; atau barangkali kita merasa minder karena tidak fasih berbicara. Resiko manapun yang kita hadapi, penting sekali untuk mengingat bahwa Allah tidak berkenan pada segala sesuatu yang dilakukan untuk pamer belaka. —Tim Gustafson
Apa yang ingin kamu ungkapkan dalam doa kepada Allah saat ini? Apa yang akan terjadi jika kamu benar-benar berserah penuh kepada-Nya?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menopangku dan Engkau tahu segala kebutuhanku. Aku menyerahkan hidupku dan mereka yang kukasihi ke dalam tangan pemeliharaan-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate